• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebutuhan dan Analisis Usaha Jasa Alsintan

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

H. Kebutuhan dan Analisis Usaha Jasa Alsintan

1. Analisis Usaha

Analisis uasaha bisa dijadikan sumber acuan untuk mengetahui keuntungan yang diperoleh. Komponen yang digunakan dalam analisis usaha adalah analisis pendapatan, analisis Revenue-Cost dan Payback period. Menurut Soeharto (2002) pendapatan adalah jumlah bayaran yang diterima dari penjualan barang dan jasa, dimana pendapatan dapat dihitung dengan mengalikan kuantitas barang yang terjual dengan harga satuannya. Analisis Revenue-Cost Ratio adalah analisis yang bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh setiap rupiah biaya yang digunakan dapat memberikan nilai penerimaan sebagai manfaat (Sugiarto et al 2000). Payback period merupakan metoda yang mengukur seberapa cepat investasi bisa kembali, dimana satuan hasilnya bukan persentase tetapi satuan waktu (bulan, tahun, dan sebagainya) (Husnan, 1994). Bila payback period lebih pendek atau kecil ketimbang jangka waktu umur ekonomi proyek maka, usulan proyek dinyatakan layak dan sebaliknya jika lebih panjang atau besar dinyatakan tidak layak (Suratman, 2002).

2. Analisis Biaya

Untuk dapat memperkirakan biaya produksi maka dilakukan suatu analisis biaya dari proses produksi sehingga akan didapat biaya produksi persatuan output produk. Prestasi dari suatu mesin dapat dilihat dari biaya produksinya. Semakin rendah biaya produksinya semakin tinggi keuntungan yang akan diperoleh.

Biaya mesin dan alat pertanian terdiri atas dua komponen yaitu biaya tetap (fixed costs) dan biaya tidak tetap (variable costs). Biaya tetap meliputi : biaya penyusutan, biaya bunga modal dan asuransi, pajak, biaya bangunan dan garasi.

Sedangkan biaya tidak tetap meliputi : biaya bahan bakar, biaya pelumas, biaya perbaikan dan pemeliharaan, biaya operator dan biaya hal-hal khusus.

Penghitungan biaya tersebut menggunakan buku Ekonomi Teknik (Pramudya, B dan Dewi, N, 1992) sebagai di perlihatkan pada lampiran 2.

3. Analisis Finansial

Analisis kelayakan usaha adalah penelitian tantang dapat tidaknya suatu proyek (biasanya merupakan proyek investasi) dilaksanakan dengan berhasil (Husnan, 1994). Menurut Kadariah et al. (1978) untuk memutuskan layak atau tidaknya suatu proyek dilaksanakan adalah dengan menentukan NPV (Net Present Value), Net B/C (Net Benefit-Cost Ratio) dan IRR (Internal Rate of Return).

Net Present Value merupakan nilai sekarang dari keuntungan bersih yang akan diperoleh pada masa yang akan datang. NPV yang positf menunjukan bahwa PV penerimaan > PV pengeluaran. Karena itu NPV yang positif berarti investasi yang diharapkan akan meningkatkan kekayaan pemodal ( Husnan, 2004). Secara persamaan NPV dapat dirumuskan sebagai berikut :

NPV =

Bt : Benefit kotor tahunan Ct : Biaya kotor tahunan i : Tingkat suku bunga

n : Umur ekonomis suatu usaha

Net Benefit-Cost Ratio merupakan penilaian yang dilakukan untuk melihat beberapa kali lipat manfaat yang akan diperoleh dari biaya yang dikeluarkan dan merupakan perbandingan atau rasio jumlah bersih sekarang yang negatif ( Gray et al. 1993). Untuk dapat menggunakan ukuran-ukuran berdiskonto kemanfaatan proyek, maka harus dipertimbangkan dan dipilih tingkat diskonto mana yang digunakan untuk menghitung nilai manfaat sekarang neto (Gittinger 1986). Net B/C menggunakan persamaan :

Net B/C =

Bt : Benefit kotor tahunan Ct : Biaya kotor tahunan i : Tingkat suku bunga

n : Umur ekonomis suatu usaha

Internal Rate of Return merupakan tingkat discount rate (suku bunga) yang menjadikan NPV proyek sama dengan nol (Kadariah, Karlina, Gray 1978).

