• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebijakan Perdagangan Non-tarif (Hambatan non-Tariff) Perdagangan Tuna di Pasar Uni Eropa

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.3 Kebijakan Perdagangan Non-tarif (Hambatan non-Tariff) Perdagangan Tuna di Pasar Uni Eropa

6. 2005 Council Regulation (EC) No. 980/2005

Pemberlakuan skema GSP dimulai 1 Januari 2006-31 Desember 2008

5.3 Kebijakan Perdagangan Non-tarif (Hambatan non-Tariff) Perdagangan Tuna di Pasar Uni Eropa

Perhatian utama Uni Eropa saat ini berada pada bahan pangan yang masuk ke Uni Eropa. Hal yang menjadi fokus utama yaitu berupa standar mutu, sanitasi serta isu lingkungan. Standar mutu secara internasional merupakan penggabungan 6 prinsip utama, yaitu terbuka, transparan, tidak memihak, berdasarkan konsensus, efektif dan relevan, koheren dan memilki dimensi perkembangan (BSN 2003).

Komisi Eropa pada tahun 1991 menetapkan beberapa hal penting yang berkaitan dengan impor hasil perikanan dari negara dunia ketiga, termasuk produk tuna Indonesia yang masuk ke Uni Eropa. Hal penting tersebut merupakan usaha Uni Eropa dalam menjaga kesehatan para konsumen.

Kunci sukses suatu produk pangan (khususnya perikanan, dalam hal ini tuna) masuk pasar Uni Eropa harus merupakan produk yang berkualitas yang memiliki standar mutu yang baik. Kebijakan perdagangan yang dikeluarkan Uni Eropa sebagai usaha nyata menjaga kesehatan masyarakatnya berupa Council

Directive No.91/493/EC yang mengatur mengenai kondisi kesehatan untuk

produk dan pemasaran produk perikanan, dimana isi dari CD banyak mengatur mengenai penyetaraan atau usaha ekuivalen antara sistem Uni Eropa dengan negara pengekspor. Pada tahun 1992, Uni Eropa kembali mengeluarkan peraturan yang mengatur keamanan produk dan tertuang dalam Council Directive

92/59/EEC tanggal 29 Juni 1992. Peraturan ini menjelaskan mengenai RAS (Rapid Alert System) yang pertama kali diberlakukan pada tahun 1984. RAS merupakan sistem yang mampu menyediakan informasi secara cepat terhadap resiko yang terkait dengan keamanan konsumen. Komisi Eropa merupakan pusat dari jaringan RAS yang terdiri dari national authorities dan EFSA (European

Food Safety Authority). Pada tahun 1992 dikeluarkan kembali Directive

92/48/EEC mengenai ketentuan batas minimum higienis untuk produk perikanan tangkap.

Uni Eropa sangat detail mengeluarkan peraturan mengenai kontrol yang digunakan sebagai monitoring terhadap kesehatan hewan, ikan dan produk perikanan. Kontrol resmi yang dilakukan sangat berpengaruh terhadap negara berkembang yang melakukan ekspor ke Uni Eropa. Directive lain yang mengatur lebih dalam lagi produk hasil perikanan berupa Commission Regulation (EC) No 466/2001 yang mengatur mengenai taraf maksimum kontaminasi dalam bahan pangan. Untuk produk perikanan dan aquakultur taraf maksimum kontaminan yang diatur seperti mercury, cadmium, dan logam berat.

Peraturan selanjutnya yang merupakan dasar dari sistem manajemen mutu dan pengawasan keamanan bahan pangan Uni Eropa ialah EC No.178/2002 tentang prinsip umum dan persyaratan hukum pangan, pembentukan otoritas keamana pangan Eropa dan penetapan prosedur yang terkait dengan keamanan pangan. Peraturan ini merupakan peraturan yang merangkum semua aturan untuk menghasilkan produk yang bermutu tinggi dalam pasar Uni Eropa. Peraturan ini menetapkan prinsip umum undang-undang pangan, pendirian EFSA (European

Food Safety Authority) yang memulai kegiatannya pada tanggal 1 Januari 2002,

dan penetapan prosedur-prosedur yang terkait dengan keamanan pangan. Prosedur keamanan pangan yang diatur pada regulasi mengenai sistem ketelusuran

(tracebility) yang sangat spesifik dinyatakan dalam bagian 4 peraturan ini, khususnya pasal 18.

Konsep ketelusuran (tracebility) yang diatur oleh regulasi ini yaitu setiap produsen harus mampu menunjukkan bahan dan sumber asal bahan dalam rangka memproduksi produknya dan kemanan produk tersebut dipasok. Permasalahan ketelusuran ini menjadi sangat penting sebab berdasarkan peraturan Komisi Eropa

tersebut produk (makan dan pakan) tidak diijinkan untuk dipasarkan bila tidak aman (pasal 14).

