• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kecamatan Cipari

Dalam dokumen YAYASAN OMAH AKSORO INDONESIA (Halaman 117-125)

BAB III SEJARAH DAN PERKEMBANGAN TAREKAT

B. Pusat-Pusat Perkembangan Tarekat

5. Kecamatan Cipari

Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah masuk ke daerah cipari di pelopori oleh Simbah Kyai Haji Mahmud Mukhtar (w. 1954 M). Beliau merupakan pendatang dari Jogjakarta, datang ke daerah Prumpung Cipari bersama tiga orang saudaranya yaitu Simbah Kafrawi, Mahmud Muhtar dan Fatonah. Setelah menetap di desa Prumpung, Simbah Kyai Haji Mahmud Muhtar menikah dengan Nyai Siti Maimunah. Hasil pernikahan

dengan Nyai Siti Maimunah mendapatkan enam orang putri.30

Simbah Mahmud Muhtar merupakan Ulama yang sezaman dengan Syaikh Muhammad Ilyas, dan sama sama Murid dari Syaikh Sulaiman Zuhdi Jabal Qubaisy.

Namun dari sisi usia, Simbah Kyai Haji Mahmud Muhtar terbilang lebih muda, sehingga atas saran dari Syaikh Sulaiman Zuhdi Jabal Qubaisy beliau di suruh untuk bilbarkah atau Littabaruk kepada Syaikh Muhammad Ilyas Sokaraja. Tradisi ini terus dilakukan oleh pengganti Simbah Kyai Haji Mahmud Muhtar yaitu menantunya sendiri Simbah Kyai Qasim yang Bilbarkah dan Littabaruk kepada putra Syaikh Muhammad Ilyas yaitu Simbah Kyai Haji Rifa’i, sementara generasi ketiga Simbah Kyai Haji Mahmudin Bilbarkah atau Littabaruk kepada Simbah Kyai Haji Abdussalam putra dari Simbah Kyai Haji Rifa’i, dan sekarang generasi ke empat Gus Asep juga melanjutkan tradisi Bilbarkah atau Littabaruk kepada Gus Thoriq Sokaraja.31

Dari tradisi Bilbarkah atau Littabaruk inilah akhirnya sampai sekarang Sanad Ke-Ilmuan (silsilah) tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah desa Prumpung melalui jalur Sokaraja. Yaitu Gus Asep dari Simbah Kyai Haji Mahmudin, dari Simbah Kyai Qasim, dari Simbah Kyai Haji Mahmud Muhtar, dari Syaikh Muhammad Ilyas Sokaraja dari Syaikh Sulaiman Zuhdi Jabal Qubais.

Namun apabila dilihat dalam lembaran Silsilah yang

30 Wawancara pribadi dengan Kyai Kasimin, Badal Simbah Kyai Haji Mahmudin (cucu Simbah Kyai Haji Mahmud Muhtar), Cipari 10 Oktober 2017.

31 Wawancara pribadi dengan Gus Asep, Cipari 12 September 2017.

beredar dikalangan santri tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Desa Prumpung Cipari susunanya adalah sebagai berikut; Simbah Kyai Haji Mahmudin, Simbah Kyai Haji Qasim, Simbah Kyai Haji Mahmud Muhtar, Simbah Kyai Haji Rifa’i, Syaikh Muhammad Ilyas dan Syaikh Sulaiman Zuhdi Jabal Qubais. Sedangkan apabila dilihat dari sisi Sanad Keilmuan yang sebenarnya sesungguhnya Simbah Kyai Haji Mahmud Muhtar memiliki jaringan yang langsung kepada Syaikh Sulaiman Zuhdi, dengan susunan Silsilah sebagai berikut; Simbah Kyai Haji Mahmudin, dari Simbah Kyai Haji Qasim, dari Simbah Kyai Haji Mahmud Muhtar dari Syaikh Sulaiman Zuhdi Jabal Qubais.32

Setelah Simbah Kyai Mahmud Muhtar wafat pada tahun 1954 M, kepemimpinan tarekat dilanjutkan oleh menantunya yang bernama Simbah Kyai Qasim (w. 1985 M). Di era kepemimpinan Simbah Kyai Haji Qasim sempat terjadi gejolak di antara para santri. Tepatnya pada era orde baru, santri santri Simbah Kyai Haji Qasim sempat tercerai berai akibat adanya isu Simbah Kyai Haji Qasim masuk partai Golkar, padahal pada saat itu beliau Simbah Kyai Haji Qasim hanya menghadiri acara di Kecamatan Cipari, sifatnya hanya undangan tokoh agama dan dimintai untuk membaca doa. Namun efek dari kehadiranya di Pendopo Kecamatan menimbulkan fitnah bahwa Simbah Kyai Haji Qasim telah masuk Partai Golkar. Akibatnya banyak santri yang meninggalkan beliau, karena pada era orde baru pilihan partai Golkar

32 Wawancara pribadi dengan Gus Asep, Cipari 12 September 2017.

dianggap telah menyimpang dari tradisi santri yang memiliki partai sendiri yaitu partai PPP.33

