TINJAUAN PUSTAKA
2.2.4. Kebutuhan akan Vitamin A
Pemenuhan kebutuhan vitamin A sangat penting untuk pemeliharaan kelangsungan hidup secara normal. Kebutuhan tubuh akan vitamin A untuk orang Indonesia telah dibahas dan ditetapkan dalam Widyakarya Nasional pangan dan Gizi (2007) dengan mempertimbangkan faktor-faktor khas dari kesehatan tubuh orang Indonesia (Widyakaryanasional, 2007).
Tabel 2.3. Angka Kecukupan Vitamin A
Golongan Umur Kebutuhan Vitamin A (RE) Bayi 0 – 6 bulan 7 – 12 bulan Balita 1 – 3 tahun 4 – 6 tahun 7 – 9 tahun Pria 10 – 12 tahun 13 – 15 tahun 16 – 19 tahun 20 – 45 tahun 46 – 59 tahun >60 tahun Wanita 10 – 12 tahun 13 – 15 tahun 16 – 19 tahun 20 – 45 tahun 46 – 59 tahun >60 tahun Hamil Menyusui 0 – 6 bulan 7 – 12 bulan 350 350 350 460 400 500 600 700 700 700 600 500 500 500 500 500 500 + 200 + 350 + 300 (Sumber: Almatsier, 2004)
2.3. Kekurangan dan Kelebihan Vitamin A 2.3.1. Kekurangan Vitamin A
Kekurangan vitamin A merupakan penyakit sistemik yangg merusak sel dan organ tubuh, dan menyebabkan metaplasia keratinisasi pada epitel saluran pernapasan, saluran kemi, dan saluran pencernaan. Perubahan pada ketiga saluran ini relatif lebih awal terjadi ketimbang kerusakan yang terdeteksi pada mata. Namun, hanya karena hanya mata yang mudah diamati dan diperiksa, diagnosis klinis yang spesifik didasarkan pada pemeriksaan mata (Arisman, 2010).
Kekurangan vitamin A dapat terjadi pada semua umur akan tetapi kekurangan yang disertai kelain pada mata umumnya terdapat pada anak berusia 6 bulan sampai 4 tahun (Ilyas, 2008).
Kekurangan vitamin A terutama terdapat pada anak-anak balita. Tanda-tanda kekurangan terlihat bila simpanan tubuh habis terpakai (Almatsier, 2004).
Kekurangan vitamin A dapat dibagi dua yaitu kekurangan vitamin A primer dan sekunder. Kekurangan vitamin A primer disebabkan oleh kurangnya asupan vitamin tersebut, sedangkan kekurangan vitamin A sekunder dikarenakan akibat absorpsi dan utilisasinya yang terhambat (Kartasapoetra, 2008).
2.3.1.1. Epidemiologi Kekurangan Vitamin A
Hasil survei WHO dalam tahun 1995 yang lalu sekitar 2,8 juta balita menampakkan tanda-tanda klinis xeroftalmia, sementara 251 juta anak lainnya mengalami kekurangan vitamin A sehingga risiko kematian akibat infeksi berat meningkat. Seperempat balita di negara sedang berkembang berisiko mengalami kekurangan vitamin A. Dua puluh persen diantaranya berisiko lebih tinggi terjangkit penyakit infeksi umum. Sementara 2% mengalami kebutaan, atau gangguan penglihatan yang serius. Kemudian pada tahun 2001, WHO melaporkan bahwa setiap 1 menit, 12 orang anak di dunia menjadi buta, dan empat di antaranya bermukim di Asia Tenggara (Arisman, 2010).
Secara umum, prevalensi xeroftalmia di Indonesia menurun dari 1,18% pada tahun 1978 menjadi 0,14% di tahun 1991. Sementara kekurangan vitamin A juga menipis dari 1,2% (1986) menjadi 0,3% (1992). Angka ini sudah berada di bawah
kriteria yang ditetapkan sebagai masalah kesehatan masyarakat (0,5%). Meskipun di beberapa daerah angka prevalensi KVA masih di atas 0,5% seperti provinsi Sulteng (0,6%), Maluku (0,8%), dan Sulsel (2,8%) (Arisman, 2010).