IRR menunjukan kemampuan suatu proyek memperoleh tingkat pengembalian dari investasi yang ditanam selama berlangsungnya proyek. Suatu usaha dikatakan layak apabila memenuhi kriteria kelayakan yaitu, apabila NPV > 0, Net B/C > 1, dan IRR > i (suku bunga). IRR menggunakan persamaan berikut :

IRR = i ‘+

Dimana :

i : Tingkat bunga yang menghasilkan NPV+ I’ : Tingkat bunga yang menghasilkan NPV- NPV’ : NPV pada tingkat suku bunga yang i’

NPV” : NPV pada tingkat suku bunga yang i”

III. METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Waktu Penelitian

Jenis penelitian yang telah dilakukan berupa studi kasus pengolahan tanah di Kecamatan Luragung, Kecamatan Lebakwangi, dan di Kecamatan Garawangi Kabupaten Kuningan sebagai lokasi sampel. Penelitian dilakukan selama empat bulan yaitu dari bulan Februari 2007 sampai dengan bulan Mei 2007.

B. Metoda Penelitian

Penelitian dilakukan melalui dua tahap, tahap yang pertama adalah pengumpulan data dan selanjutnya tahap kedua yaitu pengolahan atau analisa data.

1. Pengumpulan Data

Pengambilan data meliputi data primer dan data sekunder. Data primer dilakukan melalui pengukuran dilapangan dan hasil wawancara dengan petani.

Performansi teknis yang diukur kapasitas lapang dan pemakaian bahan bakar, sedangkan performansi ekonomi adalah upah dan biaya pengolahan tanah.

Sedangkan data sekunder sebagai penunjang dan pelengkap berupa luas lahan sawah yang diolah dan tidak terolah, ketersediaan alat dan mesin pertanian (traktor) yang diambil dari beberapa instansi yang berkaitan dengan penelitian ini, antara lain Dinas Pertanian Kabupaten Kuningan, Kantor Badan Pusat Statistik Kabupaten Kuningan, dan literatur yang berhubungan dan mendukung penelitian ini.

2. Metode Penganmbilan Contoh

Metode pengambilan contoh yang digunakan adalah pengambilan contoh acak distratifikasi. Traktor dikelompokkan dalam dua daya, yaitu 8,5 HP dan 6,5 HP.

C. Analisa Data 1. Analisis Finansial

Untuk menilai kalayakan usaha jasa pengolahan tanah secara mekanis di Kabupaten Kuningan dapat digunakan beberapa kriteria. Tiga cara yang paling banyak digunakan sesuai persamaan 9, 10, 11.

2. Pengukuran Kapasitas Lapang Pengolahan Tanah

Metode untuk pengukuran kapasitas lapang baik untuk pembajakan maupun penggaruan sebagai berikut :

a. Lahan yang akan dijadikan tempat percobaan diukur luasnya (P x L).

b. Untuk memudahkan pengukuran, tancapkan patok pada sebelah sisi lahan.

c. Ikat roda traktor dengan tali rapia untuk memudahkan pengukuran banyaknya putaran roda penggerak traktor sejauh S1.

d. Waktu mulai pengolahan dicatat, begitu pula setelah selesai pengolahan (T).

e. Waktu tempuh (t) traktor ketika putara roda bergerak lima kali tersebut diukur (dilakukan 5 kali ulangan).

f. Lebar olah diukur (l)

g. Waktu hilang dalam pengolahan untuk perbaikan, berputar/belok, slip dan sebagainya diukur.

Gambar 4. Gambar petak percobaan untuk kapasitas lapang.

t ?

