• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II WEWENANG KEPOLISIAN DAN KEDUDUKAN HAK-HAK

B. Kedudukan Hak-Hak Unjuk Rasa di Malaysia dan

Pengertian unjuk rasa atau demonstrasi ( demo ) adalah sebuah gerakan protes yang dilakukan sekumpulan orang di hadapan umum.27 Unjuk rasa biasanya dilakukan untuk menyatakan pendapat kelompok tersebut atau menentang kebijakan yang dilaksanakan suatu pihak atau dapat pula dilakukan sebagai sebuah upaya penekanan secara politik oleh kepentingan kelompok. Unjuk rasa umumnya dilakukan oleh kelompok mahasiswa yang menentang kebijakan pemerintah, atau para buruh yang tidak puas dengan perlakuan majikannya. Namun unjuk rasa juga dilakukan oleh kelompok-kelompok lainnya dengan tujuan lainnya.28 Sementara perkataan (de·mon·stra·si) pernyataan protes yg dikemukakan secara massal; unjuk rasa. adapun menurut Oxford Dictionary (de.mon.stra.ion) (also informal demo especially in BrE) [C] ~ (against sb/sth) a public meeting or march at which people show that they are protesting against or supporting sb/sth: to take part in / go on a demonstration to hold / stage a demonstration mass demonstrations in support of the exiled leader anti-government demonstrations a peaceful / violent demonstration.)29

unjuk rasa sebagai cara menyampaikan pendapat adalah hal yang biasa dalam negara yang menganut demokrasi. Namun, etika tetap harus dijaga. Pengunjuk rasa harus

27

Y. Istiyono Wahyu dan Ostaria Silaban, Kamus Pintar Bahasa Indonesia, (Batam, Karisma Publishing Group, 2006), h. 200.

28

Tim Prima Pena, Kamus Ilmiah Populer Referensi Ilmiah Ideologi, Politik, Hukum, Ekonomi, Budaya,

dan Sains, (Surabaya: Gitamedia Press, 2006), cet. I, h. 39 29

berangkat dari niat baik demi kemajuan bangsa dan negara, karena bagaimanapun juga unjuk rasa merupakan elemen dari demokrasi guna mengemukakan pendapat, bukan memaksakan kehendak. Unjuk rasa harus menjunjung etika dan tidak boleh melakukan kekerasan. Unjuk rasa, apalagi dengan jumlah massa yang besar, tak harus menimbulkan ketakutan dalam diri warga lainnya. Tetapi siapa yang berani menjamin keadaan bisa terkendali seperti itu? Sebab pada kenyataannya yang terjadi lebih sering sebaliknya.

Pada setiap kegiatan unjuk rasa, kata-kata kotor seakan menjadi lagu wajib yang harus dinyanyikan dengan penuh semangat sebagai media guna mencaci maki, menghasut, bahkan tidak jarang memprovokasi sehingga berujung pada anarki.30 Jika sudah demikian, pelajaran demokrasi, akhlaq, dan budi pekerti yang diajarkan di sekolah seolah sama sekali tak lagi berarti. Sungguh mengherankan dalam keadaan seperti ini masih saja ada

orang berucap “Inilah Pendidikan Politik!”31

1. kedudukan Hak-Hak Unjuk Rasa Di Malaysia

Apa yang terkait terhadap hak unjuk rasa ditempat umum hanyalah menfokuskan hak yang terkait berpolitikan, seperti demontrasi massa berkaitan hak melibatkan ketidakpuasan terhadap pemerintahan, ekonomi, sosial dan sebagainya. Dalam hal ini, konstitusi Malaysia telah menyatakan bahwa hak kebebasan warga negara atau hak

30

Dede Rosyada, dkk., Pendidikan Keawarganegaraan (Civic Education): Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Masyrakat Madani, (Jakarta: Tim ICCE UIN Syyarif Hidayatullah Jakarta dan Prenada Media, 2003), Cet. I, Edisi Revisi, h. 202

31

Michael Rush and Phillip Althoff, Pengantar Sosialogi politik, (Jakarta: PT Raja Grafindo Perseda,

kewarganegaraan merupakan status istimewa yang harus dinikmati oleh warga dalam sebuah negara. Kedudukan ini memberikan hak dan kemudahan tertentu. Status kewarganegaraan ini juga sekaligus menuntut tanggung jawab tertentu pula. Hak-hak yang diperoleh oleh seorang warga negara yaitu:

