• Tidak ada hasil yang ditemukan

POKOK PERMOHONAN

II. TENTANG KEDUDUKAN HUKUM (LEGAL STANDING) PEMOHON

Sesuai dengan ketentuan Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disebut UU MK), menyatakan bahwa Pemohon adalah pihak yang menganggap hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya undang-undang, yaitu:

a. perorangan warga negara Indonesia;

b. kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undang-undang;

c. badan hukum publik atau privat; atau d. lembaga negara.

Dengan demikian, Pemohon dalam pengujian Undang-Undang terhadap UUD 1945 harus dapat menjelaskan dan membuktikan terlebih dahulu:

a. kedudukannya sebagai Pemohon sebagaimana dimaksud Pasal 51 ayat (1) UU MK;

b. ada tidaknya kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional yang diberikan oleh UUD 1945 yang diakibatkan oleh berlakunya Undang-Undang yang dimohonkan pengujian.

Lebih lanjut Mahkamah Konstitusi juga telah memberikan pengertian dan batasan tentang kerugian konstitusional yang timbul karena berlakunya suatu Undang-Undang menurut Pasal 51 ayat (1) UU MK (vide Putusan Nomor 006/PUU-III/2005 dan putusan-putusan berikutnya), harus memenuhi 5 (lima) syarat yaitu:

a. adanya hak konstitusional Pemohon yang diberikan oleh UUD 1945;

b. bahwa hak konstitusional Pemohon tersebut dianggap oleh Pemohon telah dirugikan oleh suatu undang-undang yang diuji;

c. bahwa kerugian konstitusional Pemohon yang dimaksud bersifat spesifik (khusus) dan aktual atau setidaknya bersifat potensial yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi;

d. adanya hubungan sebab akibat (causal verband) antara kerugian dan berlakunya undang-undang yang dimohonkan untuk diuji;

e. adanya kemungkinan bahwa dengan dikabulkannya permohonan maka kerugian konstitusional yang didalilkan tidak akan atau tidak lagi terjadi.

Untuk menanggapi kedudukan hukum para Pemohon, Pemerintah mempertanyakan hal-hal sebagai berikut:

• apakah para Pemohon sudah tepat sebagai pihak yang menganggap hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya Undang-Undang APBN-P Tahun 2011?

• apakah terdapat kerugian konstitusional para Pemohon yang dimaksud bersifat spesifik (khusus) dan aktual atau setidaknya bersifat potensial yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi?

apakah ada hubungan sebab akibat (causal verband) antara kerugian para Pemohon dengan berlakunya Undang-Undang APBN-P Tahun 2011?

• apakah dapat dipastikan bahwa dengan dikabulkannya permohonan maka kerugian konstitusional yang didalilkan tidak akan atau tidak lagi terjadi?

• apakah pasal-pasal dalam UUD 1945 yang dijadikan sebagai batu uji memberikan hak dan/atau kewenangan konstitusional kepada para Pemohon?

Para Pemohon sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) mempunyai tujuan dan fungsi yang berbeda-beda. Bahwa masing-masing para Pemohon tidak dapat memberikan alasan hukum berdasarkan penalaran yang wajar yang menunjukkan adanya kerugian konstitusional dari masing-masing para Pemohon. Bahwa dalam permohonannya para Pemohon sebagai suatu organisasi LSM tidak menunjukkan kekhususan organisasinya yang dapat menunjukkan hubungan sebab akibat antara tujuan dan fungsi organisasinya dengan permohonan uji materiil Undang-Undang APBN-P Tahun 2011. para Pemohon tidak dapat membuktikan adanya kerugian yang bersifat khusus dan aktual atas berlakunya Undang-Undang APBN-P Tahun 2011.

Penggunaan Pasal 18A ayat (2) dan Pasal 23 ayat (1) UUD 1945 sebagai batu uji dalam permohonan a quo sangat tidak tepat dan tidak berdasar hukum. Bahwa kedua pasal dimaksud bukanlah suatu pasal yang memberikan hak dan/atau kewenangan konstitusional kepada para Pemohon. Bahwa Pasal 18A ayat (2) UUD 1945 secara tegas hanya mengatur mengenai perintah konstitusi untuk membentuk Undang-Undang yang mengatur mengenai hubungan keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah. Sedangkan ketentuan Pasal

23 ayat (1) UUD 1945 juga merupakan perintah konstitusi kepada Pemerintah dan DPR untuk menyusun suatu undang-undang yang mengatur anggaran pendapatan dan belanja negara setiap tahunnya yang bertujuan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Dengan menggunakan Pasal 18A ayat (2) dan Pasal 23 ayat (1) UUD 1945 sebagai batu uji maka telah menunjukkan bahwa permohonan uji materiil Undang-Undang APBN Tahun 2011 tidak mempunyai landasan hukum yang kuat.

Lebih lanjut menurut Pemerintah, para Pemohon dalam permohonannya telah keliru, tidak jelas dan tidak fokus (obscuur libel), terutama dalam menguraikan/menjelaskan dan mengkonstruksikan telah timbulnya kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional atas berlakunya Undang-Undang a quo dengan alasan-alasan yang sangat sumir, dangkal dan sangat tidak berdasar, sebagaimana diuraikan sebagai berikut:

1. Permohonan para Pemohon tidak jelas dan tidak fokus (obscuur libel) dikarenakan batu uji yang digunakan oleh para Pemohon tidak jelas dan tidak fokus, apakah menggunakan UUD 1945 atau menggunakan Undang-Undang lain untuk menguji Undang-Undang APBN-P Tahun 2011. Hal ini dikarenakan dalam permohonannya, para Pemohon menggunakan ketentuan Pasal 171 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (untuk selanjutnya disebut UU Kesehatan) sebagai dasar pengujian terhadap Undang-Undang APBN-P Tahun 2011.

2. Para Pemohon tidak dapat memberikan konstruksi hukum dan hubungan sebab akibat (causal verband) yang jelas dalam permohonannya, terkait dengan pengujian Undang-Undang APBN-P Tahun 2011 dengan UUD 1945.

Para Pemohon juga tidak dapat secara jelas dan nyata menyatakan kerugian konstitusionalitasnya terhadap keberlakuan ketentuan Undang-Undang APBN-P Tahun 2011.

Berdasarkan hal tersebut di atas, Pemerintah meminta kepada para Pemohon melalui Yang Mulia Ketua/Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi untuk menjelaskan dan membuktikan secara sah terlebih dahulu apakah benar para Pemohon adalah sebagai pihak yang hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan.

Pemerintah beranggapan bahwa tidak terdapat dan/atau telah timbul kerugian terhadap hak dan/atau kewenangan konstitusional para Pemohon atas

keberlakuan Undang-Undang APBN-P Tahun 2011, karena itu kedudukan hukum (legal standing) para Pemohon dalam permohonan a quo tidak memenuhi persyaratan sebagaimana tercantum pada Pasal 51 ayat (1) UU MK maupun berdasarkan putusan-putusan Mahkamah Konstitusi yang terdahulu.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, Pemerintah memohon agar Ketua/Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi secara bijaksana menyatakan permohonan para Pemohon tidak dapat diterima (niet ontvankelijk verklaard).

Sebagai tambahan informasi kepada Ketua/Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi, berikut ini disampaikan penjelasan Pemerintah tentang materi pengujian Undang-Undang APBN-P Tahun 2011.

III. PERANAN PEMERINTAH DALAM PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA