• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5. Kekuatan Tawar-menawar Pemasok

Peran pemasok buah carica cukup signifikan bagi industri pengolah sebagai mitra usahanya. Industri pengolah carica tidak menguasai sumber bahan baku sendiri melainkan ada persaingan untuk mendapatkan bahan baku dengan industri pengolah lain. Terdapat ketergantungan industri pengolah dengan pemasok carica baik dari pengepul maupun langsung dari para petani. Buah carica hanya dapat diperoleh di Dataran Tinggi Dieng yang merupakan input terpenting dalam industri pengolah carica sehingga ketersediannya sangat mempengaruhi keberlanjutan industri pengolah. Bahan baku carica sulit dikendalikan karena sifatnya musiman. Harga bahan baku carica di tingkat pemasok atau petani berpedoman pada harga yang berlaku. Saat musim panen tiba harga carica per kilogram berkisar Rp 4 000,- sampai Rp 6 000,-. Ketika tidak musim panen carica cukup sulit diperoleh sehingga harganya pun cukup naik mencapai Rp 7 500,- sampai Rp 10 000,- perkilogram. Perbedaan harga yang ada di pemasok dipengaruhi oleh perbedaan buah carica yang beragam. Hubungan antara industri pengolah dan pemasok sebatas kerjasama kekeluargaan yang baik, saling percaya,

saling menghormati dan saling menguntungkan. Hal tersebut sangat dibutuhkan agar pemasok tidak mudah beralih kepada industri pengolah lain yang sejenis. Tingkat kualiatas, sistem pembayaran, sistem pengiriman, dan waktu ditentukan berdasarkan kesepakatan antara industri pengolah dan pemasok. Umumnya saat musim panen pembayaran dilakukan secara tunai maupun tempo, namun saat tidak musim panen pemasok biasanya hanya bersedia menjual dengan pembayaran secara tunai. Saat musim panen industri pengolah carica akan memaksimalkan produksi untuk menjamin ketersediaan produk sepanjang tahun di pasar. Kekuatan tawar menawar pemasok bahan baku cukup kuat dan dapat menjadi ancaman bagi keberlangsungan industri pengolah. Sedangkan bahan baku penunjang lain seperti gula, botol, garam, kardus cukup mudah diperoleh dengan kualitas dan harga yang beragam sehingga kekuatan tawar menawar bahan penolong lainnya cukup lemah dan tidak terlalu berpengaruh terhadap keberlanjutan industri.

Identifikasi Faktor Kekuatan dan Kelemahan Perusahaan

Faktor – faktor kekuatan dan kelemahan merupakan hasil analisis lingkungan internal yang mencakup aspek manajemen, pemasaran, keuangan/akuntansi, produksi/operasi, serta penelitian dan pengembangan. Adapun faktor – faktor kekuatan dan kelemahan di UKM X pengolah carica dapat dilihat pada Tabel 12. Kekuatan perusahaan merupakan potensi yang dapat digunakan untuk memanfaatkan peluang dan menghadapi ancaman dalam menghadapi persaingan usaha yang semakin kompetitif.

Tabel 12 Faktor kekuatan dan kelemahan UKM X

Faktor Kekuatan Kelemahan

Manajemen -Memiliki perencaan dan manajemen sumberdaya manusia yang rapi.

-Karyawan terampil dan berpengalaman.

-Lokasi industri dekat dengan sumber bahan baku.

-Koordinasi yang baik antar karyawan.

-Perencanaan pengembangan

usaha belum

mempertimbangkan kondisi internal dan eksternal perusahaan.

-Visi misi perusahaan belum diinformasikan dengan baik pada semua karyawan.

Pemasaran -Produk merupakan icon khas Wonosobo dan sudah mendapat sertifikat IG. -Produk memiliki

kandungan gizi tinggi, dan dapat menjadi alternatif minuman/ makanan kesehatan.

-Produk sudah memiliki sertifikat Halal dan HACCP.

-Penulisan label sudah lengkap.

-Mempunyai saluran distribusi.

-Belum terdapat target pasar yang jelas dan spesifik.

-Kegiatan promosi belum optimal.

-Tidak ada kontrak tertulis dengan konsumen seperti agen atau distributor.

Keuangan atau Akuntansi

-Terdapat modal yang cukup untuk melalukan pengembangan usaha.

-Pengelolaan keuangan sudah rapi namun belum rinci.

Produksi atau Operasi

-Limbah produk utama (manisan carica) sudah diolah menjadi diferensiasi produk olahan carica yang bernilai tambah.

-Proses produksi menerapkan pedoman GMP.

-Adopsi peralatan modern untuk mendukung proses produksi belum banyak dilakukan.

Penelitian dan Pengembangan

-Belum melakukan riset pasar secara langsung kepada pengunjung dan masyarakat. -Belum memiliki fasilitas

penelitian dan pengembangan sendiri .

Analisis Matriks Internal Faktor Evaluation (IFE)

Perhitungan pada matriks IFE dilakukan dengan mengidentifikasi faktor – faktor yang termasuk dalam kekuatan dan kelemahan perusahaan. Kondisi internal yang dimiliki oleh UKM X digambarkan dengan nilai total tertimbang/skor pada matriks IFE. Pembobotan dan pemberian peringkat pada variabel kekuatan dan kelemahan dapat dilihat pada Lampiran 3 dan 4. Nilai rata – rata hasil pembobotan dan peringkatan untuk variabel kekuatan dan kelemahan pada UKM X dapat dilihat di Lampiran 5. Total nilai tertimbang yang diperoleh adalah sebesar 2.72849. Total nilai ini melebihi total nilai tertimbang rata – rata sebesar 2.5, hal ini mengindikasikan bahwa UKM X memiliki posisi internal perusahaan yang kuat. Hasil analisis matriks IFE UKM X dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 13 Analisis matriks IFE UKM X

Faktor strategi internal UKM X Bobot Rating Skor Kekuatan

Memiliki perencanaan manajemen yang baik 0.0585 3.33 0.1948 Karyawan terampil dan berpengalaman 0.0606 3.67 0.2224

Lokasi industri strategis 0.0497 3.33 0.1655

Produk mempunyai sertifikat IG sebagai icon

khas Wonosobo 0.0525 4.00 0.2100

Produk memunyai kandungan gizi yang tinggi,

bersertifikat halal dan HACCP 0.0601 4.00 0.2404 Penulisan label sudah lengkap 0.0497 3.33 0.1655 Mempunyai saluran distribusi 0.0579 3.33 0.1928 Tersedia cukup modal untuk pengembangan

usaha 0.0585 3.00 0.1755

Limbah produk utama sudah diolah lebih lanjut 0.0672 4.00 0.2688 Proses produksi berpedoman dengan GMP 0.0590 3.67 0.2165 Kelemahan

Perencanaan pengembangan usaha belum mempertimbangkan kondisi internal dan

eksternal perusahaan 0.0514 2.00 0.1028

Belum terdapat target pasar yang jelas dan

spesifik 0.0552 2.00 0.1104

Kegiatan promosi belum optimal 0.0579 1.33 0.0770 Tidak ada kontrak tertulis dengan konsumen

(agen, distributor) 0.0568 1.33 0.0755

Pengelolaan keungan belum rinci 0.0508 2.00 0.1016 Adopsi peralatan modern belum banyak

dilakukan 0.0514 1.67 0.0858

Belum melakukan riset pasar secara langsung

kepada masyarakat 0.0535 1.33 0.0711

Belum memiliki fasilitas penelitian dan

pengembangan sendiri 0.0514 1.00 0.0514

Hasil pengolahan matriks IFE menunjukkan bahwa faktor limbah produk utama sudah diolah menjadi diferensiasi produk olahan carica merupakan kekuatan utama bagi UKM X karena menghasilkan nilai tertimbang yang terbesar yaitu 0.2689. Faktor tersebut menjadi kekuatan yang memiliki tingkat kepentingan paling tinggi karena memiliki bobot terbesar yaitu 0.0672 dengan nilai rating 4. Kekuatan utama kedua yang dimiliki UKM X yaitu produk memiliki kandungan gizi tinggi, bersertifikat halal dan HACCP dengan nilai tertimbang sebesar 0.2404. Hasil pengolahan matriks IFE juga menunjukkan bahwa faktor belum memiliki fasilitas penelitian dan pengembangan sendiri merupakan kelemahan utama bagi UKM X karena menghasilkan nilai tertimbang yang terkecil yaitu 0.0514. Faktor kelemahan selanjutnya yaitu belum melakukan riset pasar secara langsung kepada masyarakat dengan nilai tertimbang sebesar 0.0714.

