• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelainan siklus

Dalam dokumen TEORI KEPERAWATAN MATERNITAS (Halaman 124-131)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA WANITA SUBUR (USIA REPRODUKSI) DALAM MASALAH KESEHATAN REPRODUKSI

ASUHAN KEPERAWATAN PADA WANITA USIA SUBUR (USIA REPRODUKSI) DALAM MASALAH KESEHATAN REPRODUKSI WANITA: GANGGUAN

D. Kelainan Menstruasi (Haid)

1. Kelainan siklus

a.

Amenore

 Pengertian

Amenore bukan suatu penyakit tetapi merupakan gejala. Amenore adalah tidak adanya haid selama 3 bulan atau lebih. Amonore (tidak ada haid) bukan suatu penyakit tetapi merupakan gejala.

 Klasifikasi

1) Amenore primer, tejadi apabila seseorang wanita belum pernah mendapat menstruasi dan tidak boleh didiagnosa sebelum pasien mencapai usia 18 tahun

2) Amenore sekunder ialah hilangnya haid selama menarche

3) Amenore yang normal hanya terjadi sebelum masa pubertas, selama kehamilan, selama menyusui dan setelah menapause.

 Etiologi

1. Tertundanya menarke ( menstruasi pertama )

2. Kelainan bawaan pada pada sistem kelamin ( misalnya tidak memiliki rahim atau vagina, adanya sekat pada vagina, serviks yang sempit, lubang pada selaput yang menutupi vagina terlalu sempit / himen imperforata )

3. Penurunan berat badan yang drastis ( akibat kemiskinan, diet berlebihan, anoreksia nervosa, bulimia, dan lain – lain )

4. Kelainan bawaan pada sistem kelamin

5. Kelainan kromosom ( misalnya sindroma Turner atau sindroma Swyer ) dimana sel hanya mengandung 1 kromosom X )

6. Obesitas yang ekstrim 7. Hipoglikemia

8. Disgenesis gonad

9. Hipogonadisme hipogonadotropik 10. Sindroma feminisasi testis 11. Hermafrodit sejati

12. Penyakit menahun

112|

13. Kekurangan gizi 14. Penyakit Cushing 15. Fibrosis kistik

16. Penyakit jantung bawaan ( sianotik )

17. Kraniofaringioma, tumor ovarium, tumor adrenal 18. Hipotiroidisme

19. Sindroma adrenogenital 20. Sindroma Prader-willi 21. Penyakit ovarium polikista 22. hiperplasia adrenal kongenital Penyebab amenore sekunder : 1. Kehamilan

2. Kecemasan akan kehamilan

3. Penurunan berat badan yang drastis 4. Olah raga yang berlebihan

5. Lemak tubuh kurang dari 15 – 17 % extreme 6. Mengkonsumsi hormon tambahan

7. Obesitas 8. Stres emosional 9. Menopause

10. Kelinan endrokin ( misalnya sindorma Cushing yang menghasilkan sejumlah besar hoemon kortisol oleh kelenjar adrenal )

11. Obat–obatan ( misalnya busulfan, klorambusil, siklofosfamid, pil KB, fenotiazid )

12. Prosedur dilatasi kuratesa

13. Kelainan pada rahim, seperti mola hidatidosa ( tumor plasenta ) dan sindrom Asherman ( pembentukan jaringan parut pada lapisan rahim akibat infeksi atau pembedahan )

 Patofisiologi

Tidak adanya uterus, baik itu sebagai kelainan atau sebagai bagian dari sindrom hemaprodit seperti testicular feminization, adalah penyebab utama dari amenore primer. Testicular feminization disebabkan oleh kelainan genetik. Pasien dengan aminore primer yang diakibatkan oleh testicular feminization menganggap dan menyampaikan dirinya sebagai wanita yang normal, memiliki tubuh feminin. Vagina kadang – kadang tidak ada atau mengalami kecacatan, tapi biasanya terdapat vagina. Vagina tersebut berakhir sebagai kantong kosong dan

|113 tidak terdapat uterus. Gonad, yang secara morfologi adalah testis berada di kanal inguinalis. Keadaan seperti ini menyebabkan pasien mengalami amenore yang permanen.

