• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : PENGATURAN LEGISLATOR PEREMPUAN DALAM

B. Perbandingan Kedudukan Legislator Perempuan Pada

2. Kedudukan Legislator Perempuan Pada Undang

Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

Berkaitan dengan alat kelengkapan di MPR, DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota, perlu memperhatikan keterwakilan perempuan sebagai pimpinan alat kelengkapan. Karena itu pada

pasal-pasal dibawah ini mengatur untuk memperhatikan keterwakilan perempuan menjadi pimpinan alat kelengkapan DPR.

Pimpinan komisi. Pasal 95 ayat (2) :

Pimpinan komisi terdiri atas 1 (satu) orang ketua dan paling banyak 3 (tiga) orang wakil ketua, yang dipilih dari dan oleh anggota komisi berdasarkan prinsip musyawarah untuk mufakat dan proporsional dengan memperhatikan keterwakilan perempuan menurut perimbangan jumlah anggota tiap-tiap fraksi.

Pimpinan Badan Legislasi Pasal 101 ayat (2) :

Pimpinan Badan Legislasi terdiri atas 1 (satu) orang ketua dan paling banyak 3 (tiga) orang wakil ketua yang dipilihdari dan oleh anggota Badan Legislasi berdasarkan prinsip musyawarah untuk mufakat dan proporsional dengan memperhatikan keterwakilan perempuan menurut perimbangan jumlah anggota tiap-tiap fraksi.

Pimpinan badan anggaran Pasal 106 ayat (2) :

Pimpinan Badan Anggaran terdiri atas 1 (satu) orang ketua dan paling banyak 3 (tiga) orang wakil ketua yang dipilih dari dan oleh anggota Badan Anggaran berdasarkan prinsip musyawarah untuk mufakat dan proporsional dengan mempertimbangkan keterwakilan perempuan menurut perimbangan jumlah anggota tiaptiap fraksi.

Pimpinan Badan Akuntabilitas Keuangan Negara Pasal 119 ayat (2):

Pimpinan BKSAP terdiri atas 1 (satu) orang ketua dan paling banyak 3 (tiga) orang wakil ketua, yang dipilih dari dan oleh anggota BKSAP berdasarkan prinsip musyawarah untuk mufakat dan

proporsional dengan memperhatikan keterwakilan perempuan menurut perimbangan jumlah anggota tiap-tiap fraksi.

Pimpinan Badan Kehormatan Pasal 125 ayat (2):

Pimpinan Badan Kehormatan terdiri atas 1 (satu) orang ketua dan 2 (dua) orang wakil ketua, yang dipilih dari danoleh anggota Badan Kehormatan berdasarkan prinsipmusyawarah untuk mufakat dan proporsional dengan memperhatikan keterwakilan perempuan menurut perimbangan jumlah anggota tiap-tiap fraksi.

Pimpinan Badan Urusan Rumah Tangga Pasal 132 ayat (2):

Pimpinan BURT terdiri atas 1 (satu) orang ketua yang dijabat oleh Ketua DPR dan paling banyak 3 (tiga) orang wakil ketua yang dipilih dari dan oleh anggota BURT berdasarkan prinsip musyawarah untuk mufakat dan proporsional dengan memperhatikan keterwakilan perempuan menurut perimbangan jumlah anggota tiaptiap fraksi.

Pimpinan Panitia Khusus Pasal 138 ayat (2):

Pimpinan panitia khusus terdiri atas 1 (satu) orang ketua dan paling banyak 3 (tiga) orang wakil ketua yang dipilih dari dan oleh anggota panitia khusus berdasarkan prinsip musyawarah untuk mufakat dan proporsional dengan memperhatikan jumlah panitia khusus yang ada serta keterwakilan perempuan menurut perimbangan jumlah anggota tiap-tiap fraksi.

3. Kedudukan Legislator Perempuan Pada Undang Undang Nomor 17 Tahun 2014 Tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

Pada undang undang ini, dihapus klausula „memperhatikan

keterwakilan perempuan menurut perimbangan jumlah anggota tiap-tiap

fraksi‟ dan menggantinya dengan „berdasarkan usulan fraksi sesuai dengan prinsip musyawarah mufakat‟.