Identifikasi Faktor Peluang dan Ancaman

Peluang dan ancaman yang dihasilkan merupakan hasil analisis terhadap lingkungan ekonomi, lingkungan sosial, budaya, dan demografi, lingkungan politik, pemerintahan, dan hukum, lingkungan teknologi, serta lingkungan industri. Matriks EFE disusun berdasarkan faktor – faktor strategi yang menjadi ancaman dan peluang bagi industri. Adapun pembobotan dan peringkatan pada variabel peluang dan ancaman untuk masing – masing responden dapat dilihat pada Lampiran 6 dan 7 Selanjutnya menghitung skor rata – rata dari tiap variabel dengan mengalikan bobot rata – rata dan peringkat rata – rata. Nilai rata – rata hasil pembobotan dan peringkatan untuk variabel peluang dan ancaman pada industri pengolah carica UKM X dapat dilihat di Lampiran 8. Faktor – faktor yang menjadi peluang dan ancaman UKM X secara ringkas dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14 Faktor peluang dan ancaman UKM X

Faktor eksternal Peluang Ancaman

Kekuatan ekonomi -Pertumbuhan ekonomi masyarakat yang ditandai dengan peningkatan PDRB per kapita Kab. Wonosobo sebesar 10.08 %.

-Harga gula nasional cukup stabil.

-Kenaikan harga BBM yang dapat memicu inflasi

Sosial, Budaya, Demografi, dan Lingkungan

-Ketersedian tenaga kerja lokal yang berpengalaman. -Tren gaya hidup sehat

yang semakin berkembang. -Pertumbuhan jumlah

penduduk.

-Jumlah wisatawan Kab Wonosobo yang terus meningkat dan budaya membawa oleh – oleh.

-Bahan baku utama merupakan tanaman musiman. Politik, Pemerintah, dan Hukum -Dukungan pemerintah dalam pengembangan UKM meliputi beberapa aspek seperti modal, perijinan dll.

Teknologi -Kemajuan teknologi bidang pengolahan, teknologi informasi dan komunikasi

Lingkungan Industri

-Kecilnya hambatan untuk memasuki industri pengolahan carica.

-Persaingan antar industri sejenis.

-Adanya produk subsitusi yang juga khas Wonosobo.

-Konsumen memiliki tawar – menawar yang kuat.

-Kekuatan tawar menawar pemasok bahan baku kuat.

Analisis Matriks External Faktor Evaluation (EFE)

Perhitungan pada matriks EFE dilakukan dengan mengidentifikasi faktor faktor yang termasuk ke dalam peluang dan ancaman. Hasil dari analisis lingkungan eksternal dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 15 Analisis matriks EFE UKM X

Faktor strategi eksternal UKM X Bobot Rating Skor

Peluang

Pertumbuhan ekonomi Kab Wonosobo positif 0.0738 3.33 0.2458 Harga gula nasional cukup stabil 0.0651 2.67 0.1738 Ketersediaan tenaga kerja lokal yang memadai 0.0746 3.67 0.2738 Tren gaya hidup sehat semakin berkembang 0.0738 3.67 0.2708 Jumlah penduduk yang terus meningkat 0.0802 4.00 0.3208 Jumlah wisatawan Kab Wonosobo meningkat 0.0746 3.67 0.2738 Dukungan pemerintah daerah terhadap UKM

positif 0.0706 3.00 0.2118

Kemajuan teknologi pengolahan, informasi dan

komunikasi 0.0770 2.67 0.2056

Ancaman

Kenaikan harga BBM akan memicu inflasi 0.0540 3.00 0.1620 Bahan baku utama merupakan buah musiman 0.0603 3.67 0.2213 Kecilnya hambatan untuk memasuki industri