Amenore primer juga dapat diakibatkan oleh kelainan pada aksis hipotalamus-hipofisis-ovarium. Hypogonadotropic amenorrhoea menunjukkan keadaan dimana terdapat sedikit sekali kadar FSH dan SH dalam serum. Akibatnya, ketidakadekuatan hormon ini menyebabkan kegagalan stimulus terhadap ovarium untuk melepaskan estrogen dan progesteron. Kegagalan pembentukan estrogen dan progesteron akan menyebabkan tidak menebalnya endometrium karena tidak ada yang merasang. Terjadilah amenore. Hal ini adalah tipe keterlambatan pubertas karena disfungsi hipotalamus atau hipofosis anterior, seperti adenoma pitiutari.

Hypergonadotropic amenorrhoea merupakan salah satu penyebab amenore primer. Hypergonadotropic amenorrhoea adalah kondisi dimnana terdapat kadar FSH dan LH yang cukup untuk menstimulasi ovarium tetapi ovarium tidak mampu menghasilkan estrogen dan progesteron. Hal ini menandakan bahwa ovarium atau gonad tidak berespon terhadap rangsangan FSH dan LH dari hipofisis anterior.

Disgenesis gonad atau prematur menopause adalah penyebab yang mungkin. Pada tes kromosom seorang individu yang masih muda dapat menunjukkan adanya hypergonadotropic amenorrhoea. Disgenesis gonad menyebabkan seorang wanita tidak pernah mengalami menstrausi dan tidak memiliki tanda seks sekunder. Hal ini dikarenakan gonad ( oavarium ) tidak berkembang dan hanya berbentuk kumpulan jaringan pengikat.

Amenore sekunder disebabkan oleh faktor lain di luar fungsi hipofosis-ovarium. Hal ini berarti bahwa aksis hipotalamus-hipofosis-ovarium dapat bekerja secara fungsional. Amenore yang terjadi mungkin saja disebabkan oleh adanya obstruksi terhadap aliran darah yang akan keluar uterus, atau bisa juga karena adanya abnormalitas regulasi ovarium sperti kelebihan androgen yang menyebabkan polycystic ovary syndrome.

 Manifestasi Klinis

Manifestasi klinisnya bervariasi, tergantung penyebabnya. Jika penyebabnya adalah kegagalan mengalami pubertas, maka tidak akan ditemukan tanda – tanda pubertas seperti pembesaran payudara, pertumbuhan rambut kemaluan dan rambut ketiak serta perubahan

114|

bentuk tubuh. Jika penyebanya adalah kehamilan, akan ditemukan morning sickness dan pembesaran perut.

Jika penyebabnya adalah kadar hoemon tiroid yang tinggi maka gejalanya adalah denyut jantung yang cepat, kecemasan, kulit yang hangat dan lembab.

Sindroma Cushing menyebabkan wajah bulat ( moon face ), perut buncit, dan lengan serta tungkai yang lurus.

 Terapi

Pengobatan untuk kasus amenore tergantung kepada penyebabnya.

Jika penyebanya adalah penurunan berat badan yang drastis atau obesitas, penderita dianjurkan untuk menjalani diet yang tepat. Jika penyebabnya adalah olah raga yang berlebihan, penderita dianjurkan untuk menguranginya.

Jika seorang anak perempuan yang belum pernah mengalami menstruasi ( amenore primer ) dan selama hasil pemeriksaan normal, maka dilakukan pemeriksaan setiap 3 – 6 bulan untuk memantau perkembangan pubertasnya.

b.

Oligomenore

Haid jarang, siklus panjang. Oligomenore terjadi kalau siklus lebih dari 35 hari. Sering terdapat pada wanita yang astenis. Oligomenore yang menetap dapat terjadi akibat dari: perpanjanagan stadium folikuler, perpanjangan stadium luteal, dan kedua stadia tersebut manjadi panjang.