3. Asumsi yang digunakan pada perhitungan biaya tetap dan biaya tidak tetap :

a. Umur ekonomi traktor 10 tahun dengan nilai sisa 10% dari harga beli.

b. Umur ekonomi bangunan 20 tahun dengan nilai sisa 10 % dari biaya investasi.

c. Besarnya bunga modal yang digunakan 15 %.

d. Jam kerja efektif yang asumsikan 7 jam/hari.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Keadaan Lahan Sawah Kabupaten Kuningan

Luas lahan sawah di Kabupaten Kuningan pada tahun 2003 adalah 29.790 ha. Luas yang sama terjadi pada tahun 2004. Namun pada tahun 2005 terjadi penurunan luas sawah yaitu 29.550 ha. Sedangkan luas bukan sawah pada tahun 2003 adalah 174.718 ha, yang kembali menurun pada tahun 2004 yaitu 160.391 ha. Dan penurunan terjadi pada tahun 2005 yaitu menjadi 156.092 ha. Penurunan yang terjadi pada lahan sawah maupun bukan sawah banyak sekali kemungkinannya. Penurunan luas lahan sawah akan berdampak terhadap produksi padi, hal ini terlihat dari produksi padi pada tahun 2004 sebanyak 355.902 ton menurun pada tahun 2005 menjadi 353.618 ton (Kuningan Dalam Angka 2005-2006).

B. Perkembangan Mekanisasi Pertanian

1. Peningkatan Penggunaan Traktor Tangan

Peluang peningkatan mekanisasi pertanian masih terbuka pada beberapa aktifitas/kegiatan usaha tani, antara lain : pada pengolahan tanah untuk lahan kering, rawa dan lebak, penanaman, pemeliharaan tanaman, irigasi pompa air, panen, perontokan, penanganan pascapanen (pengeringan dan penggilingan). Pada traktor tangan penggunaannya mulai meningkat sekitar tahun 1970-an akibat perkembangan intensifikasi padi sawah berupa penggunaan varietas unggul berumur pendek, anjuran penanaman serentak dan jadwal irigasi yang singkat, sehingga tenaga kerja yang ada terpaksa tersebar ke seluruh wilayah. Kekurangan tenaga kerja pada saat demikian mendorong para petani mengatasi masalah dengan menggunakan traktor. Di samping itu akibat perubahan pasar tenaga kerja karena beralihnya lapangan kerja ke sektor luar pertanian juga mendorong perkembangan penggunaan traktor (Kasryno, 1998).

2. Peluang Jasa Pengolahan Tanah di Kabupaten Kuningan

Kabupaten Kuningan yang dominan penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, mempunyai luas lahan sawah 29.550 ha dengan luas lahan sawah terluas ada di Kecamatan Ciawigebang, yaitu 2.090 ha. Dan sawah-sawah luas lainnya yaitu, Kecamatan Cibingbin (1.490 ha), Kecamatan Cimahi (1.300 ha), Kecamatan Maleber (1.180 ha), Kecamatan Pancalang (1.140 ha), Kecamatan Cilimus (1.110 ha), Kecamatan Luragung (1.080 ha), Kecamatan Ciwaru (1.050 ha), Kecamatan Cigandamekar (1.040 ha), Kecamatan Lebakwangi (1.030 ha), Kecamatan Subang (1.020 ha), dan Kecamatan Garawangi (1.000 ha).

Dengan luas lahan sawah yang demikian, maka Kabupaten Kuningan membutuhkan alat dan mesin pertanian yang memadai untuk menghasilkan padi yang berkualitas dan mencukupi bagi penduduk Kabupaten Kuningan yang berjumlah 1.069.448 jiwa (lampiran 5). Setidaknya sampai dengan tahun 2003 Kabupaten Kuningan hanya memiliki 368 unit traktor roda dua, lampiran 7. Jika kita bagi luas lahan sawah dengan jumlah unit traktor roda dua yang ada di Kabupaten Kuningan, maka setiap 1 unit traktor roda dua bisa mengolah tanah 80 ha. Padahal dari data teknis yang didapat dari pengukuran lapangan, 1 unit traktor roda dua hanya bisa mengolah tanah 13,52 ha/musim. Hal ini bisa menjadi peluang yang baik untuk membuka jasa pengolahan tanah independen (mandiri) dengan mengguakan traktor roda dua.

