• Tidak ada hasil yang ditemukan

1.5. Landasan Teoritis

1.5.8. Kekuatan Mengikat Akta

Nilai kekuatan pembuktian yang melekat pada akta otentik adalah sempurna dan mengikat.33 Akta konsen Roya merupakan akta pihak (partij), yaitu akta yang berisi suatu keterangan dari apa yang terjadi karena perbuatan yang dilakukan oleh pihak lain dihadapan notaris, artinya diterangkan oleh pihak lain kepada notaris dalam menjalankan jabatannya dan untuk keperluan mana pihak

32

Hans Kelsen, 2006, Teori Hukum Murni, terjemahan Raisul Mutaqien, Nuansa & Nusamedia, Bandung (selanjutnya ditulis Hans Kelsen III), hlm.140.

33Achmad Ali dan Wiwie Heryani, 2012, Asas-Asas Hukum Pembuktian Perdata, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, hal. 73

lain itu sengaja datang di hadapan notaris dan memberikan keterangan itu atau melakukan perbuatan itu di hadapan notaris, agar keterangan atau perbuatan itu dikonstatir oleh notaris di dalam suatu akta otentik. Artinya apabila akta otentik yang diajukan memenuhi syarat formil dan materiil serta bukti lawan yang dikemukakan tergugat tidak bertentangan, maka pada akta otentik langsung melekat kekuatan pembuktian yang sempurna dan mengikat. Dengan nilai kekuatan pembuktian sempurna dan mengikat yang melekat pada akta otentik, pada dasarnya dapat berdiri sendiri tanpa memerlukan bantuan alat bukti lain dan dengan sendirinya mencapai batas minimal pembuktian.

Seluruh jenis alat bukti mempunyai nilai kekuatan pembuktian bebas dan batas minimum pembuktiannya harus memenuhi sekurang-kurangnya 2 (dua) alat bukti yang sah. Akibat hukum akta otentik yang memuat keterangan palsu hanya mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta dibawah tangan. Sebagaimana perjanjian yang tertulis dalam akta jual beli tanah adalah batal demi hukum, artinya sejak lahirnya perjanjian jual beli tanah itu sudah batal atau tidak berlaku atau dianggap tidak pernah ada. Dengan kata lain sejak awal dibuatnya akta itu sudah tidak mempunyai kekuatan hukum bagi para pihak.

Dalam KUH Perdata ketentuan mengenai akta diatur dalam Pasal 1867 sampai Pasal 1880. Apabila akta otentik cara pembuatan atau terjadinya akta tersebut dilakukan oleh dan atau dihadapan pejabat pegawai umum (seperti Notaris, Hakim, Panitera, Juru Sita, Pegawai Pencatat Sipil), maka untuk akta di bawah tangan cara pembuatan atau terjadinya tidak dilakukan oleh dan atau dihadapan pejabat pegawai umum, tetapi cukup oleh pihak yang berkepentingan

saja. Contoh dari akta otentik antara lain akta notaris, vonis, surat berita acara sidang, proses perbal penyitaan, surat perkawinan, kelahiran, kematian, dsb, sedangkan akta di bawah tangan contohnya antara lain surat perjanjian sewa menyewa rumah, surat perjanjian jual beli.

Salah satu fungsi akta yang penting adalah sebagai alat pembuktian. Akta otentik merupakan alat pembuktian yang sempurna bagi kedua belah pihak dan ahli warisnya serta sekalian orang yang mendapat hak darinya tentang apa yang dimuat dalam akta tersebut. Akta Otentik merupakan bukti yang mengikat yang berarti kebenaran dari hal-hal yang tertulis dalam akta tersebut harus diakui oleh hakim, yatiu akta tersebut dianggap sebagai benar selama kebenarannya itu tidak ada pihak lain yang dapat membuktikan sebaliknya. Menurut Pasal 1857 KUH Perdata, jika akta dibawah tangan tanda tangannya diakui oleh orang terhadap siapa tulisan itu hendak dipakai, maka akta tersebut dapat merupakan alat pembuktian yang sempurna terhadap orang yang menandatangani serta para ahli warisnya dan orang-orang yang mendapatkan hak darinya.

1.6. Orisinalitas

Setelah ditelusuri judul-judul tesis yang ada di Indonesia melalui penelusuran dengan media internet, ditemukan judul tesis yang menyangkut kekuatan mengikat akta konsen roya. Penelitian ini merupakan penelitian yang masih original atau asli karena belum ada penelitian secara khusus menulis tesis dengan judul ini meskipun demikian ada sejumlah tulisan yang mirip tetapi tidak sama secara substansial. Adapun judul beserta rumusan masalah penelitian lain yang tidak sama dengan penelitian ini adalah:

Tesis yang berjudul “Roya Hak Tanggungan Dalam Hal Bank Dilikuidasi di Kantor Pertanahan Jakarta Timur” oleh Fatima Syuraini Dewi, mahasiswa S2 Program Studi Magister Kenotariatan Universistas Diponegoro Semarang, Tahun 2009. Permasalahan yang ditelaah pada tesis ini adalah: 1. Bagaimanakah pelaksanaan Roya Hak Tanggungan dalam hal bank dilikuidasi Di Kantor Pertanahan Jakarta Timur, 2. Hambatan/kendala apa yang dihadapi dalam permohonan Roya, apabila bank selaku kreditor telah dilikuidasi di Kantor Pertanahan Jakarta Timur dan bagaimana penyelesaiannya. Dalam tesis yang di bahas berikut ini lebih menekankan pada pelaksanaan roya hak tanggungan dalam hal bank dilikuidasi serta hambatan dalam permohonan roya.

Tesis yang berjudul “Kedudukan Hukum Akta Konsen Roya Untuk Kepentingan Pencoretan (Roya) Hak Tanggungan” oleh Dini Pranita, mahasiswa S2 Program Studi Magister Kenotariatan Universistas Hasanuddin Makasar, Tahun 2012. Permasalahan yang ditelaah pada tesis ini adalah: 1. Bagaimanakah kedudukan Akta Konsen Roya yang dibuat oleh Notaris 2. Apakah akibat hukum Akta Konsen Roya yang dibuat oleh Notaris yang menjalankan jabatan di luar wilayah jabatannya. Dalam tesis yang di bahas berikut ini lebih menekankan pada kedudukan akta konsen roya dalam proses pencoretan hak tanggunggan.

Tesis yang berjudul “Implikasi Yuridis Hilangnya Sertifikat Hak Tanggungan Dalam Proses Roya” oleh Marissa Isabella, mahasiswa S2 Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Gadjah Mada, Tahun 2012. Permasalahan yang dilatih pada tesis ini adalah: 1. Bagaimana Implikasi yuridis dari hilangnya sertifikat Hak Tanggungan dalam proses roya, 2. bagaimanakah

pelaksanaan roya terkait hilangnya sertifikat Hal Tanggungan dalam proses roya di Kantor Pertanahan Kota Pekanbaru. Dalam tesis yang di bahas berikut ini lebih menekankan pada hilangnya sertifikat hak tanggungan yang akan dilakukan proses roya di kantor pertanahan.

1.7. Metode Penelitian

Dokumen terkait