Jika siklus tiba-tiba menjadi panjang maka dapat disebabkan oleh pengaruh psikis dan pengaruh panyakit (TB). Pada umumnya oligomenore yang ovulator tidak memerlukan terapi. Bila mendekati amenore maka dapat diusahakan mengadakan ovulasi.

Banyaknya perdarahan ditentukan oleh: (1) Lebarnya pembuluh darah: pada hipoplasia uteri, asteni, tumor yang mengurangi daya kontraksi seperti mioma, (2) Banyaknya pembuluh darah yang terbuka atau luasnya luka: pada uterus miomatosus, endometriosis interna, (3) Tekanan intravaskuler: tekanan arteri meninggi, pada dekompensasi kordis, tumor, kelainan letak, (4) Daya beku darah (diatesa hemoragika):

pada penyakit werlfoff atau hemofili.

Kita tahu bahwa darah haid terlalu banyak kalau ada bekuan darah dalam darah haid. Lamanya perdarahan ditentukan olehh daya regenerasi endometrium. Daya regenerasi berkurang pada infeksi, pada mioma atau polip dan pada karsinoma.

|115

c.

Polimenore/metrorragi

 Pengertian

Adalah perdarahan yang tidak teratur dan tidak ada hubungannya dengan haid Haid sering datang, jadi siklusnya pendek, kurang dari 25 hari.

 Klasifikasi

1. Metroragia oleh karena adanya kehamilan; seperti abortus, kehamilan ektopik.

2. Metroragia diluar kehamilan.

 Etiologi

Metroragia diluar kehamilan dapat disebabkan oleh luka yang tidak sembuh; carcinoma corpus uteri, carcinoma cervicitis;

peradangan dari haemorrhagis (seperti kolpitis haemorrhagia, endometritis haemorrhagia); hormonal.

Perdarahan fungsional : a) Perdarahan Anovulatoar; disebabkan oleh psikis, neurogen, hypofiser, ovarial (tumor atau ovarium yang polikistik) dan kelainan gizi, metabolik, penyakit akut maupun kronis.

b) Perdarahan Ovulatoar; akibat korpus luteum persisten, kelainan pelepasan endometrium, hipertensi, kelainan darah dan penyakit akut ataupun kronis.

 Manifestasi Klinis

Adanya perdarahan tidak teratur dan tidak ada hubungannya dengan haid namun keadaan ini sering dianggap oleh wanita sebagai haid walaupun berupa bercak.

 Terapi

Terapi : kuretase dan hormonal 2. Kelainan jumlah aliran darah

a.

Hipermenore/meno ragia

 Pengertian:

Hipermenore adalah perdarahan berkepanjangan atau berlebihan pada waktu menstruasi teratur. Bisa disebut juga dengan perdarahan haid yang jumlahnya banyak hingga 6-7 hari, ganti pembalut 5-6 kali/hari tetapi masih memiliki siklus-siklus yang teratur. Pengeluaran darah yang terlalu banyak biasanya disertai dengan bekuan darah sewaktu menstruasi, jadi pada siklus yang teratur, disebut menoragia.

Sebab-sebabnya adalah: hipoplasia uteri, asteni, mioma uteri, hipertensi, infeksi dan hemofilia.

116|

Pada hipermenore perdarahan menstruasi berat berlangsung sekitar 8-10 hari dengan kehilangan darah lebih dari 80ml

 Etiologi:

 40-60% wanita yang mengaku mengalami perdarahan hebat saat haid tidak ada patologi pada sistem reproduksinya dan hal ini disebut perdarahan uterus disfungsional.

 Penyebab lokal seperti : myomata, endometril polip, uterus retro versi, first menstrual period after childbirth or abortion (MPT), tumor sel granulosa di ovarium.

 Penyakit sistemik, seperti hipertiroidisme dan gangguan perdarahan.

 Penggunaan IUCD (Intra Uterine Contraceptive Device). Penggunaan IUCD akan meningkatkan aliran menstruasi.

 Hypopalsia Uteri, menurut beratnya hipoplasia dapat mengakibatkan amenorrhoe (uterus sangat kecil), hipermenorrhoe (uterus kecil jadi luka kecil).

 Astheni, Menorrhagia terjadi karena tonus otot pada umumnya kurang.

