BAB III LAPORAN OBYEK
1. Kedudukan Pengawas Syariah BMT Bima
Menurut penulis berdasarkan dari data-data hasil penelitian menunjukkan bahwa BMT Bima sebagai lembaga keuangan syariah telah menempatkan DPS pada kedudukan yang penting sebagai pengawas yang memiliki peran untuk menjaga dan mengawasi agar BMT Bima senantiasa berada pada rel prinsip-prinsip syariah. Penempatan kedudukan DPS yang penting ini bisa dilihat BMT Bima telah memiliki DPS sejak awal terbentuknya.”Sejak awal terbentuk BMT Bima sudah memiliki DPS.”, kata Bapak A. Hadi Nasir (wawancara penulis pada hari Senin 26/07/2011 pukul 09.00 WIB).
Oleh karena pentingnya DPS dalam menjaga penegakkan prinsip-rinsip syariah di BMT, maka DPS BMT Bima diberikan kewenangan untuk menegur jika terjadi penyimpangan bahkan menghentikan kegiatan jika benar-benar terbukti menemukan adanya pelanggaran terhadap prinsip-prinsip syariah atas kegiatan yang dilakukan oleh BMT Bima.
Sehingga label lembaga keuangan syariah bukan sebagai kedok untuk kepentingan bisnis semata, tapi kesungguhan untuk menjalankan prinsip ekonomi islam.
Menurut penulis kehadiran BMT dapat memberikan solusi bagi masyarakat ekonomi mikro untuk mendapatkan dana dengan mudah dan cepat, terhindar dari jerat rentenir, dan mengacu pada prinsip syariah.
Namun demikian terdapat pula BMT yang perlu diwaspadai masyarakat, yang hanya sebagai kedok penipuan dengan menggunakan label BMT sebagai lembaga keuangan syariah akan tetapi operasionalnya tidak dijalankan dengan prinsp-prinsip syariah bahkan hanya bertujuan untuk mendapatkan keuntungan oleh oknum tertentu.
Prinsip-prinsip syariah Islam yang menjadi dasar pengelolaan ekonomi syariah, sesungguhnya merupakan nilai-nilai yang ditujukan agar pengelolaan ekonomi berjalan di rel kebenaran (ma'rufat) dan jauh dari sifat-sifat bathil (munkarat). Keberadaan Dewan Pengawas Syariah di setiap lembaga ekonomi syariah, tentu menjadi faktor penting untuk dapat terpelihara dan dijalankannya prinsip-prinsip syariah pada lembaga-lembaga tersebut. Pengembangan ekonomi syariah pun memiliki daya dukung yang memadai sebagaimana pesatnya pertumbuhan yang menjadi fenomena akhir-akhir ini.
Di sisi lain, atas dasar kesadaran umat Islam untuk mendapatkan rezeki dengan cara yang halal menjauhi riba dan larangan Allah lainnya, menjadikan lembaga ekonomi syariah kuat menghadapi badai krisis ekonomi, serta kebijakan politik ekonomi. Kesadaran bersyariah di bidang muamalah ditumbuh kembangkan dengan menanamkan keyakinan bahwa ketaatan pada syariat di bidang muamalah, khususnya bidang ekonomi,
merupakan perwujudan dari keimanan dan ibadah yang berpahala di sisi Allah SWT.
Sebagaimana definisi ekonomi Islam menurut Gemala Dewi (2004), bahwa ”Bangunan perekonomian yang didirikan di atas landasan dasar-dasar tersebut sesuai dengan tiap lingkungan dan masa”. Maksud dari istilah tersebut adalah cara-cara penyesuaian atau pemecahan masalah ekonomi yang dapat dicapai oleh para ahli dalam negara Islam, sebagai pelaksanaan dari prinsip-prinsip Al Qur‟an dan As Sunnah. Dalam pelaksanaan prinsip-prinsip ekonomi, atau pada bidang-bidang lain yang tidak diputuskan hukumnya oleh prinsip-prinsip dasar, maka diperbolehkan menggunakan ijtihad untuk menemukan pendapat bagi pemecahan problem ekonomi menurut situasi dan kondisinya dengan petunjuk dari Al Qur‟an dan As Sunnah.