Menurut Survei Nasional tahun 1992, masih ada sekitar 50,2% balita mengalami kekurangan vitamin A subklinis. Dan ini hanya dapat dibuktikan melalui pemeriksaan darah. Dengan indikator ini, KVA masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. (Baliwati, 2010).
Sejak Survei Nasional tahun 1992 belum ada data status vitamin A berbasis masyarakat (population based) yang dapat digunakan sebagai dasar acuan untuk perencanaan program gizi mikro. (Depkes RI, 2006).
2.3.1.2. Penyebab Kekurangan Vitamin A
Faktor-faktor penyebab defisiensi vitamin A ini tidak multipel, tidak saja terletak di dalam jangkauan para profesional kesehatan, melainkan juga banyak faktor yang merupakan kompetensi keahlian diluarnya. Interrelasi berbagai faktor penyebab ini digambarkan pada bagan berikut (Sediaoetama, 2009).
Gambar 2.1. Faktor Penyebab Kekurangan Vitamin A (Sumber: Sediaoetama,
2009)
Pendidikan umum dan pengetahuan gizi Kebiasaan makan Konsumsi vitamin A dan Defisiensi Vitamin Pekerjaan sulit/renda Daya beli rendah Konsumsi lemak dan protein rendah Higiene kurang Infeksi dan infestasi parasit Absorbsi dan utilisasi Diare
2.3.1.3. Klasifikasi Kekurangan Vitamin A
Dikenal beberapa klasifikasi kekurangan vitamin A di Indonesia, seperti klasifikasi Ten Doeschate, yaitu:
• X0 : Hemeralopia
• X1 : Hemeralopia dengan xerosis konjungtiva dan bitot • X2 : Xerosis kornea
• X3 : Keratomalasia
• X4 : Stafiloma, ftisis bulbi
Di mana kelainan pada: X0 sampai X2 masih reversibel, dan X3 sampai X4 ireversibel (Ilyas, 2008).
Sedangkan klasifikasi kekurangan vitamin A menurut WHO 2009, adalah sebagai berikut:
Tabel 2.4. Klasifikasi Kekurangan Vitamin A
XN Night blindness
X1A Conjunctival xerosis
X1B Bitot’s spot
X2 Corneal xerosis
X3A Corneal ulceration/keratomalacia (< 1/3 corneal surface)
X3B Corneal ulceration/keratomalacia (≥ 1/3 corneal surface) XS Corneal scar
XF Xerophthalmic fundus
Sumber: WHO 2009
2.3.1.4. Tanda dan Gejala Kekurangan Vitamin A
Kekurangan vitamin A dapat menimbulkan beberapa gangguan terhadap kesehatan tubuh, antara lain (Kartasapoetra, 2008):
1. Hemeralopia atau rabun ayam, rabun senja;
2. Frinoderma, pembentukan epitelium kulit tangan dan kaki terganggu, sehingga kulit tangan dan/atau kaki telapak tampak bersisik-sisik.
4. Kerusakan pada kornea dengan menimbulkan bintik bitot, xeroftalmia (kornea mengering) dan akhirnya kerotit, xeroftalmia (kornea mata rusak sama sekali).
5. Terhentinya proses pertumbuhan, dan 6. Terganggunya pertumbuhan bayi.
Mula-mula pada waktu senja orang tidak dapat melihat (hemerolopia), bila berjalan sering menubruk sesuatu dan bila penyakitnya kian menjadi, selaput lendir mata menjadi kering dan berlipat-lipat (xeroftalmia). Apabila timbul suatu penyakit maka kornea mata menonjol ke depan dan timbul bercak putih. Kornea mata dapat hancur sama sekali yang disebut keratomalasia (Irianto, 2007).
