E. HASIL PENGAMATAN MIKROSKOPIS
3. Kecernaan Bahan Kering dan Kecernaan Bahan Organik
Kecernaan adalah bagian pakan yang tidak diekskresikan dalam feses, bagian yang dikonsumsi oleh tubuh ternak, kecernaan biasanya dinyatakan dalam persentase bahan kering (Cullison, 1978). Menurut Van Soest (1982) kecernaan pakan dipengaruhi oleh bagian total pakan yang dapat larut, lignifikasi serat dan komposisi bahan kimia pakan. Bahan pakan yang mengandung serat kasar tinggi akan menurunkan nilai kecernaan zat-zat makanan lainnya karena untuk mencerna serat kasar dibutuhkan banyak energi (Lubis, 1963).
Kecernaan merupakan parameter yang menunjang seberapa banyak bahan makanan yang dikonsumsi oleh ternak dapat diserap oleh tubuh, karena dalam suatu proses pencernaan selalu ada bagian pakan yang tidak dapat diserap oleh tubuh ternak dan dikeluarkan dalam bentuk feses. Konsumsi bahan kering dan bahan organik merupakan ukuran untuk mengetahui zat-zat makanan oleh ternak yang dideposit oleh tubuh.
Tabel 8 menyajikan rataan persentase kecernaan bahan kering produk kultivasi dengan kisaran persentase kecernaan bahan kering sebesar 41,74-44,91% (kultivasi menggunakan Trichoderma viride) dan 45,57-59,40 % (kultivasi menggunakan Rhizopus oryzae).
Tabel 8. Rataan kecernaan bahan kering pada akhir kultivasi (%) Faktor Perlakuan T. viride R.oryzae
H0 54,70 51,65 A1T1 43,15 48,28 A2T1 44,91 45,57 A1T2 41,74 59,40 A2T2 42,81 48,40 Keterangan:
A1 : Perlakuan dengan pengadukan T1 : Perlakuan ketebalan 2 cm
A2: Perlakuan tanpa pengadukan T2 : Perlakuan ketebalan 4 cm
57 Kecernaan bahan kering terbesar didapatkan pada kultivasi dengan menggunakan Rhizopus oryzae pada ketebalan hamparan 4 cm dengan pengadukan. Kecernaan bahan kering terkecil didapatkan pada kultivasi dengan menggunakan Trichoderma viride, pada perlakuan yang sama. Sebagai pembanding, jerami kedelai memiliki nilai kecernaan bahan kering sebesar 38,05% dan nilai kecernaan bahan organik sebesar 35,37% (Musofi dan Wardani, 1990). Sedangkan rumput gajah memiliki kecernaan bahan kering sebelum dan sesudah ensilase masing-masing sebesar 56,95% dan 38,06% serta kecernaan bahan organik sebelum dan sesudah ensilase sebesar 55,32% dan 38,82% (Syamsudin, 2008).
Bahan kering terdiri dari abu dan bahan organik lain seperti protein kasar, lemak kasar, dan karbohidrat. Bahan kering suatu makanan sebagian besar terdiri dari bahan organik. Semua bahan organik mampu menghasilkan energi. Tingkat kecernaan zat-zat dari suatu pakan menunjukkan kualitas dari pakan tersebut, dengan demikian degradabilitas bahan kering dan bahan organik dapat dijadikan sebagai salah satu indikator untuk menentukan kualitas pakan.
Nilai degradasi bahan kering dan bahan organik menunjukkan seberapa besar zat makanan dalam pakan dapat dimanfaatkan oleh mikroba rumen (Sutardi, 1977). Kecernaan bahan organik untuk semua kombinasi perlakuan pada hari ke-15 kultivasi disajikan pada Tabel 9.
Tabel 9. Rataan kecernaan bahan organik pada akhir kultivasi (%) Faktor Perlakuan T. viride R.oryzae
H0 53,40 51,68 A1T1 42,12 48,01 A2T1 40,34 41,06 A1T2 43,85 59,63 A2T2 42,88 46,87 Keterangan:
A1 : Perlakuan dengan pengadukan T1 : Perlakuan ketebalan 2 cm
A2: Perlakuan tanpa pengadukan T2 : Perlakuan ketebalan 4 cm
Kecernaan bahan organik terbesar didapatkan pada kultivasi dengan menggunakan Rhizopus oryzae dengan kombinasi perlakuan A1T2, sedangkan
58 kecernaan bahan kering terkecil didapatkan pada kultivasi dengan menggunakan Trichoderma viride, dengan kombinasi perlakuan ketebalan hamparan A2T1. Dari kedua tabel dapat dilihat bahwa kultivasi dengan menggunakan Rhizopus oryzae (perlakuan ketebalan hamparan 4 cm disertai pengadukan) menghasilkan persentase KCBK dan KCBO terbesar.
