BAB II Sejarah Berdirinya Kesultanan Brunei Darussalam
2. Kedatangan dan Perkembangan Islam di Brunei
Keberadaan agama Islam di wilayah Asia Tenggara serta perkembangan Islamnya mempunyai sejarah yang berbeda. Karena agama Islam Khususnya di Asia Tenggara, dalam penyebarannya melalui media perdagangan dan sufi.15 Dari sinilah terjadi hubungan antara masyarakat dengan para saudagar dan sufi.
Hal inilah yang memicu kontak dagang dengan pedagang muslim kala itu. Ada beberapa poin penting, di antaranya ialah bahwa portabilitas sistem keimanan Islam dengan pengertian bahwa sebelum kedatangan Islam, sistem kepercayaan lokal yang mana berpusat kepada penyembahan arwah nenek moyang dan perilaku ini berubah dengan adanya kontak dengan pedagang muslim yang mendorong konversi masal terhadap Islam yang terjadi di wilayah pesisir, khususnya kota-kota pelabuhan yang kemudian berkembang menjadi entitas politik. Bukan itu saja, faktor asosiasi Islam dengan kekayaan, bisa dipastikan karna masyarakat lokal Indo-Melayu peratama kali bertemu dan bertransaksi dengan orang muslim di pesisir dan pelabuhan dengan pedagang muslim yang kaya raya.16
Menurut Barbara Watsson dan Leonerd T, Andaya, bahwa Islam datang pertama kali ke Brunei Darussalam dari bagian barat Asia Tenggara, setelah melalui India, Sumatra Utara, dan Malaka sejak abad XVI M. Dalam laporanya sebagai berikut:
“Lama menjadi bagian jaringan perdagangan internasional, Brunei sering dikunjungi oleh pedagang-pedagang Muslim dan karena itu bersinggungan dengan ajaran Islam. Kepergian dari banyak pedagang Muslim dan bahkan mungkin sejumlah pejabat Melayu
15
Ira M lapidus.”Sejarah Sosial Umat Islam” Pt.Garafindo Persada. 1999.jakarta. h 717. 16
Azyumardi Azra”Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah wacana dan kekuasaan” Pt.Remaja
19
setelah penaklukannya oleh Portugis tahun 1511 meletakan dasar bagi peralihan Brunei. Penguasa Brunei akhirnya mengadopsi Islam beberapa waktu antara 1514 dan 1521.” (Barbara Watsson dan
Leonard Y. Andaya, 1982; 58) Akan tetapi pendapat kedunya berbeda, dengan bukti-bukti sejarah lain.
Termasuk data Arkeologi sejarah “Batu Tarsilah atau Silsilah Brunei” yang menarik garis belakang Brunei mundur lebih jauh lagi sebelum abad XI M. Hal ini didukung dengan di temukan Nisan bertulisan Putri Sultan Abdul Majid bin Muhammad Shah Al Sultan tertanggal 440 H/ 1048 di Brunei. Hampir semasa dengan keberadaan seorang muslimah di Leran (Gersik) bernama Fatimah binti Maeimun bin Hibatallah (1082 M), nyaris semasa dengan nisan Ahmad anak Abu Ibrahim, anak Abu Arradah (1039 M) di Phan-rang/Padhurangga, suatu tempat di wilayah Champa.17
Batu Tarsilah18 dalam bentuk bendanya sebagai benda Arkeologi dari masa lalu kesultanan Brunei Darussalam dan berfungsi sebagai data kesejarahan melalui inskripsi dimana terukir di dalamnya juga kesultanan Brunei Darussalam. Sedangkan bentuk bendanya seperti sebuah cermin, dan terbuat dari batu pasir, yang beriasan suluran di bagian pinggirnya, tiga buah bunga menghiasi bagian atasnya dan kedua pinggirnya.
Data yang tertulis ialah berupa tentang susunan nama-nama raja/sultan yang pernah menaiki tahta kesultanan Brunei, sejak masa Sultan Muhammad Shah (Awang Alak Betatar) sampai sultan Muhammad Tajuddin. Jumlah nama sultan yang tertulis di Batu Tarsilah berjumlah 29 nama. Namun dalam kenyataanya menurut hitungannya sampai kepada sultan Hasanal Bolkiah Mu’izuddin Waddaulah telah naik tahta sampai pada urutan ke-31 sultan.
