• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kegiatan Pemeliharaan yang Rutin Dilakukan

BAB IV KONDISI UMUM

PENGELOLAAN KEBUN RAYA TOLEDO

5.4. Kegiatan-kegiatan Pe meliharaan di KRT

5.4.3. Kegiatan Pemeliharaan yang Rutin Dilakukan

Terdapat beberapa tindakan pemeliharaan yang secara rutin dapat dilakukan, di antaranya: weeding, mowing, watering, blowing, dan sweeping.

5.4.3.1. Weeding

Weeding merupakan kegiatan pencabutan gulma-gulma yang mengganggu. Kegiatan ini perlu dilakukan karena pertumbuhan gulma dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Selain itu, pertumbuhan gulma sangat cepat sehingga jumlahnya dapat mendominasi pada flower bed. Tidak hanya, dengan bantuan angin, gulma dapat menyebarkan benih sehingga menjadi gulma baru. Oleh karena itu, kegiatan pencabutan gulma merupakan kegiatan yang rutin dilakukan. Untuk melakukan kegiatan ini, dibutuhkan beberapa peralatan, seperti: weiter, kneeler, dan sarung tangan

5.4.3.2. Mowing

Mowing merupakan kegiatan pemotongan rumput dan bentangan rumput. Setiap bentangan rumput yang terdapat di KRT dilakukan pemotongan rumput seminggu sekali dengan jadwal setiap bentangan rumput yang tidak tetap. Hal ini senada dengan pendapat Emmons (2000) bahwa kegiatan pemotongan rumput (mowing) tidak dapat ditentukan

jadwalnya karena pertumbuhan rumput tergantung pada tiga faktor, yaitu: kondisi lingkungan, tingkat pemeliharaan, dan jenis rumput yang ditanam.

Pada dasarnya, kegiatan ini menggunakan alat dengan spesifikasi tertentu. Hal ini tergantung oleh luas bentangan rumput dan ketinggian rumput yang dibutuhkan. Pihak KRT sendiri memiliki lima jenis alat pemotongan rumput yang berbeda, yaitu: mesin pemotongan rumput manual (hand-machine mower), push mower, scag mower, kubota mower, dan grasshopper mower. Tentunya, semua alat ini memiliki spesifikasi kepentingan yang berbeda. Untuk menggunakan alat-alat tersebut, dibutuhkan beberapa perlengkapan pelindung, seperti: kacamata pelindung (goggle) dan pelindung telinga yang berupa ear plug dan headset.

5.4.3.3. Blowing dan Sweeping

Blowing merupakan kegiatan membersihkan area jalur jalan yang panjang dan luas (paving dan aspal) dengan menggunakan blower, sedangkan sweeping merupakan kegiatan penyapuan area kecil dengan menggunakan sapu. Kegiatan blowing tentunya akan berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan dengan menyapu. Pada dasarnya, kedua kegiatan ini saling melengkapi. Hal ini disebabkan karena kegiatan blowing hanya mengumpulkan sampah organik yang berupa daun kering dan ranting kecil menjadi beberapa tumpukan besar. Kemudian tumpukan-tumpukan tersebut disapu dan dimasukkan ke dalam ember dengan menggunakan sekop. Selanjutnya, sampah organik tersebut dikomposkan. Seperti halnya kegiatan mowing, kegiatan blowing juga harus dilengkapai dengan peralatan pelindung yang sama dengan kegiatan mowing, yaitu: kacamata pelindung, headset, dan ear plug.

5.4.3.4. Watering

Watering merupakan kegiatan penyiraman tanaman. Kegiatan ini diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu:

1. Watering by Irrigation System

Kegiatan penyiraman ini dilakukan oleh sistem irigasi yang terdapat di KRT. Sistem ini tidak mencakup seluruh tanaman di KRT. Terdapat beberapa taman kecil, khususnya yang baru dibangun, tidak dapat dijangkau oleh sistem irigasi. Sistem ini beroperasi mulai pukul 12 malam sampai dengan pukul 8 pagi. Waktu ini ditetapkan sebagai waktu penyiraman karena dianggap sepi dan tidak mengganggu aktivitas pengunjung yang biasanya mulai mengunjungi KRT pukul 9 pagi. Setiap sprinkler akan menyemprotkan air selama 20 menit. Sistem ini merotasi jadwal penyiraman setiap sprinkler sehingga setiap tempat/taman di KRT memiliki jadwal penyiraman yang berbeda. Secara normal, sistem ini akan berjalan setiap hari. Akan tetapi, pada saat Kota Toledo mendapat curah hujan yang tinggi, sistem ini akan berjalan 2-4 kali dalam seminggu. Hal ini tergantung dari tingkat curah hujan yang diprediksi.

