Survey Time Motion Study
Kegiatan ini merupakan sebuah survey yang dilakukan terhadap pekerja khususnya karyawan Bagian Agriresearch dalam melakukan aktivitas pekerjaannya. Survey ini bertujuan untuk mengukur efektivitas jam kerja dengan tugas atau jenis pekerjaan yang dilakukan. Selain itu kegiatan ini juga merupakan bagian dari orientasi kebun selama magang. Kegiatan ini berlangsung selama dua minggu. Survey dilakukan di tiga wilayah yaitu Kijung, Lakop dan Divisi Dua. Bentuk kegiatannya yaitu dengan mengikuti seluruh aktifitas pekerja mulai dari berangkat kerja hingga pulang dan mencatat waktu yang dibutuhkan setiap aktivitas kerja. Aktivitas kerja yang diikuti yaitu pengamatan berat tanaman (Gambar 3), pengamatan persen bunga, pengamatan buah tertinggal, populasi semut, kualitas tanam, land preparation, sampel tanah, sampel daun, warna daun dan dipping.
Gambar 3. Survey Time Motion Study Aktifitas Pengamatan Berat Tanaman
Norm Reference
Pada perkebunan tanaman nenas dikenal tanaman normal dan tanaman abnormal. Tanaman normal adalah tanaman yang memiliki kriteria-kriteria antara lain daun lebar, panjang, berwarna hijau gelap dan tidak berduri di tepiannya, jumlah daun ideal, tanaman tidak berpenyakit dan bobot tanaman memenuhi
standar. Sedangkan tanaman abnormal memiliki ciri berukuran sangat besar, tinggi, daun pendek dan tidak berbunga. Tanaman normal merupakan tanaman yang diharapkan dalam budidaya tanaman nenas karena dari tanaman ini diharapkan dapat menghasilkan produksi yang tinggi. Norm reference merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mendapatkan kriteria tanaman normal yang ideal dan kandungan hara yang terkandung pada tanaman tersebut. Selain itu kegiatan ini juga dilakukan untuk mengetahui defisiensi tersembunyi unsur yang terdapat dalam tanaman. Dengan membandingkan rasio unsur hara tanaman yang kecil, sedang dan besar didapatkan hasil yang menunjukkan bahwa penyebab ketidaksergaman pertumbuhan bukan karena kekurangan unsur hara melainkan karena rasio unsur yang tidak sesuai. Hal ini penting karena pemberian pupuk yang dilakukan di PT. GGP sudah melebihi dari kadar minimal. Dengan dilakukan kegiatan ini maka diharapkan pemberian pupuk dapat lebih efisien.
Bahan dan alat yang digunakan pada kegiatan ini adalah timbangan, penggaris, alat tulis. Pengamatan dilakukan pada tanaman nenas yang berumur lima bulan, 5 -10 bulan dan > 10 bulan. Dari setiap fase pertumbuhan ditentukan 3 lokasi sebagai ulangan dan dari tiap-tiap lokasi diambil 10 tanaman yang memenuhi kriteria SK (Sangat Kecil) dan 10 tanaman yang memenuhi kriteria SB (Sangat Besar) sehingga dari setiap lokasi diambil 20 tanaman contoh (Gambar 4). Setelah tanaman contoh didapat, dilakukan pengamatan berat tanaman, jumlah daun, panjang daun, lebar daun dan warna daun. Kemudian daun D-leaf dibawa ke laboratorium dan dilakukan analisa unsur meliputi N, P, K, Ca, Mg, Fe dan Zn.