Presiden menyampaikan keterangan lisan yang disampaikan dalam persidangan perkara Nomor. 82/PUU-XII/2014 tanggal 23 September 2014, … tidak menyebutkan adanya klausal keterwakilan perempuan, namun bukan berarti membatasi peran serta perempuan untuk duduk sebagai unsur pimpinan di dalam lembaga negara tersebut. Justru ketentuan tersebut menurut Pemerintah telah memberikan keleluasaan seluas-luasnya agar perempuan dapat berkiprah lebih jauh dan lebih menentukan pada lembaga-lembaga negara tersebut64.

4. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 22-24/PUU-VI/2008 tentang Permohonan Pengujian Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Pada gugatan tentang diberikannya kebijakan khusus sementara (affirmative action), Mahkamah berpendapat bahwa:

Setiap tiga orang bakal calon terdapat sekurang-kurangnya satu orang calon perempuan adalah dalam rangka memenuhi affirmative action (tindakan sementara) bagi perempuan di bidang politik sebagaimana yang telah dilakukan oleh berbagai negara

64

Salinan Putusan Mahkamah Konstitusi RI Nomor 22-24/PUU-VI/2008,.hlm. 37 (www.mahkamahkonstitusi.go.id)

dengan menerapkan adanya kewajiban bagi partai politik untuk menyertakan calon anggota legislatif bagi perempuan. Hal ini sebagai tindak lanjut dari Konvensi Perempuan se-Dunia Tahun 1995 di Beijing dan berbagai konvensi internasional yang telah diratifikasi [Undang Nomor 68 Tahun 1958, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984, Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Hak Sipil dan Politik, Hasil Sidang Umum Convention on The Elimination of All Forms of Discrimination Against Woman (CEDAW)65.

Affirmative action juga disebut sebagai reverse discrimination, yang memberi kesempatan kepada perempuan demi terbentuknya kesetaraan gender dalam lapangan peran yang sama (level playing-field) antara perempuan dan laki-laki sekalipun dalam dinamika perkembangan sejarah terdapat perbedaan, karena alasan kultural, keikutsertaan perempuan dalam pengambilan keputusan dalam kebijaksanaan nasional, baik di bidang hukum maupun dalam pembangunan ekonomi dan sosial politik, peran perempuan relatif masih kecil. Kini, disadari melalui sensus kependudukan ternyata jumlah penduduk Indonesia yang terbesar adalah perempuan, maka seharusnyalah aspek kepentingan gender dipertimbangkan dengan adil dalam keputusan-keputusan di bidang politik, sosial, ekonomi, hukum, dan cultural.66

Di dalam Pasal 28H ayat (2) UUD 1945, perlakuan khusus tersebut diperbolehkan. Pasal 28H ayat (2) UUD 1945 berbunyi,

65

Salinan Putusan Mahkamah Konstitusi RI Nomor 22-24/PUU-VI/2008, hlm 97 (www.mahkamahkonstitusi.go.id)

66

Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan.” Dewasa ini, komitmen

Indonesia terhadap instrumeninstrumen hak asasi manusia (HAM) yang berhubungan dengan penghapusan segala bentuk diskriminasi perempuan serta komitmen untuk memajukan perempuan di bidang politik telah diwujudkan melalui berbagai ratifikasi dan berbagai kebijakan pemerintah.

Dari pendapat Mahkamah Konstitusi tersebut, diambil kesimpulan bahwa:

1) Pada Undang Undang Undang Undang Nomor 22 Tahun 2003 Tentang Susunan Dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

Undang Undang ini tidak memberikan kebijakan khusus kepada Perempuan untuk diberi kesempatan menduduki posisi penting pada Lembaga Perwakilan Rakyat.

Hal ini tidak sesuai dengan pasal 28H ayat (2) UUD 1945 yang berbunyi, “Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan.” Dari isi pasal ini, Perempuan yang memiliki jumlah minoritas dalam Lembaga Perwakilan Rakyat dapat diberikan ke khususan untuk memperoleh kedudukan yang penting untuk memberikan manfaat bagi Negara.

2) Pada Undang Undang Nomor 17 Tahun 2014 Tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

Pasal ini memberikan kebijakan khusus pada Legislator Perempuan di Lembaga Perwakilan Rakyat untuk memudahkan Perempuan memperoleh posisi yang penting. Hal ini terwujud dengan klausul “memperhatikan keterwakilan

perempuan menurut perimbangan jumlah anggota tiap-tiap fraksi”.