Oleh karena hal tersebut di atas, menurut penulis keberadaan sebuah dewan syariah sangat penting bagi sebuah lembaga keuangan syariah, sebab pada saat ini ada sekian banyak permasalahan yang bersifat syubhat dan kompleks, sedangkan tsaqafah dan wawasan umat Islam di negeri ini umumnya sangat kurang. Sehingga dibutuhkan advisor (penasehat) dan supervisor (pengawas) yang terkait dalam masalah halal dan haram (hukum syar’i dan tidak syar’i). Kalau menemukan sekedar orang-orang yang punya semangat ke-Islaman atau pandai berceramah sehingga menarik pendengar, mungkin tidak terlalu sulit. Tetapi menemukan ulama yang mendalami detail-detail masalah dari sudut
pandang hukum Islam/syariah, tentu bukan hal yang sederhana. Sebab jumlah ulama yang ahli di bidang fiqh muamalah terlebih muamalah kontemporer itu sangat sedikit, sedangkan kebutuhan atas jasanya sedemikian banyak, dan dinamika aktifitas umat sehari-hari semakin cepat berkembang.
Mengingat begitu besarnya peran dan tanggung jawab DPS berdasarkan Keputusan DSN-MUI No 3 Tahun 2000, maka seharusnya tidak semua orang boleh memainkan peran DPS. Ada syarat khusus yang selayaknya wajib dipenuhi agar seseorang bisa dipercaya sebagai DPS.
Mengenai hal ini DSN-MUI dalam Keputusannya No. 03 tahun 2000 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penetapan Anggota Dewan Pengawas Syariah di Lembaga Keuangan Syariah, sebenarnya telah menetapkan syarat menjadi anggota DPS yaitu:
1) memiliki akhlak yang terpuji
2) harus punya kompetensi kepakaran di bidang syariah mu‟amalah serta pengetahuan di bidang ekonomi syariah
3) ada komitmen yang tinggi dalam dari DPS untuk mengembangkan ekonomi berdasarkan sistem syariah
4) kelayakan sebagai pengawas syariah yang dibuktikan dengan surat atau sertifikat yang dikeluarkan DSN.
Namun dari hasil penelitian yang dilakukan penulis ternyata syarat yang terakhir tersebut belum bisa diberlakukan oleh semua lembaga keuangan mikro syariah, termasuk salah satunya di sini adalah BMT Bima.
”Tidak ada sertifikasi kelayakan dari DSN sebagai syarat menjadi DPS BMT Bima”, kata Bapak A. Hadi Nasir (wawancara penulis pada hari Senin 26/07/2011 pukul 09.00 WIB). Hal yang sama disampaikan Ibu Hesti, ”DPS BMT tidak diwajibkan harus memiliki sertifikasi kelayakan dari DSN, yang diwajibkan adalah DPS BMT Pusat yang berada di Asosiasi” (Wawancara penulis pada hari Kamis 28/07/2011 pukul 10.30 WIB).
Hal tersebut menurut penulis wajar karena tidak ada hubungan secara struktural antara DPS dengan DSN di BMT, selain itu dari DSN sendiri selama ini belum melakukan sosialisasi secara massif dan menyeluruh pada semua lembaga keuangan syariah terkait produk keputusan ataupun fatwa dari DSN untuk mendapatkan produk keputusan atau fatwa dari DSN, lembaga keuangan mikro syariah utamanya BMT harus aktif berusaha mencari sendiri. ”Bahkan untuk mendapatkan fatwa-fatwa akad yang dikeluarkan oleh DSN kami harus aktif mencari sendiri karena tidak ada sosialisasi”, kata Bapak A. Hadi Nasir (wawancara penulis pada hari Senin 26/07/2011).
