2. Kedudukan dan Hubungan Hukum Petani Tembakau Dengan Perusahaan Pengelola Dalam Perjanjian Kemitraan
2.1. Kedudukan Petani Tembakau dan Perusahaan Pengelola Dalam Perjanjian Kemitraan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dalam perjanjian kemitraan usahatani tembakau di Pulau Lombok terdapat 2 (dua) pihak yang terkait secara langsung didalamnya yaitu perusahaan pengelola berkedudukan sebagai inti dan petani tembakau berkedudukan sebagai plasma. Dalam kedudukannya sebagai plasma,
petani tembakau berada pada posisi yang sangat lemah, kenyataan ini terlihat dari hak dan kewajiban yang dimiliki oleh petani tembakau tidak seimbang jika dibandingkan dengan pihak inti.
Dalam perjanjian kemitraan usahatani tembakau, mulai saat pembuatan perjanjian sampai pada pelaksanaan perjanjian petani tembakau selaku plasma tidak mempunyai kewenangan sama sekali dalam menentukan isi perjanjian karena dibuat dalam bentuk tertentu yang telah ditetapkan secara baku serta adanya perlakuan tidak adil yang dirasakan oleh pihak petani, petani tembakau hanya mempunyai kewenangan untuk menanam dan memelihara tembakau pada areal tanamnya.
Di dalam Undang-Undang No. 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil, terutama dalam pasal 26 ayat 4 dinyatakan bahwa “dala m melakukan hubungan kemitraan kedua belah pihak mempunyai kedudukan hukum yang setara”. Walaupun kedudukan para pihak yaitu petani tembakau selaku plasma dan perusahaan pengelola selaku inti dalam kemitraan diakui adanya persamaan derajat, mempunyai kepentingan dan posisi yang sejajar dalam hubungan hukum tersebut oleh Undang-Undang. Demikian pula di dalam perjanjian kemitraan telah disebutkan, tetapi dalam prakteknya ketentuan yang demikian itu tidak pernah ada dalam realitasnya, justru bahkan sebaliknya cenderung menunjukkan kedudukan para
pihak yang tidak seimbang dan tidak sesuai (Unfair and Justic). Hal ini bisa dilihat dari hak dan kewajiban pihak petani tembakau yang tidak seimbang dengan hak dan kewajiban pihak perusahaan pengelola, disamping itu pula tidak adanya pembagian risiko yang harus ditanggung masing-masing pihak bersama, tanggung jawab dan risiko harus ditanggung sendiri oleh petani baik atas keadaan memaksa (over macht) maupun terhadap suatu kejadian alam (force majeure).
Keadaan memaksa (over macht atau force majeure) berkaitan erat dengan risiko yang harus ditanggung. Dengan terjadinya suatu keadaan memaksa, risiko risiko tidak dapat ditimpakan kepada pihak yang mengalaminya. Apabila pihak debitur yang berada dalam keadaan memaksa dapat membuktikan bahwa kejadian itu berada di luar kekuasaannya, hakim akan menolak tuntutan kreditur yang meminta agar debitur memenuhi perjanjian.
Force Majeure28 adalah klausula yang biasa dicantumkan dalam pembuatan kontrak dengan maksud melindungi pihak-pihak. Hal ini terjadi apabila terdapat bagian dari kontrak yang tidak dapat dilaksanakan karena sebab-sebab yang berada di luar kontrol para pihak dan tidak bisa dihindarkan dengan melakukan tindakan yang sewajarnya.
Selain itu, ada yang disebut Act of God, yaitu suatu kejadian atau peristiwa yang semata-mata karena kekuatan alam tanpa ada campur tangan manusia. Yaitu setiap bencana alam atau kecelakaan yang disebabkan oleh sebab fisik yang tidak bisa ditahan, seperti kilat, angin ribut, bencana laut (perils of the sea), tornado, gempa bumi dan semacamnya.
