BAB III SEJARAH UMUM MADZHAB SYAFI’I DAN TARJIH
B. Tarjih Muhammadiyah
2. Kedudukan dan Tugas Majlis Tarjih
Majlis tarjih mempunyai kedudukan yang istimewa di dalam persyarikatan karena selain berfungsi sebagai “pembantu pimpinan persyarikatan”, majlis ini juga memiliki tugas untuk memberikan bimbingan keagaamaan dan pemikiran dikalangan umat Islam Indonesia pada umumnya dan warga persyarikatan Muhammadiyah khususnya.
Pada awalnya, majlis ini bertugas mentarjih pendapat-pendapat yang diperselisihkan ulama’ dan memilih pendapat yang rajih untuk dipedomani warga Muhammadiyah dalam kehidupan sehari-hari. Sejalan dengan perkembangan dan tuntutan zaman, akhirnya tugas majlis ini diperluas tidak hanya sebatas mentarjih pendapat-pendapat ulama, tetapi lebih dari itu melakukan ijtihad terhadap persoalan-persoalan baru yang tidak ada ketentuannya dalam Al-Qur’an dan Hadits.69
67http://pusattarjih.uad.ac.id/latar-bealakang/, diakses 21 Oktober 2021.
68Ilham, Apa Itu Manhaj Tarjih (27 April 2021),http://muhammadiyah.or.id/apa-itu-manhaj-tarjih/, diakses 21 Oktober 2021.
69SSopa,Manhaj Tarjih Muhammadiyah dan Implementasinya dalam Hisab Arah Kiblat dan Waktu-waktu Shalat (2016),
http://jurnal.umj.ac.id/index.php/MaA16/article/view/3820, diakses 21 Oktober 2021.
36
b. Tugas Majlis Tarjih
Secara garis besar program mejlis ini mempunyai tugas pokok:
1) Mengembangkan dan menyegarkan pemahaman dan pengalaman ajaran Islam dalam kehidupan masyarakat yang multikultural dan kompleks.
2) Mensistematisasi metodologi pemikiran dan pengalaman Islam sebagai prinsip gerakan tajdid dalam gerakan Muhammadiyah.
3) Mengoptimalkan peran kelembagaan bidang tajdid, tarjih dan pemikiran Islam untuk selalu proaktif dalam menjawab masalah riil masyarakat yang sedang berkembang.
4) Mensosialisasikan produk-produk tajdid, tarjih dan pemikiran keislaman Muhammadiyah ke seluruh lapisan masyarakat.
5) Membentuk dan mengembangkan pusat penelitian, kajian, dan informasi bidang tajdid pemikiran Islam yang terpadu dengan bidang lain.70
70http://tarjih.muhammadiyah.or.id, diakses Jum’at 4 Maret 2022.
37 BAB IV
ANALISIS HUKUM SAFAR WANITA TANPA MAHRAM DALAM PERSPEKTIF MADZHAB SYAFI’I DAN
TARJIH MUHAMMADIYAH
A. Analisis Hukum Wanita Bersafar Tanpa Mahram Perspektif Madzhab Syafi’i
1. Pandangan Madzhab Syafi’i terhadap wanita bersafar tanpa mahram
Madzhab Syafi’i membedakan hukum safar wanita tanpa mahram, antara safar wajib, safar sunnah dan safar mustahab:
a. Safar Wajib
Hukum safar menjadi wajib jika dilakukan untuk mengerjakan ibadah yang bersifar wajib. Hal ini dikarenakan safar hanyalah sebuah wasilah atau perantara yang dapat mengantarkan seseorang ke tempat yang dituju dengan niat tertentu.71 Hal ini berdasarkan kaidah yang berbunyi,
ُّمِتَي َلا اَم ٌبِجاَو َوُهَـف ِهِب هلاِإ َبِجاَوْلا
72
Artinya:
Sesuatu yang tanpanya kewajiban tidak sempurna maka hukumnya adalah wajib.
