Selama tahun 2009, penurunan BI Rate sebesar 275bps ditransmisikan ke suku bunga jangka pendek dengan baik seiring dengan terjaganya kecukupan likuiditas di pasar uang. Kondisi tersebut tercermin dari suku bunga PUAB O/N yang bergerak mengikuti BI Rate di setiap bulannya selama tahun 2009. Rata-rata harian suku bunga PUAB O/N menurun sebesar 308bps, dari level 9,38% pada akhir 2008 menjadi 6,29% pada November 2009. Hal tersebut semakin mencerminkan peningkatan kredibilitas BI Rate yang juga sejalan dengan best practice kisaran pergerakan sasaran operasional di berbagai negara ITF. Perbaikan transmisi suku bunga secara umum menjadi lebih baik seiring dengan komitmen Bank Indonesia untuk terus menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang. Komitmen tersebut diupayakan dengan berbagai cara, baik dengan memperkaya pilihan instrumen bagi perbankan dalam melakukan manajemen likuiditas (Reverse Repo SUN, FTE tenor 14, 28 dan 91 hari) dan menambah tenor window repo bertenor 3 bulan dari sebelumnya yang hanya 14 hari dan 1 bulan saja 1. Selain itu, sejak Juni 2009 pelaksanaan operasi moneter FTK lebih dikurangi sehingga posisi FASBI meningkat yang kemudian berdampak pada cenderung lebih rendahnya suku bunga PUAB O/N di bawah BI Rate. Upaya ini diantaranya bertujuan agar penurunan BI Rate dapat lebih ditransmisikan ke suku bunga dengan jangka waktu lebih panjang secara lebih cepat. Transmisi moneter di suku bunga jangka pendek diikuti oleh suku bunga dengan jangka waktu yang lebih panjang. Seiring dengan perbaikan likuiditas di PUAB O/N, kondisi likuiditas di PUAB dengan jangka waktu yang lebih panjang juga terus membaik di seluruh tenornya selama 2009. Secara keseluruhan, rata-rata suku bunga PUAB untuk tenor di atas O/N menurun sebesar 378bps. Penurunan terbesar terjadi pada PUAB dengan jangka waktu di atas 30 hari yaitu 442bps. Selain itu, sejak Oktober 2009 perbankan melakukan transaksi PUAB dengan jangka waktu yang lebih panjang dari bulan-bulan sebelumnya, yaitu jangka waktu 60, 90 hingga 365 hari. Kondisi tersebut juga mengindikasi bahwa persepsi risiko likuiditas jangka panjang yang membaik dan counterparty risk perbankan yang menurun khususnya terhadap bank asing dan beberapa BPD. Namun demikian, khusus untuk PUAB tenor 27-30 hari mengalami peningkatan sejak September 2009 terkait dengan tipisnya volume transaksi di tenor tersebut. Dengan perkembangan tersebut maka struktur suku bunga PUAB berbagai tenor sejak September 2009 tidak membentuk garis lurus yang mencerminkan
1 Sejak 7 September 2009
Grafik 3.13
Indeks Produksi Sektor Industri Pengolahan (SP) �������� ������������������������������������������ ���� ���� ���� ���� ���� ��� ��� ��� �� � � � � � � � � ������� � � � � � � � � �������� � � � � � � � ������� � � � � � � � � ������� � � � � � � � � Grafik 3.14
Kapasitas Produksi Terpakai Industri Pengolahan (SP) ��� �������������������������������������������� ���� ���� ���� ���� ���� �� �� �� �� � � � � � � � � ������� � � � � � � � � �������� � � � � � � � ������� � � � � � � � � ������� � � � � � � � � ��� �����
persepsi likuiditas antar waktu yang masih belum simetris. Khusus di November 2009, terjadi peningkatan rata-rata suku bunga PUAB tenor > 30 hari seiring dengan indikasi sempitnya credit line yang dimiliki oleh beberapa bank skala kecil.
