• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kegiatan Berbasis I ntegrasi Kopi-Sapi Potong

I V. HASI L DAN PEMBAHASAN

4.2. Kegiatan Berbasis I ntegrasi Kopi-Sapi Potong

Pelaksanaan kegiatan model pengembangan pertanian perdesaan berbasis inovasi (m-P3BI ) integrasi kopi-sapi yang dilaksanakan di wilayah sentra kopi Kecamatan Kabawetan Kabupaten Kepahiang, yaitu di Desa Bukitsari, Mekarsari, Tugurejo dan Sidorejo telah memberikan hasil yang cukup positif bagi peningkatan pengetahuan, produksi dan sumberdaya

pertanian melalui pengembangan inovasi integrasi kopi-sapi potong sesuai dengan tahapan kegiatan lapangan

4.2.1. Pengembangan inovasi berbasis integrasi kopi- sapi potong Dalam rangka diseminasi kajian kegiatan model pengembangan pertanian perdesaan berbasis inovasi (m-P3BI ) yang dilaksanakan di wilayah sentra kopi Kabupaten Kepahiang terfokus pada model pengembangan inovasi budidaya kopi serta pengolahan dan pemberian pakan sapi potong bebasiskan limbah kulit kopi, untuk itu dalam pelaksanaan pengembangan kegiatan diseminasi integrasi kopi-sapi potong juga dikoordinasikan dengan Pemerintah Kabupaten Kepahiang sekaligus dapat dirsinergikan dengan berbagai program terkait yang dikembangkan dan dibutuhkan masyarakat. Pemerintah Kabupaten Kepahiang melalui Dinas Kehutanan dan Perkebuan, Dinas Perikanan dan Peternakan, Bapeluh (BP4K) memberikan apresiasi sangat baik dengan adanya kegiatan m-P3BI dari BPTP Bengkulu yang juga merupakan wujud SI Da komoditas kopi Provinsi Bengkulu. Selanjutnya atas dasar program pengembangan komoditas kopi dan ternak sapi potong Pemerintah Kabupaten Kepahiang dan pandangan serta hasil identifikasi maupun hunting beberapa lokasi sentra kopi dan ternak sapi potong maka pengembangan kegiatan diseminasi m-P3BI integrasi kopi-sapi potong diarahkan pada wilyah sentra kopi Kabwetan yang juga merupakan wilayah sentra produksi peternakan termasuk sapi potong. Seperti tercantum dan di kukuhkan dalam Surat Keputusan Bupati Kepahiang Nomor: 452 Tahun 2010 Tentang Penetapan Lokasi Pengembangan Kawasan Produksi Peternakan Kabupaten Kepahiang (Bupati Kepahiang, 2010). Hal ini dibuktikan dengan perkembangan populasi ternak sapi potong di Kecamatann Kabawetan populasinya hampir 85% (± 2.353 ekor) dari populasi sapi potong di Kabupaten Kepahiang yang secara keseluruhan saat ini mencapai 2.769 ekor (Dinas Peternakan dan Perikanan Kepahiang, 2014).

Pengembangan inovasi dilaksanakan di wilayah sentra kopi yang terfokus pada, model pengembangan inovasi berbasis integrasi kopi-sapi potong dengan komponen tekniologi utama pemeliharaan tanaman kopi serta pengolahan dan pemberian pakan sapi potong berbasiskan limbah kulit kopi. Dalam pelaksanaan pengembangan kegiatan diseminasi integrasi kopi-sapi

potong terlebih dahulu dikoordinasikan dengan Pemerintah Kabupaten Kepahiang sekaligus dapat dirsinergikan dengan berbagai program terkait yang dikembangkan dan dibutuhkan masyarakat, sehingga hasil kegiatan yang sudah dilaksanakan sampai akhir tahun ini selalu mendapat dukungan serta memberikan hasil positif dengan berbagai pihak terkait (stakeholder) dan pengambil kebijakan dilingkup Pemerintah Kabupaten Kepahiang yang sekaligus juga berfungsi sebagai chanel/ saluran informasi kegiatan diseminasi hasil kajian dalam peningkatan bidang pertanian maupun pengguna teknologi. Diharapkan kegiatan diseminasi ini dapat mendukung program pembangunan pertanian daerah terutama komoditas kopi dan ternak sapi potong serta dalam pelaksanaannya bersinergi antar program terkait. Menurut Badan Litbang Pertanian (2011) penyampaian informasi teknologi dari sumber teknologi kepada pengguna perlu dilakukan dengan mengoptimalkan pemangku kepentingan (stakeholders) dan memanfaatkan media diseminasi sesuai kebutuhan wilayah.