17
Pemukiman orang-orang Cham, yaitu masyarakat kuno memakai bahasa Melayu-Polinesia dan kebanyakan dari meraka beragama Islam.
18
20
Perbedaaan ini disebabkan adanya sultan menaiki tahta dua kali dan ada pula karena meninggal yang baru beberapa saat naik tahta, kemudian digantikan sultan sebelumnya.19
Batu Tarsilah dapat dikatakan sebagai data awal yang dapat digunakan dalam mengkaji dan meneliti tentang keberadaan kesultanan Brunei dan secara Arkeologi sebuah prastati yang dapat mengungkapkan latar belakang Brunei, dalam usaha merekontruksi sejarah dan budaya masa lalu.
Sedangkan pendekatan Arkeologi sejarah, diterapkan bertujuan merekontruksi fase-fase situs besar di Brunei ( Kota Batu, Pulau Cermin, Keianggeh [Residensi], Kampung Air, serta makam Diraja/ Rengas/ Bandar Sri Begawan ). Pendekatan ini dipilih karena makam-makam kesultanan di Brunei Darussalam, termasuk Batu Tarsilah memiliki tingkat reliabilitas dan representativ yang cukup memadai.
Selain Batu Tarsilah, ternyata terdapat bukti lain dengan di temukan nisan Putri Sultan Abdul Majid bin Muhammad Shah Al Sultan tertanggal 440 H/ 1048 di perkuburan Muslim di jalan Penduduk, Bandar Seri Begawan.20 Sebagian menyebutkan bahwa makan tertua di Brunei adalah seorang muslimah bernama Mahdarah (Roqayah) yang meninggal tahun 1048 M/ 440 H, belum jelas latar belakang ketokohannya.21 Mungkin yang di maksud ialah putri Sultan Abdul Majid bin Muhammad Shah Al Sultan.22
19
Lihat lampiran no.5 20
Uka Tjandrasasmita. “Arkeologi Islam Nusantara”. Pt Gramedia, Jakarta 2009. h 20 21Hasan Muarif dan Achmad Cholid Sodrie.”Hubungan Budaya Antara Kesultanan Samudra Pasai dan Kesultanan Brunei Darussalam Dilihat dari Data Arkeologi” Pusat Penelitian Arkeologi Nasional 1995. h 2-3
22
21
Kajian sejarah memberikan gambaran bahwa penyiaran Islam ke Brunei dilakukan oleh Da’i/ Mubaliq yang datang dari Arab dan Parsi, melalui negeri China, Indo China dan Melayu. Penemuan Arkeologi yang berangka tahun 440 H/ 1048 M, memberikan gambaran bahwa islamisasi di Brunei dari abad ke-11, penyebaranya menjadi tangung jawab para pedagang Arab dan Persia. Pedagang tersebut melalui jalan Tiongkok, Indocina, dan Semenanjung Malaya, untuk menyebarkan Islam ke daerah terpencil Brunei (Pedalaman Tutung, Belait dan Temburong). Karna penduduk lokal (Melayu) dari ibukota yang lebih awal memeluk Islam.23
Sedangkan catatan Cina menerangkan bahwa kerajaan Brunei sudah dikenal orang-orang Cina abad ke-6 M, hubungan Cina dengan wilayah pantai Kalimantan (Borneo) adalah usaha dari pedagang Arab yang bermukim di Canton sejak abad ke-6.24 Dan disisi lain bahwa Islam sendiri masuk ke Brunei dipercayai pada tahun 1264 M atau sekitar awal abad ke-13. Hal ini ditandai dengan penemuan batu nisan tuan P’u-kung Chih-mu25 yang meninggal pada tahun 663 H-1264 M di perkuburan Islam Rangkas Bandar Sri Begawan. Akan tetapi Chau ju-Kua melaporkan, pada 367/977 suatu kerajaan di Borneo barat mengirimkan pula seorang duta bernama P’u A-li ke istana China yang kala itu di kuasai, tetapi
23
Lihat lampiran no 6 24
Apipudin Sm, “Sejarah Asia Tenggara” . Media eka sarana 2008. h 92 25
Menurut Wolfgang Franke dan Chen Tien-Fan bahwa batu nisan itu kepunyaan keluarga “P’u “ iaitu seorang Islam yang datang dari daerah Chuan-chou semasa empayer Sung (960-1279) bersama anaknya yiang Chia. Dan tuan P’u mempunyai kedudukan penting di Negara China. Hal ini di peroleh dari berita China yang berbunyi:
…’’Yu Sung Ch’uan-Choup p’an-yuan P’u-kung Chin-mu Chinz-ting chia-tzu nan Ying-chiali”….