Transmisi BI Rate ke suku bunga deposito lebih baik. Selama tahun 2009 (sampai dengan Oktober 2009), suku bunga deposito 1 bulan telah turun mencapai 337bps. Sementara itu, suku bunga deposito berbagai tenor tercatat juga menurun dengan besaran yang bervariasi kecuali untuk jangka waktu 24 bulan yang masih resisten. Di periode pemberhentian penurunan BI Rate (September hingga November 2009), penurunan suku bunga deposito diindikasikan juga masih berlangsung, meskipun dengan besaran yang lebih rendah. Di sisi lain, transmisi BI Rate ke suku bunga kredit masih belum optimal, khususnya pada suku bunga kredit konsumsi (KK). Selama tahun 2009, suku bunga kredit secara agregat (rata-rata suku bunga KMK, KI, dan KK) hanya menurun sebesar 76bps sangat kecil bila dibandingkan dengan penurunan BI Rate sebesar 275bps dan penurunan suku bunga deposito 1 bulan sebesar 337bps. Berdasarkan jenis penggunaannya, penurunan suku bunga kredit terutama terjadi pada suku bunga kredit investasi (128bps) dan modal kerja (113bps). Sementara itu suku bunga kredit konsumsi justru mengalami peningkatan sebesar 13bps selaras dengan karakteristik kredit jenis ini yang permintaannya relatif tidak terlalu elastis dengan perubahan suku bunga. Berdasarkan kelompok bank, penurunan suku bunga terbesar juga terjadi pada kelompok bank asing dan campuran yaitu sebesar 165bps. Dari sisi level, rata-rata suku bunga KMK dan KI tertinggi masih ditawarkan oleh Bank Umum Swasta Nasional sementara rata-rata suku bunga KK tertinggi masih ditawarkan oleh Bank Asing dan Campuran.
Dana, Kredit, dan Uang Beredar
Selama tahun 2009, DPK meningkat dan tumbuh stabil dari tahun sebelumnya. Posisi DPK sampai dengan Oktober 2009 meningkat sebesar Rp110,2 triliun dari akhir tahun sebelumnya menjadi Rp1,863 triliun. Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan DPK sampai dengan Oktober 2009 diindikasi melambat menjadi 11,3% (yoy) dari akhir tahun sebelumnya
Suku Bunga (%)
Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli Agt Sept Okt
Triwulan IV-2008 Triwulan I-2009 Triwulan II-2009 Triwulan III-2009 Trw IV
Tabel 3.1
Perkembangan Berbagai Suku Bunga
BI Rate 9,50 9,50 9,25 8,75 8,25 7,75 7,50 7,25 7,00 6,75 6,50 6,50 6,50 Penjaminan Deposito 10,00 10,00 10,00 9,50 9,00 8,25 7,75 7,75 7,50 7,25 7,00 7,00 7,00 Dep 1 bulan (Weighted Average) 10,14 10,40 10,75 10,52 9,88 9,42 9,04 8,77 8,52 8,31 7,94 7,43 7,38
Base Lending Rate 13,65 14,07 14,16 14,18 13,98 13,94 13,78 13,64 13,40 13,20 13,00 12,96 13,01
Kredit Modal Kerja (KMK) 14,67 15,13 15,22 15,23 15,08 14,99 14,82 14,68 14,52 14,45 14,30 14,17 14,09 Kredit Investasi (KI) 13,88 14,28 14,40 14,37 14,23 14,05 14,05 13,94 13,78 13,58 13,48 13,20 13,20 Kredit Konsumsi (KK) 16,05 16,24 16,40 16,46 16,53 16,46 16,48 16,57 16,63 16,66 16,62 16,67 16,53
Perkembangan dan Kebijakan Moneter Triwulan IV-2009 pada level 16,1% (yoy) (Grafik 3.15). Meningkatnya posisi DPK terutama bersumber dari peningkatan deposito rupiah yang sebagian besar merupakan deposito milik perorangan. Sementara itu, posisi tabungan khususnya perorangan berada dalam tren yang meningkat sejak triwulan III-2009 seiring dengan menurunnya suku bunga deposito. Di sisi lain, posisi deposito valas menurun terkait dengan penguatan nilai tukar Rupiah. Sampai dengan akhir 2009, DPK diperkirakan akan kembali naik, khususnya DPK Rupiah sejalan dengan akan semakin ekspansifnya aliran likuiditas dari Pemerintah Pusat ke Daerah dan penyaluran kredit perbankan yang diharapkan akan meningkat. Hal tersebut juga dikonfirmasi oleh indikasi meningkatnya jumlah dana yang disetor bank untuk pemenuhan GWM.
