• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III Analisis Penyebab Gagalnya Kudeta di Turki Tahun 2016

3.3. Kelalaian dalam Penangkapan Pemerintah dan

Karim El Bazz, dalam karyanya Evaluation, Coordination and Execution:

An Analyis of Military CoupAgency at Instances of Successful Coup D’état menuliskan langkah-langkah yang harus di lalui oleh pelaksana militer dalam melancarkan kudeta, yaitu tahap evaluasi, koordiasi, dan eksekusi. Pada tahap ekseskusi, ada 6 hal yang harus dilakukan oleh komplotan kudeta demi keberhasilan kudeta, yaitu menetralisir angkatan bersejata, menetralisir polisi dan kekuatan paramiliter, mengontrol media masa dan telekomunikasi, menetralisir aktor politik dan pusat kekuatan, mengontrol jalan masuk dan keluar ibu kota, dan

153 Ömer Aslan, Op. Cit, hal. 10.

juga mengontrol bandara dan fasilitas umum.154 Dalam kasus kudeta di Turki tahun 2016 lalu, beberapa hal lalai dilakukan oleh komplotan kudeta yang akhirnya berkontribusi pada kegagalan kudeta, diantaranya komplotan kudeta Turki gagal dalam menetralisir aktor politik dan mengontrol media massa dan telekomunikasi.

Dua tokoh politik penting Turki, Presiden Erdogan dan Perdana Menteri Yildirim gagal ditangkap oleh komplotan kudeta. Regu pembunuh di Çiğli yang seharusnya menculik Presiden yang sedang berlibur di Marmaris terlambat datang. Rencana pembunuhan dua pemimpin Turki, Presiden Erdogan dan Perdana Menteri Yildirim gagal secara mengejutkan. Erdogan berhasil meninggalkan hotel tempat ia menginap hanya selisih hitungan menit dengan kedatangan komplotan kudeta. Erdogan sendiri dengan tegas menyatakan jika 10-15 menit saja ia masih di sana mungkin dirinya tidak akan selamat. Hal yang sama juga terjadi pada diri perdana menteri Binali Yıldırım. Pasukan kudeta sebenarnya telah melancarkan serangan tepat pada kantornya di parlemen Turki. Akan tetapi uniknya sang perdana menteri ternyata sedang berlibur sehingga lolos dari serangan. Beberapa oknum mengatakan bahwa sebelumnya kedua tokoh penting negara ini telah mengetahui kudeta yang akan dilancarkan, namun di berbagai kesempatan Erdogan bersikeras menampik hal tersebut. 155

Kegagalan penangkapan tokoh-tokoh pemerintahan tersebut menjadi alasan penting lainnya yang menjelaskan kegagalan kudeta. Penangkapan tokoh-tokoh pemerintahan yang akan dilengserkan penting dilakukan dengan segera agar orang tersebut tidak memiliki kesempatan untuk mengambil tindakan untuk

154 Karim El Bazz, Op. Cit, hal. 15-16.

155 Nuruddin Al Akbar, Op. Cit, hal. 57.

menggagalkan kudeta. Pastinya, para dalang kudeta telah berencana untuk menyerang presiden, perdana menteri dan kepala intelijen Turki, tetapi karena upaya kudeta dilaksanakan lebih awal dari yang direncanakan, mereka gagal melakukannya. Akibatnya, beberapa jam setelah kudeta dimulai tokoh-tokoh penting seperti Ketua Parlemen, İsmail Kahraman, lima menteri kabinet, anggota senior Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang berkuasa, dan pegawai negeri sipil berkumpul di kompleks pemerintah di distrik Çankaya di Ankara untuk mendirikan 'Pusat Koordinasi'. Perdana Menteri Binali Yıldırım berada di Istanbul ketika pemberontakan dimulai: dia pergi dengan mobil ke Ankara, tetapi terpaksa berhenti di tengah jalan oleh polisi pemberontak. Namun, dia tetap berhubungan dengan Çankaya melalui telepon. Kegagalan penangkapan tokoh penting ini menjadi peluang bagi mereka untuk melawan, menggerakkan massa dan menggagalkan upaya kudeta.