Bagan Warna Daun (BWD) Versus Analisis Daun
Bagan warna daun berguna untuk mengetahui kecukupan hara nitrogen (N) pada tanaman nenas. Ketika tanaman kekurangan N, daun menjadi berwarna kuning kehijauan hingga kuning. Daun yang memiliki jumlah N sesuai akan berwarna hijau hingga hijau gelap. Selain mengetahui warna daun, dibutuhkan juga analisis daun untuk mengetahui kandungan klorofil daun serta berbagai unsur atau faktor-faktor yang mempengaruhi level klorofil daun. Kekurangan unsur Fe, Mg dan P akan menyebabkan berkurangnya konsentrasi klorofil daun. Dengan mengetahui kandungan klorofil dan unsur-unsur pada setiap level warna daun BWD melalui analisa daun maka akan mempermudah dan mempercepat pengamatan warna daun di lapangan. Untuk mengetahui efektivitas pemupukan dilakukan analisis warna daun dan kandungan klorofil di laboratorium. Salah satu tujuan dilakukannya kegiatan ini adalah biaya analisis daun yang sangat mahal sehingga diharapkan dengan kegiatan ini analisis daun bisa digantikan dengan menggunakan BWD. Metode yang dilakukan yaitu dengan mengukur warna daun pupus (F-Leaf) menggunakan BWD. Setiap warna dalam BWD di berikan nilai antara 0-25 %, 25-50 % dan > 50%. Nilai persen yang tercantum merupakan nilai pupuk yang diserap tanaman.
Metode pelaksanaannya yaitu dengan mengambil contoh daun di kebun pengamatan berdasarkan nomor warna daun pada BWD. Lalu setiap daun berdasarkan nomor warna daun BWD dilakukan analisis daun. Kemudian dibandingkan hasil taksasi dengan BWD dan hasil analisis daun (Gambar 5).
(a) (b)
Gambar 5. Analisis Bagan Warna Daun (BWD) Versus Analisis Daun. (a) Daun Tanaman Nenas pada Berbagai Tingkatan Warna Daun. (b) Penggunaan BWD pada Daun Tanaman Nenas
Aplikasi Forcing di PT. Great Giant Pineapple
Secara umum pertanaman nenas di lapang cukup baik karena standar perawatan yang baik dan intensif oleh perusahaan. Akan tetapi pada beberapa lokasi khususnya lokasi pengamatan terdapat populasi tanaman yang tidak seragam, yakni terdapat banyak tanaman kerdil. Tanaman kerdil tersebut disebabkan pertumbuhan yang terganggu akibat genangan, hama dan penyakit, dan populasi gulma yang tinggi. Penentuan ubinan dan pengamatan seminggu sebelum forcing sulit dilakukan karena banyaknya gulma pada plot yang diamati. Gulma-gulma tersebut bahkan tumbuh hingga menutupi tajuk tanaman. Selain itu pada beberapa lokasi banyak pula tanaman yang pertumbuhannya terganggu karena penyakit yakni mealybug dan phytoptora (Lampiran 7). Pengendalian organisme pengganggu tanaman di perusahaan dilakukan dengan aplikasi foliar menggunakan unit Boom Spraying Cameco (Gambar 6).
Gambar 6. Boom Spraying Cameco (BSC)
Kondisi tanaman saat dilakukan forcing harus bersih dari gulma. Hal ini dilakukan agar zat pengatur tumbuh (etilen) yang diberikan saat forcing dapat mengenai ujung titik tumbuh tanaman sehingga terjadi inisiasi pembungaan. Forcing dilakukan malam hari saat suhu telah mencapai 24°C agar lebih efektif. Akan tetapi pada saat aplikasi forcing, sulit untuk menunggu hingga mencapai suhu ideal. Oleh karena itu biasanya ditambahkan urea ke dalam larutan agar suhu larutan lebih dingin. Forcing juga tidak dapat dilakukan jika terjadi hujan. Jika terjadi hujan maka aplikasi baru dapat dilakukan 1 jam setelah hujan agar titik embun yang terdapat pada tajuk tanaman hilang. Selain itu jika 1 jam setelah aplikasi terjadi hujan maka aplikasi harus diulang. Kondisi cuaca dan iklim
menentukan keberhasilan forcing di suatu lokasi. Dari data pengamatan persen bunga di PG I periode Januari 2000 hingga April 2009, didapatkan grafik sebagai berikut :
Gambar 7. Rata-rata % Bunga Tahun 2000-2009 Plantation Group I
Dari grafik di atas dapat terlihat adanya kecenderungan kegagalan forcing terjadi pada musim-musim peralihan. Musim kering cenderung memberikan hasil persen bunga yang baik pada aplikasi forcing. Umumnya kegagalan forcing terjadi pada bulan September – Desember, saat kritis terletak pada minggu ke 1-4 di awal musim hujan. Selain itu kegagalan forcing juga terjadi pada peralihan musim hujan ke musim kemarau, saat kritis terjadi pada bulan April hingga pertengahan bulan Mei.
