• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV KEDUDUKAN MEDIATOR DALAM PENYELESAIAN

A. Kedudukan Mediator Dalam Penyelesaian Sengketa di

2. Bagaimana efektivitas Perma Nomor 1 Tahun 2016 di Pengadilan Negeri Medan ?

3. Kendala-Kendala Apa Saja Yang Dialami Mediator Dalam Pelaksanaan Mediasi Di Pengadilan Negeri Medan ?

C. Tujuan Penulisan

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang telah diuraikan sebelumnya, maka tujuan penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui kedudukan mediator dalam penyelesaian sengketa di Pengadilan Negeri Medan.

2. Untuk mengetahui efektivitas Perma Nomor 1 Tahun 2016 di Pengadilan Negeri Medan.

3. Untuk mengetahui kendala-kendala apa saja yang dialami mediator dalam pelaksanaan mediasi di Pengadilan Negeri Medan.

D. Manfaat Penulisan

Adapun manfaat yang diharapkan penulis dalam skripsi ini adalah : 1. Secara teoritis

Penulisan skripsi ini diharapkan sebagai acuan dalam perkembangan ilmu hukum di Indonesia. Hal-hal yang tertuang dalam penulisan skripsi Ini diharapkan menambah pengetahuan para mahasiswa hukum dan juga masyarakat khususnya berkaitan tentang mediasi di pengadilan serta kedudukan mediator dalam mediasi. Skripsi ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang nyata kepada masyarakat tentang bagaimana

pelaksanaan mediasi di pengadilan dengan diterapkannya Perma No. 1 Tahun 2016 Tentang prosedur mediasi di Pengadilan.

2. Secara praktis

Penulisan skripsi ini diharapkan bermanfaat bagi mahasiswa, praktisi hukum khususnya bagi advokat dan para hakim, pemerintah, mediator dalam mediasi, maupun masyarakat khususnya para pihak yang terlibat dalam suatu sengketa sehingga penulisan skripsi ini dapat dijadikan acuan dalam penyelesaian sengketa yang melalui proses mediasi.

E. Metode Penelitian

Dalam melakukan suatu penelitian kita tidak terlepas dengan penggunaan metode. Setiap penelitian haruslah menggunakan metode guna menganalisa permasalahan yang akan dibahas dalam suatu penelitian. Adapun metode yang dipakai penulis adalah :

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dipakai dalam penulisan skripsi ini adalah yuridis normatif dan yuridis empiris. Yuridis normatif adalah penelitian dengan cara pengambilan bahan maupun data dari kepustakaan dimana penelitian ini mengacu kepada peraturan perundang-undangan dan norma-norma hukum dalam masyarakat. Sedangkan penelitian yuridis empiris terdiri atas penelitian terhadap identifikasi hukum, penelitian terhadap efektivitas hukum yang meliputi (kaidah hukum, penegak hukum, sarana atau fasilitas, dan kesadaran hukum masyarakat), penelitian terhadap

perbandingan hukum, penelitian sejarah hukum, dan penelitian psikologi hukum.10

2. Sifat Penelitian

Sifat penelitian dalam skripsi ini adalah penelitian deskriptif yang dimana penelitian ini berusaha memberikan gambaran tentang sebagian ataupun keseluruhan objek yang akan diteliti. Penelitian deskriptif bertujuan menggambarkan secara tepat sifat-sifat suatu individu, keadaan, gejala atau kelompok tertentu, atau untu menentukan penyebaran suatu gejala, atau untuk menentukan ada tidaknya hubungan antara suatu gejala dengan gejala lain dalam masyarakat. Penelitian ini, kadang-kadang berawal dari hipotesis, tetapi dapat juga tidak bertolak dari hipotesis, dapat membentuk teori-teori baru atau memperkuat teori yang sudah ada, dan dapat menggunakan data kualitatif atau kuantitatif.11

3. Sumber data

Data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah data primer dan data sekunder, yaitu :

a. Data primer adalah data yang diperoleh langsung ke lapangan dengan cara wawancara. Penulis melakukan wawancara dengan mediator hakim yang melaksanakan mediasi di Pengadilan Negeri Medan.

b. Data Sekunder

Data yang diperoleh dengan cara studi kepustakaan meliputi buku-buku yang berkaitan dengan objek penelitian, peraturan

10 Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, ( Jakarta : Sinar Grafika, 2009), hal.30-46.