Klausul tersebut memberikan jaminan kemudahan pada Legislator Perempuan untuk dapat menjadi pemimpin pada alat kelengkapan pada Lembaga Perwakilan Rakyat.

3) Pada Undang Undang Undang Undang Nomor 17 Tahun 2014 Tentang Susunan Dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

Undang Undang ini menghapus klausul “memperhatikan keterwakilan perempuan menurut perimbangan jumlah anggota tiap-tiap fraksi”. Klausul ini dihapus dengan alasan bahwa

kebijakan ini tergolong dalam pendiskriminasian kaum perempuan.

Sedangkan pada Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 22-24/PUU-VI/2008, Mahkamah berpendapat bahwa Affirmative action juga disebut sebagai reverse discrimination,

yang memberi kesempatan kepada perempuan demi terbentuknya kesetaraan gender dalam lapangan peran yang sama (level playing-field) antara perempuan dan laki-laki. Dengan kata lain, kebijakan khusus ini merupakan diskriminasi positif untuk menyeimbangkan antara keterwakilan perempuan dan laki-laki.

5. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 82/PUU-XII/2014 tentang Permohonan Pengujian Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Terhadap Undang Undang Dasar 1945

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 82/PUU-XII/2014 mengenai

penghapusan klausul “memperhatikan keterwakilan perempuan” pada

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 dimana Mahkamah berpendapat bahwa penghapusan klausul tersebut akan menimbulkan ketidak pastian hukum yang adil bagi perempuan karena perubahan yang dilakukan tersebut dapat membuyarkan seluruh kebijakan affirmative yang telah dilakukan pada kelembagaan politik lainnya. Mahkamah juga berpendapat

bahwa klausul “memperhatikan keterwakilan perempuan” yang tertuang pada Undang Undang No 27 Tahun 2009 telah menjadi norma hukum karena itu dihapusnya kebijakan ini pada Undang Undang Nomor 17 Tahun 2014 mengakibatkan ketidak pastian hukum yang adil sesuai pada pasal 28D ayat (1) UUD 1945.

Selanjutnya, amar putusan yang diputuskan oleh hakim adalah

memasukkan klausul “dengan mengutamakan keterwakilan perempuan menurut perimbangan jumlah anggota tiap tiap fraksi” pada pasal-pasal yang menghapus kebijakan affirmative pada Undang Undang Nomor 17 Tahun 2014. Frasa “mengutamakan” menurut Mahkamah memiliki makna

yang lebih kuat, sehingga lebih sungguh-sungguh memperhatikan keterwakilan perempuan.

BAB III

PERAN LEGISLATOR PEREMPUAN DI DEWAN PERWAKILAN RAKYAT KOTA BINJAI

D. Tinjauan Umum tentang DPRD Kota Binjai

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Binjai (DPRD Kota Binjai) adalah lembaga perwakilan rakyat daerah yang berkedudukan sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah67. Berdasarkan hasil Pemilu pada Tahun 2009, jumlah Anggota DPRD Kota Binjai Masa Jabatan Tahun 2009-2014 berjumlah 30 orang. Sesuai denganSK Gubernur Sumatera Utara Nomor 171/3613.K/Tahun 2009 tentang pemberhentian Anggota DPRD Kota Binjai Masa Jabatan 2004-200968, terdiri dari 11 Partai Politik yaitu Partai Golkar (7 Anggota), Demokrat (6 Anggota), PDI.P (4 Anggota), PPP (3 Anggota), PKS (3 Anggota) , PAN (2 Anggota), PDS (1 Anggota), Hanura (1 Anggota), Patriot (1 Anggota), PBB (1 Anggota).

DPRD Kota Binjai mempunyai alat kelengkapan yang terdiri dari Pimpinan, Badan Musyawarah, Komisi-komisi, Badan Legislasi Daerah, Badan Anggaran, Badan Kehormatan dan Alat Kelengkapan yang diperlukan dibentuk oleh rapat Paripurna69.

