• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Kehidupan Sosial Ekonomi

Pengertian kondisi Sosial ekononomi adalah suatu keadaan atau kedudukan yang diatur secara sosial dan menetapkan seseorang dalam posisi tertentu dalam struktur masyarakat. Pemberian posisi ini disertai pula seperangkat hak dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh si pembawa status. Tingkat sosial merupakan faktor non ekonomis seperti budaya, pendidikan, umur dan jenis kelamin, sedangkan tingklat ekonomi sepertik pendapatan, jenis pekerjaan, pendidikan dan investasi.

Manusia selalu ingin memenuhi kebutuhan hidupnya baik moral maupun material. Kebutuhan pokok atau basic human needs dapat dijelaskan sebagai kebutuhan yang sangat penting guna kelangsungan hidup manusia. Abraham Maslow mengungkapkan kebutuhan manusia terdiri dari kebutuhan dasar fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan kasih sayang, kebutuhan akan dihargai dan kebutuhan mengaktualisasikan diri.

Sosial Ekonomi - Sosial mengandung arti segala sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat, sementara itu ekonomi memiliki artian sebagai

ilmu yang berhubungan dengan asas produksi, distribusi, pemakaian barang serta kekayaan. Sekilas Sosial dan Ekonomi seperti dua hal dan cabang ilmu yang berbeda, namun diantara keduanya sebenarnya terdapat kaitan yang erat. Salah satu kaitan yang erat tersebut adalah, Jika keperluan ekonomi tidak terpenuhi maka akan terdapat dampak sosial yang terjadi di masyarakat kita.

Jadi bisa dijadikan kesimpulan adalah bahwa sosial ekonomi mengandung pengertian sebagai segala sesuatu hal yang berhubungan dengan tindakan ekonomi dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat seperti sandang, pangan dan papan. Dari pendapat tersebut dapat diketahui bahwa status sosial ekonomi adalah kemampuan seseorang untuk mampu menempatkan diri dalam lingkungannya sehingga dapat menentukan sikap berdasarkan atas apa yang dimilikinya dan kemampuan mengenai keberhasilan menjalakan usaha dan berhasil mencukupinya. Dampak sosial yang terjadi di masyarakat akibat tidak terpenuhinya faktor ekonomi yang banyak terjadi di sekitar kita beberapa contoh dampaknya adalah:

1. Kesenjangan sosial

Sejatinya pertumbuhan ekonomi yang tinggi di suatu negara maka bisa juga ikut mendongkrak status dan pendapatan seluruh lapisan masyarakat.

Namun hal tersebut tidak akan terjadi jika tidak dilakukan kajian menyeluruh akan manfaat dan keuntungan yang di dapatkan dari pertumbuhan ekonomi negara. Yang terjadi adalah semakin tingginya jurang kesenjangan sosial di masyarakat akibat yang merasakan kemakmuran dari pertumbuhan ekonomi hanya kalangan lapisan masyarakat menengah ke atas sementara kalangan masyarakat menengah

ke bawah masih bergelut dengan kekurangan dan tidak bisa ikut merasakan keuntungan dari pertumbuhan ekonomi negara.

2. Kekerasan etnis dan kelompok

Dampak sosial ekonomi ini sering terjadi di Indonesia, timpangnya perekonomian mengakibatkan masyarakat tidak bisa mengenyam pendidikan tinggi, merasakan kemakmuran dan pemerataan pembangunan.

Akhirnya masyarakat yang berada dalam lingkup seperti ini jadi gampang terpengaruh dan tersulut, tidak memiliki pendirina sendiri dan cenderung gampang sekali terprovokasi baik oleh masa ataupun oleh tokoh yang mereka anggap lebih pintar. Inilah yang menyebabkan suatu daerah rawan sekali dengan konflik tidak memikirkan lebih dalam akibat jangka panjang dari konflik tersebut

3. Kekerasan dalam rumah tangga

Ini adalah contoh dampak sosial ekonomi yang ketiga, walaupun ekonomi bukanlah alasan utama namun dalam beberapa kasus kekerasan dalam rumah tangga faktor ekonomi lah yang jadi pemicu utama. Akibat tidak tercapainya suatu kebutuhan masyarakat dalam lingkup keluarga jadi bersumbu pendek, tidak berpikir panjang salah satu akibatnya adalah karena beban hidup yang tinggi dan berlangsung berkepanjangan.

