BAB II: KEDUDUKAN HAK KEBEBASAN BERAGAMA DI LINGKUP
B. Kedudukan Hak Kebebasan Beragama di Lingkup Nasional
Didalam konteks nasional, pengaruh agama tidak hanya ada didalam kehidupan sosial masyarakat, melainkan juga terdapat di dalam produk perundang-undangan dan kebijakan pemerintah.
Indonesia menjadi negara dengan penduduk Muslim terbesar didunia, dimana 88 persen dari total penduduknya menganut agama Islam.66Berdasarkan
66Boyle, Freedom of Religion and Belief, a World Report (NewYork:
Routledge,1997),hlm.201.
sensus 2005 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik, secara keseluruhan penduduk Indonesia yang menganut agama Islam berjumlah 182,083,594.67Maka masih ada beberapa juta penduduk lain yang menganut agama selain Islam seperti Hindu, Buddha, Konghucu, dan Kristen. Indonesia adalah negara dengan rakyat yang pada umumnya merupakan masyarakat religius, sehingga aktifitas kehidupan masyarakat Indonesia tidak bisa dilepaskan dari unsur keagamaan sebagai salah satu hak dan kebutuhan yang sifatnya otonom dari entitas bangsa Indonesia itu sendiri.
Respon negara terhadap keberadaan aktifitas keagamaan masyarakat Indonesia dapat dilihat melalui dibentuknya lembaga-lembaga yang khusus mengatur urusan masyarakat Indonesia, yang berkaitan dengan keagamaan seperti misalnya Kementerian Agama, ataupun juga Peradilan Agama yang berada dalam lingkungan Mahkamah Agung.
Diakuinya hak atas kebebasan beragama sebagai hak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun (non-derogable rights), berimplikasi pada tidak diperbolehkannya segala bentuk intervensi (termasuk intervensi dari negara) atas keyakinan seseorang, khususnya intervensi dalam bentuk koersi atau kekerasan yang dilakukan oleh negara, seperti yang ditegaskan di dalam pasal 18 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang No. 12 Tahun 2005 dan Komentar Umum No. 22 paragraf ketiga dan kelima atas pasal 18 Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik.
67Ministry of Religious Affairs, Number of Population by Religion,2005.
Bahkan dalam keadaan perang sekali pun, negara tetap tidak diperkenankan melakukan intervensi terhadap keyakinan seseorang atas agamanya.68
Di Indonesia hak kebebasan beragama ini dijamin dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945, Hak atas kebebasan beragama oleh Undang-Undang Dasar 1945 disebut sebagai hak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun (non- derogable rights):
“Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.”69
Pasal 28E dan 29. Pasal 28E ayat (1) :”setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya,...”.
Pasal 28E ayat (2):”setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap sesuai dengan hati nuraninya”.
Pasal 29 ayat (1): ”Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa”.
Pasal 29 ayat (2):”Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masingmasing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”.
68Fulthoni, dkk., Jaminan Hukum dan HAM Kebebasan Beragama (Jakarta: The Indonesian Legal Resource Center, 2009), hlm 3.
69Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, Pasal 28I, ayat 1.
UUD Tahun 1945, menentukan bahwa hak kebebasan beragama bukan pemberian negara atau bukan pemberian golongan. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu berdasarkan keyakinan, hingga tidak dapat dipaksakan dan memang agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri tidak memaksakan setiap manusia untuk memeluk dan menganutnya.70
Akan tetapi, hak asasi tersebut bukannya tanpa pembatasan. Dalam Pasal 28J ayat (1) UUD 1945 diatur bahwa setiap orang wajib menghormati hak asasi orang lain. Pasal 28J ayat (2) UUD 1945 selanjutnya mengatur bahwa pelaksanaan hak tersebut wajib tunduk pada pembatasan-pembatasan dalam undang-undang.
Jadi, hak asasi manusia tersebut dalam pelaksanaannya tetap patuh pada pembatasan-pembatasan yang diatur dalam undang-undang.
Kedudukan Agama juga dijelaskan dalam Pasal 1 UU Nomor 1/PNPS/
Tahun 1965 menyebutkan bahwa umumnya agama-agama yang dianut masyarakat Indonesia dan mendapat perlindungan hukum adalah Islam, Kristen, Khatolik, Hindu, Budha, dan Kong Hu Chu (Konfusius). Namun menurut Penjelasan Pasal ini, tidak tertutup kemungkinan agama atau aliran lain juga diberikan perlindungan oleh negara sepanjang tunduk pada ketentuan dengan hukum yang berlaku di Indonesia.