Dari kedua tabel di atas juga dapat dilihat bahwa terjadi penurunan KCBK dan KCBO pada hampir semua perlakuan dibandingkan dengan persentase KCBK dan KCBO pada hari ke-0 Bahan kering maupun bahan organik merupakan sumber nutrien bagi kapang dan penggunaannya sangat dipengaruhi oleh kemampuan metabolisme serta daya larut unsur nutrien tersebut. Kapang memanfaatkan nutrien yang tersedia di dalam medium untuk memenuhi kebutuhan perumbuhannya yaitu molekul-molekul sederhana yang larut sekitar hifa dapat langsung dimanfaatkan, sedangkan komponen yang lebih kompleks seperti protein, selulosa, pati, dan lain-lain harus didegradasi terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam sel (Rahman, 1992).
Penurunan persentase kecernaan bahan kering dan bahan organik ini disebabkan karena selama proses kultivasi, bahan kering dan bahan organik substrat telah terlebih dahulu dirombak oleh enzim mikroba guna memenuhi kebutuhan energi bagi pertumbuhan kapang. Karenanya, pada saat produk kultivasi diukur daya cernanya, nilai kecernaan bahan kering dan bahan organik akan cenderung mengalami penurunan. Penurunan persentase bahan kering dan bahan organik juga kemungkinan disebabkan oleh adanya senyawa anti nutrisi yang terakumulasi pada substrat produk kulitivasi dan menyebabkan mikroba rumen tidak mampu menghasilkan enzim yang berfungsi untuk menguraikan kedua bahan tersebut.
Meskipun mengalami penurunan persentase bahan kering dan bahan organik, kultivasi substrat padat dengan menggunakan kedua jenis kapang ini masih layak untuk dilakukan. Dilihat dari parameter kultivasi yang telah dibahas sebelumnya, kultivasi menyebabkan perbaikan nilai nutrisi pada tongkol jagung, meskipun peningkatan nutrisional yang terjadi pada produk akhir kultivasi masih relatif sangat kecil. Pada akhir periode kultivasi pada semua perlakuan juga dihasilkan adanya oligosakarida yang bermanfaat
59 untuk sistem pencernaan ternak. Agar didapatkan kombinasi peningkatan nilai nutrisi yang lebih besar diperlukan adanya penelitian lanjutan dengan perlakuan-perlakuan yang mampu mengakomodasi kondisi proses yang lebih baik pada sistem kultivasi substrat padat. Selain itu diperlukan juga penelitian lanjutan mengenai waktu kultivasi optimum, sehingga dapat dihasilkan produk hidrolisis yang mengandung prebiotik, namun masih memiliki kandungan protein serta kecernaan yang tinggi.
Penambahan zat-zat suplementasi diharapkan mampu merangsang mikroba untuk melakukan metabolisme dan sintesis yang lebih baik. Selain itu dapat pula dicobakan kultivasi dengan menggunakan kapang lain, atau bakteri atau jenis kultur campuran kapang dan bakteri untuk melihat perbandingan peningkatan kecernaan dan nilai nutrisi pada produk akhir kultivasi.
Selulosa memiliki struktur molekul yang kuat dan berat molekul yang tinggi. Hal ini menyebabkan selulosa memiliki kelarutan yang rendah sehingga sulit diserap oleh mikroba selulotik melalui dinding selnya. Mikroba selulotik baru dapat memanfaatkan selulosa sebagai sumber karbon apabila selulosa telah dihidrolisis menjadi bentuk yang lebih sederhana dengan berat molekul yang lebih rendah. Mikroba akan memproduksi selulase untuk mengkatalisis hidrolisis selulosa. Selulase terus diproduksi oleh mikroba selama kebutuhannya akan sumber karbon terpenuhi. Mekanisme pemecahan molekul selulosa dihambat oleh tingginya derajat polimerisasi dan kristalisasi molekul selulosa serta kandungan lignin yang membungkus molekul selolsa. Hidrolisis selulosa sulit terjadi selama derajat polmerisasi, kristalinitas, dan kandungan lignin belum dikurangi. Pada kondisi demikian produktivitas mikroorganisme dalam menghasilkan selulase akan rendah (Irawadi, 1990). Berdasarkan teori tersebut, perlu juga dilakukan penelitian mengenai pengaruh proses delignifikasi sebelum kultivasi menggunakan mikroorganisme lain atau asam, karena pada kultivasi substrat padat yang dilakukan pada penelitian ini kandungan lignin substrat yang tinggi menjadi salah satu faktor pembatas peningkatan parameter kultivasi.
Kontrol yang lebih baik terhadap kondisi proses diharapkan akan berpengaruh terhadap peningkatan parameter kultivasi dan kecernaan. Selain
60 itu, perlu dilakukan penelitian lanjutan mengenai optimasi kultivasi substrat padat yang nantinya akan menghasilkan kombinasi perlakuan yang menghasilkan peningkatan nilai nutrisi tongkol jagung serta meningkatkan efisiensi proses kultivasi.