BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Karakteristik Pervious Concrete
2.3.1 Kekuatan Tekan
Riset yang dilakukan Luo dkk. dan Shiotani dkk. dalam (Xie et al., 2020) telah memperlihatkan bahwa cracking adalah penyebab utama kerusakan struktur dalam bahan beton, metode estimasi distribusi retakan dan mekanisme kegagalan telah dipertimbangkan secara luas. Memahami kinerja beton di bawah tekanan beban sangat penting untuk mengevaluasi stabilitas dan kinerja layanan bangunan. Sama halnya dengan beton konvensional, kekuatan juga merupakan sifat dasar mekanis dari pervious concrete setelah mengeras.
Gambar 2.3 Crack patterns of conventional concrete
(Sumber: (Xie et al., 2020))
Riset terkini (G. Xu et al., 2018) menunjukkan bahwa kuat tekan pervious concrete lebih rendah daripada beton konvensional. Kegagalan beton konvensional merupakan proses progresif berupa proses inisiasi kerusakan skala mikroskopis, penyebaran dan penekan di bawah muatan eksternal sampai retak makroskopis akhirnya terjadi dan mengakibatkan kegagalan pada beton (Giaccio et al., 2007). Sekarang ini, penelitian atas beton konvensional relatif sudah matang, tetapi kesimpulan tentang pervious concrete khususnya telah diperoleh melalui eksperimen sebelumnya, proses spekitium berupa kegagalan pervious concrete selama tes-tes ini belum diketahui dan tingkat kerusakan belum terukur. (Xie et al., 2020)
14 2.3.2 Kemampuan menyerap air
Karakteristik utama yang diharapkan dari penciptaan pervious concrete adalah kemampuannya meneyerap air atau permeabilitas guna untuk menjaga siklus hidrologi air.
Gambar 2.4 Kemampuan Menyerap/Meloloskan Air
(Sumber:Dokumen Pribadi)
Pemilihan fraksi agregat memiliki efek maksimum pada porositas dan permeabilitas dari campuran. Peningkatan ukuran agregat menyebabkan peningkatan kemampuan permeabilitas karena void terbuka. Dari perbandingan campuran berukuran tunggal yang dinilai dan padat, diketahui bahwa campuran menurut ukuran tunggal menambah kekuatan campuran itu (Debnath & Sarkar, 2019).
2.3.3 Kekuatan Tarik
Kekuatan tarik dan modulus dinamis elastisitas merupakan parameter yang penting dalam mempertimbangkan perilaku struktur perkerasan.
Kekuatan beton lolos air umumnya 1-3,8 MPa. Kekuatan ini dipengaruhi oleh banyak faktor, terumata tingkat kepadatan dan porositas.
15 Gambar 2.5 Kekuatan Tarik
(Sumber:(Wijaya, 2020))
2.4 Material Penyusun Pervious Concrete
Pervious concrete memiliki beberapa bahan penyusun yang sama dengan beton normal. Adapun material penyusun pervious concrete adalah sebagai berikut.
2.4.1 Semen
Semen adalah bahan bersifat sifat adhesif maupun kohesif yang berfungsi sebagai bahan pengikat antar material penyusun beton. Semen merupakan bahan campuran yang secara kimiawi aktif setelah berhubungan dengan air. Berdasarkan (ACI Committee 522, 2010), Portland cement yang sesuai dengan ASTM C150/C150M, C595/C595M, atau C1157/C1157M digunakan sebagai pengikat utama untuk pembuatan pervious concrete.
Semen Portland Type I adalah tipe semen yang tidak memerlukan persyaratan khusus seperti jenis-jenis lainnya. Jenis ini paling banyak diproduksi karena digunakan untuk hamper semua jenis konstruksi (SNI T-15-1990-03, 1990).
Menurut Rizky (2018), fungsi semen ialah untuk mengikat butir-butir agregat hingga membentuk suatu massa padat dan mengisi rongga-rongga udara di antara butiran. agregat. Dalam risetnya, ia mengemukakan beberapa sifat fisik semen. Adapun sifat-sifat fisik semen yaitu
1) Kehalusan Butir
16 Kehalusan semen mempengaruhi waktu pengerasan pada semen.
Secara umum, semen berbutir halus meningkatkan kohesi pada beton segar dan dapat mengurangi bleeding (kelebihan air yang bersama dengan semen bergerak ke permukaan adukan beton segar), akan tetapi menambah kecendrungan beton untuk menyusut lebih banyak dan mempermudah terjadinya retak susut.