C. Kapasitas Lapang

Pengukuran kapasitas lapang dilakukan pada lahan sawah per petak sesuai kepemilikan per petani dengan pola sirkular. Data hasil pengukuran dapat dilihat pada lampiran 8. Perhitungan kapasitas lapang teoritis (KLT) adalah dengan mengalikan kecepatan maju dengan lebar pengolahan. Kapasitas lapang efektif (KLE) diperoleh dari waktu efektif yang dibutuhkan untuk mengolah tanah pada luas areal tertentu.

1. Kapasitas Lapang Pembajakan

Kapasitas lapang pembajakan memiliki nilai yang lebih besar bila dibandingkan dengan kapasitas lapang penggaruan. Hal ini dapat dimengerti karena pada kondisi pembajakan kondisi lahan lebih berat jika dibandingkan pada saat penggaruan. Dari lampiran 8 dapat diperoleh kapasitas lapang pembajakan pada traktor roda dua dan kerbau dan disajikan pada tabel 4 dan 5 di bawah ini.

Tabel 4. Kapasitas Lapang Pembajakan Traktor Roda Dua No Traktor KLT

Tabel 5. Kapasitas Lapang Pembajakan Kerbau No Desa KLT

Dari tabel 4 dan 5 dapat di lihat, nilai Kapasitas Lapang Teoritis pembajakan terbesar adalah pada traktor roda dua Yanmar TF85, yaitu 0,109 ha/jam dan nilai KLT terkecil yaitu pada kerbau daerah Panawuan (point 5 pada tabel 3) sebesar 0.0335 ha/jam. Sedangkan nilai KLE pembajakan terdapat pada traktor Kubota yaitu 0,1 ha/jam dan nilai KLE pembajakan terkecil yaitu pada kerbau desa Panawuan (point 5 tabel 3) sebesar 0,037 ha/jam. Perbedaaan nilai ini disebabkan oleh beberapa hal yang salah satunya adalah keterampilan operator dalam mengolah tanah dan keras/lunaknya tanah yang diolah.

Gambar 5. Pembajakan dengan menggunakan traktor roda dua

Gambar 6. Pembajakan dengan menggunakan kerbau

2. Kapasitas Lapang Penggaruan

a. Kapasitas Lapang Penggaruan Pada Traktor Roda Dua

Kapasitas lapang penggaruan memiliki nilai yang lebih kecil bila dibandingkan dengan kapasitas lapang pembajakan. Dari tabel 6 dapat diperoleh kapasitas lapang penggaruan pada traktor roda dua.

Tabel 6. Kapasitas Lapang Penggaruan Traktor Roda Dua No Traktor KLT

(ha/jam)

KLE (ha/jam)

Efisiensi (%) 1 Yanmar TF 85 0,462 0,068 13,95 2 Yanmar TF 65 0,563 0,048 8,90 3 Yanmar Bima 8000 0,441 0,070 17,04

4 Kubota 0,664 0,058 8,744

Dari tabel 6 dapat di lihat, nilai Kapasitas Lapang Teoritis penggaruan terbesar adalah pada traktor roda dua Kubota, yaitu 0,664 ha/jam dan nilai KLT terkecil yaitu pada traktor Yanmar Bima 8000 sebesar 0.441 ha/jam. Sedangkan nilai KLE penggaruan terdapat pada traktor Yanmar TF 85 yaitu 0,068 ha/jam dan nilai KLE penggaruan terkecil yaitu pada traktor roda dua Yanmar TF 65 sebesar 0,048 ha/jam.

Gambar 7. Penggaruan dengan menggunakan traktor roda dua

b. Kapasitas Lapang Penggaruan Pada Hewan

Kapasitas penggaruan pada hewan di Kabupaten Kuningan menggunakan kerbau betina. Menurut petani, kerbau betina memiliki tenaga yang lebih kuat dibandingkan kerbau jantan. Umumnya, setelah pembajakan selesai, karbau langsung di bawa ke kandangnya oleh pemilik/operator karena pada penggaruan dilakukan oleh tenaga manusia.

