BAB III GAMBARAN UMUM PENELITIAN
3.3 Kebudayaan Mandailing
Yang disebut kebudayaan tradisional itu nyatanya masih hidup dalam kebudayaan kontemporer. Adat perkawinan, adat menanam kepala kerbau pada waktu membangun gedung, batik tradisional dan lain-lain kebiasaan masih dipegang teguh, meskipun maknanya sudah tidak diketahui lagu atau sudah diberi makna baru. Akan tetapi untuk hal-hal tertentu orang tidak merasa harus mengindahkan adat. Inilah yang disebut kontemporer. Sebenarnya tidak ada tradisi yang bersih pada zaman sekarang,
xxxi
dan juga tidak ada kebudayaan modren yang tidak mengandung unsur-unsur tradisi walaupun kecil .
Yang membedakan kebudayaan Mandailing dari kebudayaan lainnya dapat dilihat dari bahasa, tulisan dan adat istiadatnya baik dalam pergaulan sehari-hari dan dalam upacara-upacara tertentu. Adat istiadat Mandailing berdasarkan “Dalihan Na
Tolu”
Bahasa Mandailing merupakan medium utama kebudayaan. Mandailing. Bahasa Mandailing sampai sekarang masih dipakai di daerah Mandailing dan di daerah-daerah lain di perantauan dalam pelaksanaan komunikasi di antara sesama etnik Mandailing. Bahasa Mandailing mempunyai logat dan aksen (irama) yang lemah lembut dan dibawakan dengan suara halus. Sesuai dengan pemakaiannya bahasa Mandailing terdiri dari lima tingkatan, yaitu : (Menurut Pandapotan Nasution dalam bukunya Adat Budaya Mandailing Dalam Tantangan Zaman).
a. Bahasa adat (bahasa pada waktu upacara adat) b. Bahasa andung (bahasa waktu bersedih) c. Bahasa parkapur (bahasa waktu di hutan) d. Bahasa na biaso (bahasa sehari-hari) e. Bahasa bura (bahasa waktu marah/kasar) Contoh :
a. Sirih
Bahasa adat = napuran Bahasa andung = simanggurak Bahasa biasa = burangir
xxxii Bahasa parkapur = siroan b. Harimau
Bahasa adat = balemun Bahasa parkapur = ompu i Bahasa biasa = babiat Bahasa bura = simorjut c. Makan
Bahasa adat = marpanyogon Bahasa biasa = mangan Bahasa bura = mandursik
(Menurut Pandapotan Nasution dalam bukunya Adat Budaya Mandailing Dalam Tantangan Zaman).
Bentuk masyarakat Batak Mandailing di kabupaten Tapanuli Selatan berdasarkan pada filsafat “Dalihan Na Tolu” sebagaimana alat tempat memasak yang bertumpu pada tiga buah batu yang merupakan tungku. Demikian juga dengan kelompok masyarakat Tapanuli Selatan yang didukung oleh lapisan-lapisan masyarakat yang terdiri dari :
1. Kahanggi yakni golongan yang merupakan teman semarga atau serumpun
menurut golongan marga.
2. Anak boru yakni golongan yang diberi boru (perempuan), misalnya seorang
yang bermarga Siregar mengambil istri dari marga Harahap, maka Siregar tersebut adalah anak boru dari marga Harahap.
xxxiii
3. Mora adalah pihak memberi boru, seperti contoh di atas yaitu mora dari
Siregar.
Sifat orang Mandailing adalah suka merantau, religius, kritis, mudah menyusaikan diri, dan berani menegakkan keberanian. Sifat perantau orang Mandailing menyebabkan mereka tersebar di seluruh Indonesia dengan berbagai profesi, bahkan sampai ke luar negeri seperti Malaysia, Saudi Arabia, dan Eropa.
Daerah perantauan orang Mandailing yang pertama secara lokal adalah Sumaera Barat, Tanah Deli, Langkat dan Malaysia. Bahkan pada tahun 1800 seorang warga Mandailing telah pergi menuntut ilmu ke negara Belanda, bernama Sati Nasution gelar William Iskander dalam bukunya Si Bulus-bulus Si Rumbuk-rumbuk. William Iskandar menulis falsafah dan ajaran-ajaran agama orang Mandailing berkemauan keras menuntut ilmu. Sebagai contoh dapat dilihat dari beberapa bait sajaknya yang berjudul Ajar ni Amangna di Anakna na kehe tu Sikola sebagai berikut:
I abo, ale amang, sinuan tunas!