Hasil kegiatan diseminasi inovasi integrasi kopi-sapi potong sudah dikembangkan di desa Bukitsari, Mekarsari, Tugurejo, Sidorejo, Sukasari dan daerah sekitarnya telah memberikan hasil yang cukup positif bagi peningkatan pengetahuan, produksi dan sumberdaya pertanian. Diharapkan diseminasi inovasi integrasi kopi-sapi potong melalui model pengembangan memanfaatkan berbagai saluran dan pelaku utama (multi chanel) dalam berbagai tahapan kegiatan pendampingan inovasi ini, dapat mendorong percepatan pembangunan pertanian (perkebunan dan peternakan) di wilayah sentra kopi Kabupaten Kepahiang. Karena sistem integrasi tanaman-ternak merupakan suatu pola usahatani terpadu dengan tiga fungsi pokok yaitu; 1) memperbaiki kesejahteraan dan mendorong pertumbuhan ekonomi, 2) memperkuat ketahanan pangan dan 3) memelihara keberlanjutan lingkungan.

Disamping itu pengembangan ternak pola integrasi dalam suatu sistem pertanian merupakan suatu strategi yang sangat penting dalam usahatani berwawasan rarnah lingkungan dalam mewujudkan kesejahteraan rumah tangga petani dan rnasyarakat pedesaan, melalui inovasi teknologi yang tepat limbah tanaman dapat diubah menjadi bahan pakan sumber serat bagi ternak ruminansia (sapi), bagian tidak terserap atau tecerna akan dikeluarkan berupa limbah kotoran sapi yang merupakan bahan utama pupuk

organik. Sehingga secara tidak langsung dalam hal ini temak sapi berperan sebagai pabrik kompos dengan bahan baku limbah tanaman, pada akhimya kompos tersebut dipergunakan sebagai bahan pupuk organik bagi tanaman (Gunawan dan Sulastiyah, 2010). Selanjutnya setelah dikomposkan limbah kotoran sapi dapat dipergunakan sebagai bahan pupuk organik yang pada dasarnya sangat baik untuk perbaikan lahan dan asupan hara bagi lahan perkebunan kopi, sehingga melalui pendekatan pola integrasi perkebunan kopi dan ternak sapi potong layak untuk dikernbangkan baik secara teknis, ekonomis maupun social budaya.

Salah satu kunci keberhasilan dari pola ini adalah tidak ada bahan yang terbuang dan termanfaatkannya inovasi secara benar dan efisien (Zero cost), secara mikro dapat berperan dalam rnemperbaiki struktur, tekstur kimia dan mikrobiologi lahan perkebunan serta secara makro akan berperan dalam meningkatkan produktivitas tanaman kopi dan ternak sapi yang pada akhimya akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani peternak pada sentra kopi di Kecamattan Kabawetan Kabupaten Kepahiang. Menurut Suboyo (2007) sistem integrasi tanaman-ternak merupakan salah satu bentuk sistem pertanian campuran yang banyak dioperasikan petani diberbagai belahan bumi, dimana pertukaran sumberdaya antara sapi dan tanaman kopi pada sistem usahatani campuran berpotensi mengurangi biaya produksi, menghindari penumpukan limbah karena adanya proses daur-ulang, menjaga keberlanjutan kesuburan dan sistem lahan perkebunan, memberikan keamanan konsumsi maupun keberlanjutan sistem rumahtanggatani.

4.2.1.1. Diseminasi model inovasi integrasi kopi- sapi potong

Model pengembangan pertanian perdesaan berbasis inovasi (m-P3BI ) integrasi kopi-sapi potong di Kabupaten Kepahiang diarahkan pada wilayah sentra kopi Kecamatan Kabawetan sebagai upaya peningkatan pendapatan usaha dan pengembangan sumberdaya pertanian melalui keterpaduan usahatani tanaman dan ternak (integrasi tanaman kopi-ternak sapi) serta umpan balik setiap permasalahan yang dihadapi petani peternak dan pelaku lainnya. Badan Litbang Petanian (2013) mengindikasikan m-P3BI merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk memberikan solusi pemecahan permasalahan yang diahapi petani dan pelaku agribisnis, sekaligus juga dapat

merancang dan memperbaiki teknologi petani (existing technology) yang sedang berkembang.

