• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH

Dalam dokumen Rancangan KUA 2018 (Halaman 29-50)

Struktur APBD terdiri dari Pendapatan, Belanja dan Pembiayaan Daerah. Menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, Pendapatan Daerah adalah semua hak Daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan, sedangkan Belanja Daerah adalah semua kewajiban Daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan, serta Pembiayaan adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan. maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya.

Agar APBD dapat digunakan secara efektif dan efisien, maka diperlukan kebijakan yang tepat dalam pengelolaan keuangan daerah. Arah kebijakan berisi uraian tentang kebijakan yang akan dipedomani oleh Pemerintah Daerah dalam mengelola pendapatan daerah, belanja daerah, dan pembiayaan daerah. Tujuan utama kebijakan keuangan daerah adalah bagaimana meningkatkan kapasitas (riil) keuangan daerah dan mengefisiensikan penggunaannya.

Pada tahun 2018, kebijakan keuangan daerah difokuskan pada kebijakan yang memperhatikan kapasitas fiskal yang utamanya memfokuskan pada Pendapatan Asli Daerah, Pendapatan Transfer dan Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah.

Kebijakan belanja daerah juga diarahkan untuk pemenuhan kebijakan belanja wajib, mengikat dan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Selain itu juga difokuskan pada belanja untuk mendukung peran Jakarta sebagai Ibu Kota Negara Republik Indonesia dan mendukung kebijakan yang

Rancangan Kebijakan Umum APBD Tahun 2018 25 telah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat serta belanja untuk memenuhi ketentuan-ketentuan lain yang sifatnya wajib dan mengikat.

Pembiayaan pembangunan daerah yang terdiri dari penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan diarahkan untuk tetap menjaga stabilitas fiskal daerah sehingga pembangunan daerah dapat berjalan berkesinambungan. Selain itu pembiayaan pembangunan mengedepankan prinsip akuntubilitas, transparansi, kepatutan dan kewajaran, efisien dan efektif.

4.1 Pendapatan Daerah

Salah satu sumber utama penerimaan kas daerah adalah pendapatan daerah. Pendapatan daerah harus dioptimalkan untuk menghasilkan kapasitas keuangan daerah yang makin tinggi guna mendukung pendanaan pembangunan daerah. Sumber pendapatan daerah yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), meliputi : Pendapatan Pajak Daerah, Pendapatan Retribusi Daerah, Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan, Lain-lain PAD yang Sah, sedangkan Dana perimbangan, terdiri dari : Dana Bagi Hasil Pajak, Dana Bagi Hasil Bukan Pajak (Sumber Daya Alam), Dana Alokasi Umum, dan Dana Alokasi Khusus. Sedangkan Lain-lain Pendapatan yang Sah, meliputi: Dana Hibah, Dana Darurat, Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah Daerah lainnya, serta Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus.

Selanjutnya dirumuskan kebijakan yang terkait langsung dengan pos-pos Pendapatan Daerah dalam APBD. Arah kebijakan pendapatan daerah meliputi :

a. Kebijakan perencanaan pendapatan daerah yang akan dilakukan pada tahun anggaran berkenaan, dengan meningkatkan optimalisasi

sumber-Rancangan Kebijakan Umum APBD Tahun 2018 26 sumber pendapatan, sehingga perkiraan besaran pendapatan dapat terealisasikan dan sedapat mungkin mencapai lebih dari yang ditargetkan. b. Uraian arah kebijakan berkaitan dengan target pendapatan daerah.

c. Upaya-upaya pemerintah daerah dalam mencapai target.

4.1.1 Kebijakan Perencanaan Pendapatan Daerah

1. Pajak Daerah

a. Intensifikasi

1) Melakukan optimalisasi penerimaan Pajak Daerah melalui penerapan Online System terhadap 4 (empat) jenis pajak daerah, antara lain Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Hiburan dan Pajak Parkir

2) Melakukan pemutakhiran data objek pajak melalui :

a) Pendataan Wajib Pajak untuk Pajak Hotel, Restoran, Hiburan, Parkir dan Reklame

b) Melakukan pemuktahiran administrasi pajak daerah berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK) terhadap PKB, BPHTB dan PBB

c) Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2): i. Pemutihan/penghapusan Tunggakan/Piutang PBB-P2 ii. Pemutakhiran Data Objek Tanah dan Bangunan iii. Penilaian Individual terhadap objek PBB-P2 3) Melakukan Pemeriksaan terhadap :

a) Wajib Pajak Self-Assessment (Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Hiburan dan Pajak Parkir)

b) Wajib Pajak PBB-KB c) Wajib Pajak PPJ

4) Melakukan Penagihan Piutang Pajak antara lain :

a) Kendaraan bermotor Belum Daftar Ulang (BDU) Pajak Kendaraan Bermotor (PKB)