Di tengah kegelisahan para santri tarekat, secara sembunyi sembunyi ternyata ada yang mengundang Simbah Kyai Haji Abdussalam dari Sokaraja pada acara di Prumpung. Tujuanya adalah untuk membai’at para santri di sekitar prumpung. Namun ketika Simbah Kyai Haji Abdussalam hadir dalam halaqah yang di hadiri banyak santri tarekat, Simbah Kyai Haji Abdussalam menunjuk beberapa santri tarekat untuk membacakan tawasul, beberapa santri yang di tunjuk kemudian membacakan tawasulnya yaitu; ‚Bijahi Sadatina Qasimi Wamukhtari‛, setelah mendengar tawasul tersebut akhirnya Simbah Kyai Haji Abdussalam mengatakan bahwa kalian semua yang sudah hafal tawasul tersebut sudah di bai’at oleh Simbah Kyai Haji Qasim atau Simbah Kyai Haji Mahmud Muhtar, oleh karena itu tidak perlu berbaiat lagi. Pasca kedatangan Simbah Kyai Haji Abdussalam situasi menjadi terkendali dan sedikit demi sedikit pergunjinag terkait Simbah Kyai Haji Qasim dan Golkar mulai menghilang.

Setelah Simbah Kyai Haji Qasim wafat pada tahun 1985 M, kepemimpinan tarekat dilanjutkan oleh putranya yaitu Simbah Kai Haji Mahmudin (w. 2017). Di bawah kepemimpinan Simbah Kyai Haji Mahmudin tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Desa Prumpung Kecamatan Cipari mengalami perkembangan yang sangat pesat. Beliau adalah sosok ulama yang membumi, tidak hanya kalangan santri yang di dekati, namun dengan kelompok abangan beliau juga akrab, bahkan

33 Wawancara pribadi dengan Kyai Kasimin, Cipari 10 Oktober 2017.

beliau berpesan kepada para badal ‚ojo di sewiyah bocah prapatan‛ artinya jangan di sia-siakan orang orang prapatan (abangan/bukan santri) apa yang mereka minta supaya di penuhi asal tidak bertentangan dengan hukum Islam. Begitu juga dengan tradisi kejawen, beliau membaur dengan masyarakat abangan, dengan mensiasati dan memasukan nilai nilai Islami tampa harus mengatakan syariat Islam secara Fulgar.34

Pusat kegiatan tarekat Simbah Kyai Haji Mahmudin berada di sekitar komplek Masjid Prumpung Kecamatan Cipari. Kegiatan rutinan selapanan dilaksanakan pada setiap hari selasa manis, sementara tawajuhan dan khataman Khawajigan dilaksanakan pada setiap hari selasa dan Jum’at. Kegiatan tahunan adalah suluk (khalwat) dan Khaul Syaikh Muhammad Bahaudin Naqsyabandi dan Simbah Kyai Haji Mahmud Muhtar yang saat ini sudah memasuki Khaul yang ke 54. Suluk (khalwat) dilaksanakan setiap bulan Muharram dan Rajab, sementara Khaul Masyayikh thariqah dilaksanakan setiap bulan Sya’ban.35

Selain di perumpung, pusat tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah juga berkembang di desa Bakung Cisuru Cipari. Pertama kali yang membawa adalah Simbah Kyai Haji Abdul Rosyid pada tahun 1950 M. Beliau adalah menantu Syaikh Abdurahim Al-Khalidi Sikampuh Kroya Cilacap. Beliau menikah dengan putri kedua dari Syaikh Abdurahim al-Khalidi (w. 1926 M) yang bernama Nyai Khafsoh pada tahun 1957 M dan menetap di desa Bakung Cisuru Cipari serta

34 Wawancara pribadi dengan Kyai Kasimin, Cipari 10 Oktober 2017.

35 Wawancara pribadi dengan Gus Asep, 12 September 2017.

mengembangkan dakwah Islam. Simbah Kyai Haji Abdul Rosyid merupakan ulama yang sering pergi Haji.

Sehingga Simbah Haji Abdul Rosyid sebelum keberangkatanya ke Makkah yang ketujuh, sempat menitipkan Ke-Mursyidanya kepada simbah prumpung (Simbah Kyai Haji Qasim) dan pada akhirnya beliau wafat di Makkah Mukaromah.

Sepeninggal Simbah Kyai Haji Abdul Rosyid, kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya yaitu Simbah Kyai Haji Syamsudin Sholehan (w. 1994 M), namun beliau belum mau menjadi Mursyid, sehingga tarekat di desa Cisuru mengalami kefakuman. Ketika ada santri yang mau bai’at malah beliau menunjukan supaya ke Simbah prumpung, tempatnya Simbah Kyai Haji Qasim (w. 1985 M). Pada tahun 1960-an Simbah Kyai Haji Syamsudin Solehan akhirnya bai’at kepada Simbah Kyai Haji Ibrahim Sikampuh (putra syaikh Abdurahim Al-Kahalidi). Sehingga Sanad Ke-Ilmuan tarekatnya tidak melalui Simbah Abdur Rosyid, namun memalalui Simbah Kyai Haji Ibrahim, dari Simbah Kyai Haji Sarbini dari Syaikh Abdurahim al-Khalidi Sikampuh, dari Syaikh Sulaiman Zuhdi Jabal Qubais Makkah Mukaromah.36

