• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

4. Kebijakan Subsidi Pupuk

Berdasarkan pembentukan wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2000 yang kemudian dilanjutkan dengan pemekaran wilayah Kabupaten Bangka Tengah pada tahun 2003, maka implementasi kebijakan subsidi pupuk dibagi ke dalam 2 (dua) periode sistem distribusi, dengan penjelasan sebagai berikut :

a. Sistem Distribusi Periode 2000 - 2006

Kondisi sistem distribusi pupuk bersubsidi pada periode ini, oleh Syafa’at, N, dkk. (2007) dijelaskan bahwa :

Untuk membantu pabrik pupuk urea agar dapat berproduksi secara berkesinambungan, pemerintah memberikan fasilitas IGD (Insentif Gas Domestik) kepada PT Pusri, PT Pupuk Kaltim, dan PT Pupuk Kujang melalui Surat Menteri Keuangan nomor : 588/MK.017/2000 tanggal 24 November 2000 dan Surat No. S-650/MK.017/2000 tanggal 26 Desember 2000. Harga gas yang menjadi beban PT Pusri (Pusri IB, II, III, dan IV), PT Pupuk Kaltim atas konsumsi gas tambahan (volume melebihi kontrak) pada Kaltim I, II dan III serta PT Pupuk Kujang adalah sebesar US$ 1,3 per MMBTU.

Pemerintah mengatur kembali tata niaga pupuk urea melalui keputusan Menperindag Nomor : 93/MPP/Kep/3/2001 tanggal 14 Maret 2001 tentang pengadaan dan penyaluran pupuk urea untuk sektor pertanian. Penyaluran pupuk urea untuk tanaman pangan, perikanan, peternakan dan perkebunan rakyat dilaksanakan oleh unit niaga PT Pusri, produsen, distributor dan pengecer. SK ini juga

Universitas

memuat tentang persyaratan sebagai distributor.

Surat Keputusan (SK) Menperindag No. 70/MPP/Kep/2/2003 tanggal 11 Februari 2003 telah mengatur kembali pola Pengadaan dan Penyaluran Pupuk Bersubsidi untuk Sektor Pertanian, yaitu dengan pola rayonisasi distribusi pupuk bagi produsen pupuk. Dalam hal ini, Menperindag menetapkan PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) bertanggung jawab terhadap distribusi pupuk urea ke Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatera Utara. PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) bertanggung jawab atas distribusi pupuk ke Propinsi Sumatera Barat, Jambi, Riau, Bengkulu, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DIY, dan Kalimantan Barat. Sedangkan PT Pupuk Kujang mendistribusikan ke Propinsi Jawa Barat dan PT Petrokimia Gresik (Petrogres) ke Propinsi Jawa Timur. Sementara PT Pupuk Kaltim (PKT) mendistribusikannya ke Propinsi Bali, NTB, NTT, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Maluku, Maluku Utara dan Papua. Kemudian menyusul Surat Keputusan No. 306/MPP/Kep/4/2003 yang mengatur tentang perubahan atas Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 70/MPP/Kep/2/2003 tentang Pengadaan dan Penyaluran Pupuk Bersubsidi untuk Sektor Pertanian. SK ini mengatur tentang syarat-syarat bagi importir serta tatacara pengadaan pupuk bersubsidi dan non subsidi melalui impor.

Dalam rangka lebih meningkatkan kelancaran pengadaan dan pendistribusian pupuk bersubsidi, maka Pemerintah menerbitkan Surat Keputusan Nomor : 356/MPP/Kep/5/2004 tanggal 27 Mei 2004 yang menegaskan kembali tanggung jawab masing-masing Produsen, Distributor, Pengecer serta pengawasan terhadap pelaksanaannya di lapangan.