Berikut ini adalah contoh-contoh gambar kelainan mata akibat kekurangan vitamin A yang dikutip dari sumber DepKes RI (2003).
Gambar 2.2. Xerosis Konjungtiva (X1A)
Gambar 2.4. Xerosis Kornea (X2)
Gambar 2.5. Keratomalasia (X3A) dan Ulkus Kornea (X3B)
Gambar 2.6. Xerophthalmia Scar
2.3.1.5. Diagnosis Kekurangan Vitamin A
Diagnosis kekurangan vitamin A terutama berdasarkan parameter xerophthalmia, didukung oleh hasil pemeriksaan gejala-gejala kulit dan kadar vitamin A dan karotin di dalam plasma. Anamnesis konsumsi dapat pula menunjang diagnosis sebagai tambahan (Sediaoetama, 2009).
Pemeriksaan yang umum dilakukan untuk mendiagnosis kekurangan vitamin A antara lain:
• Anamnesis konsumsi vitamin A
• Pemeriksaan gejala-gejala kulit dan mata
• Tes kadar vitamin A di dalam darah. Normalnya kadar vitamin A dalam darah di Indonesia sekitar 20 mcg/dl. Namun kadar 10-20 mcg/dl pun masih dianggap optimal walaupun sudah meningkatkan risiko timbulnya gejala-gejala hipovitaminosis. Kadar kurang dari 10 mcg/dl sudah dianggap menderita kekurangan vitamin A, besar kemungkinan sudah terlihat gejala-gejala xerophthalmia (Sediaoetama, 2009).
2.3.1.6. Pengobatan Kekurangan Vitamin A
Pilihan pertama ialah preparat oral (misalnya tablet atau sirup vitamin A) karena telah terbukti amat efektif, aman, dan murah (Arisman, 2010). Terapi dapat dilakukan dengan pemberian segera vitamin A setelah diagnosis ditegakkan, yang memberikan hasil perbaikan yang dramatis dalam 1-2 hari. Dosis 5 x 20.000 IU oral untuk satu minggu atau suntikan depot 100.000 IU intramuskular sebagai one shot memberikan hasil yang sama (Sediaoetama, 2009).
Namun, jika preparat oral seperti yang dijelaskan di atas tidak tersedia, dapat diberikan preparat oral bentuk lain seperti minyak ikan. Preparat yang dibuat dengan minyak akan sangat baik diserap jika diberikan per oral; dan jangan sekali-kali disuntikkan karena vitamin A yang tercampur minyak biasanya susah diserap dari lokasi tubuh yang disuntik (Arisman, 2010).
Rabun senja akan merespons terapi setelah 24-48 jam. Serosis konjungtiva yang aktif dan bintik bitot mulai mereda dalam 2-5 hari, dan akan sembuh dalam dua minggu. Sementara serosis kornea reda dalam 2-5 hari dan kornea kembali normal setelah 1-2 minggu (Arisman, 2010).
Xeroftalmia sering mengakibatkan kerusakan kornea sehingga merupakan kasus kedaruratan medik. Pada keadaan ini, vitamin A harus segera diberikan sesuai tiga macam dosis sesuai dengan tabel berikut.
Tabel 2.5. Jadwal Pengobatan Xeroftalmia
Waktu pemberian Dosis oral
Segera setelah diagnosis • <6 bulan • 6 – 12 bulan • >12 bulan 50.000 IU per oral (27,5 mg retinil palmitat) 100.000 IU per oral (55 mg retinil palmitat) 200.000 IU per oral (110 mg retinil palmitat)
Hari berikutnya Dosis menurut usia
Dalam 1 – 4 minggu (setiap 2 – 4 minggu)
Dosis menurut usia
Sumber: Arisman (2010).
