BAB II KAJIAN TEORI
A. Kecanduan (Addiction)
2. Kecanduan Smartphone
Definisi mengenai kecanduan (addiction) awalnya ditunjukkan
pada kasus penyalahgunaan obat-obatan, tetapi definisi tersebut
memunculkan suatu bentuk kontroversi mengenai konsepsi tersebut.
Kemudian definisi tersebut beralih dengan mengikut sertakan beberapa
tingkah laku yang tidak mengandung sesuatu hal yang memabukkan
seperti halnya bermain video game (Keepers,1990), compulsive gambling
(Griffits,1990), overeating (Lesuire dan Bloome,1993), dan
Television-viewing (Winn) (dalam Ajizah, 2013: 8) karena itu munculah definisi addiction sebagai aktifitas kompulsif yang tidak terkendali tanpa
Kwon (2013) menyebutkan bahwa istilah kecanduan smartphone
adalah sebagai perilaku keterikatan atau kecanduan terhadap smartphone
yang memungkinkan menjadi masalah sosial seperti halnya menarik diri,
dan kesulitan dalam performa aktivitas sehari-hari atau sebagai gangguan
kontrol impuls terhadap diri seseorang. Kecanduan smartphone adalah
salah satu jenis dari kecanduan teknologi. Griffits menjelaskan bahwa
kecanduan teknologi sebagai bagian dari perilaku kecanduan yang
melibatkan interaksi manusia-mesin dan bukan interaksi kimiawi.
Selain itu, Park dan Lee (2011 dalam Bian & Leung, 2014)
menyebutkan bahwa definisi kecanduan smartphone (smartphone
addiction) adalah perilaku penggunaan ponsel secara berlebihan yang
dapat dianggap sebagai gangguan kontrol impulsif yang tidak
memabukkan dan mirip dengan judi patologis. Pendapat dari Chiu (2014)
menyebutkan juga bahwa smartphone addiction adalah salah satu
kecanduan yang memiliki resiko lebih ringan dari pada kecanduan alkohol
ataupun kecanduan obat-obatan. Kecanduan smartphone juga memiliki
kesamaan pada teori yang telah dikemukakan oleh Young (2007) dalam
Chiu (2014) bahwa kecanduan smartphone sama halnya akan internet
addiction, individu yang tidak dapat mengontrol dan ketergantungan pada
penggunaan teknologi berbasis internet
Kecanduan smartphone dapat dikategorisasikan sebagai
permasalahan perilaku. Salah satu contoh yang nampak adalah dari segi
peraturan, proses sosialisasi yang tidak tepat atau bahkan penggunaan
smartphone dalam keadaan yang penuh resiko dan berbahaya, seperti
contoh ketika penggunaan smartphone pada saat mengendarai kendaraan.
Penggunaan smartphone yang menyimpang ini telah terbukti berkaitan
dengan usia, perilaku ekstroversi dan self-esteem yang rendah (Bianchi
dan Philips, 2005). Park dan Lee (2012) juga menjelaskan bahwa
penggunaan smartphone dapat dikaitkan dengan kesepian, depresi, dan
self-esteem berdasarkan penggunaan smartphone mereka dan penelitian
psikologis yang mendalam.
Lee, dkk. (2012) menjelaskan bahwa kecanduan menggunakan
smartphone dapat di definisikan sebagai individu yang kecanduan karena
penggunaan aplikasi yang ada pada smartphone dan kecanduan karena
mengikuti perkembangan smartphone. Individu yang kecanduan
menggunakan smartphone karena aplikasi smartphone disebabkan karena
individu tersebut menemukan kenyamanan dalam kesehariannya sehingga
mereka banyak menghabiskan banyak waktu mereka dengan
menggunakan aplikasi-aplikasi yang ada pada smartphone untuk
mendapatkan kenyamanan tersebut. Individu yang kecanduan
menggunakan smartphone karena mengikuti perkembangan smartphone
adalah individu yang kecanduan karena persaingan agar tidak terlihat tidak
ketinggalan zaman. Mereka akan terus bersaing dengan cara terus
mengganti smartphone mereka dengan smartphone yang terbaru tanpa
Huang Son dan Choi (2011) menjelaskan bahwa kecanduan
smartphone berarti ketergantungan individu terhadap smartphone dan
kondisi yang digunakan secara berlebihan, serta menyebabkan
ketidaknyamanan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dengan kata
lain, kondisi tersebut yang membuat kehidupan sehari-hari menjadi
terhalang karena orang-orang banyak menghabiskan waktunya dengan
smartphone yang dimiliki.
