KETELADANAN SAHABAT USMAN BIN AFFAN DAN ALI BIN ABI THALIB
2. Kecerdasan sahabat Ali bin Abi Thalib r.a.
Beliau adalah salah satu –selain Abu Bakar,Umar,dan Usman- diantara 10 sahabat yang dijamin masuk surga sebagaimana
sabada rasulullah SAW. lulusan terbaik dari madrasah Nubuwwah, yang dididik semenjak kecil oleh Rasulullah SAW. Diantara keistimewaan belaiu adalah Allah menganugerahkan kecerdasan di atas rata-rata,sampai-sampai
rasulullah bersabda “aku adalah kotanya ilmu,sedangkam Ali adalah pintunya”.
Di antara kisahnya adalah perselisihan beberapa sahabat tentang ilmu berhitung.
Dua orang sehabat melakukan perjalanan bersama. Disuatu tempat, mereka berhenti untuk makan siang. Sambil duduk, mulailah
masing-masing membuka bekalnya. Orang yang pertama
membawa tiga potong roti, sedang orang yang kedua membawa lima potong roti.Ketika keduanya telah siap untuk makan, tiba-tiba datang seorang musafir yang baru datang ini pun duduk bersama mereka.
“Mari, silakan, kita sedang bersiap-siap untuk makan siang,”kata salah seorang dari dua orang tadi.“Aduh…saya tidak membawa bekal,” jawab musafir itu.
Maka mulailah mereka bertiga menyantap roti bersama-sama. Selesai makan, musafir tadi meletakkan uang delapan dirham di hadapan dua orang tersebut seraya berkata: “Biarkan uang ini sebagai pengganti roti yang aku makan tadi.” Belum lagi mendapat jawaban dari pemilik roti itu, si musafir telah minta diri untuk
melanjutkan perjalanannya lebih dahulu.
Sepeninggal si musafir, dua orang sahabat itu pun mulai akan membagi uang yang diberikan. “Baiklah, uang ini kita bagi saja,”
kata si empunya lima roti. “Aku setuju,”jawab sahabatnya. “Karena aku membawa lima roti, maka aku mendapat lima dirham, sedang bagianmu adalah tiga dirham. “Ah, mana bisa begitu. Karena dia tidak meninggalkan pesan apa-apa, maka kita bagi sama, masing- masing empat dirham.” “Itu tidak adil. Aku membawa roti lebih banyak, maka aku mendapat bagian lebih banyak” .
Alhasil, kedua orang itu saling berbantah. Mereka tidak
berhasil mencapai kesepakatan tentang pembagian tersebut. Maka, mereka bermaksud menghadap sahabat Ali bin Abi Thalib r.a. untuk meminta pendapat. Di hadapan Imam Ali, keduanya bercerita
tentang masalah yang mereka hadapi. Imam Ali mendengarkannya dengan seksama. Setelah orang itu selesai berbicara, Imam Ali kemudian berkata kepada orang yang mempunyai tiga roti: “Terima sajalah pemberian sahabatmu yang tiga dirham itu!” “Tidak! Aku tak mau menerimanya. Aku ingin mendapat penyelesaian yang seadil-adilnya, “Jawab orang itu. “Kalau engkau bermaksud
membaginya secara benar, maka bagianmu hanya satu dirham!” kata Imam Ali lagi.
“Hah…? Bagaimana engkau ini, kiranya. Sahabatku ini akan memberikan tiga dirham dan aku menolaknya. Tetapi kini engkau berkata bahwa hak-ku hanya satu dirham?” “Bukankah engkau menginginkan penyelesaian yang adil dan benar? ,kalau begitu, bagianmu adalah satu dirham!”. “Bagaimana bisa begitu?” Orang itu bertanya.
Imam Ali menggeser duduknya. Sejenak kemudian ia berkata:”Mari kita lihat. Engkau membawa tiga potong roti dan sahabatmu ini membawa lima potong roti.” “Benar.”jawab
keduanya. “Kalian makan roti bertiga, dengan si musafir.” ‘Benar”. “Adakah kalian tahu, siapa yang makan lebih banyak?”. “Tidak.”. “Kalau begitu, kita anggap bahwa setiap orang makan dalam jumlah yang sama banyak”. “Setuju, “jawab keduanya serempak. “Roti kalian yang delapan potong itu, masing-masingnya kita bagi
menjadi tiga bagian. Dengan demikian, kita mempunyai dua puluh empat potong roti, bukan?” tanya Imam Ali. “Benar,”jawab
keduanya.