Lokasi yang telah dilakukan forcing akan dilakukan pengamatan persen bunga untuk menentukan apakah forcing berhasil atau harus dilakukan aplikasi kembali (reforcing). Berdasarkan hasil pengamatan 45 HSF dan 60 HSF pada ubinan di lokasi pengamatan, lokasi 042B dinyatakan gagal forcing karena persen bunga dibawah 98% sedangkan lokasi 080A dan 024C dinyatakan berhasil. Selain itu grafik di atas menujukkan bahwa terdapat kemungkinan pertambahan persen Bulan forcing
tanaman berbunga setelah 60 HSF yakni dengan rata-rata pertambahan sebesar 1.43% (Gambar 8).
Gambar 8. Persen Bunga 45 HSF dan 60 HSF pada Pengamatan Ubinan di Lokasi Pengamatan
Analisa Data Primer
Berdasarkan data pengamatan dari lapang, dilakukan analisis ragam untuk melihat pengaruh pengelompokan populasi tanaman seragam dan populasi tanaman tidak seragam di lokasi 080A, 024C dan 042B. Hasil rekapitulasi dari sidik ragam (Lampiran 1) dapat dilihat pada Tabel berikut:
Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Uji F Pengaruh Pengelompokan Populasi Tanaman Seragam dan Populasi Tanaman Tidak Seragam Terhadap Parameter yang Diamati
Parameter Pengelompokan Pengelompokan*lokasi kk (%)
Berat Tanaman (kg) ** * 5.97
Warna Daun tn tn 11.85
Jumlah Daun (helai) ** tn 10.84
Panjang Daun (cm) ** tn 4.36
Lebar Daun (cm) ** tn 3.43
Index Luas Daun (cm²) ** tn 6.75
Persen Bunga 45HSF (%) ** ** 1.40
Persen Bunga 60HSF (%) ** ** 0.10
Tanaman Mandul (%) tn tn 20.34
Keterangan : tn : Tidak berbeda nyata pada uji F dengan taraf 5%
* : Berbeda nyata pada uji F dengan taraf 5%
Tabel di atas menunjukkan bahwa tanaman seragam dan tidak seragam tidak berbeda nyata pada parameter warna daun dan tanaman mandul sedangkan parameter lainnya berbeda nyata pada taraf 1%. Pada parameter berat tanaman terdapat interaksi nyata (taraf 5%) antara pengelompokan dan lokasi. Interaksi nyata pada taraf 1% terjadi pada persen bunga 45 HSF dan 60 HSF. Sedangkan untuk parameter lainnya, interaksi antara pengelompokan dan lokasinya tidak berbeda nyata.
Keseragaman Pertumbuhan Tanaman
Pertumbuhan Vegetatif pada Kelompok Tanaman
Hasil uji lanjut (Tabel 2) menunjukkan bahwa tanaman seragam berbeda nyata dengan tanaman tidak seragam pada parameter jumlah daun, panjang daun, lebar daun dan ILD. Tanaman seragam dan tidak seragam tidak berbeda nyata pada parameter warna daun dan tanaman mandul. Tanaman seragam memiliki nilai rata-rata lebih besar dari tanaman tidak seragam pada parameter pengamatan jumlah daun, panjang daun, lebar daun, ILD dan tanaman mandul. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan vegetatif tanaman seragam lebih tinggi dibanding tanaman tidak seragam.