Pemberian vitamin A akan memberikan perubahan atau perbaikan yang nyata pada penderita kekurangan vitamin A dalam waktu 1 – 2 minggu, berupa:
• Mikrovili kornea akan timbul kembali sesudah 1 – 7 hari • Keratinisasi yang terjadi menghilang
• Sel goblet konjungtiva kembali normal dalam 2 – 4 minggu
• Tukak kornea memperlihatkan perbaikan, sehingga dapat direncanakan keratoplasti (Ilyas, 2008).
2.3.1.7. Pencegahan Kekurangan Vitamin A
Pada awal kehidupan, kebutuhan vitamin A pada bayi akan tercukupi melalui air susu ibu. Sehingga dapat ditarik kesimpulan apabila seorang bayi yang tidak disusui ASI berisiko kekurangan vitamin A. Status vitamin A yang baik di dalam kehidupan akan mempengaruhi status dan cadangan vitamin A pada tahap kehidupan lebih lanjut (Arisman, 2010).
Langkah pertama perlu dilaksanakan terutama di daerah yang berpotensi mengalami defisiensi. Kepada kelompok ibu di daerah tersebut harus diberikan suplementasi vitamin A sebanyak 200.000 IU segera setelah melahirkan. Suplementasi ini terbukti bukan hanya memperbaiki status vitamin A ibu, tetapi juga bayi. Wanita yang tidak menyusui pun harus diberi suplementasi. Manfaat pemberian ini terutama diarahkan pada anak yang lahir selanjutnya.
Program pencegahan kekurangan vitamin A dengan pemberian vitamin A yang disertakan upaya perbaikan keadaan sosial dan ekonomi di negara endemis telah berhasil menurunkan angka prevalensi KVA yang parah dan buta akibat kurang gizi. Kebersihan lingkungan dan perbaikan sarana perumahan, misalnya, telah berhasil menekan angka prevalensi dan keparahan infeksi saluran pernapasan, tuberkulosis, diare dan infestasi cacing yang berarti meningkatkan serta menurunkan kebutuhan metabolik akan vitamin A. Imunisasi campak secara efektif sekaligus melenyapkan salah satu pemicu xeroftalmia dan kematian yang berkaitan dengan vitamin A (Arisman, 2010).
Tiga macam intervensi pencegahan utama yang dilaksanakan kini ialah: 1. Peningkatan asupan pangan kaya vitamin A dan provitamin A,
Pemberian suplementasi vitamin A dosis tinggi telah terbukti mampu mengawasi xeroftalmia, mencegah kebutaan (nutritional blindness), dan mengurangi angka kematian anak akibat infeksi tertentu pada masyarakat yang mengalami KVA.
2. Penyebaran vitamin dosis tinggi secara berkala
Penyebaran vitamin A ini dilakukan dengan menggabungkan vitamin A dengan program imunisasi polio dan campak sejak tahun 2000. Penyebaran vitamin ini mencakup pemberian suplementasi vitamin A secara berkala kepada seluruh anak prasekolah, terutama kelompok usia 6 bulan sampai 3 tahun, atau wilayah yang berisiko paling tinggi serta semua ibu yang berisiko tinggi melahirkan anak kekurangan vitamin A. 3. Fortifikasi makanan yang lazim disantap.
Fortifikasi makanan terbukti lebih efektif terutama pada keadaan khusus seperti pembagian makanan yang terfortifikasi pada kamp pengungsian
atau pada daerah-daerah dengan latar sosial-ekonomi kurang baik. Setiap penduduk mendapat kemudahan untuk memperoleh bahan pangan yang kaya akan vitamin A dengan harga terjangkau.
Di samping itu, masyarakat juga harus memperoleh pendidikan gizi terutama mengenai cara menggunakan bahan pangan ini sebagai makanan sapihan, dan kudapan anak usia prasekolah. Tujuan pendidikan gizi ini ialah menyadarkan masyarat tentang nilai gizi yang terkandung dalam bahan pangan, merangsang dan mendorong mereka agar bahan pangan tersebut menjadi kebutuhan, serta mau mengonsumsinya (Arisman, 2010).