Dalam bahasa Melayu”
….”Kubur P’an Yuan, Tuan P’u of Chuan-chou dari (Empayer) sung. Dibina dalam (tahun) Chia-tzu Ching-ting oleh anak lelaki (nya) Ying( ?)Chia.
Dari uraian di atas bahwa tarikh “Ching-ting” bermaksud tahun akhir pemerintahan maharaja Li’tzung dari dinasti Sung selatan yang memerintah dari tahun 1225-1264. Sedangkan tahun “Chia-tzu” ialah tahun kelima dari tarikh bersamaan dengan tahun 1264 M.
22
munurut Hirth dan Rockhill, P’u A-li sangat mungkin seorang pedagang yang sebenarnya bernama ‘Abu Ali ini diperkuat Sejarah Dinasti Sung (960/1279).26 Sedangkan pendapat yang mengatakan Islam di Brunei berasal dari China, yang berdasarkan di temukannya batu nisan tuan P’u-kung Chih-mu bertahun 1264, ada pula yang meyanggahnya. Mohd. Jamil al, Sufri berpendapat bahwa masyarakat Islam di Brunei bermazhab Syafi’I, sama halnya di Tanah Hijaz, Arab Selatan, India Selatan, sebagian Iraq dan sebagian Mesir. Sedangkan hampir seluruh masyarakat Islam China bermazhab Hanafi, sama halnya di Turki, sebagaian Syiria, sebagian India dan Asia Tengah. sehingga diasumsikan sementara bahwa Islamisasi Brunei melalui alur barat, yaitu Melayu, Aceh, India Selatan. Mazhab yang menjadi pegangan Ulama di Brunei adalah Mazhab Imam Syafi’i, seperti kebanyakan para ulama di Nusantara.
Bahkan silabus dan kurikulum pendidikan di Brunei, kita dapat menjumpai kitab-kitab agama seperti kitab Fiqih” Sabilul Muhtadin, Al-Mukhtasar, dan Siratal Mustaqiin”, kitab faraidh “Ghayatul-Tagriib Fil-irthi Wat Ta’siib”, dan kitab Tasauf “Misyahul-Afrah, Hidayah Walid LilWalad”dan lain-lain.27
Dalam silsilah raja-raja Brunei disebutkan bahwa raja yang pertama memeluk Islam adalah Awang Alak Betatar yang menikahi putri johor sehingga mengganti namanya menjadi sultan Sulaiman pada tahun 1368. Silsilah raja-raja Brunei versi datu imam yaakub menyebutkan:
Adalah yang pertama kerajaan di negeri Brunei membawa agama Islam dan mengikuti syariat Nabi Muhammad sallallahu’ Alaihi wa Sallam, iaitu Paduka Seri sultan Muhammad dan saudaranya Sultan Ahmad.28
26
Azyumardi Azra,”.Jaringan Ulama,Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII&XVIII” kencana Jakarta 2004. H 29-30
27
Haji Zain bin Haji Serudin.”Pendekatan Mengenai Islam di Brunei Darussalam” Studi Islam di Asia Tenggara. Muhammadiyah Universitas Press, Surakarta 1999.h 82-83
28
23
Dengan masuk Islam Awang Alak Betatar sebagai babak baru bagi kesultanan Brunei, dan juga sekaligus menjadi raja yang pertama masuk Islam yang diwariskan kepada keturunannya. Tidak jauh berbeda dengan Patani dan Malaka proses islamisasi di Brunei terjadi ketika kerajaan telah berdiri tahun 1500. Dalam hal ini raja mengambil inisiatif melakukan konversi ke Islam. Akan tetapi pada masa Syarif Ali sultan yang ketiga (1424-1432) sudah mulai ada usaha keseriusan untuk memajukan agama Islam, terbukti dengan adanya undang-undang Syariat dan termasuk sultan yang pertama mendirikan masjid, karena ia masih keturunan rasullah bahkan diceritakan sakin tekunnya beliau dalam beribadah sehingga ia mendapatkan panggilan Sultan Berkat. Perjuangan Syarif Ali dalam menyebarkan Islam tidak begitu mulus karna ia dihadapkan pengaruh Hindu, Bhuda yang masih tertanam di hati masyarakat Brunei.29 Usaha sultan Syarif dalam menyebarkan Islam ternyata dilanjutkan oleh sultan-sultan berikutnya, puncaknya pada abad 15-16.