Perkembangan kredit belum sesuai dengan yang diharapkan. Selama tahun 2009 (Januari – Oktober), pertambahan kredit (termasuk channeling) baru mencapai Rp56,8 triliun (5,0% ytd) menjadi Rp1.410,4 triliun, jauh lebih rendah dari pertambahan kredit (termasuk channeling) di periode yang sama di tahun 2008 yang mencapai Rp297,8 triliun (28,5%, ytd). Semakin menurunnya pertumbuhan kredit ini sejalan dengan lambatnya pertambahan kredit baik dalam rupiah maupun valas. Lambatnya pertambahan kredit sejalan dengan rendahnya permintaan masyarakat sebagaimana tercermin dari masih stabilnya hubungan antara kredit dengan GDP. Selain itu, lambatnya pertambahan kredit ini juga sejalan dengan suku bunga kredit yang masih tinggi saat ini.
Dilihat per jenis kreditnya, faktor utama yang mendorong masih lambatnya pertumbuhan kredit adalah koreksi yang cukup dalam pada Kredit Modal Kerja. Jenis kredit yang lain masih mencatatkan pertambahan yang cukup besar terutama kredit konsumsi. Kontraksi pada Kredit Modal Kerja khususnya terjadi pada sektor industri yang merupakan salah satu sektor penyerap kredit terbesar dan sektor jasa dunia usaha. Di akhir 2009, pertambahan kredit diperkirakan meningkat cukup besar sesuai pola musimannya.
Sampai dengan Oktober 2009, likuiditas perekonomian masih tumbuh rendah, khususnya M1. Rata-rata pertumbuhan tahunan likuiditas perekonomian M1 di 2009 menurun menjadi 6,7% dari 17,1% di 2008. Sementara itu, rata-rata pertumbuhan tahunan likuiditas perekonomian M2 dan M2 Rupiah tercatat meningkat masing-masing menjadi 16,7% dan 16,3%, dari 16,1% dan 15,1% di tahun sebelumnya (Grafik 3.16). Pertumbuhan M1 yang walaupun melambat dari tahun sebelumnya, ditopang oleh pergerakan giro sebagai indikasi dini dari aktivitas ekonomi masyarakat. Sementara pertumbuhan M2 dan M2 Rupiah yang akseleratif seiring dengan meningkatnya jumlah uang kuasi masyarakat terkait dengan suku bunga deposito yang relatif masih tinggi hingga triwulan III-2009. Berbagai kondisi di atas kembali mencerminkan belum kuatnya indikasi peningkatan aktifitas perekonomian masyarakat sebagaimana tampak pada pertumbuhan M1 yang masih berada pada level yang lebih rendah dari historis.