71Ronny Muhammad dkk, “ Hukum Safar Wanita Tanpa Mahram Menurut Madzhab Syafi’i dan Hambali”, Jurnal Bidang Hukum Islam 2, no.3 (2021), h. 450. Nurul Azira bintu Azizan, ”Hukum Wanita Musafir Tanpa Mahram (Study Komparatif Antara Imam Abu Hanifah dan Imam al-Syafi’i)”,Skripsi (Riau: Fak. Syari’ah dan Hukum UIN Suska Riau, 2021), h. 59.
72Muhammad al-Thahir bin ‘Asyur, Maqashid al-Syari’ah al-Islamiyah (Urdun: Daar al-Nafi’ah, 2000), h. 369.
38
Contoh dari safar wajib adalah safar untuk melaksanakan ibadah haji yang pertama kali. Ibadah haji adalah wajib, maka safar untuk melaksanakannya adalah wajib.73
Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa mahram bukan syarat yang wajib dipenuhi bagi wanita yang hendak menunaikan ibadah haji wajib, sebab yang disebut dalam hadis, yang harus dipersiapkan saat berhaji hanyalah bekal dan kendaraan. Secara umum madzhab Syafi’i juga mewajibkan adanya mahram dalam safar wanita, akan tetapi mereka mengecualikan pada safar wajib. Dalil ini menjadi dasar bagi Imam Syafi’i untuk membolehkan wanita safar untuk haji tanpa ditemani mahramnya. Imam Syafi’i juga berdalil bahwa ‘Aisyah, Ibnu ‘Umar dan Ibnu Zubair membolehkan seorang wanita melakukan safar untuk berhaji walaupun tidak ditemani mahramnya.74
Seorang mahram bukanlah syarat wajibnya haji, baik bagi wanita muda atau sudah tua, bersuami maupun belum, karenamahram hanya merupakan sarana agar dapat menjaga keamanannya, bukan tujuan. kewajiban melakukan haji itu adalah keamanan bagi dirinya dalam perjalanan. Jika dirasa tidak aman, maka berarti dia tidak mampu, sekalipun bersama mahram, tidak adanya mahram tidak mempengaruhi dan tidak bisa menghapus kewajiban tersebut.kewajiban haji tidak dibedakan antara
73Nurul Azira bintu Azizan, ”Hukum Wanita Musafir Tanpa Mahram (Study Komparatif Antara Imam Abu Hanifah dan Imam al-Syafi’i)”,Skripsi, h. 60.
74Abu Abdillah Muhammad bin Idris al-Syafi’i, al-Umm (Beirut: Daar al-Ma’rifa, 1990), h. 127.
laki maupun perempuan dari sisi keamanan itu.75Dalam hal ini tidak ada perbedaan syarat-syarat antara wanita tua ataupun wanita muda menurut pendapat yang paling rajih, jika ada sebagian orang yang membedakan antara wanita tua dan wanita muda dengan dalih bahwa wanita tua itu tidak menarik lagi, maka dalih yang semacam ini tidak bisa diterima sebab yang namanya wanita itu tetap dapat membangkitkan syahwat, berapapun umurnya, apalagi terhadap laki-laki yang seumuran dengannya.76
Imam Syafi’i juga menjelaskan dalam kitab al-Umm jilid 4, pada bab Haji Wanita dan Budak.: “Apabila ada pada yang diriwayatkan dari nabi saw. yang menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan “sabil” adalah perbekalan dan kendaraan, sedangkan ada seorang wanta yang memiliki keduanya, dan dia bersama perempuan-perempuan yang terpercaya dalam perjalana, dalam keadaan aman. Maka wanita itu termasuk orang yang wajib haji menurut saya. Allahu a’lam. Meskipun dia tidak disertai oleh mahramnya. Alasannya adalah karena Rasulullah tidak mengecualikan dalam hal yang mewajibkan haji selain bekal dan kendaraan. Apabila dia tidak bersama seorang perempuan yang merdeka, muslimah dan tepercaya, maka dia tidak boleh berangkat bersama rombongan laki-laki yang tidak ada perempuannya dan tidak ada mahram bersama mereka".77
َو
75M. Jawad al-Mughniyah, Fikih Lima Madzhab (Jakarta: lentera, 2006), h. 209-210.
