• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bahwa dalam Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kaur Putaran Kedua di Kecamatan Nasal banyak terjadi pelanggaran-pelanggaran berupa money politic yang bersifat masif, sistematis, dan terstruktur yang dilakukan oleh Pasangan Calon Nomor Urut 5 yang terjadi di seluruh Desa di Kecamatan Nasal, hal ini dibuktikan dengan perolehan suara Pasangan Calon Nomor Urut 5 di Kecamatan Nasal, sebagaimana yang terdapat dalam tabel di bawah ini;

No. Nama Pasangan Calon Perolehan Suara

5

Dr Ir. HERMEN MALIK, MSc Hj. YULIS SUTI SUTRI

5.450

11 Kol. Laut (Purn) Drs. H. JOHARMAN MA’IN SALEH 2.529

Drs. H. ANHAR BASARUDDIN

15.1 Bahwa di Desa Sumber Harapan terjadi money politic yang dilakukan oleh Pasangan Calon Nomor Urut 5, money politic tersebut berupa bagi-bagi uang, terbukti di Desa Sumber Harapan Pasangan Calon Nomor Urut 5 memperoleh suara terbanyak (vide Bukti P-25 A);

15.2 Bahwa di Desa Merpas terjadi money politic yang dilakukan oleh Pasangan Calon Nomor Urut 5, money politic tersebut berupa bagi-bagi uang, terbukti di Desa Merpas Pasangan Calon Nomor Urut 5 memperoleh suara terbanyak (vide Bukti P-25 B);

Bahwa Perolehan Suara Pasangan Calon Nomor Urut 5 di Kecamatan Nasal sebagaimana yang terdapat didalam tabel diatas diperoleh dari hasil pelanggaran-pelanggaran berupa money politic yang bersifat masif, sistematis, dan terstruktur yang terjadi di wilayah di Kecamatan Nasal yang dilakukan oleh Pasangan Calon Nomor Urut 5 yang mempengaruhi hasil perolehan suara akhir Pasangan Calon Nomor Urut 5 di Kecamatan Nasal, maka dengan demikian Perolehan Suara Pasangan Calon Nomor urut 5 dihasilkan dari suatu proses Pemilu yang bertentangan dengan asas-asas penyelenggaraan Pemilu yang Luber Jurdil;

Bahwa rangkaian pelanggaran yang dilakukan oleh Termohon dan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh Pasangan Calon Nomor Urut 5 yang bersifat terstruktur, sistematis, dan masif yang dapat merusak jalannya Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Kaur Putaran Kedua sebagaimana tersebut di atas dan dapat merusak sendi-sendi demokrasi;

Bahwa konstitusi negara yang saat ini dikawal secara konsisten oleh Mahkamah, mengamanahkan agar Pemilihan Umum dilaksanakan dengan berpedoman kepada prinsip-prinsip hukum dan asas-asas penyelenggaraannya, sehingga Pemilihan Umum yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil dapat diwujudkan. Oleh karena itu, dalam rangka menjaga tegaknya demokrasi dan hukum, pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dalam penyelenggaraan Pemilihan Umum termasuk Pemilihan Umum kepala daerah dan wakil kepala daerah baik yang dilakukan oleh

penyelenggara maupun oleh peserta secara sistematis, terstruktur, dan masif haruslah diperiksa dan diadili oleh Mahkamah;

Bahwa demi tegaknya hukum dan keadilan serta meniadakan ketidakadilan yang dialami oleh masyarakat Kabupaten Kaur, perlu pemulihan keadilan.

