• Tidak ada hasil yang ditemukan

(2005) gan Tingkat P

5.6. Keunggulan Komparatif dan Kompetitif

5.7.1. Kebijakan Output

Hasil Output Transfer (OT) usahatani jagung pada Tabel 17 menunjukkan

nilai yang negatif, artinya bahwa harga output di pasar domestik lebih rendah dibandingkan harga internasionalnya. Lebih lanjut, hal ini mengindikasikan adanya kebijakan pajak atau pungutan terhadap output yang dibebankan kepada petani produsen secara tidak langsung. Hal ini sesuai dengan fakta di lapangan bahwa pemerintah kabupaten menerapkan peraturan retribusi terhadap beberapa komoditas pertanian termasuk jagung (Tabel 18), dimana sebenarnya biaya retribusi tersebut dibebankan pada para pedagang pengumpul, namun secara tidak langsung justru yang menanggung adalah petani karena para pedagang membeli hasil jagung petani lebih murah (Rp. 1000 – 2300 per kg) dibanding harga jual kembali (diatas Rp. 2500 per kg). Hal ini dilakukan dengan harapan dapat menutupi biaya retribusi yang akan dikeluarkan nanti pada saat pengangkutan keluar wilayah kabupaten.

Tabel 17. Output Transfer dan Nominal Protection Coeficient on Output Usahatani Jagung dan Padi di Kabupaten Bolaang Mongondow

Usahatani OT NPCO

Jagung Rp. -3 016 041.83 0.75

Padi Rp. 944 028.37 1.07

Hasil OT didukung pula oleh nilai Nominal Protection Coefficient on

Output (NPCO) yang merupakan rasio untuk mengukur output transfer. Nilai

NPCO pada Tabel 17 berarti bahwa karena adanya kebijakan retribusi pajak terhadap komoditi jagung Bolmong, maka nilai total output 25 persen lebih rendah dari nilai (harga) efisiensinya (harga internasional). Lebih lanjut lagi, nilai NPCO

usahatani jagung menunjukkan bahwa kebijakan daerah mengenai usahatani jagung bersifat disinsentif terhadap output. Artinya tidak ada bantuan ataupun intervensi pemerintah baik melalui subsidi harga pembelian maupun proteksi atau pengendalian harga beli aktual, terhadap hasil jagung petani tersebut.

Hal ini menyebabkan tingkat permainan harga relatif tinggi, sebab para pedagang pengumpul mampu mempermainkan harga sementara masing-masing petani tidak punya pilihan lain karena terdesak kebutuhan, utang dan terutama belum adanya acuan harga yang baku dari pemerintah terhadap pembelian hasil jagung mereka.

Fenomena yang terjadi pada usahatani jagung ini sangat berbeda dengan kondisi usahatani padi, dimana dengan hasil OT dan NPCO pada Tabel 17 menunjukkan adanya kebijakan yang bersifat protektif terhadap harga output domestik, sehingga petani bisa menerima harga output yang lebih tinggi. Atau dengan kata lain bahwa karena adanya kebijakan tarif impor beras maka nilai total output 7 persen lebih tinggi dari nilai yang seharusnya, yaitu jika tidak ada kebijakan tarif impor (distrosi dihilangkan).

Hasil penelitian Anapu et al. (2005) mengenai dampak kebijakan tarif impor beras di Kabupaten Minahasa Propinsi Sulawesi Utara, mendukung hasil OT dan NPCO usahatani padi (beras) dalam penelitian ini. Anapu et al. (2005) mengemukakan bahwa kebijakan tarif impor beras dapat memproteksi sistem usahatani padi di Minahasa (padi tadah hujan – irigasi semi teknis luas lahan < 0.5 ha, padi tadah hujan – irigasi semi teknis luas lahan 0.5 – 1 ha, dan padi tadah hujan – irigasi semi teknis dengan luas lahan > 1.0 ha. Diperoleh hasil rata-rata divergensi output adalah 39 persen, dimana 30 persen diantaranya bersumber dari

kebijakan tarif impor. Tanpa adanya proteksi, maka keuntungan privat akan negatif.