2.3. Sekilas Sejarah tentang Kopi

Tanaman kopi di masuk ke Indonesia pada tahun 1696 oleh orang-orang Belanda, akan tetapi usaha yang pertama ini gagal. Usaha ini diulangi lagi pada tahun 1699 dan berhasil, selanjutnya dikembangkan perkebunan-perkebunan

kopi di pulau jawa. Lebih dari satu abad kemudian hampir separuh perkebunan kopi di pulau jawa mengusahakan tanaman kopi, jenis kopinya adalah Arabika (Khalid, dkk, 1996)

Perkebunan-perkebunan kopi arabika di Jawa pada saat itu berkembang dengan sangat pesat, karena kopi yang dihasilkan di jawa mempunyai mutu yang sangat baik dan sangat digemari oleh orang-orang Eropa. Sebelum tahun 1900 kopi arabika merupakan komoditas ekspor utama bagi Pemerintah Hindia Belanda karena hampir seluruh ekspor pada saat itu terdiri dari kopi arabika dan hanya 10-20 % saja terdiri dari jenis liberika (Khalid, dkk, 1996).

Kopi arabika kemudian menyebar ke pulau-pulau yang lain seperti Sumatera, Sulawesi, Bali, dan lainnya, akan tetati luas perkebunan di luar pulau jawa tidak seluas di jawa. Masa keemasan kopi arabika di jawa khususnya dan di Indonesia umumnya mulai memudar sesudah tampak adanya gejala setelah serangan jamur karat daun (Hemileia vastarix). Gejala tersebut mulai di jawa tahun 1878.

Varietas-varietas kopi arabika yang ditanam pada saat itu rentan terhadap serangan jamur, sehingga pada waktu yang relatip singkat telah menimbulkan kerugian yang besar. Akibatnya banyak perkebunan kopi arabika di lahan – lahan rendah dialihkan ke tanaman lain, seperti kakao, karet, kopi robusta dan kelapa.

Sampai dengan dasawarsa delapan puluhan, kopi arabika hanya tinggal di lahan-lahan tinggi, seperti Ijen (Jawa Timur), Aceh Tengah (Aceh), Toraja (Sulawesi Selatan) dan Kinta Mani (Bali). Untuk mengatasi masalah penyakit tersebut, pada tahun 1900 dimasukkan (diintroduksi) jenis Robusta. Jenis ini agak tahan serangan jamur karat daun, sehingga dalam waktu relatip singkat tanaman kopi

Robusta telah mendominasi kebun-kebun kopi terutama di lahan-lahan rendah, sayangnya mutu kopi robusta tidak sebaik arabika. (Khalid, dkk, 1996)

Tahun 1908 pertama kali belanda memperkenalkan kopi arabika yang dimasukkan ke Takengon Aceh Tengah. Ditanam pertama kali di sebelah Utara Danau Lut Tawar yang diyakini sekitar Paya Tumpi. Kemudian belanda mengembangkan kawasan perkebunan lainya yang dikelola sebagai tanaman komersial yang hasilnya dieksport keluar negeri bersama tanaman sayur-sayuran seperti kentang, teh, dan getah pinus mercusi (terpentin).

2.3.1. Kopi setelah Masa Kemerdekaan

Setelah belanda hengkang karena masuknya Jepang pengolahan perkebunan kopi (kopi Blang Gele) beralih kepada Jepang. Tidak banyak kisah perkebunan kopi ini selama pendudukan Jepang di Gayo karena Jepang sibuk mempersiapkan diri dalam perang.

Setelah Jepang pergi, perkebunan kopi kemudian di kelola pemerintah daerah.

