BAB IV DAMPAK KEBERADAAN SUB ETNIS BATAK TOBA BAGI ETNIS
4.3 Kedudukan Sub Etnis Batak Toba Dalam Bermasyarakat di Desa Bah
4.3.3 Kedudukan Dalam Pekerjaan di PT. Perkebunan VII (Persero)…
45
Harajaon yang dimaksud adalah bukan membentuk kerajaan pada masa kerajaan – kerajaan di Indonesia sebelum merdeka. Kerajaan yang dimaksud adalah kedudukan dalam pemerintahan dalam konteks struktur pemerintahan Indonesia
Kedudukan dalam pekerjaan merupakan jenjang karir yang diperoleh melalui predikat terhadap keahlian yang sesuai dengan jabatan yang di berikan oleh PT. Perkebunan VII. (Persero). Jabatan yang diperoleh ketika mulai adanya Sub Etnis Batak Toba di Desa Bah Jambi adalah Sopir, Mandor, dan staf administrasi dan kepala bagian. Jabatan ini diberikan karena Sub Etnis Batak Toba mempunyai pendidikan dan berkemauan keras untuk berkembang.
Sub Etnis Batak Toba yang mempunyai kedudukan dari tahun 1963 – 1990 adalah:46
1. M. Sihombing sebagai staf bengkel listrik 2. A. Sianipar sebagai dinas tranportasi
3. S. O. Pangaribua sebagai Kepala Bagian Administrasi. 4. Ir. M. Samosir 5. Saban Nababan 6. Dawasi Siregar 7. Parto Pakpahan 8. Amir Marpaung 9. Argelaus Goeltom 10.Dahlian Pasaribu 11.Poltak Hutahean 12.Krisman Panggabean 13.Ir. A. Situmorang 46
14.Ir. H.H.L Tobing 15.Drs. S. M. Simanjuntak 16.Ir. P. O. Siahaan 17.Ir. I. M. Siregar 18.Drs. R. Y. Hutabarat 19.Drs A. B. Siregar 20.Drs. B Simorangkir 21.Drs. M Siregar 22.Drs. M. Siringoringo 23.Drs. J Hutagalung 24.Drs. W. A Siregar
Kedudukan dalam pekerjaan ini juga merupakan usaha untuk mewujudkan Hamoraon (Kekayaan) dengan memperoleh penghasilan yang tinggi melalui jenjang karir, Hasangapon (Kehormatan) dalam pekerjaan di PT. Perkebunan VII (Persero) merupakan hasil jerih payah melalui pendidikan dan keberhasilan dalam pekerjaan untuk mendapatkan karir yang lebih tinggi.
4.3.4. Kedudukan Sub Etnis Batak Toba Setelah Pensiun.
Setiap karyawan yang mendapatkan perumahan sebagai fasilitas dari PT. Perkebunan VII (Persero) harus kembali kepada perusahaan, karena fasilitas tersebut merupakan hak milik PT. Pekebunan VII (Persero) dan karyawan mendapatkan sebagai hak guna pakai selama menjadi karyawan di perusahaan tersebut.
Sejak tahun1960 setelah beralih menjadi PPN Unit Sumatera II sampai dengan pergantian menjadi PT. Perkebunan VII (Persero) tahun 1985 peraturan tentang pensiun karyawan menyatakan bahwa: “karyawan boleh mengajukan pensiun setelah bekerja selama 20 tahun dan mendapat tunjangan hari tua (pesangon)”47
Alasan tersebut tidak diterima oleh karyawan yang pensiun sehingga menuntut kepada menteri tenaga kerja yang di wakili oleh organisasi KOSGORO
. Akan tetapi karyawan yang telah pensiun sesuai dengan peraturan tersebut dan berhak mendapatkan haknya yaitu tunjangan hari tua (pesangon) tidak dikeluarkan oleh PT. Perkebunan VII karena alasan perusahaan dalam kondisi rugi.
