• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelalaian atau Default Dalam Suatu Perjanjian

BAB IV. PENYELESAIAN KREDIT MACET BAGI PARA

A. Kelalaian atau Default Dalam Suatu Perjanjian

Perjanjian memuat seperangkat hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan atau ditepati oleh para pihak yang dinamakan sebagai prestasi. Menepati (“nakoming”) berarti memenuhi isi perjanjian, atau dalam arti yang lebih luas melunasi (“betaling”) pelaksanaan perjanjian, yaitu memenuhi dengan sempurna segala isi dan tujuan dari ketentuan sesuai dengan kehendak yang telah disetujui oleh para pihak.101

Lalai ataudefaultsendiri menurut Elly Erawaty dan J.S. Badudu adalah kegagalan untuk melakukan atau memenuhi suatu kewajiban sebagaimana tercantum di dalam kontrak, sekuritas, akta atau transaksi lainnya. Akibat yang penting dari tidak dipenuhinya prestasi adalah bahwa kreditur dapat meminta ganti rugi atas ongkos, rugi dan bunga yang dideritanya, bila tidak demikian maka kreditur akan menderita kerugian.102

Selanjutnya terdapat beberapa hal yang patut untuk diperhatikan dalam melaksanakan suatu prestasi, yaitu sebagai berikut: 103

101 M Yahya Harahap,Segi-segi Hukum Perjanjian, Alumni, Bandung, 1986, hlm 56.

102 Mariam Darus Badrulzaman, et. al., Kompilasi Hukum Perikatan, PT. Citra Aditya Bakti,

Bandung 2001, hlm 19.

a. Kewajiban apa yang hendak dilaksanakan

Untuk mengetahui hal-hal yang wajib dilaksanakan debitur harus dilihat dari beberapa sumber yaitu undang-undang sendiri, perjanjian yang dibuat oleh para pihak dan tujuan (“strekking”) dari perjanjian dari sifat perjanjian. Ketentuan dalam KUH Perdata mengatur terkait hal ini adalah Pasal 1338 KUH Perdata, yang berbunyi:

(1) Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.

(2) Suatu perjanjian tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup untuk itu.

(3) Suatu perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik. b. Pelaksanaan yang baik

Ukuran dari pelaksanaan yang baik adalah “kepatutan”, artinya debitur telah melaksanakan kewajibannya menurut yang sepatutnya sesuai dengan ketentuan- ketentuan yang telah mereka setujui bersama.

Menurut ketentuan Pasal 1339 KUH Perdata, suatu perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas dinyatakan dalam perjanjian, tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat perjanjian diharuskan atau diwajibkan oleh kepatutan, kebiasaan dan undang-undang. Dengan demikian, setiap perjanjian dilengkapi dengan aturan-aturan yang terdapat dalam undang-undang, dalam adat kebiasaan (di suatu tempat dan disuatu kalangan tertentu), sedangkan kewajiban-

kewajiban yang diharuskan oleh kepatutan (norma-norma kepatutan) harus juga diindahkan.

c. Pelaksanaan pemenuhan

Para pihak yang membuat perjanjian harus melaksanakan isi perjanjian sesuai dengan yang disetujui bersama. Pemenuhan isi perjanjian dapat terjadi hambatan jika salah satu ingkar janji. Dalam perjanjian kredit bank, kreditur dapat memaksakan kehendak agar debitur melaksanakan prestasi. Umumnya pemaksaan prestasi harus melalui kekuatan putusan vonis pengadilan, yang menghukum debitur melunasi prestasi serta membayar ganti rugi.104

Pemaksaan yang dapat dimintakan kreditur karena keingkaran debitur mempunyai beberapa alternatif yang dapat dipilih, yaitu pemenuhan prestasi sebagai tuntutan primair dan subsidairnya adalah pelaksanaan ditambah ganti rugi atas dasar wanprestasi. Pasal 1237 dan 1238 KUH Perdata merumuskan pengertian “lalai” dalam 2 (dua) pasal, yaitu:

Pasal 1237 berbunyi:

(1) Dalam hal adanya perikatan untuk memberikan suatu kebendaan tertentu, kebendaan itu semenjak perikatan dilahirkan adalah tanggungan si berpiutang.”