76Muhammad Utsman al-Khasyt, Fikih Wanita Empat Madzhab (Jawa Barat: Ahsan Publishing, 2010), h. 170.
77Al-Imam al-Syafi’i, al-Umm, jilid 4(Jakarta Selatan: Pustaka Azzam, 2017), h. 254.
78Abu Bakar al-Baihaqy, Ma’rifah al-Sunan Wal Atsar, Jilid 7 (Mesir: Darul Wafa’, 1991), h. 506.
40
Artinya:
Kami menerima kabar dari Aisyah, ibn Umar dan’Urwah seperti pendapat kami ini, (bahwa perempuan bolehbepergian untuk haji meskipun tidak disertai oleh mahramnya).
Imam Syafi’i berpendapat wanita boleh melakukan perjalanan jauh apabila bersama wanita muslimah lainnya, yang merdeka dan dapat dipercaya.79Jika seorang wanita ingin memulai haji, maka disyariatkan untuk keluar bersama dengan mahramnya, atau dengan seorang wanita tsiqat(wanita yang dipercaya)jika perjalanannya dirasa aman. Tidak halal
baginya untuk keluar tanpa mahramatau tanpa seorang wanitapun yang di percaya untuk haji, meskipun hajinya adalah haji wajib jika perjalanannya dirasa tidak aman. Beberapa sahabat berpendapat bahwa; apabila perjalanannya aman dan terbebas dari campur baur laki-laki bersamanya maka diperbolehkan safar tanpa mahram ataupun tanpa wanita tsiqat.80 b. Safar Sunnah
Safar sunnah adalah safar yang dilakukan untuk mengerjakan perkara yang sunnah, seperti melakukan perjalanan umrah,atau melaksanakan haji yang kedua kalinya. Hal ini berdasarkan kaidah yang tersebut dalam masalah wajib di atas. Yaitu, “hukum sebuah perantara sesuai dengan hukum tujuannya”.
Sebagian ulama Madzhab Syafi’i membolehkan wanita melakukan safar sunnah tanpa mahram jika bersama rombongan wanita atau seorang
79Wahbah al-Zuhail, Fiqih Islam Wa Adillatuhu, Jilid 3 (Daar Fikr, t.th), h. 391.
80Al-Alamah Abu al-Hasan al-Mawardiy, al-Hawa al-Kabir al-Mawardiy, Juz 6 (Baerut: Dar Fikr, t.th), h. 924.
wanita terpercaya jika perjalanan aman sebagaimana halnya safar wajib, akan tetapi pendapat ini bukan pendapat yang dipegang oleh Imam al-Nawawi.
c. Safar Mustahab
Safar mustahab bisa dikatakan safar yang dilakukan untuk hal-hal yang mubah, seperti berdagang, bertamasya, maupun untuk pekerjaan yang lain. Mengenai safar mustahab ini ulama’ Syafi’iyyah membolehkan wanita bersafar tanpa mahram, baik pada safar mubah maupun tha’ah.81
2. Dasar hukum madzhab syafi’i yang dijadikan sebagai dalil sebagai berikut:
a. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari
اَكَشَف ٌلُجَر ُهَتََأ ْذِإ َمهلَسَو ِهْيَلَع ُالله ىهلَص ِيِبهنلا َدْنِع َناَأ اَنْـيَـب :َلاَق ، ِتِاَح ِنْب ِييِدَع ْنَع
saw. Tiba-tiba ada seorang laki-laki mendatangi beliau mengeluhkan kefakirannya, kemudian ada lagi seorang laki-laki yang mendatangi81Abi Zakariyya Muhyiddin Yahya ibn Syaraf Nawawi, Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, h. 116.
82Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Jilid 4, h. 197.
42
beliau mengeluhkan para perampok jalanan. Maka beliau berkata: wahai
‘Adi apakah kamu pernah melihat negeri al-Hirah?. Aku menjawab: aku belum pernah melihatnya namun aku pernah mendengar beritanya.