1. Alat Kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Binjai

Pada pasal 1 angka 8 Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Binjai No. 1 tahun 2011 tentang Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Binjai Periode 2009-2014, menyebutkan

“alat kelengkapan DPRD adalah Alat Kelengkapan Dewan Perwakilan

67

Lihat Pasal 1 ayat 4 Peraturan DPRD Kota Binjai Nomor 1 tahun 2011 Tentang Tata Tertib DPRD Kota Binjai

68

Profil DPRD Kota Binjai, hlm.10

69

Lihat Pasal 1 Angka 8 Peraturan DPRD Kota Binjai Nomor 1 tahun 2011 Tentang Tata Tertib DPRD Kota Binjai

Daerah Kota Binjai yang terdiri dari Pimpinan, badan musyawarah, komisi-komis, badan legislasi daerah, badan anggaran, badan kehorrmatan dan alat kelengkapan lain yang di perlukan dan dibentuk oleh rapat paripurna”.

a. Pimpinan DPRD

Pimpinan DPRD adalah Ketua dan Wakil ketua DPRD kota Binjai70. Pimpinan DPRD terdiri atas 1 (satu) orang Ketua dan 2 (dua) orang Wakil Ketua. Pimpinan berasal dari partai politik berdasarkan urutan perolehan kursi terbanyak di DPRD71.

Pimpinan DPRD mempunyai tugas72;

1) memimpin sidang DPRD dan menyimpulkan hasil sidang untuk mengambil keputusan.

2) menyusun rencana kerja pimpinan dan mengadakan pembagian kerja antara Ketua dan Wakil Ketua.

3) melakukan Koordinasi dalam upaya penyinergikanpelaksanaan agenda dan materi kegiatan dari alat kelengkapan DPRD.

4) Menjadi juru bicara DPRD.

5) melaksanakan dan memasyarakatkan keputusan DPRD.

6) mewakili DPRD dalam berhubungan dengan lembaga/instansi lainnya.

7) mengadakan konsultasi dengan Walikota dan Pimpinan lembaga/instansi pemerintah lainnya sesuai dengan keputusan DPRD. 8) Mewakili DPRD di pengadilan.

9) melaksanakan keputusan DPRD berkenaan dengan penetapan sanksi atau rehabilitasi anggota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

10) menyusun rencana anggaran DPRD bersama secretariat DPRD yang pengesahannya dilakukan dalam rapat paripurna.

11) menyampaikan laporan kinerja pimpinan DPRD dalam rapat paripurna DPRD yang khusus diadakan untuk itu.

b. Badan Musyawarah 70

Lihat Pasal 1 angka 9 Peraturan DPRD Kota Binjai Nomor 1 tahun 2011 Tentang Tata Tertib DPRD Kota Binjai

71

Lihat Pasal 37 Peraturan DPRD Kota Binjai Nomor 1 tahun 2011 Tentang Tata Tertib DPRD Kota Binjai

72

Lihat Pasal 41 Peraturan DPRD Kota Binjai Nomor 1 tahun 2011 Tentang Tata Tertib DPRD Kota Binjai

Badan Musyawarah merupakan alat kelengkapan DPRD yang bersifat tetap dan dibentuk oleh DPRD pada awal masa jabatan keanggotaan DPRD.Badan Musyawarah ini terdiri dari unsur-unsur fraksi berdasarkan perimbangan jumlah anggota dan paling banyak ½ (setengah) dari jumlah anggota DPRD. Susunan keanggotaan Badan Musyawarah ditetapkan dalam rapat paripuna setelah terbentuknya pimpinan DPRD, Komisi, Badan Anggara, dan fraksi73.

Badan musyawarah mempunyai tugas74;

1) Menetapkan agenda DPRD untuk 1 (satu) tahun sidang, 1 (satu) masa persidangan, atau sebagian dari suatu masasidang, perkiraan waktu penyelesaian suatu masalah, dan jangkawaktu penyelesaian rancangan peraturan daerah, dengan tidak mengurangi kewenangan rapat paripurna untuk mengubahnya.

2) Memberikan pendapat kepada pimpinan DPRD dalam menentukan garis kebijakan yang menyangkut pelaksanaan tugas dan wewenang DPRD. 3) Meminta dan/atau memberikan kesempatan kepada alat kelengkapan

DPRDyang lain untuk memberikan keterangan/ penjelasan mengenai pelaksanaan tugasmasing-masing.

