BAB I PENDAHULUAN
C. Kebijakan Pemerintah Terhadap Keadaan Overmacht Dalam
Ketika pandemi Covid – 19 melanda Indonesia, baik debitur maupun kreditur dalam perusahaan pembiayaan mengalami hambatan dalam melakukan usaha dan pekerjaannya. Didalam keadaan seperti ini mayoritas debitur yang dirasa paling banyak terkena dampak dari pandemi covid-197. Hal ini disebabkan karena, debitur dalam perusahaan pembiayaan Masyarakat dalam pembelian kendaraan mobil secara angsuran masyarakat dari menengah kebawah, contohnya seperti tukang roti keliling, pemilik usaha Online Shop, pengemudi taxi online, dan UMKM lainnya yang memerlukan mobil agar usahanya bisa berjalan lancar.
Pada tanggal 31 Maret 2020, Pemerintah Indonesia mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) dan/atau dalam Rangka Menghadapi Ancaman yang Membahayakan Perekonomian Nasional dan/atau Stabilitas Sistem Keuangan. Kebijakan ini dikeluarkan sebagai usaha Pemerintah untuk menyelamatkan perkonomian Indonesia dan stabilitas sistem keuangan di Indonesia dengan memberikan kebijakan relaksasi yang berkaitan dengan penerapan Anggaran Pendapatan
7 Marhaeni Ria Siombo dan Emmanuel Ariananto Waluyo Adi,2020. “Implikasi Keppres No.12 Tahun 2020 Pada Perusahaan Pembiayaan” Refleksi Hukum Jurnal Ilmu Hukum Vol.5 No.1 (Oktober 2020). h.88.
dan Belanja Negara ( APBN) terutama dalam meningkatnya pengeluaran untuk kesehatan, pemulihan perekonomian dan memperkuat kewenangan berbagai lembaga dalam sektor keuangan.
Lalu, diikuti pada tanggal 14 April 2020, Otoritas Jasa Keuangan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 14 tahun 2020 tentang Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019 Bagi Lembaga Jasa Keuangan Non-bank. Countercyclical sendiri adalah kebijakan yang bentuk untuk melawan arus daris siklus bisnis. Maka pada saat terjadi resesi, pemerintah dapat menerapkan kebijakan untuk melakukan pelonggaran fiskal dan moneter. Kebijakan fiskal juga disebut sebagai countercyclical dikarenakan lebih condong untuk menstabilisasi siklus bisnis yang ditandai dengan ketika pembelanjaan pemerintah lebih rendah dan tarif pajak lebih tinggi pada ekonomi sedang berekspansi.
Dalam Pasal 2 POJK Nomor 14 Tahun 2020, lembaga pembiayaan dibagi menjadi perusahaan pembiayaan; perusahaan pembiayan syariah;
perusahaan modal ventura; perusahaan ventura syariah; dan perusahaan pembiayaan infrastruktur. Pembagian lembaga pembiayaan tersebut berbeda dengan pembagian lembaga pembiayaan yang disebutkan dalam Pasal 2 Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2009, dimana dalam pasal tersebut untuk perusahaan pembiayaan syariah dan perusahaan ventura syariah tidak disebutkan.
Lalu, pada Pasal 3 ayat (1) dari POJK Nomor 14 Tahun 2020, menegaskan bahwa kebijakan countercyclicalakibat penyebaan covid-19 bagi Lembaga Jasa Keuangan Non-Bank mencangkup:
1. Batas waktu penyampaian laporan secara berkala;
2. Pelaksanaan penilaian kemampuan dan kepatutan;
3. Penetapan kualitas asset berupa pembiayaan dan restrukturisasi pembiayaan;
4. Perhitungan solvabilitas dalam perusahaan asuransi, perusahaan asuransi syariah, perusahaan reasuransi, dan perusahaan reasuransi syariah;
5. Perhitungan kualitas pendanaan dana pensiun yang menyelenggarakan program pensiun manfaat pasti;
6. Pelaksanaan ketentuan pengelolaan asset sesuai dengan usia kelompok peserta (life cycle fund) bagi dana pensiun yang menyelenggarakan program pensiunan iuran pasti; dan
7. Kebijakan lainnya yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan melewati Kepala Esekutif Pengawas Perasuransian, Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan Dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya.