Beliau berkata: seandainya kamu diberi umur yang panjang, kamu pasti akan melihat seorang wanita yang mengendarai kendaraan panjang dari al-Hirah hingga melakukan thawaf di Ka’bah tanpa takut kepada siapapun kecuali kepada Allah. Aku berkata dalam hati: Di mana para perampok suku Tha’iy yang telah mengorbankan api fitnah diseluruh pelosok negeri.
b. Madzhab Syafi’i menggunakan dalil perbuatan ‘Umar ra. yang mengizinkan istri-istri Rasulullah saw. untuk melakukan ibadah haji :
،ِهِيدَج ْنَع ،ِهيِبَأ ْنَع ،ُميِهاَرْـبِإ اَنَـثهدَح :ُّيِقَرْزَلْا َوُه دهمَُمح ُنْب ُدَْحَْأ ِلِ َلاَق
Berkata kepadaku Ahmad bin Muhammad, dia adalah al-Azraqi, diceritakan kepada kami Ibrahim, dari bapaknya, dari kakeknya: (Umar telah mengizinkan istri-istri nabi diakhir hajinya untuk melaksanakan ibadah haji, maka ‘Umar mengutus bersama mereka Usman bin Affan dan Abdurrahman bin ‘Auf).
Hadis tersebut berisikan tentang pujian pada suatu perbuatan, ini menunjukan atas kebolehan suatu perbuatan. Sebaliknya hadis yang mengandung celaan kepada suatu perbuatan menunjukan keharaman perbuatan tersebut.84
83Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Jilid 3, h. 19.
84Badruddin Abu Muhammad Mahmuddin Ahmad ‘Aini, Umdatul Qari Syarhu al-Bukhari (Beirut: Daar al-Ihya at-Turas al-Arabi, t.th), h.148.
B. Hukum Wanita Safar Tanpa Mahram Perspektif Tarjih Muhammadiyah.
Terdapat beberapa ketentuan dalam himpunan putusan tarjih yang harus diperhatikan terkait hukum safarnya wanita sebagai berikut:
1. Boleh bersama mahram
Wanita diperbolehkan melakukan perjalanan sehari atau lebih apabila disertai mahramnya. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Muslim,
يِعَس اَنَـثهدَح ، بْئِذ ِبَِأ ِنْبا ِنَع ُالله ىهلَص ِيِبهنلا ِنَع ،َةَرْـيَرُه ِبَِأ ْنَع ،ِهيِبَأ ْنَع ، ديِعَس ِبَِأ ُنْب ُد
: َلاَق َمهلَسَو ِهْيَلَع يِذ َعَم هلاِإ مْوَـي َةَيرِسَم ُرِفاَسُت ،ِرِخ ْلآا ِمْوَـيْلاَو ِللهِبا ُنِمْؤُـت ةَأَرْم ِلا ُّلَِيَ َلا «
مَرَْمح
»
85
Artinya:
Dari Ibn Abi Dzi’bin, berbicara kepada kami Sa’id bin Abi Sa’id, dari bapaknya, dari Abi Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ia berkata: (tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir, bepergian selama perjalanan sehari kecuali bersama dengan mahramnya).
ُتْعَِسَ :َلاَق ،هيِرْدُْلْا ديِعَس َباَأ ُتْعَِسَ :َلاَق ،َةَعَزَـق ُتْعَِسَ :َلاَق ، ْيرَمُع ِنْب ِكِلَمْلا ِدْبَع ْنَع ا َرِفاَسُت ْنَأ ىَهَـن ، ِنَِنْقَـنآَو ِنَِنْـبَجْعَأَف ااعَـبْرَأ َمهلَسَو ِهْيَلَع ُالله ىهلَص ِالله ِلوُسَر ْنِم َةَيرِسَم ُةَأْرَمْل
ِثيِدَْلحا َيِقَبا هصَتْـقاَو مَرَْمح وُذ ْوَأ ،اَهُجْوَز اَهَعَمَو هلاِإ ،ِْينَمْوَـي
86
85Muslim Bin Hajjaj Abu Hasan al-Qusyairi al-Naisabury, Shahih Muslim, Juz 2.(Baerut: Daar Ihya’ al-Tutays al-Arabiy, t.th) h. 977
44
Artinya:
Dari Abdul malik bin ‘Umair, ia berkata: saya mendengar faza’ah berkata: saya mendengar Abu Sa’id al-Khudriy ia berkata: empat perkara yang saya mendengar dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam yang membuat aku takjub dan kagum, yaitu: janganlah seorang wanita safar sejauh dua hari (perjalanan) tanpa disertai suami atau mahramnya.