Pemerintah daerah kemudian memberikan pengolahan perkebunan kepada pengusaha asal Bireun yang bernama Nyak Mahmud. Nyak Mahmud mengelola perkebunan ini hingga sebelum tahun 1964, karena pada tahun 1964 pemda Aceh Tengah yang sudah memiliki Bupati pertama Abdul Wahab bersama Agraria membagi tanah belanda ini kepada bekas pekerja Belanda.

Dengan masuknya penjajahan Jepang ke dataran tinggi gayo pada tahun 1942 perkebunan kopi yang sudah ditekuni sempat terlantar. Selanjutnya usaha kopi perkebunan kopi rakyat mulai dikembangkan kembali setelah zaman kemerdekaan , terutama setelah selesainya konflik G30 SKPI dan peristiwa DI/TII tahun 1960-an. Sampai sekarang masyarakat gayo mulai mengandalkan

kopi sebagai komoditas utama dengan tidak mengabaikan komoditas yang lain.

Lahan perkebunan kopi berkembang secara signifikan dari tahun ke tahun.

Masyarakat gayo yang semula menjadikan lahan pertanian, persawahan, dan danau sebagai sumber mata pencarian mereka, lambat laun beralih ke perkebunan kopi. Peralihan profesi ini lebih disebabkan karena ketika perluasan perkampungan atau migrasi dimana tanah atau lahan baru yang ditempati tidak cocok lagi untuk bersawah dan jauh dari danau laut tawar.

2.3.2. Sejarah Sosial Masyarakat Aceh yang Berada di Dataran Tinggi Gayo Suku Gayo adalah salah satu suku terbesar yang mendiami dataran tinggi di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Suku ini memiliki adat istiadat yang unik, salah satunya adalah adat dalam sistem perkampungan. Orang Gayo yang suka hidup secara kolektif menjadikan mereka membuat perkampungan secara kolektif pula.

Pola perkampungan ini memperlihatkan betapa rasa kebersamaan antar sesama suku terus dijaga. Meskipun demikian, seiring perkembangan zaman, pola perkampungan itu sudah mulai banyak berubah, begitupun nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

2.3.3. Tentang Suku Gayo

Kebudayaan Gayo sudah ada sejak orang Gayo bermukim di wilayah dataran tinggi Gayo. Kebudayaan ini mulai berkembang pada masa Kerajaan Linge pertama abad ke-10 Masehi. Kebudayaan itu meliputi aspek kekerabatan, komunitas sosial, pemerintahan, pertanian, kesenian dan lain-lain. Kata Gayo sendiri berasal dari kata Pegayon yang artinya tempat mata air yang jernih tempat ikan suci (bersih) dan kepiting. (Syamsudin1979/1980)

Saat ini Suku Gayo mendiami tiga kabupaten di NAD, yaitu Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Bener Meriah, dan Kabupaten Gayo Lues. Mereka juga tersebar di beberapa desa di Kabupaten Aceh Tenggara, Kabupaten Aceh Tamiang, Kecamatan Beutong, Kabupaten Nagan Raya, dan di Kabupaten Aceh Timur.

2.3.4. Pengertian Komoditi Kopi

Komoditi/komoditas adalah: salah satu istilah yang juga sering digunakan dalam perekonomian. Secara bahasa Komoditas memiliki 2 arti yang mana artinya adalah sebagai berikut :

1. Sesuatu benda nyata yang relatif mudah diperdagangkan, dapat diserahkan secara fisik, dapat disimpan untuk suatu jangka waktu tertentu dan dapat dipertukarkan dengan produk lainnya dengan jenis yang sama, yang biasanya dapat dibeli atau dijual oleh investor melalui bursa berjangka.

