BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Kecelakaan Kerja
2.4.4 Kecelakaan yang Terjadi pada Pekerjaan Konstruksi
Menurut Williams (2006), jenis kecelakaan yang sering terjadi pada pekerjaan konstruksi adalah meliputi :
1. Terjatuh
Pekerja jatuh karena akses ke dan dari tempat kerja tidak memadai, atau tempat kerja itu sendiri tidak aman. Pentingnya menyediakan akses yang baik ke posisi kerja yang aman (misalnya platform dengan papan kaki dan rel penjaga).
2. Terkena Alat Berat
Alat berat konstruksi sangat berat. Alat berat tersebut sering beroperasi di atas tanah yang becek dan tidak rata, dan di mana jarak penglihatan pengemudi
rendah. Orang yang berjalan di area proyel terluka atau meninggal dikarenakan alat berat yang bergerak, terutama saat alat berat berbalik arah.
3. Kejatuhan Bahan dan Bangunan Ambruk
Orang-orang terjebak oleh materi yang jatuh dari beban yang diangkat atau material yang terjatuh dari atas, pekerja lainnya terjebak atau terkubur material yang jatuh saat penggalian, bangunan atau dikarenakan bangunan runtuh.
Keruntuhan bangunan dapat dikarenakan pondasi bangunan rusak oleh penggalian di dekatnya, atau karena strukturnya melemah dan / atau kelebihan beban.
Struktur bangunan juga bisa runtuh secara tak terduga selama pembongkaran jika tindakan pengendalian tidak dilakukan segera untuk mencegah ketidakstabilan bangunan.
4. Tersengat listrik
Pekerja terkena sengatan listrik dan bahkan mengalami luka bakar saat menggunakan peralatan yang tidak aman dan kondisi lingkungan yang berbahaya.
5. Tersandung
Tersandung adalah penyebab paling umum dari kecelakaan yang dilaporkan di bidang konstruksi, dengan lebih dari 1000 cedera mayor setiap tahunnya.
2.5 Manajemen Risiko
Tujuan upaya K3 adalah untuk mencegah kecelakaan yang ditimbulkan karena adanya suatu bahaya di lingkungan kerja. Karena itu pengembangan system manajemen K3 harus berbasis pengendalian resiko sesuai dengan sifat dan kondisi bahaya yang ada. Bahkan secara ekstrem dapat dikatakan bahwa K3 tidak diperlukan jika tidak ada sumber bahaya yang harus dikelola (Ramli, 2010).
Keberadaan bahaya dapat mengakibatkan terjadinya kecelakaan atau insiden yang membawa dampak terhadap manusia, peralatan, material dan lingkungan. Risiko menggambarkan besarnya potensi bahaya tersebut untuk dapat menimbulkan insiden atau cedera pada manusia yang ditentukan oleh kemungkinan dan keparahan yang diakibatkannya.
Adanya bahaya dan risiko tersebut harus dikelola dan dihindarkan melalui manajemen K3 yang baik. Karean itu, manajemen K3 memiliki kaitan yang sangan erat dengan manajemen risiko.
Manajemen risiko menurut AS/NZS 4360:2004 merupakan aplikasi sistematik kebijakan manajemen, prosedur dan praktik terhadap komunikasi tugas, penetapan konteks, identifikasi, analisis, evaluasi, pengendalian, monitoring dan peninjauan ulang risiko.
Menurut Ramli (2010), adapun manfaat pelaksanaan manajemen risiko adalah sebagai berikut:
1. Menjamin kelangsungan usaha dengan mengurangi risiko dari setiap kegiatan yang mengandung bahaya.
2. Menekan biaya untuk penanggulangan kejadian yang tidak diinginkan.
3. Menimbulkan rasa aman dikalangan pemegang saham mengenai kelangsungan dan keamanan investasinya.
4. Meningkatkan pemahaman dan kesadaran mengenai risiko operasi bagi setiap unsur dalam organisasi/perusahaan.
5. Memenuhi persyaratan perundangan yang berlaku.
2.5.1 Proses Manajemen Risiko
Mengelola risiko harus dilaksanakan secara komprehensif melalui pendekatan manajemen risiko sebagaimana terlihat dalam Risk Management Standard AS/NZS 4360, yang meliputi:
1. Penentuan konteks 2. Identifikasi risiko 3. Analisa risiko 4. Pengendalian risiko 5. Komunikasi
6. Pemantauan dan tinjau ulang
Ramli (2010), menyebutkan bahwa langkah awal mengembangkan manajemen risiko adalah menentukan konteks yang diperlukan karena manajemen risiko sangat luas dan bermacam aplikasinya salah satu diantaranya adalah manajemen risiko K3. Penentuan konteks diselaraskan dengan visi dan misi organisasi serta sasaran yang ingin dicapai. Lebih lanjut ditetapkan pula kriteria risiko yang sesuai bagi organisasi. Setelah menetapkan konteks manajemen risiko, langkah berikutnya adalah melakukan identifikasi bahaya, analisa risiko dan evaluasi risiko serta menentukan strategi pengendaliannya. Proses manajemen risiko dapat dilihat dari gambar 2.2.
Gambar 2. 2 Proses Manajemen Risiko (AS/NZS 4360) 1. Identifikasi Bahaya dan Risiko
Identifikasi bahaya adalah upaya sistematis untuk mengetahui potensi bahaya yang ada di lingkungan kerja sehingga dapat mengurangi peluang terjadinya kecelakaan karena identifikasi bahaya berkaitan dengan faktor penyebab kecelakaan. Dengan melakukan identifikasi bahaya maka sumber-sumber bahaya dapat diketahui sehingga kemungkinan kecelakaan dapat ditekan. (Ramli, 2010).
Teknik identifikasi bahaya ada berbagai macam yang dapat diklasifikasikan atas :
a. Teknik/metode pasif
Bahaya dapat dikenal dengan mudah jika mengalaminya secara langsung.
Cara ini bersifat primitif dan terlambat karena kecelakaan telah terjadi, kemudian mengenal dan mengambil langkah pencegahan. Metode ini sangat rawan, karena tidak semua bahaya dapat menunjukkan eksistensinya sehingga dapat terlihat dengan mudah.
b. Teknik/metode semiproaktif
Teknik ini disebut juga belajar dari pengalaman orang lain karena kita tidak perlu mengalaminya sendiri. Teknik ini lebih baik karena tidak perlu mengalami sendiri setelah itu kemudian diketahui adanya bahaya.Kekurangan dari teknik ini adalah sebagai berikut :
1. Tidak semua bahaya telah diketahui atau pernah menimbulkan dampak kejadian kecelakaan.
2. Tidak semua kejadian dilaporkan atau di informasikan kepada pihak lain untuk diambil sebagai pelajaran.
3. Kecelakaan telah terjadu yang berarti tetap menimbulkan kerugian.
c. Teknik/metode proaktif
Merupakan teknik terbaik untuk mengidentifikasi bahaya, teknik ini mencari bahaya sebelum bahaya tersebut menimbulkan akibat atau dampak yang merugikan.
Tindakan proaktif memiliki kelebihan :
a. Bersifat preventif karena bahaya dikendalikan sebelum menimbulkan kecelakaan atau cedera.
b. Bersifat peningkatan berkelanjutan (continual improvement) karena dengan mengenal bahaya dapat dilakukan upaya perbaikan.
c. Meningkatkan “awareness” semua pekerja setelah mengetahui dan mengenal adanya bahaya di sekitar tempat kerjanya.
d. Mencegah pemborosan yang tidak diinginkan, karena adanya bahaya dapat menimbulkan kerugian.
Adapun teknik identifikasi bahaya yang bersifat proaktif menurut Ramli (2010) antara lain :
1) Data kejadian
Teknik ini bersifat semiproaktif karena berdasarkan sesuatu yang telah terjadi. Dari suatu kecelakaan atau kejadian akan diperoleh informasi penting mengenai adanya suatu bahaya. Dari kejadian tersebut dapat digali informasi yang lebih mendalam apa saja bahaya yang terdapat di lingkungan kerja.
2) Data periksa
Identifikasi bahaya dapat dilakukan dengan membuat suatu daftar periksa tempat kerja (check list). Melalui daftar periksa dilakukan pemeriksaan terhadap seluruh kondisi di lingkungan kerja seperti mesin, penerangan, kebersihan dll.
Data periksa dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, kondisi, sifat kegiatan dan jenis bahaya yang dominan.
3) Brainstorming
Identifikasi bahaya dapat dilakukan dengan teknik brainstorming dalam suatu kelompok atau tim di tempat kerja. Tim ini dapat berasal dari suatu bidang atau departemen tetapi dapat juga bersifat lintas fungsi.