Simbah Kyai Haji Syamsudin Solehan merupakan Ulama yang kharismatik pada zamanya, beliau di samping ahli ilmu agama, ahli retorika dalam berdakwah, juga ahli dalam bidang politik dan organisasi. Pada tahun 1950-an Simbah Kyai Haji Syamsudin Solehan di angkat menjadi pengurus PCNU Kabupaten Cilacap. Beliau menjabat sebagai ketua Tanfidziyah dan Simbah Kyai Haji Muawam sebagai

36 Wawancara pribadi dengan KH. Khayatudin Bahri, Cipari 10 Oktober 2017.

Rois Syuriah. Sehingga pada Muktamar NU di Palembang tahun 1952, beliau Simbah Kyai Haji Syamsudin Solehan mewakili utusan dari PCNU Cilacap bersama Simbah Kyai Haji Muawam dan beberapa pengurus.37 Sebagaimana kita ketahui bahwa Muktamar NU ke-19 di Palembang yang berlangsung pada tanggal 26-30 April 1952 M, akhirnya menetapkan KH. A. Wahid Hasyim sebagai Ketua Umum PBNU, yang menggantikan KH. Nahrawi Thohir. Pada Mukhtamar NU di palembang inilah NU secara politik memisahkan diri dari Masyumi dan menjadikan NU sebagai Partai Politik.38

Pasca Mukhtamar NU ke-19 di Palembang maka pengurus NU se-Indonesia menyiapkan diri untuk menghadapi Pemilu 1955. Termasuk Simbah Kyai Haji Syamsudin Soleha menyiapkan dirinya untuk menjadi calon Anggota DPRD Kabupaten Cilacap melalui partai NU. Dan hasil pemilu 1955 inilah, Simbah Kyai Haji Syamsudin Solehan terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Cilacap mewakili dari utusan partai NU.39 Pada pemilu tahun 1955, partai NU dalam skala nasional mendapatkan 18,4 %, sehingga menurut Andree Feilard, partai NU mendapatkan sukses yang luar biasa. Kondisi ini terus berlanjut pada pemilu 1971 yang di selenggarakan oleh Orde Baru, NU bisa meperbaiki peringkat dan perolehan suaranya meningkat menjadi

37 Wawancara dengan pribadi dengan KH. Khayatudin Bahri, Cipari 10 Oktober 2017.

38 Andree Feilarrd, NU Vis a Vis Negara, Pencarian Isi, Bentuk dan Makna, (Jogjakarta, LkiS, 1999), h. 45-46.

39 Wawancara pribadi dengan KH. Khayatudin Bahri, Cipari 10 Oktober 2017.

nomer urut kedua setelah Golkar, yaitu dengan perolehan 18,7 %.40

Sejak pemilu 1955 sampai tahun Pada tahun 1970-an, Simbah Kyai Haji Syamsudin Soleh1970-an, terus mewakili NU menjadi Anggota DPRD di Kabuapten Cilacap, pada suatu saat beliau izin untuk tidak bisa mengikuti kegiatan kedinasan, dan menyempatkan ber-suluk (khalwat) selama 40 hari di zawiyah Sikampuh, sambil di temani oleh santri beliau akhirnya mengikuti suluk selama 40 hari di sikampuh yang pada saat itu di bawah kepemimpinan Simbah Kyai Haji Anwar. Saat ber-khalwat itulah Simbah Kyai Haji Anwar memantapkan kembali kepada Simbah Kyai Haji Syamsudin Solehan untuk meneruskan perjuangan Simbah Kyai Abdul Rosyad terkait dengan kemursyidan tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Cisuru Cipari Cilacap.

Karena selalu mendapatkan desakan dari Simbah Kyai Haji Anwar dan dzuriyah Skampuh lainya, akhirnya Simbah Kyai Haji Syamsudin Solehan bersedia menjadi Mursyid.41

Simbah Kyai Haji Syamsudin Solehan merupakan ulama yang sangat produktif dan energik, ketika masuk bulan Rabiul Awwal, Rajab, dan hari hari Islam lainya beliau sering keliling ke daerah kabupaten Cilacap dan Banyumas untuk memberikan ceramah keagamaan.

Beliau sering juga mengisi ceramah di Pon Pes Al-Ihya Ulumaddin, bahkan beliau pernah di undang oleh Syaikh Abdul Malik Kedungparuk Banyumas yang

40 Ja’far Shodiq, Pertemuan Antara Tarekat dan NU, (Jogyakarta, Pustaka Pelajar, 2008), h. 100.

41 Wawancara dengan pribadi dengan KH. Khayatudin Bahri, Cipari 10 Oktober 2017.

merupakan pusat tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah dan merupakan cabang dari Syaikh Muhammad Ilyas Sokaraja Banyumas

C. Konsep Ajaran Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di

Dalam dokumen YAYASAN OMAH AKSORO INDONESIA (Halaman 117-125)