104Van, Dunne,Wanprestasi dan Keadaan Memaksa, Ganti Kerugian, Dewan Kerja Sama Ilmu

(2) Jika si berutang lalai akan menyerahkannya, maka semenjak saat kelalaian, kebendaan adalah atas tanggungannya.

Pasal 1238 berbunyi:

“Si berutang adalah lalai, apabila ia dengan surat perintah atau dengan sebuah akta sejenis itu telah dinyatakan lalai, atau demi perikatannya sendiri, ialah jika ini menetapkan, bahwa si berutang harus dianggap lalai dengan lewatnya waktu yang ditentukan.”

Menurut Munir Fuady, debitur dapat dianggap dalam keadaan default

(wanprestasi) disebabkan antara lain :105

a. wanprestasi pembayaran (payment default)

Seandainya gagal melakukan pembayaran kembali pokok pinjaman atau bunga pda tanggal jatuh tempo atau tidak membayar biaya-biaya lainnya yang merupakan kewajiban menurut perjanjian kredit atau dokumen lainnya yang terkait.

b. wanprestasi yang berhubungan denganRepresentation

Dalam suatu perjanjian kredit biasanya ada bagian yang memuat klausul

representation and warranty, yang berisikan jaminan dari debitur akan kebenaran dan keabsahan tindakan-tindakan perusahaan maupun dokumen-dokumen yang ada. Apabila ternyata ada diantara hal tersebut yang tidak benar, maka debitur dianggap wanprestasi.

c. wanprestasi yang berhubungan dengan hal-hal yang dilarang (covenant default) Dimaksudkan jika debitur melanggar salah satu hal yang biasanya diperinci dalam hal-hal yang tidak boleh dilakukan oleh debitur, seperti larangan untuk melakukan merger, akuisisi, konsolidasi, penjualan aset, penggantian pengurus dan pemegang saham.

d. wanprestasi atas kewajiban lain-lain

Dalam bagian ini ditegaskan bahwa kelalaian debitur terhadap pasal-pasal lain dalam perjanjian kredit selain pasal-pasal larangan-larangan bagi debitur atau pasal tentangrepresentation and warrantyjuga dianggap terjadi wanprestasi. e. wanprestasi karena perijinan (approval default)

Timbul karena adanya ijin-ijin, persetujuan, pengesahan atau kuasa yang kemudian dibatalkan oleh yang berwenang dan/atau yang oleh debitur tidak berhasil diperolehnya dari yang berwenang padahal dalam perjanjian kredit disyaratkan.

105Munir Fuady,Hukum Perkreditan Kontemporer, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2002,

f. wanprestasi karena kasus hukum (judgement default)

Apabila karena kasus pengadilan (perdata atau pidana) terhadap perseroan, pengurus/komisaris ataupun para pemegang saham yang menurut kreditur dapat berpengaruh pembayaran hutang maupun pelaksanaan tugasnya sehari-hari. g. wanprestasi karena pailit (bankruptcy default)

Debitur juga dianggap wanprestasi jika dinyatakan pailit oleh pengadilan yang berwenang atau dilikuidasi.

h. wanprestasi karena keterlambatan pelaksanaan perjanjian (completion date default)

Dalam suatu perjanjian kredit biasanya ditentukan kapan suatu prestasi dari salah satu pihak atau kedua belah pihak telah selesai dilakukan. Misal, jika diambil kredit untuk membangun suatu proyek, maka sampai dengan tanggal tertentu proyek tersebut belum juga selesai, debitur yang bersangkutan dianggap dalam keadaan wanprestasi.