4) What If
Teknik what if merupakan teknik identifikasi yang bersifat proaktif dengan menggunakan kata bantu “ what if “ .
5) Hazops (Hazard and Operability Study)
Merupakan teknik identifikasi bahaya yang sangat komprehensif dan terstruktur. Digunakan untuk mengidentifikasi suatu proses atau unit operasi baik pada tahap rancang bangun, konstruksi, operasi maupun modifikasi. Hazops dilakukan dalam bentuk tim dengan menggunakan kata bantu (guide word) yang dikombinasikan dengan parameter yang ada dalam proses seperti, level, suhu, tekanan, aliran dan lainnya.
6) Failure Mode and Effect Analysis (FMEA)
Merupakan suatu teknik identifikasi bahaya yang digunakan pada peralatan atau sistem. Teknik ini mengidentifikasi kemungkinan kegagalan yang dapat terjadi serta dampak yang mungkin timbulkannya. Dengan demikian, dapat dilakukan upaya pengendalian dan pengamanan yang tepat.
7) Analisa Pekerjaan (Task Analysis)
Analisa pekerjaan digunakan untuk mengidentifikasi bahaya yang berkaitan dengan pekerjaan atau suatu tugas. Pada dasarnya berbagai teknik atau metoda identifikasi bahaya tersebut ditujukan untuk aspek manusia, proses, peralatan dan prosedur. Untuk mengidentifikasi dan menilai risiko yang berkaitan dengan keempat aspek tersebut dapat dilakukan dengan teknik tertentu antara lain:
a. Aspek manusia
Identifikasi bahaya yang berkaitan dengan manusia dapat dilakukan dengan teknik Job Safety Analysis (JSA) atau Task Risk Analysis.
b. Aspek proses
Untuk mengidentifikasi bahaya berkaitan dengan proses seperti pada industry kimia atau perminyakan dapat dilakukan dengan berbagai pilihan metoda seperti Hazops, What if atau FTA.
c. Aspek peralatan
Potensi bahaya pada peralatan dapat dilakukan dengan teknik FMEA (Failure Mode and Effect Analysis) atau FEMA (Failure Event and Effect Analysis).
d. Aspek prosedur dan kesisteman
Untuk menganalisa prosedur atau system manajemen dapat dilakukan dengan teknik What if atau Preliminary Hazards Analysis (PHA).
2. Analisis risiko
Analisis risiko adalah proses penentuan potensi tingkat keparahan kerugian yang terkait dengan risiko yang teridentifikasi dan kemungkinan kerugian tersebut akan terjadi (Carroll, 2009).
Kolluru (1996) menyebutkan analisis risiko merupakan sebuah proses untuk memerkirakan kemungkinan terjadinya suatu kejadian dan seberapa besar kejadian tersebut menimbulkan efek keselamatan, kesehatan, lingkungan atau finansial– yang merugikan dalam suatu jangka waktu tertentu.
Untuk melakukan penilaian risiko dapat digunakan analisis secara kualitatif, semi kuantitatif dan kuantitatif sebagai berikut:
1. Analisis kualitatif
Menurut AS/NZS 4360:2004, analisis kualitatif digunakan untuk melihat besarnya potensi konsekuensi yang dapat timbul dan peluang konsekuensi tersebut dapat terjadi. Analisis kualitatif dapat digunakan untuk hal-hal sebagai berikut:
a. Skrining awal untuk mengidentifikasi risiko.
b. Analisis untuk menentukan keputusan yang tepat.
c. Data numerik atau sumber informasi tidak mencukupi untuk dilaksanakannya analisis kuantitatif.
Menurut Kolluru (1996) analisis kualitatif mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a) Inventasisasi material-material berbahaya (maximum quantity).
b) Sifat materi-materi berbahaya seperti: mudah menguap, beracun, mudah terbakar dan sebagainya.
c) Kondisi penyimpanan termasuk temperature dan tekanan.
d) Distribusi populasi (jarak).
Metode kualitatif bersifat kasar. Belum jelas perbedaan antara tingkat risiko rendah, medium atau tinggi.
2. Analisis Semi-kuantitatif
Pada analisis semi-kuantitatif, skala kualitatif telah digambarkan dengan angka numerik. Tujuannya adalah untuk memberikan skala tetapi tidak seperti analisis kuantitatif (AS/NZS 4360:2004).