4) Menetapkan jadwal acara rapat DPRD

5) Memberi saran/pendapat untuk mempelancar kegiatan 6) Merekomendasikan pembentukan panitia khusus dan

7) Melaksanakan tugas lain yang diserahkan oleh rapat paripurna kepada Badan Musyawarah.

Setiap anggota Badan Musyawarah memiliki kewajiban75;

1) Mengadakan konsultasi dengan fraksi sebelum mengikuti rapat Badan Musyawarah,dan

2) Menyampaikan pokok-pokok hasil rapat Badan Musyawarah kepada fraksi

c. Komisi

73

Lihat Pasal 46 Peraturan DPRD Kota Binjai Nomor 1 tahun 2011 Tentang Tata Tertib DPRD Kota Binjai

74

Lihat Pasal 47 ayat (1) Peraturan DPRD Kota Binjai Nomor 1 tahun 2011 Tentang Tata Tertib DPRD Kota Binjai

75

Lihat Pasal47 ayat (2) Peraturan DPRD Kota Binjai Nomor 1 tahun 2011 Tentang Tata Tertib DPRD Kota Binjai

Komisi adalah pengelompokan anggota DPRD Kota Binjai secarafungsional berdasarkan tugas-tugas yang ada di DPRD76. Komisi merupakan alat kelengkapan DPRD yang bersifat tetap dan dibentuk oleh DPRD pada awal masa jabatan keanggotaan DPRD. Setiap anggota DPRD kecuali pimpinan DPRD, wajib menjadi anggota salah satu komisi. Jumlah komisi sebanyak 3 (tiga) komisi. Penempatan anggota DPRD dalam komisi dan perpindahannya ke komisi lain didasarkan atas usul fraksinya dan dilakukan pada setiap aal tahun anggaran77.

Komisi mempunyai tugas78;

1) mengupayakan terlaksananya kewajiban daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,

2) melakukan pembahasan terhadap rancangan peraturan daerah dam rancangan keputusan DPRD,

3) melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan daerah dan APBD sesuai dengan ruang lingkup tugas komisi,

4) membantu pimpinan DPRD untuk mengupayakan penyelesaian masalah yang disampaikan oleh Walikota dan/atau masyarakat kepada DPRD, 5) menerima, menampung dan membahasserta menindak lanjuti

aspirasimasyarakat,

6) memperhatikan upaya peningkatan kesejahteraan rakyat daerah,

7) melakukan kunjungan kerja komisi yang bersangkutan atas persetujuan pimpinan DPRD,

8) mengadakan rapat kerja dan rapat dengar pendapat,

9) mengajukan usul kepadapimpinan DPRD yang termasuk dalam ruang lingkup bidang tugas masing-masing komisi

10) memberikan laporan tertulis kepada pimpinan DPRD tentang hasil pelaksanaan tugas komisi.

Komisi di DPRD Kota Binjai terdiri dari 3 (tiga) komisi,yaitu;

1) Komisi A (Bidang Pemerintahan, Hukum,HAM dan Sosial Budaya)

76

Lihat Pasal 1 angka 11 Peraturan DPRD Kota Binjai Nomor 1 tahun 2011 Tentang Tata Tertib DPRD Kota Binjai

77

Lihat Pasal 48 Peraturan DPRD Kota Binjai Nomor 1 tahun 2011 Tentang Tata Tertib DPRD Kota Binjai

78

Lihat Pasal 49 Peraturan DPRD Kota Binjai Nomor 1 tahun 2011 Tentang Tata Tertib DPRD Kota Binjai

Komisi ini meliputi: Pemerintah Umum, Hukum dan HAM, Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Kepegawaian Daerah, Kesatuan Bangsa dan Politik dan Linmas, Pemerintahan Masyarakatdanpemerintah Kelurahan, Ketertiban dan Keamanan, Komunikasi, Humas (Media Cetak dan Elektronik), Pertanahan, Statistik, Narkotika, Sosial, Politik dan Organisasi Kemasyarakatan, Pelayanan Perizinan Terpadu, Tata Ruang Perumahan dan Pemukiman, Inspektorat

2) Komisi B (Bidang Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat)

