Tahapan Dan Proses Perencanaan Desa
9. Kegagalan BPD Mengemban Mandat Demokrasi Desa
UU Desa telah memberi mandat besar bagi BPD dalam pengemban peran demokrasi deliberatif di desa. Di sini prinsip-prinsip tatakelola demokratis harus dikedepankan para pemangku kepentingan di desa.43 Jika sebelumnya penyelenggaraan musyawarah desa menjadi domain
pemerintah desa, maka UU Desa mengusung BPD sebagai aktor penyelenggara musyawarah desa.
UU Desa juga menggeser eksistensi kebijakan perencanaan desa tahunan (RKPDesa ) yang semula cukup diatur melalui keputusan kepala desa, kini dikuatkan melalui peraturan desa. Ini artinya, RKPDesa sebagai dokumen perencanaan desa satu-satunya harus dibahas dengan proses yang lebih partisipatif dan demokratis bersama BPD.
42. Makalah “Revolusi Mental Dalam Berdesa”, Sutoro Eko, 2015
43. Salah satu buku yang dapat dijadikan acuan tentang prinsip-prinsip tata kelola demokratis dan aplikasinya dalam tatakelola desa dapat dilihat dalam seri publikasi SILE Mengawal Perkembangan Democratic
Sayangnya sebagian BPD belum mampu menjalankan perannya dengan baik, uatamanya pada tahap perencanaan desa. Musyawarah desa perencanaan yang menjadi domain BPD seringkali tidak dilaksanakan. Bilapun terlaksana, maka kepala desa masih sangat mendominasi forum dan berpotensi menghambat arus partisipasi warga.
Pun demikian, bagi BPD yang tidak bisa dikendalikan kepala desa ada yang memposisikan vis a vis dengan kades sembari melakukan mobilisasi untuk melawan kepala desa, menghadirkan
kegaduhan dan gangguan dalam proses pembuatan kebijakan, dan tetap resisten terhadap pelaksanaan kebijakan sampai pertanggungjawaban kepala desa.
5.3 Musdes Peluang Partisipasi dalam Perencanaan Desa
Pasal 54 UU Desa menegaskan, Musdes merupakan forum partisipasi warga yang mengakomodir berbagai kelompok di desa. Musyawarah Desa atau yang disebut dengan nama lain adalah musyawarah antara Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Pemerintah Desa (Pemdes), dan unsur masyarakat yang diselenggarakan oleh BPD untuk me nyepakati hal-hal yang bersifat strategis. Salah satu diantara hal-hal yang strategis di desa itu adalah perencanaan pembangunan desa. Perencanaan desa merupakan hal yang sangat strategis, mengingat hasil dari perencanaan desa itu akan menjadi rujukan utama setiap kegiatan pembangunan di desa. Perencanaan desa menghasilkan dokumen strategis jangka menengah (RPJMDesa) dan dokumen trategis tahunan (RKPDesa). Itulah mengapa perencanaan desa mensyaratkan pelibatan masyarakat melalui Musdes.
Musyawarah Desa, sebagaimana dibahas sebelumnya, diikuti oleh Pemerintah Desa, Badan Permusyawaratan Desa, dan unsur masyarakat. Panitia Musdes mengundang baik secara formal melalui surat undangan, maupun secara informal sepeti melalui pengeras suara dan papan informasi ditempat-tempat strategis. Unsur masyarakat yang harus diundang setidaknya terdiri atas:
a. tokoh adat b. tokoh agama c. tokoh masyarakat d. tokoh pendidik
e. perwakilan kelompok tani f. perwakilan kelompok nelayan g. perwakilan kelompok perajin h. perwakilan kelompok perempuan
i. perwakilan kelompok pemerhati dan perlindungan anak j. perwakilan kelompok masyarakat miskin.
Demi efektiikas Musdes, unsur masyarakat yang diundang dapat diutamakan yang berkepentingan langsung dengan materi yang di bahas. Selain unsur masyarakat seperti yang sudah disebutkan di atas, Musdes dapat melibatkan unsur masyarakat lain sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat.
Disamping itu, Ketua BPD dapat mengundang pendamping yang berasal dari SKPD Kabupaten/Kota, camat, tenaga pendamping profesional, dan/atau pihak ketiga. Dan yang tidak boleh dilupakan, Musdes juga melibatkan perwakilan dari kelompok rentan, seperti perwakilan dari orang dengan disabilitas, misalnya orang cacat dan manula. Mereka semua yang diundang sudah semestinya melakukan pemetaan aspirasi dan kebutuhan kelompok yang diwakilinya, sebagai bahan yang akan dibawa pada forum Musdes.
Musdes akan berjalan secara partisipatif, demokratis, transparan dan akuntabel, apabila pelaksanaan musdes menghormati hak dan kewajiban masyarakat desa. Keseimbangan memadukan antara hak dan kewajiban ini menjadi penting agar pelaksanaan Musdes nantinya melahirkan proses dan hasil yang baik.
Hak masyarakat terkait Musdes sebagaimana dijabarkan dalam Permendesa No. 2 Tahun 2015, di antaranya adalah sebagai berikut:
a. Mendapatkan informasi secara leng kap dan benar perihal hal-hal bersifat strategis yang akan dibahas dalam Musdes;
b. Mengawasi kegiatan penyelengga raan Musdes maupun tindaklanjut hasil keputusan Musdes; c. Mendapatkan perlakuan sama dan adil bagi unsur masyarakat yang hadir sebagai peserta
Musdes;
d. Mendapatkan kesempatan secara sama dan adil dalam menyampaikan aspirasi, saran, dan pendapat lisan atau tertulis secara bertanggung jawab perihal hal-hal yang bersifat strategis selama berlangsungnya Musdes; dan
e. Menerima pengayoman dan per lindungan dari gangguan, ancaman dan tekanan selama berlangsungnya Musdes.