Kebijakan di atas telah dijalankan dengan menerapkan prinsip kehati-hatian, manajemen resiko, dan tata kelola perusahaan yang baik. POJK Nomor 14 Tahun 2020 juga mengatur tentang penetapan kualitas asset berupa pembiayaan dan restrukturisasi pembiayaan. Dalam Pasal 9 dipaparkan bahwa Lembaga Jasa Keuangan Non-Bank khususnya lembaga pembiayaan dapat melalukan restrukturisasi kepada para debitur yang terdampak pandemi Covid-19 yang dilakukan dengan pertimbangan sebagai berikut:
1. Terdapat proses dan kebijakan restrukturisasi pembiayaan kepada debitur ditandatangani oleh pejabat yang berwenang, jadi penyaluran pembiayaan dilakukan melewati pembiayaan bersana dan pembiayaan penerusan
2. Terdapat permintaan restrukturisasi pembiayaan dari debitur yang terdampak oleh covid-19; dan / atau
3. Terdapat penilaian kelayakan restrukturisasi dari Lembaga Jasa Keuangan Non-Bank dengan cara memberikan laporan Pembiayaan yang direstrukturisasi.
Untuk melakukan restrukturisasi kontrak kepada debitur yang tedampak covid-19 terdapat beberapa kriteria debitur yang harus dipenuhi yaitu debitur yang memiliki angsuran paling besar sebanyak 10 Milyar rupiah, debitur yang memiliki jaminan berupa kendaran mobil atau
bermotor, tanah dan bangunan (hal ini tidak berlaku bagi yang memiliki angsuran dibawah 25 juta),debitur yang merupakan individu yang terinfeksi Covid-19,debitur yang memiliki usaha yang terkena dampak penyebaran covid seperti supir taxi Online, restrukturisasi ini bisa dilaksanakan jika debitur memberikan pengajuan restrukturisasi kepada perusahaan pembiayaan yang nantinya akan dilanjuti dengan mekanisme yang sudah diatur oleh masing-masing perusahaan pembiayaan yang ada.
Kebijakan ini di manfaatkan dengan baik oleh beberapa perusahaan pembiayaan di Tulungagung untuk menghadapi para debitur yang membeli kendaraan mobil dengan sistem angsuran. Karena banyak debitur dari perusahaan pembiayaan tersebut yang memiliki angsuran kendaraan mobil untuk menjalankan usaha jasa transportasi, akan tetapi karena adanya kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) guna untuk memberhentikan penyebaran covid-19 ,usaha tersebut menjadi terhenti.
Pendapatan yang biasanya bisa dihasilkan sebesar 100% menjadi 0%
karena tidak ada pemasukan sama sekali.
Pada kasus ini perusahaan pembiayaan di Tulungagung melihat terlebih dahulu apakah debitur mereka memiliki usaha selain jasa transportasi, jika masih memiliki usaha lain maka perusahaan pembiayaan meminta debitur untuk membayar angsurannya sebesar 50% saja atau jika masih dirasa berat maka kreditur akan meminta untuk membayar bunganya saja. Dan jika ternyata debitur tidak memiliki usaha lain, maka perusahaan pembiayaan akan memberikan angsuran sebesar 0% dan pembayaran angsuran akan ditunda selama 3 bulan, 6 bulan, atau 9 bulan sampai dengan usaha tersebut sudah kembali seperti semula. Tetapi perusahaan pembiayaan menekankan bahwa restrukturisasi ini tidak bisa diberikan kepada debitur yang sudah bermasalah bahkan sebelum munculnya pandemi covid-19.
Tetapi Otoritas Jasa Keuangan menekankan kepada perusahaan pembiayaan untuk tidak melakukan penarikan kendaraan kepada debitur yang selalu patuh dalam membayar angsuran dan debitur yang memiliki itikad baik kepada perusahaan pembiayaan tersebut. Sedangkan, untuk debitur yang memang sebelum pandemi Covid-19 atau Februari 2020sudah bermasalah maka aturan mengenai penarikan dan pengeksekusian barang jaminan masih diizinkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Kebijakan mengenai pembiyaan dan pemberian pembiayaan baru untuk debitur yang terdampak Covid-19 dapat dimanfaatkan sampai dengan bulan Maret 2021, tetapi untuk kebijakan mengenai relaksasi kepada debitur sudah diperbaharui dengan diterbitkannya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 48 Tentang Perubahan Atas Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 11/Pojk.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019, mengatakan bahwa relaksasi ini diperpanjang sampai bulan Maret tahun 2022.