Grafik 3.15
Pertumbuhan Dana, Kredit dan BI Rate
� ��� � ��� � ��� � ��� �� � � � �� �� �� �� �� �� �� �� �� �� ��������� ������������ ������� ���������� ����������� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ���� ���� Grafik 3.16
Pertumbuhan Nominal M1 dan M2
�� �� ����� �� �� �� �� �� � � � � � � � � �� � � � � � �� � � � � � �� � � � � � �� � � � � ���� ���� ���� ���� ���� � �
Pasar Keuangan
Kebijakan moneter longgar selama tahun 2009 tertransmisi ke pasar saham. Hal itu tercermin dari pesatnya kenaikan harga saham yang telah tumbuh sebesar 78,2% selama tahun 2009. Kuatnya pengaruh faktor eksternal terhadap pergerakan IHSG menunjukkan pemulihan ekonomi dan pasar keuangan global yang sedang berlangsung berkontribusi positif terhadap pergerakan harga saham domestik. Selain faktor eksternal, kondisi fundamental makro ekonomi domestik yang cukup kuat menjadi salah satu faktor yang menopang penguatan IHSG selama tahun 2009.
Membaiknya perekonomian dan pasar keuangan global berpengaruh terhadap kembalinya arus modal asing ke pasar saham. Meningkatnya global market confidence disertai dengan membaiknya likuiditas global mendorong investasi di pasar keuangan global kembali meningkat. Aliran modal asing kembali masuk ke negara emerging market dan mendorong kenaikan indeks harga saham. Di Indonesia, masuknya aliran modal asing ke pasar saham memberikan sentimen positif terhadap kenaikan IHSG. Sejalan dengan masuknya aliran modal asing, antusiasme investor domestik untuk bertransaksi di pasar
saham juga meningkat.
Di sisi domestik, kondusifnya perkembangan indikator makro ekonomi dan mikro perusahaan juga turut berperan menopang penguatan IHSG. Perkembangan beberapa indikator ekonomi, seperti penguatan nilai tukar, pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, inflasi yang masih terkendali serta stabilitas politik memberikan sentimen positif terhadap pergerakan IHSG. Sementara di sisi mikro, kemampuan emiten untuk membukukan laba bersih berperan dalam meningkatkan kepercayaan pelaku pasar. Dibandingkan dengan pasar saham di kawasan regional Asia, kinerja pasar saham Indonesia merupakan pasar saham dengan kinerja yang terbaik.
Meningkatnya aliran modal asing ke pasar saham membantu volume perdagangan saham tetap stabil. Volume perdagangan saham selama tahun 2009 mencapai Rp4,06 triliun per hari, relatif stabil jika dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp4,41 triliun per hari. Ditengah aliran modal masuk, pelaku asing mencatat net beli sebesar Rp10,07 triliun selama 2009 atau turun dibanding tahun sebelumnya yang mencapai Rp18,65 triliun. Rendahnya net beli asing di tahun ini terkait dengan aksi profit taking yang terjadi pada awal triwulan IV-2009. Kenaikan yang cukup tajam sejak awal tahun menyebabkan IHSG secara teknikal berada dalam kondisi overbought sehingga mendorong terjadinya koreksi dan aksi profit taking.
Di pasar SUN, transmisi kebijakan moneter tercermin dalam bentuk penurunan yield SUN secara merata untuk seluruh tenornya. Hal itu terkonfirmasi oleh hasil pengujian yang menunjukkan pengaruh perubahan BI Rate terhadap pergerakan yield SUN lebih tinggi dibandingkan pengaruhnya terhadap pergerakan IHSG. Penurunan
Grafik 3.17 IHSG dan Nilai Perdagangan
�� � � � � � �� �� �� �� � ���������������������������������� ���������� ���������� � � ���� ���� ���� �� �� �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� � � � � � � Grafik 3.18 IHSG dan Net Beli Asing
�� ����� ����� ����� ����� � ������������������� �������������������� ���������� � ���� ���� ���� ����� ��� �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� �� � � �� � � � ��
Perkembangan dan Kebijakan Moneter Triwulan IV-2009 BI Rate sebesar 275bps selama 2009 diikuti oleh penurunan yield secara rata-rata sebesar 230bps. SUN dengan tenor jangka pendek tercatat lebih responsif dalam merespon penurunan BI Rate, yang tercermin dari penurunannya yang cukup signifikan. Penurunan yield SUN untuk tenor jangka pendek, menengah dan panjang masing-masing sebesar 359bps, 221bps, dan 119bps. Bahkan jika dibandingkan dengan periode krisis (Oktober 2008), yield SUN jangka pendek, menengah dan panjang masing-masing telah turun sebesar 1198bps, 965bps dan 914bps.