2) Waktu ikatan
Waktu ikatan adalah waktu yang dibutuhkan untuk mencapai satu tahap dimana pasta semen cukup kaku untuk menahan tekanan. Waktu tersebut terhitung sejak air tercampur dengan semen. Waktu dari pencampuran semen dengan air sampai saat kehilangan sifat keplastisannya disebut waktu ikat awal, dan pada waktu sampai pastanya menjadi massa yang keras disebut waktu ikat akhir.
Terdapat beberapa material penyusun semen Portland diantaranya kapur (CaO), silica (SiO3), alumina (Al2O3), magnesia (MgO), dan alkali. Semen yang ada harus memenuhi syarat yang sesuai dengan ASTM C-150 yang diadopsi dalam SII. 0013-81. Berdasarkan ASTM (2015), terdapat delapan jenis semen Portland berdasarkan klasifikasi fungsinya, yaitu sebagai berikut:
1. Tipe I, digunakan jika tidak membutuhkan spesifikasi khusus pada beton.
2. Tipe IA, digunakan jika beton tanpa spesifikasi khusus dan ada penambahan udara.
3. Tipe II, digunakan jika membutuhkan beton dengan ketahanan sedang terhadap sulfat atau panas hidrasi sedang.
4. Tipe IIA, digunakan jika membutuhkan beton dengan ketahanan khusus terhadap sulfat atau panas hidrasi sedang dan ada penambahan udara.
5. Tipe III, digunakan jika membutuhkan beton dengan kekuatan tinggi di awal.
6. Tipe IIIA, digunakan jika membutuhkan beton dengan kekuatan tinggi di awal, dan ada penambahan udara.
17 7. Tipe IV, digunakan jika membutuhkan beton dengan panas hidrasi
rendah.
8. Tipe V, digunakan jika membutuhkan semen dengan ketahanan tinggi terhadap sulfat.
Tabel 2.1 Persyaratan semen Portland
No. Uraian
Uji permeabilitas udara, m2/kg Dengan alat :
18
Pemuaian dengan autoclave, maks %
19 2.4.2 Agregat
Agregat adalah material utama yang harus ada dalam sebuah pervious concrete. Agregat juga dapat diartikan sebagai material granular, misalnya pasir kerikil, batu pecah, dan kerak tungku besi yang dipakai bersama-sama dengan suatu media pengikat untuk membentuk suatu beton atau adukan semen hidraulik (SNI-2847, 2019).
Agregat terbagi menjadi dua jenis, yaitu agregat kasar yakni memiliki butiran yang berukuran antara 5 mm – 40 mm dan agregat halus yakni memiliki butiran yang berukuran antara 0,15 mm – 5 mm.
2.4.2.1 Agregat Kasar
Agregat kasar merupakan agregat yang tertahan oleh ayakan 4,75 mm (ASTM C33, 2010). Syarat-syarat agregat kasar sebagi berikut:
a. Agregat kasar harus terdiri butiran keras dan tidak berpori.
b. Bersifat kekal, aartinya tidak mudah pecah atau hancur oleh pengaruh cuaca.
c. Modulus halus butir agregat kasar antara 5-7,1 dengan variasi butir sesuai standar gradasi.
d. Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1 %, apabila kadar lumpur melampaui 1% agregat kasar harus di cuci.
e. Agregat kasar tidak boleh menganduk zat-zat yang reaktif terhadap alkali.
Gambar 2.6 Agregat kasar tertahan ayakan 4,75 mm
(Sumber: (Wijaya, 2020))
20 Tabel 2.2 Batas Gradasi Agregat Kasar
ASTM C-33 Standard Specification for Concrete Aggregate Table 2 Grading Requirements for Coarse Aggregate Size
Number
Nominal Size
Amount Fine Than Each Laboratory sieve (square Openungs)
Percentage by Weight Square
a. Modulus kelengkapannya harus tidak kurang dari 2,3 atau lebih dari 3,1
b. Tidak mengandung lumbur lebih dari 5 %
c. Tidak mudah pecah atau hancur oleh pengaruh cuaca d. Tidak mengandung zat organik yang terlalu banyak
e. Khusus untuk beton dengan tingkat keawetan tinggi, agregat halus harus tidak reaktif terhadap alkali
21 f. Agregat halus dari laut/pantai boleh dipakai asal dengan
petunjuk Lembaga pemeriksaan bahan-bahan yang diakui.