Diseminasi inovasi integrasi kopi-sapi potong sebagai model pengembangan pertanian perdesaan berbasis inovasi (m-P3BI ) yang dilakukan melalui pendekatan sosialisasi, apresiasi untuk menyampaikan langkah- langkah pelaksanaan kegiatan diseminasi kepada pihak terkait dan petani kopi maupun peternak kooperator melalui pola terpadu. Telah dapat mendorong peningkatan pengetahuan dan pemberdayaan sumberdaya pertanian yang diapresiasikan kepada petani dan kelompok tani kopi maupun peternak sapi dan pemangku kebijakan di wilayah kegiatan selaku penyalur (delivery) dan pengguna (receiving) teknologi, termasuk inovasi pemanfaatan limbah tanaman kopi (kulit kopi) untuk pakan ternak sapi dan limbah dari kotoran sapi untuk pupuk organik/ kompos pada lahan pertanaman kopi. Menurut Badan Litbang (2011) pendekatan penyampaian informasi teknologi dari sumber teknologi kepada pengguna dilakukan dengan pendekatan berbagai saluran (multi channel) dengan 3 (tiga) komponen penting yang saling terkait antara satu sama lain, yakni; i) Generating system (penyedia teknologi); ii) Delivery system (penyalur teknologi) dan iii) Receiving system (pengguna teknologi).

Pengembangan pola usahatani terpadu tanaman kopi dan sapi potong diwilayah sentra kopi Kecamatan Kabawetan sangat menunjang dalam penyediaan pupuk kandang bagi lahan pertanian terutama kebun kopi dari limbah peternakan (kotoran sapi) untuk memperbaiki kondisi kesuburan tanah dan sebaliknya pemanfaatan limbah pertanian untuk makanan ternak sapi dari limbah kulit kopi dapat memperbaiki produksi sapi potong. Dimana dalam hal ini semua limbah memiliki nilai tambah dan tidak mencemari lingkungan, kotoran sapi dimanfaatkan melalui proses daur ulang (fermentasi) menjadi pupuk organik dan limbah kulit kopi memiliki nilai ekonomi dimanfaatkan untuk pakan sapi yang akhirnya akan mendorong hasil usaha lebih optimal. Menurut Makka et al. (2004) pupuk organik sangat berguna untuk memperbaiki struktur tanah

. Selanjutnya

Haryanto et al,. (2003) menjelaskan, bahwa fermentasi pengolahan limbah tanaman menggunakan probiotik (Starbio) yang dilakukan pada tempat terlindung dapat meningkatkan nilai nutrisi dan

Melalui pola integtasi ini diperoleh hasil usaha yang semakin optimal dari keterkaitan dan keterpaduan yang saling menguntungkan antara tanaman dengan ternak. Dirjen Bina Produksi Peternakan (2002) menjelaskankan, bahwa program sistem integrasi tanaman-ternak (SI TT) bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal seperti pemanfaatan limbah tanaman sebagai pakan ternak dan kotoran ternak sapi dapat diproses menjadi pupuk organik yang sangat bermanfaat untuk memperbaiki unsur hara yang dibutuhkan tanaman sehingga tidak ada limbah yang terbuang.