Salah satu metode analisis semi-kuantitatif yang sering digunakan adalah kalkulasi risiko dengan formula matematika W. T. Fine (1971). Metode ini memperhitungkan tiga faktor penentu yaitu consequence, exposure, dan probability. Metode ini sedikit berbeda dengan metode lainnya yang hanya mempertimbangkan dua faktor, yakni consequence dan probablility, karena menurut Fine, probabilitas terdiri dari dua komponen yaitu probability dan exposure, sehingga untuk medapatkan nilai risiko diperlukan perkalian pada ketiga faktor tersebut.
a. Dampak (consequences)
Merupakan dampak yang paling mingkin untuk terjadi dari suatu potensi kecelakaan, termasuk cedera dan kerusakan property.
Consequency mengacu pada hasil kecelakaan potensial, termasuk cedera dan kerusakan properti. Rating yang dipilih tergantung pada penilaian keseluruhan situasi seputar pengalaman bahaya dan kecelakaan. Tabel 2.4 memberikan tingkat konsekuensi mulai dari kecil hingga bencana. Nilai numerik yang terkait dengan setiap tingkat muncul di kolom di sebelah kanan. Jika bahaya yang teridentifikasi berpotensi menimbulkan malapetaka yang melibatkan banyak korban jiwa atau kerusakan lebih dari $1.000.000, nilai numeriknya dalam formula adalah 100.
Jika, seperti yang lebih umum, bahaya yang teridentifikasi dapat menyebabkan cedera atau kerusakan parah. sampai $5.000, akan memiliki nilai 5.
b. Pajanan (exposure)
Merupakan frekuensi pajanan terhadap bahaya. Exposure mengacu pada frekuensi terjadinya bahaya dengan seseorang atau aktivitas yang dapat memulai urutan kecelakaan. Tabel 2.5 memberikan berbagai tingkat kepaparan dan peringkat numerik yang terkait dengan setiap tingkat. Pemilihan tingkat ekspektasi yang tepat didasarkan pada pengamatan, pengalaman masa lalu, dan pengetahuan tentang aktivitas yang bersangkutan. Peristiwa yang terjadi terus menerus atau berkali-kali setiap hari mendapat peringkat 10 sedangkan kejadian yang hanya mungkin dari jarak jauh mendapatkan peringkat 0,5.
c. Kemungkinan (probability)
Merupakan peluang terjadinya suatu kecelakaan mulai dari pajanan terhadap bahaya hingga menimbulkan suatu kecelakaan dan dampaknya.
Probability mengacu pada kemungkinan bahwa begitu kejadian bahaya terjadi, urutan kecelakaan yang lengkap akan mengikuti dengan waktu dan kebetulan yang diperlukan. untuk menghasilkan kecelakaan dan konsekuensi. Hal ini ditentukan dengan pertimbangan cermat setiap langkah dalam urutan kecelakaan sampai ke konsekuensinya. Tabel 2.6 memberikan berbagai tingkat probabilitas dan yang terkait.
Nilai risiko diatas dapat dihitung dengan rumusan sebagai berikut:
Risk Score = Consequence x Exposure x Probability
Tabel 2. 2 Analisis Risiko Semi-Kuantitatif Faktor Consequency
Category Deskripsi Rating
Catastrophe
Kerusakan fatal/parah beragam fasilitas lebih dari
$ 1.000.000, aktivitas dihentikan, terjadi kerusakan lingkungan yang sangat luas.
100 Disaster Kematian, kerusakan permanen yang bersifat lokal
terhadap lingkungan, kerugian $500.000 - $2.000.000. 50 Very
Serious
Terjadi cacat permanen/penyakit parah, kerusakan lingkungan yang tidak permanen, dengan kerugian
$50.000 - $500.000.
25
Serious
Serius: Terjadi dampak yang serius tetapi bukan cedera dan penyakit parah yang permanen, sedikit berakibat buruk pada lingkungan, dengan kerugian $5.000 -
$50.000.
15
Important
Penting: Membutuhkan penanganan medis, terjadi emisi buangan di luar lokasi, tetapi tidak mengakibatkan kerusakan, dengan kerugian $500 - $5.000.