56 BAB IV
PENYELESAIAN SENGKETA PEMBELIAN ANGSURAN KENDARAAN MOBIL DALAM KONDISI PANDEMI SEBAGAI KEADAAN
OVERMACHT DI INDONESIA
A. Hambatan Pelaksanaan Perjanjian Pembelian Angsuran Kendaraan Mobil Dalam Kondisi Pandemi
Otoritas Jasa Keuangan dalam POJK Nomor 14 tahun 2020 Tentang Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019 Bagi Lembaga Jasa Keuangan Non-bank menekan kan bahwa pembiayaan merupakan seluruh aktivitas pemberian fasilitas dalam penyediaan uang atau tagihan yang bisa disamakan dengan itu yang didasarkan pada kesepakatan antara Lembaga Jasa Keuangan Non-Bank dengan debitur, termasuk perusahaan yang dijalankan berdasarkan prinsip syariah. Salah satu bentuk kegiatan dari pembiayaan adalah pembiayaan konsumen (Consumer Finance), pembiayaan konsumen juga memiliki beberapa dasar kegiatan yakni:
1. Consumer Finance menjadi salah satu alternative pembiayaan yang bisa diberikan kepada konsumen.
2. Objek dari pembiayaan konsumen merupakan barang-barang yang menjadi kebutuhan konsumen, biasanya berupa kendaraan bermotor, benda-benda untuk melengkapi kebutuhan rumah tangga atau barang elektronik lainnya.
3. Pembayaran dilakukan dengan sistem kredit (angsuran) yang dijalankan secara berkala, bisa dilakukan setiap bulan, tahun dan ditagih secara langsung kepada debitur.
4. Memiliki jangka waktu yang fleksibel1.
1 Munir Fuady, Pengantar Hukum Bisnis Menata Bisnis di Era Globalisasi, (Bandung:
PT. Citra Aditya Bakti, 2008) h. 401.
PT Wahana Ottomitra Muliartha Tbk merupakan salah satu perusahaan yang menyediakan produk pembiayaan konsumen. PT Wahana Ottomitra Muliartha Tbk atau lebih dikenal sebagai WOM Finance dengan Izin Usaha Perusahaan Pembiayaan Nomor. 135/KMK.06/2001. Didirikan pada tahun 1982 dengan nama PT Jakarta Tokyo Leasing yang awalnya berfokus pada pembiayaan sepeda motor. Tahun 2000 perusahaan mengubah namanya menjadi PT Wahana Ottomitra Muliartha. Lalu pada tahun 2005, PT Maybank Indonesia Tbk mengakuisisi 43% saham perseroan. Diikuti pada tahun 2015, perusahaan menjalankan Right Issue melalui Penawaran Umum Terbatas, disini PT Bank Maybank Indonesia Tbk bertindak sebagai standby buyer. Saham baru diterbitkan sebanyak 1.481.481.480. lalu, saham milik PT Bank Maybank Indonesia Tbk. Berubah menjadi sebesar 68,55%.Visi dari PT Wahana Ottomitra Muliartha adalah “menjadi salah satu perusahaan pembiayaan terbaik di Inonesia”. Memiliki 179 Kantor Jaringan yang terdiri dari 120 Kantor Cabang dan 59 Kantor Selain Kantor Cabang, termasuk 109 kantor cabang yang menjalankan kegiatan berdasarkan prinsip Syariah2.