Bahkan dikatakan oleh Ketua Badan Pelaksana Harian DSN:
”BMT belum merupakan bagian pengawasan kami, dia di luar sistem.
Tidak ada mekanisme pengawasan syari‟ah. Makanya, banyak yang terindikasi menyimpang. Kamis lalu (22 September 2007) ada Deklarasi Pegembangan Koperasi Syari‟ah se-JaBar, dihadiri Menteri Koperasi.
Saya diundang berbicara. Saya katakan, koperasi syari‟ah ini belum ada regulasinya. Saya minta Menteri Koperasi dan Dewan Koperasi Indonesia mencoba memfalisitasinya, sehingga koperasi syari‟ah dan BMT ada regulasinya dan mekanisme pengawasan kesesuaiannya dengan syari‟ah.”
( dikutip dari wawancara wartawan Gatra dengan KH. Ma‟ruf Amin, 11 Okt 2007, www.gatra.com).
Menurut penulis seharusnya Keputusan DSN MUI yang mengatur lembaga keuangan syariah dapat diberlakukan kepada semua lembaga keuangan syariah baik mikro maupun makro, sebab dalam aturan tersebut ditegaskan berlaku untuk lembaga keuangan syariah tidak disebutkan adanya pengecualian atau pengkhususan terhadap lembaga keuangan syariah tertentu. Akan tetapi ternyata tidak berlaku demikian dan belum ada tindakan dari DSN mengenai hal ini. Padahal lembaga keuangan mikro syariah khususnya BMT telah mengalami perkembangan yang cukup pesat yang seharusnya juga menjadi perhatian dari DSN-MUI, namun dalam prakteknya selama ini terkesan DSN-MUI lebih memperhatikan lembaga keuangan makro syariah khususnya bank syariah.
Kurangnya perhatian DSN terhadap BMT menurut penulis bisa dikarenakan latar belakang terbentuknya DSN tidak lepas dari sejarah perbankan syariah, dimana keberadaan DPS pada bank syariah adalah keharusan yang telah diatur dalam Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 52/34/Kep/Dir untuk Bank Umum Syariah, Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 32/36/Kep/Dir untuk Bank Pengkreditan Syariah, dan UU No. 10 tahun 1998. Dalam aturan tersebut ditegaskan bahwa persyaratan anggota Dewan Pengawas Syariah diatur dan ditetapkan oleh Dewan Syariah Nasional, dan wajib mengikuti fatwa Dewan Syariah Nasional. Aturan-aturan tersebut yang menjadi landasan hukum dibentuknya Dewan Syariah Nasional melalui keputusan Majelis
Ulama Indonesia (Hery Murjianto, 2003: 50). Dari latar belakang tersebut dapat menjadi alasan sehingga DSN MUI lebih memperhatikan perbankan syariah, karena DSN-MUI mendapat kedudukan yang kuat secara yuridis untuk terlibat dalam sistem pengawasan syariah pada perbankan syariah.
Sedangkan pada lembaga keuangan mikro syariah khususnya BMT, DSN-MUI tidak punya ikatan secara yuridis, sebab belum ada payung hukum yang dapat dijadikan legalitas bagi DSN untuk terlibat dalam sistem pengawasan syariah pada lembaga keuangan mikro syariah khususnya BMT. Bahkan badan hukum BMT pun tidak ada keseragaman, karena tidak adanya payung hukum yang mengatur badan hukum BMT.
Terhadap BMT-BMT yang berbadan hukum koperasi termasuk BMT Bima yang menjadi obyek dalam penelitian ini, mendapat payung hukum dari Perundang-undangan koperasi, namun dari hasil penelitian belum ada satupun penegasan dalam Perundang-undangan koperasi suatu aturan yang berlaku bagi koperasi yang menggunakan prinsip-prinsip syariah mengenai keterlibatan DSN-MUI dalam sistem pengawasan syariah termasuk menentukan syarat anggota DPS.