29
Haji Awang Mohd, Jamil Al-Sufri ” Tarsilah Brunei, Sejarah Awal dan Perkembangan Islam”, Brunei. Pusat sejarah, kementerian Belia dan Sukan, 1990., Ibid. h 33
24
BAB III
RIWAYAT HIDUP SULTAN BOLKIAH
A. Silsilah Keluarga
Sebuah kerajaan harus memiliki ciri-ciri tertentu, di antaranya silsilah, gelar sultan dan sistem pemerintahan. Ketika islamisasi terjadi di kepulauan Nusantara yang berlangsung sejak paruh abab ke-13, mulai tejadi konversi penguasa lokal ke dalam Islam. Hal itu terbukti dengan adanya pergeseran nama bagi seorang raja menjadi Sultan atau kesultanan.1 Brunei sendiri mempunyai sejarah yang panjang dan bisa diliat dari silsilah raja-raja Brunei yang sampai kini di jadikan bukti sejarah. Silsilah raja-raja Brunei bisa dilacak dan dijadikan patokan.2 Mulai dari sultan yang pertama yaitu Awang Alak Betatar dengan adiknya Awang Semaun dan Pateh Berbai, dalam catatan zaman dahulu sejak awal kurun 14 merupakan asal usul keturunan raja-raja Brunei, termasuk di dalamnya silsilah Sultan Bolkiah hingga seterusnya dengan tidak terputus-putus.3 Menurut ‘Syair Awang Semaun’,4bahwa Awang Alak Betatar adalah salah seorang dari 14 saudara, mempunyai 13 orang adik dan Awang Alak Betatar ialah putra yang paling tertua. Saudaranya iaitu Awang Semaun, Pateh Berbai, Pateh Mambang, Pateh Tuba, Pateh Sengkuma, Pateh Menggarun, Pateh Malakai, Patih Pahit, Damang Sari, Pateh Sindayong, Damang Lebar Daun, Hapu Awang
1
Azyumardi Azra”Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah. Ibid. h 78-79 2
Liat lampiran no.7 3
Yura Halim.” Ririsej Brunei Darussalam” Bandar Sri Begawan: Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei, 2002. h 1
4
Sebuah syair yang mungkin terkarang dalam K.M.XVII iaitu pada masa atau selepasnya zaman Sultan Muhammad Hasan,( T.M. 1582-1598 ) karena dalam syair terdapat penyebutan sebuah gelar “ Pangeran di Gadong’ dan pangeran Pamancha” dari kedua gelar tersebut,di adakan bermula pada masa sultan Muhammad Hasan.
25
dan Pateh Laila Langgong.5 Selain itu disebutkan sepupunya Awang Alak Betatar, iaitu Awang Jerambak yang mempunyai Putra bernama Awang Senuai yang terkenal dalam sambung ayamnya, dalam ceritanya bahwa ayam Awang Senurai mengalahkan ayam batara Majapahit dan akibat kekalahan itu raja Majapahit meninggalkan orang Jawa yang menjadi pengiringnya di Brunei. Dan mereka di tempatkan di suatu kampung, sehingga sekarang kampung tersebut dinamakan “Mejawa”.