Ciri utama sistem integrasi tanaman-ternak adalah, terdapatnya keterkaitan atau keterpaduan komponen usahatani yaitu komponen; budidaya tanaman, budidaya ternak dan pengolahan limbah. Upaya penerapan teknologi pada masing-masing komponen merupakan faktor penentu keberhasilan sistem integrasi tersebut, untuk itu agar sistem integrasi berjalan dengan baik dan dapat meningkatkan produktivitas usahatani maka petani harus menguasai komponen serta penerapan teknologinya melalui pengelolaan informasi yang baik. Sama halnya dengan Pasandaran, et all. (2006) mengatakan bahwa salah satu kunci keberhasilan sistem integrasi adalah kemampuan mengelola informasi yang diperlukan, termasuk informasi mengenai teknologi integrasi tanaman kopi-ternak sapi potong. Sehingga perlu dilakukan pendampingan secara berkala, terutama dalam hal pendampingan peningkatan pengetahuan dan penyerapan inovasi integrasi kopi-sapi potong pada anggota kelompoktani dan peternak sapi di desa Bukitsari, Mekarsari, Tugurejo, Sidorejo dan desa lain sekitar lokasi kegiatan baik dalam hal pemahaman maupun dalam hal penerapan inovasi yang dapat didiseminasikan melalui percontohan dan praktek langsung oleh pengguna dilapangan. Menurut Fagi et all. (2009) keberhasilan petani dalam penerapan sistem integrasi tanaman ternak dalam hal pendampingan kelompoktani sebagai kelembagaan integrasi tanaman-ternak perlu dikembangkan, karena pengelolaan sistem integrasi lebih efektif bila dikelola secara berkelompok untuk dapat memenuhi skala usaha yang menguntungkan.

4.2.1.2. Diseminasi inovasi pakan kulit kopi dan pupuk organik

Pendampingan diseminasi inovasi teknologi integrasi kopi-sapi potong sesuai dengan kondisi wilayah, keadaan sosial dan kebutuhan masyarakat di

wilayah pengembangan inovasi integrasi tanaman kopi dan ternak sapi difokuskan pada integrasi pemanfaatan limbah kotoran sapi untuk pupuk organik lahan kopi dan limbah kulit buah kopi sebagai sumber pakan tambahan bagi ternak sapi potong. Maka untuk mendiseminasikan dan transfer teknologi inovasi pakan kulit kopi fermentasi dilakukan melalui percontohan demontrasi cara pengolahan kulit kopi dengan proses fermentasi, dimana tahapan dan proses fermentasi kulit kopi dilkakukan dan didemontrasikan langsung oleh kooperator dengan komposisi bahan untuk 1 ton bahan pakan berupa 600 kg limbah kulit kopi; 400 kg dedak padi; probiotik/ starter 5 kg; molasses 5 kg; garam 2,5 kg ditambah air secukupnya tergantung pada kondisi bahan. Begitu juga dengan tahapan dan proses pengomposan limbah kotoran sapi menjadi pupuk organik dilkakukan dan didemontrasikan langsung oleh kooperator dengan komposisi bahan untuk 1 ton bahan kompos berupa 500-600 kg kotoran sapi; 400-500 kg kulit kopi; probiotik/ starter 3 kg; molasses 3 kg ditambah air secukupnya.

Demonstrasi cara pengolahan limbah kulit kopi secara fermentasi dengan proses pemeraman selama 3 (tiga) minggu juga memperlihatkan hasil yang baik, sehingga petani peternak merasakan langsung bahwa kulit kopi setelah diolah dan dilakukan fermentasi memperlihatkan perobahan, terutama terhadap perobahan bau khas kulit kopi yang menyengat saat sekarang berobah menjadi bau aroma harum dan tidak tengik atau menyengat lagi. Selain itu bila dilihat dari bentuknya memperlihatkan tekstur warnanya menjadi hitam kecoklatan dengan kondisi agak renyah dan tidak keras, serta tidak ada terlihat yang berjamur. Begitu juga dengan pengolahan limbah kotoran sapi dapat dijadikan kompos, hanya dalam waktu 3 - 4 minggu, kebiasaan selama ini peternak hanya memanfaatkan limbah kotoran sapi dalam bentuk pupuk kandang yang dikeringkan dengan jalan menumpuknya selama 4 - 6 bulan baru digunakan.

Adapun implementasi inovasi integrasi kopi-sapi potong melalui demontsrasi cara fermentasi limbah kulit kopi dan pengolahan kotoran sapi menjadi pupuk organik oleh petani dan peternak dilakukan dikawasan sentra kopi dan kawasan produksi ternak, seperti halnya desa Bukitsari yang merupakan sentra kopi arabika yang diproduksi menjadi kopi luwak, desa Mekarsari dan Tugurejo selaku kawasan pembibitan ternak sapi, desa

Siidorejo untuk pengembangan sapi potong. Dalam pelaksanaan kegiatan implementasi inovasi tersebut selalu dikawal dan didampingi oleh petugas lapang terkait serta dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Kepahiang, setiap pendampingan dan pengembangan inovasi dilakukan diskusi untuk mendapakan umpan balik permasalahan pengembangan diseminasi inovasi integrasi kopi-sapi potong.