Kelalaian atau kegagalan merupakan suatu situasi yang terjadi karena salah satu pihak tidak melakukan kewajibannya atau membiarkan suatu keadaan berlangsung sedemikian rupa (non performance), sehingga pihak lainnya dirugikan secara tidak adil karena tidak dapat menikmati haknya berdasarkan kontrak yang telah disepakati bersama. Karena itu, biasanya cidera janji dirumuskan secara aktif dalam arti bahwa cidera janji terjadi jika pihak yang berkewajiban tidak melaksanakan kewajibannya atau secara pasif dengan membiarkan keadaan (yang seharusnya dicegah) sebagaimana yang dirumuskan dalam ketentuan-ketentuan tertentu.106

Akibat tidak dipenuhinya perikatan, kreditur dapat meminta ganti rugi dan bunga yang dideritanya. Undang-undang menentukan bahwa debitur harus terlebih dahulu dinyatakan dalam keadaan lalai agar timbul kewajiban ganti rugi bagi debitur. Lembaga

106Budiono Kusumohamidjojo,Panduan Untuk Merancang Kontrak, Gramedia, Jakarta, 2001,

“pernyataan lalai” ini adalah merupakan upaya hukum untuk sampai pada suatu fase, di mana debitur dinyatakan ingkar janji (wanprestasi). Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 1238 KUH Perdata yang berbunyi :

“Si berutang adalah lalai, apabila ia dengan surat perintah atau dengan akta sejenis itu telah dinyatakan lalai atau demi perikatannya sendiri, ialah jika ia menetapkan bahwa yang berutang akan harus dianggap lalai dengan lewatnya waktu yang ditentukan”.

Jadi pernyataan lalai adalah upaya hukum, dengan mana kreditur memberitahukan, menegur, memperingatkan debitur saat selambat-lambatnya ia wajib memenuhi prestasi dan apabila saat itu dilampaui, maka debitur dinyatakan ingkar janji (wanprestasi). Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 1243 KUH Perdata. Akan tetapi hal ini disimpangi dalam sistem pemberian kredit secara joint financing, dimana debitur yang telah memenuhi kondisi-kondisi persyaratan-persyaratan yang tercantum dalam klausula wanprestasi dan klausula ingkar janji silang perjanjian kredit yang dibuat secara bilateral antara kreditur dan debitur pada pada sistem pemberian kredit secara joint financing,dimana debitur (pemilik jaminan) yang juga memperoleh pinjaman di bank- bank lain dan dari pinjaman yang diterimanya tersebut debitur dinyatakan lalai atau melanggar sesuatu ketentuan dalam sesuatu perjanjian lain, maka kelalaian debitur tersebut memberikan kewenangan bagi bank untuk mengakhiri perjanjian kredit tanpa diperlukan somasi atau peringatan lagi. Sebagai konsekuensinya, bank akan menuntut pembayaran dengan seketika dan sekaligus lunas dari jumlah-jumlah uang yang terhutang oleh debitur berdasarkan perjanjian kredit ini dan/atau berdasarkan perjanjian-

perjanjian lainnya baik yang telah ada dan/atau akan dibuat antara debitur dan bank termasuk perubahannya dan/atau penambahannya dan/atau pembaharuannya dan/atau perpanjangannya, baik yang dibuat secara notariil maupun yang dibuat secara di bawah tangan yang mungkin ada, serta baik karena hutang-hutang pokok, bunga-bunga, bunga denda, denda, provisi dan biaya-biaya lain sehubungan dengan hutang dimaksud, dan karena itu pemberitahuan dengan surat juru sita atau surat-surat lain yang berkekuatan serupa itu tidak diperlukan lagi.