Tabel 18. Retribusi Distribusi Komoditi Kabupaten Bolaang Mongondow sesuai Peraturan Daerah Nomor 23 Tahun 2001

No. Jenis Quantum (kg) Besaran Tarif (Rp)

1. Cengkih 100 50 000 2. Vanili kering 100 50 000 3. Vanili basah 100 25 000 4. Biji pala 100 25 000 5. Fuli 100 40 000 6. Jagung 100 5 000 7. Kedele 100 5 000 8. Beras 100 5 000 9. Kentang 100 5 000 10. Sayur 100 5 000 11. Coklat 100 10 000 12. Kopi biji 100 5 000 13. Kopra 100 10 000 14. Telur ayam 100 5 000 15. Ayam daging 100 20 000

Sumber: Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kab. Bolaang Mongondow (2009)

Kebijakan yang bersifat protektif terhadap harga output beras tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah yang menetapkan harga pembelian pemerintah terhadap beras pada tahun 2009 ini sebesar Rp.4 600 per kg. Selain itu beras sebagai makanan pokok utama masih memiliki nilai jual yang lebih tinggi di pasar lokal dibanding jagung, yaitu pada kisaran Rp. 5 000 – 7 000 per kg. Hal ini berbeda dengan harga jagung pipilan yang belum pernah menembus Rp. 4 000 per kg (kondisi Bolaang Mongondow). Walaupun diakui bahwa komoditi jagung ini

berpeluang ekspor, namun dengan adanya berbagai macam retribusi terhadap komoditi pertanian (Tabel 18), menjadi salah satu penyebab tetap rendahnya pendapatan petani produsen dari usahatani jagung ini secara finansial (privat).

Berhubungan dengan masalah tarif tersebut, hasil penelitian Hadi dan Wiryono (2005) mengenai usahatani padi menunjukkan bahwa skenario penghapusan tarif impor baik yang eksplisit maupun implisit akan menyebabkan keuntungan usahatani padi menurun sekitar Rp. 827 ribu sampai dengan Rp. 1.46 juta atau rata-rata Rp. 1.19 juta per hektar per musim atau menurun sekitar 40.41 persen sampai dengan 111.37 persen atau rata-rata 53.48 persen. Sedangkan skenario mempertahankan seluruh tarif implisit (Rp.117.4 per kg) dan menghapus seluruh tarif eksplisit (Rp. 430 per kg) akan menyebabkan keuntungan petani menurun sekitar Rp. 650 ribu sampai dengan Rp. 1.06 juta atau rata-rata Rp. 933 ribu per hektar per musim atau menurun sekitar 31.76 persen sampai dengan 87.53 persen atau rata-rata 42.03 persen. Sementara skenario penghapusan seluruh tarif implisit dan mempertahankan seluruh tarif eksplisit akan menyebabkan keuntungan petani menurun sekitar Rp. 177 ribu sampai dengan Rp. 314 ribu atau rata-rata Rp. 255 ribu per hektar per musim atau menurun sekitar 8.67 persen sampai dengan 23.89 persen atau rata-rata 11.47 persen. Terlihat bahwa dampak skenario kebijakan non tarif lebih ringan daripada skenario kebijakan tarif.

Hadi dan Wiryono (2005) menyimpulkan bahwa kebijakan proteksi yang merupakan kombinasi tarif dan non tarif berhasil meningkatkan harga produsen, jumlah produksi, surplus produsen dan pendapatan petani serta menurunkan jumlah impor beras secara signifikan. Kebijakan nontarif mempunyai efek lebih besar daripada kebijakan tarif. Namun tidak berarti bahwa salah satu kebijakan

dapat dihilangkan karena keduanya saling memperkuat. Jika salah satu kebijakan tersebut dihapus, apalagi keduanya, maka dikhawatirkan akan menyebabkan usahatani padi hancur sehingga tingkat ketergantungan Indonesia pada pasar dunia yang tipis akan makin besar. Kebijakan tarif saja atau kebijakan nontarif saja tampaknya tidak cukup untuk melindungi pertanian padi nasional.

Apalagi dengan penerapan kesepakatan WTO saat ini yang mengharuskan setiap negara anggota untuk membuka pasar yang berdampak pada terjadinya fenomena banjir impor (import surge). Ironisnya justru banjir impor terjadi pada produk-produk bahan pangan, sehingga hal ini dapat merupakan suatu indikator ancaman (faktor ancaman) terhadap keberlanjutan ketahanan pangan nasional. Dampak jangka panjangnya adalah ketergantungan pada bahan pangan impor atau anjloknya kemandirian pangan (Simatupang, 2004).

Dokumen terkait