• Tidak ada hasil yang ditemukan

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis

3.1.7 Kebijakan Pajak Ekspor

Salvatore (1997), menyatakan bahwa perdagangan yang dilakukan secara bebas (free trade) akan dapat memaksimalkan output dunia dan keuntungan bagi setiap negara yang terlibat di dalamnya. Pada kenyataannya, hampir setiap negara menerapkan berbagai bentuk hambatan terhadap berlangsungnya perdagangan internasional secara bebas. Hambatan-hambatan tersebut terkait berkaitan erat dengan praktek dan kepentingan atau komersial dari masing-masing negara.

Bentuk hambatan perdagangan yang paling penting secara historis adalah tarif (tariff). Tarif adalah hambatan perdagangan internasional berupa pajak atau cukai yang dikenakan untuk suatu komoditas yang diperdagangkan lintas-batas teritorial. Ditinjau dari aspek asal komoditas, terdapat dua macam tarif, yaitu tarif impor (import tariff) adalah pajak yang dikenakan untuk setiap komoditas yang diimpor dari negara lain; dan tarif ekspor (export tariff) adalah pajak untuk setiap komoditas yang diekspor.

Pajak ekspor menurut Piermartini (2004) banyak diterapkan di negara berkembang dengan tujuan untuk meningkatkan pendapatan pemerintah dan menjamin ketersediaan produk di pasar domestik. Produk yang menjadi subjek pembebanan pajak ekspor biasanya merupakan produk-produk pertanian seperti gula, kopi, produk kehutanan, kakao, minyak kelapa sawit, produk perikanan, mineral, produk logam dan produk kulit.

Piermartini lebih lanjut menjelaskan bahwa efek pajak ekspor tergantung pada kekuatan pasar yang ada. Pelaksanaan pajak ekspor oleh negara yang memiliki kekuatan pasar akan lebih efektif dibandingkan dengan negara tanpa kekuatan pasar dalam mempengaruhi harga internasional, volume perdagangan, dan distribusi pendapatan. Sementara itu, dampak pajak ekspor pada suatu negara yang tidak memiliki kekuatan pasar akan memperburuk pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan nasional. Karena itu, apabila terjadi peningkatan perdagangan, hal tersebut akan diikuti dengan peningkatan harga ekspor.

Helpman dan Krugman dalam Rifin (2005) memaparkan bahwa penerapan pajak ekspor akan mengurangi harga domestik, sementara itu harga ekspor akan meningkat. Gambar 5 di bawah ini menggambarkan efek pajak ekspor sebesar t. Harga domestik akan turun menjadi Pt, mengurangi surplus konsumen dan surplus

produsen oleh area PfECPt. Pendapatan dari hasil pajak akan sepadan dengan volume setelah pajak dikalikan dengan tarif pajak atau area P*tACPt. Hilangnya pajak sama dengan area BCE dan keuntungan perdagangan sepadan dengan area P*tABPf. Harga P*t = Pt+t A S Pf B Pt C E D Xt Xf Kuatitas Ekspor

Gambar 5. Pembebanan Pajak Ekspor

Sumber : Helpman dan Krugman dalam Rifin. 2005

Kebijakan pajak ekspor ini bukannya tidak lepas dari pro dan kontra. Menurut Arifin (2007), dampak buruk yang akan ditimbulkan PE mulai dari tekanan pada harga beli tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani, dampak transfer sumberdaya (resource transfer) dari produsen CPO kepada industri minyak goreng, sampai pada integrasi industri hulu-hilir yang justru menjadi ancaman baru bagi sistem persaingan usaha yang sehat. Khusus pada dampak yang pertama, transfer pembebanan tambahan PE yang selama ini dirasakan oleh pengusaha kepada petani sawit akan mengakibatkan turunnya harga jual TBS. Tentunya petani lah yang akan menjadi korban dari penerapan PE ini.

Berdasarkan Gambar 6 berikut, P0 merupakan harga saat tidak dikenakannya pajak ekspor yaitu kondisi dimana harga ekspor akan sama dengan harga domestik. Saat itu, jumlah CPO domestik yang ditawarkan sebanyak Q2 dan jumlah yang diminta perusahaan domestik sebanyak Q1, sehingga banyaknya CPO yang diekspor sebesar Q1Q2. Ketika terjadi pengenaan pajak ekspor sebesar lima persen pada bulan Juli 2007, kurva penawaran akan bergeser (Se) ke kiri atas menjadi Se1. Saat itu, harga ekspor sebesar Pe1dan yang diterima eksportir sebesar P1,yang lebih rendah dari P0. Akibatnya jumlah CPO domestik yang ditawarkan

sebesar Q4, sedangkan yang diminta oleh perusahaan domestik sebesar Q1, sehingga jumlah CPO yang diekspor berkurang menjadi Q3Q4.

Pasar Dalam Negeri Pajak Ekspor

Gambar 6. Dampak Pemberlakuan Pajak Ekspor CPO Terhadap Industri CPO

Sumber: Puteri et al., 2006

Setiap pungutan apa pun yang ditujukan kepada pelaku ekonomi, eksportir atau pedagang CPO dikhawatirkan menjadi kontra-produktif terhadap pembentukan harga Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat petani dan tentu saja kesejahteraan petani. Harga yang turun di tingkat eksportir kemudian dialami pula di tingkat produsen membuat posisi tawar petani sangat lemah karena tidak banyak pilihan untuk menjual hasil produksinya. Tidak mustahil, para pedagang menciptakan posisi oligopsonis dengan membebankan biaya pungutan ekspor CPO ini kepada petani.

Hal yang sebaliknya terjadi ketika pemerintah menurunkan pajak ekspor dari tiga persen menjadi 1.5 persen pada bulan Oktober 2005, kurva penawaran ekspor Se1 menjadi Se2. Bergesernya kurva penawaran ini membuat harga ekspor turun dari Pe1 menjadi Pe2, sehingga harga yang diterima eksportir (produsen) meningkat dari P1 menjadi P2.Jumlah CPO yang ditawarkan kemudian meningkat dari Q3Q4 menjadi Q5Q6. Tentunya, dengan kenaikan harga CPO yang diterima produsen akan berdampak pada kenaikan harga TBS yang kemudian akan meningkatkan pendapatan petani sawit.

Arifin (2007) menjabarkan ada dua hal yang perlu diperhatikan agar kebijakan protektif seperti PE menjadi efektif. Pertama, adanya rencana strategis

pengembangan industri berbasis agro melalui skema pengembangan industri hilir terintegrasi, selain minyak goreng seperti oleokimia, shortening, margarine, kosmetika, biodiesel, dan sebagainya. Kedua, membentuk kerjasama antara pemerintah dan stakeholders di bidang agro-industri perkebunan untuk mewujudkan earmarking dari PE CPO dan produk turunannya. Tindakan earmarking atau penandaan alokasi anggaran pemanfaatan penerimaan negara dari PE CPO untuk meningkatkan efisiensi ekonomi dan keadilan bagi segenap stakeholders. Contoh pelaksanaannya sebagai berikut: peningkatan kesejahteraan petani sawit, pengembangan industri hilir berbasis kelapa sawit, pembenahan kemitraan pelaku kecil dan besar, perbaikan kualitas penelitian dan pengembangan (Litbang) bidang agroindustri dan bahkan untuk subsidi harga minyak goreng bagi golongan kurang mampu.

Dokumen terkait