11 Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, ( Jakarta : Raja grafindo Persada, 2014), hal.25-26.

undangan, artikel hukum, pendapat para sarjana, dan bahan lainnya.

Data sekunder ini dapat dibagi menjadi :

1) Bahan hukum primer, yaitu bahan hukum yang terdiri peraturan peundang-undangan yang berkaitan dengan judul penelitian yaitu Perma No.1 Tahun 2016 Tentang prosedur mediasi di pengadilan.

2) Bahan hukum sekunder, yaitu bahan yang memberikan penjelasan tentang hukum primer antara lain berupa buku-buku ataupun tulisan ilmiah hukum yang berkaitan dengan judul penelitian.

3) Bahan hukum tersier, yaitu bahan yang memberikan penjelasan tentang bahan hukum primer dan sekunder antara lain berupa kamus, ensiklopedia, surat kabar, maupun artikel hukum dari internet.

4. Teknik Pengumpulan Data

a. Studi Kepustakaan (Data Sekunder)

Dilakukan dengan mempelajari berbagai sumber bacaan yang berkaitan dengan masalah yang diangkat dalam skripsi ini. Seperti : Buku-buku hukum, surat kabar, majalah hukum, makalah hukum, maupun artikel hukum dari internet, serta pendapat sarjana hukum dan bahan-bahan lainnya.

b. Studi Lapangan (Data Primer)

Penelitian langsung ke lapangan yang dilakukan dengan wawancara antara penulis dengan mediator hakim yang melaksanakan mediasi di

Pengadilan Negeri Medan. Wawancara yang dilakukan penulis terkait mengenai efektivitas Perma No.1 Tahun 2016 di Pengadilan Negeri Medan.

5. Analisis Data

Analisis data dalam penulisan ini digunakan data kualitatif, metode kualitatif ini digunakan agar penulis dapat mengerti dan memahami gejala yang ditelitinya.12 Penulisan skripsi dengan metode analisis kualitatif dilakukan dengan menelaah bahan-bahan hukum baik dari buku-buku, internet, serta peraturan perundang-undangan dan juga melakukan analisis hukum tentang peristiwa-peristiwa hukum yang terjadi dalam masyarakat pada saat sekarang ini. Peneliti mencari tahu dan menggali sumber yang berkaitan dengan peristiwa hukum yang dituangkan dalam penelitian ini.

F. Keaslian Penulisan

Skripsi ini berjudul “ KEDUDUKAN MEDIATOR DALAM PENYELESAIAN SENGKETA DI PENGADILAN NEGERI MEDAN (STUDI TERHADAP EFEKTIVITAS PERMA NOMOR 1 TAHUN 2016)”. Langkah awal yang dilakukan penulis sebelumnya adalah melakukan penelusuran terhadap judul skripsi yang ada pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

Sepengetahuan penulis materi yang dibahas dalam skripsi ini belum pernah dijadikan judul ataupun pembahasan pada skripsi yang ada di Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, sehingga penulis tertarik mengangkat judul skripsi ini.

12 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta : Universitas Indonesia Press, 2007), hal.21.

G. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan ini akan mempermudah penulisan dan penjabaran penulisan skripsi dengan memberikan gambaran yang lebih jelas. Penelitian ini dibagi menjadi lima bab dengan sistematika penulisan sebagai berikut :

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini berisikan tentang latar belakang, yaitu apa alasan yang mendorong penulis untuk mengangkat judul ini dalam suatu penelitian hukum. Permasalahan, yaitu hal-hal yang menjadi permasalahan dalam penulisan skripsi ini yang nantinya akan dicari solusi dari suatu permasalahan tersebut. Tujuan penulisan yaitu maksud dari penulis melakukan penulisan skripsi ini. Manfaat penulisan, yaitu apa manfaat yang ditimbulkan dengan adanya skripsi ini baik manfaat bagi penulis sendiri maupun pembacanya.