Sehingga melalui metode implementasi, diseminasi, aplikasi dan diskusi langsung serta temu lapang oleh petani peternak bersama anggota kelompok pendampingan, telah memberikan harapan bahwa pelaksanaan percontohan pengolahan dan penerapannya langsung di lahan dan dicontohkan oleh petani sebagai penguna dengan maksud agar teknologi tersebut dapat langsung diadopsi dan meningkatkan pengetahuan petani peternak maupun kelompok sasaran sebagai upaya proses diseminasi inovasi teknolopgi pada pelaku utama. Menurut Hendayana (2009) untuk mempercepat adopsi teknologi usahatani perlu didukung langkah peningkatan pengetahuan pengguna teknologi yang dapat dikompensasi dengan mengintensifkan pengawalan teknologi oleh petugas termasuk peneliti maupun penyuluh terkait.

Pelaksanaan pendampingan dan percontohan langsung dilahan dan oleh petani peternak, telah mendorong keinginan tahuan akan perkembangan inovasi yang dibutuhkan sekaligus akan menjadikan petani maupun peternak lebih tangguh dalam menghadapi daya saing dan dinamika usahatani yang sudah mengacu kepada peningkatan kualitas dan globalisasi. Sehingga terlihat adanya perubahan terhadap pengetahuan tentang inovasi yang berkaitan dengan integrasi kopi-sapi potong, dimana pada saat sebelum kegiatan memeperlihatkan tingkat pemahaman pengetahuan masih rendah (berada pada level 30,52 per 100) terhadap komponen teknologi yang tergabung dalam inovasi integrasi kopi-sapi potong dan setelah pelaksanaan pendampingan, pemaparan, praktek dan percontohan inovasi teknologi integrasi kopi-sapi potong, baik itu pada pengolahan dan pemberian pakan sapi limbah kulit kopi fermentasi maupun kompos limbah kotoran sapi berada pada level 74,53 per 100 atau terlihat adanya peningkatan pengetahuan petani peternak terhadap inovasi mencapai 144,20% setelah dihitung

berdasarkan indikator kinerja model pengembangan pertanian perdesaan berbasis inovasi (Badan Litbang Pertanian, 2011).

4.2.1.2.1. Pembinaan model inovasi integrasi

Penerapan inovasi integrasi kopi-sapi potong sebagai model diseminasi pengembangan pertanian perdesaan dilakukan melalui pendampingan inovasi teknologi dan pembinaan petani peternak melalui berbagai pertemuan, baik secara kelembagaan atau kelompoktani/ ternak maupun petani peternak terkait seperti halnya pertemuan dan pembinaan kelompok pada kawasan sentra kopi desa Bukitsari, Mekarsari, Tugurejo, Sidorejo, Sukasari dan desa lain diskitarnya. Melalui pendampingan dan diseminasi inovasi terlihat, timbulnya dorongan minat pengguna terhadap dukungan ketersediaan teknologi tepat guna dan sumberdaya manusia terampil untuk mewujudkan suatu persepsi sistem pertanian berorientasikan ramah lingkungan dan tersedianya informasi teknologi tepat guna spesifik lokasi yang dapat di difusi dan diadopsi petani secara lebih baik. Seperti halnya pemanfaatan kulit kopi sebagai pakan sapi dan limbah kotoran sapi untuk bahan pupuk organik bagi kebun kopi, disamping itu juga akan menjadikan petani dan peternak lebih tangguh dalam menghadapi daya saing yang sudah mengacu kepada peningkatan kualitas maupun kuantitas melalui pemberdayaan sumberdaya pertanian yang tersedia disekitar lokasi usaha.