Sehingga syarat yang keempat untuk menjadi anggota DPS, yaitu sertifikasi kelayakan dari DSN bagi lembaga keuangan mikro syariah terutamanya BMT tergantung dari kebijakan lembaganya masing-masing.
Sedangkan di BMT Bima syarat yang keempat ini tidak digunakan, sebab sangat sulit bahkan tidak ada ulama di Magelang yang memiliki sertifikasi dari DSN, walaupun Pengawas Syariah BMT Bima adalah seorang ulama
di Magelang yang tinggal di Muntilan namun juga tidak memiliki sertifikasi kelayakan sebagai DPS dari DSN. Oleh karena itu, untuk syarat keempat di BMT Bima cukup dengan pandangan kelayakan dari Rapat Anggota yang memandang calon mampu untuk menjadi DPS.
Menurut penulis mengenai syarat sertifikasi kelayakan, tidak berarti jika tidak memiliki sertifikasi kelayakan dari DSN maka DPS tidak memiliki kemampuan untuk menjadi DPS. Sebab bisa jadi DPS tidak mencari sertifikasi kelayakan padahal memiliki kemampuan, dikarenakan merasa tidak perlu untuk memiliki bukti kelayakan dengan sertifikasi, serta tidak ingin direpotkan dengan harus mengikuti ujian kelayakan yang membutuhkan waktu, biaya, pikiran, dan tenaga. Meski begitu menurut penulis adanya syarat sertifikasi juga penting, karena sertifikasi tersebut menjadi bukti secara normative sebelum menjalankan tugasnya bahwa calon DPS memiliki kelayakan, hal ini akan lebih memberikan kepercayaan dan keyakinan terhadap kemampuan DPS karena telah teruji kelayakannya oleh DSN. Selain itu juga dapat menambah kepercayaan dari masyarakat dengan adanya sertifikasi dari DSN-MUI, sebab umat Islam secara emosional memiliki ikatan dengan lembaga yang mewadahi ulama-ulama Indonesia yaitu MUI, sedangkan DSN adalah bagian dari MUI.
Berdasarkan hasil penelitian, dilihat dari kedudukannya DPS BMT Bima merupakan lembaga independen yang berfungsi melakukan pengawasan syariah terhadap BMT. Menurut penulis keberhasilan pelaksanaan tugas dan wewenang pengawasan syariah ini tergantung
kepada independesinya di dalam membuat suatu penilaian atau putusan yang dibutuhkan. Namun setidaknya independensinya diharapkan dapat dijamin karena DPS BMT Bima:
1) bukan staf manajemen/pengelola, sehingga tidak tunduk di bawah kekuasaan administrasi
2) dipilih oleh Rapat Anggota, termasuk honorariumnya ditentukan di sana 3) mempunyai mekanisme kerja dan tugas-tugas khusus seperti halnya
badan pengawas lainnya.
2. Tingkat efektifivitas Kep.DSN-MUI No. 3 Tahun 2000 pada Dewan Pengawas Syariah di Baitul Mâl Wa Tamwil (BMT) Bima Magelang.
Hasil penelitian dan pembahasan tentang kedudukan DPS BMT Bima, menunjukkan bahwa DPS BMT Bima memiliki peran yang sangat penting terhadap pengawasan aspek syariah agar tidak terjadi penyimpangan terhadap prinsip-prinsip syariah. Bahkan penempatan peran penting ini tidak didasarkan karena adanya aturan yuridis, atau aturan yang mewajibkan dan mengikat, akan tetapi penempatan peran penting DPS BMT Bima didasari kesadaran dan semangat untuk melaksanakan ekonomi syariah yang diwujudkan dalam aktivitas BMT Bima sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.