Metode penelitian, yaitu metode yang penulis pakai dalam mengkaji setiap permasalahan yang ada. Keaslian penulisan, yaitu penegasan bahwa skripsi ini bukan merupakan plagiat dari penulisan orang lain dan dapat dijamin keasliannya. Sistematika penulisan yaitu uraian ringkas tentang skripsi ini.

BAB II : TINJAUAN UMUM TENTANG PILIHAN PENYELESAIAN SENGKETA

Bab ini menguraikan tentang pengertian umum dan penyebab timbulnya sengketa, latar belakang lahirnya pilihan penyelesaian sengketa, bentuk-bentuk dan pelaksanaan pilihan penyelesaian sengketa.

BAB III : TINJAUAN UMUM TENTANG MEDIASI DAN PROSEDUR MEDIASI DI PENGADILAN

Bab ini membahas tentang latar belakang lahirnya prosedur mediasi di Pengadilan, esensi mediasi dalam penyelesaian perkara perdata di Pengadilan, pengertian mediator dan fungsi mediator di Pengadilan.

BAB IV : KEDUDUKAN MEDIATOR DALAM PENYELESAIAN

SENGKETA DI PENGADILAN NEGERI MEDAN (STUDI TERHADAP EFEKTIVITAS PERMA NOMOR 1 TAHUN 2016 ) Bab ini menjelaskan tentang bagaimana kedudukan mediator dalam penyelesaian sengketa di Pengadilan Negeri Medan, bagaimana efektivitas Perma Nomor 1 Tahun 2016 di Pengadilan Negeri Medan, apa saja kendala-kendala yang dialami mediator dalam pelaksanaan mediasi di Pengadilan Negeri Medan.

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini merupakan bagian akhir dari penulisan skripsi ini yang berisikan kesimpulan dan saran dari bab-bab yang telah dibahas sebelumnya.

BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG PILIHAN PENYELESAIAN SENGKETA

A. Pengertian Umum dan Penyebab Timbulnya Sengketa

Sengketa merupakan hal yang dapat timbul kapan saja dalam kehidupan bermasyarakat. Timbulnya sengketa dapat terjadi secara tiba-tiba tanpa diperhitungkan sebelumnya. Manusia yang merupakan makhluk sosial sehingga sejak awal kehidupannya manusia sudah terlibat dengan masyarakat yang ada disekelilingnya, dimana dalam kehidupan bermasyarakat pertentangan akan selalu ada karena masyarakat memiliki pandangan atau persepsi yang berbeda-beda.

Persengketaan dalam kehidupan bermasyarakat tidak pula menutup kemungkinan adanya pihak penengah dalam suatu sengketa.

Sengketa terjadi disaat munculnya suatu situasi dimana adanya pihak yang merasa dirugikan oleh pihak yang lainnya sehingga pihak yang merasa dirugikan ini menyampaikannya ke pihak tersebut sehingga dalam hal ini akan terjadi perbedaan pendapat diantara mereka sehingga terjadilah sengketa itu.

Dalam kehidupan bermasyarakat banyak yang mempersoalkan antara sengketa dengan konflik. Sebagian berpendapat bahwa sengketa dan konflik merupakan dua hal yang secara konseptual tidak terdapat perbedaan diantaranya.