Pembinaan terhadap model pengembangan pertanian perdesaan berbasis inovasi integrasi kopi-sapi potong yang dilakukan melalui diseminasi langsung oleh pengguna teknologi dengan melibatkan kelembagaantani lain, termasuk stakeholder terkait sebagai penyalur dan pengguna inovasi dengan harapan proses diseminasi dapat diadopsi dengan baik. Dimana dalam pelaksanaan pembinaan ini dilakukan terhadap patani/ peternak yang sudah menampakan minat dan keinginan akan inovasi komponen teknologi terkait integrasi, baik itu komponen teknologi terkait tanaman kopi saja, ternak sapi saja atau keduanya sepanjang hal ini dapat memberikan manfaat langsung bagi petani/ peternak dalam mencapai hasil usahanya yang lebih baik. Timbulnya keinginan dan minat ini juga didorong oleh kearifan lokal dan kebiasaan masyarakat yang umunya memlihara ternak sapi dan berkebun kopi yang sama-sama menghasilkan limbah usahatani yang belum termanfaatkan

secara optimal namun sebenarnya mempunyai nilai ekonomis yang salin terintegrasi.

Seperti halnya pembinaan terhadap komponen teknologi pakan sapi potong yang memanfaatkan limbah kulit kopi yang difermentasi, ternyata setelah di cobakan pada ternak sapi yang dipelihara peternak secara perlahan- lahan dapat di konsumsi dan tidak ada pengaruh negatif terhadap ternak sapi yang diberi pakan tambahan memanfaatkan limbah kulit kopi ini. Apalagi setelah sapi yang diberikan pakan tambahan memperlihatkan penurunan akan kebutuhan hijauan sampai separohnya (50% ), kondisi ini memberikan dampak pada efisiensi waktu peternak untuk mengarit rumput setengah dari waktu yang dibutuhkan. Hal ini akan mendorong peternak untuk menerapkan penggunaan pakan tambahan memanfaatkan limbah kulit kopi fermentasi dan berkeinginan untuk dapat membuatnya sendiri atau berkelompok, maka melalui penumbuhan minat peternak ini diberikan pembinaan dan pendampingan diseminasi pengolahan pakan limbah kulit kopi fermentasi dan pengomposan kotoran sapi menjadi pupuk organik yang langsung diaplikasikan oleh peternak dan kelompoknya.

Pembinaan dan pendampingan model inovasi integrasi kopi-sapi potong yang didasari atas minat pengguna akan komponen inovasi yang diinginkan, dalam hal ini pengolahan dan penerapan limbah klit kopi difermentasi untuk pakan ternak sapi dan pengomposan limbah kotoran sapi menjadi pupuk organik sudah berkembang pada 6 kelompok di 5 desa kawasan sentra kopi Kepahiang ( Tabel 5).

Tabel 5. Sebaran diseminasi inovasi komponen teknologi pengolahan pakan limbah kulit kopi dan kompos limbah kotoran ternak sapi di lokasi kegiatan m-P3BI integrasi kopi-sapi potong Tahun 2014.

No Desa

Diseminasi integrasi kopi-sapi potong

Keterangan Pengolahan limbah

kopi dan kotoran sapi (kelompok)

Pemberian pakan kulit kopi fermentasi pada ternak sapi

(ekor) 1. Bukitsari 2 20 Bahan pakan sinergi dengan Disnakan Kepahiang 2. Mekarsari 1 24 3. Tugurejo 1 26 4. Sidorejo 1 32 5. Sukasari 1 33

4.2.2. Peningkatan produktivitas sapi potong

Pada tahapan pencapaian kegiatan peningkatan produktivitas dari model pengembangan pertanian perdesaan berbasis inovasi (m-P3BI ) integrasi kopi-sapi potong dimulai dengan melakukan percontohan penerapan inovasi pakan pada ternak sapi potong, melalui diseminasi demplot percontohan pemberian paka tambahan pada ternak sapi potong berbahan baku kulit kopi fermentasi (limbah dari kopi) sebanyak 2 - 4 kg/ ekor/ hari tergantung kebutuhan yang diaplikasikan pada sapi Bali dan sapi Simenthal milik 6 orang kooperator di desa Sidorejo Kecamatan Kabawetan dengan hasil cukup signifikan (Tabel 6).