Penelitian sebelumnya pernah mensurvei hampir 1000 pelajar di
Korea Selatan, di mana 72% dari subyek penelitian tersebut memiliki
rata-rata usia 11-12 tahun yang menggunakan smartphone menghabiskan
waktu mereka rata-rata 4-5 jam per-hari dengan smartphonenya. Hasil
survei menyatakan bahwa 25% subyek penelitian terbukti kecanduan
smartphone. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan, menunjukkan
bahwa stres adalah indikator penting yang menyebabkan individu menjadi
kecanduan terhadap smartphone.
Penelitian lain yang dilakukan terhadap pelajar di Universitas
Korea Selatan juga telah membuktikan hubungan antara kecanduan
smartphone dengan kesehatan mental, kehidupan di sekolah, hubungan
personal, kontrol diri dan stress di kehidupan. Berdasarkan pembuktian
dari penelitian yang telah dilakukan, maka beberapa ahli sepakat
menyimpulkan bahwa terdapat beberapa tanda-tanda awal yang
menunjukkan bahwa individu termasuk dalam kategori kecanduan
1. Selalu memeriksa smartphone tanpa alasan yang jelas.
2. Merasa cemas atau gelisah jika tidak membawa atau
menggunakan smartphone.
3. Menghindar dari interaksi sosial dan sering menghabiskan
waktu dengan smatphone.
4. Bangun di tengah malam hanya untuk memeriksa smartphone.
5. Penurunan prestasi belajar atau performa kerja sebagai akibat
dari aktivitas penggunaan smartphone yang berkepanjangan.
6. Mudah terpengaruh atau terganggu oleh aplikasi terbaru yang
ada di smartphone.
Berdasarkan tanda-tanda awal diatas, kecanduan smartphone juga
ditemukan sebagai prediktor yang signifikan dari niat individu dalam
menggunakan dan membeli smartphone. Beberapa isu yang timbul dari
kecanduan smartphone telah masuk ke dalam masalah manajemen waktu
dan masalah yang ada dalam dunia pendidikan di sekolah saat ini (Hong
dkk, 2012).
3. Faktor-faktor Penyebab Individu Kecanduan dengan Smartphone
Faktor resiko dalam menggunakan smartphone adalah faktor yang
menyebabkan individu menjadi kecanduan dalam menggunakan
smartphone. Yuwanto (2010: 17-24) dalam penelitiannya mengenai mobile phone addict mengemukakan ada 4 faktor penyebab kecanduan smartphone yaitu :
a. Faktor Internal
Faktor ini terdiri atas faktor-faktor yang menggambarkan
karakteristik individu, yaitu :
a) Tingkat sensation seeking yang tinggi. Pada dasarnya sikap ini
terbentuk karena adanya aktifitas rutin yang menyebabkan
kebosanan serta kebutuhan untuk mencari perhatian orang lain atau
membuat suasana menjadi gempar (Reeve, 2009: 368). Sifat
sensation seeking ditandai oleh kebutuhan berbagai macam sensasi
dan pengalaman yang baru, luar biasa dan kompleks, serta
kesediaan untuk mengambil resiko baik secara fisik, sosial, hukum
maupun finansial Zuckerman (Rio Agusto 2014 : 3).
b) Self-esteem yang rendah. Self esteem itu sendiri adalah evaluasi diri
individu terhadap kualitas atau keberhargaan diri sebagai manusia.
Individu dengan self-esteem rendah cenderung minder dengan
orang-orang disekitarnya dan akan menilai negatif dirinya atau
cenderung berfkir tidak masuk akal (Anonim, 2010: 19).
Menggunakan telepon genggam akan membuat merasa berharga
dan nyaman saat berinteraksi dengan orang lain. Self esteem
merupakan ukuran keterikatan interpersonal individu yang
mengingatkan seseorang ketika suatu keterikatan mengalami
kemunduran atau kekurangan. Siswa dengan self esteem yang
c) Kontrol diri yang rendah. Kontrol diri adalah kemampuan individu
untuk menyusun, membimbing, mengatur, dan mengarahkan
langkah-langkah dan tindakannya untuk mencapai sesuatu yang
diinginkan. Tidak bisa mengatur waktu dan menahan diri dalam
menggunakan smartphone dapat menjadi prediksi kerentanan
individu mengalami kecanduan telepon genggam. Pada saat
dorongan untuk melakukan suatu mencapai puncaknya, kontrol diri
dapat membantu individu mempertimbangkan aspek, resiko dan
norma sosial yang akan dihadapinya (Muhammad Farid, dkk.