Berikut tabel gradasi agregat halus berdasarkan ASTM C33 Tabel 2.3 Batas Gradasi Agregat Halus
Ukuran Saringan ASTM Persentasi Berat yang Lolos pada Tiap Saringan
9,5 mm 100
4,75 mm 95-100
2,36 mm 80-100
1,18 mm 50-85
0,600 mm 25-60
0,300 mm 5-30
0,150 mm 0-10
(Sumber: (ASTM C33, 2010))
2.4.2.3 Air
Air merupakan bahan yang digunakan dalam proses pelekatan antara semen dengan agregat. Air yang bebas dari senyawa organik adalah air yang dapat digunakan sebagai campuran adukan beton.
Dalam hal ini, pervious concrete yang merupakan ssalah satu jenis beton juga memerlukan air yang memiliki karakteristik yang sama. Air yang digunakan dapat berupa air tawar (dari sungai, danau, telaga, kolam, situ, dan lainnya), air laut maupun air limbah, asalkan memenuhi syarat mutu yang telah ditetapkan (Mulyono, 2003).
Beberapa persyaratan air sebagai bahan campuran beton menurut (SNI-2847, 2019)
1) Air yang digunakan pada campuran beton harus bersih dan bebas dari bahan-bahan merusak yang mengandung oli, asam, alkali,
22 garam, bahan organik, atau bahan-bahan lainnya yang merugikan terhadap beton atau tulangan.
2) Air pencampur yang digunakan pada beton prategang atau pada beton yang didalamnya tertanam logam aluminium, termasuk air bebas yang terkandung dalam agregat, tidak boleh mengandung ion klorida dalam jumlah yang membahayakan.
3) Air yang tidak dapat diminum tidak boleh digunakan pada beton, kecuali pemilihan proporsi campuran beton harus didasarkan pada campuran beton yang menggunakan air dari sumber yang sama dan hasil pengujian pada umur 7 dan 28 hari pada kubus uji mortar yang dibuat dari adukan dengan air yang tidak dapat diminum harus mempunyai kekuatan sekurang-kurangnya sama dengan 90% dari kekuatan benda uji yang dibuat dengan air yang dapat diminum.
2.4.2.4 Bahan Tambah (Admixture)
Bahan tambah bukan merupakan bahan inti dari suatu komposisi beton. Bahan tambah (admixture) adalah bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam campuran beton pada saat atau selama percampuran berlangsung. Fungsi dari bahan ini adalah untuk mengubah sifat-sifat dari beton agar menjadi lebih cocok untuk pekerjaan tertentu, atau untuk menghemat biaya.
Admixture atau bahan tambah yang didefinisikan dalam (ASTM C.125-1995:61) dan dalam Cement and Concrete Terminology (ACI SP-19) adalah sebagai material selain air, agregat dan semen hidrolik yang dicampurkan dalam beton atau mortar yang di tambahkan sebelum atau selama pengadukan berlangsung. Bahan tambah digunakan untuk memodifikasi sifat dan karakteristik dari beton misalnya untuk dapat dengan mudah dikerjakan, mempercepat pengerasan, menambah kuat tekan, penghematan, atau untuk tujuan lain seperti penghematan energi.
2.4.2.5 Material inovasi limbah
Dalam perkembangan teknologi pervious conctrete, bahan-bahan penyusunnya mengalami perkembangan berupa inovasi terbaru untuk
23 menjawab tantangan-tantangan ataupun masalah yang masih dapat diminimalisir hingga diatasi. Sebagai contoh, Syahputra (2017) dalam risetnya menggunakan limbah pecahan beton sebagai bahan subtitusi agregat kasar. Ia menggunakan beton-beton yang telah hancur akibat pengujian kuat tekan di laboratorium beton atau beton-beton yang sudah dibuang dari pembongkaran suatu konstruksi. Aamer Rafique Bhutta dkk. (2013) juga menggunakan limbah beton dalam risetnya.
