2.1. Gambaran Wilayah
2.1.4. Tinjauan RTRW
2.1.4.1. Kebijakan Pengembangan Struktur Ruang Wilayah
Kebijakan dan strategi penetapan struktur ruang wilayah Kabupaten Batang, memuat antara lain sebagai berikut :
a. Kebijakan dan strategi sistem perdesaan
1. Pengembangan kawasan perdesaan sesuai potensi masing-masing kawasan yang dihubungkan dengan pusat kegiatan pada setiap kawasan perdesaan, dengan strategi sebagai berikut :
Pengembangan kawasan perdesaan berbasis hasil perkebunan pada wilayah selatan Kabupaten Batang;
pengembangan pusat pengolahan dan hasil pertanian termasuk lumbung modern pada pusat produksi di kawasan perdesaan
2. Pengembangan pusat desa mulai dari tingkat dusun sampai pusat desa secara berhirarki, dengan strategi sebagai berikut :
Pembentukan pusat pelayanan permukiman perdesaan pada tingkat dusun terutama pada permukiman perdesaan yang berbentuk cluster;
Pengembangan pusat kawasan perdesaan secara mandiri;
Pengembangan kawasan perdesaan potensial secara ekonomi melalui desa pusat pertumbuhan; serta
Meningkatkan interaksi antara pusat kegiatan perdesaan dan perkotaan secara berjenjang.
b. Kebijakan dan strategi sistem perkotaan
1. Pengembangan hirarki perkotaan secara berjenjang dan bertahap sesuai pengembangan perkotaan secara keseluruhan, dengan strategi sebagai berikut : Pengembangan perkotaan pusat SSWP sebagai pusat pelayanan kawasan; Pengembangan perkotaan ibukota kecamatan yang bukan sebagai pusat
SSWP sebagai pusat pelayanan lingkungan.
Pengembangan perkotaan utama di daerah sebagai pusat pelayanan di Perkotaan Reban, Perkotaan Bawang, Perkotaan Tersono dan Perkotaan Gringsing dan Perkotaan Blado sebagai perkotaan orde III;
Mendorong dan mempersiapkan Perkotaan Lingkar Kota Batang sebagai perkotaan satelit penunjang perkembangan Pusat Kegiatan Lokal di Kota Batang;
Mendorong pengembangan Perkotaan Batang sebagai perkotaan dengan fungsi utama pemerintahan, perdagangan/outlet dan pelabuhan; serta
Menjalin kerjasama dengan Kota Pekalongan untuk menunjang dan mempercepat perkembangan fungsi Kota Batang.
c. Kebijakan dan strategi penetapan fungsi kawasan perdesaan dan kawasan perkotaan
1. Pengembangan produk unggulan perdesaan, dengan strategi sebagai berikut : Pada kawasan perdesaan yang berpotensi sebagai pusat sentra produksi
dilengkapi dengan lumbung desa modern;
Mendorong eksport hasil pertanian unggulan daerah; serta
Pengembangan fasilitas sentra produksi-pemasaran pada pusat kegiatan ekonomi di kawasan agropolitan.
2. Penetapan kawasan lahan abadi pertanian pangan atau lahan pertanian yang produktif, dengan strategi sebagai berikut :
Peningkatan sarana dan prasarana pertanian untuk meningkatkan nilai produktivitas pertanian;
Pemberian insentif pada lahan yang telah ditetapkan sebagai lahan abadi pertanian pangan; serta
Pengendalian secara ketat kawasan yang telah ditetapkan sebagai lahan abadi pertanian pangan.
3. Pengembangan sistem agropolitan pada kawasan potensial, dengan strategi sebagai berikut :
Pengembangan produk unggulan disertai pengolahan dan perluasan jaringan pemasaran;
Menetapkan prioritas pengembangan kawasan agropolitan dengan mengarahkan pada Kecamatan yang ditetapkan sebagai kawasan agropolitan;
Peningkatan kemampuan permodalan melalui kerjasama dengan swasta dan pemerintah; serta
Pengembangan sistem informasi dan teknologi pertanian.
4. Memberikan pelayanan sosial ekonomi sesuai potensi kawasan perkotaan dan peran yang harus diemban dalam skala yang lebih luas, dengan strategi sebagai berikut :
Penetapan Kota Batang sebagai perkotaan pelabuhan dan pusat kegiatan ekonomi;
Pengembangan perkotaan sebagai pusat pelayanan sosial ekonomi bagi area yang lebih luas.