Langka ma ho, amang, marguru tu sikola Ulang hum baen song luas-luas,
Tai ringgas ho, amang, marsipoda
Anggo panganon dohot abit, Huparkatcitkon manjalahisa, Inda au nian mangkikit, Di ho mangalehensa I ma le nian, amang
Por ni rohakku ho marbisuk,
Ampot sogot madokdok ma hu lala pamatang, Anso hu domu hubaen usuk.
xxxiv 3.4 Penduduk Serta Mata Pencaharian
a. Penduduk
Orang Mandailing hampir 95% penganut agama Islam yang taat, oleh karena itulah agama Islam sangat besar pengaruhnya dalam pelaksanaan upacara-upacara adat. Bahkan dalam upacara-upacara kematian dan hukum waris sebahagian besar di antara mereka hanya memakai hukum Islam.
Jumlah Penduduk Berdasarkan Sensus Penduduk (SP) 2010 Menurut Kecamatan di Kab. Mandailing Natal,Kab. Tapanuli Selatan, Kab. Padang Lawas Utara,
Kab. Padang Lawas, dan Kota Padang Sidempuan
Kecamatan Laki-laki Perempuan
Total Angka Persen Batahan 8.905 8.623 17.528 4,34 Sinunukan 7.847 7.429 15.276 3,78 Batang Natal 11.260 11.120 22.380 5,54 Lingga Bayu 11.373 11.092 22.465 5,56 Ranto Baek 5.633 5.517 11.150 2,76 Kotanopan 12.636 13.568 26.204 6,49 Ulu Pungkut 2.097 2.146 4.243 1,05 Tambangan 5.276 6.181 11.457 2,84
Lembah Sorik Merapi 7.761 7.765 15.526 3,84
xxxv Muara Sipongi 4.835 4.834 9.669 2,39 Pakantan 1.082 1.063 2.145 0,53 Panyabungan 37.559 39.858 77.417 19,17 Panyabungan Selatan 4.486 4.900 9.386 2,32 Panyabungan Barat 4.181 4.704 8.885 2,20 Panyabungan Utara 9.705 10.258 19.963 4,94 Panyabungan Timur 5.960 6.334 12.294 3,04 Huta Bargot 2.719 2.967 5.686 1,41 Natal 13.802 13.505 27.307 6,76
Muara Batang Gadis 7.649 7.498 15.147 3,75
Siabu 22.847 24.426 47.273 11,70
Bukit Malintang 5.348 5.540 10.888 2,70
Naga Juang 1.819 1.831 3.650 0,90
Kab. Mandailing Natal 198.623 205.271 403.894 100,00
Batang Angkola 15.634 16.498 32.132 12,17 Sayur Matinggi 18.232 19.425 37.657 14,26 Angkola Timur 9.269 9.233 18.502 7,01 Angkola Selatan 14.300 13.452 27.752 10,51 Angkola Barat 20.482 20.801 41.283 15,63 Batang Toru 14.385 14.347 28.732 10,88 Marancar 4.676 4.637 9.313 3,53
xxxvi
Sipirok 15.014 15.392 30.406 11,51
Arse 3.886 3.982 7.868 2,98
Saiper Dolok Hole 6.349 6.310 12.659 4,79
Aek Bilah 3.316 3.083 6.399 2,42
Kab. Tapanuli Selatan 131.435 132.673 264.108 100,00
Batang Onang 6.326 6.487 12.813 5,74
Padang Bolak Julu 4.823 5.101 9.924 4,45
Portibi 11.462 11.763 23.225 10,41 Padang Bolak 28.871 29.414 58.285 26,13 Simangambat 24.058 22.673 46.731 20,95 Halongonan 14.603 14.335 28.938 12,97 Dolok 11.505 11.009 22.514 10,09 Dolok Sigompulon 8.109 7.815 15.924 7,14 Hulu Sihapas 2.341 2.354 4.695 2,10
Kab. P. Lawas Utara 112.098 110.951 223.049 100,00
Sosopan 4.613 4.522 9.135 4,09
Ulu Barumun 6.829 7.038 13.867 6,21
Barumun 24.391 25.862 50.253 22,49
Lubuk Barumun 8.092 8.137 16.229 7,26
Sosa 15.854 15.796 31.650 14,16
Batang Lubu Sutam 5.988 5.899 11.887 5,32