Rancangan Kebijakan Umum APBD Tahun 2018 27 b) Penyelenggaraan reklame yang Belum Daftar Ulang (BDU)

Pajak Reklame

c) PBB-P2 dan Jenis-jenis Pajak Daerah Lainnya d) Melakukan cleansing data terhadap Piutang Pajak

5) Melakukan pemasangan sticker atau plang bagi penunggak pajak 6) Optimalisasi pelayanan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik

Nama Kendaraan Bermotor melalui penambahan mobil Samling dan Samsat Kecamatan

7) Optimalisasi Penerapan E-Samsat (kesisteman dan penambahan Bank Multikanal)

b. Ekstensifikasi

1) Melakukan Revisi Peraturan Daerah terhadap Pajak Daerah:

a) Melakukan perubahan tarif melalui revisi Peraturan Daerah terhadap jenis pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN - KB) untuk :

i. Kendaraan bermotor penyerahan pertama/baru (BBN-I) yang semula 10 persen menjadi 12,5 – 15 persen

ii. Kendaraan bermotor penyerahan kedua dan seterusnya/ bekas (BBN-II) yang semula 1 persen menjadi 1,5 persen b) Melakukan perubahan tarif melalui revisi Peraturan Daerah

terhadap jenis Pajak Penerangan Jalan (PPJ) untuk:

i. Konsumsi listrik pada industri, pertambangan minyak bumi dan gas alam yang semula sebesar 3 persen menjadi yang disediakan bukan dari BUMN/BUMD tetap sebesar 3 persen dan yang disediakan oleh BUMN/BUMD sebesar 6 persen

ii. Konsumsi listrik pada Rumah Tangga yang semula 2,4 persen menjadi 2,4 - 8 persen tergantung pada jenis pelanggan

Rancangan Kebijakan Umum APBD Tahun 2018 28 iii. Konsumsi listrik pada Tempat Usaha/Dagang yang semula

2,4 persen menjadi 4 - 8 persen tergantung pada jenis pelanggan

c) Melakukan penambahan objek pajak melalui revisi Peraturan Daerah terhadap jenis pahak PBB-P2 untuk objek bumi dan/atau bangunan khususnya perairan pesisir dan reklamasi d) Melakukan perubahan tarif melalui revisi Peraturan Daerah

terhadap jenis Pajak Parkir yang semula sebesar 20 persen menjadi 25 - 30 persen

e) Melakukan perubahan tarif melalui revisi Peraturan Daerah terhadap jenis pajak BPHTB yang semula sebesar 5 persen menjadi sebesar 2,5 persen serta bagi Wajib Pajak Badan berupa perusahaan khusus yang mengelola Dana Investasi Real Estate (DIRE) menjadi sebesar 1 - 2,5 persen

f) Melakukan Perubahan Nilai Sewa Reklame (NSR) dan Kelas Jalan sebagai Dasar Pengenaan Pajak Reklame melalui revisi Peraturan Gubernur

g) Melakukan revisi Peraturan Gubernur terhadap Kebijakan Pembebasan PBB-P2 atas Rumah Rusunawa dan Rusunami yang sebelumnya dengan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) sampai dengan Rp. 1.000.000.000 (satu miliar rupiah) menjadi sampai dengan Rp. 2.000.000.000 (dua miliar rupiah)

2) Peningkatan Kualitas Dan Kuantitas Pelayanan :

a) Melakukan Peningkatan Integritas dan Kualitas SDM

b) Melakukan Pembangunan, Pembenahan, Perluasan dan

Rancangan Kebijakan Umum APBD Tahun 2018 29

2. Retribusi Daerah

Yang dimaksud dengan Retribusi Daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan. Untuk mengoptimalkan pendapatan daerah dari retribusi diperlukan beberapa kebijakan yaitu Peningkatan Pelayanan Retribusi Daerah, serta Intensifikasi dan Ekstensifikasi Penerimaan Retribusi Daerah.

a. Peningkatan Pelayanan Retribusi Daerah melalui :

1) Pengembangan aplikasi e-retribusi menjadi aplikasi SIMPAD (Sistem Informasi Manajemen Pendapatan Daerah) dalam rangka meningkatkan pengelolaan penerimaan retribusi daerah berbasis elektronik.