PT Wahana Ottomitra Muliartha memiliki pembiayaan untuk pengadaan barang yang diperlukan debitur untuk dipakai atau dikonsumsi dalam jangka waktu yang diperjanjikan. Pembiayaan ini biasanya berbentuk pembiayaan mobil. Aktivitas pembiayaan konsumen dalam PT Wahana Ottomitra Muliartha tidak terus berjalan sesuai rencana diantara kreditur dan debitur yang sudah sepakat untuk menjalankan sebuah kontrak yang prestasinya harus dilaksanakan, tetapi tidak dipungkiri bahwa salah satu pihak bisa saja tidak melaksanakan prestasi tersebut, hal ini lah yang biasa kita sebut sebagai wanprestasi. Pembiayaan macet merupakan salah satu penyebab yang membuat pelaksanaan perjanjian pembelian angsuran kendaraan mobil menjadi terhambat.
2WOM Finance, wom.co.id, “Profile Perusahaan”, https://www.wom.co.id/profil , diakses pada tanggal 07 april 2021.
Guna untuk menghindari resiko kerugian dalam perusahaan pembiayaan, aktivitas pemberian kredit harus disertai jaminan. Terdapat tiga bentuk jaminan yang disebutkan dalam Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang jaminan fidusia yakni:
1. Jaminan Utama
Jaminan Utama merupakan jaminan yang berbentuk kepercayaan dari kreditur kepada konsumen bahwa pihak debitur bisa dipercaya dan dianggap sanggup untuk membayar angsurannya. Jaminan ini berkaitan dengan prinsip pemberian kredit yakni Collateral, Capacity, Character, Capital, Condition Economy.
2. Jaminan Pokok
Jaminan Pokok adalah barang yang diperoleh atau dibeli menggunakan biaya yang diberikan oleh kreditur. Sebagai contohnya adalah jika uang tersebut diberikan untuk membeli mobil, maka membuat mobil milik debitur tersebut menjadi jaminan pokok. Jaminan ini berbentuk Fiduciary Transfer of Ownership, yang membuat semua dokumen yang berhubungan dengan kepemilikan barang tersebut akan disimpan oleh pihak kreditur dalam hal ini pemberi dana.
3. Jaminan Tambahan
Jaminan tambahan merupakan jaminan yang bisa ditambahkan dalam transaksi pembiayaan konsumen. Jaminan ini bisa berupa pengakuan utang(Promissory Notes) dari sebuah asuransi. Didalam jaminan ini biasanya diminta persetujuan istri atau suuami untuk konsumen pribadi dan persetujuan komisaris atau RUPS untuk sebuah perusahaan.
Semenjak Covid-19 menyebar di Indonesia, dan ketika Pemerintah Indonesia menetapkan Covid-19 sebagai bencana non alam melalui Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2020 tentang Penetapan Bencana Nonalam Penyebaran Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) Sebagai Bencana Nasional, tidak sedikit lembaga pembiayaan di Indonesia
menghadapi pembiayaan yang macet yang semakin meningkat dalam perjanjian pembelian angsuran kendaraan mobil.
B. Posisi Kasus Putusan PN Tulungagung No. 34/Pdt.G/2020/PN Tlg 1. Posisi Kasus
Pada tanggal 22 Juli 2020, PT Wahana Ottomitra Muliartha digugat oleh Sri Liani yang merupakan debitur dari perusahaan tersebut.
PT Wahana Ottomitra Muliartha diwakili oleh Libra Yudha Sayoga yang merupakan karyawan dari PT Wahana Ottomitra Muliartha sesuai dengan surat kuasa dan surat tugas pada tanggal 30 juli 2020. Kasus ini terjadi saat PT Wahana Ottomitra Muliartha pada tanggal 18 juli 2020 menyita kendaraan mobil milik Sri Liani yang menjadi objek sengketa dalam kasus ini. Sri Liani selaku debitur dan PT Wahana Ottomitra Muliartha selaku kreditur terikat dalam perjanjian yang dibuat pada tanggal 01 Agustus 2019 dengan nomor 1095120190700515 mengenai Perjanjian Pembiayaan dan Pemberian Jaminan Fidusia sebesar Rp 158.872.700,00 (seratus lima puluh delapan juta delapan ratus tujuh puluh dua ribu tujuh ratus rupiah), dengan bunga sebesar 1,58% (satu koma lima delapan persen) yang dibayarkan perbulan sehingga total angsuran perbulan sebesar Rp 6.030.000,00 (enam juta tiga puluh ribu rupiah) yang berakhir pada tanggal 03 Agustus 2022.
