BAB 5 Arah Kebijakan Investasi Wilayah Metropolitan Cirebon Raya Di Masa
5.2 Arah Kebijakan Investasi Wilayah Metropolitan Cirebon Raya
5.2.1 Kebijakan Umum Investasi
Hasil dari persamaan regresi terkait dengan kebutuhan investasi di masing-masing kabupaten/kota di wilayah Metropolitan Cirebon Raya menunjukkan bahwa kebutuhan investasi sangat dipengaruhi oleh besarnya kapasitas perekonomian dari masing-masing daerah dan juga oeh besarnya perubahan penduduk yang ada di masing-masing daerah. Kabupaten Cirebon yang memiliki PDRB lebih besar dibandingkan dengan PDRB Kota Cirebon, Kabuapten Kuningan, Indramayu dan Majalengka membutuhkan investasi yang juga lebih besar dibandingkan dengan Kotaka bupaten lainnya. Sebaliknya daerah yang memiliki kapasitas PDRB lebih kecil (seperti Kota Cirebon) akan membutuhkan investasi yang lebih sedikit dibandingkan dengan kabupaten yang memiliki PDRB lebih besar. Sedangkan semakin besar laju pertumbuhan penduduk maka kebutuhan akan investasi akan semakin sedikit - kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat produktivitas dari penduduk cukup besar di kawasan Metropolitan Cirebon Raya.
135 Berdasarkan hasil persamaan kebutuhan investasi tersebut maka kebijakan umum investasi di Kawasan Metropolitan Cirebon Raya diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Kabupaten Cirebon membutuhkan pertumbuhan investasi sebesar 19,93% jika ingin meningkatkan pertumbuhan ekonominya menjadi sebesar 5,5%. Begitu juga dengan Kabupaten Kuningan, kebutuhan investasi di Kabupaten ini adalah sebesar 19,35% untuk tingkat pertumbuhan ekonomi yang sama, yaitu sebesar 5,5%. sedangkan kebutuhan investasi di Kabupaten Indramayu, Kabupaten Majalengka masing-masing sebesar 19,19% dan 19,34% untuk target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,5%. Kota Cirebon membutuhkan laju pertumbuhan investasi yang lebih kecil dibandingkan dengan kabupaten lainnya di Kawasan Metropolitan Cirebon Raya. Kebutuhan investasi di Kota Cirebon hanya sebesar 17,89% untuk setiap 5,5% pertumbuhan ekonomi yang hendak di capai.
2. Dari hasil regresi menunjukkan bahwa hingga saat ini Kawasan metropolitan Cirebon Raya masih sangat terbuka dengan migrasi tenaga kerja - khususnya tenaga kerja yang cukup terampil dan memiliki keahlian tertentu yang dibutuhkan bagai peningkatan pembangunan. Kebutuhan akan tenaga kerja yang terampil akan mengurangi kebutuhan akan investasi, karena pertumbuhan ekonominya tidak saja hanya ditopang oleh peningkatan besaran investasi akan tetapi juga ditopang oleh produktivitas tenaga kerja. Untuk bisa menarik tenaga kerja terampil bermigrasi ke Kawasan Metropolitan Cirebon Raya, dibutuhkan aktivitas ekonomi yang teraglomerasi - karena diyakini aglomerasi ekonomi akan mengakibatkan adanya labor pooling, yang pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas melalui adanya transfer of knowledge. Karena itu penetapan kawasan-kawasan industri beserta peruntukannya menjadi prasyarat agar kebutuhan investasi dan kebutuhan akan tenaga kerja terampil bisa terpenuhi.
3. Untuk menjamin agar kebijakan no. 2 bisa dilaksanakan dengan baik, maka perlu dilakukan perubahan pada peraturan penataan ruang, dan juga kebijakan mengenai zonasi. Selain itu untuk memperkecil resiko terjadinya spekulasi - khususnya yang berasal dari spekulan tanah - maka kebijakan mengenai land freeze juga perlu diberlakukan, khususnya pada lahan-lahan yang sudah ditetapkan sebagai daerah kawasan industri. Selain itu peningkatan kebutuhan akan infrastruktur juga perlu di sediakan oleh pemerintah, karena diyakini - berdasarkan teori mengenai
Infrastructure Led Growth Theory - bahwa ketersedian infrastruktur akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang pada akhirnya akan mendorong perkembangan investasi.