Gambar 8. Penggaruan dengan menggunakan kerbau

Gambar 9. Tanah yang dicangkul setelah dibajak dengan hewan

3. Efisiensi Lapang

Efisiensi lapang pembajakan yang cukup tinggi disebabkan pola pengolahan yang dilakukan dari lintasan ke lintasan mempunyai jarak yang cukup jauh. Sehingga ada beberapa cm tanah yang tidak terbajak namun langsung tertimbun oleh tanah. Sedangkan pada efisiensi lapang penggaruan yang relatif kecil disebabkan oleh pengulangan lintasan pada saat pengolahan tanah.

Gambar 10. Penyebab nilai efisiensi pembajakan tinggi

4. Kapasitas Lapang Pengolahan Tanah

Kapasitas pengolahan tanah adalah penjumlahan antara kapasitas lapang pembajakan dengan kapasitas lapang penggaruan. Waktu efektif pembajakan adalah 12,34 jam/ha dan waktu efektif penggaruan adalah 15,62 jam/ha. Dari waktu efektif keduanya dapat diketahui bahwa waktu efektif pengolahan tanah yaitu 27,96 jam/ha. Dari hasil wawancara dengan petani, diketahui bahwa dalam satu hari hanya 7 jam waktu efektif dan dalam satu musim hanya 54 hari efektif yang digunakan untuk mengolaha tanah siap tanam. Dari data primer tersebut dapat diketahui jumlah luas lahan sawah yang dapat diolah dalam satu musim, yaitu 13,52 ha.

5. Pelumpuran a. Indeks Pelumpuran

Nilai indeks pelumpuran yang didapat menunjukkan nilai lumpur yang tercipta setelah dilakukan pengolahan tanah (bajak dan garu). Tingkat persentase lumpur lebih dari 50 % menunjukkan nilai lumpur yang pekat yang baik untuk pertumbuhan padi. Sedangkan presentase lumpur yang kecil menunjukkan tanah yang masih encer sehingga tidak baik untuk pertumbuhan padi. Nilai indeks pelumpuran yang didapat dari pengukuran didominasi oleh 50 % ke bawah. Hal ini disebabkan oleh terlalu banyaknya air yang dipakai. Nilai efisien yang rendah disebabkan oleh nilai KLE yang rendah pula, hal ini dikarenakan adanya

pengulangan lintasan pada saat penggaruan, namun indeks lumpur yang dihasilkan tinggi sehingga baik untuk tanaman padi.

b. Indeks Kelunakan

Nilai indeks kelunakan yang didapat dari pengukuran kurang dari 50 %.

Hal ini menunjukkan bahwa permukaan atas bola golf berada antara ketinggian 1 cm hingga kedalaman 1 cm dari permukaan lumpur. Hal ini sangat cocok untuk tanaman padi. Sebagaimana terlihat pada tabel 7.

Tabel 7. Pelumpuran

D. Analisa Biaya Pengolahan Tanah 1.Biaya Tetap

Dalam analisis biaya, penyusutan dihitung dengan metode garis lurus.

Perhitungan biaya penyusutan dengan metode garis lurus yaitu biaya penyusutan yang besarnya sama/tetap untuk setiap waktu berjalan selama masa pemakaian.

Berdasarkan hasil perhitungan biaya tetap (Lampiran 10) didapatkan besarnya nilai penyusutan untuk traktor roda dua Yanmar TF85 yang harga awalnya Rp.15.500.000,- dan umur ekonomi 10 tahun adalah Rp. 1.550.000,-/tahun. Sedangkan untuk Kubota dan Yanmar TF65 yang harga awalnya Rp.14.000.000,- dan umur ekonomi 10 tahun adalah Rp. 140.000,- /tahun. Dan untuk Yanmar Bima 8000 yang harga awalnya Rp.12.500.000 dengan umur ekonomi 10 tahun adalah Rp. 125.000,- /tahun.

Besarnya bunga modal dengan suku bunga 15 % untuk masing-masing type traktor adalah Rp.1.278.750,- /tahun (Yanmar TF85); Rp. 1.155.000,- /tahun (Kubota dan Yanmar TF65); dan Rp.1.031.250,- /tahun (Yanmar Bima 8000).