Sistem distribusi pupuk disempurnakan lagi melalui Permendag No 03/MDAG/PER/2/2006, tanggal 16 Pebruari 2006, dimana kelompok tani dapat membeli langsung kepada distributor di lini III, dan kelemahan sistem distribusi ini dibanding sistem distribusi Nomor : 356/MPP/Kep/5/2004 adalah produsen tidak bertanggung jawab penuh atas sistem distribusi dari Lini I sampai Lini IV, tetapi ditanggung bersama distributor dan pengecer. Apabila kejadian kenaikan harga dan langkanya pasokan terjadi di Lini II, maka yang bertanggung jawab adalah produsen, bila terjadi di Lini III yang bertanggung jawab adalah distributor, dan bila terjadi di lini IV yang bertanggung jawab adalah pengecer. Namun sistem distribusi berdasarkan Permendag No. 03/MDAG/PER/2/2006 sudah bersifat semi tertutup. Dengan demikian, selama periode 2001 – 2006 sistem distribusi pupuk sedang menuju sistim tertutup.

Universitas

b. Sistem Distribusi Periode 2007 – 2012

Selanjutnya kondisi sistem distribusi pada periode ini, oleh Syafa’at, N, dkk. (2007) dijelaskan pula bahwa :

Pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi dari produsen (Lini I dan Lini II) menggunakan jalur distribusi melalui distributor (lini III) dan penyalur (lini IV) sebagaimana barang bebas sesuai Permendag 21/M-DAG/PER/6/2008. Pengawasan dan pemantauan pelaksanaan pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi dari Lini I - Lini IV menjadi kewajiban produsen pupuk dan di tingkat daerah menjadi tanggung jawab Gubernur/Bupati/Walikota melalui Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) provinsi/ kabupaten/kota. Selanjutnya pengawasan dan pemantauan pelaksanaan penyaluran dari penyalur di Lini IV ke petani diatur dengan Permentan No. 42/Permentan/OT.140/09/2008 dengan menunjuk petugas pengawas sebagai satu kesatuan dengan KP3 kabupaten/kota. KP3 kabupaten/kota dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh Tenaga Harian Lepas (THL) Tenaga Bantu Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan dan Penyakit (POPT-PHP). Dalam Permendag 21/M-DAG/PER/6/2008 disebutkan bahwa yang dimaksud pupuk bersubsidi adalah pupuk yang pengadaan dan penyalurannya mendapat subsidi dari pemerintah untuk kebutuhan petani yang dilaksanakan atas dasar program pemerintah di sektor pertanian (dalam hal ini adalah Departemen Pertanian). Hal ini berarti bahwa pupuk bersubsidi diadakan oleh produsen pupuk atas pesanan dari petani/kelompok tani yang dikoordinir oleh Kantor Cabang Dinas Pertanian di tingkat kecamatan, Kantor Dinas yang membidangi pertanian di tingkat kabupaten/kota, Kantor Dinas yang membidangi pertanian di tingkat provinsi untuk sampai ke Departemen Pertanian.

Dengan RDKK maka jenis, jumlah, waktu, pihak pemesan, serta pihak yang mengkoordinir pesanan pupuk bersubsidi menjadi jelas sehingga penyalurannya akan menjadi mudah karena dilaksanakan oleh yang mengkoordinir pesanan tersebut. Penyaluran pupuk bersubsidi dari produsen kepada lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah Daerah di Lini III untuk disampaikan kepada kelompok tani pemesan. Penyaluran secara langsung ini sangat dimungkinkan, dalam Permendag 21/M-DAG/PER/6/2008 disebutkan bahwa apabila penyaluran pupuk bersubsidi oleh distributor dan/atau penyalur di Lini IV tidak berjalan lancar, produsen wajib melakukan penyaluran langsung (operasi pasar) kepada petani dan/atau kelompok tani di lini IV setelah berkoordinasi dengan bupati/walikota cq. Kepala Dinas yang membidangi pertanian. Dengan demikian, selama periode 2007 – 2012 sistem distribusi pupuk sedang menuju sistim terbuka.

Universitas

c. Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK)

Dokumen terkait