 Selama atau sesudah menderita suatu penyakit atau karena terlalu lelah, juga karena tonus otot kurang.

 Hypertensi.

 Decompensatio cordis.

 Infeksi : endometriosis, salphingitis.

 Retroflexio uteri, karena kandungan pembuluh darah balik.

 Penyakit darah : Hemofili

 Patofisiologi

Pada siklus ovulasi normal, hipotalamus mensekresi Gonadotropin releasing hormon (GnRH), yang menstimulasi pituitary agar melepaskan Folicle-stimulating hormone (FSH). Hal ini pada gilirannya menyebabkan folikel di ovarium tumbuh dan matur pada pertengahan siklus, pelepasan leteinzing hormon (LH) dan FSH menghasilkan ovulasi. Perkembangan folikel menghasilkan esterogen yang berfungsi menstimulasi endometrium agar berproliferasi. Setelah ovum dilepaskan kadar FSH dan LH rendah. Folikel yang telah kehilangan ovum akan berkembang menjadi korpus luteum, dan korpus luteum akan mensekresi progesteron. Progesteron menyebabkan poliferasi endometrium untuk berdeferemnsiasi dan stabilisasi. 14 hari setelah ovulasi terjadilah menstruasi. Menstruasi berasal dari dari peluruhan

|117 endometrium sebagai akibat dari penurunan kadar esterogen dan progesteron akibat involusi korpus luteum.

Siklus anovulasi pada umumnya terjadi 2 tahun pertama setelah menstruasi awal yang disebabkan oleh HPO axis yang belum matang.

Siklus anovulasi juga terjadi pada beberapa kondisi patologis.

Pada siklus anovulasi, perkembangan folikel terjadi dengan adanya stimulasi dari FSH, tetapi dengan berkurangnya LH, maka ovulasi tidak terjadi. Akibatnya tidak ada korpus luteum yang terbentuk dan tidak ada progesteron yang disekresi. Endometrium berplroliferasi dengan cepat, ketika folikel tidak terbentuk produksi esterogen menurun dan mengakibatkan perdarahan. Kebanyakan siklus anovulasi berlangsung dengan pendarahan yang normal, namun ketidakstabilan poliferasi endometrium yang berlangsung tidak mengakibatkan pendarahan hebat.

 Manifestasi klinis

 Menorrhagia yang berat dapat menyebabkan anemia.

 Gejala lain yang dapat menyertainya antara lain : 1) Sakit kepala

2) Kelemahan 3) Kelelahan

4) Kesemutan pada kaki dan tangan 5) Meriang

6) Penurunan konsentrasi

 Terapi

Terapi spesifik untuk menorrhagia diberikan berdasarkan : 1) Umur dan riwayat kesehatan

2) Kondisi sebelumnya

3) Toleransi pada terapi pengobatan spesifik Terapi untuk menorrhagia, yaitu :

1) Suplemen zat besi (jika kondisi menorrhagia disertai anemia, kelainan darah yang disebabkan oleh defisiensi sel darah merah atu hemoglobin).

2) Prostaglandin inhibitor seperti medications (NSAID), seperti aspirin atau ibuprofen.

3) Kontrasepsi oral (ovulation inhibitor) 4) Progesteron (terapi hormon)

5) Hysteroctomy (operasi untuk menghilangkan uterus)

118|

b.

Hipomenore

Menstruasi teratur tetapi jumlah darahnya sedikit. Pada hipoplasia uteri, karena uterus kecil. Secara normal haid sudah berhenti dalam 7 hari. Bila haid lebih lama dari 7 hari maka daya regenerasi selaput lendir kurang, misalnya pada endometritis, mioma atau karsinoma dari korpus uteri.

3. Nyeri

Nyeri sewaktu haid, disebut dismenore. Nyeri ini terasa diperut bagian bawah. Nyeri dapat terasa sebelum, selama dan sesudah haid. Dapat bersifat kolik atau terus menerus. Nyeri diduga karena kontraksi.

Dalam dokumen TEORI KEPERAWATAN MATERNITAS (Halaman 124-131)