• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kegiatan Penyusunan Instrumen Pengolahan Data dan Informas

METODE PENELITIAN

SURVEY LAPANGAN DAN PENGUJIAN INSTRUMEN

5.2 Kegiatan Penyusunan Instrumen Pengolahan Data dan Informas

Kegiatan penelitian telah mengadakan rapat penyusunan instrument penelitian pada

Tgl. 10 Agustus 2015, dengan meliatkan 3 peneliti utama, satu staff administrasi dan 4

mahasiswa petugas peneliti lapangan yang akan ditugaskan mengumpulkan data di wilayah

empat desa terpilih yang menjadi lokasi penelitian yaitu pada desa Grokgak, desa Patas, desa

Sumberkima, desa Tinga-tinga dan desa Tukad Sumaga.

Rencana kerja yang tela berhasil ditetapkan adalah pemetaan lokasi ke lapangan

dengan tiga peneliti utama dan dua orang mahasiswa, dilaksanakan pada tgl. 20 Agustus

2015, dengan memilih sebanyak 10 responden terpilih sebagai obyek penelitian dalam rangka

menguji instrument penelitian, dengan akan dilaksanakan langkah penyempurnaan terhadap

daftar pertanyaan yang telah disusun, dilakukan perbaikan terhadap item-item pertanyaan

yang tidak tuntas difahami oleh responden.

17 Kegiatan awal kunjungan tim peneliti ke lapangan telah bertemu dengan sejumlah

pejabat ditingkat kecamatan, serta sejumlah kepala desa terkait dengan kegiatan tim

peneliti dalam rangka pengembangan potensi rumah tangga miskin untk lebih mampu

memberdayakan diri ditengah situasu ekonomi yang berada pada kelambatan.

Kegiatan awal kunjungan tim peneliti ke lapangan pada tgl 20 Agstus 2015 telah

bertemu dengan sejumlah pejabat ditingkat kecamatan, serta sejumlah kepala desa terkait

dengan kegiatan tim peneliti dalam rangka pengembangan potensi rumah tangga miskin

untuk lebih mampu memberdayakan diri ditengah situasu ekonomi yang berada pada

kelambatan. Tim peneliti juga telah mengunjungi sejumlah responden untuk diwawancari

dalam rangka menguji instrument penelitian dan melengkapi data awal untuk kegatan

18 Gambar 1.2

Tim Peneliti bersama Camat dan Staff

Gambar 1.3 menyajikan diskusi singkat antara anggota tim peneliti FEB

Universitas Udayana dengan Bapak kepala LPD desa Grokgak dalam rangka mendpatkan

sumber informasi terkait dengan peranan lembaga keuangan milik desa adat setempat dan

kemampuan pelayanan yang telah dapat diberikan oleh LPD desa adat Grokgak kepada

masyarakat pda wilayah desa bersangkutan. Wawancara dilaksanakan bersamaan dengan

kunjungan tim peneliti FEB Universitas Udayana ketika melakukan survey lanjutan Tgl

20 September 2015. Tim peneliti melakukan koordinasi sekaligus membahas peminjaman

tempat pelatihan, dengan mempersiapkan sebanyak 25 orang kader muda dari komponen

19 kelistrikan dan perbengkelan terjadwal tgl 11 dan 12 September 2015, dengan melibatkan

4 desa desa terpiih sebagaimana telah diuraikan diatas.

Gambar 1.3

Diskusi Tim Peneliti Dengan Pengurus LPD Desa Adat Grokgak

Berdasarkan hasil survey potensi ekonomi kecamatan Grokgak, wilayah Buleleng

barat sebagian besar lahan pertanian tadah hujan, sehingga masyarakat hanya

mengandalkan tanaman seperti jagung, serta tanaman perkebunan seperti kelapa dan

tanaman mangga sebagai sumber mata pencaharian. Dengan panjangnya musim kemarau

seperti saat ini, sangat tampak bahwa lingkungan sangat berdebu (lihat Gambar 1.4).

Kawasan pemukiman ruma tangga miskin relatif tidak memenuhi standar

lingkungan sehat, disebabkan oleh sejumlah faktor antara lain, adalah keterbatasan

20 untuk melindungi rumah mereka dari debu dan udara yang relatif tidak bersih dalam

memasuki musim kemarau panjang.