2. Boleh dalam urusan syara’dan dalam keadaan aman
Diperbolehkan bagi wanita bepergian atau melakukan perjalanan sehari atau lebih apabila dimaksudkan untuk keperluanyang diizinkan syara’ dan dalam keadaan aman. Alasan ini diperkuat dengan hadis Shallallahu ‘alaihi wasallam. Tiba-tiba ada seorang laki-laki mendatangi beliau mengeluhkan kefakirannya, kemudian ada lagi seorang laki-laki yang mendatangi beliau mengeluhkan para perampok jalanan. Maka beliau berkata: wahai ‘Adi apakah kamu pernah melihat negeri al-Hirah?. Aku menjawab: aku belum pernah melihatnya namun aku pernah mendengar beritanya. Beliau berkata: seandainya kamu diberi umur yang panjang, kamu pasti akan melihat seorang wanita yang mengendarai kendaraan panjang dari al-Hirah hingga melakukan
86Muslim Bin Hajjaj Abu Hasan al-Qusyairi al-Naisabury, Shahih Muslim, Juz 2, h. 976.
87Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Jilid 4, h. 197.
thawaf di Ka’bah tanpa takut kepada siapapun kecuali kepada Allah.
Aku berkata dalam hati: Di mana para perampok suku Tha’iy yang telah mengorbankan api fitnah diseluruh pelosok negeri.
Sebagaimana ketentuan di atas, maka himpunan putusan tarjih berpendapat bahwa hal ini mauquf, artinya majelis tarjih belum dapat memutuskan apakah boleh atau tidak wanita bersafar seorang diri tanpa disertai mahramnya.88
88Majlis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Himpunan Putusan Tarjih 3 (Cet. I Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2018), h. 285.
46 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dari penelitian yang peneliti lakukan, dengan judul
”Hukum Wanita Safar Tanpa Mahram Perspektif Madzhab Syafi’i dan Tarjih Muhammadiyah”, peneliti mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Madzhab Syafi’i membedakan hukum safar wanita tanpa mahram, antara safar wajib, safar sunnah dan safar mustahab.
a. Safar wajib
Jika seorang wanita ingin memulai haji wajib, maka disyariatkan untuk keluar bersama dengan mahramnya, atau dengan seorang wanita tsiqat(wanita yang dipercaya)jika perjalanannya dirasa aman. Tidak halal
baginya untuk keluar tanpa mahramatau tanpa seorang wanitapun yang di percaya untuk haji, meskipun hajinya adalah haji wajib jika perjalanannya dirasa tidak aman.
b. Safar sunnah
Sebagian ulama madzhab Syafi’i membolehkan wanita melakukan safar sunnah tanpa mahram jika bersama rombongan wanita atau seorang wanita terpercaya jika perjalanan aman sebagaimana halnya safar wajib, akan tetapi pendapat ini bukan pendapat yang dipegang oleh Imam al-Nawawi.
c. Safar mustahab
Mengenai safar mustahab ini ulama’ Syafi’iyyah membolehkan wanita bersafar tanpa mahram, baik pada safar mubahmaupun tha’ah.