48
. Hasil dari tuntutan ini adalah diberinya hak tinggal kepada karyawan yaitu hak tinggal di perumahan hak milik PT. Perkebunan VII (Persero) sampai anak karyawan yang pensiun. Adapun karyawan yang pensiun dan mendapatkan hak tinggal diperumahan tersebut adalah:49
1. S. Harahap (Etnis Batak Toba) 2. K. Pangaribuan (Etnis Batak Toba) 3. J. Lumban Tobing (Etnis Batak Toba) 4. Tukijo (Etnis Jawa)
5. Ponimen (Etnis Jawa)
Karyawan Sub Etnis Batak Toba Selain dari ketiga tersebut, harus pindah dari Desa Bah Jambi dan mengembalikan hak milik PT. Perkebunan VII (persero) karena mereka bukan dalam kategori karyawan yang mengajukan pensiun dini.
47
Wawancara dengan M Rumapea di Desa Bah Jambi tgl 23 September 2012
48
KOSGORO merupakan Koperasi Simpan Pinjam Gotong Royong yang di bentuk masa orde lama yaitu pada tahun 1957. Wawancara dengan Saut Pangaribuan di Desa Bah Jambi tanggal 25 September 2012
49
BAB V KESIMPULAN 5.1. Kesimpulan
Sub Etnis Batak Toba yang bermigrasi ke daerah yang berkembang ataupun ke kota – kota besar tujuan adalah sama yaitu mencari kehidupan yang lebih baik. Dalam nilai budaya Sub Etnis Batak Toba yang dibawah ke daerah perantauan khususnya Desa Bah Jambi adalah
- Hamoraon (Kekayaan) - Hagabeon (Kemakmuran) - Hasangapon (Kehormatan) - Hamulion (Kemulian).
Dengan pola yang didasari oleh nilai budaya tersebut maka jiwa optimis untuk mendapatkan empat H tersebut akan melakukan migrasi atau mencoba keluar dari daerah asal. Di daerah perantauan tidak jarang dijumpai Sub Etnis Batak Toba berhasil dalam pekerjaan yang bergerak di bidang bisnis, karyawan, dan Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Di Desa Bah Jambi pada awal masuknya yaitu tahun 1963 Sub Etnis Batak Toba menjadi karyawan PT. Perkebunan VII. (persero) banyak menjadi mandor. Posisi yang didapat karena adanya pendidikan yang di peroleh dari daerah asal walaupun tidak tamat dari Sekolah Dasar akan tetapi mereka mempunyai kemampuan yaitu membaca dan menulis sebagai pertimbangan masuknya menjadi karyawan di PT. Perkebunan VII (persero). Perkembangan Sub Etnis Batak Toba mulai pada tahun 1970-an, karena pada tahun ini pendidikan sudah mulai merata dirasakan oleh Sub Etnis Batak Toba di daerah asalnya.
Perkembangan ini juga didasari oleh informasi yang diperoleh tentang fasilitas yang diberikan oleh PT. Perkebunan VII (Persero) sebagai faktor penarik masuknya Etnis Batak Toba sebagai karyawan. Faktor lainnya adalah dari Sub Etnis Batak sendiri yang menyebarkan informasi tersedianya lapangan kerja di PT. Perkebunan VII (Persero) ke kampung halamannya.
Di Desa Bah Jambi sebagai wilayah yang penduduknya mayoritas pendatang yaitu Sub Etnis Batak Toba, Mandailing, Jawa melakukan interaksi dalam membentuk kerukunan bermasyarakat. Interaksi terjalin di daerah pekerjaan yaitu di PT. Perkebunan VII (Persero) yaitu di Pusat Perbelanjaan, dan Sekolah dan tempat Tinggal. Dengan adanya wadah ini maka semua etnis yang ada termasuk Etnis Simalungun akan berbaur dan saling memperkenalkan budaya masing – masing secara tidak langsung.
Perbauran yang terjadi sangat berpengaruh terhadap budaya Sub Etnis Batak Toba karena budaya etnis yang ada di Desa Bah Jambi secara tidak langsung akan mempengaruh budaya Etnis Batak Toba. Adapun budaya Etnis Batak Toba yang terpengaruh dan berbaur dengan etnis lainnya adalah bahasa, musik tradisional, dan adat istiadat. Dengan terpengaruhnya budaya Sub Etnis Batak Toba maka akan mengalami pergeseran dari bentuk keaslian dan nilai yang disampaikan akan semakin kabur. Oleh sebab itu generasi penerus sebagai pewaris akan banyak tidak mengetahui tentang budaya Batak Toba.