Gambar 1.3

Kondisi Lingkungan Tinggal Rumah Tangga Miskin Di Desa Sumberkima Kecamatan Grokgak Buleleng

( Agustus 2015)

Keterbatasan sumber penghasilan rumah tangga miskin juga tercermin pada

beranda rumah yang memasang tali untuk penjemuran pakaian, yang sesungguhnya tidak

memenuhi syarat etis dan keindahan. Hal ini membuktikan, bahwa pada rumah tangga

miskin masih belum sampai kepada upaya menata lingkungan indah, tetapi adalah upaya

untuk memenuhi kebutuhan dasar yang menuntut mereka untuk mengabaikan hal-hal lan

yang dapat menyita waktu mereka, dalam mendapatkan sumber pendapatan lain, seperti

21 Gambar 1.4

Kondisi rumah atap dan rumah tinggal Rumah Tangga Miskin Di Desa Sumberkima Kecamatan Grokgak Buleleng

( Agustus 2015)

Rumah tangga miskin yang memiliki mata pencaharian sebagai dagang atau

warung, sangat kental terlihat adanya keterbatasan sanitasi dinyatakan sehat, karena

ketidak-mampuan mereka dalam menata warung dengan sarana penunjang yang dapat

memnadjikan warung mereka menjadi sehat dan memenuhi syarat sanitasi yang baik.

Gambar 1.5 menyajikan kondisi warung yang dikelola oleh salah satu warga yang

termasuk dalamn kelompok rumah tangga miskin, memperlihatkan atap warung yang

sering bocor ketika musim hujan. Pada musim kemarau saat ini, warung dapat dipastikan

penuh dengan debu yang berterbangan, karena wilayah desa terdiri dari kawasan tegalan

yang kering. Penataan barang dagangan juga terlihat tidak beraturan dan belum

22 Gambar 1.5

Tipe Usaha Kecil versi Rumah Tangga Miskin Di Desa Sumberkima Kecamatan Grokgak Buleleng

( Agustus 2015)

Gambar 1.5 mewakili karakter lingkungan dan kondisi usaha RTM yang belum

memenuhi syarat sanitasi, meskipun sebenarnya lokasi usaha berada pada lingkungan

jalan raya utama Gilimanuk – Singaraja, namun keterbatasan RTM untuk membangun usaha pertokoan mereka dihadapkan kepada kemampuan keuangan pemilik usaha yang

terbatas. Kompleksitas permasalahan tampak terlihatpadawarga miskin, yaitu

keterbatasan sarana modal, sikap kewiraswastaan yang tidak berani mengambil resiko

atas tindakan investasi, akses pembeli dengan rata-rata pendapatan rendah, serta kendala

23 sulit difahami dengan perhitunga analisis rasional, karena itu pula persoalan RTM adalah

kabut misteri yang multi-komplek dan tidak mudah untuk difahami hanya dengan

perhitungan analisis ekonomi semata.

Gambar 1.6 menyajikan tentang kehidupan keseharian rumah tangga miskin yang

sebagan besar dari mereka mengandalkan sumur buatan sendiri dengan kedalaman sekitar

12 meter, mengambil sumber air sumur dengan cara manual, dengan mengerek air

mempergunakan timba. Karena pada kedalaman 12 meter, penduduk tidak mendapatkan

sumber air yang permanen, sehingga tidak mungkin sumber air yang tersedia dapat

dimanfaatkan dengan mempergunakan tenaga pompa listrik untuk memenuhi kebutuhan

bersama leih dari satu rumah tangga, karena sumur akan kehabisan sumber air. Dengan

demikian, fungsi sumur baru terbatas untuk memenuhi kebutuhan air minum dan mandi

untuk sebuah rumah tangga dengan keluarga kecil.

Gambar 1.6

Lingkungan Sanitasi dan Sumur Sebagai Sumber Air RTM di Desa Gokgak Kecamatan Grokgak Buleleng

24 Berbeda dengan sarana kantor kepala desa Sumberkima, dan sejumlah kantor

kepala desa lainnya pada wilayah kecamatan Grokgak menunjukkan fasilitas yang cukup

memadai dalam rangka melaksanakan fungsi pelayanan pemerintahan desa, terkondisikan

sangat berbeda dengan lingkungan rumah tangga miskin yang masih tampak pada

kawasan pemukiman apa adanya, tidak memiliki lantai tegel, halaman tanah dan tidak

tersedia kamar mandi dan toilet dan jamban keluarga. Gambar 1.7 menyajikan kondisi

lingkungan kantor kepala desa Sumberkima yang memiliki memiliki gedung pelayanan

pemerintahan relative sangat memadai bagi pelaksanaan pelayanan pemerintahan warga

desa setempat.