Komisi ini meliputi: Kesehatan, Rumah Sakit Umum Daerah, Koperasi, UKM dan Perindag, Pertanian dan Perikanan, Logistik/Umum, Ilmu Pengetahuan dan teknologi, Agama, Sosial dan Tenaga Kerja, Pariwisata, Pemudadan Olahraga, Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan, Penanggulangan Bencana, Lingkungan Hidup, Perpustakaan

3) Komisi C (Bidang keuangan dan pembangunan)

Komisi ini meliputi: Pendapatan Daerah, Pendidikan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah, Perencanaan Pembangunan Daerah, Pekerjaan Umum, Perhubungan, Kebersihan dan Petanaman, BUMN dan BUMD, Pertambangan dan Energi, Energi dan Telekomunikasi, Perbankan, Retrebusi

Jumlah anggota komisi diupayakan sama. Ketua, wakil ketua, dan sekretari komisi dipilih dari dan oleh anggota komisi dan dilaporkan dalam

rapat Paripurna DPRD. Keanggotaan dalam Komisi di putuskan dalam rapat paripurna DPRD atas usul fraksi pada awal tahun anggaran.

d. Badan Legislasi Daerah

Badan legislasi daerah merupakan alat kelengkapan DPRD yang bersifat tetap, dibentuk dalam rapat Paripurna DPRD79. Susunan keanggotaan Badan Legislasi Daerah dibentuk pada permulaan masa keanggotaan DPRD dan permulaan tahun sidang80.

Badan Legislasi Daerah bertugas81;

1) Menyusun rancangan program legislasi daerah yang memuat daftar urutan dan prioritas rancangan peraturandaerah berserta alasannya untuk setiap tahun anggaran di lingkungan DPRD.

2) Koordinasi untuk penyusunan program legislasi daerah antara DPRD dan pemerintah daerah.

3) Menyiapkan rancangan peraturan daerah usul DPRD berdasarkan program prioritas yang telah ditetapkan.

4) Melakukan pengharmonisasian, pembulatan dan pemantapan konsepsi rancangan peraturandaerah yang diajukan anggota, komisi dan.atau gabungan komisi sebelum disampaikan kepada Pimpinan DPRD.

5) Memberikan pertimbangan terhadap rancangan peraturan daerah yang diajukan oleh anggota, komisi, dan atau gabungan komisi diluar prioritas rancangan peraturan daerah tahun berjalan atau diluar rancangan perdayang terdaftar dalam program legislasi daerah.

6) Mengikuti perkembangan dan melakukan evaluasi terhadap pembahasan materi muatan rancangan peraturan daerah melalui koordinasidengan komisi dan/atau panitia khusus.

7) Memberikan masukan kepada pimpinan DPRD atas rancangan peraturan daerah yang ditugaskan oleh Badan Musyawarah, dan

8) Memberikan laporan kinerja pada masa akhir keanggotaan DPRD baik yang sudah maupun yang belum terselesaikan untuk dapat digunakan sebagai bahan oleh komisi pada keanggotaan berikutnya.

e. Badan Anggaran

79

Lihat Pasal 50 Peraturan DPRD Kota Binjai Nomor 1 tahun 2011 Tentang Tata Tertib DPRD Kota Binjai

80

Lihat Pasal 51 ayat (1) Peraturan DPRD Kota Binjai Nomor 1 tahun 2011 Tentang Tata Tertib DPRD Kota Binjai

81

Lihat Pasal 53 Peraturan DPRD Kota Binjai Nomor 1 tahun 2011 Tentang Tata Tertib DPRD Kota Binjai

Badan anggaran merupakan alat kelengkapan DPRD yang bersifat tetap dan dibentuk oleh DPRD pada masa awal jabatan keanggotaan DPRD. Anggota badan ini diusulkan oleh masing-masing fraksi dengan mempertimbangkan keanggotaannya dalam tiap-tiap komisi dan paling banyak ½ (setengah)dari jumlah anggota DPRD82.

Badan anggaran mempunyai tugas83;

1) Memberikan saran dan pendapat berupa pokok-pokok pikiran DPRD kepada Walikota dalam mempersiapkan rancangananggaran pendapatan dan belanja daerah paling lambat 5 (lima) bulan sebelum ditetapkannya APBD.

2) Melakukan konsultasi yang dapat diwakili oleh anggotanya kepada komisi terkait untuk memperoleh masukan dalam rangka pembahasan rancangan kebijakan umum APBD sertaprioritas dan plafon anggaran sementara.