2) Melaksanakan pelatihan dan bimbingan penggunaan aplikasi SIMPAD kepada SKPD pemungut retribusi.

3) Melaksanakan monitoring implementasi pembayaran retribusi melalui SIMPAD di tingkat SKPD dan UKPD.

4) Menerapkan cash less dalam pembayaran retribusi dengan menggunakan Banking System.

5) Menerapkan sistem e-ticketing untuk menggantikan pelayanan retribusi daerah yang masih menggunakan karcis.

6) Untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat sebagian besar pelayanan retribusi perizinan dan non perizinan dilaksanakan melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu.

b. Intensifikasi dan ekstensifikasi perlu dilakukan secara komprehensif guna optimalisasi penerimaan retribusi. Dalam hal Intensifikasi dan ekstensifikasi Penerimaan Retribusi Daerah dilakukan beberapa kebijakan antara lain :

Rancangan Kebijakan Umum APBD Tahun 2018 30 1) Melakukan penyesuaian tarif secara komprehensif untuk beberapa

jenis Retribusi Daerah;

2) Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan pemungutan Retribusi Daerah.

3. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan dan

Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah

Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan merupakan penerimaan daerah yang berasal dari hasil perusahaan milik daerah dan pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. Penerimaan ini antara lain dari Bank Pembangunan Daerah, perusahaan daerah, dividen dan penyertaan modal daerah kepada pihak ketiga. Untuk meningkatkan kinerja komponen pendapatan ini di daerah adalah sebagai berikut :

a. Meningkatkan kemampuan manajemen pengelolaan bisnis Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang dapat meningkatkan laba BUMD;

b. Menerapkan strategi bisnis yang tepat, serta meningkatkan sinergisitas antar BUMD untuk meningkatkan daya saing perusahaan;

c. Membuat surat penagihan deviden kepada BUMD;

d. Memperkuat struktur permodalan BUMD, antara lain melalui PMD;

e. Pengembangan aplikasi SIMPAD (Sistem Informasi Manajemen

Pendapatan Daerah) dimana dapat melakukan monitoring penerimaan deviden/kontribusi secara realtime dan pencetakan STS secara elektronik;

f. Melaksanakan pelatihan dan bimbingan penggunaan aplikasi SIMPAD kepada Badan Pembina BUMD selaku pembina BUMD.

Lain-lain Pendapatan Asli Daerah merupakan penerimaan daerah yang berasal dari lain-lain milik pemerintah daerah. Penerimaan ini berasal dari hasil penjualan barang milik daerah, dan penerimaan jasa giro. Untuk

Rancangan Kebijakan Umum APBD Tahun 2018 31 meningkatkan kinerja Lain- lain Pendapatan Daerah Yang Sah, kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yaitu sebagai berikut :

a. Mengimplementasikan hasil evaluasi terhadap perjanjian-perjanjian pemanfaatan aset daerah dengan Pihak Ketiga;

b. Mengoptimalkan pemanfaatan aset daerah yang berada di lahan-lahan yang strategis dan ekonomis melalui kerjasama dengan Pihak Ketiga;

c. Mengembangkan pengelolaan mitigasi fiskal daerah melalui Debt

Management;

d. Pengembangan aplikasi SIMPAD (Sistem Informasi Manajemen Pendapatan Daerah) dimana dapat melakukan monitoring penerimaan setoran lain lain pendapatan asli daerah secara realtime dan pencetakan STS secara elektronik.

4. Dana Perimbangan

Dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.

Pemerintah Provinsi akan melakukan koordinasi dengan Pemerintah Pusat bekerja sama dengan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak dan Kantor Pelayanan Pajak Pratama untuk meningkatkan pendapatan yang berasal dari Dana Perimbangan melalui Dana Bagi Hasil Pajak dan Dana Bagi Hasil Bukan Pajak (Sumber Daya Alam) dengan melakukan kegiatan bersama berupa Ektensifikasi dan Intensifikasi Pajak dalam rangka mendukung kebijakan Pemerintah Pusat dan meningkatkan penerimaan Pajak Negara.

5. Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah

Dalam hal ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperoleh hibah dari PT. Jasa Raharja (Persero).