Hal lainnya yang menyebabkan kegagalan adalah penguasaan media dan telekomunikasi, dimana media yang dimaksud tidak hanya mencakup televisi nasional dan stasiun radio, tetapi juga media sosial dan satelit telepon. Dalam setiap kudeta, kontrol atas media adalah hal yang penting, karena para pemimpin kudeta perlu menciptakan kesan yang jelas bahwa mereka telah sukses memenangkan kudeta. Seperti yang dijelaskan Naunihal Singh ketika diwawancarai setelah kudeta Turki yang gagal, hasilnya ditentukan oleh kegagalan pemberontak untuk melakukannya. Kemampuan untuk membentuk persepsi bahwa kudeta yang sedang dilancarkan sukses, seringkali dilakukan melalui media, karena itu penguasaan media sangat penting dalam kudeta. Pada dasarnya, jika orang berpikir kudeta akan berhasil, mereka biasanya bergabung

dengan pihak pelaksana kudeta karena mereka tidak ingin berada di pihak yang salah.156 Selain itu peguasaan media juga aka mecegah pemeritah yang dikudeta atau penentang kudeta lainnya untuk mecari dukungan melawan kudeta.

Sejak 1950-an, radio adalah cara yang paling umum dalam komunikasi di Turki, dan kudeta berarti mengambil alih kendali stasiun radio dan membaca memorandum kudeta.157 Karena itu cukup bagi para komplotan kudeta pada tahun 1960 untuk mengirim seorang kapten dengan dua prajurit ke stasiun radio di Ankara dan beri tahu beberapa lusin tentara yang bertugas di sana yang mereka bawa melalui radio. Hanya itu yang diperlukan untuk memperolehnya kontrol media penyiaran di seluruh negeri. Ketika Kolonel Aydemir gagal dua kali untuk melakukan upaya kudeta balasan pada tahun 1962 dan 1963, satu-satunya alasannya kegagalan dalam upaya keduanya adalah ketidakmampuannya untuk mengontrol radio. Dia berkata dalam bukunya Memoar bahwa “Saya kemudian mengerti betapa kuatnya senjata radio itu sendiri. Dulu satu-satunya alasan kekalahan kami”. Hingga tahun 1980, perkembangan media di Turki tidak terlalu ada perubahan, sampai saat kudeta 1980. Meskipun TV sudah memasuki beberapa rumah pada saat itu, namun penggunaan TV masih dibilang sangat terbatas, pula hanya satu saluran TV yang tersedia yaitu, TRT. Ini mencegah orang untuk mendapatkan informasi yang luas.158

Namun hal tersebut sudah berubah dalam tahun-tahun belakangan. Radio tidak menjadi satu-satunya media komunikasi, hampir tidak ada rumah yang tidak memiliki televisi, dengan beragam saluran. Bahkan, selain televisi ada media lain

156 William Hale, Op. Cit, hal. 29.

157 Ömer Aslan, Op. Cit, hal. 13.

158 Ibid.

yang lebih cepat dan berpengaruh, yaitu media sosial/internet. Para komplotan kudeta tampaknya bukannya tidak menyadari pentingnya media sosial, karena faktanya mereka mengandalkan berbagai platform media sosial untuk mendukung operasi mereka sendiri juga mengambil alih saluran TV nasional, walau akhirnya gagal untuk mempengaruhi dan memobilasasi masyarakat.