Menurut penulis, kesadaran bersama tersebut dilandasi oleh aqidah yang kuat. Sebab dengan aqidah yang kuatlah yang dapat mendorong jiwa seseorang untuk melaksanakan tuntunan Al Qur‟an dan Sunnah Rosulullah SAW. Dorongan tersebut yang akan memunculkan niat dalam usaha
mengembangkan ekonomi islam dengan target mewujudkan baldatun thoyyibatun wa robbun ghoffur (masyarakat yang sejahtera dalam lindungan dan ampunan Allah SWT), dengan kata lain usaha yang dilakukan diniatkan ikhlas semata-mata untuk mendapatkan ridho Allah SWT. Niat ini lah yang akan memacu semangat dan mengoptimalkan usaha untuk meraih keberhasilan usaha ekonomi yang sedang dilakukan sehingga mendapat kesuksesan. Hal itu dapat terjadi jika adanya dorongan yang kuat di dalam jiwa sebagai pancaran dari nilai-nilai aqidah, maka suatu keharusan berusaha secara optimal untuk mewujudkan kesuksesan dan keuntungan sebesar-besarnya dari segala bentuk usaha ekonomi yang dilakukan, yaitu melalui aktifitas yang dilakukan secara tekun dan optimis serta dibarengi dengan kesabaran sebagaimana telah diperintahkan oleh Allah dalam Al Qur‟an dan perintahkan serta dicontohkan oleh Rosulullah dalam Sunnahnya.
Jika di lihat dari kedudukan dan tugasnya, setidaknya DPS BMT Bima dapat memainkan lima peran:
1) Sebagai supervisor, DPS menjadi pengawas langsung kepatuhan terhadap prinsip-prinsip syariah, serta mengawasi implementasi fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) dan PAS 002 pada operasional BMT.
2) Sebagai advisor, DPS memberi nasihat, pemikiran, saran, sekaligus sebagai konsultan agar dalam pengembangan produk dan jasa yang inovatif sesuai dengan prinsip-prinsip syariah..
3) Sebagai marketer DPS menjadi mitra strategis untuk peningkatan kualitas dan kuantitas BMT. DPS dengan kapasitas yang dimiliki sebagai ulama dapat membangun kemitraan lewat komunikasi masa, memberikan motivasi, penjelasan dan edukasi public kepada masyarakat terkait pentingnya bermuamalah sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.
4) Sebagai supporter, DPS memberi dukungan, motivasi, dan doa, agar pengelolaan BMT senantiasa berada rel prinsip-prinsip syariah sesuai dengan pedoman yang telah digariskan Al Qur‟andan As Sunnah . 5) Sebagai player atau pemain dan pelaku ekonomi syariah DPS terlibat
sebagai anggota BMT yang bertujuan untuk melaksanakan dan menjaga prinsip-prinsip syariah.
Dilihat dari kelima peran tersebut dapat menunjukkan bahwa DPS memiliki peran yang sangat penting, dimana kelima peran tersebut bertujuan untuk menjaga penegakkan dan penerapan prinsip-prinsip syariah khususnya dalam bermuamalah. Namun sebagaimana telah penulis jabarkan sebelumnya bahwa tidak ada hubungan secara yuridis antara DPS BMT dengan DSN, hal ini mengakibatkan belum diakomodasinya fungsi DPS BMT yang seharusnya menjadi mediator hubungan antara BMT dengan DSN terutama dalam setiap upaya pengembangan produk dan jasa yang perlu mendapatkan fatwa dari DSN, dan sebagai perwakilan DSN yang ditempatkan pada BMT yang berkewajiban menyampaikan laporan
secara berkala dari hasil pengawasannya kepada DSN sekurang-kurangnya sekali dalam satu tahun.