Karakteristik limbah beton yang keras dan komposisinya yang mengandung agregat kasar berupa kerikil membuat limbah ini dapat menjadi agregat inovasi subtitusi material agregat kasar sebagai bahan penyusun inti. Hal senada juga dapat berlaku pada limbah paving block.
Paving block merupakan salah satu material yang digunakan sebagai lapisan atas struktur jalan selain aspal. Paving block beton biasanya dibuat dari bahan campuran seperti semen portland atau bahan perekat lainnya, air, dan agregat (Hastuty & Sembiringand Nursyamsi, 2018).
2.5 Mix Proporsi Pervious Concrete
Karena tidak ada kode desain campuran standar untuk beton lolos air yang disediakan oleh SNI, proporsi campuran dipilih dengan metode uji coba mengikuti petunjuk yang ditetapkan (ACI Committee 522, 2010). ACI 522R mempertimbangkan proporsi campuran yang didasarkan pada kepadatan agregat yang sangat kering dan jumlah pasta semen yang dibutuhkan untuk mempertahankan isi kekosongan yang diinginkan. Namun tidak ada metode standar untuk menentukan kepadatan agregat. Rasio rasio semen air (w/c) sangat penting untuk beton tahan air, sehingga empat rasio w/c yang berbeda dipilih sebagai 0,28, 0,3, 0,32 dan 0,35.
24 Tabel 2.4 Perkiraan dari Proporsi Material Pervious Concrete
Material Proporsi (kg/m3)
(Sumber : (ACI Committee 522, 2010))
2.6 Aplikasi Pervious Concrete
Berdasarkan (ACI Committee 522, 2010), pervious concrete telah digunakan dalam berbagai macam aplikasi, termasuk:
1. Aspal berpori untuk tempat parkir.
2. Lapisan drainase yang kaku di bawah area mall.
3. Lantai rumah kaca agar lantai tetap bebas dari air.
4. Aplikasi dinding struktural yang membutuhkan karakteristik penyekat panas yang lebih ringan atau lebih baik.
5. Trotoar, dinding, dan lantai yang membutuhkan karakteristik penyerapan suara yang lebih baik.
6. Lapisan dasar jalan, jalan, jalan masuk, dan bandara.
7. Permukaan lapangan untuk taman dan tenis.
8. Lantai untuk area kebun binatang dan kandang binatang dan kandang kuda.
9. Tanggul jembatan.
10. Dek kolam renang.
11. Struktur pantai dan bendungan.
12. Sistem penyimpanan energi surya.
13. Dinding untuk mengebor sumur air.
14. Terumbu buatan di mana terbuka struktur beton tahan meniru struktur terumbu.
25 Umumnya, pervious concrete yang tidak diperkuat dengan tulangan digunakan dalam semua aplikasi diatas karena resiko tinggi tulangan baja mengalami korosi karena struktur pori yang terbuka dari materialnya.
2.7 Paving block
Paving block begitu banyak digunakan dalam dunia konstruksi. Namun bukan sebagai material bangunan gedung, melainkan sebagai material penutup permukaan tanah untuk perkerasan yang beragam pada jalanan sesuai dengan mutu yang di klasifikasi oleh SNI.
Beberapa pendapat artikel jurnal mengemukakan bahwa paving block adalah bahan bangunan yang dibuat dari campuran semen, pasir, dan air, sehingga karakteristiknya hampir mendekati dengan karakteristik mortar.
Mortar adalah bahan bangunan terdiri dari agregat halus, bahan perekat serta air, dan diaduk sampai homogen. Adukan mortar dibuat kelecekannya cukup baik sehingga mudah dikerjakan. Mortar sebagai bahan bangunan, biasa diukur sifat-sifatnya, misalnya kuat tekan, berat jenis, kuat tarik, daya serap air, kuat rekat dengan bata merah, susutan, dan sebagainya. Namun, berdasarkan kekuatannya yang tertera dalam SNI, paving block sendiri memiliki kekuatan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mortar (Tjokrodimuljo, 2012).
