BAB III : TENUN TROSO : EKONOM
E. Kekuatan dan Kelemahan Tenun Troso
Kelembagaan Sentra Tenun Ikat Troso diawali dengan adanya paguyuban pengrajin tenun yang berfungsi sebagai wahana untuk memecahkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh para pengrajin. Berawal dari adanya paguyuban tersebut, kemudian dibentuk Koperasi yang dinamai Koperasi Gotong Royong (Pemda Jepara, 2006: 70).
Hingga tahun 2006 jumlah pengrajin tenun ikat Troso di Kabupaten Jepara berjumlah 118 pengrajin dan
140 yang sudah memiliki ijin usaha yang terdaftar di Dinas Indagkop Kabupaten Jepara sebanyak 34 unit usaha. Mengacu pada hasil penelitian tahun 2006, maka para pengusaha tenun Troso ada yang telah memiliki usaha cukup lama 16 tahun, ada yang 17 hingga 26 tahun, ada yang memiliki usaha sejak 27 hingga 36 tahun, dan ada yang sejak 37 hingga 46 tahun yang lalu (Pemda Jepara, 2006: 73)
Adapun bentuk usaha yang dimiliki oleh UKM kerajinan Tenun Ikat Troso ada yang perusahaan perseorangan dan hanya sedikit yang bentuknya firma. Dari pemilik usaha tersebut, ada yang didirikan sendiri, dan ada yang warisan dari orang tua yang bersifat turun temurun.
Berdasarkan penelitian tahun 2006 ada pengrajin yang memiliki tenaga kerja kurang dari 5 orang, ada yang memiliki 5-10 tenaga kerja, ada yang memiliki 11-20 tenaga kerja, ada yang memiliki 21-30 tenaga kerja, ada yang memiliki 31-40 tenaga kerja, dan ada yang memiliki tenaga kerja lebih dari 40 orang.
Sebagian besar rata-rata penjualan perbulan Tenun Ikat Troso ada yang antara 1.000-2.999 meter, ada yang penjualan kurang dari 1.000 meter, dan ada yang
141 3.000-4.999 meter, ada yang 5.000-6.999 meter, dan ada yang 7.000 meter.
Rata-rata kapasitas produksi yang dihasilkan UKM kerajinan Tenun Ikat Troso ada yang 1.000-4.999 meter per bulan, ada yang memiliki kapasitas produksi kurang dari 1.000 meter, ada yang kapasitas produksi antara 5.000-8.999, dan ada yang kapasitas produksi lebih dari 9.000 meter.
Bila pada tahun 2006, hasil temuan di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar UKM menghadapi masalah permodalan, maka pada tahun 2012 masalah modal tidak banyak kesulitan karena bank telah membuka pinjaman kepada pengrajin asal punya jaminan. Kondisi ini berbeda pada tahun 2006 karena bank masih agak sulit untuk mencairkan pinjaman bagi penrajin tenun.
Pada tahun 2012, berdasarkan hasil wawancara, menunjukkan bahwa sumber daya manusia untuk pembuatan tenun ikat tidak mengalami kesulitan. Hal ini sama dengan kondisi tahun 2009. Begitu pula dalam hal pemasaran, pada tahun 2012 tidak banyak mengalami kendala karena terdapat pasar lokal dan pasar antar daerah dan antar propinsi. Jangkauan pemasaran semakin
142 luas, bahkan ada yang mandiri dan ada yang difasilitasi pemerintah daerah ada yang ikut pameran di dalam dan luar negeri. Meskipun kadang-kadang terjadi persaingan harga dan banyaknya pesaing.
Pada tahun 2006, berkaitan dengan volume penjualan ada yang penjualannya bersifat konstan, ada yang penjualannya cenderung meningkat, ada yang penjualannya memiliki kecenderungan menurun, dan ada yang memiliki kecenderungan volume penjualan yang berfluktuasi. Penjualan yang cendrung menurun diantsipasi dengan mengikuti pameran dan melengkapi isi showroom.
Pada tahun 2006, mayoritas kebutuhan bahan baku responden diperoleh dari impor dari negara China, India dan Thailand. Tetapi pada tahun 2012 ini bahan baku juga dapat diperoleh di Kudus, Bali, Surabaya dan Bandung. Bahkan bahan baku dari Bandung diminati karena harganya lebih murah daripada bahan baku dari India. Limbah tenun tidak begitu banyak. Dampak limbah hasil produksi tenun Troso antara lain berupa
wenter, pewarna kain. Bila pada tahun 2006 sebagian besar belum pernah mendapatkan pembinaan dalam bidang produksidari dari Dinas Indagkop Kabupaten
143 Jepara namun pada tahun 2012 pembinaan sudah dilakukan cukup intensif.
Dengan mengacu studi komparasi profil dan deskripsi atas Sentra Kawasan Produksi Tenun Ikat Troso tahun 2006 dan tahun 2012 ini, maka analisis SWOT dapat di lakukan antara lain :
1. Mayoritas tenun Troso pada tahun 2006 mengalami permasalahan klasik yaitu keterbatasan modal karena belum mendapat akses permodalan. Tetapi pada tahun 2012 akses modal semakin terbuka asal ada jaminan
2. Bila pada tahun 2006 jarang terdapat pembinaan dalam mengelola usaha secara profsional, pengelolaan SDM, keuangan, produksi, pemasaran. Jarang dilakukan dengan pelatihan teknis dan menajerial, pendampingan dan supervisi dengan langkah yang tepat. Pada tahun 2012 sudah ada langkah-langkah pembinaan yang memadai.