Menurut sumber ini pula diceritakan bahwa suatu saat Daron dan ayahnya, sabatin mendarat di tanjung Batu( Serawak sekarang). Mereka datang dari Giri Ombak sehingga keduanya lanjut usia. Akhirnya keduanya meninggal dunia, dan sebelumnya sudah sepakat bahwa keempat belas anaknya untuk memilih sebagai yang tertua ialah Awang Alak Betarar pada tahun 1360. Merurut beberapa cerita bahwa Awang Alak Betatar yang telah meminta saudaranya Awang Semaun berlayar menuju Johor dalam riwayatnya bahwa ia membawa pulang seorang putri Tumasek ke Brunei dan diperistri oleh Awang Alak Betatar, setelah menikahi putri raja Tumasek Awang Alak Betatar memeluk agama Islam dan selanjutnya diberi nama oleh sultan Johor dengan nama Sultan Muhammad Shah(1363-1402). Awang Alak Betatar menjadi sultan Brunei yang pertama beragama Islam.6 Setelah Awang Alak Betatar menikah dengan putri Johor (tumasek) selanjutnya Patih Barbai mengganti namanya denganAhmad dengan gelar sultan
5Dr. Haji Awang Mohd, Jamil Al-sufri. “Raja-Raja Dan Asal Usul Sultan-Sultan Brunei”. Brunei. Pusat sejarah, kementerian Belia dan Sukan, 1990. h 10
6
“Singapura Fakta dan Gambar”. Penerbit Kementrian Kebudayaan Pemerintah Singapura 1971.h 1. Nama paling tua bagi Singapura adalah tumasek kota laut, namanya yang sekarang berasal dari sang nila utama, seorang pengeran seriwijaya di Sumatra yang dalam usaha mencari tempat untuk mendirikan kota sendiri sampai ke tumasek.
26
Pengeran Benbahara SriMaharaja Permaisura sedangkan Awang Semaun tetap tidak mengganti namanya hanya saja bergelar Pangeran Tumenggung.
Dari pernikahan Sultan Muhammad Syah dengan putri Johor, lahir seorang putri yang diberi nama Putri Ratna Dewi, selanjutnya putri Ratna Dewi diperistri oleh Ong Sum Ping (Awang Sunting- Pelat Brunei)7, Ong Sum Ping mempunyai adik bernama Putri Kinabatangan (chinabatangan) selanjutnya diperistri oleh Pateh Barbai dengan gelar Sultan Bendahara yang menjadi sultan Brunei kedua dengan panggilan Sultan Ahmad, menggantikan Sultan Muhammad Syah. Pernikahan Sultan Ahmad (Pateh Berbai) dengan adik Ong Sum Ping, menjadikan ia keluaraga kesultanan Brunei. Selanjutnya Ong Sum Ping menikah dengan putri Sultan Muhammad Shah dan ia mendapatkan gelar ‘Pangeran Maharaja Lela’.8 Dari pernikahan Pateh Barbai dengan Putri Kinabatangan lahir seorang putri bernama Ratna Kesuma yang diperistri oleh Syarif Ali, seorang keturunan Arab. Syarif Ali menjadi Raja Brunei yang ketiga (1425-1432) yang juga bergelar sebagai ”Sultan Berkat”.9
Dari pernikahan Putri Ratna Kesuma dengan Syarif Ali lahir seorang Putra yang di beri nama pangeran muda Sulaiman. Setelah sultan Syarif Ali meninggal10
7
Ia seorang utusan Maharaja China yang diperintahkan untuk mengambil Mutiara Kumala yang berada di mulut seekor naga di gunung Kinabatang (sebuah nama tempat di Sabah)
8
Dalam syair Awang Semaun disebutkan: Bermenantu sudah Raja di mingsing.
Anak Raja China namanya Wang Sunting Laki istri sama sebandig,
Keduanya patut tiada berbanding. Diberi nama baginda ter’ala, Dijadikan Pangeran Maharaja Lela. Di dalam negeri ialah kepala, Habis pengikut rakyat segala. 9
Al-habib Alwi bin Thahir Al-Haddad “Sejarah Masuknya Islam di Timur Jauh” edisi revisi, Penerbit Lentera 2001. h 144-145
10
Sultan Sayrif Ali meninggal pada malam kamis bulan Jumadhil awal 836 Desember 1432.