Dalam pencantuman klausula over macht atu force majeur biasanya terdapat penekanan kepada keadan memaksa yang berada di luar kekuasaan para pihak (due to causes which are reasonably beyond the parties power and control). Dalam kedaan yang demikian, tidak ada pihak yang dibebankan tanggung jawab atau risiko untuk setiap kegagalan atu penundaan terhadap pelaksanaan kewajiban sesuai dengan kontrak.29
Dengan demikian dapat penulis katakan bahwa pihak petani tembakau terlalu banyak menanggung
risiko yang terjadi, dan tidak sebanding/sepadan dengan hak-hak yang diperolehnya selaku mitra usaha. Melihat kedudukan perusahaan pengelola selaku inti yang secara ekonomis berada pada posisi yang lebih kuat dalam bidang permodalan maupun penguasaan akan teknologi, manajemen, jaringan/akses pasar dan sumber daya manusianya, maka menurut penulis hal ini bisa menciptakan
29 Ibid, hal. 73
bargaining position dan bargaining power yang tidak seimbang, pada hal dengan adanya bargaining power yang tidak seimbang diantara para pihak yang bermitra tersebut bisa menjurus, mengarah dan berpeluang untuk terjadinya suatu perjanjian (kontrak) yang tidak adil.
Berkaitan dengan kontrak yang tidak adil di atas, menurut Z. Asikin Kusumah Atmadja30 ; “… hasil yang patut dan adil tergantung dari kedudukan yang seimbang antara para pihak”. Kemudian Sutan Remy Sjahdeini31 menyebutnya dengan unconscionable artinya bertentangan dengan hati nurani. Perjanjian-perjanjian unconscionable seringkali digambarkan
sebagai perjanjian-perjanjian yang sedemikian tidak adil (unfair) sehingga dapat mengguncangkan hati nurani Pengadilan (Hakim) atau shock the conscience of the court.
Selanjutnya Mariam Darus Badrulzaman32 dengan istilahnya unconscionability atau doktrin ketidakadilan merupakan suatu doktrin dalam ilmu hukum kontrak yang mengajarkan bahwa suatu kontrak batal atau dapat dibatalkan oleh pihak yang dirugikan manakala dalam kontrak tersebut terdapat klausula yang tidak adil dan sangat
30 Z. Asikin Kusumah Atmadja didalam Sutan Remy Sjahdeini, 1993, Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan Yang Seimbang Bagi Para Pihak Dalam Perjanjian Kredit Bank di Indonesia, Institut Bankir Indonesia, Jakarta.
31 Sutan Remy Sjahdeini, Op. Cit, hal. 105
32 Mariam Darus Badrulzaman dkk, 2001, Kompilasi Hukum Perikatan, (Dalam Rangka Menyambut Masa Purna Bakti Usia 70 Tahun), PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, hal. 52-53
memberatkan salah satu pihak, sungguhpun kedua belah pihak telah menandatangani kontrak yang bersangkutan.
Lebih lanjut beliau menjelaskan yaitu biasanya doktrin ketidakadilan (unconscionability) ini mengacu kepada posisi tawar menawar dalam kontrak tersebut yang sangat berat sebelah karena tidak terdapat pilihan dari pihak yang dirugikan disertai dengan klausula dalam kontrak yang sangat tidak adil sehingga memberikan keuntungan yang tidak wajar bagi pihak lain.33 Dengan adanya bargaining power yang tidak seimbang pihak yang kuat akan dapat memaksakan kehendaknya kepada pihak yang lemah, hingga pihak yang lemah akan mengikuti saja syarat-syarat kontrak yang diajukan padanya. Demikian pula antara perusahaan pengelola selaku inti dan petani tembakau selaku plasma, petani tembakau memiliki bargaining power yang sangat lemah dan tidak seimbang, jika dibandingkan dengan kedudukan yang dimiliki oleh perusahaan pengelola pada umumnya lebih kuat baik secara ekonomi maupun dari segi sumber daya manusianya (SDM), karenanya petani tembakau selaku
plasma tidak akan menolak segala syarat yang disodorkan kepadanya untuk disetujui asalkan mendapatkan modal untuk menjalankan usahanya. Dengan demikian menurut hemat penulis prinsip kesejajaran kedudukan atau memiliki derajat yang setara bagi
33 Ibid.
masing pihak yang bermitra tidak pernah terjadi dalam prakteknya, maka konsekwensinya adalah pihak yang lemah akan tereksploitasi dan tetap terus akan dirugikan.