B. Eksekusi Hak Tanggungan Sebagai Bentuk Penyelesaian Kredit Bermasalah

Kreditur dapat melakukan penjualan obyek Hak Tanggungan dengan menggunakan acara parate eksekusi sebagaimana diatur dalam pasal 224 HIR atau pasal 258 Rbg. Dalam pasal 26 UUHT ditentukan bahwa selama belum ada peraturan perundang-undangan yang mengaturnya, dengan memperhatikan ketentuan pasal 14 UUHT, maka peraturan mengenai hipotik yang ada mulai berlakunya UUHT, berlaku juga terhadap eksekusi Hak Tanggungan.107 Dengan adanya parate eksekusi ini, kreditur tidak perlu lagi mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri lagi untuk membuktikan adanya kelalaian atau perbuatan ingkar janji (wanprestasi) yang dilakukan oleh debitur. Parate eksekusi ini juga didasarkan dengan adanya titel eksekutorial sebagaimana diatur dalam Pasal 20 ayat 1 huruf b UUHT yang dapat dijabarkan sebagai berikut:

(1) Apabila debitur cidera janji, maka berdasarkan:

107M. Yahya, Harahap,Eksekusi Hak Tanggungan Sebelum dan Sesudah Berlakunya Undang-

Undang Hak Tanggungan.Makalah disampaikan pada Seminar Nasional ”Menyongsong Berlakunya UU Hak Tanggungan atas Tanah dan Benda-benda yang Berkaitan dengan Tanah”, Yogyakarta, 1996.

b. Titel eksekutorial yang terdapat dalam sertipikat Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat 2, obyek Hak Tanggungan dijual melalui pelelangan umum menurut tata cara yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan untuk pelunasan piutang pemegang Hak Tanggungan dengan hak mendahulu dari pada kreditur- kreditur lainnya.

Perbuatan cidera janji yang dilakukan oleh debitur sebagaimana dimaksud di atas adalah perbuatan debitur yang lalai untuk melaksanakan janji-janji debitur sebagaimana tercantum dalam perjanjian kredit atau karena lewatnya waktu yang ditentukan untuk melaksanakan janji-janji tersebut. Adapun kelalaian debitur tersebut harus dinyatakan dengan adanya suatu surat perintah (surat somasi) atau dengan sebuah akta sejenis yang menyatakan bahwa debitur telah lalai. Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 1234 KUH Perdata.

Parate eksekusi sebagai suatu bentuk penggantian biaya, rugi dan bunga karena tidak dipenuhinya suatu perikatan, baik dalam perjanjian kredit, perjanjian berbagi jaminan maupun dalam APHT, barulah dapat dilakukan, apabila debitur setelah dinyatakan lalai memenuhi perikatannya, tetap melalaikannya atau karena lewatnya waktu yang diberikan untuk melakukan pembayaran yang timbul dari adanya hutang debitur yang tercantum dalam suatu perjanjian kredit. Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 1243 KUH Perdata

Proses permohonan eksekusi sertifikat Hak Tanggungan yang dahulu dikenal dengan grosse akta dan akte hipotik, pada prinsipnya adalah sama dan setelah proses permohonan eksekusi sertifikat Hak Tanggungan. Proses yang harus ditempuh oleh kreditur sejak permohonan eksekusi sertifikat Hak Tanggungan sampai dengan

pelaksanaan penjualan obyek Hak Tanggungan melalui pelelangan dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Kreditur selaku kuasa mengajukan permohonan eksekusi kepada pengadilan negeri yang berwenang;

b. Dalam waktu beberapa hari/minggu setelah diajukan permohonan tersebut maka diadakan sidang pengadilan yang dihadiri kreditur dan termohon (debitur);

c. Dalam sidang tersebut oleh hakim disampaikan teguran (aanmaning) kepada termohon (debitur), bahwa dalam waktu 8 (delapan) hari yang bersangkutan harus melaksanakan pembayaran lunas pinjaman beserta bunga, ongkos-ongkos dan sebagainya dan apabila tidak, maka diadakan eksekusi atas obyek Hak Tanggungan sebagai jaminan kreditnya;

d. Apabila dalam 8 (delapan) hari tersebut termohon (debitur) tetap membandel, maka kreditur melanjutkan usahanya dengan melanjutkan permohonan sita eksekusi;