4. Untuk mendukung masuknya investasi maka pemerintah daerah perlu mengupayakan peningkatan promosi daerahnya masing-masing, melalui penyusunan berbagai feasibility study (FS) untuk sektor-sektor yang menjadi unggulan dimasing-masing daerahnya. Penyusunan FS dianggap perlu agar para calon investor tidak lagi merasa bingung mengenai sektor apa
136 yang harus saya kembangkan jika ingin berinvestasi di Kawasan Metropoitan Cirebon Raya. Selain itu FS juga akan memperkecil biaya yang harus dikeluarkan oleh para investor, karena mereka tidak akan mengeluarkan Sunk Cost dalam jumlah yang cukup besar.
5. Menurut Studi yang dilakukan oleh KPPOD, jumlah investasi yang masuk ke suatu daerah akan sejalan dengan semakin baiknya iklim investasi di suatu daerah. Mudahnya proses perijinan investasi, kejelasan aturan berinvestasi dan juga transparasi dalam proses pengurusan ijin investasi merupakan tata kelola (governance) yang harus diperbaiki oleh daerah untuk meningkatkan jumlah investasi yang masuk ke daerahnya. Faktor intsitutional ini menjadi sangat penting untuk bisa mendapatkan investasi di era persaingan yang bersifat monopolistic competition - sebagai akibat dari penerapan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal.
6. Upaya peningkatan investasi juga akan terwujud ketika daerah memiliki daya saing yang tinggi. Peningkatan daya saing suatu daerah akan menarik investor untuk berinvestasi ke daerah tersebut, sehingga terjadi apa yang oleh Myrdal disebut sebagai Cummulative Causation - Daerah yang memiliki daya saing tinggi akan menarik investasi yang lebih besar ke daerahnya, sementara itu investasi yang masuk kedaerah tersebut akan semakin meningkatkan daya saing daerah. Kejadian ini akan terjadi secara terus menerus dan bersifat akumulasi. Sementara itu Porter (1990) meyakini bahwa peningkatan daya saing suatu daerah bisa dilakukan dengan mengimplementasikan Porter Diamond Theory, yang menyatakan bahwa peningkatan daya saing suatu daerah akan sangat ditentukan oleh adanya 4 hal, seperti di bawah ini:
-
Faktor endowments atau faktor yang ada di dalam wilayah itu sendiri seperti tersedianya faktor produksi, yaitu SDM terampil, infrastruktur, lokasi, teknologi dan komunikasi yang dibutuhkan untuk bersaing dalam suatu aktivitas industri tertentu.-
Local Demand conditions (permintaan domestik di suatu wilayah), mensyaratkan adanya pasar domestik untuk produk-produk yang dihasilkan. Diharapkan permintaan ini juga secara progresif dapat menyerap produk domestik dan jasa domestik. Adanya peningkatan pada permintaan domestik diharapkan mampu menciptakan kemampuan produksi yang mendunia, dengan mempertimbangkan kualitas produksi dan proses inovasi produk yang dilakukan secara terus-menerus.-
Related and supporting industries (industri-industri yang saling terkait dan saling mendukung). Adanya perusahaan domestik, baiksupplier ataupun jasa perdagangan yang saling terkait, akan mampu mendukung aktivitas industri yang berkembang serta mampu bersaing di pasar internasional. Kondisi ini diharapkan mampu membentuk kluster industri pendukung yang kompetitif di pasar internasional
137
-
Firm strategy, structure and Itensity of rivalry (strategi perusahaan, serta struktur persaingan) mensyaratkan diimplementasikannya tata kelola perusahaan-perusahaan domestik ke arah penciptaan daya saing. Setiap unit bisnis yang terlibat berusaha mencapai nilai tambah dengan mengimplementasikan strategi bersaing (competitive strategy).Untuk mengukur tingkat daya saing suatu daerah WCI (World Competitive Index) menggunakan 12 pilar yang kemudian akan dikelompokkan ke dalam tiga sub indeks yaitu (i) Indeks yang terkait dengan faktor pendorong pertumbuhan perekonomian yang juga merupakan sub indeks prasyarat dasar, (ii) Indeks yang terkait dengan peningkatan efisiensi dalam perekonomian, serta (iii) Indeks yang terkait dengan faktor-faktor yang berkaitan dengan peningkatan inovasi perekonomian, seperti terlihat pada gambar berikut ini.
Gambar 5.1
Global Competitiveness Index