2.Biaya Tidak Tetap

Pemakaian bahan bakar (solar) berdasarkan literatur adalah 0,90 liter/jam untuk singkal dan garu. Harga solar ditetapkan Rp.2300,-/liter untuk tahun 2005 ke bawah dan Rp. 4300,-/liter untuk tahun 2006 keatas. Sehingga biaya yang dikeluarkan untuk bahan bakar adalah Rp.2070,-/jam dan Rp.3870,-/jam.

Pemakaian minyak pelumas adalah 2,8 liter/jam dan untuk pelumas transmisi 5,5 liter/jam. Harga minyak pelumas Rp.17.500,-/liter dan Rp.25.000,-/liter untuk pelumas transmisi. Sehingga besarnya biaya pelumas adalah Rp.490,-/jam dan Rp 285,-Rp.490,-/jam. Upah operator disepakati antara pemilik dan operator adalah Rp.7.068,-/jam. Besarnya biaya tidak tetap dapat dilihat pada tabel 8.

Tabel 8. Biaya Tidak Tetap Pengolahan Tanah dengan Traktor Roda Dua.

No. Type Traktor Biaya Tidak Tetap Satuan

1 2 3 4 5 Rp/ha

1 Yanmar TF85 207.804.2 207.804.2 207.804.2 243.804.19 243.804.19 Rp/ha 2 Kubota 207.504.19 207.504.19 207.504.19 243.504.19 243.504.19 Rp/ha 3 Yanmar TF65 172.920.16 172.920.16 172.920.16 202.920.16 202.920.16 Rp/ha 4 Yanmar Bima 8000 173.199.26 173.199.26 173.199.26 202.670.16 202.670.16 Rp/ha

Dari tabel 8 dapat dilihat Biaya Tidak Tetap (BTT) adalah Rp.173.199,26,-/ha – 207.804.2,-Rp.173.199,26,-/ha pada tahun pertama sampai dengan tahun ketiga, dimana harga solar Rp.2300,-/liter. Dan Rp.200.670.16,-/ha – 243.804.19,-/ha pada tahun keempat sampai dengan tahun kelima, dimana harga solar Rp.4300,-/liter.

Sedangkan upah yang diterima operator dihitung tiap jamnya sebesar Rp.117.800,-/ha.

3.Biaya Total

Biaya total adalah total biaya yang digunakan per tahun. Biaya ini hasil dari penjumlahan biaya tetap dengan biaya tidak tetap. Biaya total dari hasil wawancara dengan petani yang menyewakan traktornya tidak ada yang lebih dari Rp. 20.000.000,-. Sebagaimana terlihat pada tabel 9.

Tabel 9. Analisis Pendapatan Per Tahun Biaya Total 1 16690984,14 14252488,14 13522228,14 14396488,14

2 16690984,14 14252488,14 13522228,14 16437688,14

3 14252488,14 13798678,14 16437688,14

4 16293688,14 13798678,14

5 16293688,14

Pendapatan 1 10299583,48 3943702,77 14878223,77 11957662,71 2 10299583,48 3943702,77 14878223,77 9916462,71

3 3943702,77 14610773,77 9916462,71

4 1902502,77 14610773,77 c.Yanmar Bima 8000 = Rp. 28.400.451.91 d. Kubota = Rp. 26.354.150.85 Pendapatan = Penerimaan – Biaya Total

4.Analisa Finansial

Dari hasil analisi kelayakan dengan menggunakan data-data : penerimaan (rp/tahun), pengeluaran (rp/tahun), pendapatan (rp/tahun), DF = 15 % dan 18 %, didapat nilai NPV yang positif, IRR yang lebih besar dari DF (discount factor = tingkat suku bunga), dan B/C ratio yang bernilai lebih dari satu, maka usaha ini layak untuk dikembangkan. Sebagaimana terlihat pada tabel 10.