Dijelaskan juga dalam sila pertama Pancasila dan Pasal 29 UUD NRI 1945 jelas bahwa atheism tidak dapat diterima di Indonesia sehingga dengan sendirinya tidak mendapat pengakuan dan perlindungan hukum di Indonesia.
70CST.Kansil dan Christine S.T. Kansil, Sekitar HAM Dewasa Ini, (Jakarta: Djambatan, 2003), hlm.30.
Konstitusi dan berbagai peraturan perundang-undangan di Indonesia telah menjamin hak atas kebebasan beragama atau berkeyakinan. Akan tetapi yang terjadi di lapangan adalah kondisi jaminan hak atas kebebasan beragama atau berkeyakinan di Indonesia memprihatinkan. Banyaknya laporan dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa terror yang melanggar hak atas kebebasan beragama atau berkeyakinan terus meningkat. Sejumlah Teror terkait pelanggaran hak atas kebebasan beragama atau berkeyakinan terus terjadi, tetapi dalam sejumlah kasus teror justru aparat negara baik di tingkat nasional maupun lokal terlibat atau malah mendukung pelanggaran tersebut. Dalam hal ini negara telah melakukan pelanggaran dengan melakukan tindakan (commission) yang justru membatasi dan melanggar hak atas kebebasan beragama atau berkeyakinan. 71
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan mencatatkan banyak peristiwa pelanggaran kebebasan beragama selama empat tahun pemerintahan Joko Widodo atau Jokowi dan Jusuf Kalla. Sepanjang 2014-2018 mereka mencatatkan sedikitnya ada sekitar 488 peristiwa pelanggaran kebebasan beribadah dan berkeyakinan. 72
Berikut adalah contoh kasus pelanggaran kebebasan beragama dan pelecehan terhadap agama di Indonesia :(1) Penyerangan Gereja St. Lidwina, Yogyakarta, (2) Penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja purnama,
71Victorio.H.Situmorang,Kebebasan Beragama Sebagai Bagian dari Hak Asasi Manusia,jurnal ham, volume 10 No 1, juli 2019, Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum dan HakAsasi Manusia Republik Indonesia, Jakarta Selatan, Hlm.60.
72Victorio H. Situmorang,Kebebasan Beragama Sebagai Bagia Dari Hak Asasi Manusia, Jurnal HAM,Volume 10, Nomor 1, Juli 2019 (Jakarta Selatan: Kementerian Hukum dan HakAsasi Manusia Republik Indonesia, 2019),hlm.58.
Pada 11 Februari 2018 Jemaah di Gereja St. Lidwina diserang oleh seorang pemuda bernama Suliyono yang membawa pedang. Serangan itu dilakukan saat umat Katolik mengikuti misa yang dipimpin Romo Edmund Prier SJ. Akibatnya Beberapa umat dan romo mengalami luka-luka. Kala itu, Suliyono mengamuk.
Setelah melukai Romo Prier ia bergerak ke kanan kiri di mimbar. Lelaki berkaus hitam yang menenteng tas ini membabi buta menebas kepala dan wajah patung Jesus dan Maria di kanan dan kiri mimbar. Wakil Ketua SETARA Institute, Bonar Tigor Naispospos mengatakan kasus yang terjadi di Gereja St. Lidwina ini merupakan serangan kepada kebebasan beragama. “Kasus ini harus kita lihat sebagai serangan kepada kebebasan beragama karena kejadiannya berlangsung saat sedang ibadah.73
Selasa, 9 Mei 2017, Basuki Tjahaja Purnama resmi menjadi narapidana kasus penodaan agama. Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara memvonisnya dua tahun penjara karena perbuatannya memenuhi Pasal 156a KUHP. Ahok diseret ke pengadilan lantaran pernyataannya menyangkut Surat Al-Maidah ayat 51 ketika kunjungan di Kepulauan Seribu. Akibat pernyataan itu, ia dilaporkan ke polisi. Selain itu, ada beragam aksi demo menuntut Ahok diadili lantaran ucapannya yang dinilai menistakan agama.74
73Ninis Chairunnisa, ‘’4 Kasus Pelanggaran Kebebasan Beragama di Era Jokowi’’, https://nasional.tempo.co/read/1138894/4-kasus-pelanggaran-kebebasan-beragama-di-era-jokowi, Diakses pada 15 Maret 2020, pukul 13.09.