Akan tetapi, sebagian lain sarjana berpendapat, bahwa istilah konflik dapat dibedakan dari istilah sengketa. Pertama, istilah konflik mengandung pengertian yang lebih luas karena konflik dapat mencakup perselisihan-perselisihan yang bersifat laten dan perselisihan-perselisihan yang telah mengemuka. Konflik atau perselisihan yang telah mengemuka disebut sebagai sengketa. Kedua, konflik

merujuk pada perselisihan-perselisihan yang para pihaknya sudah mupun belum teridentifikasi atau dapat diidentifikasi secara jelas. Ketiga, istilah konflik lebih sering ditemukan dalam kepustakaan ilmu-ilmu sosial dan politik daripada dalam kepustakaan ilmu hukum.13

Ada beberapa pengertian konflik menurut para pakar, sebagai berikut :14 1. Menurut Leopod Von Wiese, Pengertian konflik adalah suatu proses sosial

dimana kelompok manusia atau orang perorangan yang berusaha untuk memenuhi apa yang menjadi tujuannya tersebut dengan jalan menentang pihak lain disertai dengan kekerasan dan ancaman.

2. Menurut Lewis A Coser, Pengertian konflik ialah perselisihan mengenai nilai-nilai atau tuntutan-tuntutan yang berkenaan dengan status, kuasa dan sumber kekayaan yang persediannya terbatas.

3. Menurut Duanne Ruth-hefelbower, mengemukakan pengertian konflik, Konflik merupakan kondisi yang terjadi ketika dua pihak ataupun lebih yang menganggap ada perbedaan posisi yang tidak selaras atau sebanding, tidak cukup sumber dan salah satu pihak menghalangi, mencampuri atau dalam beberapa hal membuat tujuan di pihak lain kurang berhasil.

Menurut Taquiri dan Davis, Konflik adalah warisan kehidupan sosial yang boleh berlaku di berbagai keadaan akibat berbangkitnya keadaan

merujuk pada perselisihan-perselisihan yang para pihaknya sudah maupun belum teridentifikasi atau dapat diidentifikasi secara jelas. Ketiga, istilah konflik lebih

13 Takdir Rahmadi

14 http://www.pengertianpakar.com/2012/02/pengertian-konflik-sengketa-dan-sengketa-internasional, diakses pada tanggal 6 November 2016

sering ditemukan dalam kepustakaan ilmu-ilmu sosial dan politik daripada dalam kepustakaan ilmu hukum.15

Ada beberapa pengertian konflik menurut para pakar, sebagai berikut :16 4. Menurut Leopod Von Wiese, Pengertian konflik adalah suatu proses sosial

dimana kelompok manusia atau orang perorangan yang berusaha untuk memenuhi apa yang menjadi tujuannya tersebut dengan jalan menentang pihak lain disertai dengan kekerasan dan ancaman.

5. Menurut Lewis A Coser, Pengertian konflik ialah perselisihan mengenai nilai-nilai atau tuntutan-tuntutan yang berkenaan dengan status, kuasa dan sumber kekayaan yang persediannya terbatas.

6. Menurut Duanne Ruth-hefelbower, mengemukakan pengertian konflik, Konflik merupakan kondisi yang terjadi ketika dua pihak ataupun lebih yang menganggap ada perbedaan posisi yang tidak selaras atau sebanding, tidak cukup sumber dan salah satu pihak menghalangi, mencampuri atau dalam beberapa hal membuat tujuan di pihak lain kurang berhasil.

7. Menurut Taquiri dan Davis, Konflik adalah warisan kehidupan sosial yang boleh berlaku di berbagai keadaan akibat berbangkitnya keadaan ketidaksetujuan, kontoversi dan juga pertentangan diantara dua pihak atau lebih secara berterusan.

8. Menurut Muchlas, Konflik ialah bentuk interaktif yang terjadi pada tingkatan individual, kelompok, interpersonal atau pada tingkatan organisasi. Konflik ini terutama terjadi pada tingkatan individual yang sangat dekat hubungannya dengan stress.

9. Menurut Faules, Konflik adalah ekspresi pertikaian antara individu dengan individu yang lain, kelompok dengan kelompok yang lain yang disebabkan karena beberapa alasan. Dalam pengertian konflik ini pertikaian menunjukkan adanya perbedaan antara dua atau lebih individu yang diekspresikan, diingat dan telah dialami.