Rancangan Kebijakan Umum APBD Tahun 2018 32

4.1.2 Target Pendapatan Daerah

Rencana Pendapatan Daerah Tahun Anggaran 2018 didasarkan pada realisasi 2016 dan kebijakan pendapatan daerah 2018. Dari rencana Pendapatan Daerah pada APBD tahun 2016 sebesar Rp.57.161.248.465.732, sampai dengan 31 Desember 2016 telah dapat direalisasikan sebesar Rp.53.784.706.312.513 atau 94,09 persen, sebagaimana pada Tabel IV.1 berikut :

Tabel IV.1. Realisasi Pendapatan Daerah Tahun Anggaran 2016 per 31 Desember 2016 (audited)

NO URAIAN 2016 APBD REALISASI (31 DESEMBER 2016/AUDITED) % REALISASI I PENDAPATAN 57.161.248.465.732 53.784.706.312.513 94,09

A. Pendapatan Asli Daerah 38.501.784.839.738 36.888.017.587.716 95,81 Pajak Daerah 33.100.000.000.000 31.613.197.634.662 95,51 -Pajak Kendaraan Bermotor

(PKB) 7.050.000.000.000 7.143.530.355.999 101,33 -Bea Balik Nama-Kendaraan

Bermotor (BBN-KB) 4.800.000.000.000 5.003.996.134.800 104,25 -Pajak Bahan Bakar-

Kendaraan Bermotor 1.050.000.000.000 1.094.901.392.986 104,28 -Pajak Hotel 1.600.000.000.000 1.499.798.259.793 93,74

-Pajak Restoran 2.600.000.000.000 2.453.440.079.189 94,36

-Pajak Hiburan 700.000.000.000 769.535.965.131 109,93 -Pajak Reklame 1.150.000.000.000 899.975.503.275 78,26

-Pakak Penerangan Jalan 775.000.000.000 714.835.029.419 92,24 -Pajak Air Tanah 100.000.000.000 112.417.511.698 112,42

-Pajak Parkir 500.000.000.000 465.990.849.020 93,20

-Bea Perolehan Hak katas Tanah dan Bangunan (BPHTB)

5.150.000.000.000 3.913.363.242.875 75,99

-Pajak Bumi dan Bangunan

(PBB) 7.100.000.000.000 7.010.144.176.545 98,73 -Pajak Rokok 525.000.000.000 531.269.133.932 101,19

Rancangan Kebijakan Umum APBD Tahun 2018 33 NO URAIAN 2016 APBD REALISASI (31 DESEMBER 2016/AUDITED) % REALISASI Retribusi Daerah 649.175.000.000 675.475.066.072 104,05 -Retribusi Jasa Umum 100.000.000.000 86.539.552.416 86,54

-Retribusi Jasa Usaha 149.525.000.000 218.742.129.859 146,29

-Retribusi Jasa Perizinan

Tertentu 399.650.000.000 370.193.383.797 92,63

Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan

324.739.130.552 303.204.423.956 93,37

Lain-lain Pendapatan Asli

Daerah yang sah 4.427.870.709.186 4.296.140.463.026 97,02 B. Dana Perimbangan 15.990.368.025.994 15.271.661.452.714 95,51 Dana Bagi Hasil 12.345.909.779.994 12.388.583.078.514 100,34 -Dana Bagi Hasil Pajak 12.302.767.116.994 12.304.612.421.602 100,01

o PBB 100.041.325.000 106.847.462.006 106,80

o PPH 12.202.725.791.994 12.197.764.959.596 99,95

-Dana Bagi Hasil Bukan

Pajak 43.142.663.000 83.970.656.912 194,63

Dana Alokasi Khusus Non

Fisik 3.644.458.246.000 2.883.078.374.200 79,11 C. Lain-lain Pendapatan Daerah

Yang Sah 2.669.095.600.000 1.625.027.272.083 60,88 Pendapatan Hibah 2.669.095.600.000 1.625.027.272.083 60,88 Sumber : BPKD Provinsi DKI Jakarta, Tahun 2017

Berdasarkan proyeksi kondisi perekonomian tahun 2017 dan 2018 serta realisasi pendapatan daerah sampai 31 Desember 2016 maka rencana Pendapatan Daerah tahun 2018 ditargetkan sebesar Rp.64.889.762.573.448

atau naik 3,88 persen terhadap Penetapan 2017 sebesar

Rp.62.466.130.203.554. Secara lebih rinci, target pendapatan daerah Tahun Anggaran 2018 dapat dilihat dalam Tabel IV.2 berikut :