Tabel 2. Pengaruh Pengelompokan Tanaman terhadap Nilai Rata-rata Parameter yang Diamati
Parameter Tidak Seragam Seragam
Warna Daun 1.60 1.53
Jumlah Daun (helai) 45.00b 63.48a
Panjang Daun (cm) 66.67b 73.15a
Lebar Daun (cm) 4.00b 4.39a
Index Luas Daun (cm²) 269.41b 322.14a
Tanaman Mandul (%) 2.66 3.54
Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada baris yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNJ taraf 5%
Pertumbuhan Vegetatif di Lokasi Pengamatan
Berdasarkan hasil uji lanjut, lokasi 024C berbeda nyata dengan lokasi 080A dan lokasi 042B pada parameter warna daun. Akan tetapi lokasi 080A dan 042B tidak berbeda nyata. Pada parameter panjang daun, lebar daun dan ILD, lokasi 042B berbeda nyata dengan lokasi 024C dan lokasi 080A. Lokasi 024C
juga berbeda nyata dengan lokasi 080A pada parameter tersebut. Pada parameter panjang daun dan tanaman mandul, lokasi 042B berbeda nyata dengan lokasi 080A dan 024C. Lokasi 042B memiliki pertumbuhan vegetatif yang lebih tinggi dibanding lokasi lainnya berdasarkan nilai rata-rata parameter jumlah daun, panjang daun, lebar daun dan ILD (Tabel 3).
Tabel 3. Pengaruh Lokasi terhadap Nilai Rata-rata Parameter yang Diamati Parameter Lokasi 080A Lokasi 024C Lokasi 042B
Warna Daun 1.33b 1.82a 1.55b
Jumlah Daun (helai) 58.83a 44.98b 58.90a
Panjang Daun (cm) 64.34b 67.40b 78.00a
Lebar Daun (cm) 3.84c 4.20b 4.55a
Index Luas Daun (cm²) 247.54c 284.67b 355.10a
Tanaman Mandul (%) 0.0b 0.0b 6.2a
Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada baris yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNJ taraf 5%
Interaksi Kelompok Pertumbuhan dengan Lokasi
Berat Tanaman. Berat tanaman pada pengamatan dilakukan dengan
taksasi berat tanaman. Hasil rekapitulasi sidik ragam (Tabel 1) menunjukkan bahwa tanaman seragam dan tidak seragam berbeda nyata pada taraf 1% dan terdapat interaksi nyata antara pengelompokan dan lokasi. Hasil uji lanjut (Tabel 4) menunjukkan bahwa tanaman seragam di lokasi 080A berbeda nyata terhadap tanaman tidak seragam di lokasi tersebut. Adapun tanaman seragam di lokasi 080A rata-rata berat tanamannya lebih besar dibanding tanaman tidak seragam. Hal yang sama terjadi pada lokasi 024C dan 042B yakni antar tanaman seragam dan tidak seragam di tiap-tiap lokasi tersebut berbeda nyata.
Tabel 4. Pengaruh Pengelompokan terhadap Berat Tanaman pada Tanaman Contoh Pengelompokan Lokasi 080A Lokasi 024C Lokasi 042B Rata-rata Pengelompokan --- kg --- Tidak Seragam 2.14b 1.33b 1.97b 1.81b Seragam 2.56a 1.97a 3.06a 2.53a Rata-rata Lokasi 2.35a 1.65b 2.51a
Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNJ taraf 5%
Persen Bunga (45 HSF). Berdasarkan parameter persen bunga (45 HSF),
hasil rekapitulasi sidik ragam (Tabel 1) menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara pengelompokan dan lokasi. Berdasarkan uji lanjut, lokasi 042B berbeda nyata antara lokasi seragam dan tidak seragamnya sedangkan lokasi lainnya tidak berbeda nyata. Persen bunga kelompok tanaman seragam di lokasi 042B, lokasi 080A dan 024C tidak berbeda nyata. Pada kelompok tanaman tidak seragam, persen bunga kelompok tanaman tidak seragam lokasi 042B berbeda nyata dengan persen bunga kelompok tanaman tidak seragam lokasi 080A dan 024C. Persen bunga terendah terjadi di lokasi 042B kelompok tanaman seragam (Tabel 5).