Pemberian pakan tambahan pada ternak sapi selain untuk memamnfaatkan limbah kulit kopi dimaksudkan untuk dapat meningkatkan produksi sapi serta kecukupan asupan pakan maupun kebutuhan nutrisinya, disamping itu juga untuk mengatasi nilai ekonomis dan efisiensi waktu penyediaan pakan hijauan serta pengoptimalan pemanfaatan limbah kulit kopi yang berlimpah dan belum dimanfaatkan di daerah sentra kopi

Tabel 6. Rata-rata pertambahan berat badan harian (PBBH) ternak sapi potong pada demplot percontohan pemberian pakan tambahan memanfaatkan limbah kulit kopi fermentasi kegiatan m-P3BI integrasi kopi-sapi potong di desa Sidorejo pada wilayah sentra kopi Kabawetan

Jenis Sapi Penimbangan BB (kg/ekor) PBBH (kg/ekor/hr) Peningkatan produksi (kg/ekor/hr) Keterangan Awal Akhir PBB

Bali Jantan

148,75

180,75

32,00

0,604

0,265 Hijauan+Konsentrat

105,00

123,00

18,00

0,339

Hijauan (Kontrol) Simenthal

Jantan

195,00

237,00

42,00

0,792

0,301 Hijauan+Konsentrat

203,00

229,00

26,00

0,491

Hijauan (Kontrol) Bali Betina

140,00

173,00

33,00

0,623

Hijauan+Konsentrat Bali jantan

161,00

176,00

15,00

0,283

Diangon setiap hari

Keterangan : BB= Berat Badan, PBBH= Pertambahan berat badan harian

Tanel 6. memperlihatkan hasil diseminasi inovasi penerapan pemberian pakan tambahan (konsentrat) memanfaatkan limbah kulit kopi difermentasi pada ternak sapi potong memperlihatkan hasil cukup siknifikan, dimana pencapaian hasil kegiatan peningkatan produktivitas dari model pengembangan pertanian perdesaan berbasis inovasi (m-P3BI ) integrasi kopi-

sapi potong melalui diseminasi demplot percontohan pemberian paka tambahan pada ternak sapi potong berbahan baku kulit kopi fermentasi (limbah dari kopi) sebanyak 2 - 4 kg/ ekor/ hari sesuai kebutuhan yang diaplikasikan pada sapi Bali dan sapi Simenthal milik 6 orang kooperator di desa Sidorejo, telah memperlihatkan hasil yang signifikan. Dimana ternak sapi Bali jantan yang diberi Pakan (hijauan+ konsentrat : hijauan) memperlihatkan PBBH jauh lebih baik (0,604 : 0,339 kg/ ekor/ hr) dan terjadi peningkatan produksi daging sebesar 0,265 kg/ ekor/ hr. Rai dan Guntoro (2006) mengatakan bahwa pemberian limbah kulit kopi pada usaha penggemukan ternak sapi memberikan perbedaan yang signifikan bila dibandingkan dengan hanya memberikan hijauan pakan saja.

Sedangkan untuk sapi Simenthal jantan yang diberi pakan (hijauan+ konsentrat : Hijauan) memperlihatkan PBBH juga lebih baik (0,792 : 0,491 kg/ ekor/ hr) atau terjadi peningkatan produksi daging sebesar 0,301 kg/ ekor/ hr. Namun bila dilihat dari jenis kelaminnya, ternyata sapi Bali betina diberi pakan (hijauan+ konsentrat) PBBH nya lebih baik dibandingkan sapi Bali jantan (0,792 : 0,604 kg/ ekor/ hr) dan bila dilihat berdasarkan pemeliharaan, maka sapi Bali jantan yang diangon sepanjang hari dilapangan memperlihatkan produktivitas (PBBH) lebih rendah dibanding yang dipelihara semi intensif (0,283 : 0,339 kg/ ekor/ hr).

Kondisi ini telah menggambarkan bahwa pemberian pakan tambahan memanfaatkan limbah kulit kopi tidak memberikan pengaruh negatif, sehingga pemanfatan limbah kulit kopi ini setelah proses fermentasi sangat baik dikembangkan untuk diberikan srebagai pakan tambahan atau penganti hijauan pada ternak sapi. Menurut Umiyasih et all., (2004) penggunaan limbah pertanian dan sisa hasil industri pertanian sebagai bahan pakan tambahan ternak sapi potong merupakan alternatif yang dapat dimanfaatkan asalkan tidak memberikan dampak negatif bagi ternak itu sendiri.

Berdasarkan capaian hasil produktivitas (PBBH) ternak sapi melalui

Dokumen terkait