e. Setelah menerima ketetapan sita eksekusi, maka juru sita Pengadilan Negeri mengadakan sita eksekusi obyek Hak Tanggungan yang menjadi jaminan tersebut; f. Kreditur menerima berita acara eksekusi dari juru sita Pengadilan Negeri;;

g. Kreditur kemudian mengajukan permohonan untuk melelang obyek Hak Tanggungan tersebut dan menerima penetapan lelang;

h. Berdasarkan ketetapan lelang tersebut, Pengadilan Negeri menghubungi kantor lelang negara untuk melaksanakan lelang. Setelah ditetapkan harinya, kemudian

diadakan “pengumuman lelang” dalam surat kabar paling sedikit 2 (dua) kali dengan antara waktu 2 (dua) minggu yang biasanya diurus panitera Pengadilan Negeri yang bersangkutan.

i. Dalam pelaksanaan lelang tersebut biasanya ditetapkan oleh pengadilan berdasarkan informasi dari pihak Kelurahan (misalnya menyangkut harga tanah) dan Kantor Pajak, Pengadilan dapat menentukan harga lelang minimal dalam pelaksanaan harga lelang tersebut. Apabila harga lelang minimal tersebut tidak tercapai, maka lelang dibatalkan untuk dilaksanakan pada kesempatan berikutnya. Sampai saat pengumuman untuk lelang dikeluarkan, penjualan obyek Hak Tanggungan dapat dihindarkan dengan pelunasan utang yang dijamin dengan Hak Tanggungan itu beserta biaya-biaya eksekusi yang telah dikeluarkan. Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 20 ayat 5 UUHT.

Pelaksanaan penjualan obyek Hak Tanggungan melalui pelelangan umum dapat disimpangi berdasarkan Pasal 20 ayat 2 UUHT, yang menyatakan apabila ada kesepakatan antara pemberi dan pemegang Hak Tanggungan maka penjualan dapat dilaksanakan dibawah tangan, jika dengan cara demikian itu akan dapat diperoleh harga tertinggi yang menguntungkan semua pihak. Pelaksanaan penjualan dengan cara penjualan dibawah tangan hanya dapat dilakukan setelah lewat waktu 1 (satu) bulan sejak diberitahukan secara tertulis oleh pemberi dan/atau pemegang Hak Tanggungan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dan diumumkan sedikit-dikitnya dalam 2 (dua) surat kabar yang beredar di daerah yang bersangkutan dan/atau media massa

setempat, serta tidak ada pihak yang menyatakan keberatan. Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 20 ayat 3 UUHT.

Dengan demikian UUHT menyediakan 2 (dua) cara eksekusi Hak Tanggungan, yaitu : Pertama, penjualan obyek Hak Tanggungan wajib dilakukan melalui pelelangan umum yang dilaksanakan oleh kantor lelang. Dalam melaksanakan penjualan obyek Hak Tanggungan ini dan mengambil pelunasan piutangnya berlaku kedudukan istimewa yang dimiliki oleh pemegang Hak Tanggungan, yaitu droit de preference dan droit de suite. Kedua, adalah cara penjualan sebagaimana diatur dalam Pasal 6 UUHT yang dikenal dengan sebutan eksekusi yang disederhanakan. Apabila debitur wanprestasi, kreditur pemegang Hak Tanggungan mempunyai hak untuk menjual obyek Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri serta mengambil pelunasan pelunasan piutangnya dari hasil penjualan tersebut. Apabila ada lebih dari seorang kreditur pemegang Hak Tanggungan, maka kewenangan tersebut berada pada pemegang Hak Tanggungan pertama. Hal ini sebagaimana diatur dalam pasal 20 ayat 1 UUHT.