Jika terlibat dalam suatu sengketa, maka hal sebaiknya yang dilakukan terlebih dahulu mengidentifikasi masalah yang sedang terjadi. Dimana dalam hal ini, sebaiknya menetapkan terlebih dahulu mana yang dapat diminta pertanggungjawaban dan meneliti apakah ada perjanjian atau kontrak. Perlu dipertimbangkan peraturan mana yang berlaku meskipun di dalam perjanjian tidak ditetapkan secara tegas mengenai peraturan yang terkait dengan sengketa itu.

15 Takdir Rahmadi, Op.Cit., hal. 1-3.

16 http://www.pengertianpakar.com/2012/02/pengertian-konflik-sengketa-dan-sengketa-internasional, diakses pada tanggal 6 November 2016

Kemudian yang selanjutnya dilakukan adalah dipertimbangkan tindakan dan sikap yang bagaimana yang harus dipersiapkan dalam menangani sengketa tersebut.

Dalam penyelesaian sengketa diperlukan adanya suatu analisa dan pengelompokan yang dapat memberikan kita pemahaman dalam menghadapi segala persoalan dan sekaligus menentukan rencana apa saja yang harus digunakan dalam pemecahan masalah tersebut. Berikut suatu pengelompokkan dasar sengketa atau perselisihan, termasuk yang bersifat kompleks dan batas-batasnya yang dapat saja saling tumpang tindih sebagai berikut : 17

1. Internasional – termasuk masalah-masalah hukum publik.

2. Konstitusional, administratif dan fiskal – termasuk masalah-masalah yang berkaitan dengan kewarganegaraan atau status; pemerintahan, instansi pemerintah, jenis instansi pemerintah, perijinan, perencanaan, perpajakan dan jaminan sosial.

3. Organisasi – termasuk masalah-masalah yang timbul dalam berbagai bentuk organisasi dan mencakup manajemen, struktur, prosedur dan perselisihan dalam organisasi.

4. Tenaga kerja – termasuk tuntutan gaji, jam kerja dan perselisihan ketenagakerjaan (kalau di Indonesia termasuk dalam kelompok yang diatur oleh undang-undang perburuhan).

5. Korporasi – termasuk perselisihan di antara pemegang saham dan masalah-masalah yang timbul dalam liquidasi, kepailitan dan keuangan.

6. Perdagangan; bidang ini sangat luas dan mencakup perselisihan di bidang kontrak, masalah-masalah dalam hubungannya seperti kemitraan, usaha

17 Priyatna Abdurrasyid, Op.,Cit., hal. 4-5.

patungan yang berbentuk dalam berbagai bidang kegiatan yang menyangkut bisnis, seperti perbankan, pengangkutan komoditas, kekayaan intelektual, industry konstruksi, dan banyak lainnya.

7. Perselisihan antara para konsumen, antara pemasok dan konsumen (

“product liability” perlu diteliti lebih lanjut).

8. Perselisihan mengenai harta benda – termasuk perselisihan antara pemilik dan penyewa, atau antara para penyewa, peninjauan sewa dan perselisihan tentang batas-batas pekarangan rumah – dan sejenisnya.

9. Sengketa yang timbul akibat kerugian atau kesalahan – termasuk kealpaan atau kelalaian melakukan kewajiban akibat tuntutan terhadap perusahaan asuransi dan yang berkaitan dengan itu.

10. Masalah yang timbul akibat perceraian – termasuk masalah yang berkaitan dengan anak, harta benda dan keuangan (khusus di Indonesia, sengketa soal keluarga harus diselesaikan melalui Pengadilan Agama bagi mereka yang beragama islam).

11. Masalah keluarga lainnya – termasuk tuntutan hak waris, bisnis keluarga dan perselisihan antara anggota keluarga (di Indonesia menjadi wewenang Pengadilan untuk mereka yang beragama bukan islam).