2. Adapun dalam tarjih Muhammadiyah diperbolehkan melakukan perjalanan sehari atau lebih apabila disertai mahramnya, dan diperbolehkan bagi wanita bepergian atau melakukan perjalanan sehari atau lebih apabila dimaksudkan untuk keperluan yang diizinkan syara’
dan dalam keadaan aman. Namun sebagaimana ketentuan diatas, maka himpunan putusan tarjih berpendapat bahwa hal ini mauquf, artinya majelis tarjih belum dapat memutuskan diantara keduanya.
B. Saran
1. Diharapkan kepada wanita untuk tidak melakukan perjalanan jauh tanpa mahram apabila tidak mempunyai kepentingan yang mendesak.
2. Diharapkan kepada wanita yang ingin bersafar sedangkan tidak memiliki mahram yang dapat menemani,agar memperhatikan keamanan dirinya, keamanan transportasi dalam perjalanannya, atau dapat mencari seorang wanita yang terpercaya untuk menemaninya.
48 DAFTAR PUSTAKA
Kementrian Agama RI, Al-Qur’an al-Karim dan Terjemahannya, Bandung:
Cordoba, 2019 M.
Arfan, Abbas. Fiqih Ibadah Praktis Cet. I, Malang: UIN Maliki Press, 2011.
Abi Bakr, Al-Allamah Fathil Al-Sayyid. I’anah Talibin,Al-Arabiyah: Dar al-Ihyaul al-Kutub al-Arabiah, t.th.
Abdurrahman, Asjmuni. Manhaj Tarjih Muhammadiyah, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.
Abdullah, M. Husain. al-Wadhih fi Ushul al-Fiqh, Beirut: Darul Bayariq, 1995.
Ali Syaikh, Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq. Lubabu al-Tafsir Min Ibnu Katsir, Kairo: Mu’assasah Dar al-Hilal, 1994.
al-Albani, Muhammad Nasiruddin. Fiqih Sunnah,Jakarta: Cakrawala Publishing, 2008.
Arfan, Abbas. Fiqih Ibadah Praktis Cet. I, Malang: UIN Maliki Press, 2011.
A Endraswara, Sumber dan Jenis Data,
http://repository.unika.ac.id/13303/4/12.60.0261%20Argita%20Endrasw ara%20BAB%20III.pdf diakses 28 Oktober 2021.
A. Sirry, Mun’im. Sejarah Fiqih Islam, Sebuah Pengantar, Surabaya: Risalah Gusti, 1995.
al-‘Aini,Badruddin Abu Muhammad Mahmuddin Ahmad. Umdatul Qari Syarhu al-Bukhar, Bairut: Daar al-Ihya at-Turas al-Arabi, t.th.
Anwar, Syamsul. Manhaj Tarjih Muhammadiyah, Yogyakarta, Januari 2018 M.
al-Baihaqy, Abu Bakar. Ma’rifah al-Sunan Wal Atsar,Mesir: Darul Wafa’, 1991.
al-Bukhari, Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhar, Dar Thuq al-Najah, 1422 H, al-Maktabah al-Syamilah.
Bungin, Burhan. Metodologi Penelitian Kualitatif Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003.
Bintu Azizan, Nurul Azira. ”Hukum Wanita Musafir Tanpa Mahram, Study Komparatif Antara Imam Abu Hanifah dan Imam al-Syafi’i”, Skripsi, Riau: Fak. Syari’ah dan Hukum UIN Suska Riau, 2021.
Dahlan, Abdul Aziz dkk, Ensiklopedi Hukum Islam, Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1997.
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, Cet. IX; Jakarta: PT Ichtiar Van Hoeve, 2001.
Hasan, M. Ali. Perbandingan Madzhab, Jakarta: Grafindo Persada, 2000.
Ibn ‘Asyur, Muhammad al-Thahir. Maqashid al-Syari’ah al-Islamiyah, Urdun:
Daar al-Nafi’ah, 2000.
Ibn Rusydi. Bidayatu Mujtahid, juz II, Arabiah: Dar Ihya Kutub al-Arabiyah, t.th.
Ilham, Apa Itu Manhaj Tarjih (27 April 2021), http://muhammadiyah.or.id/apa-itu-manhaj-tarjih/, diakses 21 Oktober 2021.