Gambar 1.7

Fasilitas Kantor Kepala Desa

Desa Sumberkima Kecamatan Grokgak Buleleng ( September 2015)

25 Tim peneliti melakukan pemantauan lapangan, dengan mengunjungi responden

rumah tangga miskin di desa Grokgak kecamatan Grokgak. Musim kering telah

mengkondisikan pertanian lahan kering kurang berfungsi, sebagian dari tanah pertanian

seakan terbengkelai karena tidak mungkin dapat ditanami jagung, dan ketela pohon,

kecuali pada petani yang memiliki modal lebih besar, dengan menanam pohon kepala,

pohon mangga dan tanaman kering lainnya yang memerlukan modal awal ketika

menanam bibit kepala dan manga.

Gambar 1.8 menyajikan dialog langsung antara kepala keluarga RTM di lokasi

desa Grokgak, di kawasan rumah tinggal tegalan yang sekaligus menjadi rumah tinggal

RTM semi permanen, karena RTM yang bersangkutan ditunjuk sebagai pekerja penyakap

oleh pemilik tanah yang tidak berada pada lokasi tanag tegalan. RTM penyakap cukup

26 Sumberkima, Patas, dan desa lainnya. Gambar 1.8 mewakili RTM yang tinggal di

tegalan milik orang lain, yang tidak tinggal pada lahan tegalan bersangkutan, tetapi

adalah penyakap sekaligus menjadi pekerja dan pengelola lahan yang dimiliki pihak lain.

Pola hubungan patron-client sebagaimana digambarkan oleh Cliff Geertz (1960-an)

masih ditemukan sebagai pola hubungan kekerabatan dan saling ketergantugan satu sama

lainnya dalam kerangka relasi kepentingan ekonomi dan sosial, dalam hal mana pemilik

lahan memfungsikan penyakap mereka sebagai perpanjagan tangan dalam rangka

mendukung kegiatan hajat dan kegiatan social yang dilaksaakan oleh pemilik tanah,

dimana para penyakap hadir memberikan dukungan tenaga dan bantuan lainnya.

Pola hubungan patron-client ini tampak sangat menonjol dalam kerangka

hubungan kerja pada sektor pertanian tegalan,dan tampak melemah dan tidak berfungsi

pada sektor diluar pertanian. Putusnya link antar pekerja dan majikan diluar sektor

pertanian, juga menjadi kendala bagi perlindungan rumah tangga miskin untuk

mempertahankan kualitas kesejahteraan mereka melalui pola relasi patron-client.

Melemahnya network quality dalam kerangka relasi patron-client menjadikan

hilangnya peluang relasi kuasa atas pekerjaan dengan RTM sebagai penyedia tenaga

kerja, sehingga peluang pembentukan kesejahtraan melalui kerangka patron-client tidak

terwujud di sektor diluar pertanian.

Gambar 1.9

Lingkungan tanah tegalan sebagai pemukiman penduduk Rumah Tangga Miskin Di Desa Grokgak

Kecamatan Grokgak Buleleng ( Agustus 2015)

27 Catatan lain dari survey awal yang telah dilaksanakan antara Bulan Agustus

sampai dengan pertengan bulan September 2015 adalah pola partisipasi gender dalam

upaya ikut serta berpartisipasi memperbaiki kesejahteraan RTM. Peran wanita pada

rumah tangga miskin pada musim paceklik telah memanfaatkan waktu luang mereka

dengan membuat canang dan perlengkapan sajen lainnya, yang dijual atas pesanan warga

setempat dan para pemangku pura yang berada disekitar lokasi rumah tangga miskin

bersangkutan. Ibu Dra Ni Made Sutarmiasih Wardana selaku mantan pimpinan dharma

wanita dan ibu PKK kabupaten Buleleng yang ikut serta sebagai pendamping kegiatan

penelitian ini, memiliki banyak akses atas binaan rumah tagga miskin khususnya di

wilayah Buleleng barat, sehingga sangat membantu dalam investigasi awal tim peneliti

untuk mendapatkan responden rumah tangga binaan. (lihat Gambar 1.10).

Gambar 1.10

Lingkungan tanah tegalan sebagai pemukiman penduduk

28 ( September 2015)

Pola hubungan patron-client jika berkembang menjadi pola hubungan relasi

strktural yang unik diluar sektor pertanian, RTM akan mendapatkan lebih banyak peluang

memperbaiki kesejahtraan melalui penetesan kebawah dari masyarakat elite sosial

ekonomi yang menjadi majikan mereka. Ketika keluar dari sektor pertanian, pola

hubungan patron-client tidak ditemukan pada masyarakat pedesaan pada empat desa yang

di survey penelitian ini, meki masih dalam gambaran kasar, karena focus kegiatan

penelitin ini leih ditujukan kepada action research yang tidak mendalami karakter pola

hubungan sektoral secara mendetail.