5. Pengembangan kawasan perkotaan ibukota kecamatan, dengan strategi pemenuhan fasilitas perkotaan sesuai skala pelayanan ibukota kecamatan serta peningkatan interaksi kawasan perdesaan dengan kawasan perkotaan ibukota kecamatan.
d. Kebijakan dan strategi pengembangan prasarana wilayah.
1. Pengembangan transportasi jalan raya, yang meliputi :
a). Pengembangan jalan dalam mendukung pertumbuhan dan pemerataan wilayah, dengan strategi sebagai berikut :
Pengembangan jalan penghubung perdesaan dan perkotaan;
Pengembangan jalan tol antara ruas Pemalang - Batang dan Batang - Semarang;
Pengembangan koridor Jalan Anjir – Warungasem;
Pengembangan jalan lokal primer pada semua jalan penghubung utama antar kecamatan dan penghubung dengan fungsi utama di daerah yang tidak terletak di jalan arteri maupun kolektor;
Pengembangan jalan tersebut masing-masing memperhatikan penggunaan lahan, melalui kawasan yang minimum resikonya, diusahakan tidak melalui kawasan lindung, pemukiman padat, kawasan industri dan daerah/sawah irigasi teknis.
Apabila melalui kawasan-kawasan seperti disebutkan diatas, maka diusahakan untuk meminimalisasi dampak atau melakukan penggantian. b).Pengembangan infrastruktur pendukung pertumbuhan wilayah yang dapat berupa
terminal tipe B atau sub terminal, dengan strategi sebagai berikut :
Peningkatan infrastruktur pendukung dan pelayanan sub terminal yang memadai;
Peningkatan Areal Pangkalan Kendaraan (truk) bagi kendaraan berat atau disesuaikan perkembangan jalan tol;
Pengembangan terminal barang untuk memasarkan produk pertanian; Pemindahan dan pengembangan sub terminal ke lokasi yang sesuai.
2. Pengembangan transportasi kereta api, yaitu optimalisasi pengembangan sistem transportasi massal dan infrastruktur pendukungnya, dengan strategi sebagai berikut :
a). Pengembangan jaringan double track; b).Perbaikan stasiun atau sub stasiun;
c). Penyediaan pos penjagaan pada pintu perlintasan kereta api. 3. Pengembangan transportasi laut, yang meliputi :
a). Pengembangan Pelabuhan Niaga.
b).Pengembangan akses eksternal dan internal kawasan pelabuhan dalam lingkup yang lebih luas, dengan strategi sebagai berikut :
Pengembangan fungsi jaringan jalan, pengembangan sarana angkutan dan pengembangan prasarana jalan raya;
Menjalin kerjasama dengan daerah lain untuk mendukung pengembangan akses eksternal ini;
Pengembangan jalan penghubung Jalan Lintas Utara dengan pelabuhan. c). Optimalisasi pelayanan pelabuhan dari segi ketersediaan sarana pendukung,
dengan strategi sebagai berikut :
Pengembangan sarana pendukung pelabuhan umum,
Pengembangan sarana pendukung pelabuhan regional maupun nasional dengan orientasi kegiatan pergerakan bahan baku terutama untuk industri maupun ekspor-impor; serta
Pengembangan angkutan massal yang murah dan efisien.
d).Optimalisasi pelayanan pelabuhan dari segi ketersediaan prasarana pendukung, dengan strategi sebagai berikut :
Pengembangan terminal barang dan penumpang;
Pengembangan pangkalan kendaraan angkutan barang; serta Pengadaan halte pada lokasi sepanjang jalur angkutan umum.
e). Penyiapan kelembagaan operasional pengelola kawasan pelabuhan secara keseluruhan, dengan strategi sebagai berikut :
Penyiapan lahan dan infrastruktur penunjang pelabuhan; dan Menyiapkan lembaga pengelola Kawasan Pelabuhan.