“Masing-masing dari kalian makan sama banyak, sehingga setiap orang berarti telah makan sebanyak delapan potong, karena kalian bertiga.” “Benar.”
“Nah…orang yang membawa lima roti, telah dipotong menjadi tiga bagian mempunyai lima belas potong roti, sedang yang membawa
tiga roti berarti mempunyai sembilan potong setelah dibagi menjadi tiga bagian, bukankah begitu?” “Benar, jawab keduanya, lagi-lagi dengan serempak.
“si empunya lima belas potong roti makan untuk dirinya delapan roti, sehingga ia mempunyai sisa tujuh potong lagi dan itu dimakan oleh musafir yang belakangan. Sedang si empunya sembilan potong roti, maka delapan potong untuk dirinya, sedang yang satu potong di makan oleh musafir tersebut. Dengan begitu, si musafir pun tepat makan delapan potong roti sebagaimana kalian berdua, bukan?”
Kedua orang yang dari tadi menyimak keterangan Imam Ali, tampak sedang mencerna ucapan Imam Ali tersebut. Sejenak kemudian mereka berkata:”Benar, kami mengerti.”
“Nah, uang yang diberikan oleh di musafir adalah delapan dirham, berarti tujuh dirham untuk si empunya lima roti sebab si musafir makan tujuh potong roti miliknya, dan satu dirham untuk si
empunya tiga roti, sebab si musafir hanya makan satu potong roti dari milik orang itu”
“Alhamdulillah…Allahu Akbar,” kedua orang itu berucap hampir bersamaan. Mereka sangat mengagumi cara Imam Ali
menyelesaikan masalah tersebut, sekaligus mengagumi dan mengakui keluasan ilmunya.
“Demi Allah, kini aku puas dan rela. Aku tidak akan mengambil lebih dari hak-ku, yakni satu dirham,” kata orang yang mengadukan hal tersebut, yakni si empunya tiga roti. Kedua orang yang mengadu itu pun sama-sama merasa puas. Mereka berbahagia, karena mereka berhasil mendapatkan pemecahan secara benar, dan mendapat tambahan ilmu yang sangat berharga dari Imam Ali bin Abi Thalib as.
Demikianlah kecerdasan Ali,meski demikian, beliau adalah orang yang mempunyai rasa tawadlu’ yang tinggi. Beliau pernah berucap :
افعريحـ ويلـوـ يي نـمـللعـ ني مـ مسدـاخـ اـنأـ
yang artinya: “aku (berkenan) menjadi pelayan pada orang yang mengajarku walaupun hanya satu huruf”.
F. PROSES PEMBELAJARAN 1. Persiapan
a. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
b. Guru mengajukan pertanyaan secara komunikatif tentang hal-hal yang berkaitan dengan materi keteladanan sahabat Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib ra yang diketahui peserta didik.
c. Media/alat peraga/alat bantu bisa berupa tulisan manual di papan tulis, karton (tulisan yang besar dan mudah dilihat/dibaca), atau dapat juga menggunakan multimedia berbasis ICT atau media lainnya.
d. Untuk menguasai kompetensi ini salah satu model pembelajaran yang cocok di antaranya model direct instruction (model pengajaran langsung) yang termasuk ke dalam rumpun model sistem perilaku (the behavioral systems family of model). Direct instruction diartikan sebagai instruksi langsung; dikenal juga dengan active learning atau whole-class teaching mengacu kepada gaya mengajar pendidik yang mengusung isi pelajaran kepada peserta didik dengan mengajarkan, memberikan koreksi, dan memberikan penguatan secara langsung pula. Model ini dipadukan dengan model artikulasi (membuat/mencari pasangan yang bertujuan untuk mengetahui daya serap peserta didik).
2. Pelaksanaan
a. Guru meminta peserta didik mengamati kisah dan memperhatikan gambar/visual dalam rubrik "Amati dan Perhatikan."
b. Setelah mengamati kisah dan memperhatikan gambar,Guru memberi stimulus peserta didik agar penasaran terhadap apa yang diamatinya, lalu merangsang peserta didik untuk membuat pertanyaan dari hasil pengamatan pada kolom “penasaran???”.