Tabel 5. Pengaruh Pengelompokan terhadap Persen Bunga (45 HSF) pada Tanaman Contoh Pengelompokan Lokasi 080A Lokasi 024C Lokasi 042B Rata-rata Pengelompokan --- % --- Tidak Seragam 100a 100a 98.3a 99.4a Seragam 100a 100a 89.3b 96.4b Rata-rata Lokasi 100 a 100a 93.8b
Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNJ taraf 5%
Persen Bunga (60 HSF). Hasil rekapitulasi sidik ragam (Tabel 1) untuk
parameter persen bunga (60 HSF) juga menunjukkan adanya interaksi antara pengelompokan dan lokasi. Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa lokasi 042B berbeda nyata antara lokasi seragam dan tidak seragamnya pada parameter persen bunga (60 HSF). Sedangkan pada lokasi 080A dan 024C antara kelompok seragam dan tidak seragamnya tidak berbeda nyata. Persen bunga kelompok tanaman seragam di lokasi 042B, lokasi 080A dan 024C tidak berbeda nyata. Pada kelompok tanaman tidak seragam, persen bunga kelompok tanaman tidak seragam lokasi 042B berbeda nyata dengan persen bunga kelompok tanaman tidak seragam lokasi 080A dan 024C. Persen bunga terendah terjadi di lokasi 042B kelompok tanaman seragam (Tabel 6).
Tabel 6. Pengaruh Pengelompokan terhadap Persen Bunga (60 HSF) pada Tanaman Contoh Pengelompokan Lokasi 080A Lokasi 024C Lokasi 042B Rata-rata Pengelompokan --- % --- Tidak Seragam 100a 100a 98.3a 99.4a Seragam 100a 100a 93.1b 97.7b Rata-rata Lokasi 100 a 100a 95.7a
Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNJ taraf 5%
Analisa Data Sekunder
Analisa data sekunder digunakan untuk mengetahui faktor-faktor lain yang mempengaruhi ketidakseragaman pembungaan. Data sekunder yang digunakan adalah persen keberhasilan bunga (< 98%) berdasarkan data evaluasi forcing Oktober 2006 hingga April 2009 (Lampiran 6). Uji korelasi dilakukan berdasarkan volume air yakni 4 000 l/ha, 8 000l/ha dan 12 000 l/ha. Parameter yang dianalisis adalah persen bunga < 98% (%), dosis etilen (kg/ha), interval diet-N (hari), suhu saat aplikasi (°C), dan waktu aplikasi. Hasil uji korelasi parameter-parameter tersebut dapat dilihat pada Tabel berikut :
Tabel 7. Hasil Uji Korelasi Persen Bunga < 98%, Interval Diet, Suhu Saat Aplikasi, dan Waktu Aplikasi pada Volume Air 4 000 l/ha
Persen Diet Suhu Jam
Diet -0.117 tn
Suhu -0.188 tn 0.151 tn
Waktu -0.094 tn 0.125 tn -0.269 tn
Dosis Etilen -0.240 tn -0.074 tn -0.094 tn 0.041 tn
Keterangan : tn : Tidak berbeda nyata pada uji F dengan taraf 5% * : Berbeda nyata pada uji F dengan taraf 5%
** : Berbeda nyata pada uji F dengan taraf 1%
Tabel 8. Hasil Uji Korelasi Persen Bunga < 98%, Interval Diet, Suhu Saat Aplikasi, dan Waktu Aplikasi pada Volume Air 8 000 l/ha
Persen Diet Suhu Jam
Diet 0.222 tn
Suhu -0.141 tn -0.008 tn
Waktu -0.221 tn 0.153 tn 0.132 tn
Dosis Etilen 0.215 tn
0.647 tn 0.184 tn 0.173 tn
Keterangan : tn : Tidak berbeda nyata pada uji F dengan taraf 5% * : Berbeda nyata pada uji F dengan taraf 5%
Tabel 9. Hasil Uji Korelasi Persen Bunga < 98%, Interval Diet, Suhu Saat Aplikasi, dan Waktu Aplikasi pada Volume Air 12 000 l/ha
Persen Diet Suhu Jam
Diet 0.060 tn
Suhu -0.157 tn -0.056 tn
Waktu -0.236 tn 0.214 tn 0.072 tn
Dosis Etilen 0.212 tn 0.169 tn 0.380 tn 0.215 tn
Keterangan : tn : Tidak berbeda nyata pada uji F dengan taraf 5% * : Berbeda nyata pada uji F dengan taraf 5%
** : Berbeda nyata pada uji F dengan taraf 1%
Berdasarkan tabel di atas, hasil uji korelasi menunjukkan bahwa pada volume air 4 000 l/ha, 8 000 l/ha dan 12 000 l/ha tidak terdapat korelasi nyata antar parameter yang diuji. Hal ini menunjukkan bahwa semua parameter berpeluang menyebabkan kegagalan pembungaan.