12. Masalah perwalian – termasuk masalah-masalah yang timbul antara wali dan ahli waris.

13. Perselisihan yang menimbulkan konsekuensi dalam undang-undang pidana.

14. Masalah-masalah berkehidupan masyarakat, jenis kelamin, ras dan suku.

15. Perselisihan antara pribadi.

Masyarakat umum banyak mengidentifikasi konflik atau sengketa sebagai kekerasan, sehingga konflik dipandang sebagai hal yang buruk yang harus ditiadakan, banyak yang berpendapat seperti ini, mungkin pandangan ini dikuatkan dengan kenyataan yang ada bahwa setiap konflik atau pertikaian yang terjadi di Indonesia selalu berujung pada kekerasan, sehingga orang pun menganggap konflik ini adalah yang buruk. Akan tetapi, ada yang berpendapat lain, bahwa konflik tidak selalu berakibat buruk karena konflik harus dibedakan dengan kekerasan. Konflik mengandung nilai-nilai positif yang dapat mewujudkan perubahan-perubahan dalam kehidupan masyarakat ke arah yang lebih baik. Konflik timbul karena adanya pihak yang merasa bahwa kepentingannya dirugikan sehingga konflik merupakan suatu proses merubah ketidakadilan menjadi berkeadilan sebagaimana mestinya.

Sengketa atau perselisihan mungkin saja dalam sengketa itu hal-hal yang berhubungan dengan uang atau yang melibatkan uang yang dapat ditentukan ataupun dihitung jumlahnya. Ada pula didalam sengketa itu hal-hal yang berkaitan dengan status, hak, maupun hal lainnya dalam kegiatan perdagangan dan juga perjanjian. Dalam hal perjanjian sengketa ini bisa muncul bilamana salah satu pihak ada yang wanprestasi sehingga pihak lainnya jelas merasa bahwa kepentingan hak nya dirugikan. Sengketa atau perselisihan mungkin juga berhubungan dengan soal yang sederhana atau kompleks dan melibatkan berbagai jenis persoalan, misalnya : 18

18 Ibid, hal.5-6.

1. Kenyataan yang mungkin timbul akibat kredibilitas para pihak itu sendiri, atau dari data yang diberikan oleh pihak ketiga termasuk penjelasan-penjelasan tentang kenyataan-kenyataan data tersebut.

2. Masalah hukum yang pada umumnya akibat dari pendapat atau tafsiran menyesatkan yang diberikan oleh para ahli hukum yang terkait.

3. Akibat perbedaan teknis termasuk perbedaan pendapat dari para ahli teknik dan profesionalisme dari para pihak.

4. Perbedaan pemahaman tentang sesuatu hal yang muncul, misalnya dalam penggunaan kata-kata yang membingungkan atau adanya perbedaan asumsi.

5. Perbedaan persepsi mengenai keadilan, konsep keadilan dan moralitas, budaya, nilai-nilai dan sikap.

Dalam sengketa, salah satu pihak mungkin benar yang memungkinkan memiliki hak hukum yang benar dalam masalah-masalah tertentu akan tetapi, pihak yang lainnya juga mungkin benar terhadap masalah-masalah lainnya, dimana kedua belah pihak mempunyai tuntutan yang bermanfaat bagi keduanya.

Dimana dalam hal ini mungkin saja adanya pembagian tanggung jawab antara para pihak. Penyelesaian sengketa dapat dipengaruhi oleh sikap-sikap para pihak misalnya masalah keuangan terkait dengan posisi keuangan secara keseluruhan antara para pihak. Persepsi tentang keadilan ataupun kecurigaan yang timbul diantara para pihak sehingga mempengaruhi tindakan yang akan diambil dalam pemecahan suatu masalah. Kemarahan ataupun faktor emosional dari para pihak dapat menjadi penghambat penyelesaian sengketa. Dalam penyelesaian sengketa itu alangkah baiknya jika para pihak menjalankan proses dengan penuh kesabaran

sehingga tercapai tujuannya yang tidak lain adalah untuk menciptakan keadilan sebagaimana mestinya.

Dalam kehidupan manusia selalu menunjukkan adanya pertentangan diantara mereka yang dimana salah satu penyebabnya adalah perbedaan kepentingan antara manusia yang satu dengan lainnya. Hukum ada untuk meninimalisir berbagai konflik atau sengketa dalam kehidupan bermasyarakat dengan tujuan menciptakan kedamaian yang berkelanjutan kedepannya.