3. Dari tahun 2006 hingga 2012 belum maksimal upaya kemitraan strategis yang lebih permanen antara tenun dengan pemasar, tenun dengan pemasok temasuk dalam sistem pembayaran, sistem penyerahan barang, pengadaan bahan baku, dan
144 sebagainya.
4. Potensi lokal harus diberdayakan baik dalam hal tenaga kerja, ketrampilan, pengalaman, penguasaan teknik produksi, dan sebagainya.
Kekuatan dan kelemahan tenun ikat Troso dapat ditunjukkan pada tabel berikut ini:
Tabel 3 . Peta Kekuatan dan Kelemahan Tenun Ikat Troso
KEKUATAN KELEMAHAN
Persebaran lokasi tenun relatif mengumpul
Mayoritas merupakan perusahaan perseorangan Penyerapan tenaga kerja
relatif tinggi
Ada yang mengalami masalahan kekurangan modal
Sebagian besar tidak mengalami kesulitan dalam pengelolaan SDM
Baru sebagian kecil yang mendapat bantuan
pembinaan dalam bidang pengelolaan, keuangan, pemasaran, pengelolaan SDM, dan pemasaran
145 Sebagian tidak mengalami kesulitan dalam pengelolaan keuangan Volume penjualan cenderung fluktuatif dan menurun
Proses regenerasi tenaga kerja dan pengrajin berjalan dengan baik
Baru sebagain kecil yang melakukan upaya
pemasaran baik melalui web, pameran, showroom
untuk meninghkatakan volume penjualannya Mayoritas tidak mengalami kesulitan dalam pemasaran produknya
Mayoritas pengrajin dan pengusaha dijual ke Bali
Mayoritas tidak mengalami kendala dalam proses produksinya
Sebagian besar menjual produk secara kredit, hanya yang sebagain kecil yang tunai atau dengan uang muka
146 Mayoritas tidak
menglami kesulitan dalam hal desain produk
Sebagian besar hanya melakukan produksi, sebagian kecil melakukan produksi dan pemasarannya Mayoritas tidak
mengalami kesulitasn dalam peningkatan produksinya
Sebagian keuangan macet
Sebagian besar melakukan produksi secara kontinyu
Proses regenerasi
pemgusaha kurang berjalan
Masyoritas memiliki lahan sendiri sebagai tempat usahanaya Harga produk relatif sama
Limbah dalam proses produksi relatif kecil Kualitas produk cukup baik dan dapat diterima oleh konsumen
147 Akses permodalan dari
perbankan terbuka Persebaran lokasi tenun relatif mengumpul
Mayoritas merupakan perusahaan perseorangan Penyerapan tenaga kerja
relatif tinggi
Ada yang mengalami masalahan kekurangan modal
Sebagian besar tidak mengalami kesulitan dalam pengelolaan SDM Sebagian besar tidak mengalami kesulitan dalam pengelolaan keuangan
Baru sebagian kecil yang mendapat bantuan
pembinaan dalam bidang pengelolaan, keuangan, pemasaran, pengelolaan SDM, dan pemasaran Proses regenerasi telah
berjalan dengan baik
Volume penjualan cenderung fluktuatif dan menurun
Mayoritas tidak mengalami kesulitan dalam pemasaran
Baru sebagain kecil yang melakukan upaya
148
produknya web, pameran, showroom
untuk meninghkatakan volume penjualannya Mayoritas tidak mengalami kendala dalam proses produksinya Mayoritas pengrajin menjual pada showroom
atau toko milik orang lain
Mayoritas tidak menglami kesulitan dalam hal desain produk
Sebagian besar menjual produk secara kredit, hanya yang sebagain kecil yang tunai atau dengan uang muka
Mayoritas tidak mengalami kesulitasn dalam peningkatan produksinya
Sebagian besar hanya melakukan produksi, sebagian kecil melakukan produksi dan pemasarannya
149 Sebagian besar
melakukan produksi secara kontinyu
Masyoritas memiliki lahan sendiri sebagai tempat usahanaya
Harga produk relatif sama dan cenderung lebih tinggi
Tidak ada limbah dalam proses produksi
Kualitas produk cukup baik dan dapat diterima oleh konsumen atau pasar
Akses permodalan dari perbankan terbuka
150