74Dedi Rahmadi, Kasus Penistaan Agama oleh Ahok Hingga diBui 2 Tahun, https://www.merdeka.com/peristiwa/kasus-penistaan-agama-oleh-ahok-hingga-dibui-2-tahun.html, Diakses pada 15 Maret 2020, Pukul 13.15.
Sepanjang tahun 2017-2018 di Sumatera terdapat 4 kasus Penistaan Agama Berdasarkan data yang dimiliki oleh Amnesty. Di Pulau Jawa, Amnesty Internasional Indonesia mencatat ada 9 kasus. Di Kalimantan, ada satu penistaan agama yang dilakukan oleh Otto Rajasa. Di Nusa Tenggara Timur (NTT) terdapat 1 kasus. Di Bali, ada satu kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Donald Ignatius Soeyanto Baria. Dia divonis 2 tahun 10 bulan karena melanggar Pasal 28 Ayat 2 Juncto pasal 45 UU ITE. Dia harus menjadi tahanan di Denpasar karena menghina para ulama dan kiyai melalui akun media sosialnya. 75
Gambar 1 : Peta kasus yang merugikan hak kebebasan beragama di Indonesia
75Vanny El Rahman, Ahok Hingga Meliana, Ini Daftar 17 Orang yang Divonis Menista Agama,https://www.idntimes.com/news/indonesia/vanny-rahman/ahok-hingga-meliana-ini-daftar-17-orang-yang-divonis-menista-agama/full, Diakses pada 15 Maret 2020,Pukul 15.00.
https://cdn.idntimes.com/content-images/post/20180830/de9a2fd3ecfae00bf35849b4e6f53caa.j
Teror dan penistaan terhadap hak kebebasan beragama yang terjadi di Indonesia melanggar hak asasi manusia yang mana telah diatur dalam Pasal 22 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Kewajiban negara untuk menghormati hak asasi manusia ini terlanggar jika negara melakukan tindakan (commission) terhadap sesuatu di mana seharusnya ia bersifat pasif atau menahan diri dari penikmatan hak yang akan dilakukan oleh individu.
Kasus-kasus teror di atas pastinya memberikan rasa tidak nyaman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Beberapa aturan hukum di Indonesia terkait dengan kerukunan umat beragama, sebagai berikut:
a) Undang-Undang Nomor 1/PNPS Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau PenodaanAgama.
b) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menjadi Undang-Undang.
c) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2006 tentang Pengesahan International Convention for The Suppression of Terrorist Bombing, 1997 (Konvensi Internasional Pemberantasan Pengeboman oleh Teroris, 1997).
d) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengesahan InternationalConvention for The Suppression of The Financing of Terrorism, 1999 (Konvensi Internasional Pemberantasan Pendanaan Teroris), 1999.
e) Undang-Undang Nomor 1 Tahun tentang Perkawinan 1974.
f) Undang-Undang Nomor 20 Tahun tentang SistemPendidikan Nasional 2003.
g) Undang-Undang Nomor 39 Tahun tentang HakAsasi Manusia 1999.
Persoalan paling utama dari masih banyaknya kasus teror dan pelanggaran-pelaanggaran yang terjadi terhadap kebebasan beragama di Indonesia adalah karena ketidakmampuan pemerintah dalam melindungi hak warga negaranya untuk beragama sesuai dengan ketentuan yang ada didalam undang-undang dan instrumen internasional. Padahal rasa ‘saling curiga’ antar pemeluk agama masih sangat tinggi dan seringkali mengakibatkan konflik sosial.
Kewajiban untuk mengimplementasikan kebebasan beragama yang telah tertulis didalam Konstitusi negara (UUD 1945) dan keharusan pemerintah untuk memperhatikan ‘kewajiban universal’ untuk mengimplementasikan kebebasan beragama seperti yang telah diratifikasinya, ini menjadi dua kewajiban yang harus diperhatikam oleh pemerintah untuk menjamin,memastikan dan melaksanakan kebebasan beragama secara adil.
C. Komitmen Dunia Internasional Terhadap Hak Kebebasan Beragama