2014: 127)
b. Faktor Situasional
Faktor ini terdiri atas faktor-faktor penyebab yang mengarah
pada penggunaan telepon genggam sebagai sarana membuat individu
merasa nyaman secara psikologis ketika menghadapi situasi yang tidak
nyaman. Dalam hal ini individu akan cepat bertindak ketika berada
pada situasi yang tidak nyaman dan merasa terganggu aktivitas bila
ada situasi yang tidak diinginkan dan mengalihkan perhatian pada
smartphone. Contohnya adalah ketika individu mempunyai masalah
maka individu tersebut akan mengalihkan perhatian kepada
smartphone dan berharap masalah yang dialami akan selesai.
Young (Mohammad Gilang, 2015: 1) menginformasikan
bahwa lebih dari 50% individu yang mengalami kecanduan disebabkan
sering menggunakan fantasi mereka sebagai pengalihan secara
psikologis terhadap perasaan yang tidak menyenangkan.
c. Faktor Sosial
Terdiri atas faktor penyebab kecanduan telepon genggam
sebagai sarana berinteraksi dan menjaga kontak dengan orang lain.
Dalam hal ini individu selalu menggunakan smartphone untuk
berinteraksi dan cenderung malas untuk berkomunikasi secara
langsung dengan individu yang lain. Contohnya pada saat individu
sedang bersama-sama dengan orang lain dalam jarak yang sangat
dekat, maka individu akan menggunakan smartphone untuk
berkomunikasi daripada menemui langsung orang tersebut.
d. Faktor eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri
individu. Faktor ini terkait dengan tingginya paparan media tentang
telepon genggam dan berbagai fasilitasnya. Hal ini membahas
bagaimana besarnya pengaruh media dalam mempengaruhi individu
untuk memenuhi kebutuhan akan smartphone. Survei dari bidang
pemasaran smartphone Indonesia menyatakan bahwa remaja
merupakan konsumen yang sangat sensitif terhadap perkembangan
smartphone (Frontier Consulting Group, 2012: 2). 4. Dampak Kecanduan Menggunakan Smartphone
Dampak-dampak yang akan ditimbulkan apabila individu menjadi
positif dan dampak negatif. Adapun dampak positif dan negatif menurut
Salehan (2013) adalah sebagai berikut :
a. Dampak Positif
1. Mempermudah untuk berinteraksi dengan orang banyak melalui
fitur media sosial yang ada.
2. Mempersingkat jarak dan waktu, di era perkembangan smartphone
yang canggih didalamnya terdapat media sosial yang beraneka
ragam sehingga hubungan jarak jauh bukan lagi menjadi suatu
masalah dan halangan.
3. Mempermudah para siswa mengkonsultasikan pelajaran dan
tugas-tugas yang belum dimengerti. Hal ini biasa dilakukan siswa dengan
mengirimkan pesan singkat kepada guru mata pelajaran.
4. Mengetahui informasi-informasi tentang kegiatan, foto yang
berkaitan dengan kegiatan disekolah kemudian membagikannya di
grup kelas atau langsung membagikan kepada orang tertentu.
b. Dampak Negatif
1. Konsumtif, penggunaan telepon genggam dengan berbagai fasilitas
yang ditawarkan penyedia jasa layanan telepon genggam (operator)
membuat individu harus mengeluarkan biaya untuk memanfaatkan
fasilitas yang digunakan.
2. Psikologis, individu merasa tidak nyaman atau gelisah ketika tidak
menggunakan atau tidak membawa telepon genggam.
4. Relasi sosial, berkurangnya kontak fisik secara langsung dengan
orang lain.
5. Akademis/pekerjaan, berkurangnya waktu untuk mengerjakan
sesuatu yang penting atau dengan kata lain berkurangnya
produktivitas sehingga mengganggu kecpatan akademis atau
pekerjaan.
6. Hukum, keinginan untuk menggunakan telepon genggam yang tidak
terkontrol menyebabkan menggunakan telepon genggam saat
mengemudi dan membahayakan bagi diri sendiri dan pengendara lain
atau juga komentar / posting yang melanggar hukum.