Selain faktor penurunan BI Rate, pergerakan yield pasar SUN juga dipengaruhi oleh perkembangan di pasar keuangan global. Dominannya faktor eksternal tercermin dari relatif selarasnya pergerakan yield SUN dengan perkembangan pasar keuangan global. Yield SUN menurun sejalan dengan menurunnya CDS Indonesia. Dari sisi eksternal, pulihnya kinerja SUN didorong oleh tingginya minat investor asing di pasar SUN. Sejalan dengan pemangkasan Fed Fund Rate ke level 0%-0,25% dan meningkatnya likuiditas global, investor mulai mengalihkan investasinya pada high yielding asset termasuk SUN. Tingginya penanaman modal asing pada instrumen SUN juga didorong oleh membaiknya risiko surat utang Indonesia. Sementara dari sisi domestik, indikator makro ekonomi yang kondusif serta risiko fiskal yang terjaga relatif tidak memberi tekanan terhadap kinerja pasar SUN.
Kembali pulihnya kepercayaan investor asing berdampak signifikan pada likuiditas pasar SUN. Investor asing mencatatkan peningkatan posisi kepemilikan SUN sebesar Rp15,7 triliun atau naik dibandingkan dengan periode sebelumnya yang mencapai Rp9,6 triliun. Namun demikian volume perdagangan SUN secara rata-rata justru mengalami penurunan. Volume total perdagangan SUN pada tahun 2009 tercatat sebesar Rp3,44 triliun perhari atau turun dari posisi tahun 2008 sebesar Rp4,49 triliun perhari (Grafik 3.19). Sementara frekuensi rata-rata harian perdagangan SUN naik dari 266,3 kali perhari pada tahun 2008 menjadi 281,6 kali perhari pada tahun 2009 (Grafik 3.20).
Di pasar Reksadana, transmisi kebijakan moneter terindikasi berjalan yang ditopang oleh stabilitas makro. Berlanjutnya pelonggaran kebijakan moneter di 2009 dan penurunan suku bunga simpanan bank yang diikuti oleh membaiknya kinerja underlying asset pada triwulan III-2009 mendorong peningkatan NAB reksadana. Membaiknya kinerja reksadana juga didukung oleh kondusifnya stabilitas makro ekonomi, yang direspon oleh pengelola reksadana dengan menerbitkan produk-produk reksadana baru sehingga turut menggairahkan aktivitas perdagangan reksadana. Beberapa produk tersebut diantaranya reksadana syariah dan reksadana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (KIK). Beberapa kebijakan lain yang mampu menumbuhkan NAB reksadana diantaranya adalah pengenaan PPH final sebesar 0% yang
Grafik 3.20
Rata-rata Harian Frekuensi Perdagangan SBN
� ��� ��� ��� ��� � � � � � � � � � �� �� �� � � � � � � � � � �� �� �� � � � � � � � � � �� �� ���� ���� ���� ������������� ������� Grafik 3.19
Volume Perdagangan & Yield SBN (seluruh tenor)
� � � � � �� � � � � � � � � � ������ � � � � � � � � � ������ �� � � � � � � ������� � � � � � � � � � ������ � � � � � � � � ��� �� ���� ���� ���� ���� ���� � �� �� �� �������������������������������������� ������������������� ����������� �
masih akan diterapkan untuk bunga dan diskonto atas obligasi yang diperoleh pada 2009-2010. Nilai Aktiva Bersih (NAB) Reksadana meningkat hingga mencapai Rp 101.68 triliun di awal Agustus 2009, dibandingkan pada awal tahun yang hanya sebesar Rp 75,82 triliun (Grafik 3.21). Jenis reksadana yang berkontribusi terhadap peningkatan NAB ini diantaranya reksadana saham, pendapatan tetap dan campuran. NAB ketiga jenis reksadana tersebut pada awal Agustus masing-masing mencapai Rp 35,69 triliun, Rp. 14,16 triliun dan Rp 12,5 triliun.