Dalam perkembangan dan pertumbuhan jumlah penduduk Sub Etnis Batak Toba di Desa Bah Jambi dari tahun 1963 – 1990 akan membentuk punguan ataupun perkumpulan dengan tujuan mempererat hubungan persaudaran antara sata etnis. Punguan ini menjadi pusat informasi sesama Sub Etnis Batak Toba seperti duka cita, informasi pekerjaan, dan suka cita. Punguan yang dibentuk merupakan punguan marga dan punguan serikat tolong menolong (STM)
Sub Etnis Batak Toba yang sudah pensiun harus pindah dari Desa Bah Jambi dan mengembalikan hak milik PT. Perkebunan VII (Persero) sebagai fasilitas selama karyawan di perusahaan tersebut. Kecuali S. Harahap, K. Pangaribuan dan J. Lumban Tobing yang mendapatkan hak tinggal diperumahan PT. Perkebunan VII (Persero) Bah Jambi sampai anaknya karena tunjangan hari tua tidak dapat dibayar oleh perusahaan.
5.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan dari tulisan ini di antaranya, dalam tulisan ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi mahasiswa umumnya dan mahasiswa sejarah pada khususnya. Dimana dapat mengetahui tentang keberadaan Sub etnis Batak Toba di desa Bah jambi.
Bagi Sub Etnis Batak Toba dan etnis lainya semoga dengan adanya tulisan mengenai kehidupan di perkebunan ini lebih terbuka lagi untuk melakukan interaksi dengan sesama Sub Etnis Batak Toba dan etnis lainnya agar terjadi hubungan yang lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Chatieb, Nazieb, 1995. Para Pendatang di Kota-Kota Sumatera Timur, Medan: Lubis, Suwardi. 1999. Komunikasi Antar Budaya (Studi Kasus Etnik Batak Toba dan Etnik
Cina), USU PRESS:Medan.
Gottschalk, Louis. 1986. Mengerti Sejarah, (terj, Nugroho Notosusanto), Jakarta: UI Press. Kartodirdjo, Sartono dan Djoko Suryo, 1994. Sejarah Perkebunan di Indonesia Kajian Sosial
Ekonomi, Yogyakarta, Aditya Media.
Kuntowijoyo. 1995. Pengantar Ilmu Sejarah, Yogyakarta: Bentang Budaya.
Lubis, Suwardi. 1999. Komunikasi Antar Budaya (Studi Kasusu Etnik Batak Toba dan Etnik
Cina), USU PRESS: Medan.
Lumbantobing, Andar M. 1996. Das Amt In Der Batak-Kirche (Terj. K.M Lumban Tobing, Ny. K. M Lumban Tobing, Jan. S. Aritonang: Makna Wibawa Jabatan Dalam Gereja), Cetakan 2, Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Melalatoa, M. Junus, 1995. Ensiklopedi Suku Bangsa Di Indonesia, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan RI.
Nainggolan, Togar.Dr.2006. BatakToba Di Jakarta Kontinuitas Dan Perubahan Identitas, Medan, Bina Media.
Pelly, Usman. 1994. Urbanisasi dan Adaptasi Peran Misi Budaya Minangkabau dan
Mandailing. Cetakan I. Jakarta: Pustaka LP5ES Indonesia.
P.T. Perkebunan VII (Persero): Selayang Pandang PT. Perekbunan VII (Persero) 1985 –
1989.
PT. Perkebunan VII (Persero): Profil Perusahaan (Company Profile) 1990 – 1994. Purba , O. H. S. dan Elvis F. Purba, 1988. Migrasi Batak Toba, Medan: Medan.
Simanjuntak, Bungaran Antonius, 2006 Struktur Sosial Dan Sistem Politik Batak Toba Hingga
1945: Suatu Pendekatan Sejarah, Antropologi Budaya Politik, Jakarta : Yayasan Obor
Indonesia.