Sengketa dapat terjadi karena beberapa sebab dimana para sarjana banyak yang mencoba membangun teori tentang sebab-sebab Terjadinya sengketa atau konflik. Terdapat beberapa teori mengenai sebab Terjadinya antara lain yaitu : 19

1. Teori hubungan masyarakat menjelaskan bahwa konflik disebabkan oleh polarisasi yang terus terjadi, adanya ketidakpercayaan dan rivalitas kelompok dalam masyarakat.

2. Teori negosiasi prinsip menjelaskan bahwa konflik terjadi karena posisi-posisi para pihak yang tidak selaras dan adanya perbedaan-perbedaan diantara para pihak.

3. Teori identitas menjelaskan bahwa konflik terjadi karena sekelompok orang merasa identitasnya terancam oleh pihak lain.

4. Teori kesalahpahaman antarbudaya menjelaskan bahwa konflik terjadi karena ketidakcocokan dalam berkomunikasi di antara orang-orang dari latar belakang budaya yang berbeda.

19 Takdir Rahmadi, Op.Cit., hal. 8-9.

5. Teori transformasi menjelaskan bahwa konflik dapat terjadi karena adanya masalah-masalah ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang mewujud dalam bidang-bidang sosial, ekonomi, dan politik.

6. Teori kebutuhan atau kepentingan manusia menjelaskan, bahwa konflik dapat terjadi karena kebutuhan atau kepentingan manusia tidak dapat terpenuhi atau terhalangi atau merasa dihalangi oleh pihak lain.

Persengketaan antara para pihak tidak selalu menimbulkan hal negatif, dimana penyelesaiannya harus dilakukan dengan baik untuk menuju keputusan atau hasil terbaik bagi para pihak. Sehingga penyelesaian sengketa menjadi salah satu aspek hukum yang penting dalam suatu negara agar ketertiban serta kedamaian dapat terjaga dengan baik.

B. Latar Belakang Lahirnya Pilihan Penyelesaian Sengketa

Penyelesaian sengketa yang telah dikenal sejak lama adalah penyelesaian di pengadilan. Proses penyelesaian di pengadilan cenderung menimbulkan permasalahan yang baru karena hasilnya adalah bahwa akan ada pihak yang menang dan kalah dalam pengadilan. Penyelesaian perkaranya juga memakan banyak waktu karena proses peradilan dianggap terlalu berbelit-belit dan penyelesaian perkara melalui pengadilan terbuka untuk umum. Penyelesaian sengketa di luar pengadilan mulai berkembang seiring perkembangan zaman, dimana penyelesaian sengketa di luar pengadilan bersifat tertutup sehingga dapat dijamin kerahasiaannya dan prosesnya pun lebih cepat. Litigasi (pengadilan) adalah metode penyelesaian sengketa paling lama dan lazim digunakan dalam menyelesaikan sengketa, baik sengketa yang bersifat publik maupun yang bersifat

privat. Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan zaman, di mana kebutuhan masyarakat akan keadilan dan kesejahteraan semakin besar, maka penyelesaian sengketa melalui litigasi lambat laun dirasakan kurang efektif lagi.

Penyelesaian sengketa melalui litigasi dirasakan terlalu lama dan memakan biaya yang cukup besar. Kondisi demikian menyebabkan pencari keadilan (khususnya pelaku bisnis) mencari alternatif lain yaitu penyelesaian sengketa di luar proses peradilan formal. Penyelesaian sengketa di luar proses peradilan formal inilah

Penyelesaian sengketa melalui litigasi dirasakan terlalu lama dan memakan biaya yang cukup besar. Kondisi demikian menyebabkan pencari keadilan (khususnya pelaku bisnis) mencari alternatif lain yaitu penyelesaian sengketa di luar proses peradilan formal. Penyelesaian sengketa di luar proses peradilan formal inilah

Dokumen terkait