Keadilan bukanlah hasil akhir dari proses awal jika sejak semula mengabaikan proses yang semestinya. Hasil akhir dari proses yang tidak adil bukanlah keadilan yang sesuai dengan prinsip-prinsip hukum dan prinsip keadilan umum (general justice principle). Tidak boleh seorangpun diuntungkan oleh penyimpangan dan pelanggaran yang dilakukannya sendiri dan tidak seorangpun boleh dirugikan oleh penyimpangan dan pelanggaran yang dilakukan orang lain (nullus/nemo commedum copere potest de injuria sua propria). Oleh karena itu, Mahkamah berpendapat, suara yang diperoleh Pasangan Calon dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Kaur Putaran Kedua dinyatakan tidak sah, karena perolehannya dicapai dengan cara tidak sah, sehingga kemenangan Pasangan Calon Nomor Urut 5 harus dibatalkan;

III. KESIMPULAN

Bahwa berdasarkan uraian fakta hukum sebagaimana disebut di atas maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Bahwa dalam pelaksanaan Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Kaur Putaran Kedua, telah terjadi pelanggaran-pelanggaran dan penyimpangan-penyimpangan berupa money politic di seluruh desa pada setiap Kecamatan se-Kabupaten Kaur yang terjadi secara sistematis, masif, dan terstruktur yang dilakukan oleh Pasangan Calon Nomor Urut 5, dengan maksud dan tujuan untuk memenangkan Pasangan Calon Nomor Urut 5;

2. Termohon sebagai penyelenggara Pemilukada, Termohon sama sekali tidak melakukan tindak lanjut dan/atau upaya pemulihan dalam bentuk apapun terhadap pelangaran-pelangaran yang dilakukan oleh Pasangan Calon Nomor Urut 5, hal ini mebuktikan bahwa Termohon berpihak kepada Pasangan Calon Nomor Urut 5 sehingga asas-asas Pemilukada yang mandiri, jujur, adil, akuntabilitas, keterbukaan, dan Luber tidak tercapai di Kabupaten Kaur;

3. Bahwa pembiaran pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan Pasangan Calon Nomor Urut 5 tersebut tidak hanya dilakukan oleh Termohon akan tetapi juga dilakukan oleh Panwaslu Kabupaten Kaur beserta jajaran di bawahnya sehingga semakin memperburuk jalannya Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Kaur Putaran Kedua, sehingga penyelenggaraannya tidak lagi dengan mendasarkan pada asas-asas Pemilukada yang mandiri, jujur, adil, akuntabilitas, keterbukaan, dan Luber bahkan sama sekali tidak mencerminkan pesta rakyat dan pesta demokrasi yang mengedepankan prinsip hak asasi manusia dan nilai-nilai kemanusiaan yang kita junjung selama ini;

4. Bahwa keberpihakan Termohon dan Panwaslukada Kabupaten Kaur kepada Pasangan Calon Nomor Urut 5, sehingga asas persamaan hak sebagai warga negara sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dilanggar oleh Termohon dan Panwaslukada Kabupaten Kaur, sehingga Mahkamah Konstitusi sebagai pengawal konstitusi berwenang memeriksa dan mengadili perkara ini dan menyatakan bahwa pelaksanaan Pemilukada Kabupaten Kaur Putaran Kedua melanggar Konstitusi;

5. Bahwa tingkat pelanggaran yang dilakukan oleh Pasangan Calon Nomor Urut 5 sebagaimana telah diuraikan di atas merupakan pelanggaran sangat serius yang membahayakan demokrasi dan mencederai prinsip-prinsip hukum dan prinsip-prinsip Pemilukada yang langsung, umum, bebas, jujur dan adil, sehingga tidak berlebihan bagi Pemohon untuk memohon kepada Mahkamah untuk mendiskualifikasi Pasangan Calon Nomor Urut 5 dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Kaur Putaran Kedua dan menetapkan Pasangan Calon Nomor Urut 11/Pemohon Kol. Laut (Purn) Drs. H.JOHARMAN MA’IN SALEH dan Drs. H. ANHAR BASARUDDIN sebagai pemenang dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Kaur Putaran Kedua, atau setidak-tidaknya dilaksanakan Pemungutan Suara Ulang dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Kaur Putaran Kedua di seluruh TPS di Kabupaten Kaur oleh Termohon;