BAB V Merupakan bagian akhir dari pembahasan skripsi ini. Yang terdiri dari
DALAM RUMAH TANGGA
B. Kekerasan Dalam Rumah Tangga Menurut UU No. 23 Tahun 2004
Tanggal 22 September 2004 bisa jadi merupakan tanggal bersejarah bagi
kalangan feminis di Indonesia. Setidaknya satu dari sekian banyak agenda
perjuangan mereka yang terkait dengan isu perempuan/yakni upaya pencegahan
dan penghapusan kekerasan dalam rumah tangga akhirnya membuahkan hasil.
Pemerintahan dan DPR RI akhirnya sepakat untuk mengesahkan undang-undang
No 23 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga atau
dikenal dengan UU KDRT.10
Hanya saja, seperti yang sudah diduga sebelumnya, pengesahan
undang-undang ini akhirnya memang banyak menuai kontroversi. Selain banyak kalangan
yang merasa kecolongan, mereka juga menilai keberadaan undang-undang yang
disponsori penuh oleh the Asia Foundation ini dibangun diatas paradigma yang
salah. Wajar jika materi hukumnya pun syarat dengan pasal-pasal bermasalah.11
Kekerasan apapun yang terjadi dalam masyarakat, sesungguhnya
berangkat dari satu idiologi tertentu yang mengesahkan penindasan disatu
pihak-pihak perseorangan maupun kelompok terhadap pihak-pihak lain yang disebabkan oleh
9
http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/07/24/rumah-tangga-islami/ 10
Ridwan, Kekerasan Berbasis Gender, (Purwekerto, Fajar Pustaka, 2006), cet. Ke-1, h. 1.
11
anggapan ketidak setaraan yang ada dalam masyarakat. Pihak yang tertindas
disudutkan pada posisi yang membuat mereka berada dalam ketakutan melalui
cara penampakan kekuatan secara periodik.
Kekerasan dalam rumah tangga (domestic violence) adalah bentuk
penganiayaan (abuse) oleh suami terhadap istri atau sebaliknya baik secara fisik
(patah tulang, memar, kulit tersayat), maupun emosional atau psikologis (rasa
cemas, depresi dan perasaan rendah diri). Dalam rumusan yang lain, kekerasan
dalam rumah tangga didefinisikan setiap perbuatan yang dilakukan oleh seseorang
secara sendiri atau bersama-sama terhadap seorang perempuan atau terhadap
pihak yang tersubordinasi lainnya dalam rumah tangga, yang mengakibatkan
kesengsaraan secara fisik, seksual, ekonomi, ancaman psikologis termasuk
rampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang. Dalam perkembangannya,
kekerasan dalam rumah tangga sesungguhnya tidak hanya terjadi antara suami
dengan istrinya saja, tetapi juga bisa terjadi antara orang tua dengan anak
(kekerasan terhadap anak) atau antara majikan dengan pembantunya yang terjadi
di dalam lingkup keluarga.12
Bentuk kekerasan yang palang sering terjadi adalah kekerasan terhadap
istri atau yang lebih tepat kekerasan terhadap perempuan oleh pasangan intim. Kekerasan terhadap perempuan menyebabkan dan melestarikan subordinasi. Subordinasi terhadap perempuan sudah berlangsung cukup lama dan bersifat
universal, hanya bentuk subordinasinya yang beragam dengan intensitas yang
12
berbeda-beda. Subordinasi tidak sekedar perbedaan seksual dalam arti biologis, tetapi kemudian berkembang pada perbedaan fungsi-fungsi reproduksi dan
produksi, baik dalam penguasaan sumber-sumber ekonomi, ideologi kelas, maupun stratifikasi sosial melalui serangkaian sosialisasi untuk melanggengkan posisi perempuan yang subordinat.13
Terjadinya kekerasan dalam rumah tangga bermula dari adanya pola relasi
kekuasaan yang timpang antara laki-laki (suami) dengan perempuan (istri).
Kondisi ini tidak jarang mengakibatkan tindakan kekerasan oleh suami pada
istrinya justru dilakukan sebagai bagian dari penggunaan otoritas yang
dimilikinya sebagai kepala keluarga. Justifikasi atas otoritas itu bisa lahir
didukung oleh perangkat undang-undang Negara atau oleh persepsi-persepsi
sosial dalam bentuk mitos-mitos superioritas seorang laki-laki yang dipercayai
oleh masyarakat tertentu. 14
Dalam konsideran undang-undang No. 23 tahun 2004 tentang
penghapusan kekerasan dalam rumah tangga dijelaskan bahwa kebanyakan
korban KDRT adalah perempuan yang harus mendapatkan perlindungan Negara
atau masyarakat agar terhindar dan terbebas dari kekerasan atau ancaman
kekerasan, penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat dan martabat
13
Ibid
14
kemanusiaan.15 Di samping itu, perlunya undang-undang ini disahkan karena
system hukum yang ada belum dinilai bisa menjadi perlindungan terhadap korban
kekerasan dalam rumah tangga.
Pengertian kekerasan dalam rumah tangga sebagai mana yang dijelaskan
dalam bab 1 ketentuan umum pasal 1, yang menyatakan bahwa:
1. Kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan. Yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau
penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.16
2. Penghapusan kekerasan dalam rumah tangga adalah jaminan yang diberikan oleh Negara untuk mencegah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. Menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga dan melindungi korban
kekerasan dalam rumah tangga.
3. Korban adalah yang mengalami kekerasan dan/atau ancaman kekerasan dalam lingkup rumah tangga.17
Didalam BAB III Undang-Undang PKDRT tentang larangan kekerasan dalam rumah tangga disebutkan bahwa:
15
Undang-undang republic Indonesia no 23 tahun 2004 tentang kekerasan dalam rumah tangga
16
Undang-Undang RI Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga Nomor 23 Tahun 2004
17
Kementrian Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia Undang-undang RI No 23 tahun 2004 ,(Jakarta: Undang-undang RI No 23 tahun 2004 ,), h. 10.
Dalam Pasal 5 setiap orang dilarang kekerasan dalam rumah tangga terhadap orang lingkup rumah tangganya dengan cara:
a. Kekerasan fisik b. Kekerasan psikis c. Kekerasan seksual
d. Penelantaran rumah tangga.
Dan dalam Pasal 6 disebutkan “kekerasan fisik sebagai mana dimaksud
dalam pasal 5 huruf (a) adalah perubahan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh
sakit atau luka berat”.
Sedangkan dalam Pasal 7 dijelaskan “kekerasan psikis sebagai mana yang
dimaksudkan dalam pasal 5 huruf (b) adalah perbuatan yang mengakibatkan
ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak,
rasa tidak berdaya dan atau penderitaan psikis berat pada seseorang”. Dan dalam
Pasal 8 menguraikan kekerasan seksual yang dimaksudkan dalam pasal 5 huruf
(c) meliputi:
a. Pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang menetapkan dalam lingkup rumah tangga tersebut.
b. Pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan atau untuk tujuan tertentu.
Dan dalam Pasal 9 ayat (2) menyebutkan “penelantaran sebagai mana
dimaksud pada ayat (1) juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan
yang layak didalam atau diluar sehingga korban berada dibawah kendali orang
tersebut18”