Untuk dapat menggunakan wewenang menjual obyek Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri, tanpa persetujuan dari debitur, diperlukan janji debitur sebagaimana diatur dalam pasal 11 ayat 2 huruf e UUHT yaitu janji bahwa pemegang Hak Tanggungan pertama mempunyai hak untuk menjual atas kekuasaan sendiri obyek Hak Tanggungan apabila debitur cidera janji. Janji itu wajib dicantumkan dalam APHT. Inilah yang menjadi dasar hukum bagi agen jaminan untuk menjual obyek Hak Tanggungan secara di bawah tangan selaku kuasa dari bank-bank (kreditur).

Kedudukan para kreditur dalam sistem pemberian kredit secara joint financing

adalah sama karena para kreditur yang terikat dalam perjanjian berbagi jaminan telah sepakat mengikatkan diri untuk memberikan kredit walaupun tidak secara serentak kepada 1 (satu) debitur yang sama dengan jaminan berupa 1 (satu) atau beberapa Hak Tanggungan untuk para kreditur secara bersama-sama.

Berdasarkan kesepakatan tersebut maka kreditur dengan kreditur-kreditur lainnya yang telah terikat dalam perjanjian berbagi jaminan ini hanya bisa melaksanakan semua haknya dalam dokumen jaminan secara bersama-sama. Bank-bank tidak akan mengambil suatu tindakan sendiri-sendiri atau dengan membentuk suatu kelompok kecuali jika kelompok itu mewakili semua bank. Jaminan yang diberikan sesuai dengan dokumen jaminan hanya boleh dilepaskan atau dibebaskan dengan persetujuan tertulis dari semua bank. Inilah dasar bank-bank pemberi kredit dalam sistem joint financing

memberi kuasa kepada agen jaminan untuk melaksanakan pelepasan dan pembebasan jaminan sebagaimana dianggap perlu oleh agen jaminan apabila debitur lalai/ingkar janji (wanprestasi).

Penyelesaian kredit macet akibat perbuatan ingkar janji (wanprestasi) debitur dalam perjanjian berbagi jaminan yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Bank-bank yang terikat dalam perjanjian berbagi jaminan wajib memberitahukan agen jaminan dalam hal terjadi suatu kejadian kelalaian oleh atau terhadap debitur. b. Agen jaminan kemudian akan mengadakan rapat dan mengirimkan pemberitahuan

kelalaian atas kewajibannya guna menentukan/mengambil tindakan yang akan diambil sehubungan dengan debitur dan jaminan.

c. Bank-bank akan mengadakan musyawarah mufakat untuk menentukan tindakan apa yang akan diambil sehubungan dengan debitur, untuk menyelesaikan kewajiban yang dijamin dan pelaksanaan hak-hak bank-bank lainnya berdasarkan perjanjian kredit.

d. Kemudian agen jaminan akan memulai proses untuk menjual jaminan dan melaksanakan dokumen dan menyerahkan salinan tentang pemberitahuan akan dilakukannya penjualan jaminan tersebut kepada debitur dan bank-bank dalam kurun waktu tertentu sejak agen jaminan mengirimkan pemberitahuan tersebut kepada setiap bank dan agen jaminan tidak menerima suatu perintah yang diberikan oleh semua bank untuk mengambil tindakan lain.

e. Hasil penjualan obyek Hak Tanggungan akan dibagi di antara bank-bank secara

pari passu dan proporsional sesuai dengan jumlah kewajiban debitur yang

terhutang kepada masing-masing bank sesuai dengan dokumentasi transaksi. f. Jumlah yang diperoleh sebagai hasil jaminan akan dipakai dengan prioritas

sebagai berikut (setelah terlebih dahulu dikurangi dengan jumlah yang terhutang kepada agen jaminan sesuai dengan perjanjian):

- Membayar ongkos dan biaya yang timbul dalam melaksanakan dokumen jaminan atau melindungi hak bank-bank secara proporsional;

- Membayar kepada bank-bank pemberi kredit secara proporsional dan pari passu setiap imbalan yang masih terhutang sehubungan dengan pemberian fasilitas kredit oleh bank-bank berdasarkan perjanjian kredit masing-masing bank tersebut dan membayar kepada agen jaminan, imbalan yang masih terhutang kepada agen jaminan berdasarkan perjanjian;