Menurut penulis meskipun BMT Bima tidak melakukan penyimpangan, akan tetapi hal tersebut di atas yang menjadikan peluang penyimpangan praktik BMT terhadap fatwa DSN sangat terbuka, sebab pengawasan BMT tanpa induk. Salah satu tugas dan tanggung jawab DPS BMT adalah untuk menjaga dan mengawasi pelaksanaan fatwa DSN-MUI, namun tidak ada pengawasan dari DSN MUI terhadap pelaksanaan fatwa-fatwanya di BMT, dan tak ada laporan hasil dari pengawasan DPS BMT kepada DSN. Kondisi ini dapat berdampak negatif pada lemahnya pengawasan syariah di BMT. Bagi oknum yang tidak bertanggung jawab tentu saja kondisi ini sangat memudahkan bagi mereka untuk melakukan penyimpangan-penyimpangan terhadap prinsip-prinsip syariah yang telah digariskan, karena kurangnya pengawasan. Terlebih lagi bagi BMT yang tidak memiliki DPS dikarenakan tidak ada kewajiban yuridis untuk memiliki DPS, maka peluang terjadinya penyimpangan akan lebih lebar terbuka.
Sebagai pengawas syariah, fungsi DPS sesungguhnya sangat strategis dan mulia, karena menyangkut kepentingan seluruh umat Islam pengguna lembaga tersebut. Sebab salah satu yang membedakan antara koperasi syariah BMT dengan koperasi konvensional terletak pada adanya dewan pengawas syariah (DPS). Lembaga ini bertanggungjawab penuh atas konsistensi BMT dalam menjalankan prinsip-prinsip syariah. Karena
sistem syariah bukan semata-mata strategi guna meraih segmen pasar umat Islam yang jumlahnya besar, tetapi menjadi landasan ideologi yang sangat mendasar. Secara emosional umat Islam akan selalu berpedoman pada keberadaan pengawas syariah, karena dari sinilah kepercayaan pada BMT tersebut ditumbuhkan. Lembaga ini paling bertanggung jawab atas kebenaran praktik BMT dengan prinsip-prinsip syariah, namun karena permasalahan dasar hukum BMT yang tidak jelas mengatur peran DPS, maka peran penting ini tergantung dari tiap BMT memahami dan meletakkan peran DPS di BMT nya masing-masing, dan khusus BMT Bima Magelang berdasarkan data yang diperoleh dilihat dari kedudukan, tugas, wewenang dan tanggung jawabnya menunjukkan telah memahami dan menempatkan peran yang sangat penting bagi DPS dalam pengawasan aspek syariah di BMT Bima Magelang.
3. Hal-hal yang mempengaruhi tinggi rendahnya efektifitas Kep.DSN-MUI No. 3 Tahun 2000 pada Dewan Pengawas Syariah di Baitul Mâl Wa Tamwil (BMT) Bima Magelang
Menurut penulis berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan, bahwa selama ini Dewan Pengawas Syariah telah melaksanakan tugasnya melakukan pengawasan aspek syariah dengan baik.
Pengawas syariah aktif melaksanakan tugas, wewenang dan tanggung jawabnya sesuai dengan aturan yang telah ditentukan dalam PAS 002 BMT.
Pengawasan dilaksanakan baik secara formal maupun informal. Pengawasan dilakukan terhadap perencanaan, dan pelaksanaan produk BMT, serta
dilaksanakan terhadap setiap transaksi yang dilaksanakan oleh BMT meliputi proses transaksi, akad yang digunakan dan pelaksanaan dari akad dalam transaksi. Pengujian substantif materi syariah terhadap produk BMT Bima mengacu pada pedoman tugas, wewenang dan tanggung jawab BMT yang dikeluarkan oleh Asosiasi BMT di dasarkan pada akad yang digunakan pada tiap produk.