2. Watering by Manual/Hand (Using Watering Can)

Kegiatan penyiraman ini dilakukan pada taman-taman dan pot-pot yang tidak dapat dijangkau oleh sistem irigasi. Untuk penyiraman pot dilakukan dengan menggunakan gembor (watering can). Terdapat tiga kelompok pot berdasarkan ukurannya, yaitu: kecil (5 kg tanah), sedang (10 kg tanah), dan besar (20 kg tanah), yang masing- masing pot tersebut disiram dengan kuantitas air yang berbeda, yaitu: 2 liter air, 4 liter air, dan 8 liter air. Untuk taman-taman kecil, kegiatan penyiraman yang dilakukan dengan menggunakan pipa (hose) yang disambungkan dengan sprinkler. Untuk sumber airnya, terdapat dua sumber air yang dapat digunakan. Pertama ialah dengan menyambungkan pipa dengan keran terdekat. Kedua ialah dengan memanfaatkan keberadaan air tanah. Hal ini dilakukan dengan cara mengkoneksikan pipa dengan quickcopler yang dapat menyerap air tanah. Kegiatan ini tentunya dilakukan hampir setiap hari, khususnya selama musim panas. Akan tetapi, sebelum melakukan penyiraman,

terlebih dahulu dilakukan pengecekan tingkat kelembapan tanah untuk memutuskan apakah taman/tanah ini perlu penyiraman atau tidak.

3. Watering by Tree Alligator Bag

Kegiatan penyiraman ini dilakukan terhadap pohon-pohon yang baru ditanam dan juga tidak dapat dijangkau oleh sistem irigasi. Tree alligator bag sendiri merupakan alat penyiraman yang bekerja secara otomatis. Alat ini digunakan dengan cara mengisi air (maksimal 32 liter), kemudian diletakkan melingkari batang pohon. Selanjutnya, air akan menetes secara perlahan ke tanah. Untuk jumlah air 32 liter dibutuhkan waktu 4 jam untuk meneteskan seluruh air tersebut ke dalam tanah (Gambar 27).

Gambar 27. Tree alligator bag pada lingkar pohon .

5.4.3.5. Composting

Composting merupakan kegiatan pengomposan area taman. Hal ini dilakukan untuk memberikan nutrisi kepada tanaman. Selain itu, hal ini juga dapat berfungsi untuk meningkatkan kualitas nilai lanskap taman. Sebelum melakukan composting, terlebih dahulu dilakukan kegiatan weeding untuk membersihkan taman dari pertumbuhan gulma. Selanjutnya, dilakukan edging agar taman tersebut memiliki bentuk dan pola yang jelas. Kegiatan pengomposan ini sendiri dilakukan dengan cara menyebarkan secara merata kompos pada permukaan tanah dengan ketebalan rata-rata 2-3 cm. Hal ini dilakukan dengan menggunakan sekop kemudian diratakan dengan menggunakan tangan.

Semua kegiatan pemeliharaan di atas memiliki sampah organik (limbah) yang dihasilkan dari kegiatan pemeliharaan. Sampah-sampah organik tersebut dapat berupa gulma, potongan daun hasil pemangkasan, potongan cabang, daun kering, dan sebagainya. Semua sampah tersebut dikumpulkan pada area kompos. Area kompos sendiri terletak di sebelah Baratdaya dari KRT. Area ini terbagi dalam dua bagian, yaitu: bagian sampah hijau (gulma, potongan rumput, dan daun kering) dan sampah berkayu (cabang atau ranting pohon) (Gambar 28). Untuk sampah hijau dikomposkan untuk menjadi kompos yang dibutuhkan untuk menyuburkan tanah, sedangkan untuk sampah berkayu dikomposkan untuk menghasilkan mulsa dengan menggunakan mesin VERMEER.

Gambar 28. Area kompos: Area kompos berkayu (kiri) dan Area kompos hijau (kanan)

Dokumen terkait