3) Memberikan saran dan pendapat kepada Walikota dalam mempersiapkan rancangan peraturan daerah tetang perubahan APBD dan rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. 4) Melakukan penyempurnaan rancangan peraturandaerah tentang APBD

dan rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD berdasarkan hasil evaluasi Gubernur bersama tim anggaran pemerintah daerah.

5) Melakukan pembahasan bersama tim anggaran pemerintah daerah terhadap rancangan kebijakan umum APBD serta rancangan prioritas dan plafon anggaran sementara yang disampaikan oleh walikota,dan 6) memberikan saran kepada Pimpinan DPRD dalam penyusunan anggaran

belanja DPRD.

f. Badan Kehormatan

Badan Kehormatan dibentuk oleh DPRD dan merupakan alat kelengkapan DPRD yang bersifat tetap. Pembentukan Badan Kehormatan ditetapkan dengan Keputusan DPRD. Anggota Badan Kehormatan dipilih

82

Lihat Pasal 54 Peraturan DPRD Kota Binjai Nomor 1 tahun 2011 Tentang Tata Tertib DPRD Kota Binjai

83

Lihat Pasal 55 Peraturan DPRD Kota Binjai Nomor 1 tahun 2011 Tentang Tata Tertib DPRD Kota Binjai

dari dan oleh anggota DPRD dengan jumlah 3 (tiga) orang, yaitu terdiri dari Ketua, Wakil Ketua dan Anggota Badan Kehormatan84.

Badan Kehormatan mempunyai tugas85;

1) memantau dan mengevaluasi disiplin dan/ataukepatuhan terhadap moral, kodeetik, dan/atau peraturan tata tertib DPRD dalam rangka menjagamartabat, kehormatan, citra, dan kredibilitas DPRD.

2) Meneliti dugaan pelanggaran yang dilakukan anggota DPRD terhadap peraturan tata tertib dan/atau kode etik DPRD.

3) Melakukan penyelidikan,verifikasi, dan klarifikasi atas pengaduan Pimpinan DPRD, Anggota DPRD, dan/atau masyarakat.

4) Melaporkan keputusan Badan Kehormatan atas hasil penyelidikkan, verifikasi,dan klarifikasi kepada Rapat Paripurna DPRD.

g. Alat Kelengkapan Lain

Dalam hal diperlukan, DPRD dapat membentuk alat kelengkapan lain berupa Panitia Khusus. Panitia khusus merupakan alat kelengkapan DPRD yang bersifat tidak tetap. Panitia khusus dibentuk dalam Rapat Paripurna DPRD atas usul anggota setelah mendengar pertimbangan Badan Musyawarah. Pembentukan panitia khusus ditetapkan dengan Keputusan DPRD.

2. Peran Legislator Perempuan dalam Menjalankan Tugas di Alat

Kelengkapan DPRD Kota Binjai

Anggota Legislator Perempuan di DPRD Kota Binjai berjumlah tiga orang bertugas di Komisi B yang membawahi Perekonomian dan Kesejahteraan rakyat. Anggota legislator perempuan ini mencondongksan

84

Lihat Pasal 56 Peraturan DPRD Kota Binjai Nomor 1 tahun 2011 Tentang Tata Tertib DPRD Kota Binjai

85

Lihat Pasal 57 Peraturan DPRD Kota Binjai Nomor 1 tahun 2011 Tentang Tata Tertib DPRD Kota Binjai

dirinya kepada Kesehatan, Pertanian, UKM dan Pemberdayaan Perempuan86.

Dalam bidang Kesehatan, mereka mengawasi dana APBD yang masuk dengan melihat kecocokan dari yang dianggarkan dan yang ada di masyarakat. Disini para anggota dewan menjalankan fungsi controlling dari hasil pelaksanaan fungsi anggaran87.

Dalam bidang UKM dan Pemberdayaan Perempuan, mereka membantu memberikan kebijakan yang tidak menyulitkan para perempuan yang bekerja di rumah. Contohnya memfasilitasi masyarakat dan memudahkan masyarakat untuk mendapatkan Kredit Untuk Rakyat, yaitu salah satu program kerja pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II88.

Dokumen terkait