Izuddin, Ahmad Dkk, Bimbingan Musafir, Jakarta: Kementrian Agama RI, 2003.
al-Khasyt, Muhammad Utsman. Fikih Wanita Empat Madzhab, Jawa Barat:
Ahsan Publishing, 2010.
Koto, el-Majid Elimin. Tuntunan Safar Empat Madzhab, Cet. 1, Jakarta: Sahara Punlishers, 2006.
Khallaf, Abdul Wahhab. Sejarah Legislasi Islam (Perkembangan Hukum Islam), Terj. A Sjinqithy Djamaluddin, Surabaya: al-Ikhlas, 1994.
Muhammad bin ‘Abd Rahman ibn ‘Abd Rahim Mubarakfuri, Tuhfah al-Ahwazi (Dar al-Fikr, t.th).
al-Maqdisi, al-Imam IbnuQudamah. MukhtasharMinhaj al-Qoshidin, Jakarta:
Darul Haq,1441 H, h. 215.
Munawwir,AhmadWarson.Kamus al-Munawwir, Surabaya: Penerbit Pustakaprogressif, 2002 M.
Mahmuddin , Ronny Dkk, “Hukum Safar Wanita Tanpa Mahram Menurut Madzhab Syafi’i dan Hambali”, Jurnal Bidang Hukum Islam 2, no. 3 (2021).
Ma’luf, Louis. Munjidu al-Thullab, Beirut: al-Katsulikiyyah, 1908 H.
Mughniyah, Muhammad Jawad. Fiqih Lima Madzhab, Jakarta: Lentera, 2004.
al-Mawardiy, Al-Alamah Abu al-Hasan. al-Hawa al-Kabir al-Mawardiy, Bairut:
Dar Fikr, t.th.
Majlis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Himpunan Putusan Tarjih 3, Cet. I Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2018.
al-Nawawi, Muhyiddin AbuZakariyya bin Syaraf. Syarah Shahih Muslim, Jilid 5 Beirut: DarulKitab, t.th.
al-Naisaburi, Abul Hasan Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi. Shahih Muslim, Juz II, Beirut: Dar Ihyaa’ al-Turast al-‘Arabiy, t.th.
Ningrum, Nafiul Lubab dan Novita Panca.
http://journal.iainkudus.ac.ic/index.php/yudisia/article/download/1462/13 40, diakses pada 15 Oktober 2021.
Pulungan, Enny Nazrah. Pelaksanaan Haji Wanita Tanpa Suami atau Mahram (Analisis Terhadap Pendapat Imam Abu Hanifah dan Pelaksanaannya di Indonesia), Skripsi.
al-Qaththan, Manna’. Mabahits fi ‘Ulum al-Hadis, Bairur: Dar Fikr, 1989.
Rakhmat, Jalaludin Metode Penelitian Komunikasi, Bandung, Remaja Rosda Karya, 2000.
R Rahmatullah, Konsep Mahram dalam Perspektif Al-Qur’an, Bandung:
Pustaka, 2017 M.
al-Syafi’i, Abu Abdillah Muhammad bin Idris, al-Umm, Bairut: Daar al-Ma’rifa, 1990.
Salim, Abu Malik Kamal bin al-Sayyid. Ensiklopedi Fiqih Wanita,Cet. V, Bogor:
Pustaka Ibnu Katsir, 2006, h. 76.
50
Salim, Abi Malik Kamal bin al-Sayyid. Shahih Fiqih Sunnah wa Adillatuhu,Mesir: al-Maktabah al-Taufiqiyyah, 2013 M.
Sarwat, Ahmad. Wanita Yang Haram Dinikahi, Jakarta Selatan: Rumah Fiqih Publishing, 2018 M.
Soemiyati. Hukum Perkawinan Islam dan Undang-undang Perkawinan, Yogyakarta: Liberty, 2007 M.
al-Syarbini, Syam al-Din Muhammad bin al-Khatib. Mugni al-Muntaj Ilaa Ma’rifat Ma’ani alfaz al-Muhtaj, Juz III, Beirut: Dar al-Fikr, 2005.
al-Syaukani , Al-Imam. Ringkasan Nailul Authar,Jakarta: Pustaka Azzam, 2006.