B. Smartphone 1. Pengertian
Smartphone merupakan suatu alat komunikasi atau telepon selular
(perkembangan dari telepon selular) yang dilengkapi dengan organizer
digital. Perangkat tersebut dapat juga berfungsi sebagai data organizer, email client, web browser, pemutar musik, pemutar film, kamera digital,
GPS, menyunting dokumen, dan fungsi lainnya.
Banyak yang menganggap bahwa smartphone sama dengan PDA,
namun sebenarnya keduanya memiliki perbedaan walaupun pada dasarnya
sama-sama dilengkapai dengan organizer digital. PDA phone yang
merupakan singkatan dari Personal Digital Assistant Phone merupakan
pengembangan dari PDA yang bisa juga digunakan sebagai telepon. PDA
organizer digital dan mudah dibawa kemana saja . Namun dalam
pengembangan selanjutnya, fungsi telepon ditambahkan dalam PDA
sehingga dikenal dengan nama PDA phone. Sebaliknya smartphone
merupakan pengembangan dari telepon selular yang kemudian
ditambahkan fitur dan fasilitas lainnya sehingga menjadi telepon yang
cerdas dan disebut smartphone. Jika dibandingkan, hampir tidak ada
perbedaan antara PDA phone dan smartphone.
2. Jenis-jenis Smartphone
Berbagai jenis smartphone yang sekitaran tahun 2010 mulai masuk
ke Indonesia, saat ini semakin banyak jenisnya bahkan penggunaanya
sudah bukan hal yang asing lagi. Smartphone merupakan perkembangan
jenis ponsel konvensional dengan kemampuan yang memudahkan
kegiatan mobile sehingga lebih fleksibel. Fungsi cerdas smartphone
hampir menyerupai perangkat komputer dengan aplikasi pengembangan
yang dikhususkan untuk perangkat mobile. Kecanggihan smartphone yang
sudah banyak di pakai saat ini terdapat pada sistem operasi yang tertanam
pada smartphone dan aplikasi-aplikasi di dalamnya.
Sistem operasi menjadi faktor terpenting dalam mengintergarasi
kinerja ponsel dengan hardware yang terpasang. Seperti halnya
pengecekan email bisa diakses dengan menggunakan smartphone tanpa
harus menggunakan laptop ataupun PC. Berbagai kemudahan seperti
itulah yang menjadikan smartphone semakin diminati oleh semua
a. Jenis Smartphone Symbian
Jenis smartphone yang dikeluarkan oleh brand terkemuka Nokia
ini merupakan awal mula munculnya smartphone. Banyaknya
handphone Nokia berbasis symbian ini membuat OS ini melekat pada
brand Nokia.
b. Jenis Smartphone Android
Jenis smartphone android adalah jenis smartphone yang
semakin digemari, karena perkembangan versi android yang
meningkatkan performa OS tersebut disetiap versinya. Terlebih lagi
android yang dipublikasikan oleh google, sudah memiliki source dunia
maya. Kebanyakan smartphone jenis android yang digemari adalah
keluaran Samsung.
c. Jenis Smartphone Windows Phone
Jenis smartphone Windows phone adalah brand dari vendor
terkemuka Microsoft. Perusahaan Microsoft ini mengeluarkan OS
untuk perangkat mobile pertama dengan platform windows mobile.
Microsoft merupakan brand besar yang merajai operating system untuk personal computer dan windows mobile ini merupakan perkembangannya. Nokia lumia menjadi pengusung windows mobile
pertama di Indonesia.
d. Jenis Smartphone iOS
Perangkat lunak buatan Apple ini dikenal dengan iPhone OS.
untuk sistem operasinya seperti iPhone, iPad, iPod touch dan Apple
TV.
e. Jenis Smartphone Blackberry
Jenis smartphone yang masih menjadi primadona di Indonesia
ini merupakan keluaran RIM dengan nama produk yang sama yaitu
blackberry. Ponsel keypad QWERTY merupakan ciri khas smartphone
ini.
3. Tujuan dan Fungsi Smartphone
Secara umum smartphone adalah pengembangan dari telepon
genggam yang hanya berfungsi sebagai alat bantu komunikasi yang
memudahkan manusia agar bisa berkomuikasi kapan saja dan dimana saja
tanpa adanya batasan waktu. Fungsi dasarnya adalah untuk menerima
telepon dan juga mengirim pesan singkat. Akan tetapi semakin pesatnya
perkembangan zaman yang menuntut manusia untuk berkembang,
membuat teknologi informasi dan komunikasi juga berkembang, sehingga
fungsi awal telepon genggam yang awalnya hanya sebagai alat bantu
komunikasi berkembang menjadi fungsi lainya yakni sebagai pengganti
komputer. Dikatakan sebagai pengganti komputer karena di dalamnya
terdapat fitur-fitur dan aplikasi komputer yang dapat di akses, salah
satunya adalah jaringan internet.