Sedangkan kewajiban masyarakat dalam penyelenggaraan Musdes adalah:
a. Mendorong gerakan swadaya gotong royong dalam penyusunan kebijakan publik melalui
Musdes;
b. Mempersiapkan diri untuk berdaya dalam menyampaikan aspirasi, pan dangan, dan kepentingan berkaitan hal-hal yang bersifat strategis;
c. Mendorong terciptanya kegiatan penyelenggaraan Musdes secara partisipatif, demokratis,
transparan, dan akuntabel;
d. Mendorong terciptanya situasi yang aman, nyaman, dan tenteram selama proses belangsungnya Musdes; dan
e. Melaksanakan nilai-nilai permusyawaratan, permufakatan proses ke- keluargaan, dan kegotong- royongan dalam pengambilan keputusan perihal kebijakan publik.
Selain itu, UU Desa Pasal 68 juga merinci hak Masyarakat Desa meluas antara lain hak:
a. Meminta dan mendapatkan informasi dari Pemerintah Desa serta mengawasi kegiatan penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan Pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa;
b. Memperoleh pelayanan yang sama dan adil;
c. Menyampaikan aspirasi, saran, dan pendapat lisan atau tertulis secara bertanggung jawab tentang kegiatan penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan Pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa, masyarakat Desa; dan pemberdayaan.
d. Memilih, dipilih, dan/atau ditetapkan menjadi: 1. Kepala Desa; 2. perangkat Desa; 3. anggota Badan Permusyawaratan Desa; atau 4. anggota lembaga kemasyarakatan Desa.
e. Mendapatkan pengayoman dan perlindungan dari gangguan ketenteraman dan ketertiban di Desa.
Kemudian Masyarakat Desa juga berkewajiban:
a. Membangun diri dan memelihara lingkungan Desa;
b. Mendorong terciptanya kegiatan penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan Pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa yang baik;
c. Mendorong terciptanya situasi yang aman, nyaman, dan tenteram di Desa;
d. Memelihara dan mengembangkan nilai permusyawaratan, permufakatan, kekeluargaan, dan kegotongroyongan di Desa; dan
e. Berpartisipasi dalam berbagai kegiatan di Desa.
Perlindungan dan jaminan hukum atas hak partisipasi warga desa diatas merupakan pintu masuk untuk melakukan penguatan kelembagaan. Penyadaran masyarakat desa atas pentingnya berperan aktif dalam forum-forum partisipatis deliberatis dala perumusan proses kebijakan publik. Melalui peran aktif warga desa, proses perencanaan dan penganggaran desa diharapkan akan lebih berpihak pada perempuan dan kelompok miskin di desa.
Perencanaan pembangunan merupakan tahap yang cukup penting dalam proses pembangunan desa. Dimana pada tahap perencanaan ini pemerintah desa dan stakeholders lainnya melakukan
identiikasi aset, permasalahan dan kebutuhan desa yang akan menjadi bahan untuk merumuskan agenda dan kegiatan pembangunan. Oleh karena itulah tahapan ini keterlibatan seluruh komponen desa termasuk warga miskin dan perempuan terlibat dalam musywarah perencanaan pembangunan. Langkah-langkah praktis yang bisa dilakukan oleh warga desa (warga miskin dan perempuan) untuk dapat terlibat dalam tahapan perencanaan pembangunan, diantaranya :
1. Meningkatkan pemahaman tentang proses perencanaan pembangunan desa, hal ini dapat dilakukan dengan memperbanyak diskusi dengan kelompok-kelompok kepentingan didesa lainnya. Warga desa terutama kelompok perempuan dan miskin melakukan komunikasi secara intensif dengan pemerintah Desa dan BPD untuk mengetahui jadwal pelaksanaan musrenbang.
2. Secara aktif melakukan diskusi-diskusi dengan kelompok masyarakat lebih luas untuk mendorong adanya jaminan keterlibatan masyarakat desa dalam setiap tahapan perencanaan dan penganggaran desa. Jaminan tersebut bisa berbentuk lembar komitmen bersama antara pemerintahan desa dengan kelompok perempuan dan warga miskin untuk terlibat dalam setiap tahapan perencanaan dan penggaran desa
3. Melakukan komunikasi secara informal kepada pemangku kepentingan di desa, seperti melakukan diskusi dengan perangkat desa yang dianggap memiliki kemauan dan komitmen untuk melibatkan kelompok perempuan dan warga miskin desa
4. Selain mendorong lembar komitmen, lebih lanjut juga mulai menginisasi atau mendorong lahirnya aturan di desa seperti Peraturan Desa (Perdes) atau aturan lainnya yang memuat tentang pengarusutamaan keterlibatan kelompok perempuan dan warga miskin desa untuk terlibat dalam setiap tahapan perencanaan dan penganggaran desa.
5. Melakukan hearing dengan pemerintah desa, untuk mengidentiikasi dan menyampaikan tentang isu-isu yang dihadapi oleh kelompok perempuan dan warga desa. Hearing atau dengar pendapat dilakukan untuk menyamakan pemikiran antara pemerintah desa dan warga desa yang nantinya akan dibahas di Forum Musrenbang desa