S Sopa, Manhaj Tarjih Muhammadiyah dan Implementasinya dalam Hisab Arah Kiblat dan Waktu-waktu Shalat (2016),
http://jurnal.umj.ac.id/index.php/MaA16/article/view/3820, diakses 21 Oktober 2021.
Thalib, Ismail. Imam Syafi’i Mujtahid Tradisional yang Dinamis, Jakarta: Kalam Mulia, 1999.
al-Utsaimin, Muhammad bin Shalih. Syarah Shahih al-Bukhari,Jakarta: Darus Sunnah, 2016.
Yanggo, Huzaemah Tahido. Pengantar Perbandingan Madzhab, Jakarta: Ciputat Press, 2003.
al-Zuhaili, Wahbah. Fikih Islam Wa Adillatuhu, Jakarta: Darul Fikr, 2011.
al-Zuhail, Wahbah. Ushul al-Fiqh al-Islami, Damaskus: Dar Fikr, 2001.
http://www.djkn.kemenkue.go.id/artikel/baca/12773/Memahami-metode-penelitian-kualitatif.html diakses 23 oktober 2021.
http://www.info.populix.co/post/data-primer-adalah , diakses 28 Oktober 2021.
https://www.instagram.com/tv/CaUSRZBO681/?utm_medium=copy_link, diakses 24 Februari 2022, Jam 08:35.
http://pusattarjih.uad.ac.id/latar-bealakang/, diakses 21 Oktober 2021.
http://tarjih.muhammadiyah.or.id, diakses Jum’at 4 Maret 2022.
RIWAYAT HIDUP
Herfina Oktaviana, lahir di desa Lambur Luar kecamatanMuara Sabak Kabupaten Tanjung Jabung TimurProvinsiJambi, pada tanggal 09 Oktober 1995. Merupakan anak ke-2dari empat bersaudara,Herfandi Oktavianto, Herfina Oktaviana, Fitriana dan Firdaus.
Lahir dari rahim seorang ibu yang luar biasaHerawati dan ayah yang hebat Arifin.
Riwayat pendidikan yang pernah ditempuh yaitu: SDN 015 (sekarang SDN 013) Pulau Kecil-kec. Reteh-Kab. Indragiri Hilir-Prov. Riau pada tahun 2001-2006, SMP Islam Ihyaul Ummah Pulau Kecil-Reteh-Indragiri Hilir-Riau pada tahun (2006-2009). Kemudian melanjutkan jenjang pendidikan SMA Islam al-Husniyah di Pulau Kijang- Reteh- Indragiri Hilir- Riau namun hanya satu semester kemudian berpindah ke Pondok Pesantren KMI ASSALAM Bangilan-Tuban-Jawa Timur jurusan bahasa pada tahun (2011-2015), kemudian mengabdikan diri sebagai tenagapengajar dan pembina di Pondok Pesantren Darul Rahman Tempuling- Riau selama satu Tahun. Kemudian Mengambil program Diploma Dua (D2) Pendidikan Bahasa Arab dan Studi Islam Ma’had Al-Birr Universitas Muhammadiyah Makassar selama 1,5 tahun (2016-2018), setelah itu melanjutkan program Strata Satu (S1) pada program studi Hukum Keluarga (Ahwal Syakhshiyah) Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar (2018-2022).
Selama menempuh pendidikan Strata satu (S1) di program Hukum Keluarga (Ahwal Syakhshiyah) penulis bergabung di organisasi Himpunan Mahasiswa Program Studi Ahwal Syakhshiyah (Himaprodi ASY) sebagai Ketua Bidang Kemuslimahan periode 2020/2021. Sebelum menyelesaikan Strata 1 (Satu).Penulis juga mengikuti program pengabdiankepada masyarakat (PkM) dan ditempatkan di Pondok Pesantren Al-FattahMuhammadiyah Salomekko, kabupaten Bone selama satu tahun.