Tabel 10. Analisa Finansial

No Jenis Traktor NPV (DF = 15 %) NPV (DF = 18 %) B/C Ratio IRR (%) 1 Yanmatr

TF85 7825936,43 1244124,37 1,51 18,56

2 Yanmar

TF65 -2961996,53 3612422,6 0,78 28,66

3

Yanmar

Bima 8000 58462963,99 27222615,4 2,48 10,76 4 Kubota 10416473,25 17795411,41 5,67 20,61

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A.Kesimpulan

1. Jumlah traktor roda dua di Kabupaten Kuningan hanya 368 unit, jumlah ini masih kurang sekali jika dibandingkan dengan luas lahan sawah yang ada di Kabupaten Kuningan seluas 299.550 ha. Mengingat tenaga hewan dan tenaga manusia yang semakin sulit.

2. Usaha jasa pelayanan alat dan mesin pertanian cukup menguntungkan untuk usaha tambahan.

3. Tingkat upah operator yang berlaku di Kabupaten Kuningan adalah Rp.117.800,- per ha dengan patokan tiap jamnya sebesar Rp.7.086,-.

4. Nilai NPV yang positif, B/C ratio yang lebih dari satu, dan nilai IRR yang dominan lebih besar dan tingkat suku bunga menunjukkan usaha jasa pengolahan tanah dengan traktor roda dua layak untuk dikembangkan.

B.Saran

1. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja dalam pengolahan lahan, disarankan agar dilakukan upaya untuk lebih mengembangkan mekanisasi pertanian khususnya penggunaan traktor tangan di Kabupaten Kuningan.

2. Harga sewa Rp. 630.000,-/ha dengan dua kali pengolahan yaitu pembajakan dan penggaruan cukup menguntungkan dan layak. Harga ini tidak perlu diturunkan, kecuali jika persaingan pasar penyewaan jasa alat dan mesin pertanian ini tinggi.

3. Dalam rangka mencapai penggunaan yang optimal dan efisien, keterampilan dan disiplin operator dalam pengoperasian dan pemeliharaan perlu dibina dan dimonitor secara terus menerus, hali ini menjadi tugas Tim Pembinaan dari Dinas Pertanian.

4. Segera menjalankan program BUMA yang menggantikan UPJA yang telah lama mati. Agar petani dimudahkan dalam memiliki traktor untuk keperluannya sendiri dan atau untuk membuka jasa penyewaan traktor.

VI. DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2004. Survei Pertanian Luas Lahan Menurut Penggunaannya Di Indonesia. 2003. Badan Pusat Statistik. Jakarta.

Anonim. 2007. Petujuk Pelaksana Bantuan Uang Muka Alsintan (BUMA) Traktor Roda 2 Provinsi Jawa Barat. Pemerintah Provinsi Jawa Barat Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Bandung.

Anonim. Prospek dan Pengembangan Agribisnis. 2004.

Anonim. Pedoman Pelaksanaan UPJA. 2002.

Badan Pusat Statistik Indonesia Tahun 2004

Baver, L. D., W. R. Gardener and W. F. Gardner. 1972. Soil Physics (fourth edition). John Wiiley and Son. New York.

Berita Resmi Statistik No.14/VII/16 Februari 2004

Cox, S.W.R. 1988. Engineering Advances For Agriculture And Food.. Inggris : Butterworth & Co Ltd.

Fahmi, Fuad. 2005. Analisis Kinerja Usaha Pelayanan Jasa Alsintan Di Kabupaten Banyumas. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Gray et al . 1993. Pengantar Evaluasi Proyek. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Hunt, D. 1978. Farm Power and Machinery Management. IOWA State University Press. IOWA.

Husnan S, Pudjiastuti E. 2000. Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Ed ke-4.

Yogyakarta : Unit Penerbit dan Percetakan AMP YKPN.

Husnan S, Suwarsono. 1994. Studi Kelayakan Proyek. Ed ke-3. Yogyakarta : Unit Penerbit dan Percetakan AMP YKPN.

Kadariah, Karlina dan Gray C. 1978. Pengantar Evaluasi Proyek. Jakarta : Fakultas Ekonomi. Universitas Indonesia.

Kasryno, F., M. Syam, Y. Saefuddin, S. O. Manurung dan P. Mundy (eds.). 1984.