carica 0.0539 2.67 0.1439

Persaingan antar industri sejenis 0.0603 4.00 0.2412 Adanya produk subsitusi khas Wonosobo 0.0683 3.33 0.2274 Kekuatan tawar - menawar konsumen besar 0.0556 3.67 0.2041 Pemasok memiliki kekuatan tawar menawar

yang besar. 0.0579 2.33 0.1349

Total 3.3110

Kondisi eksternal yang dihadapi oleh UKM X digambarkan dengan nilai total tertimbang/skor pada matriks EFE. Total nilai tertimbang yang diperoleh adalah sebesar 3,3110. Total nilai tertimbang yang melebihi total nilai tertimbang rata-rata sebesar 2,5 yang dihasilkan oleh analisis eksternal UKM X ini mengindikasikan bahwa UKM tersebut merespon dengan sangat baik faktor peluang dan ancaman yang ada dalam industrinya. Hasil pengolahan matriks EFE menunjukkan bahwa faktor jumlah penduduk yang terus meningkat merupakan peluang utama bagi UKM X karena menghasilkan nilai tertimbang yang terbesar yaitu 0.3207. Faktor tersebut menjadi peluang yang memiliki tingkat kepentingan paling tinggi karena memiliki bobot terbesar yaitu 0.0802 dan respon perusahaan terhadap faktor tersebut tinggi dengan nilai rating 4. Hasil pengolahan matriks EFE menunjukkan bahwa faktor persaingan antar industri sejenis merupakan ancaman utama UKM X karena menghasilkan nilai tertimbang yang terbesar yaitu 0.2412. Faktor tersebut menjadi ancaman yang memiliki tingkat kepentingan

paling tinggi karena memiliki bobot terbesar yaitu 0,0603 dan respon perusahaan terhadap faktor tersebut tinggi dengan nilai rating 4.

Tahap Pencocokan

Analisis yang digunakan pada tahap pencocokan adalah matriks IE dan matriks SWOT. Informasi yang diolah pada tahap ini didasarkan atas informasi yang didapatkan pada tahap input. Tujuan dari tahap ini adalah untuk mencocokkan peluang dan ancaman eksternal dengan kekuatan dan kelemahan internal.

Analisis Matriks Internal-External (IE)

Matriks IE disusun dengan cara memplotkan total bobot skor rata – rata dari matiks IFE pada sumbu – x dan EFE pada sumbu – y. Total nilai tertimbang EFE UKM X adalah 3.3110 sedangkan total nilai tertimbang IFE adalah sebesar 2.7279. Pada sumbu x matriks IE menggambarkan posisi internal dimana total rata – rata tertimbang IFE yang diberi bobot 1.0 sampai 1.99 menunjukkan posisi internal yang lemah, nilai 2.00 sampai 2.99 dianggap rata – rata, dan nilai 3.0 sampai 4,0 dianggap kuat. Demikian pula pada sumbu y, untuk total nilai EFE memiliki perhitungan yang sama. Hasil matriks IE pada industri kecil olahan carica di UKM X dilihat pada Gambar 3.

EVALUASI FAKTOR INTERNAL Kuat 3.0 – 4.0 Rata – rata 2.0– 2.99 Lemah 1.0 – 1.99 EVA LUA S I FAK TOR E KSTER NA L 4.0 3.0 2.0 1.0 Tinggi 3.0 – 4.0 3.0 I II III Sedang 2.0 – 2.99 2.0 IV IV VI Rendah 2.0– 1.99 1.0 VII VIII IX