xxxvii
Huristak 9.848 9.632 19.480 8,72
Barumun Tengah 15.654 16.062 31.716 14,19
Kab. Padang Lawas 111.587 111.893 223.480 100,00
P. Sidempuan Tenggara 14.382 15.436 29.818 15,57 P. Sidempuan Selatan 30.040 30.908 60.948 31,82 P. Sidempuan Batunadua 9.059 9.161 18.220 9,51 P. Sidempuan Utara 28.589 31.097 59.686 31,16 P. Sidempuan Hutaimbaru 7.576 7.797 15.373 8,03 P. Sidempuan Angkola Julu 3.708 3.801 7.509 3,92 Kota Padang Sidempuan 93.354 98.200 191.554 100,00 Sensus Penduduk 2010 b. Mata Pencaharian
Mata pencaharian masyarakat di Tapanuli Selatan pada umunya adalah bertani Selain itu mata pencaharian lain yang sampai sekarang dilakukan adalah menambang emas. Mata pencaharian ini dilakukan karena daerah Tapanuli Selatan merupakan daerah yang memiliki kandungan mineral logam, khususnya emas dan perak. Deposit emas yang sangat besar ada di Kecamatan Batang Toru, sehingga sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian mendulang emas. Mata pencaharian ini menggugah seorang seniman untuk mengolahnya menjadi sebagai tarian.
xxxviii
Penduduk Mandailing Godang sebahagian besar petani sawah dan di Mandailing Julu sebahagian besar petani perkebunan sesuai dengan alamnya yang bergunung-gunung. Tanaman perkebunan yang ditanam adalah karet, kopi, kulit manis, cengkeh dan lain-lain.
xxxix BAB IV
PAKAIAN ADAT PADA PESTA PERKAWINAN MASYARAKAT MANDAILING SEBAGAI ATRAKSI WISATA DI TAPANULI SELATAN
4.1 Pakaian Penganten Pada Acara Adat Perkawinan
Setiap etnik di Indonesia mempunyai adat-istiadat masing-masing, walaupun pada umumnya ada kesamaan, namun dalam beberapa hal mempunyai kekhususan masing-masing. Demikian juga dengan pakaian adat pada perkawinan. Pakaian ini merupakan salah satu ciri dari suku itu sendiri. Etnik Mandailing pakaian adat perkawinan disebut dengan hampu dan bulang.
a. Pakaian Penganten Laki-Laki
Hampu yaitu berbentuk kopiah yang dililit sekelilingnya yang dipakai oleh
penganten laki-laki, berbentuk pipa yang dibungkus dengan kain beludru hitam dan ujung pipa itu diikat satu kali. Ujungnya satu menghadap ke atas dan ujung satu lagi menghadap ke bawah. Lingkaran yang melilit kopiah tadi menunjukkan genggaman kekuasaan. Ujungnya yang menghadap ke atas diartikan menjunjung tinggi langit dn ujung satu lagi yang menghadap ke bawah disebut manombom tano, artinya berkuasa di bumi. Keseluruhan hampu dihiasi (ditabur) dengan ornamen berbentuk bunga melati dengan warna kuning keemasan yang menunjukkan ketinggian derajat kebangsawanan pemakainya.
xl Kelengkapan hampu yaitu:
a. Pakaian baju : baju yang dipakai adalah baju godang seperti model jas dengan kerah tegak dan disulam bordir dengan benang emas, demikian juga dengan kantong depan penutupnya dibordir. Bentuk cempaka warna kuning emas, dasar baju berwarna hitam, dari sebelah belakang juga dibordir dengan benang berwarna kuning emas.