- Membayar kepada bank-bank pemberi kredit secara proporsional dan pari

passu setiap denda keterlambatan pembayaran yang terhutang dan belum

dibayar berdasarkan perjanjian kredit;

- Membayar kepada bank-bank pemberi kredit secara proporsional dan pari passu setiap bunga atas jumlah pokok yang terhutang dan belum dibayar berdasarkan perjanjian kredit; dan

- Membayar kepada bank-bank pemberi kredit secara proporsional dan pari passu setiap jumlah pokok yang terhutang dan belum dibayar berdasarkan perjanjian kredit.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Joint financingkredit merupakan salah satu cara pemberian kredit, namun dalam prakteknya hal ini masih jarang sekali dilakukan. Pemberian kredit secara joint financing di Indonesia dituangkan dalam bentuk perjanjian kredit oleh masing- masing kreditur dengan debitur secara bilateral dengan pemberian jaminan yang dapat berupa Hak Tanggungan (dengan sistem peringkat Hak Tanggungan), diikuti dengan pembuatan perjanjian berbagi jaminan antara para kreditur dengan debitur. Dalam sistem joint financing, para kreditur mempunyai kedudukan yang sama dengan kreditur lainnya terutama pada saat pembagian hasil penjualan eksekusi jaminan apabila debitur cidera janji, meskipun berdasarkan UUHT mereka sebagai pemegang Hak Tanggungan dengan peringkat yang berbeda. Selain Hak Tanggungan, maka perjanjian berbagi jaminan memberi kepastian hukum atas jaminan pelunasan kredit yang telah diberikan oleh para kreditur kepada debitur dan dapat meminimalisir potensi konflik yang ada antara sesama kreditur yang tergabung dalam sistem pemberian kredit secarajoint financingini.

2. Pelaksanaan sita jaminan di atas tanah sebagai objek jaminan yang telah dibebankan dengan Hak Tanggungan tidak dapat dilakukan karena Negara melalui UUHT telah memberikan kedudukan yang kuat dan kepastian hukum bagi kreditur

sebagai pemegang Hak Tanggungan berdasarkan sertipikat Hak Tanggungan yang dikeluarkan oleh Kantor Pertanahan setempat. Dengan lahirnya Hak Tanggungan berdasarkan pendaftaran pemberian Hak Tanggungan maka Hak Tanggungan tersebut berlaku dan mengikat terhadap pihak ketiga.

3. Dalam sistem pemberian kredit secara joint financing, apabila debitur (pemilik jaminan) lalai atau melakukan perbuatan wanprestasi (ingkar janji) sehingga menyebabkan terjadinya kredit macet, maka agen jaminan (yang bertindak mewakili, untuk dan atas nama para kreditur) berwenang untuk mengakhiri perjanjian kredit setelah memperoleh pemberitahuan tentang adanya kelalaian debitur dari para kreditur, tanpa diperlukan gugatan lagi. Setelah obyek Hak Tanggungan dijual, maka pembagian hasil penjualan tidak dilakukan berdasarkan peringkat masing-masing kreditur sebagai pemegang Hak Tanggungan dari tanah yang dijaminkan, akan tetapi pembagian dilakukan secara pari passu dan proporsional sebesar jumlah kewajiban debitur yang terhutang kepada masing- masing kreditur sebagaimana diatur dalam perjanjian kredit dan perjanjian berbagi jaminan.

B. Saran

1. Mengingat pentingnya kedudukan dana perkreditan untuk menunjang pembiayaan kegiatan sektor perekenomian dalam rangka meningkatkan pembangunan nasional yang salah satu caranya dengan joint financing kredit, maka perlu lebih banyak diadakan seminar dan sosialisasi hukum terkait ketentuan-ketentuan dan tata cara

Dokumen terkait