2. Secara lebih umum, suatu produk yang diperdagangkan, termasuk valuta asing, instrumen keuangan dan indeks.

Perdagangan apapun memiliki resiko tersendiri begitu pula dengan perdagangan komoditas, gagal janji dan fluktuasi harga menjadi ancaman utama melakukan perdagangan komoditas. Seperti yang telah disebutkan bahwa harga komoditas bergantung pada permintaan dan penawaran yang terjadi pada pasar komoditas. Sementara permintaan tersendiri menurut ekonomi ditentukan oleh banyaknya atau bertambahnya jumlah penduduk, bertambahnya penggunaan atau konsumsi masyarakat, penggunaan baru atau substitusi.

Penawaran terhadap komoditas berubah bisa karena pertambahan kapasitas produksi atau ada penambahan luas lahan dari komoditas yang akan

diproduksi seperti lahan sawah dan lain lain, musim yang berlangsung, baik buruknya cuaca, larangan dari pemerintah, bencana alam atau hal hal yang mengganggu perdamaian dan faktor faktor lain yang turut mempengaruhi harga dari suatu komoditas dan juga faktor yang tidak bisa diramalkan.

Hal tersebut membuat pasar menggunakan prinsip lindung nilai sebagai kebutuhan pasar. Kebutuhan akan lindung nilai bisa ditentukan di dalam bursa komoditas ataupun diluar. Kebutuhan akan lindung nilai tadinya hanya digunakan pada komoditas utama seperti pertanian namun lindung nilai sekarang menjadi kebutuhan utama untuk semua jenis komoditas bagi para pelaku pasar.

Komoditas yang dibutuhkan untuk memiliki lindung nilai seperti komoditas keuangan, cuaca, ekonomi dan komoditas lainnya. Untuk memperoleh lindung nilai biasanya diperlukan sebuah kontrak. Beberapa kontrak yang terjadi kemudian diperdagangkan di Bursa Komoditas atau biasa dinamakan sebagai Bursa Kontrak

Pekerjaan orang Gayo sebagai petani kopi pun tidak hanya mendorong mereka untuk memuaskan kehidupan ekonomi secara individual, tetapi lebih jauh dari itu, mata pencaharian tersebut telah mendorong mereka untuk keluar dari kehidupan privat menuju dunia sosial yang lebih luas. Di Tanah Gayo, orang-orang menjadikan budaya minum kopi sebagai sarana sosialisasi baik di rumah, kedai, kantor, dan sebagainya.

Sayangnya, belum lama ini nama besar tersebut telah dipatenkan oleh Holland Coffee, sebuah perusahaan milik Belanda. Akibatnya Kopi Gayo tidak dapat dipasarkan ke luar negeri dengan memakai merek aslinya. Keadaan ini

secara tidak langsung dapat merugikan petani kopi di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah

2.3.5. Pengertian dan Ruang Lingkup Tata Niaga

Pengertian yang menyangkut persoalan cara kita berpencaharian dan cara kita hidup, dibagi ke dalam tiga aspek pokok yaitu: produksi, distribusi dan konsumsi. Dalam pengertian ekonomi; produksi dan distribusi adalah kegiatan yang bertalian dengan penciptaan atau penambahan kegunaan daripada barang dan jasa, sedang konsumsi adalah kegiatan yang bertalian dengan penurunan kegunaan daripada barang dan jasa.

Istilah pemasaran dan tataniaga yang sering kita dengar dalam ucapan sehari-hari di negeri kita adalah terjemahan dari perkataan “marketing” atau biasa disebut tataniaga daripada pemasaran. Kegunaan yang diciptakan oleh kegiatan tataniaga adalah kegunaan waktu (time utility), kegunaan tempat (place utility), dan kegunaan pemilikan (possesion utility). Kegunaan waktu berarti bahwa barang-barang mempunyai faedah (yang lebih besar) setelah terjadi perubahan waktu, misalnya: ikan tongkol pada waktu bukan musimnya lebih besar faedahnya dibandingkan pada waktu musimnya.