Paving block (bata beton) adalah material bangunan yang terbuat dari campuran agregat, semen, dan air, tanpa atau dengan bahan tambah lain yang tidak mengurangi mutu bata beton itu (SNI 03-0691, 1996). Menurut (SNI-03-2403, 1991), paving block merupakan bagian dari segmen kecil yang terbuat dari beton dengan berbagai bentuk yang dipasang dengan sedemikian rupa sehingga saling mengunci.
Dari sekian material alternatif untuk menutupi muka tanah, paving block lebih banyak mempunyai keberagaman yang lebih banyak baik dari segi bentuk, ukuran, warna, motif dan tekstur muka serta kekuatan. Menurut Umara (2018), pemakaian paving block sangat beraneka ragam diantaranya yaitu:
1) Jalan lingkungan perumahan
2) Area parkir gedung, ruko, sekolahan, rumah sakit, masjid, dll.
26 3) Trotoar
4) Halaman rumah;
5) carport, dll.
2.7.1 Klasifikasi Paving block
Ragam jenis paving block membuat properti ini dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa parameter. Adapun pengklasifikasian paving block yaitu didasarkan pada mutu, tebal, dan bentuk, yaitu sebagai berikut.
2.7.1.1 Klasifikasi Berdasarkann Mutu
Menurut SNI 03-0691-1996, paving block diklasifikasikan menjadi empat macam berdasarkan mutunya, antara lain:
1) Paving block mutu A, memiliki tekan minimal 35 Mpa dan rerata 40 Mpa (setara dengan K430 hingga K490) dan penyerapan air maksimal 3%.
2) Digunakan untuk jalan, perkerasan lahan terminal peti kemas dipelabuhan, kebutuhan nonstruktural dan struktural dengan berat beban yang lainnya.
3) Paving block mutu B, memiliki tekan minimal 17,5 Mpa dan rerata 20 Mpa (setara dengan K208 hingga K245) dan penyerapan air maksimal 6%. Digunakan untuk pelataran parkir.
4) Paving block mutu C, memiliki tekan minimal 12,5 Mpa dan rerata 15 Mpa (setara dengan K153 hingga K184) dan penyerapan air maksimal 8%. Digunakan untuk pejalan kaki.
5) Paving block mutu D, memiliki tekan minimal 8,5 Mpa dan rerata 10 Mpa (setara dengan K104 hingga K122) dan penyerapan air maksimal 10%. Digunakan untuk perkerasan nonstruktural seperti trotoar, lingkungan dan taman, halaman rumah, dan perkerasan lain dengan daya beban yang rendah.
27 Tabel 2.5 Sifat-sifat Fisika
Kuat Tekan (Mpa)
Penyerapan air
rata-rata maks. Mutu
(Sumber : (SNI 03-0691, 1996))
2.7.1.2 Klasifikasi Berdasarkan Dimensi (Ketebalan)
Standar paving block serta yang beredar di pasaran untuk bentuk bata memiliki dimensi panjang 20 cm dan lebar 10 cm. Kesemuanya memiliki tebal antara 6, 8, dan 10 cm dan toleransi 3 mm, dengan ketentuan sebagai berikut:
1) Paving block 6 cm, digunakan untuk lalu lintas ringan dan terbatas pada pejalan kaki.
2) Paving block 8 cm, digfungsikan untuk beban lalu lintas sedang dan terbatas pada transportasi pick up, truk, hingga bus.
3) Paving block 10 cm, biasa digunakan untuk beban lalu lintas berat, banyak digunakan untuk daerah industri dan pelabuhan karena banyaknya penggunaan crane atau alat berat lain.
2.7.1.3 Klasifikasi Berdasarkan Bentuk
Paving block yang dijual di pasaran memiliki bermacam-macam bentuk dan ukuran sesuai dengan kebutuhan. Salah satunya adalah paving block tipe holland atau bata yang sering digunakan dalam pengerasan jalan perumahan, sekolahan, dan lain-lain. Selain dari tipe holland masih ada lagi bentuk dan ukuran paving block untuk yang beragam untuk menambah nilai keindahan (Umara, 2018).
28 Gambar 2.7 Bentuk-bentuk Paving block
(Sumber: sanpaving.wordpress.com)
Semakin berkembangnya industri paving block, semakin banyak pula permintaan bentuk yang diinginkan oleh customer yang menginginkan nilai lebih pada estetika. Hingga saat ini secara garis besar bentuk paving block dapat dibedakan menjadi 3 yaitu :
a. Paving block bentuk segi empat (rectangular).
b. Paving block bentuk segi banyak.
c. Paving block bentuk custom (sesuai dengan permintaan pembeli).