Supranto, J, 1986. Metode Riset, Jakarta: Fakultas Ekonomi UI.
.
DAFTAR INFORMAN
1. Nama : W. Nainggolan
Umur : 58 Tahun
Pekerjaan : Pensiunan Karyawan
Alamat : Jln. Mawar Perumnas Batu 6.
2. Nama : Dawasi Siregar
Umur : 67 Tahun
Pekerjaan : Pensiunan Karyawan
Alamat : Desa Bah Joga
3. Nama : C. Daulay
Umur : 61 Tahun
Pekerjaan : Pensiunan Karyawan
Alamat : Desa Bukit Bayu
4. Nama : Amir Marpaung
Umur : 67 Tahun
Pekerjaan : Pensiunan Karyawan
Alamat : Pematang Siantar
5. Nama : Saud Pangaribuan
Umur : 67 Tahun
Pekerjaan : Pensiunan Karyawan
6. Nama : Y br. Lumban Tobing
Umur : 52 Tahun
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Dusun Sejahtera
7. Nama : R. Pakpahan
Umur : 50 Tahun
Pekerjaan : Karyawan
Alamat : Dusun Blendet
8. Nama : Dahlian Passaribu
Umur : 61 Tahun
Pekerjaan : Pensiunan Karyawan
Alamat : Desa Bah Joga
9. Nama : S. Lumban Tobing
Umur : 71 Tahun
Pekerjaan : Pensiunan Karyawan
Alamat :
10.Nama : Wartumi
Umur : 50 Tahun
Pekerjaan : Guru SD ( Pegawai Negeri Sipil)
11.Nama : Jamaludin Nasution
Umur : 68 Tahun
Pekerjaan : Pensiunan Karyawan
Alamat : Jln. Asahan Km. 12,5
12.Nama : M. Rumapea
Umur :72 Tahun
Pekerjaan : Pensiunan Karyawan
Daftar Pertanyaan
1. Kenapa datang ke Desa Bah Jambi ?
2. Masuk bekerja di PT. Perkebunan VII (Persero) Bah Jambi melamar atau ditawarkan pihak perusahaan ?
3. Informasi penerimaan ataupun ditawarkan di dapatkan dari mana ? 4. Tahun berapa PT. Perkebunan VII (persero) Bah Jambi mulai dibuka ? 5. Apa saja sarana dan prasarana yang diberikan pihak perkebunan ? 6. Kapan dibangun perumahan di Desa Bah Jambi ?
7. Bagaimana masalah konflik pihak karyawan dan perkebunan tentang masalah rumah yang masi di tempati karyawan sebagian pihak sampai pensiun ?
8. Bagaimana masalah kedudukan Sub Etnis Batak Toba dengan etnis lainnya ?
9. Baimana la kehidupan dan cara berkomunikasi Sub Etnis Batak Toba dengan sesame etnis dan etnis lainnya?
10.Bagaimana keberadaan masyarakat Sub Etnis Batak toba di PT. Perkebunan VII (Persero) Desa Bah Jambi ?
LAMPIRAN
Gambar I. Balai Karyawan PT. Perkebunan VII (Persero) Bah jambi. Balai ini dipergunakan Etnis Batak Toba dalam melakukan suatu acara dan perkumpulan. Bentuk bangunan dari tahun 1970 belum mengalami perubahan , hanya saja pada bagian belakang telah diberi ruang tambahan.
Gambar II. Wisma Pesifera adalah tempat mengadakan acara-acara untuk seluruh kegiatan yang berhubungan dengan Kehidupan karyawan. Etnis Batak Toba yang menjadi karyawan dan ingin mengadakan acara boleh mengajukan izin permohonan pemakaian gedung.
Gambar III. Pabrik Kelapa Sawit PT. Perkebunan VII (Persero) Bah Jambi, lokasi Etnis Batak Toba Desa Bah Jambi bekerja dan menjadi Karyawan.
Gambar IV. SMP Yayasan PT. Perkebunan VII (Pesero) yang merupakan sarana di bidang pendidikan untuk seluruh warga Desa Bah Jambi.