Kegunaan tempat berarti barang-barang itu mempunyai faedah atau kegunaan yang lebih besar karena perubahan tempat, misalnya: ikan mas yang dihasilkan di Cisaat Kabupaten Sukabumi akan mempunyai kegunaan lebih besar bila dipindahkan atau dibawa ke Jakarta sebagai daerah konsumen. Para pembudidaya, pengolah kerupuk, nugget dan lain-lain, akan menjualnya kepada konsumen (karena dibutuhkan) yang memberikan kepuasan (faedah) atau

kegunaan baginya, maka terjadilah peralihan pemilikan (Possesion Utility) atau (Ownership Utility) melalui proses jual beli.

Berdasarkan uraian di atas, tataniaga dapat didefinisikan sebagai tindakan atau kegiatan yang berhubungan dengan bergerak barang-barang dan jasa dari produsen sampai pada konsumen. Dan Berdasarkan definisi yang diberikan, dapat disimpulkan bahwa tujuan akhir tataniaga adalah menempatkan barang-barang ke tangan konsumen akhir. Untuk mencapai tujuan tersebut, perlu dilaksanakan kegiatan-kegiatan tataniaga yang dibangun berdasarkan arus barang yang meliputi proses pengumpulan (konsentrasi), proses pengimbangan (equalisasi) dan proses penyebaran (dispersi).

Proses konsentrasi merupakan tahap pertama dari arus barang. Barang-barang yang dihasilkan dalam jumlah kecil dikumpulkan menjadi jumlah lebih besar, agar dapat disalurkan ke pasar-pasar eceran secara lebih efisien. Equalisasi merupakan tahap kedua dari arus barang, terjadi antara proses konsentrasi dan proses dispersi, yang merupakan tindakan-tindakan penyesuaian permintaan dan penawaran berdasarkan tempat, waktu, jumlah dan kualitas.

Produksi merupakan salah satu kegiatan yang berhubungan erat dengan kegiatan ekonomi. Melalui proses produksi bisa dihasilkan berbagai macam barang yang dibutuhkan oleh manusia. Tingkat produksi juga dijadikan sebagai patokan penilaian atas tingkat kesejahteraan suatu negara. Jadi tidak heran bila setiap negara berlomba - lomba meningkatkan hasil produksi secara global untuk meningkatkan pendapatan perkapitanya.

2.4. Pengertian Produksi Secara Sempit

Produksi adalah perbuatan atau kegiatan manusia untuk membuat suatu barang atau mengubah suatu barang menjadi barang yang lain. produksi merupakan segala perbuatan atau kegiatan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung yang ditujukan untuk menambah atau mempertinggi nilai dan guna suatu barang untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Pengertian Produksi Secara Umum Produksi merupakan semua perbuatan atau kegaitan yang tidak hanya mencakup pembuatan barang - barang saja, tetapi dapat juga membuat atau menciptakan jasa pelayanan, seperti acara hiburan, penulisan buku - buku cerita, dan pelayanan jasa keuangan.Produksi Sebagai Sistem dan Proses Produksi sebagai sistem berarti bahwa terdapat hubungan yang saling memberikan pengaruh dan mempengaruhi antara faktor produksi yang satu dan yang lainnya. Produksi sebagai proses berarti bawa produksi dilakukan melalui tahap demi tahap secara berurutan.

Pengertian Produksi Secara Ekonomi Produksi mengacu pada kegiatan yang berhubungan dengan usaha penciptaan dan penambahan kegunaan atau utilitas suatu barang dan jasa .Drs. Bambang Prishardoyo, M.Si; 2005 Produksi merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan menghasilkan barang atau meningkatkan nilai guna suatu barang dan jasa .Imamul Arifin Produksi merupakan hasil akhir dari proses kegiatan produksi atau aktivitas ekonomi dengan memanfaatkan beberapa input (faktor produksi)

2.4.1. Definisi/Pengertian Distribusi

Distribusi adalah suatu proses penyampaian barang atau jasa dari produsen ke konsumen dan para pemakai, sewaktu dan dimana barang atau jasa tersebut

diperlukan. Proses distribusi tersebut pada dasarnya menciptakan faedah (utility) waktu, tempat, dan pengalihan hak milik. Dalam menciptakan ketiga faedah tersebut, terdapat dua aspek penting yang terlibat didalamnya, yaitu:

1. Lembaga yang berfungsi sebagai saluran distribusi (Channel of distribution/marketing channel).

2. . Aktivitas yang menyalurkan arus fisik barang (Physical distribution).