Grafik 3.21
Perkembangan NAB Reksadana
��� ��� ���� ���� ����� ���� ���� ���� ���� ���� ���� �������� ���� ��������� ����� � �� �� �� �� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ������������������� ���������� ���������������������������������������
Perekonomian Indonesia ke Depan
4. Perekonomian Indonesia ke Depan
Perekonomian Indonesia diprakirakan telah kembali berada dalam fase pertumbuhan ekonomi yang meningkat. Pertumbuhan ekonomi diprakirakan telah mencapai titik
terendahnya pada triwulan II-2009 yaitu 4,0%, dan setelah itu mengalami akselerasi pada triwulan-triwulan selanjutnya. Faktor penting yang mendukung perbaikan tersebut adalah (i) tingkat pertumbuhan ekonomi dan volume perdagangan dunia yang diprakirakan telah mencapai titik terendah pada triwulan I-2009 dan tingkat akselerasi perbaikan yang diperkirakan lebih cepat; (ii) tetap kuatnya konsumsi rumah tangga pasca-periode Pemilu yang terutama didukung oleh rendahnya inflasi dan terjaganya tingkat keyakinan rumah tangga terhadap kinerja perekonomian domestik
Dengan keyakinan berlanjutnya tren akselerasi pertumbuhan ekonomi tersebut ke akhir tahun 2011, pertumbuhan ekonomi tahun 2009 diprakirakan sekitar 4,3% dan
meningkat di kisaran 5,0-5,5% pada tahun 2010 dan 6,0-6,5% di tahun 2011. Motor
pertumbuhan adalah ekspor yang yang secara bulanan telah berada dalam tren pertumbuhan yang meningkat sejak Maret 2009. Akselerasi pertumbuhan ekspor didukung oleh barang ekspor Indonesia yang berbasis komoditas primer, yang mengalami pemulihan cukup cepat sejalan dengan perbaikan permintaan di negara-negara mitra dagang. Di sisi domestik, meskipun tidak setinggi selama periode Pemilu 2009, pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada paruh kedua tahun 2009 dan tahun 2010-2011 diprakirakan tetap kuat dan menjadi penyumbang utama produk domestik bruto (PDB). Relatif tingginya konsumsi rumah tangga selain didukung oleh terjaganya tingkat keyakinan konsumen dan kenaikan pendapatan karena perbaikan ekspor (income effect), juga didorong oleh faktor terkendalinya inflasi. Sejalan dengan membaiknya perekonomian domestik, likuiditas perekonomian juga diperkirakan akan tumbuh lebih tinggi.
Di sisi penawaran, perbaikan yang cukup penting diprakirakan akan mulai terjadi di sektor industri. Sektor ini mulai terpuruk sejak kuartal IV-2008 akibat krisis ekonomi
global yang dirasakan menguat pada saat memasuki awal semester II-2008. Indikasi penting yang mendukung tren perbaikan sektor industri manufaktur adalah kenaikan impor bahan baku serta konsumsi listrik yang relatif tinggi di kalangan bisnis dan industri. Selain karena dampak perbaikan permintaan baik domestik maupun eksternal terhadap sektor-sektor tradable, akselerasi pertumbuhan sektoral secara keseluruhan terjadi melalui proses backward and forward linkage sektor tradable tersebut dengan sektor-sektor lainnya dalam perekonomian.
ASUMSI DAN SKENARIO YANG DIGUNAKAN