Pembahasan
Kesiapan tanaman untuk diinduksi pembungaannya berkaitan dengan pertumbuhan vegetatif tanaman. Kebanyakan tanaman tidak akan memasuki masa reproduktif jika pertumbuhan vegetatifnya belum selesai dan belum mencapai tahapan yang matang untuk berbunga (Lakitan, 2004). Menurut Mulyarti (1995) induksi pembungaan tanaman nenas dapat dilakukan jika tanaman telah tumbuh besar, dengan bobot segar tanaman sekitar 2 kg, jumlah daun minimum 35 helai dan berumur 9-13 bulan. Tanaman yang pertumbuhan vegetatifnya baik memiliki peluang keberhasilan forcing yang lebih tinggi. Dari hasil pengamatan terlihat bahwa tanaman seragam memiliki pertumbuhan vegetatif yang lebih tinggi dibanding tanaman tidak seragam. Pada tanaman tidak seragam, banyak terdapat genangan dan juga gulma yang menghambat pertumbuhan tanaman sehingga pertumbuhan vegetatif terganggu dan tanaman menjadi kerdil. Selain itu persaingan antar tanaman juga berpotensi menyebabkan tanaman menjadi kerdil (Bhartolomew et al., 2003).
Lokasi 042B merupakan lokasi yang memiliki pertumbuhan vegetatif terbaik dibanding lokasi lainnya terutama pada parameter berat tanaman, jumlah daun, panjang daun, lebar daun dan ILD (Tabel 3). Hal ini berkaitan dengan sejarah lahan yang baik di lokasi tersebut yakni bekas tanaman singkong dan bekas pembuangan limbah nenas. Selain itu, perawatan tanaman di lokasi 042B
juga lebih baik jika dibandingkan lokasi pengamatan lainnya. Berdasarkan realisasi aktifitas kebun, frekuensi aktifitas perawatan di lokasi 042B lebih tinggi dibandingkan lokasi lainnya diantaranya adalah aktifitas penyiangan gulma secara manual, aplikasi pupuk/pestisida dan aplikasi herbisida spot spray.
Parameter yang diamati pada percobaan ini selain parameter pengamatan pertumbuhan vegetatif, dilakukan pula pengamatan parameter fase generatif yang berkaitan dengan pembungaan tanaman. Berdasarkan hasil pengamatan di atas, lokasi 042B plot seragam memiliki persen bunga terendah baik pada 45 HSF maupun 60 HSF yakni sebesar 89.3% dan 93.1% (Tabel 5 dan 6). Jika dikaitkan dengan pertumbuhan vegetatifnya, lokasi 042B memiliki jumlah daun, panjang daun, lebar daun, dan ILD tertinggi. Lokasi 042B plot seragam juga memiliki bobot tanaman tertinggi dibanding lokasi dan pengelompokan lain. Lokasi 042B memiliki pertumbuhan vegetatif yang baik tetapi persen bunganya rendah (gagal).
Persen bunga yang rendah di lokasi 042B dipengaruhi oleh persen tanaman mandul yang tinggi di lokasi tersebut (Tabel 3). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat banyak tanaman mandul di lokasi 042B yang berkontribusi terhadap rendahnya persen bunga. Tanaman mandul memiliki ciri-ciri fisik yang berbeda dengan tanaman normal. Tanaman mandul memiliki bobot tanaman lebih berat dibandingkan tanaman normal. Tanaman mandul juga memiliki jumlah daun lebih banyak dibandingkan tanaman normal. Tanaman mandul dengan jumlah daun sangat banyak sering disebut tanaman sneki (Gambar 9). Fakta di lapangan menunjukkan bahwa tanaman mandul khususnya tanaman sneki juga memiliki daun yang lebih lebar dan bobot tanaman yang lebih berat dibanding tanaman normal. Hal ini disebabkan pertumbuhan vegetatif yang tinggi pada tanaman sneki.