Saluran Distribusi Menurut Winardi (1989:299) yang dimaksud dengan saluran distribusi adalah sebagai berikut:

“ Saluran distribusi merupakan suatu kelompok perantara yang berhubungan

erat satu sama lain dan yang menyalurkan produk-produk kepada pembeli. “ Sedangkan Philip Kotler (1997:140) mengemukakan bahwa :“ Saluran distribusi adalah serangkaian organisasi yang saling tergantung dan terlibat dalam proses untuk menjadikan suatu barang atau jasa siap untuk digunakan atau dikonsumsi“.

Saluran distribusi pada dasarnya merupakan perantara yang menjembatani antara produsen dan konsumen. Perantara tersebut dapat digolongkan kedalam dua golongan, yaitu ; Pedagang perantara dan Agen perantara. Perbedaannya terletak pada aspek pemilikan serta proses negoisasi dalam pemindahan produk yang disalurkan tersebut.

Pedagang perantara Pada dasarnya, pedagang perantara (merchant middleman) ini bertanggung jawab terhadap pemilikan semua barang yang dipasarkannya atau dengan kata lain pedagang mempunyai hak atas kepemilikan barang. Ada dua kelompok yang termasuk dalam pedagang perantara, yaitu ; pedagang besar dan pengecer. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa

produsen juga dapat bertindak sekaligus sebagai pedagang, karena selain membuat barang juga memperdagangkannya.

Agen perantara (Agent middle man) ini tidak mempunyai hak milik atas semua barang yang mereka tangani. Mereka dapat digolongkan kedalam dua golongan, yaitu :

1. Agen Penunjang

Agen pembelian dan penjulan Agen Pengangkutan

Agen Penyimpanan 2. Agen Pelengkap

Agen yang membantu dalam bidang finansial Agen yang membantu dalam bidang keputusan Agen yang dapat memberikan informasi Agen khusus

Menurut Philip Kotler (1993:174) agar suatu kegiatan penyaluran barang dapat berjalan dengan baik (efektif dan efisien) maka para pemakai saluran pemasaran harus mampu melakukan sejumlah tugas penting, yaitu :

a) Penelitian, yaitu melakukan pengumpulan informasi penting untuk perencanaan dan melancarkan pertukaran.

b) Promosi, yaitu pengembangan dan penyebaran informasi yang persuasive mengenai penawaran.

c) Kontak, yaitu melakukan pencarian dan menjalin hubungan dengan pembeli.

d) Penyelarasan, yaitu mempertemukan penawaran yang sesuai dengan permintaan pembeli termasuk kegiatan seperti pengolahan, penilaian dan pengemasan.

e) Negoisasi, yaitu melakukan usaha untuk mencapai persetujuan akhir mengenai harga dan lain-lain sehubungan dengan penawaran sehingga pemindahan pemilikan atau penguasaan bias dilaksanakan.

f) Disrtibusi fisik, yaitu penyediaan sarana transportasi dan penyimpanan barang.

g) Pembiayaan, yaitu penyediaan permintaan dan pembiayaan dana untuk menutup biaya dari saluran pemasaran tersebut.

h) Pengambilan resiko, yaitu melakukan perkiraan mengenai resiko sehubungan dengan pelaksanaan pekerjaan saluran tersebut.

Kelima tugas pertama membantu pelaksanaan transaksi dan tiga yang terakhir membantu penyelesaian transaksi. Semua tugas diatas mempunyai tiga persamaan, yaitu menggunakan sumber daya yang langka, dilaksanakan dengan menggunakan keahlian yang khusus, dan bisa dialih-alihkan diantara penyalur.