Menurut penulis berdasarkan data-data hasil penelitian, pelaksanaan tugas pengawasan Dewan Pengawas Syariah BMT Bima selama ini telah dilakukan dengan baik, tidak lepas dari kesadaran akan tugas dan tanggung jawab dari pengawas syariah dan juga pengelola. Jika dijabarkan secara ringkas pelaksanaan tugas Dewan Pengawas Syariah tersebut adalah sebagai berikut :
1. Memberikan pedoman dan garis-garis besar syariah baik untuk penggalangan dana maupun untuk penyaluran (pembiayaan).
2. Memeriksa proses pembuatan akad dalam transaksi dan pelaksanaannya agar tidak bertentangan dengan prinsip syariah.
3. Mengadakan perbaikan dengan mengambil suatu tindakan, seandainya suatu produk yang telah atau sedang dijalankan dinilai bertentangan dengan syariah.
4. Memeriksa buku laporan tahunan dan atau memberikan pernyataan tentang kesesuaian syariah dari semua produk dan operasional.
5. Memberikan rekomendasi dalam bentuk opini terhadap permasalahan yang diajukan atau dihadapi pengelola dalam operasional BMT.
Pada hasil penelitian didapatkan data bahwa obyek yang akan diaudit oleh Pengawas Syariah terkadang disampaikan dalam surat pemberitahuan, namun terkadang juga tidak diberitahukan. Menurut penulis hal tersebut dapat memotivasi pengelola untuk profesional. Sebab dengan bekerja secara profesional, maka jika ada audit syariah yang tidak diberitahukan terlebih dahulu obyek yang akan di audit, pengelola tidak akan mengalami kesulitan karena semuanya telah dilaksanakan dengan baik dan pengelola akan senantiasa siap untuk menyediakan obyek yang akan diaudit secara mendadak.
Dewan Pengawas Syariah BMT tidak hanya mengawasi aspek syariah yang dijalankan di BMT, tapi juga dalam melaksanakan tugasnya Pengawas syariah menggunakan tuntunan syariah. Hal ini bisa dilihat dari pengawasan secara formal, misalnya jika Pengawas menerima info-info/laporan dari pihak lain mengenai hal-hal yang negatif tentang penerapan prinsip syariah di BMT, segera mengkroscekkan kepada pengelola mengenai kebenarannya. Meskipun memiliki peran yang penting dan kewenangan yang cukup besar, yaitu menjatuhkan vonis menyimpang, namun DPS BMT Bima menggunakan kaidah tabayyun (mencari penjelasan). DPS BMT Bima tidak boleh semena-mena dalam menjalankan tugas dan menggunakan kewenangannya, untuk itu DPS BMT Bima menggunakan prinsip hati-hati dalam melakukan penilaian.
Pengawasan yang dilakukan oleh DPS BMT Bima sebagai lembaga yang berwenang (wilayatul riqabah) bertujuan untuk mengetahui sejauh mana proses kegiatan usaha pada BMT, dan memastikan bahwa seluruh
aktivitas keuangan serta penetapan strategi dan tujuan organisasi tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Sistem pengawasan syariah yang dilakukan oleh DPS BMT Bima mengacu pada prinsip-prinsip dasar pengawasan yang menjadi bagian dari ajaran Islam, yakni pertama jalbul mashalih atau upaya untuk menjaga dan memaksimalkan unsur kebaikan supaya dapat terjaga lima dasar resiko dalam kehidupan yakni resiko moral, resiko agama, resiko akal, resiko harta, resiko regenerasi dan resiko reputasi.
Kedua dar'ul mafasid atau upaya untuk menghindarkan dari unsur-unsur yang dapat menimbulkan kerusakan baik moral maupun material, dan ketiga adalah sadduż żari'ah atau upaya untuk mencegah dan mengantisipasi terjadinya pelanggaran terhadap syariah dan peraturan-peraturan lainnya.
Berdasarkan data yang diperoleh, maka menurut penulis pengawasan yang dilaksanakan di BMT Bima untuk menjaga penerapan prinsip-prinsip
Berdasarkan data yang diperoleh, maka menurut penulis pengawasan yang dilaksanakan di BMT Bima untuk menjaga penerapan prinsip-prinsip