Pada saat pengamatan sebelum forcing, lokasi 042B merupakan lokasi yang paling banyak ditemukan ciri-ciri tanaman sneki, akan tetapi secara visual lokasi tersebut lebih seragam dibanding lokasi pengamatan lainnya. Pertanaman di lokasi tersebut lebih besar dan tajuk tanaman terlihat lebih lebat. Akan tetapi setelah diforcing, lokasi 042B memiliki persen bunga terendah dibanding lokasi lain. Hal ini menunjukkan bahwa populasi tanaman dengan bobot yang lebih besar, daun lebih lebar dan jumlah daun lebih banyak dibandingkan tanaman normal belum tentu menghasilkan persen bunga yang lebih tinggi. Terdapat kemungkinan tanaman-tanaman tersebut merupakan tanaman mandul (sneki) sehingga pada saat diforcing tanaman tersebut tidak akan berbunga. Tanaman mandul juga dapat disebabkan oleh faktor genetis.
Tanaman yang tidak berbunga (mandul) pada lokasi yang gagal forcing akan dilakukan perangsangan pembungaan ulang atau yang dikenal dengan istilah reforcing. Reforcing dilakukan jika persen tanaman berbunga kurang dari 95%. Reforcing pada lokasi tertentu dapat menimbulkan kerugian diantaranya biaya yang dikeluarkan semakin besar yakni untuk operasional reforcing tersebut. Selain itu biaya panen juga menjadi lebih besar karena ketidakseragaman pemanenan akibat tidak serempaknya pembungaan. Panen buah yang dihasilkan dari reforcing harus dilakukan secara manual dan selisih waktu panen dengan tanaman yang berbunga lebih dulu dapat mencapai kurang lebih dua bulan. Kualitas buah yang dihasilkan dari reforcing juga relatif kurang bagus karena pemanenan secara manual yang rentan terhadap kerusakan buah. Kerugian lainnya yakni efektifitas penggunaan lahan juga berkurang akibat mundurnya waktu untuk tanaman ratoon crop (RC) dan waktu bongkar.
Berdasarkan data sekunder (Lampiran 5), rata-rata persen bunga reforcing tahun 2003-2008 adalah sebesar 67.61% dengan standar deviasi sebesar 20.27%. Jika indikator keberhasilan reforcing sama dengan keberhasilan forcing yakni persen bunga lebih dari 98%, maka rata-rata reforcing di Plantation Group I termasuk dalam kategori gagal. Berdasarkan rata-rata keberhasilan reforcing, didapatkan hubungan antara persen bunga hasil forcing dan peningkatan persen bunga setelah reforcing sebagai berikut :
Gambar 10. Hubungan Antara Persen Bunga Forcing dan Peningkatan Persen Bunga Setelah Aplikasi Reforcing
Berdasarkan gambar di atas, semakin tinggi persen bunga hasil pengamatan forcing maka peningkatan persen bunga reforcingnya semakin rendah. Jika diperkirakan batas peningkatan persen bunga reforcing yang memberikan keuntungan ekonomis bagi perusahaan adalah > 10%, maka reforcing yang dapat dilakukan oleh perusahaan adalah saat hasil persen bunga forcing < 85.21%. Sedangkan reforcing yang dilakukan saat persen bunga forcing
≥85.21% secara ekonomis tidak menguntungkan bagi perusahaan.
Selain faktor fisik tanaman, kesiapan tanaman juga berkaitan dengan aplikasi urea terakhir sebelum forcing yang dikenal dengan istilah diet-N. C/N ratio tanaman tinggi, diatur dengan pelaksananan diet-N. Standar diet-N di PT. GGP adalah 21-35 hari. Waktu diet yang tepat diperlukan agar tidak terjadi dampak negatif dari pupuk nitrogen yang diberikan yakni memacu pertumbuhan vegetatif (Lakitan, 2004).
Faktor lain yang mempengaruhi kegagalan pembungaan adalah suhu dan waktu aplikasi. Waktu yang tepat untuk aplikasi adalah sore, malam atau pagi hari. Hal ini dilakukan karena nenas memiliki jalur fotosintesis bertipe CAM (Crassulaceae Acid Metabolism) fakultatif. Jalur metabolisme ini memungkinkan stomata menutup sepanjang siang hari untuk menghemat penggunaan air. Selain
itu juga untuk menghindari penguapan ZPT yang telah diapikasikan (Paull, 1997). Waktu aplikasi juga berkaitan dengan suhu. Semakin malam biasanya suhu