b. Rompi : rompi yang dipakai sebelum memakai baju godang dari luar. Rompi berwarna hitam dan sulam dari depan dengan benang berwarna emas bermotif bunga cempaka.
c. Puntu : gelang tangan yang berbentuk belah rotan dengan lebar ± 3 cm warna
kuning emas. Dipakai di lengan sebelah kanan dan kiri. Sebelah kanan polos (tanpa bunga), di sebelah kiri rompi yang berukir yang polos menunjukkan betina. Puntu ini ada 2 pasang yang satu pasang untuk penganten laki-laki dan satu pasang lagi untuk penganten perempuan.
d. Keris : keris juga ada 2 pasang, gagangnya yang sebelah bengkok dengan ujung runcing, sebelah lagi seperti mulut ular yang ternganga.
b. Pakaian Penganten Perempuan
Bulang merupakan pakaian kebesaran yang dipakai oleh penganten
perempuan. Bulang berwarna kuning keemasan, bertingkat tiga, namun pada saat sekarang bulang sampai lima tingkat bahkan tujuh tingkat. Sedangkan yang seharusnya hanya tiga tingkat.
xli
Sesuai dengan nama sebagai mahkota bulang dipakai di kepala yang dilengkapi dengan jarungjung (kembang/bunga) yang menjulang ke atas, tusuk sanggul berwarna emas dan sisir yang dipakai di atas sanggul juga berwarna emas. Kelengkapan bulang yaitu:
a. Baju : baju yang dipakai berbentuk baju kurung berwarn hitam yang dihiasi dengan bordir benang emas warna kuning dihiasi dengan ornamen tabur berbentuk bintang-bintang.
b. Kain songket pasangan baju kurung
c. Dua helai selendang tenun patani (songket) yang diselempangkan di kanan kiri bahu dan ujungnya disilangkan ke kanan dan ke kiri pinggang. Warna kain selendang berwarna merah hati.
d. Ikat pinggang berwarna emas yang diukir dengan bentuk segi empat di sambung-sambung.
e. Puntu yang dipakai di kanan kiri lengan sebagaimana telah disebut di atas.
f. Sepasang keris yang dipasang pada ikat pinggang sebelah depan. g. Anting-anting emas
h. Kalung kuning berwarna emas yang disebut dengan tapak kuda karena bentuknya menyerupai tapak kuda.
i. Gaja meong : terbuat dari kain yang dibentuk sedemikian rupa sehingga agak tegang dan tebal.
j. Loting-loting : berbentuk mancis tradisional untuk menggosok batu agar
keluar api.
xlii
Disamping hampu, adapula penutup kepala yang disebut rendo yaitu kopiah yang terbuat dari kain empat persegi yang dililitkan di kepala. Dipinggirnya yang merupakan penutup dari atas diberi jambul yang terbuat dari pernik-pernik berwarna emas kekuning-kuningan menyerupai pita.
4.2 Beberapa Pakaian Adat Perkawinan Yang Menjadi Atraksi Wisata a. Bali
Pakaian adat perkawinan di Bali sudah menjadi atraksi wisata bagi wisatawan yang berkunjung dan para wisatawan bisa mendapatkan paket istimewa foto baju Bali. Berlokasi di pusat kota Denpasar dengan suasana yang masih asri dengan layout rumah adat Bali. Tempat inilah yang akan menjadi studio outdoor bagi wisatawan untuk mengabadikan momen dengan pakaian adat Bali. Paket berfoto pakaian adat Bali atau baju adat Bali ini bisa dilakukan bersama keluarga maupun pasangan bagi wisatawan. Liburan di Bali akan lebih berwarna dengan membawa oleh-oleh sebuah kenangan yang dibalut dengan pakaian adat Bali. Paket pakaian tradisional Bali dilakukan langsung di rumah tradisional Bali dan bukan di studio yang tentunya akan menambah kesan alami sebagai background foto pakaian adat Bali.