27
barulah putranya, Pangeran Muda Sulaiman dinaubatkan menaiki tahta Kerajaan Brunei sebagai Sultan Brunei yang keempat dengan nama Sultan Sulaiman(1432-1485). Dalam beberapa sumber dikatakan bahwa sultan Sulaiman disebut dengan sanjungan gelar “Sang Aji Brunei” atau “Adipati Agong”. Ia banyak menerima didikan agama Islam dari ayahnya dan juga ia seorang raja yang waspada tentang keselamatan dan ketenteraman. Dia membangun kota Batu sebagai benteng Negeri Brunei. Sultan Sulaiman mempunyai seorang Putra yang bernama pangeran muda Bolkiah. Dalam silsilah raja-raja Brunei tidak disebutkan istri dari sultan Sulaiman. Baginda Sulaiman merupakan Begawan sultan pertama dalam catatan silsilah raja-raja Brunei.
Dari raja Sulaiman silsilah sultan Bolkiah di mulai, setelah sultan Sulaiman meninggal maka pangeran muda Bolkiah menaiki tahta menjadi Sultan Brunei yang kelima bergelar Sultan Bolkiah (1485-1524). Di bawah kepemimpinannya ialah Brunei menjadi Kesultanan yang maju dan besar. Sultan Bolkiah menikah dengan putri dari suluk yang bernama Putri Laila Menchanai11 dan dikaruniai seorang putra bernama pangeran muda Abdul Kahar. Ketenaran Bolkiah menjadikan Brunei sebagai salah satu kerajaan yang maju pada abad ke-15 selain Aceh, Brunei sebagai tempat sasaran berdagang. Sultan Bolkiah Wapat pada 9 Ramadan 930H bersamaan 11 Juli 1524M12 dan kepemiminannya diteruskan oleh putranya yang bernama Sultan Abdul Kahar menjadi sultan yang keenam yang terkenal dengan sebutan “ Mahrum Keramat” (1524-1530. Selanjutnya kesultanan di teruskan oleh putra dari sultan Abdul Kahar iaitu Sultan Saiful Rijal
11
Setengah riwayat menyebutkan ia putri dari tanah jawa dan ada pula meriwayatkan bahwa ia berasal dari BEUH yang dijumpai dalam masa pelayarannya Bolkiah mengembara di kepulawan Nuasantara.
12
28
1581), sekaligus menjadikan sultan yang ketujuh. Dari sultan Saiful Rijal kesultanan di teruskan oleh putranya yang bernama Sultan Shah Brunei (1581-1582) dan Sultan Muhammad Hasan (1582-1598). Sultan Muhammad Hasan menjadi sultan yang kesembilan.
A. Pendidikan
Pendidikan adalah salah satu perhatian sentral masyarakat Islam. Secara terminologi, “Pendidikan Islam” adalah suatu proses yang komprehensif dari pengembangan kepribadian manusia secara keseluruhan, meliputi intelektual, emosi, fisik sehingga seorang muslim disiapkan dengan baik untuk menjadi hamba Allah di dunia.13 Sedangkan terbentuknya jaringan ulama Timur Tengah dengan kawasan Asia, terjadi dengan cara media pendidikan agama yang menghadirkan pola pendidikan Islam melalui halaqoh-halaqoh, surau, masjid hingga terbentuknya sistem pendidikan pormal di kawasan Asia Tenggara.
Memang tak ada keterangan yang menjelaskan secara rinci terhadap sultan Bolkiah bagaimana ia mendapatkan pendidikan, akan tetapi kita bisa melihat itu semua dari beberapa keterangan yang menjelaskan bahwa Bolkiah mendapatkan itu semua dari peranan keluarga, terlebih ayahnya sultan Sulaiman.