Sri Liani selaku debitur telah menjalankan prestasinya dengan baik, ia selalu membayar angsuran dengan tepat waktu selama 7 bulan berturut turut. Tetapi, ketika pandemi covid-19 menyebar di Indonesia, debitur merasa kesulitan dalam membayar angsuran. Sehingga pada tanggal 3 april debitur memutuskan untuk mengajukan permohonan relaksasi kredit berupa penundaan pembayaran angsuran selama satu tahun kepada PT Wahana Ottomitra Muliartha cabang Tulungagung, hal ini sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional sebagai
Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019 . Atas permintaan tersebut PT Wahana Ottomitra Muliartha cabang Tulungagung menjelaskan dan menawarkan program restrukturisasi fasilitas pembiayaan kepada debitur. Pemberian fasilitas ini merujuk pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 14/POJK.05/2020 Tentang Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019 Bagi Lembaga Jasa Keuangan Non-bank.
Tetapi, pihak debitur tidak memberikan respon mengenai tawaran restrukturisasi tersebut. Sehingga pada tanggal 16 Juni 2020, kreditur mengirimkan surat somasi pertama untuk secepatnya memenuhi kewajiban debitur, yakni membayar angsuran sebesar Rp 24.662.700,00 (dua puluh empat juta enam ratus enam puluh dua ribu tujuh ratus rupiah) kepada kreditur. Diikuti pada tanggal 18 Juni 2020, kreditur akhirnya mendatangi dan mengambil sebuah mobil merk TOYOTA INNOVA GRAND NEW G DIESEL yang menjadi objek sengketa. Atas dasar hal itulah debitur membawa kasus ini kepada Pengadilan Negeri Tulungagung karena tindakan dari kreditur dianggap sebagai Perbuatan Melawan Hukum sebab untuk menarik mobil angsuran debitur harus memberikan izin terlebih dahulu kepada debitur. Maka dari itu pada perkara Nomor 34/Pdt.G/2020/PN Tlg tertanggal 22 Juni 2020, dengan amar putusan yang diberikan adalah sebagai berikut:
1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian ;
2. Menyatakan Tergugat telah melakukan tindakan Perbuatan Melawan Hukum;
3. Menghukum Tergugat untuk membayar kerugian Immateriil kepada Penggugat, Sejumlah Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah) ;
4. Menyatakan terhadap obyek sengketa berupa mobil Merk / Type:
TOYOTA INNOVA GRAND NEW G DIESEL 2.5 M/T, adalah
sah untuk segera dikembalikan kepada Penggugat segera setelah putusan ini diucapkan ;
5. Menolak gugatan Penggugat untuk selain dan selebihnya.
Majelis Hakim juga meminta kepada pihak kreditur dan debitur untuk melakukan restrukturisasi perjanjian dengan menetapkan dimulai pada bulan Februari 2021 debitur diminta untuk melunasi tunggakan angsuran yang mana tanggal dan pembayaran sesuai dengan kesepakatan bersama, dengan angsuran yang harus dibayarkan setiap bulannya sebesar Rp 6.030.000,-00,- (enam juta tiga puluh ribu rupiah) dikalikan dengan jumlah bulan keteralambatan Penggugat yaitu sejak bulan April 2020 sampai dengan bulan Februari tahun 2021 yakni 11 bulan.
Sehingga total tunggakan angsuran yang harus dibayarkan adalah sebesar 66.330.000,00 (enam puluh enam juta tiga ratus tiga puluh ribu rupiah).
Setelah pembayaran tunggakan telah dibayarkan maka kreditur dan debitur dapat melaksanakan perjanjian seperti awal sebagaimana mestinya hingga berakhirnya perjanjian tersebut pada tanggal 01 Agustus 2022. Apabila debitur tidak dapat membayar tunggakan angsuran pada bulan Februari 2021 maka debitur dianggap tidak beritikad baik dan kreditur dapat menjalankan hal sesuai dengan peraturan perundang-undangan agar hak kreditur tetap terlindungi secara seimbang.