Tunjukan keangunan dan kegagahan foto di Bali ditunjukan saat wistawan menjadi pasangan Bali yang sangat cantik dan tampan dengan paket pakaian adat Bali bersama. Keunikan lain yang ditawarkan dari paket pakaian adat Bali ini adalah bisa tahu bagaimana layout rumah Bali meskipun sudah dibangun dengan design yang sudah modern dan arsitektur yang sudah dimodifikasi akan tetapi kesan Bali masih
xliii
kental bisa dilihat di rumah Bali ini. Dengan baju adat Bali ini tunjukan bahwa wisatawan memang pernah menjadi orang Bali walaupan hanya sesaat akan tetapi bisa mengabadikan dengan bidikan lensa kamera yang tentunya akan sangat diijinkan selain di ambil oleh seorang fotographer yang sudah berpengalaman yang sudah termasuk dalam paket pakaian adat Bali.
Daftar harga paket foto pakaian adat di Bali
Per Orang Couple
(Pasangan)
Harga Termasuk
Rp 300.000 Rp 400.000
• Sewa pakaian adat Bali
• Rias adat Bali • 5lembar foto ukuran 4 R • CD foto • Studio yang bernuansa di Bali b. Sumatera Barat
Selain Bali, pakaian adat di Sumatera Barat juga sudah menjadi atraksi wisata bagi wisatawan yang berkunjung. Untuk wisatawan yang berkunjung ke kota Padang rasanya belum lengkap jika belum menyempatkan diri berkunjung ke Istano Basa Pagaruyung, istana dengan bentuk rumah gadang nan megah, dilengkapi dengan
xliv
properti khas minang. Untuk tampilan luar, objek wisata ini dari jauh sudah terlihat megah dan indah, di mana terlihat sekali kesan terawat dan terjaganya.
Mengunjungi Istano Basa Pagaruyung di Batusangkar Sumatera Barat, wisatawan bisa mencoba menjadi penganten minang sehari. Di sana ada penyewaan pakaian adat seperti pakaian penganten, pakaian datuk juga pakaian bundo kandung. Menggunakan baju adat yang disewa, karena untuk baju adat wanita ada aksesoris kepala yang bernama "suntiang" yang cukup berat dan agak membuat gerak harus berhati-hati.
Istano Basa Pagaruyung, merupakan istananya raja kerajaan Pagaruyung di Batusangkar. Di tempat ini wisatawan bisa melihat banyak orang-orang yang berpakaian penganten atau berpakaian datuk. Itu bukanlah anak daro dan marapulai, sebutan untuk penganten minang, atau juga bukan datuk atau penghulu adat. Itu adalah wisatawan yang berkunjung dan mencoba pakaian-pakaian adat di tempat penyewaan pakaian yang ada di bawah istana ini.
Wisatawan bisa menyewa pakaian penganten lengkap dengan suntingnya, pakaian datuk dan bundo kandung. Peminatnya tidak hanya wisatawan lokal, tapi juga wisatawan mancanegara. Berpakaian penganten semacam ini, tentunya akan menjadi kenang-kenangan bagi wisatawan, saat balik ke kotanya ataupun ke negaranya.
Untuk menyewa kostum adat pengantin minang, dengan biaya Rp 35 ribu per orang, wisatawan sudah dapat mengenakan pakaian adat lengkap dengan aksesorisnya untuk wanita lengkap dengan suntiang, dan untuk lengkap dengan keris dan pengikat kepala. Di sana juga disediakan jasa foto langsung jadi.
xlv c. Tapanuli Selatan
Peranan pemerintah dalam mengembangkan pariwisata dalam garis besarnya adalah menyediakan infrastruktur, memperluas berbagai fasilitas, kegiatan koordinasi antara pemerintah dengan pihak swasta, serta promosi. Kabupaten Tapanuli Selatan sebagai salah satu kabupaten yang ada di Propinsi Sumatera Utara memiliki berbagai ragam sumber daya alam dan budaya sebagai Objek dan Daya Tarik Wisata. Objek Wisata dan Daya Tarik Wisata yang ada tersebar hampir di semua kecamatan. Salah satu alternatif pengembangan objek wisata dan dapat dijadikan pilihan para wisatawan sebagai daerah tujuan wisata untuk dinikmati khususnya di Kabupaten Tapanuli Selatan adalah objek wisata yang terkait dengan pariwisata alam. Di antara objek wisata yang ada di Kabupaten Tapanuli Selatan salah satu objek wisata yang potensial adalah Danau Siais yang sampai sekarang masih terbengkalai pembangunannya dan potensi yang ada belum dimanfaatkan dengan optimal. Danau Siais terletak Desa Rianiate Kecamatan Angkola Sangkunur yang berjarak 63 km dari Kota Padangsidimpuan.