Sedangkan Sultan Sulaiman mendapatkan pendidikan dari ayahnya Sultan Syarif Ali, Sulaiman bukan hanya bijaksana dalam pentadbiran tetapi juga berusaha menunjukan teladan dalam meluaskan penyebaran Islam. Dia juga mencontohkan berani dan jujur dalam memimpin rakyatnya karna sulaiman berpikir bahwa putranya (Bolkiah) akan mewarisi tahta kerajaan sehingga perlu
13
Taufik Abdullah. “Tradisi dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara” LP3ES 1989. h 409
29
dibimbing, dilengkapi diri sebagai seorang manusia yang mengenal tujuan hidupnya. Sultan Sulaiman terus mendidik dan menasehati terhadap Bolkiah agar menunaikan kewajiban yang seharusnya dilakukan seorang pemimpin terhadap rakyatnya dan membimbing mereka ke arah cara Islam yang diridhoi allah SWT.14 Bukan itu saja, ternyata gemarmya sultan Bolkiah mengembara hingga ia mendapatkan julukan “Nahkoda Ragam” mendatangkan pengalaman yang luas dan memahami keadaan alam nusantara yang terdiri pulau-pulau, aneka ragam corak laut dan daratan. Keadaan itu menjadikan Bolkiah amat mencintai hidup berlayar di samping hiburan dan mendapatkan pendidikan dari alam.15 Pengetahuan yang di peroleh itu ia gunakan untuk kemakmuran rakyatnya dan juga kemajuan kesultanan Brunei Darussalam.
B. Kemashuran
Kebesaran nama Brunei membawa keberuntungan bagi raja-raja yang memimpinya. Terjadi kontak perdagangan dengan China, Arab, Persia dan India. Inilah yang menjadi bukti betapa terkenalnya kesultanan Brunei kala itu, dari masa kepemimpinan sultan Muhammad Syah, sultan Ahmad, sultan Syarif Ali dan sultan Sulaiman. Akan tetapi kesultanan Brunei mulai mengalami kemajuan ketika Syaif Ali menaiki tahta dan puncak-puncaknya pada kepemimpinan sultan Bolkiah dan seterusnya.
Kemashuran sultan Bolkiah menaiki tahta kerajaan, dan memimpin pemerintahan terus-menerus ia jalankan dengan rasa keadilan. Semasa menjalankan pemerintahan, sultan Bolkiah terkenal sebagai seorang raja yang
14
Yura Salim.”Ririsej Brunei Darussalam” Bandar Sri Begawan: Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei, 2002. h 45-46
15
30
gagah perkasa, dan ia juga gemar melakukan pengembaraaan menggunakan kapal layar sehingga dengan kegemaran inilah ia mendapatkan sebutan “Anak Kuda Ragam” atau “ Nahkoda Ragam”.16 Sejarah mencatat bahwa pada zaman inilah Brunei termashur ke seluruh kepulauan nusantara, sedangkan kekuasaannya bukan saja meliputi kepulauan Borneo,17 bahkan sampai sebagian kepulauan Filipina menjadi pesisir Brunei.18
Bahkan karena kesukaannya berlayar ke luar negri, setiap kali berangkat berlayar angkatannya dilengkapi dengan makanan, serta alat kebesaran Diraja Brunei yang mengandung berbagai alat bunyi-bunyian, diiringi oleh ahli-ahli tertentu, serta hulu belalang yang taat sebagai anak buah kapal yang mahir dan mengetahui keadaan bintang-bintang di langit dan alam lautan. Diriwayatkan dalam pelayarannya baginda membawa segantang lada sulah, yang mana akan ditinggalkan sebiji setiap pulau-pulau yang dilalui, disinggahi sehingga tidak tersisa sebiji pun.19
Begitu besarnya nama Sultan Bolkiah, melakukan perluasan pemerintahan sampai Suluk dan Seludang. Hal ini tersebut dalam silsilah raja-raja Brunei dari Datu Imam Aminuddin:
Dan sultan (Sulaiman) itulah beranakan sultan Bolkiah, ialah berperang dengan bangsa Suluk dan Seludang, nama rajanya Datu Gamban. Maka sultan Bolkiah ialah juga dinamakan orang tua-tua, ‘Nahkoda Ragam’.