Adanya jaringan internet dan penambahan fitur-fitur lain seperti
email, sosial media, kamera dan sebagainya, memungkinkan manusia
dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan sangat mudah. Aktivitas
harus membuat janji temu dan bertatap muka secara langsung.
Kemudahan-kemudahan seperti ini lah yang membuat fungsi dan tujuan
smartphone yang dapat mengubah pola dan perilaku manusia.
Diberitakan oleh Techland (2012: 4-6), sebuah survei yang
dilakukan perusahaan komunikasi CloudTalk menunjukkan bahwa
menelepon adalah aktivitas nomor empat dari aktivitas lain yang biasa
dilakukan orang dengan menggunakan smartphone, sedangkan tiga
aktivitas yang lebih banyak digunakan adalah mengirim SMS, mengirim
email, dan chatting di situs jejaringan sosial. Survei warga Amerika
Serikat itu menunjukkan hanya 43% orang yang menggunakan
smartphone untuk menelepon. Sembilan dari 10 responden lebih memilih
mengirim SMS ketimbang telepon. Alasannya, menelepon dianggap
sebagai kegiatan yang boros waktu atau mengganggu, sedangkan survei
warga Indonesia menunjukkan hanya 50% orang yang menggunakan
smartphone untuk menelepon, selebihnya mereka menggunakan smartphone tersebut untuk mengirim sms atau email, membuka situs
jejaringan sosial, dan chatting di situs jejaringan sosial tersebut. Ada juga
orang yang menggunakan smartphone tersebut bukan cuma untuk
menelepon,mengirim sms atau email, dan membuka situs jejaringan sosial;
melainkan hanya untuk gengsi semata.
Perkembangan yang semakin canggih pada smartphone yang
diperkaya dengan fitur-fitur serta sistem operasi dari sosial media yang
selalu bisa di upgrade dan diunduh setiap waktu, membuat fungsi dasar
media saja dan menyampingkan fungsi dasar dari smartphone itu sendiri,
apalagi pada era sekarang harga smartphone yang sangat terjangkau
memungkinkan setiap orang memiliki smartphone, terutama remaja yang
menjadi fokus peneliti saat ini. Seperti hasil survei diatas, 50% orang
Indonesia menggunakan smartphone itu sendiri hanya untuk gengsi saja
dan jelas hal ini sudah menggeser fungsi dasar smartphone itu sendiri.
Kemudahan untuk memiliki, mengakses dan menggunkan serta
perilaku konsumtif pada manusia membuat manusia sekarang seolah tidak
bisa terlepas dari smartphone. Smartphone bisa dibilang sudah menjadi
sahabat manusia karena hampir setiap aktivitas manusia selalu
menggunakan dan ditemani smartphone.
C. Remaja
1. Pengertian
Kata remaja berasal dari bahasa Inggris “teenager” yakni manusia usia 13-19 tahun. Remaja dalam bahasa Latin disebut adolescence yang
artinya tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan (Ali Rahman
Hakim, 2009: 22). Sementara itu remaja juga dikatakan suatu masa ketika
individu yang berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan
tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual
(Sarwono, 2006).
Masa remaja juga merupakan salah satu fase dalam rentang
perkembangan manusia yang terentang sejak anak masih dalam kandungan
sampai meninggal dunia. Masa remaja mempunyai ciri yang berbeda
mempengaruhinya sehingga selalu menarik untuk di bicarakan (Rita Eka
Izzaty, dkk 2008: 123).
Kata remaja diterjemahkan dari kata bahasa Inggris adolescene atau
adolecene (bahasa latin) yang berarti tumbuh atau tumbuh untuk masak,
menjadi dewasa. Dalam pemakaiannya istilah remaja dengan adolecen
disamakan. Adolescene ataupun remaja menggambarkan seluruh
perkembangan remaja baik perkembangan fisik, intelektual, emosi dan
sosial (Rita Eka Izzaty, dkk 2008: 123).
Menurut Sri Rumini dan Siti Sundari (2004: 53) masa remaja
adalah peralihan dari masa anak ke masa dewasa yang mengalami
perkembangan semua aspek/ fungsi untuk memasuki masa dewasa.