Budaya juga merupakan salah satu unsur pendukung kegiatan pariwisata. Sumatera Utara juga telah terbukti banyak menarik minat wisatawan. Salah satu dari wujud kebudayaan yang terdapat di Sumatera Utara khususnya di Tapanuli Selatan yaitu pakaian adat perkawinan batak Mandailing. Objek wisata budaya mempunyai daya tarik karena memiliki nilai-nilai luhur yang terkandung didalamnya. Pakaian adat perkawinan ini merupakan salah satu ciri dari suku itu sendiri. Etnik Mandailing pakaian adat perkawinan disebut dengan hampu dan bulang.
xlvi
Penganten Mandailing menggunakan pakaian adat yang didominasi warna merah, keemasan dan hitam. Pengantin pria menggunakan penutup kepala yang disebut hampu atau mahkota yang dipakai raja-raja Mandailing di masa lalu, baju
godang yang berbentuk jas, ikat pinggang warna keemasan dengan selipan dua pisau
kecil disebut bobat, gelang polos di lengan atas warna keemasan, serta kain samping dari songket Tapanuli. Sedangkan, pengantin wanita memakai penutup kepala disebut
bulang berwarna keemaasan dengan beberapa tingkat, penutup daerah dada yaitu
kalung warna hitam dengan ornamen keemasan dan dua lembar selendang dari kain songket, gelang polos di lengan atas berwarna keemasan, ikat pinggang warna keemasan dengan selipan dua pisau kecil, dan baju kurung dengan bawahannya songket.
Sesuai dengan perkembangan zaman pakaian adat ini telah banyak perubahan. Sementara untuk pengantin wanita adat Batak Mandailing, mengenakan baju warna merah dengan hiasan bulang di atas kepalanya. Nanda merupakan pedagang pakaian di kota Medan mengungkapkan, dahulunya pengantin wanita adat Mandailing memakai baju kurung merah dan pria jas hitam. Tapi sejak tahun 1890-an pengantin wanita memakai kebaya merah. Berubahnya baju kurung menjadi baju kebaya juga belum diketahui alasannya. Menurut Nanda hal itu tidak termasuk tren karena busana Mandailing mirip seperti Batak Toba hanya beda pada ulos dan aksesoris saja. Aksesoris busana penganten adat Mandailing aslinya logam mulia. Tapi kini tidak lagi. Untuk penganten perempuan, ulos diselempangkan secara silang sehingga mempelai wanita memakai 2 ulos sedangkan mempelai pria memakai 1 ulos saja.
xlvii
Sangat disayangkan pakaian adat perkawinan ini mengalami perubahan yang dapat menghilangkan nilai-nilai yang terkandung didalamnya, boleh saja pakaian adat mengalami perubahan untuk dimodifikasi menambah keindahannya tetapi tanpa menghilangkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Pakaian adat di Tapanuli Selatan merupakan salah satu kebudayaan yang bisa menjadi potensi sebagai atraksi wisata. Pakaian adat pada pesta perkawinan pada suku Mandailing mempunyai keunikan dan keindahan tersendiri yang dapat dijadikan atraksi wisata bagi wisatawan. Pakaian adat perkawinan mandailing ini dapat dikemas dengan cara yang unik dan dengan rapi agar menarik wisatawan melihatnya dan mengenakan pakaian adat itu sebagai momen dokumentasi foto pernah menjadi pengantin sehari dan dengan begitu dapat dijadikan sebagai atraksi wisata. Dengan cara memperkenalkan pakaian itu dan menyewakannya bagi para wisatawan untuk menjadikan momen utuk berfoto, sebagaimana sesudahnya di Bali dan Sumatera Barat pakaian adat sudah menjadi atraksi wisata bagi wisatawan yang berkunjung di sana. Sudah seharusnya itu dilakukan pemerintah setempat untuk mengangkat pakaian adat sebagai atraksi wisata untuk menjaga dan melestarikan serta memperkenalkan adat budaya dari Tapanuli Selatan.
