• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENYELIDIKAN

5.2. Kegiatan Survei dan Pemetaan

Distrik Depapre dan Distrik Ravenirara yang sebagian besar wilayahnya berbatasan langsung dengan lautan bebas memiliki 2 sumber ancaman, yaitu asal dari daratan, terutama dari Pegunungan Cycloops dan asal lautan, khususnya Samudera Pasifik.

Kedua sumber ancaman ini perlu diidentifikasi secara cermat mengingat perkembangan wilayah Kabupaten Jayapura tumbuh secara linier berarah barat timur atau dengan kata lain pertumbuhan kota Sentani akan menuju Distrik Sentani Barat dan Distrik Depapre. Mengantisipasi pertumbuhan yang semakin cepat dan pembangunan yang intensif, maka perlu diketahui berbagai kemungkinan kendala atau hambatan yang disebabkan oleh alam berupa bahaya geologi yang dapat berkembang menjadi bencana geologi (alam).

Berbagai fenomena bencana terkait erat dengan faktor topografi, geologi, hidrologi/hidrogeologi, meteorologi, penggunaan lahan, penduduk, dan kombinasi faktor-faktor di atas. Semua faktor saling berkaitan dan menghasilkan bencana yang mungkin dapat terjadi sewaktu-waktu atau dipicu oleh salah satu faktor. Oleh sebab itu, kegiatan survey dan pemetaan daerah rawan bencana di Distrik Depapre dan Distrik Ravenirara akan mengamati faktor-faktor tersebut, sebagai faktor utama penyebab bencana.

Pelaksanaan survei lapangan dan pemetaan daerah rawan bencana dilakukan oleh 2 tim. Tim pertama melakukan kegiatan di Distrik Ravenirara pada tanggal 18 Mei 2009.

Kesampaian lokasi ditempuh dengan menggunakan speedboat dari Hamadi Kota Jayapura menuju Kampung Yongsu Sapari. Perjalanan di tempuh selama kurang lebih 45 menit dalam cuaca yang cerah dan laut yang tenang. Tim kedua melaksanakan kegiatan survei di Distrik Depapre pada tanggal 20 Mei 2009. Kesampaian lokasi ditempuh dengan menggunakan mobil dari Kota Sentani menuju Kampung Yewena.

Perjalanan ditempuh selama 60 menit perjalanan melalui jalan aspal berakhir di sekitar Tablasupa dan dilanjutkan dengan jalan perkerasan hingga tiba di Kampung Dormena.

5.2.1. Distrik Depapre

Wilayah Distrik Depapre berada di bagian paling barat Pegunungan Cycloops dan berbatas dengan Samudera Pasifik. Wilayah ini memiliki topografi berbukit-bukit yang merupakan bagian dari lereng pegunungan, serta pantai yang sempit tidak beraturan dan bergelombang cukup besar. Batuan penyusun wilayah ini didominasi oleh batuan metamorfik disebelah utara, serta batuan beku dan batuan piroklastik dibagian barat.

Di sekitar tanjung Tanahmerah pada topografi yang cukup datar terhampar tanah laterit yang cukup tebal. Material tanah ini mengandung cukup besar potensi logam, seperti nikel, besi, magnesium dan kromit. Tanah jenis ini adalah hasil pelapukan batuan beku mafik dan ultramafik di daerah tropik. Struktur geologi yang teramati berupa gawir sesar yang ditunjukkan oleh kelurusan topografi atau punggungan bukit, serta kekar (joint) pada singkapan batuan beku dan foliasi pada batuan metamorfik.

Lahan secara umum digunakan untuk pemukiman, kebun dan hutan. Hasil pengamatan terhadap faktor topografi, geologi dan penggunaan selengkap, ditunjukan pada Tabel 5.1.

Tabel 5.1. Hasil pengamatan faktor topografi, geologi dan penggunaan lahan

Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala kampung, aparat kampung, tokoh pemuda dan masyarakat diperoleh keterangan tentang bencana yang pernah terjadi dan beberapa bukti akibat dari bencana tersebut. Beberapa bencana yang telah terjadi antara lain tanah longsor di bagian lereng gunung yang menimbulkan kerugian seperti tertutupnya bak penampungan air (bagian dari mata air) yang menjadi sumber air bersih kampung, serta rusaknya rumah dan terputusnya jalan penghubung kampung;

banjir terjadi di bagian cukup datar dan berada di lembah dalam waktu singkat dan tidak menimbulkan kerugian, serta abrasi pantai akibat gelombang pasang yang diserta

angin kencang di bagian pantai. Selengkapnya informasi bencana yang pernah terjadi di wilayah Distrik Depapre ditampilkan dalam Tabel 5.2.

Tabel 5.2. Data bencana yang pernah terjadi di wilayah Distrik Depapre.