2.7.2 Kelebihan Paving block
Sebayang dkk. (2011) menyebutkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki paving block sebagai bahan perkerasan, antara lain:
1) Pelaksanaan yang tidak sulit sehingga membuka peluang kepada masyarakat.
2) Pemeliharaan yang mudah.
3) Perbaikan paving block tidak membutuhkan bahan tambah yang banyak walaupun telah dilakukan pembongkaran namun dipakai kembali.
4) Tahan menghadapi beban diam, bergerak, dan kejut yang tinggi.
5) Memiliki ketahanan yang baik.
2.7.3 Kekurangan Paving block
Paving block memiliki beberapa kekurangan, diantaranya adalah kerusakan yang menyebar. Karena sistem dari paving block adalah sistem dengan menyusun satu per satu dan saling mengunci, akan menyebabkan
29 kerusakan menyebar jika salah satu saja dari paving nya tergeser atau rusak.
Pemasangan yang kurang erat mengunci menjadi masalah juga. Selain itu, kekurangan paving block yang lain yaitu bila jika pondasi dasar tidak padat kemudian dilalui kendaraan berkecepatan tinggi menjadi mudah bergelombang.
2.7.4 Harga pokok produksi
Untuk dapat menentukan harga pokok produksi, hal-hal dibutuhkan oleh perusahaan dan harus ditentukan secara cermat dalam pencatatan dan penggolongannya agar informasi harga pokok produksi yang didapat bisa diandalkan baik dalam menentukan harga jual produk maupun dalam perhitungan untung dan rugi periodik menurut Mulyadi (2007) adalah informasi mengenai:
1) Biaya Bahan Baku
Biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh bahan baku yang dipergunakan dalam proses untuk memproduksi suatu produk sebagai obyek biayanya, seperti biaya papan dasar, dan biaya material yang digunakan.
2) Biaya Tenaga Kerja Langsung
Biaya yang dibayarkan kepada tenaga kerja yang terlibat langsung dalam proses produksi atau secara langsung dapat diidentifikasi kepada suatu produk sebagai obyek biayanya. Sebagai contoh, upah yang dibayarkan kepada pekerja pabrik paving block.
3) Biaya Overhead Pabrik
Biaya overhead pabrik disebut juga biaya produk tidak langsung, yaitu biaya yang tidak ada kaitan langsung dengan produk yang dihasilkan dan tidak diidentifikasi atau ditelusuri melalui produk tersebut dengan cara yang ekonomis. seperti biaya konsumsi, biaya THR, biaya pengiriman dan margin keuntungan.
2.8 Metode Pembuatan Paving block di Masyarakat
Metode pembuatan paving block di masyarakat umumnya dapat dibedakan menjadi dua metode, yakni :
30 1) Metode Konvensional
Metode ini adalah metode yang biasa digunakan di masyarakat kerena modalnya yang murah sehingga dapat dilakukan oleh pelaku usaha yang bermodal kecil. Pembuatan paving block cara konvensional dilakukan dengan menggunakan alat gablokan dengan beban pemadatan yang berpengaruh terhadap tenaga orang yang mengerjakan atau dengan alat cetakan press pabrikan. Semakin kuat tenaga orang yang mengerjakan maka akan semakin padat dan kuat paving block yang dihasilkan.
Gambar 2.8 Cetakan Manual Press
(Sumber: google, 2020)
2) Metode Mekanis
Metode mekanis adalah metode yang dilakukan dengan menggunakan bantuan mesin press. Metode ini masih jarang digunakan karena untuk pembuatan paving block dengan metode mekanis membutuhkan alat yang harganya relatif mahal. Metode mekanis biasanya digunakan oleh pabrik dengan skala industri sedang atau besar. Pembuatan paving block cara mekanis dilakukan dengan menggunakan mesin.
31 Gambar 2.9 Hydraulic Pressure Machine
(Sumber: google, 2020)
2.9 Biopori
Biopori merupakan lubang-lubang kecil pada tanah yang terbentuk akibat aktivitas organisme dalam tanah seperti cacing atau pergerakan akar-akar dalam tanah. Lubang tersebut akan berisi udara dan menjadi jalur mengalirnya air.