Rancangan Kebijakan Umum APBD Tahun 2018 34

Tabel IV.2. Target Pendapatan Daerah Tahun Anggaran 2018

NO URAIAN 2017 2018 Δ APBD 2018 - 2017 % Δ APBD RENCANA I PENDAPATAN 62.466.130.203.554 64.889.762.573.448 2.423.632.369.894 3,88 A. Pendapatan Asli Daerah 41.488.193.370.554 42.612.414.052.448 1.124.220.681.894 2,71 Pajak Daerah 35.230.000.000.000 36.125.000.000.000 895.000.000.000 2,54 - PKB 7.900.000.000.000 7.750.000.000.000 (150.000.000.000) (1,90) - BBN-KB 5.000.000.000.000 5.100.000.000.000 100.000.000.000 2,00 - PBB-KB 1.100.000.000.000 1.250.000.000.000 150.000.000.000 13,64 - Pajak Hotel 1.630.000.000.000 1.675.000.000.000 45.000.000.000 2,76 - Pajak Restoran 2.800.000.000.000 2.900.000.000.000 100.000.000.000 3,57 - Pajak Hiburan 750.000.000.000 900.000.000.000 150.000.000.000 20,00 - Pajak Reklame 850.000.000.000 1.050.000.000.000 200.000.000.000 23,53 - Pajak Penerangan Jalan 900.000.000.000 1.000.000.000.000 100.000.000.000 11,11 - Pajak Air Tanah 100.000.000.000 100.000.000.000 - 0,00 - Pajak Parkir 600.000.000.000 650.000.000.000 50.000.000.000 8,33 - BPHTB 5.300.000.000.000 5.600.000.000.000 300.000.000.000 5,66 - PBB 7.700.000.000.000 7.550.000.000.000 (150.000.000.000) (1,95) - Pajak Rokok 600.000.000.000 600.000.000.000 - 0,00 Retribusi Daerah 677.885.370.000 689.900.500.000 12.015.130.000 1,77 - Retribusi Jasa Umum 103.793.400.000 107.832.000.000 4.038.600.000 3,89 - Retribusi Jasa Usaha 164.506.970.000 163.318.500.000 (1.188.470.000) (0,72) - Retribusi Jasa Perizinan Tertentu 409.585.000.000 418.750.000.000 9.165.000.000 2,24 Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan 453.338.246.000 536.318.000.000 82.979.754.000 18,30 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah

5.126.969.754.554 5.261.195.552.448 134.225.797.894 2,62

B. Dana Perimbangan 18.770.211.233.000 22.265.697.601.000 3.495.486.368.000 18,62 Dana Bagi Hasil 15.621.239.355.000 18.621.239.355.000 3.000.000.000.000 19,20 - Dana Bagi Hasil Pajak 15.485.632.231.000 18.485.632.231.000 3.000.000.000.000 19,37 - Bagi Hasil Bukan

Pajak 135.607.124.000 135.607.124.000 - 0,00 Dana Alokasi Khusus

Non Fisik 3.148.971.878.000 3.644.458.246.000 495.486.368.000 15,73 C. Lain-lain Pendapatan

Daerah Yang Sah 2.207.725.600.000 11.650.920.000 (2.196.074.680.000) (99,47) Pendapatan Hibah 2.207.725.600.000 11.650.920.000 (2.196.074.680.000) (99,47)

Rancangan Kebijakan Umum APBD Tahun 2018 35 NO URAIAN 2017 2018 Δ APBD 2018 - 2017 % Δ APBD RENCANA - Hibah untuk MRT 2.196.628.000.000 0 (2.196.628.000.000) (100,00)

- Hibah untuk Jasa

Raharja 11.097.600.000 11.650.920.000 553.320.000 4,99 Sumber : BPKD dan BPRD Provinsi DKI Jakarta, Tahun 2017

Berdasarkan Tabel IV.2 diatas, komponen Pendapatan Daerah yang memberikan kontribusi terbesar dalam peningkatan pendapatan adalah Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp.42.612.414.052.448.