Survey singkat atas kondisi RTM di wilayah Buleleng barat sebagai wilayah

29 perlu dipolakan dimasa depan dengan prioritas kebijkan pemerintah kabupaten Buleleng,

mengingat wilayah perbatasan RTM menghadapi tantangan yang sangat besardalam

perebutan sumber daya yang terbatas dari penduduk lokal dan penduduk pendatang.

Berdasarkan hasilwawancara dengan sejunmlah responden terpilih terungkap

bahwa regenerasi dari penduduk miskin secara garis besar adalah para geneasi muda yang

telah dapat memenuhi kebutuhan sandang pangan secara minimal yang diperlukan untuk

bertahan hidup, namun menjadi masalah besar bagi mereka untuk mampu mewujudkan

sebuah rumah tinggal yang sehat dengan sanitasi baik. Type rumah tinggal RTM di

wilayah perbatasan Buleleng barat dapat dilihat pada Gambar 1.11 dengan kondisi batu

bata dan lantai tanah, yang mewakili kondisi rumah tinggal RTM dengan sarana air

minum dari sumur dan belum memiliki penerangan listrik.

Gambar 1.11

Lingkungan tanah tegalan sebagai pemukiman penduduk

Rumah Tangga Miskin Di Desa Grokgak Kecamatan Grokgak Buleleng ( September 2015)

30 Bahan bakar utama yang dipergunakan rumah tangga miskin untuk memenuhi

kebutuhan konsumsi makanan dan minuman, masih sangat terkiat dengan bahan bakar

lokal seperti kayu hutan, dan kelapa seperti tampak pada Ganbar 1.11, dimana warga

menyimpan bahan bakar kayu untuk memenuhi keperluan aktivitas didapur. Hal ini

menunjukkan, bahwa rumah tagga miskin berpotensi melakukan pengrusakan lingkungan

hutan dalam jangka panjang. Keterbatasan sumber pendapatan rumah tangga miskin

menyebabkan belum bergesernya pola penggunaan bahan bakar ke tingkat yang lebih

maju, seperti penggunaan gas atau kompor minyak tanah.

Gambar 1.12

Rumah Tangga Miskin Dan Bahan Bakar Memasak

Rumah Tangga Miskin Di Desa Sumberkima Kecamatan Grokgak Buleleng ( Agustus 2015)

31 Wawancara singkat tim peneliti dengan dua kepala rumah tangga terpilih di

kawaan desa desa Grokgak dan desa Sumberkima kecamatan Grokgak memberikan

gambaran awal bahwa untuk mendapatkan makan keseharian relatif tidak terlalu sulit yag

bersumber dari pekerjaan mereka. Meskipun demikian, beban keluarga yang rata-rata

dengan anak antara 3 sampai 5 orang, relative sulit untuk dapat menyediakan tempat

pemukiman yang layak.

Gambar 1.13

Rumah Tangga Miskin Dan Bahan Bakar Memasak

Rumah Tangga Miskin Di Desa Sumberkima Kecamatan Grokgak Buleleng ( September 2015)

32 Responden kepala rumah tangga yang diwawancara tersebut seperti tampak pada

Gambar 1.10 adalah berprofesi sebagai penggali sumur manual, dengan alat-alat yang

sangat terbatas serta cangkul dan skop, serta mampu menggali dengan kedalaman sampa

50 meter. Keterbatasan modal dan dengan keterampian seadanya merupakan modal

utama mereka dalam mendapatkan peluang pekerjaan yang saat ini banyak dibutuhkan

masyarakat, terumata mereka yang memiliki lahan tegalan di kawasan Buleleng barat

khususnya.

Survey singkat juga telah dilakukan di desa Tukad Sumaga dan desa Patas.

Dibandingkan dengan desa Patas dan Grokgak serta desa Sumberkima, maka desa Tukad

Sumaga relative memiliki sumber daya pertanian sawah dengan sarana irigasi teknis.

33 memberikan lahan pekerjaan bagi masyarakat lokal. Meskipun desa Tukad Sumaga

memiliki relative kondisi lebih baik dibandingkan dengan tiga desa lainnya, tetapi saja

rumah tangga miskin memiliki karakter yanbg tidak berbeda jauh dengan tiga desa

lainnya, baik dilihat dari peluang kesempatan kerja, maupun potensi pasar yang dapat

membebaskan mereka dari tekanan ekonomi saat ini.