c. Usahakan guru tidak menjawab pertanyaan-pertanyan peserta didik,melainkan melempar pertanyaan tersebut kepada peserta didik yang lain
d. Guru memberi petunjuk untuk membaca materi pada rubrik “Buka Cakrawalamu!”untuk menjawab rasa penasaran peserta didik
e. Setelah peserta didik membaca, guru memberi stimulus pada peserta didik untuk menalar materi dengan menyuruh peserta didik melakukan kegiatan dalam tahapan “Kembangkan Wawasanmu!”berupa : mencari cuplikan kisah keteladaan Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib ra dan menyimpulkan keteladanan/hikmah yang bisa diambil dengan langkah sebagai berikut :
Buat kelompok, cari cuplikan kisah tentang sahabat Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib dari berbagai sumber
Simpulkan keteladanan apa yang bisa diambil dari isi cerita
Jangan lupa,tampilkan juga fenomena/kisah sesorang,tokoh,dan atau masyarakat sekitarmu yang memiliki karakter sama atau bertolak belakang dengan beliau berdua (jika ada)
Pajang hasil pencarianmu bersama kelompokmu di atas meja/tempel di tembok
Kelompok yang lain berkeliling, melihat, memperhatikan, dan mencatat tema cerita serta keteladanan yang bisa diambil dari isi cerita dengan membuat catatan hasil pengamatan
f. Guru meminta peserta didik bercerita tentang hasil diskusi kelompok dan pencariannya.
g. Peserta didik/kelompok yang lain memperhatikan dan membuat catatan
h. Guru membimbing peserta didik melakukan tanya jawab sedrhana dari cerita jika ada yang ingin ditanyakan atau disanggah
i. Guru memberi penguatan pada hasil cerita dan tanya jawab
3. Penutup
a. Guru bertanya kepada peserta didik tentang manfaat/hikmah mempelajari materi keteladanan nabi Sulaiman as
b. Guru membimbing peserta didik untuk menyimpulkan materi nabi Sulaiman as
c. Guru meminta peserta didik secara jujur menjawab soal penalaran berupa studi kasus sebagai berikut :
1. Apa yang akan kamu lakukan,jika ada salah seorang temanmu minta salah satu barang yang masih kamu senangi?,padahal kamu tidak hanya punya satu saja
2. Apa tindakan kamu jika melihat dua temanmu berselisih paham,sedangkan salah satunya adalah orang yang dekat dengan kamu?
G. PENILAIAN
1. PENASARAN?
Guru melakukan penilaian peserta didik pada kegiatan “ PENASARAN? “.
No Nama Peserta didik
Aspek yang dinilai Nilai a b c 1 2 3 dst
Aspek dan rubrik penilaian: a. Frekwensi dalam bertanya
1) Jika peserta didik bertanya 3 kali atau lebih, skor 30. 2) Jika peserta didik bertanya 2 kali, skor 20.
3) Jika peserta didik bertanya 1 kali, skor 10.
1) jika pertanyaan sesuai dengan materi, skor 30.
2) jika pertanyaan kurang sesuai dengan materi, skor 20. 3) jika pertanyaan tidak sesuai dengan materi, skor 10.
c. kejelasan/bahasa yang digunakan saat bertanya 1) jika bahasa jelas,lugas,dan mudah dipahami, skor 30. 2). jika bahasa kurang jelas,kurang lugas,dan kurang mudah
dipahami, skor 20.
3) jika bahasa tidak jelas,tidak lugas,dan sulit dipahami, skor 10.
Nilai : a +b+c Catatan :
Kegiatan bertanya bagi peserta didik adalah bentuk rangsangan agar peserta didik berani bertanya dan yang selama ini sangat sulit dimunculkan
Pertanyaan peserta didik bagaimanapun bentuknya harus diapresiasi,sehingga nilai ini bisa dijadikan sebagai nilai proses pembelajaran
Karenanya,pada poin ‘aspek yang dinilai’, pada poin a dan b, meskipun pertanyaan dan bahasa tidak tepat,tetap mendapatkan nilai
2. KEMBANGKAN WAWASANMU! Menyajikan Cerita/ Fenomena Instrumen
Bercerita tentang kisah keteladanan sahabat Usman Bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib ra.
Buat kelompok, cari cuplikan kisah tentang sahabat Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib dari berbagai sumber
Simpulkan keteladanan apa yang bisa diambil dari isi cerita
Jangan lupa,tampilkan juga fenomena/kisah sesorang,tokoh,dan atau masyarakat sekitarmu yang memiliki karakter sama atau bertolak belakang dengan beliau berdua (jika ada)
Pajang hasil pencarianmu bersama kelompokmu di atas meja/tempel di tembok
Kelompok yang lain berkeliling, melihat, memperhatikan, dan mencatat tema cerita serta keteladanan yang bisa diambil dari isi cerita dengan membuat dan mengisi tabel seperti berikut:
Kelompok 1 N O NAM A JUDUL CERITA KETELADANAN/ HIKMAH YANG BISA
DIAMBIL
PERBANDINGAN