Pemetaan terhadap masing – masing total nilai tertimbang dari faktor eksternal dan internal menempatkan posisi UKM X pada sel ke – II. Hal ini menunjukkan bahwa UKM X berada pada kondisi eksternal yang kuat dan internal rata – rata. Pada kondisi ini UKM X yaitu masih berada pada tahap tumbuh dan berkembang. Kondisi ini dapat dikelola dengan baik menggunakan strategi tumbuh dan berkembang (grow and build). Pada kondisi tersebut industri kecil olahan carica di UKM X masih mengejar pertumbuhan dalam keuntungan, penjualan, pangsa pasar, dan tujuan primer lainnya, serta menghadapi persaingan dengan industri sejenis lainnya yang semakin kompetitif. Strategi yang biasa digunakan oleh perusahaan yang terletak pada kuadran ini adalah strategi intensif (penetrasi pasar, pengembangan pasar, dan pengembangan produk) atau strategi integrasi (integrasi ke depan, ke belakang atau horizontal). Matriks IE dibagi menjadi tiga bagian utama yang mempunyai dampak strategi yang berbeda, yaitu: a. Divisi yang masuk kedalam sel I, II, atau IV dapat digambarkan sebagai kondisi tumbuh dan berkembang. Pada umumnya divisi yang termasuk dalam sel tersebut mengejar pertumbuhan dalam keuntungan, penjualan, pangsa pasar, dan tujuan primer lainnya. Strategi yang dapat diterapkan untuk kondisi ini adalah strategi intensif (penetrasi pasar, pengembangan produk) dan pengembangan produk) atau strategi integrasi (integrasi kedepan, kebelakang atau horizontal).

b. Divisi yang masuk dalam sel III, V, VII paling baik dikendalikan dengan strategi jaga dan pertahanan. Divisi yang berada pada sel tersebut pada umumnya menghindari kehilangan penjualan dan kehilangan profit. Divisi ini termasuk pada kondisi kedewasaan. Strategi yang dapat diterapkan adalah penetrasi pasar dan pengembangan produk.

c. Divisi yang masuk kedalam sel VI, VIII atau IX adalah kondisi penurunan. Strategi yang sebaiknya digunakan adalah strategi divestasi. Pada saat kelangsungan hidup perusahaan terancam dan tidak dapat lagi bersaing sehingga dibutuhkan strategi yang menekankan penghematan.

Analisis SWOT

Formulasi alternatif strategi dilakukan dengan menggunakan matriks SWOT berdasarkan hasil analisis lingkungan internal dan eksternal perusahaan. Matriks SWOT menggambarkan bagaimana manajemen dapat mencocokan peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi suatu perusahaan dengan kekuatan dan kelemahan internalnya (Rangkuti 2009). Tujuan dari matriks SWOT ini yaitu untuk menghasilkan alternatif strategi yang layak, bukan untuk memilih strategi yang terbaik. Sehingga tidak semua strategi yang dikembangkan dalam matriks SWOT akan dipilih untuk implementasi. Empat strategi utama yang disarankan yaitu strategi SO (StrengthsOpportunities), WO (WeaknessOpportunities), ST (StrengthsThreats) dan WT (WeaknessThreats). Hasil matrks SWOT pada UKM X dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 16 Hasil analisis SWOT UKM X Kekuatan (Strength S) 1. Memiliki perencanaan manajemen yang baik. 2. Karyawan terampil dan berpengalaman. 3. Lokasi industri dekat

sumber bahan baku. 4. Produk mempunyai

sertifikat IG sebagai icon khas Wonosobo. 5. Produk mempunyai kandungan gizi yang tinggi, bersertifikat halal dan HACCP. 6. Penulisan label sudah

lengkap. 7. Mempunyai saluran distribusi. 8. Tersedia cukup modal untuk pengembangan usaha. 9. Limbah produk utama sudah diolah lebih lanjut. 10.Proses produksi berpedoman dengan GMP. Kelemahan (Weakness W) 1. Perencanaan pengembangan usaha belum mempertimbangkan kondisi internal maupun eksternal perusahaa.

2. Belum terdapat target pasar yang jelas dan spesifik.

3. Kegiatan promosi belum optimal.

4. Pengelolaan keuangan belum rinci.

5. Tidak ada kontrak tertulis dengan konsumen (distributor, agen).

6. Penggunaan peralatan modern belum banyak dilakukan.

7. Belum melakukan riset pasar secara langsung kepada masyarakat. 8. Belum memiliki

fasilitas penelitian dan pengembangan sendiri.

Peluang (Opportunity O)

1. Pertumbuhan ekonomi Kab Wonosobo positif. 2. Harga gula nasional

cukup stabil.

3. Ketersediaan tenaga kerja lokal yang memadai.

4. Tren gaya hidup sehat

yang semakin

berkembang.

5. Jumlah penduduk terus meningkat.

6. Jumlah wisatawan Kab

STRATEGI S – O

Dokumen terkait