Regulasi ini juga mengatur mengenai Rapid Alert System yang sudah dilakukan sebelumnya sehingga saat ini RASFF yang dilakukan di Uni Eropa berjalan dengan lebih baik dengan kata lain sistem pengamanan terhadap pangan dan pakan yang masuk ke Uni Eropa semakin ketat. Tingkat perlindungan mutu dan keamanan pangan Uni Eropa sudah melebihi ketentuan Codex Alimentarius

Comission bahkan memiliki tingkat keketatan yang paling tinggi dibandingkan

negara lainnya (Iqbal 2008). Mekanisme kerja RASFF yang dilakukan Uni Eropa dapat dilihat pada Lampiran 5.

EC No. 178/2002 diperjelas dalam aplikasinya oleh EC No. 852/2004 tentang keamanan bahan pangan, EC No. 853/2994 tentang aturan khusus untuk pangan asal hewan, EC No. 854/2004 tentang aturan khusus bagi organisasi pengawas resmi (Compotent Auhtority) atas produk asal hewan yang ditujukan untuk konsumsi manusia. Persyaratan teknis hasil turunan dari EC No. 178/2002 mengenai pangan dalam perdagangan pangan di Uni Eropa terdapat pada EC No. 466/2001 tentang batas maksimum bahan kontaminan dalam bahan pangan dan EC 2073/2005 mengenai kriteria mikrobiologis untuk bahan pangan. Persyaratan teknis tersebut menjadi acuan bagi Uni Eropa dalam melakukan pengawasan terhadap bahan pangan khususnya terhadap produk tuna impor. Batas maksimum bahan kontaminan dalam bahan pangan yang diatur dalam EC No. 466/2001 dan EC 2073/2005 dan daftar inventarisasi kebijakan non-tarif Uni Eropa yang berpengaruh terhadap produk tuna impor dapat dilihat Tabel 15 dan Tabel 16.

Tabel 15. Batas Maksimum Bahan Kontaminan dalam Bahan Pangan yang Diatur dalam EC No. 466/2001 dan EC 2073/2005

No Indikator Uni Eropa

1 Histamin 100 ppm 2.1 Merkuri (Hg) 1 mg/kg 2.2 Kadmium (Cd) 0,05 mg/kg 2.3 Timbal (Pb) 0,2 mg/kg 3 Mikrobiologi > E.coli : 230 MPN/100 gr > Salmonella

Tidak terdeteksi dalam 25gr

> Listeria monocytogenes

Tidak terdeteksi dalam 25gr

> Clostridium bouolinum: negative Sumber : DKP, 2007b,h

Tabel 16. Inventarisasi Kebijakan Non-tarif Uni Eropa yang Berpengaruh Terhadap Produk Tuna Ekspor

No Regulasi Deskripsi

1. Council Directive 91/493/EEC 9 Mengatur Mengenai Kondisi Kesehatan untuk Produk dan Pemasaran Produk Perikanan. 9 Ketentuan bagi negara dunia ketiga harus

mempunyai sistem yang setara dengan sistem yang ada di UE agar dapat melakukan ekspor hasil perikanannya ke UE.

2. Council Directive 92/59/EEC

tanggal 29 juni 1992 Tentang Keamanan Produk Umum. (merupakan dasar pertimbangan pembentukan (EC) No. 178/2002). 3. Council Directive No.

92/48/EEC Mengenai Ketentuan Batas Minimum Higien untuk Produk Perikanan 4. Regulasi Komosi (EC) No

466/2001 8 Maret 2001 Menetapkan Taraf Maksimum bagi Pencemar Tertentu dalam Bahan Pangan

5. Regulasi (EC) No 178/2002 dari Dewan dan Parlemen Eropa 28 Januari 2002

Prinsip-prinsip Umum dan Persyaratan Hukum Pangan, Pembentukan Otoritas Keamanan Pangan Eropa dan Penetapan Prosedur yang Terkait dengan Keamanan Pangan

6. Regulasi EC no. 852/2004 dari Dewan dan Parlemen Eropa tanggal 29 April 2004

Higien Bahan Pangan 7. Regulasi (EC) No 853/2004

dari dewan dan parlemen Eropa tanggal 29 April 2004

Aturan Higien Khusus untuk Pangan Asal Hewan. 8. Regulasi (EC) No 854/2004

dari Dewan dan Parlemen Eropa tanggal 29 April 2004

Aturan Khusus Bagi Organisasi Pengawasan Resmi Atas Produk Asal Hewan yang Dimaksudkan untuk Konsumsi Manusia

9. Regulasi Komisi (EC) No.

10. Regulasi Komisi (EC) No.

2074/2005 5 Desember 2005 Tambahan Penjelasan dan Amandemen terhadap EC No. 853/2004, EC No. 854/2004, 852/2004 dan EC No. 882/2004

11. 2006/236/EC tanggal 21 Maret 2006

Kondisi khusus untuk produk perikanan asal indonesia dan yang ditujukan untuk konsumsi manusia dan mengatur Systemic Border Control yaitu mengecek setiap consignment/container di setiap port entry Sumber : DKP, 2007c-h

5.4 Perkembangan Perdagangan Bilateral antara Indonesia dan Uni Eropa