Selain itu, lubang biopori juga dapat dibuat dari pipa polivinil klorida (PVC) (25,4 cm diameter x 45,2 cm) dan menggunakan penutup yang memiliki 31 lubang (diameter 3,6 mm) yang dibor dengan pola melingkar untuk memungkinkan air menyerap (Bailey et al., 2015).
Gambar 2.10 Lubang Biopori
(Sumber: Dokumen Pribadi)
32 Ir. Kamir R. Brata, Msc dari Institut Pertanian Bogor (2008) menjelaskan biopori adalah “lubang sedalam 80-100cm dengan diameter 10-30 cm, dimaksudkan sebagi lubang resapan untuk menampung air hujan dan meresapkannya kembali ke tanah”. Biopori memperbesar daya tampung tanah terhadap air hujan, mengurangi genangan air, yang selanjutnya mengurangi limpahan air hujan turun ke sungai. Oleh karena itu, mengurangi juga aliran dan volume air sungai ke tempat yang lebih rendah, seperti Jakarta yang daya tampung airnya sudah sangat minim karena tanahnya dipenuhi bangunan.
Juliandari 2013, melakukan penelitian tentang efektivitas lubang resapan biopori terhadap laju resapan (infiltrasi). Penelitian ini dilakukan dengan mengebor tanah pada kedalaman 50 cm menggunakan Hand Bor berdiameter 7 cm. Jarak antar lubang adalah 5 meter, dengan 4 titik sampel penelitian.
Kemudian dimasukkan sampah kulit buah, dan pengukuran laju infiltrasi dilakukan setelah sampah terdekomposisi selama 7 hari, 14 hari, 21 hari, dan 28 hari. Pengukuran infiltrasi menggunakan pipa paralon dengan cara mengamati penurunan muka air didalam paralon setiap interval waktu 5 menit.
Penggunaaan pipa berlubang dan pipa tidak berlubang dilakukan untuk mengetahui efektivitas laju infiltrasi penggunaan biopori tanpa pipa berlubang dan efektivitas laju infiltrasi pada pipa berlubang.
Berdasarkan hasil penelitian (Juliandari, 2013) didapatkan laju infiltrasi rata-rata sebelum adanya biopori adalah 1,69 mm/menit. Sedangkan pada lubang biopori 1 dan 2 tanpa menggunakan pipa berlubang terjadi kenaikan laju infiltrasi pada minggu ke-2 sebesar 2,02 mm/menit dan 2,12 mm/menit dengan umur sampah yang optimal dalam penelitian biopori ini untuk meresapkan air adalah minggu ke-2 dan efektivitas penurunan laju infiltrasi rata-rata sebesar 1,03 mm/menit atau 39% dan 1,33 mm/menit atau 21,30%. Sedangkan pada lubang biopori 3 dan 4 menggunakan pipa berlubang terjadi kenaikan laju infiltrasi pada minggu ke-2 dan minggu ke-4 sebesar 4,90 mm/menit dan 6,40 mm/menit, dan efektivitas kenaikan laju infiltrasi rata-rata sebesar 2,25
Berdasarkan hasil penelitian (Juliandari, 2013) didapatkan laju infiltrasi rata-rata sebelum adanya biopori adalah 1,69 mm/menit. Sedangkan pada lubang biopori 1 dan 2 tanpa menggunakan pipa berlubang terjadi kenaikan laju infiltrasi pada minggu ke-2 sebesar 2,02 mm/menit dan 2,12 mm/menit dengan umur sampah yang optimal dalam penelitian biopori ini untuk meresapkan air adalah minggu ke-2 dan efektivitas penurunan laju infiltrasi rata-rata sebesar 1,03 mm/menit atau 39% dan 1,33 mm/menit atau 21,30%. Sedangkan pada lubang biopori 3 dan 4 menggunakan pipa berlubang terjadi kenaikan laju infiltrasi pada minggu ke-2 dan minggu ke-4 sebesar 4,90 mm/menit dan 6,40 mm/menit, dan efektivitas kenaikan laju infiltrasi rata-rata sebesar 2,25