Gambar 1.14

Pemeliharaan Ternak Sapi Rumah Tangga Miskin Di Desa Tukad Sumaga Kecamatan Grokgak Buleleng

( September 2015)

Survey awal dengan membandingkan sarana kantor kepala desa yang dimiliki oleh

empat desa yang menjadi focus pembinaan RTM di wilayah Buleleng Barat oleh Tim

Peneliti FEB Universitas Udayana adalah desa Grokgak, Patas, Tukad Sumaga dan desa

Sumberkima, menunjukkan gambaran tentang potensi desa dan tingkat kesejahteraan

masyarakat desa yang bersangkutan.

Gambar 1.15 menunjukkan sarana bangunan kantor kepala desa Patas yang

kondisinya relative sama dengan sarana gedung kepala desa Grokgak, sementara kantor

34 Berdasarkan wawancara dengan staf kepala desa Tukad Sumaga, bahwa sebagian dana

yang dipergunakan adalah bersumberdari swadaya masyarakat, sebuah gambaran potensi

modal sosial dan kegotong-royongan serta kondisi kesejahtraan masyarakat yang lebih

baik dibandingian dengan tiga desa lainnya. Wilayah desa Tukad Sumaga memiliki

sejumlah kawasan lahan beririgasi teknis, serta hasil perkebunan yang mendukung

tingkat kesejahtraan masyarakat setempat.

Gambar 1.15

Sarana Kantor kepala desa PATAS Di Desa Patas Kecamatan Grokgak Buleleng

( September 2015)

Perbedaan sarana bangunan juga menggambarkan kondisi sosial

kemasyarakat yang lebih kompak dalam bekerja sama untuk mewujudkan sarana

kantor kepaladesa yang representative. Gambar 1.16 memberikan suasana kantor

yang tipikal bangunan Bali, yang tidak dapat dikembangkan di desa lainnya.

Gambar 1.16

Sarana Kantor kepala desa Tukad Sumaga Di Desa Tukad Sumaga Kecamatan Grokgak Buleleng

35

Dalam kunjungan ke lapangan tahap kedua yang dilaksanakan dari tgl 24

Agustus 2015, telah berhasil menyusun agenda kegiatan tahap berikutnya, yaitu

mengkoordinasikan dengan Bapak Camat dan empat kepala desa binaan (desa Grokgak,

desa Patas, desa Sumberkima dan desa Tukad Sumaga) yang terkait dengan pola

pemetaan rumah tangga miskin, memperlihatkan pentingnya upaya untuk melakukan

konstruksi tentang kondisi, situasi dan karakter rumah tangga miskin. Pertama,

kecamatan Grokgak adalah wilayah perbatasan antara Bali barat dengan perbatasan Jawa

Timur, dalam hal mana pembenahan rumah tangga miskin dapat diartikan sebagai

pertahanan budaya lokal yang akan menjadi mudah tergerus apabila ekonomi rakyat

36 Kedua, bahwa pemetaan rumah tangga miskin menjadi penting untuk ditelusuri,

mengingat dampak terjadinya kriminalitas, narkoba dan prostitusi seringkali bermula dari

tekanan ekonomi rakyat yang terdesak dan tidak berdaya menghadapi dinamika pengaruh

negative, dimana rakyat dengan pertahanan ekonomi lemah dengan mudah terpelosok

dengan kepentingan jangka pendek yang merugikan kepentingan ekonomi dan sosial

masyarakat lokal.

Ketiga, bahwa tanpa pemahaman dengan jelas atas persoalan kemiskinan yang

berkembang di masyarakat khususnya di wilayah 4 desa lokasi penelitian ini, maka dapat

terjadi pemecahan permasalahan menjadi parsial dan tidak terarah, sehingga akan

menghabiskan tenaga, waktu dan dana pemerintah dengan hasil keluaran yang tidak

membeikan kontribusi nyata bagi penurunan rumah tagga miskin di wilayah perbatasan,

khususnya pada desa Grokgak, desa Patas, desa Sumberkima dan desa Tukad Sumaga.

Keempat, bahwa laporan awal ini disampaikan sebagai gambaran awal tentang

karakter rumah tangga miskin, sera upaya untuk mengentaskan kemiskinan tersebut

melalui program jangka pendek seperti sosialisasi dan pembekalan kepada kader muda

rumah tangga miskin tentang bekal keterampilan khsusu seperti tenaga isntalatur

kelistrikan dan tenaga perbengkelan. Peningkatan kualitas sumber daya dari drop-out

sekolahan ke tenaga kerja siap pakai, adal;ah salah satu upaya untuk memperluas bidang

keterampilan kader muda dari rumah tangga miskin, sehingga dioharapkan dapat

mewujudkan pangsa pasar baru sejalan dengan keterampilan yang telah mereka miliki.

Dokumen terkait