Konsukuensi Mekanisasi Pertanian di Indonesia Pusat Pengembangan Agro-Ekonomi Departemen Pertanian. Bogor.

Kasryno, F. 1998. Pemikiran Peningkatan Daya Saing Komoditas Pertanian melalui Pemanfaatan Mekanisasi Pertanian yang Ramah Lingkungan dalam Prosiding Perspektif Pemanfaatan Mekanisasi Pertanian dalam Peningkatan Daya Saing Komoditas. PSE, Badan Litbang Pertanian.

Katu, L. Dan R. G. Sitompul. 1970. sumber Tenaga Pertanian Khususnya Motor Bakar Internal dan Beberapa Segi Penggunaanya. Di dalam Boediono, S.

1980. Analisi Sistem Perencanaan Regional Penambahan Tenaga Pengolahan Tanah Pertanian Tanaman Pangan di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Fatemeta-IPB, Bogor.

Koga, K. 1992. Introduction to Puddy Field Engineering Asian Institut of Technology. Bangkok, Thailand.

Moens, A. 1978. Energy Sources and Requirements Di dalam Anonim.

Agricultural Mechanization Strategy. NUFFIC THE/LHW-1. Bogor.

Pasandaran, E. 2006. Prospek Ketersediaan Sumber Daya Lahan dan Air Untuk Mendukung Ketahanan Pangan. hlm 211-224. Pengelolaan Lahan dan air di Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta.

Pramudya, B dan Dewi, N. 1992. Ekonomi Teknik. Bogor : IPB

Sakai, J., R.G. Sitompul, E. N. Sembiring, R. Praeko, I. N. Suastawa, T.

Mandang. 1998. Traktor 2-roda. Jurusan Teknik Pertanian, Fateta. IPB.

Bogor.

Sawamura, A. Miyazawa F., Ikenaga N., and T. Yoshida. 1986. Simple Measurement Method of Soil Strenght of Puddled Soil. Agricultural and Holticulture, Asian Institute of Technology, Bangkok.

Siregar, H. 1981. Budidaya Tanaman Padi Di Indonesia. Jakarta : PT Sastra Hudaya.

Soeharto, I. 2002. Studi Kelayakan Proyek Industri. Jakarta : Penerbit Erlangga.

Suastawa, I. N., Hermawan, W., Desrial., Sitompul, R. G. Dan Pramuhadi, G.

2006. Pedoman Praktikum Alat Dan Mesin Budidaya Pertanian. Bogor : Bagian Teknik Mesin Budidaya Pertanian. Departemen Teknik Pertanian.

Fakultas Teknologi. Pertanian Institut Pertanian Bogor.

Sugiarto et al. 2002. Ekonomi Mikro. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Suhaeti, N. R. dan Suharni, S. 2004. Inkorporasi Perspektif Gender dalam Pengembangan Rekayasa Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan). Bogor.

Suratman. 2002. Studi Kelayakan Proyek. Madyopuro : Peningkatan Penelitian Pendidikan Tinggi Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.

Van Setten Van der Meer, N.C. 1979. Sawah Cultivation in Ancient Java : Aspect of Development During the Indo-Javanese Period, 5th-15th Century.

Oriental Monogr. Ser 22 : 5-33.

Lampiran 1. Peta Kabupaten Kuningan

Sumber : www.kabupatenkuningan.go.id

Lampiran 2. Penghitungan Biaya Tetap dan Biaya Tidak Tetap A. Biaya Tetap (BT)

Biaya tetap adalah jenis biaya yang selama satu periode kerja tetap jumlahnya. Biaya ini tidak tergantung pada jumlah produk yang dihasilkan (jumlah jam kerja suatu alat/mesin). Meskipun alat atau mesin tersebut bekerja

Biaya tetap adalah jenis biaya yang selama satu periode kerja tetap jumlahnya. Biaya ini tidak tergantung pada jumlah produk yang dihasilkan (jumlah jam kerja suatu alat/mesin). Meskipun alat atau mesin tersebut bekerja

Dokumen terkait