4.1.3 Upaya Pemerintah Daerah dalam Mencapai Target Pendapatan

Daerah

1. Meningkatkan tingkat kepatuhan Wajib Pajak;

2. Optimalisasi data potensi pajak daerah melalui Fiscal Cadaster; 3. Optimalisasi pencairan piutang pajak daerah;

4. Meningkatkan kualitas dan kredibilitas BPRD; dan

5. Optimalisasi sarana dan prasarana pelayanan dan pemungutan pajak daerah.

6. Melakukan koordinasi yang lebih intensif dengan Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Pajak dengan membuat kesepakatan perihal pertukaran data informasi terkait informasi perpajakan maupun laporan keuangan Wajib Pajak tertentu.

7. Meningkatkan kerja sama dengan Kejaksaan Tinggi Provinsi DKI Jakarta dalam hal penagihan piutang pajak daerah.

Rancangan Kebijakan Umum APBD Tahun 2018 36

4.2 Belanja Daerah

Pengalokasian Belanja Daerah oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk tahun tnggaran 2018 disesuaikan dengan asumsi dasar ekonomi makro, kebutuhan penyelenggaraan daerah, kebutuhan pembangunan dan mengikuti ketentuan perundangan yang berlaku. Kebijakan terkait Belanja Daerah untuk tahun anggaran 2018 yaitu sebagai berikut :

4.2.1 Kebijakan terkait Pemenuhan Belanja Mengikat dan Belanja Wajib

(Pasal 106 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006) 1. Memenuhi Belanja Mengikat yaitu belanja yang dibutuhkan secara

terus-menerus dan dialokasikan oleh Pemerintah Daerah dengan jumlah yang cukup untuk keperluan setiap bulan dalam tahun anggaran bersangkutan seperti Belanja Pegawai, Belanja Barang dan Jasa;

2. Memenuhi Belanja Wajib yaitu belanja untuk terjaminnya kelangsungan pemenuhan pendanaan pelayanan dasar masyarakat antara lain : Pendidikan dan Kesehatan dan/atau melaksanakan kewajiban kepada pihak ketiga.

4.2.2 Kebijakan terkait Pemenuhan Belanja Prioritas Dalam Pencapaian

Visi dan Misi RPJPD 2005-2025

1. Melaksanakan Program Prioritas dalam rangka pencapaian Visi dan Misi RPJPD 2005-2025;

2. Melaksanakan sasaran dan prioritas pembangunan tahun 2018 yang merupakan tahun pertama dari periode keempat pembangunan tahun 2018 - 2022 yang tertuang dalam RPJPD Tahun 2005 - 2025. Tahap Ke-4 (Periode 2018 - 2022), adalah periode untuk memantapkan pembangunan kota Jakarta yang aman, nyaman, sejahtera, produktif, berkelanjutan dan berdaya saing global dengan fokus utama mempercepat pembangunan kota dengan menekankan pada peningkatan daya saing global, kapasitas inovasi dan kreasi daerah dan memantapkan kapasitas sarana dan

Rancangan Kebijakan Umum APBD Tahun 2018 37 prasarana kota, tata kelola pemerintahan yang baik, dan perekonomian yang kuat dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan serta efisiensi pemanfaatan SDA;

3. Mengedepankan program-program yang menunjang pertumbuhan

ekonomi, peningkatan penyediaan lapangan kerja dan upaya pengentasan kemiskinan;

4. Melaksanakan program-program yang bersifat mengikat seperti halnya dukungan pencapaian 9 prioritas pembangunan nasional (Nawa Cita) sebagaimana diamanatkan pada RPJMN 2015 - 2019 serta pemenuhan ketentuan perundang-undangan;

5. Melaksanakan pendampingan terhadap program-program pemerintah pusat serta program-program yang didanai oleh Lembaga Keuangan Internasional;

6. Mengakomodir seluruh program pembangunan yang dijaring melalui Aspirasi Masyarakat dalam Musrenbang; dan

7. Mengakomodir hasil telaahan pokok-pokok pikiran DPRD, yang merupakan hasil kajian permasalahan pembangunan daerah yang diperoleh dari DPRD berdasarkan risalah rapat dengar pendapat dan/atau rapat hasil penyerapan aspirasi melalui reses yang dituangkan dalam daftar permasalahan pembangunan yang ditandatangani oleh Pimpinan DPRD sebagaimana yang diatur pada pasal 96 ayat Perda 14 tahun 2011 tentang Perencanaan dan Penganggaran Terpadu.