5
Noticeable
Tampak: Terjadi cedera atau penyakit ringan, memar di bagian tubuh, kerusakan kecil < $500, kerusakan ringan atau terhentinya proses kerja sementara waktu, tetapi tidak mengakibatkan pencemaran di luar lokasi.
1
Sumber: Jean Cross, 2004
Tabel 2. 3 Analisis Risiko Semi-Kuantitatif Faktor Exposure
Pemaparan Deskripsi Rating
Continuously Terus menerus: terjadi >1 kali sehari. 10 Frequently Sering: terjadi kira-kira 1 kali sehari. 6 Occasionally Kadang-kadang: terjadi 1 kali seminggu sampai
1 kali sebulan.
3 Infrequent Tidak sering: Sekali dalam sebulan sampai
sekali dalam setahun.
2
Rare Tidak diketahui kapan terjadinya. 1
Very Rare Sangat tidak diketahui kapan terjadinya. 0,5
Sumber: Jean Cross, 2004
Tabel 2. 4 Analisis Risiko Semi-Kuantitatif Faktor Probability
Probabilitas Deskripsi Rating
Almost certain Sering terjadi: kemungkinan paling sering terjadi. 10 Likely Cenderung terjadi: kemungkinan terjadinya
kecelakaan 50%:50%. 6
Unusual but
Possible Tidak biasa terjadi namun mungkin terjadi. 3 Remotely
Possible
Kemungkinan kecil: kejadian yang kemungkinan
terjadinya sangat kecil. 1
Conceivable Jarang terjadi: tidak pernah terjadi kecelakaan
selama bertahun-tahun, namun mungkin terjadi. 0,5 Practically
Impossible Sangat tidak mungkin terjadi. 0,1
Sumber : Jean Cross, 2004
Tabel 2. 5 Level Risiko
Risk Level Degree Action Hierarchi of
Control
>350 Very High
Penghentian aktivitas hingga risiko dikurangi mencapai batas yang dapat diterima.
Engineering
180-350 Priority Perlu dilakukan penanganan
secepatnya. Administratif
70-180 Substantial Mengharuskan ada perbaikan
secara teknis. Pelatihan
20-70 Priority 3
Sumber: Jean Cross, 2004
3. Analisis Kuantitatif
Analisis kuantitatif menggunakan nilai numerik baik untuk konsekuensi maupun keseringan dengan menggunakan data dari berbagai sumber. Kualitas analisis tergantung pada keakuratan dan kelengkapan serta validitas data. Contoh teknik kuantitatif antara lain Fault Tree Analysis (FTA) dan Quantitative Risk Analysis (QRA) (AS/NZS 4360:2004).
3. Evaluasi risiko
Hasil analisis risiko digunakan untuk melakukan evaluasi lebih lanjut untuk menentukan apakah risiko dapat diterima atau tidak. Jika dapat diterima tentunya aktivitas dapat diteruskan. Jika risiko tidak dapat diterima, perlu dilakukan langkah pengendalian untuk menekan tingkat risiko (Ramli, 2010).
4. Pengendalian risiko
Menurut Ramli (2010) pengendalian risiko dilakukan terhadap seluruh bahaya yang ditemukan dalam proses identifikasi bahaya dan mempertimbangkan peringkat risiko untuk menemukan prioritas dan cara pengendaliannya.
Selanjutnya, dalam menentukan pengendalian harus mempertimbangkan hirarki pengendalian mulai dari eliminasi, substitusi, pengendalian teknis, administratif dan penyediaan alat keselamatan yang disesuaikan dengan kondisi organisasi, ketersedian biaya, biaya operasional, faktor manusia dan lingkungan.
Berkaitan dengan risiko K3, pengendalian risiko dilakukan dengan mengurangi kemungkinan atau keparahan dengan mengikuti hirarki pengendalian risiko pada gambar 2.3.
Gambar 2. 3 Hirarki Pengendalian Risiko (Ramli, 2010)
Menurut Ramli (2010) adapun elemen-elemen hirarki pengendalian bahaya adalah sebagai berikut :
1. Eliminasi
Eliminasi adalah teknik pengendalian dengan menghilangkan sumber bahaya, misalnya lobang di jalan ditutup, ceceran minyak lantai dibersihkan, mesin yang bising dimatikan. Cara ini sangat efektif karena sumber bahaya dieliminasi sehingga potensi risiko dapat dihilangkan. Karena itu, teknik ini menjadi pilihan utama dalam hirarki pengendalian risiko.