Kampung Bencana yg pernah terjadi (tahun) Keterangan 1. Yewena Longsor (2009) Menutupi mata air kampung 2. Dormena Banjir (1977), Abrasi pantai (1990)

3. Wambena Banjir (2009) K. Samaubu

4. Yapase Longsor (2009), angin kencang dan gelombang pasang serta abrasi pantai (2008)

2 rumah rusak berat, 1 rumah rusak ringan, 1 jalan putus

5. Tablasupa 6. Waiya

7. Entiyebo Angin kencang dan gelombang pasang (2009)

8. Kendate

Gambar 5.1. Keadaan topografi yang memiliki kelerengan > 30o dengan batuan beku mafik sebagai batuan dasar. Lokasi sekitar Kampung Waiya, Distrik Depapre.

Gambar 5.2. Longsor tanah dan batuan terjadi di sekitar Kampung Tablasupa.

Gambar 5.3. Bekas banjir yang meninggalkan batu-batu disekitar muara di Kampung Wambena, Distrik Depapre.

Gambar 5.4. Abrasi pantai yang terjadi tahun 2008 mengakibatkan tembok penahan tebing rusak berat. Lokasi Kampung Dormena, Distrik Depapre.

Gambar 5.5. Longsor tanah yang menimbun badan jalan di Kampung Yewena, Distrik Depapre.

5.2.2. Distrik Ravenirara

Wilayah Distrik Ravenirara berada di bagian lereng utara Pegunungan Cycloops dan berbatasan dengan Samudera Pasifik. Wilayah ini memiliki morfologi dataran yang sangat sempit dan tebing-tebing pantai yang curam, sehingga kampung-kampung tidak memiliki sarana penambatan perahu yang permanen.

Secara topografi wilayah Distrik Ravenirara mirip dan Distrik Depapre memiliki kemiripan. Dari atas perahu teramati bahwa kedua distrik memiliki kemiripan pada aspek topografinya, yaitu morfologi berbukit-bukit yang bergelombang sedang hingga kuat dan tutupan lahan oleh hutan yang hijau, rapat dan sangat luas. Kondisi ini memperlihatkan potensi air tanah dan air permukaan yang sangat besar, namun menyimpan potensi bencana yang juga cukup besar berupa longsor di bagian hulu sungai dan banjir (bandang) di bagian hilir atau muara. Banjir amat sering terjadi, terutama antara bulan Oktober hingga Desember, yaitu pada musim hujan. Hasil pengamatan lapangan dirangkum dalam Tabel 5.3. dan informasi bencana yang pernah terjadi disajikan pada Tabel 5.4.

Tabel 5.3. Hasil pengamatan faktor topografi, geologi dan penggunaan lahan di wilayah Distrik Ravenirara.

Hasil survei dan wawancara dengan Kepala Kampung, aparat kampung, tokoh adat dan masyarakat di ketahui beberapa bencana telah terjadi dengan frekuensi yang cukup

sering. Bencana yang kerap melanda dan terjadi disemua kampung di Distrik Ravenirara adalah banjir, terutama terjadi antara bulan Oktober hingga Desember hampir setiap tahun. Bencana longsor banyak terjadi di gunung dan tidak berdampak serius terhadap keberadaan kampung yang banyak berada ditepi pantai. Bencana yang berasal dari laut berupa gelombang pasang dan angin kencang dalam tiga tahun terakhir dirasakan semakin intensif mengancam keberadaan kampung dan mengganggu transportasi orang serta distribusi barang yang masuk dan keluar kampung.

Tabel 5.4. Data bencana yang pernah terjadi di wilayah Distrik Ravenirara.

Kampung Bencana yg pernah terjadi (tahun) Keterangan

1. Yongsu Sapari

Banjir (1997, 1998, 1999, 2001, 2002, 2005,2009)

Terjadi antara bulan Oktober - Desember

2. Yongsu Dosoyo

Banjir/Bandang (2002), Longsor (2000) 5 rumah rusak dan puskesmas tertimbun. Longsor di Yongsu Kecil

3. Newa Banjir (1988, 1990), Longsor K. Racwawa. Longsor di bagian gunung tidak sampai ke pemukiman

4. Necheibe Longsor (2004), Banjir dan Abrasi pantai Longsor searah dengan tanjung Ormu. Banjir di K.

Nagasawa

Gambar 5.6. Keadaan topografi dan morfologi di Distrik Ravenirara. Lokasi Kampung Yongsu Dosoyo.

Gambar 5.7. Longsoran tanah dan batuan yang banyak ditemukan pada lereng tebing dengan batuan dasar berupa batuan metamorfik. Lokasi sekitar kantor Distrik Ravenirara,

di Kampung Ormu.

Gambar 5.8. Sisa banjir sesaat (2005) di Kampung Yongsu Sapari.

Gambar 5.9. Morfologi sungai yang sewaktu-waktu dapat menyebabkan banjir atau banjir bandang. Lokasi Kampung Yongsu Dosoyo.

Gambar 5.10. Abrasi pantai yang parah terjadi di Kampung Ormu Tua.

Berdasarkan hasil survei, maka dapat diketahui jenis ancaman bahaya yang dapat menyebabkan bencana geologi (alam) di Distrik Depapre dan Ravenirara antara lain

banjir/banjir bandang, longsor, abrasi pantai, dan gelombang pasang. Bahaya geologi yang ditafsirkan dapat terjadi di kedua distrik ini antara lain gempa bumi dan tsunami.