4.2.3 Kebijakan terkait pengalokasian belanja penyelenggaraan urusan

pemerintah daerah (sesuai dengan Pasal 12 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014)

1. Pendidikan 2. Kesehatan

3. Pekerjaan umum dan penataan ruang

Rancangan Kebijakan Umum APBD Tahun 2018 38 5. Ketenteraman, ketertiban umum dan pelindungan masyarakat. dan 6. Sosial

4.2.4 Kebijakan terkait belanja hibah, bantuan sosial, subsidi, bantuan

keuangan dan belanja tidak terduga

Pemenuhan Belanja Penyelenggaraan Urusan Pemerintah Daerah dilakukan sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 14 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, di mana :

1 Hibah adalah pemberian uang/barang atau jasa dari pemerintah daerah kepada pemerintah atau pemerintah daerah lainnya, perusahaan daerah, masyarakat dan organisasi kemasyarakatan, yang secara spesifik telah ditetapkan peruntukannya, bersifat tidak wajib dan tidak mengikat, serta tidak secara terus menerus yang bertujuan untuk menunjang penyelenggaraan urusan pemerintah daerah;

2 Bantuan sosial adalah pemberian bantuan berupa uang/barang dari pemerintah daerah kepada individu, keluarga, kelompok dan/atau masyarakat yang sifatnya tidak secara terus menerus dan selektif yang bertujuan untuk melindungi dari kemungkinan terjadinya resiko sosial; 3 Bantuan keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 huruf g

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 digunakan untuk menganggarkan bantuan keuangan yang bersifat umum atau khusus dari provinsi kepada kabupaten/kota, pemerintah desa dan kepada pemerintah daerah lainnya atau dari pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah desa dan pemerintah daerah Iainnya dalam rangka pemerataan dan/atau peningkatan kemampuan keuangan.

Rancangan Kebijakan Umum APBD Tahun 2018 39 4 Belanja tidak terduga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 huruf h

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 merupakan belanja untuk kegiatan yang sifatnya tidak biasa atau tidak diharapkan berulang seperti penanggulangan bencana alam dan bencana sosial yang tidak diperkirakan sebelumnya, termasuk pengembalian atas kelebihan penerimaan daerah tahun sebelumnya yang telah ditutup.

4.3 Pembiayaan Daerah

Dalam struktur APBD, selain komponen Pendapatan dan Belanja

Daerah, terdapat juga Pembiayaan Daerah, yaitu setiap

penerimaan/pengeluaran yang perlu dibayar kembali/diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya. Subbab ini berisikan uraian mengenai kebijakan penerimaan pembiayaan dan kebijakan pengeluaran pembiayaan daerah.

Rencana pembiayaan daerah memegang peranan penting dalam penyusunan APBD di DKI Jakarta. Sejalan dengan hal tersebut maka perlu dilakukan perhitungan yang komprehensif dengan memperhatikan potensi pendapatan dan alokasi belanja.

Kebijakan Pembiayaan Daerah di masa yang akan datang, sumber dari sisi Penerimaan adalah dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran sebelumnya dan dari Penerimaan Pinjaman Daerah. Sedang dari sisi pengeluaran pembiayaan direncanakan untuk Penyertaan Modal (Investasi) Pemerintah Daerah.

Kebijakan penerimaan pembiayaan yang akan dilakukan terkait dengan kebijakan pemanfaatan sisa lebih perhitungan anggaran tahun sebelumnya (SILPA), pencairan dana cadangan, hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan, penerimaan pinjaman daerah, penerimaan kembali pemberian pinjaman, penerimaan piutang daerah sesuai dengan kondisi keuangan daerah.

Rancangan Kebijakan Umum APBD Tahun 2018 40 Kebijakan pengeluaran pembiayaan daerah mencakup pembentukan dana cadangan, penyertaan modal (investasi) daerah yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah, pembayaran pokok utang yang jatuh tempo, pemberian pinjaman daerah kepada pemerintah daerah lain sesuai dengan akad pinjaman.

Dalam hal ada kecenderungan terjadinya defisit anggaran, harus diantisipasi kebijakan-kebijakan yang akan berdampak pada pos penerimaan pembiayaan daerah, sebaliknya jika ada kecenderungan akan terjadinya surplus anggaran, harus diantisipasi kebijakan-kebijakan yang akan berdampak pada pos pengeluaran pembiayaan daerah, seperti penyelesaian pembayaran pokok utang dan penyertaan modal.