1. Berhak menjadi pemilih dalam pemilihan raya (pemilihan umum);

2. Berhak untuk turut ikut atau aktif dalam politik termasuk berkompetisi dalam pemilihan raya untuk menduduki jabatan politik seperti menteri dan lain-lain;

3. Berhak mengisi jabatan ekslusif yang dikhususkan untuk warga negara saja;

4. Bebas memiliki tanah serta layak dipertimbangkan untuk mendapat keistimewaan-keistimewaan yang berhubungan dengan pembangunan harta;

5. Berhak menerima berbagai faedah dan kemudahan dalam negerinya termasuk pelayanan, pendidikan dan sebagainya;

6. Bebas bergerak dalam negeri; dan

7. Tidak boleh dibuang atau diasingkan ke luar negeri.32

Kebebasan untuk berunjuk rasa dijamin di dalam Konstitusi Malaysia, sebagaimana yang diatur di dalam pasal 10 bahwa, “ setiap orang bebas untuk mengeluarkan pendapat, berkumpul dan lain-lain”. Perlembagaan Persekutuan menjamin kebebasan berpendapat, berkumpul dan sebagainya. Walau bagaimanapun parlemen dapat memberikan batasan yang dirasakan perlu demi menjaga keselamatan Persekutuan dan negara-negara bagian untuk ketentaraman umum.

32

Tun Mohd Salleh Abas, Prinsip Perlembagaan dan Pemerintahan di Malaysia, cet. III, (Ampang/Hulu

Kebebasan mengeluarkan pendapat ini dibatasi dengan kata-kata yang tidak menjadi fitnah, provokatif, tidak menghina Pengadilan dan kata-kata yang melanggar hak keutamaan Parlemen dan Dewan Negeri. Mengeluarkan kata-kata fitnah dapat dikategorikan sebagai tindak pidana. Barang siapa yang berkata, menulis, mencetak, menjual atau menyebarkan perkataan-perkataan yang bersifat provokatif dapat dianggap oleh undang-undang telah melakukan kesalahan yang dapat dihukum hingga lima tahun penjara atau denda RM 5000.33 Pasal 28 Akta Keselamatan Dalam Negeri menyebutkan bahwa siapa saja yang menyebarkan berita palsu yang menakut-nakuti masyarakat umum, demikian juga dibuat dengan ucapan atau pun tulisan dapat dianggap telah melakukan suatu kesalahan.

Bahan-bahan tertulis diawasi oleh undang-undang, jika seseorang hendak membuka atau mendirikan penerbitan atau pun surat kabar (media cetak), harus terlebih dahulu mendapatkan izin dari Menteri Dalam Negeri, setiap surat kabar atau bentuk tulisan apa pun hendaklah memiliki dan mencantumkan nama dan alamat penerbitnya dalam bahasa Melayu atau bahasa Inggris di halaman depan atau akhir. Ketentuan ini menunjukkan bahwa Pemerintah mempunyai wewenang untuk menutup setiap surat kabar (media cetak), buku-buku atau pun bahan-bahan bertulis lainnya agar perizinan itu tidak dipersalahkan gunakan. Bahkan sangat penting bagi pemerintah mengawasi penerbitan-penerbitan surat kabar (media cetak) atau buku-buku secara tegas yang mungkin dapat

33

merusak suasana politik dan keamanan di Malaysia.34

Pengawasan kebebasan berpendapat bukan hanya dalam bentuk tulisan dan ucapan saja, bahkan juga dalam setiap permainan, pertunjukan, hiburan atau acara-acara yang serupa dengan itu. Menteri Dalam Negeri dapat menutup atau melarang setiap acara jika dianggap dapat mengakibatkan gangguan keamanan negara Malaysia. Untuk menjamin bahwa sekolah-sekolah, tempat-tempat atau yayasan-yayasan pendidikan digunakan hanya untuk mendapatkan pendidikan dan terhindar dari ajaran-ajaran politik komunis serta ajaran-ajaran yang dapat menggangu keamanan negara, maka Pemerintah berwenang:

(a) Membuat Undang-undang supaya tidak melantik guru atau pensyarah (Dosen) yang akan membahayakan kepentingan negara;

(b) Membuat Undang-undang supaya menutup setiap sekolah atau lembaga pendidikan, jika sekolah atau lembaga pendidikan tersebut digunakan untuk mengganggu kepentingan negara; dan

(c) Membuat Undang-undang supaya para pelajar, mahasiswa, guru dan dosen tidak boleh membuat perkumpulan (organisasi) kecuali telah mendapat izin dari polisi.35 Dalam hal kebebasan berkumpul, hendaklah dalam keadaan aman dan tidak bersenjata, Parlemen dapat membuat Undang-undang untuk menjaga kepentingan dan keselamatan negara. Berdasarkan Poin 27 Akta Polis 1967, setiap perhimpunan, perkumpulan atau pertemuan (konvensi) hendaklah dilakukan dengan mendapat izin dari polisi terlebih

34

Tun Mohd Salleh Abas, Prinsip Perlembagaan dan Pemerintahan di Malaysia, h. 302 35

dahulu dan polisi berwenang tidak mengeluarkan izin tersebut jika dianggap bahwa perhimpunan, perkumpulan atau pertemuan itu akan membahayakan keselamatan negara. Jika perhimpunan, perkumpulan atau pertemuan (konvensi) dilakukan tanpa mendapat izin, polisi berhak menghentikan dan membubarkannya dan setiap orang yang bertanggung jawab dapat dihukum karena melakukan kesalahan.

Kemudian kebebasan untuk membentuk persatuan atau organisasi, ada undang-undang yang mengaturnya juga, yaitu Akta Pertubuhan tahun 1966. berdasarkan Pasal 5 Akta ini, Menteri Dalam Negeri berhak membuat keputusan yaitu suatu organisasi adalah dilarang keras jika organisasi tersebut digunakan untuk tujuan yang dapat membahayakan kepentingan dan keamanan negara. Suatu lembaga atau organisasi yang termasuk dalam jenis di atas tidak boleh didaftarkan, dan jika telah terdaftar maka akan dicabut keabsahannya.36

Dari penjelasan di atas, dapat di pahami bahwa adanya pengaturan dalam undang-undang tentang pembatasan hak dan kebebasan warga negara, ditujukan untuk menjaga dan memelihara kepentingan serta keamanan negara. Jika undang-undang yang dibuat oleh Parlemen telah menghalangi warga negaranya untuk bebas bergerak di wilayah Malaysia atau membatasi kebebasan berpendapat, berkumpul atau berorganisasi, kebebasan beragama dan lain-lain, karena pembatasan yang dibuat itu adalah untuk menjaga keselamatan dan keamanan negara, maka Undang-undang tersebut adalah sah dan tidak boleh ditentang demikianlah penjelasan tentang hak dan kewajiban warga negara Malaysia yang diatur dalam Perlembagan.

36

2. Kedudukan Hak-Hak Unjuk Rasa Di Indonesia

Disini, akan menjelaskan hak-hak unjuk rasa yang sudah termuat di dalam undang-undang adalah ;37

a. bahwa kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum adalah hak asasi manusia yang dijamin oleh Undang Undang Dasar 1945 dan Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia;

b. bahwa kemerdekaan setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat di muka umum merupakan perwujudan demokrasi dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara;

c. bahwa untuk membangun negara demokrasi yang menyelenggarakan keadilan sosial dan menjamin hak asasi manusia diperlukan adanya suasana yang aman, tertib, dan damai;

d. bahwa hak menyampaikan pendapat di muka umum dilaksanakan secara bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan yang berlaku; e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b, c, dan d,

perlu dibentuk Undang-undang tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat Di Muka Umum.

Mengingat: Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 28 Undang Undang Dasar 1945; Dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia memutuskan:

37

UNDANG-UNDANG Nomor 9 Tahun 1998, tentang Kemedekaan Menyatakan Pendapat di Muka Umum

Menetapkan Undang-Undang Dewan tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.