2. Substitusi
Substitusi adalah teknik pengendalian bahaya dengan mengganti alat, bahan, system atau prosedur yang berbahaya dengan yang lebih aman atau lebih rendah bahayanya.
3. Pengendalian teknis (Enjinering)
Sumber bahaya biasanya berasal dari peralatan atau sarana teknis yang ada di lingkungan kerja. Karena itu, pengendalian bahaya dapat dilakukan melalui
perbaikan pada desain, penambahan peralatan dan pemasangan peralatan pengaman.
4. Pengendalian administratif
Pengendalian bahaya juga dapat dilakukan secara adminstratif misalnya dengan mengatur jadwal kerja, istirahat, cara kerja, prosedur kerja yang lebih aman, rotasi kerja atau pemeriksaan kesehatan.
5. Penggunaan alat pelindung diri (APD)
Pilihan terakhir untuk mengendalikan bahaya adalah dengan menggunakan alat pelindung diri misalnya pelindung kepala, sarung tangan, pelindung pernafasan (respirator atau masker), pelindung jatuh dan pelindung kaki. Dalam konsep K3, penggunaan APD merupakan pilihan terakhir atau last resort dalam pencegahan kecelakaan. Hal ini dikarenakan alat pelindung diri bukan untuk mencegah kecelakaan namun hanya sekedar mengurangi efek atau keparahan kecelakaan.
2.6 Job Safety Analysis
Rijanto (2011) menyebutkan Analisis Keselamatan Kerja (JSA) adalah suatu prosedur yang digunakan untuk meninjau metoda atau cara kerja dan bahaya yang tidak terlindungi seperti yang mungkin :
1) Telah diabaikan pada peletakan pabrik atau bangunan dan pada rancangan mesin-mesin, peralatan, peralatan ringan, tempat kerja dan proses.
2) Telah dikembangkan setelah produksi dimulai.
3) Akibat dari perubahan pada prosedur kerja atau pekerjanya.
Job Safety Analysis (JSA) sangat diperlukan dalam setiap pekerjaan.
Kriteria pekerjan yang memerlukan kajian Job Safety Analysis (JSA) menurut Ramli (2010) adalah sebegai berikut :
1. Pekerjaan yang sering mengalami kecelakaan atau memiliki angka kecelakaan yang tinggi.
2. Pekerjaan berisiko tinggi dan dapat berakibat fatal misalnya membersihkan kaca dengan gondola.
3. Pekerjaan yang jarang dilakukan sehingga belum diketahui secara persis bahaya yang ada.
4. Pekerjaan yang rumit atau komplek dimana sedikit kelalaian dapat berakibat kecelakaan atau cidera.
Manfaat dari adanya JSA (Rijanto, 2011) antara lain adalah :
1. Memberikan pelatihan tentang prosedur yang aman dan tepat guna.
2. Membuat pekerja terikat dengan keselamatan.
3. Menginstruksikan pekerja baru pada pekerjaan.
4. Mempersiapkan untuk pengamatan keselamatan yang terencana.
5. Memberikan instruksi pra kerja pada pekerjaan-pekerjaan yang tidak biasa.
6. Meninjau prosedur kerja setelah terjadinya kecelakaan.
7. Mempelajari perkejaan untuk pengembangan yang mungkin dilakukan pada metoda kerja.
Berdasarkan Occupational Health and Safety (2013), langkah dasar dalam melakukan Job Safety Analysis (JSA) adalah sebagai berikut :
1. Memilih pekerjaan (Job selection)
Pekerjaan dengan sejarah kecelakaan yang buruk mempunyai prioritas dan harus dianalisa terlebih dulu. Dalam memilih pekerjaan yang akan dianalisa ada faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam menetapkan prioritas untuk analisis pekerjaan di lapangan, hal penting yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :
a. Frekuensi kecelakaan dan tingkat keparahan pekerjaan dimana kecelakaan sering terjadi atau kejadiannya jarang terjadi namun dapat menimbulkan insiden cedera yang parah.
b. Pekerjaan yang kondisi kerjanya yang berbahaya, besarnya potensi untuk terjadi cedera yang parah atau penyakit akibat pemaparan terhadap zat berbahaya.
c. Pekerjaan yang baru ditetapkan, karena kurangnya pengalaman dalam pekerjaan ini, bahaya mungkin belum teridentifikasi dan belum dapat diantisipasi.
d. Pekerjaan yang dimodifikasi, potensi bahaya yang baru dapat terjadi dikaitkan dengan perubahan prosedur kerja.
e. Pekerjaan yang jarang dilakukan mungkin berisiko lebih besar saat melakukan pekerjaan non-rutin.