4. Pengembangan prasarana telekomunikasi, yang meliputi :
a). Peningkatan jangkauan pelayanan dan kemudahan mendapatkannya, dengan strategi sebagai berikut :
Penyediaan tower BTS (Base Transceiver Station) yang digunakan secara bersama menjangkau ke pelosok perdesaan;
Peningkatan sistem informasi telekomunikasi pembangunan daerah berupa informasi berbasis teknologi internet serta penempatan titik-titik area hotspot minimal menjangkau hingga kecamatan;
Pengembangan prasarana telekomunikasi meliputi telepon rumah tangga, telepon umum, jaringan telepon seluler.
b).Peningkatan jumlah dan mutu telekomunikasi tiap wilayah, dengan strategi sebagai berikut :
Penerapan teknologi telekomunikasi berbasis teknologi modern;
Pembangunan teknologi telekomunikasi pada wilayah - wilayah pusat pertumbuhan; serta
Membentuk jaringan telekomunikasi dan informasi yang menghubungkan setiap wilayah pertumbuhan dengan ibukota daerah.
5. Pengembangan prasarana pengairan, yang meliputi :
a). Peningkatan sistim jaringan pengairan, dengan strategi sebagai berikut : Peningkatan jaringan irigasi sederhana dan irigasi setengah teknis;
Pengawasan dan pemeriksaan secara intensif pada prasarana pengairan, dan pemantauannya dilakukan dengan penggunaan teknologi.
Peningkatan sarana dan prasarana pendukung.
b).Optimalisasi fungsi dan pelayanan prasarana pengairan, dengan strategi sebagai berikut :
Perlindungan terhadap sumber mata air dan daerah resapan air;
Pengembangan embung, bendung, dan cek dam pada kawasan potensial; Mencegah terjadinya pendangkalan terhadap saluran irigasi; serta
Pembangunan dan perbaikan pintu-pintu air. 6. Pengembangan prasarana energi/listrik, yang meliputi :
a). Optimalisasi tingkat kapasitas, pelayanan dan jangkauan, dengan strategi sebagai berikut :
Perluasan jaringan (pemerataan);
Pengembangan sumber listrik melalui pengembangan energi baru; Peningkatan kapasitas sumber listrik;
Peningkatan efisiensi pemakaian listrik.
Penyediaan dan pengembangan jaringan listrik tenaga angin pada daerah atau kawasan pesisir.
b).Perluasan jangkauan listrik sampai ke pelosok desa dengan strategi sebagai berikut :
Peningkatan jaringan listrik pada wilayah pelosok; dan
Penyediaan dan pengembangan jaringan listrik tenaga surya pada daerah yang sulit dijangkau jaringan listrik kabel;
Pengembangan sistem penyediaan setempat misalnya melalui mikro hidro. c). Peningkatan kapasitas dan pelayanan melalui sistem koneksi Jawa – Bali.
7. Pengembangan prasarana lingkungan, yang meliputi :
a). Mereduksi sumber timbunan sampah sejak awal, dengan strategi :
Meminimasi pengunaan sumber sampah yang sukar di daur ulang secara alamiah;
Memanfaatkan ulang sampah (recycle) yang ada terutama yang memiliki nilai ekonomi;
Mengolah sampah organik menjadi kompos.
b).Optimalisasi tingkat penanganan sampah perkotaan, dengan strategi sebagai berikut :
Peningkatan prasarana pengolahan sampah; Pengadaan TPA regional;
Pengelolaan sampah berkelanjutan.
c). Optimalisasi tingkat penanganan sampah perdesaan, dengan strategi sebagai berikut :
Pengolahan sampah yang mendukung pertanian.
d).Penetapan Ruang Terbuka Hijau, dengan strategi sebagai berikut : Pengadaan taman dan hutan kota;
Penetapan luasan ruang terbuka hijau perkotaan minimum 30% dari luas kota;
Pengembangan jenis ruang terbuka hijau dengan berbagai fungsinya. e). Menciptakan lingkungan yang sehat dan bersih, dengan strategi :
Pemenuhan fasilitas septic tank per Kepala Keluarga di wilayah perkotaan; Penanganan limbah rumah tangga dengan fasilitas sanitasi per Kepala
Keluarga juga sanitasi umum pada wilayah perdesaan serta dan wilayah yang tidak tersedia fasilitas sanitasi;
Peningkatan sanitasi lingkungan untuk permukiman, produksi, jasa, dan kegiatan sosial ekonomi lainnya.