4.3.1 Kebijakan dan Rencana Penerimaan Pembiayaan

Penerimaan Pembiayaan pada Tahun 2018 ditargetkan sebesar Rp.9.177.189.706.052. Sumber Penerimaan Pembiayaan diharapkan berasal dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Tahun 2017 dan Penerimaan Kembali Pinjaman Daerah. Untuk SiLPA Tahun 2017 diperkirakan akan mencapai Rp.5.495.096.706.052, sementara untuk Penerimaan Kembali Pinjaman Daerah sebesar Rp.3.682.093.000.000.

4.3.2 Kebijakan dan Rencana Pengeluaran Pembiayaan Daerah

Untuk Pengeluaran Pembiayaan Daerah sebagian besar diarahkan untuk Penyertaan Modal Daerah (PMD) sebesar Rp.7.973.604.814.820, yang terdiri atas :

1. PMD untuk PT. MRT sebesar Rp.3.906.093.000.000;

2. PMD untuk PT. Jakarta Propertindo sebesar Rp.3.381.000.000.000; 3. PMD untuk PT. Jakarta Tourisindo sebesar Rp.23.696.814.820; 4. PMD untuk PD. Dharma Jaya sebesar Rp.39.000.000.000

5. PMD untuk PT. Food Station Tjipinang sebesar Rp.125.000.000.000; 6. PMD untuk PD. Pembangunan Sarana Jaya sebesar Rp.394.415.000.000;

Rancangan Kebijakan Umum APBD Tahun 2018 41 7. PMD untuk PT. Penjamin Kredit Daerah sebesar Rp.100.000.000.000; 8. PMD untuk PT. Asuransi Bangun Askrida sebesar Rp.4.400.000.000.

4.4 Ringkasan RAPBD 2018

Berdasarkan kebijakan dan target Pendapatan Daerah, Belanja Daerah dan Pembiayaan Daerah, maka secara ringkas dapat disampaikan Ringkasan Struktur RAPBD 2018 pada Penyempurnaan dan Penyesuaian KUA PPAS Provinsi DKI Jakarta Tahun Anggaran 2018 tercantum pada tabel berikut :

Tabel IV.3. Ringkasan Struktur RAPBD 2018

NO URAIAN 2017 2018 Δ APBD 2018 - 2017 % Δ APBD RENCANA I PENDAPATAN 62.466.130.203.554 64.889.762.573.448 2.423.632.369.894 3,88 A Pendapatan Asli Daerah 41.488.193.370.554 42.612.414.052.448 1.124.220.681.894 2,71 Pajak Daerah 35.230.000.000.000 36.125.000.000.000 895.000.000.000 2,54 - PKB 7.900.000.000.000 7.750.000.000.000 (150.000.000.000) (1,90) - BBN-KB 5.000.000.000.000 5.100.000.000.000 100.000.000.000 2,00 - PBB-KB 1.100.000.000.000 1.250.000.000.000 150.000.000.000 13,64 - Pajak Hotel 1.630.000.000.000 1.675.000.000.000 45.000.000.000 2,76 - Pajak Restoran 2.800.000.000.000 2.900.000.000.000 100.000.000.000 3,57 - Pajak Hiburan 750.000.000.000 900.000.000.000 150.000.000.000 20,00 - Pajak Reklame 850.000.000.000 1.050.000.000.000 200.000.000.000 23,53 - Pajak Penerangan Jalan 900.000.000.000 1.000.000.000.000 100.000.000.000 11,11 - Pajak Air Tanah 100.000.000.000 100.000.000.000 - 0,00 - Pajak Parkir 600.000.000.000 650.000.000.000 50.000.000.000 8,33 - BPHTB 5.300.000.000.000 5.600.000.000.000 300.000.000.000 5,66 - PBB 7.700.000.000.000 7.550.000.000.000 (150.000.000.000) (1,95) - Pajak Rokok 600.000.000.000 600.000.000.000 - 0,00 Retribusi Daerah 677.885.370.000 689.900.500.000 12.015.130.000 1,77 - Retribusi Jasa Umum 103.793.400.000 107.832.000.000 4.038.600.000 3,89 - Retribusi Jasa Usaha 164.506.970.000 163.318.500.000 (1.188.470.000) (0,72)

Rancangan Kebijakan Umum APBD Tahun 2018 42 NO URAIAN 2017 2018 Δ APBD 2018 - 2017 % Δ APBD RENCANA - Retribusi Jasa Perizinan Tertentu 409.585.000.000 418.750.000.000 9.165.000.000 2,24 Hasil Pengelolaan

Dalam dokumen Rancangan KUA 2018 (Halaman 29-50)

Dokumen terkait