2. Menguraikan pekerjaan (Job breakdown)
Pekerjaan yang akan dianalisis harus diuraikan berdasarkan tahapantahapan pekerjaannya. Tahapan setiap pekerjaan harus dijelaskan secara
jelas dari tahap awal sampai akhir. Hindari keselahan-kesalahan yang sering terjadi seperti :
a. Terlalu rinci dalam menentukan langkah pekerjaan, sehingga dapat menimbulkan langkah yang tidak penting.
b. Terlalu umum dalam menguraikan langkah pekerjaan, sehingga langkah-langkah dasar tindak dapat dibedakan.
3. Mengidentifikasi bahaya (Hazard Identification)
Proses identifikasi bahaya merupakan bagian yang sangat penting dalam keberhasilan suatu analisa keselamatan kerja. Dalam upaya identifikasi semua potensi bahaya harus dicermati dan dianalisa dengan baik agar semua potensi dapat ditanggulangi. Ada beberapa pertanyaan yang dapat menggambarkan indentifikasi bahaya diantaranya :
a. Apakah bagian tubuh berpotensi terjebak di dalam atau di antara benda-benda?
b. Apakah alat, mesin atau peralatan menghasilkan bahaya?
c. Bisakah pekerja melakukan kontak dengan benda yang bergerak?
d. Apakah pekerja berpotensi tergelincir, tersandung atau terjatuh?
e. Apakah pekerja terkena panas atau dingin yang ekstrem?
f. Apakah kebisingan dan getaran yang berlebihan menjadi masalah?
g. Apakah ada masalah pencahayaan?
h. Apakah cuaca mempengaruhi keamanan pekerjaan?
i. Apakah kemungkinan ada radiasi yang berbahaya?
j. Dan sebagainya.
4. Pengendalian bahaya (Hazard control)
Pada tahap terakhir dari analisa kecelakaan kerja adalah melakukan pengendalian bahaya dengan menemukan solusi alternatif yang dapat mengembangkan suatu prosedur keselamatan dalam bekerja sehingga pekerjaan dapat dikerjakan secara aman, efektif dan efisien.
Dalam mengendalikan bahaya, intervensi yang paling efektif yang dapat kita lakukan adalah dengan menerapkan hirarki kontrol. Tahapan hirarki kontrol yang dimaksud adalah sebagai berikut :
1. Primary control
Mencakup pengendalian pertama dengan fokus intervensi pada alat dan mesin dengan upaya rekayasa.
2. Secondary control
Mencakup pengendalian administrasi dengan cara membatasi paparan terhadap risiko tertentu.
3. Tertiari control
Pengendalian yang dilakukan dengan mengajarkan praktek kerja yang benar atau melakukan prosedur kerja yang baik dalam suatu pekerjaan tertentu dengan sistematis.
4. APD
Pengendalian yang menjadi pilihan terakhir dalam upaya penanggulangan yang ditujukan kepada pekerja dengan memberikan alat pelindung diri terhadap potensi bahaya tertentu.
2.7 Kerangka Konsep
Gambar 2. 4 Kerangka Konsep
3 BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif observasional.
Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan hasil identifikasi bahaya dan analisis risiko. Setiap tahapan pekerjaan bangunan atas diidentifikasi bahayanya menggunakan teknik Job Safety Analysis (JSA) karena teknik ini berkaitan dengan pekerja dan pekerjaanya. Setelah bahaya diidentifikasi selanjutnya risiko (unsafe action dan unsafe condition) dianalisis menggunakan teknik semi-kuantitatif W.T.
Fine dengan menghitung hasil kalkulasi dari nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan dari setiap bahaya untuk menentukan level risiko. teknik ini dipilih karena dapat menggambarkan tingkat risiko lebih konkrit dibanding teknik
Fine dengan menghitung hasil kalkulasi dari nilai konsekuensi, paparan dan kemungkinan dari setiap bahaya untuk menentukan level risiko. teknik ini dipilih karena dapat menggambarkan tingkat risiko lebih konkrit dibanding teknik