2. Pertimbangan Hukum Hakim Pengadilan Negeri Tulungagung Hakim Pengadilan Negeri Tulungagung menimbang bahwa yang menjadi inti gugatan penggugat adalah karena tindakan WOM Finance cabang Tulungagung yang menarik secara paksa sebuah mobil Merk / Type TOYOTA INNOA GRAND NEW G DIESEL sebagai objek sengketa yang dimana tanpa sepengetahuan penggugat sehingga tindahkan tersebut dinilai sebagai Perbuatan Melawan Hukum. Dikarena
kan gugatan tersebut dibantah oleh WOM Finance, maka sesuai dengan Pasal 1865 Penggugat diminta untuk membutikan dalil gugatannya begitupun pihak WOM Finance cabang Tulungagung diminta untuk membuktikan dalil bantahannya. Penggugat membuktikan dalilnya dengan mengajukan bukti surat yang diberi tanda P1-P7 serta mengajukan 2 orang saksi.
Hakim menimbang bahwa Perbuatan Melawan Hukum yang diatur dalam Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Perdata memiliki unsure sebagai berikut :
a) Adanya suatu perbuatan ;
b) Perbuatan tersebut melawan hukum ; c) Adanya kesalahan dari pihak pelaku ; d) Adanya kerugian bagi korban;
e) Adanya hubungan kausal antara perbuatan dengan kerugian.
Surat perjanjian antara penggugat dengan tergugat yakni WOM Finance cabang Tulungagung dianggap sebagai bukti permulaan (begin van bewijs) dalam pembuktian diputusan ini. berdasarkan keterangan saksi Penggugat, Majelis Hakim mempertimbangkan salah satu kriteria sifat melawan hukum yang berkaitan dengan fakta persidangan yaitu adanya perbuatan melanggar hak subyektif orang lain dalam hal ini adalah hak Penggugat. Setelah Majelis Hakim memperhatikan bukti surat P-1 dan keterangan saksi penggugat bahwa benar diantara penggugat dengan WOM Finance telah terjalin suatu ikatan perjanjian tertanggal 01 Agustus 2019 dengan nomor 1095120190700515 tentang Perjanjian Pembiayaan dan Pemberian Jaminan Fidusia sebesar Rp 158.872.700,00 (seratus lima puluh delapan juta delapan ratus tujuh puluh dua ribu tujuh ratus ribu rupiah),dan akan berakhir pada tanggal 03 Agustus 2022.
Jika merujuk pada Pasal 196 ayat (3) HIR menegaskan bahwa kreditur harus mengajukan permohonan kepada Ketua Pengadilan Negeri agar dapat melaksanakan eksekusi atas benda jaminan, sehingga karena perjanjian pembiayaan yang dibuat oleh para pihak merupakan akta dibawah tangan dikarenakan dibentuk tanpa dihadapan notaries atau pejabat yang berwenang. Yang mana didalam kondisi tersebut membuat praktik eksekusi harus diawali dengan mengajukan gugatan untuk memperoleh putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Jadi pihak WOM Finance tidak bisa secara spontan melakukan eksekusi berdasarkan kekuasaan sendiri, agar hak konstitusional debitur dan kreditur terlindungi secara seimbang.
Berdasarkan fakta di atas, maka tindakan WOM Finance telah melakukan perbuatan secara sepihak yakni menarik paksa mobil yang berada ditangan Penggugat adalah merupakan perbuatan yang tidak benar secara hukum dan merupakan perbuatan yang merugikan Penggugat atau melanggar hak subyektif orang lain serta telah menimbulkan kerugian bagi orang lain dengan cara melanggar ketentuan Undang-Undang sehingga dengan demikian perbuatan itu sifatnya melanggar hukum dan dikategorikan sebagai suatu “Perbuatan Melanggar Hukum” maka oleh karena Tergugat selaku pihak yang ikut dalam perjanjian yaitu selaku PT Wahana Ottomitra Multiartha. Tbk tentunya bertanggung jawab penuh atas kerugian Penggugat tersebut.