Kemerdekaan menyampaikan pendapat tersebut sejalan dengan Pasal 19 Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia yang berbunyi: "Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat, dalam hak ini termasuk kebebasan mempunyai pendapat dengan tidak mendapat gangguan dan untuk mencari, menerima dan menyampaikan keterangan dan pendapat dengan cara apa pun juga dan dengan tidak memandang batas-batas".Perwujudan kehendak warga negara secara bebas dalam menyampaikan pikiran secara lisan dan tulisan dan sebagainya harus tetap dipelihara agar seluruh tatanan sosial dan kelembagaan baik infrastruktur maupun suprastruktur tetap terbebas dari penyimpangan atau pelanggaran hukum yang bertentangan dengan maksud, tujuan dan arah dari proses keterbukaan dalam pembentukan dan penegakan hukum sehingga tidak menciptakan disintegrasi sosial, tetapi justru harus dapat menjamin rasa aman dalam kehidupan masyarakat.

Kesimpulannya dengan demikian, maka kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, sejalan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip hukum internasional sebagaimana tercantum dalam Pasal 29 Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia yang antara lain menetapkan sebagai berikut:38

38

Dede Rosyada, dkk, Demokrasi Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani, (Jakarta: ICCE UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2003), cet. I h. 73

1. setiap orang memiliki kewajiban terhadap masyarakat yang memungkinkan pengembangan kepribadiannya secara bebas dan penuh;

2. dalam pelaksanaan hak dan kebebasannya, setiap orang harus tunduk semata-mata pada pembatasan yang ditentukan oleh undang-undang dengan maksud untuk menjamin pengakuan dan penghargaan terhadap hak serta kebebasan orang lain, dan untuk memenuhi syarat-syarat yang adil bagi moralitas, ketertiban, serta kesejahteraan umum dalam suatu masyarakat yang demokratis;

3. hak dan kebebasan ini sama sekali tidak boleh dijalankan secara bertentangan dengan tujuan dan asas Perserikatan Bangsa Bangsa. Dikaitkan dengan pembangunan bidang hukum yang meliputi materi hukum, aparatur hukum, sarana dan prasarana hukum, budaya hukum dan hak asasi manusia, pemerintah Republik Indonesia berkewajiban mewujudkannya dalam bentuk sikap politik yang aspiratif terhadap keterbukaan dalam pembentukan dan penegakan hukum. 39

Bertitik tolak dari pendekatan perkembangan hukum, baik yang dilihat dari sisi kepentingan nasional maupun dari sisi kepentingan hubungan antar bangsa, maka kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum harus berlandaskan:

1. asas keseimbangan antara hak dan kewajiban; 2. asas musyawarah dan mufakat;

3. asas kepastian hukum dan keadilan; 4. asas proporsionalitas;

39

5. asas manfaat.

Kelima asas tersebut merupakan landasan kebebasan yang bertanggung jawab dalam berpikir dan bertindak untuk menyampaikan pendapat di muka umum. Berlandaskan atas kelima asas kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum tersebut maka pelaksanaannya diharapkan dapat mencapai tujuan untuk:40

1. mewujudkan kebebasan yang bertanggung jawab sebagai salah satu hak asasi manusia sesuai dengan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945;

2. mewujudkan perlindungan hukum yang konsisten dan berkesinambungan dalam menjamin kemerdekaan menyampaikan pendapat;

3. mewujudkan iklim yang kondusif bagi berkembangnya partisipasi dan kreativitas setiap warga negara sebagai perwujudan hak dan tanggung jawab dalam kehidupan berdemokrasi;

4. menempatkan tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, tanpa mengabaikan kepentingan perorangan atau kelompok.

Sejalan dengan tujuan tersebut di atas rambu-rambu hukum harus memiliki karakteristik otonom, responsif dan mengurangi atau meninggalkan karakteristik yang represif. 41 Dengan berpegang teguh pada karakteristik tersebut, maka Undang-undang tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat Di Muka Umum, merupakan ketentuan

40

Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Poiltik, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama,2008) cet. I, h. 372

41

Dede Rosyada, dkk, Demokrasi Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani, (Jakarta: ICCE UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2003), cet. I h. 73

peraturan perundang-undangan yang bersifat regulatif, sehingga di satu sisi dapat melindungi hak warga negara sesuai dengan Pasal 28 Undang Undang Dasar 1945.

Dokumen terkait