Apabila perusahaan/produsen menjalankan seluruh tugas diatas, maka biaya akan membengkak dan akibatnya harga akan menjadi lebih tinggi.

Ada beberapa alternatif saluran (tipe saluran) yang dapat dipakai. Biasanya alternatif saluran tersebut didasarkan pada golongan barang konsumsi dan barang industri.

1) Barang konsumsi adalah barang-barang yang dibeli untuk dikonsumsikan.

Pembeliannya didasarkan atas kebiasaan membeli dari konsumen. Jadi, pembelinya adalah pembeli/konsumen akhir, bukan pemakai industri karena barang –barang tersebut tidak diproses lagi, melainkan dipakai sendiri (Basu Swasta 1984:96).

2) Barang industri adalah barang-barang yang dibeli untuk diproses lagi atau untuk kepentingan dalam industri. Jadi, pembeli barang industri ini adalah perusahaan, lembaga, atau organisasi, termasuk non laba (Basu Swasta, 1984:97)

Berdasarkan pengertian diatas, maka seperti halnya pupuk itu digolongkan kedalam golongan barang industri, sebab pupuk dibeli petani bukan untuk dikonsumsi tetapi untuk digunakan dalam produksi pertaniannya. Dibawah ini digambarkan beberapa tipe saluran untuk barang konsumsi dan barang industri.

Distribusi fisik merupakan aspek penting kedua dalam rangka menjadikan suatu produk tersedia bagi konsumen dalam jumlah, waktu, dan tempat yang tepat.

Dalam hubungan itu, Dewan Manajemen Distribusi Fisik Nasional Amerika Serikat mendefinisikan distribusi fisik sebagai berikut :“ Suatu rangkaian aktivitas yang luas mengenai pemindahan barang jadi secara efisien dari akhir batas produksi kepara konsumen, serta didalam beberapa hal mencakup pemindahan bahan mentah dari suatu pembekal keawal batas produksi “.

Manajemen distribusi fisik hanyalah satu diantara istilah deskriptif yang digunakan untuk menggambarkan suatu pengendalian atas pemindahan barang seperti didefinisikan dimuka. Hal ini sering pula diistilahkan sebagai manajemen

logistik atau logistik pemasaran. Namun demikian, apapun istilah yang digunakan konsep dasarnya adalah sama.

Secara terperinci, kegiatan yang ada dalam kegiatan distribusi fisik dapat dibagi kedalam lima macam (Basu Swasta, 1984: 220-229,) yaitu :

1. Penentuan lokasi persediaan dan sistem penyimpanannya

a. Penentuan lokasi penyediaan Kebijaksanaan terhadap lokasi persediaan didasarkan pada strategi yang diinginkan, apakah secara memusat (konsentrasi) ataukah menyebar (dispersi) dipasarnya. Jika perusahaan mengkonsentrasikan persediaannya, maka akan memudahkan dalam mengadakan pengawasan. Selain itu, juga akan meningkatkan efisiensi penyimpanan dan penanganan barangnya. Namun dari segi lain dapat terjadi bahwa beban pengangkutan akan meningkat dan pengantaran barang kebeberapa segmen pasar akan terlambat. Dan jika perusahan menyebarkan persediaannya kebeberapa lokasi, maka keadaannya akan berlainan, dan merupakan kebalikan dari konsentrasi.

b. Sistem penyimpanan persediaan

Penyimpanan erat kaitannya dengan pergudangan, biasanya perusahaan yang tidak mempunyai fasilitas penyimpan sendiri umumnya menyewa kepada lembaga atau perusahaan lain atau disebut gudang umum.

Besarnya sewa yang harus dibayar ditentukan menurut besarnya ruangan yang digunakan.

2. Sistem penanganan barang

Sistem penanganan barang yang dapat digunakan antara lain : paletisasi dan pengemasan.

a) Paletisasi

Dalam paletisasi, penanganan barang-barang baik itu berupa bahan baku

Dalam paletisasi, penanganan barang-barang baik itu berupa bahan baku

Dokumen terkait