Majelis Hakim menimbang bahwa terdapat itikad baik dari penggugat untuk memenuhi prestasinya hal ini dibuktikan dengan adanya surat permohonan relaksasi kredit. Sehingga peristiwa hukum ini merupakan bukan mengenai wanprestasi atau tidak terpenuhinya prestasi tetapi Penggugat tetap memenuhi prestasinya dengan adanya permohonan Relaksasi Kredit serta perjanjian tersebut belum berakhir dan akan berakhir pada tanggal 03 agustus 2022. pada tanggal 3 April 2020 Penggugat mengajukan permohonan penundaan pembayaran
angsuran selama 1 tahun dan baik penggugat dan pihak WOM Finance mengetahui pengajuan tersebut.
Karyawan WOM Finance juga telah memaparkan secara jelas kepada Penggugat dengan merujuk pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 14/POJK.05/2020 Tentang Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019 Bagi Lembaga Jasa Keuangan Non-bank dengan menawarkan program restrukturisasi fasilitas pembiayaan kepada Penggugat, tetapi sampai dilakukannya pernarikan mobil tersebut penggugat tidak merespon tawaran restrukturisasi fasilitas pembiayaan dari WOM Finance dan malah mengajukan Gugatan ke Pengadilan Negeri Tulungagung.
Pada tanggal 3 April 2020 Penggugat telah mengajukan permohonan penundaan pembayaran angsuran selama 1 tahun, maka Majelis Hakim melihat adanya itikad baik dari penggugat untuk memenuhi kewajibannya. Majelis Hakim menimbang bahwa dengan adanya dukungan WOM Finance kepada Pemerintah Republik Indonesia terhadap masyarakat yang terkena dampak pandemi Covid 19, sehingga menawarkan program restrukturisasi fasilitas pembiayaan kepada penggugat.
Majelis hakim berpendapat bahwa tergugat tidak bisa membuktikan dalil bantahannya sedangkan penggugat dapat membuktikan dalil gugatannya sehingga senyatanya telah terjadi Perbuatan Melawan Hukum yang dilakukan oleh WOM Finance cabang tulungagung dengan melanggar hak subjektif orang lain. berdasarkan pemaparan pertimbangan tersebut maka petitum gugatan penggugat dikabulkan untuk sebagian.
3. Pendapat Peneliti
Setelah peneliti menjelaskan mengenai posisi kasus PN Tulungagung Nomor 34/Pdt.G/2020/PN Tlg beserta Dasar Pertimbangan hukum Hakim peneliti setuju dengan putusan Majelis Hakim. Sebab,
WOM Finance cabang Tulungagung tidak memiliki wewenang untuk melakukan eksekusi penarikan kendaraan mobil tersebut. Karena untuk melakukan eksekusi harus dilakukan oleh badan penilai harga yang resmi atau Badan Pelelangan Umum. Dan karena saat melakukan penarikan pihak perusahaan tidak menunjukan sertfikat jaminan fidusia maka tindakan tersebut dianggap sebagai perbuatan melawan hukum.
Otoritas Jasa Keuangan pun sudah melarang kendaraan mobil oleh perusahaan pembiayaan selama pandemi covid-19 berlangsung. Hal ini sesuai dengan pernyataan Presiden RI Joko Widodo yang menjanjikan akan memberikan pelonggaran pembayaran kredit dalam angsuran kredit kendaraan. Peneliti juga setuju dengan adanya arahan untuk melakukan pembayaran penuh tungggakan yang harus dilaksanakan pada bulan Februari pada tahun 2021 dengan menyesuaikan tanggal pembayaran dalam pelaksanaan bulan sebelumnya dengan kalkulasi jumlah total kewajiban Pengugat sebulan sesuai angsuran setiap bulannya. Sehingga membuat para pihak bisa melanjutkan perjanjian tersebut sampai dengan berakhirnya perjanjian pada tanggal 03 Agustus 2022.
Dan jika penggugat tidak bisa membayar pada bulan Februari tahun 2021, maka penggugat dianggap tidak memiliki itikad baik sehingga pihak WOM Finance cabang Tulungagung bisa mengeksekusi
Dan jika penggugat tidak bisa membayar pada bulan Februari tahun 2021, maka penggugat dianggap tidak memiliki itikad baik sehingga pihak WOM Finance cabang Tulungagung bisa mengeksekusi