Pemerintah setempat bekerja sama dengan dinas pariwisata dalam mengembangkan kebudayaan dari Tapanuli Selatan, selain mengadakan pameran yang diadakan setiap tahunnya seperti di Pekan Raya Sumatera Utara di pameran ini kebudayaan Mandailing serta pakaian adat selalu ditampilkan. Dengan begitu mampu mempromosikan pakaian adat ini dan juga harus menjadikan sebagai atraksi wisata dengan menyewakan pakaian adat ini untuk para pengunjung yang datang. Selain itu
xlviii
khususnya di Tapanuli Selatan harusnya ada suatu museum yang dibangun untuk menyimpan barang peninggalan sejarah terutama mengenai pakaian adat penganten ini dengan adanya museum itu akan menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung mengetahui kebudayaan Mandailing dan bisa mengenakan pakaian adat dengan menyewanya, dengan begitu pakaian adat Mandailing dapat diperkenalkan, dipromosikan dan juga untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan agar tidak hilang.
Atraksi wisata yang baik harus dapat mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya, menahan mereka di tempat atraksi dalam waktu yang cukup lama dan memberikan kepuasan kepada wisatawan yang datang berkunjung, menjadi sebuah Daya Tarik Wisata bagi wisatawan sekaligus dapat dijadikan sebagai aset wisata budaya bagi dunia kepariwisataan di Indonesia. Begitupun pakaian adat suku Batak Mandailing yang penuh dengan nuansa budaya yang tinggi dan keunikan serta keindahan sendiri mampu menarik wisatawan dengan dikemas secara baik oleh pemerintah.
Dan masyarakat sebagai pelaku utama atraksi budaya tidak dapat melepaskan dari peran tersebut. Tanpa adanya dukungan masyarakat, berbagai upaya-upaya pemerintah tidak akan berarti. Memotivasi anggota keluarga untuk melestarikan kebudayaan temurun supaya nilai-nilai kebudayaan itu tidak hilang tertelan dengan kecanggihan zaman.
xlix
4.3 Pengemasan Produk Wisata Pakaian Adat Mandailing
Agar perjalanan wisata ke Daerah Tujuan Wisata dapat terpuaskan, maka diperlukan pengemasan produk pariwisata yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan wisatawan. Oleh karena itu produk itu harus dikemas dengan baik dengan cara :
1. Mengemas Produk
Mengemas produk pakaian adat Mandailing sebagai atraksi wisata yang terdapat di Tapanuli Selatan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan wisatawan yang tinggal sebentar. Sopo Godang merupakan rumah adat Mandailing, di mana di Sopo
Godang ini para wisatawan dapat langsung memakai dan mengabadikan momen
foto dengan memakai pakaian adat asli budaya Mandailing.
2. Mengemas Pelayanan
Untuk mencapai tingkat unggul, setiap orang harus memiliki keterampilan tertentu, diantaranya berpenampilan baik dan rapi, bersikap ramah, memperlihatkan gairah kerja dan sikap selalu siap melayani, tenang dalam bekerja, tepat waktu, tidak tinggi hati karena merasa dibutuhkan, menguasai pekerjaannya, mampu berkomunikasi dengan baik, bisa memahami bahasa isyarat (gesture) wisatawan, dan memiliki kemampuan menangani keluhan wisatawan secara tepat. Mengemas pelayanan yang unggul bukanlah pekerjaan mudah. Akan tetapi bila hal tersebut dapat dilakukan, maka Daerah Tujuan Wisata yang menyelenggarakan pariwisata akan dapat meraih manfaat yang besar, terutama berupa kepuasan dan loyalitas wisatawan yang besar.
l 3. Komitmen dan Kerjasama
Komponen-komponen kepariwisataan yang berperan dalam penyelenggaraan sistem industri pariwisata secara garis besar terdiri dari tiga komponen, yaitu pemerintah, jasa-jasa kepariwisataan, dan masyarakat di sekitar Obyek dan Atraksi Wisata. Kewajiban pemerintah daerah adalah merencanakan, membangun, mengorganisasikan, memelihara, dan mengawasi secara bersama