Hal senada diungkapkan oleh Santrock (2003: 26) bahwa
adolescene diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa
anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan
sosial-emosional. Berk (2013: 497) juga menyatakan bahwa awal masa
remaja ditandai dengan pubertas (puberty), sebuah kumpulan peristiwa
biologis yang mengarah pada badan ukuran dewasa dan kematangan
seksual.
Para peneliti umumnya membagi masa remaja menjadi tiga tahap,
yaitu :
a. Masa remaja awal (11-12 hingga 14 tahun) : ini merupakan periode
perubahan pubertas yang cepat.
c. Masa remaja akhir (16 hingga 18 tahun) : sosok anak muda mencapai
penampilan dewasa sepenuhnya dan mengantisipasi asumsi tentang
peran orang dewasa.
2. Karakteristik Remaja
Saat memasuki masa perkembangan dalam hidupnya terdapat
beberapa tahap dalam masa remaja, salah satunya yaitu tahap operasional.
Pada tahap operasional, formal remaja akan memperlihatkan kualitas
pemikiran abstraknya yang di tandai dengan adanya tendensi untuk
berpikir mengenai pikiran itu sendiri. Pemikiran yang menyertai sifat dasar
abstrak dari pemikiran formal operasional adalah pemikiran yang banyak
mengandung idealisme dan kemungkinan, khususnya di awal tahap
operasional formal yaitu ketika asimilasi mendominasi. Remaja akan
terlibat dalam spekulasi mengenai karakteristik-karakteristik ideal–kualitas
yang mereka inginkan terdapat pada dirinya maupun orang lain. Cara
berpikir remaja seperti ini sering membuat remaja membandingkan dirinya
dengan orang lain menurut standar ideal tersebut. Di masa ini juga remaja
mulai berpikir logis dimana remaja cenderung memcahkan masalah
melalui trial dan error (Santrock, 2012: 424)
Pada masa remaja juga terdapat kesadaran diri yang akan muncul
atau dikatakan sebagai egosentrisme remaja. David Elkind dalam Santrock
(2012: 424) berpendapat bahwa egosentrisme remaja mengandung dua
komponen utama yaitu imaginary audience dan personal fable. Audiens
imajiner (imaginary audience) adalah keyakinan remaja bahwa orang lain
termasuk juga tingkah laku menarik perhatian – berusaha untuk
diperhatikan, terlihat, berada seperti “di panggung”. Maksudnya adalah ketika seorang pelajar kelas delapan berjalan kedalam kelas sambil berfikir
semua mata tertuju pada wajahnya yang penuh bercak. Penghayatan
seperti ini yang dikatakan bahwa remaja “berada di panggung” di awal
remaja, dengan meyakini bahwa mereka adalah aktor utama sedangkan
orang lain adalah penontonnya.
Menurut Elkind dalam Santrock (2012: 424) fabel pribadi (personal
fable) yang merupakan bagian dari egosentrisme remaja mengandung
pernyataan bahwa dirinya unik dan tidak terkalahkan. Penghayatan remaja
yang menyatakan bahwa diri mereka adalah pribadi yang unik membuat
mereka merasa bahwa tidak seorangpun yang dapat memahami perasaan
mereka sebenarnya. Dalam usaha mereka menghayati perasaan mereka
tentang pribadi dirinya yang unik, seorang remaja bisa menjadi ahli kisah
mengenai dirinya yang dipenuhi dengan fantasi sambil menenggelamkan
dirinya kedalam sebuah dunia yang jauh dari kenyataannya. Fabel pribadi
sering kali muncul ke dalam buku harian remaja.
Pada masa remaja juga terdapat perubahan dalam pemrosesan
informasi yang mencerminkan meningkatnya fungsi eksekutif pada
cakupan perkembangan kemampuan remaja dalam mengambil keputusan
dan berfikir kritis. Remaja yang lebih tua mampu mengambil keputusan
yang lebih baik daripada remaja yang lebih muda, yang lebih baik
mampu berbuat demikian dalam kehidupan sehari-hari, dimana
pengalaman yang luas turut berperan. Meningkatnya kecepatan dalam
memproses, otomatisasi, dan kapasitas, maupun bertambahnya isi dan
jangkauan pengetahuan serta spontanitas dalam penggunaan strategi,
memungkinkan kemampuan berpikir kritis pada remaja akan meningkat.
Selain itu perkembangan pada masa remaja juga di pengaruhi dari