Mungkin jika saja kelompok pelaku kudeta memulai upaya kudeta pada pukul 3 pagi, mereka bisa menguasai sebagian besar Media Turki. Namun, begitu rencana mereka diganggu oleh pasukan intelijen yang tidak berhasil mereka lumpuhkan terlebih dahulu. Mereka kemudian memiliki sedikit kesempatan untuk meyakinkan masyarakat bahwa militer telah sukses melaksanakan kudeta, memiliki dukungan dari hampir semua orang di militer dan bahwa setiap kemungkinan resistensi kecil, yang mana merupakan sebuah faktor yang sangat penting untuk keberhasilan kudeta. Ini menjelaskan mengapa mereka pertama kali menyerang TRT dengan panik, saluran publik, lalu CNN Turki, saluran pribadi.

Ketika itu juga gagal, mereka menyerang kompleks TURKSAT, yang merupakan operator satelit penyiaran Turki, dalam upaya untuk menghapus seluruh jaringan satelit. Namun, mereka tidak berhasil menguasai semua media. Salah satunya studio CNN Turki di Ankara tidak berada di tangan para komplotan kudeta.

Kesalahan ini kemudian digunakan oleh Presiden Erdogan untuk berbicara kepada rakyat melalui Face Time, pemerintah juga menggunakan Twitter untuk tetap berkomunikasi dengan masyarakat Turki. Media sosial menjadi alat di tangan orang-orang Turki yang menggunakan Twitter dan Facebook untuk berbagi informasi dan memobilisasi. 159 Juga pada pukul 23.05, perdana menteri sempat

159 Ibid.

memberikan wawancara telepon dengan penyiar nasional NTV di mana ia menggambarkan tindakan tersebut sebagai 'kebangkitan' daripada kudeta, dan menjelaskan bahwa pemerintah akan menolaknya.

Kondisi-kodisi tersebut jelas menggambarkan bahwa kudeta telah gagal.

Karena kegagalan menangkap Erdogan, Yildirim, dan tokoh-tokoh lainnya menjadi kesempatan bagi mereka untuk menyatakan perlawanan, mencari dukungan dan melumpuhkan komplotan kudeta. Ini di dukung pula dengan kegagalan menguasai media dan alat komunikasi yang justru menjadi media untuk menggerakkan perlawanan. Selain kedua hal tersebut komplotan kudeta juga gagal mengontrol bandara dan fasilitas umum, ini dibuktikan dengan masih dapatnya Erdogan menyelamatkan diri dari Marmaris ke Istanbul.

3.4 Kudeta tidak Mendapat Dukungan Sipil

Selain hal-hal diatas, hal terpenting dan paling berpengaruh yang menjadi faktor penyebab gagalnya kudeta militer di Turki pada tahun 2016 lalu adalah fakta bahwa rakyat sipil Turki kali ini tidak memeberikan dukungannya bagi kudeta. Seperti sudah dibahas pada bagian sebelumnya, pasca berkhirnya pemerintahan Ataturk, sejumlah upaya kudeta telah dilancarkan oleh militer bagi pemerintahan yang dianggap bertentangan dengan prinsip-prinsip sekuler Ataturk atau yang lebih akrab dikenal dengan prinsip Kemalisme. Angkatan bersenjata Turki selama bertahun-tahun telah memainkan peran sebagai penjaga prinsip tersebut dan rakyat Turki berdiri berdampingan dengan militer Turki dalam hal

tersebut. Fenomena ini sesuai dengan teori yang disampaikan oleh Huntington yang menyatakan bahwa pada negara berdemokrasi dan negara yang dalam proses pembangunan demokrasi, militer merasa memiliki hak untuk mengatur negara secara internal selain juga melindungi warga negara. Turki yang baru beralih dari kekaisaran kepada negara republik membuat tumbuhnya rasa ingin melindungi ideologi negaranya di dalam diri militer. Kudeta-kudeta yang berhasil di masa-masa sebelumnya tidak terlepas dari dukungan masyarakat sipil akan kudeta tersebut. Dukungan rakyat untuk pelaksana kudeta dianggap sebagai prasyarat untuk kudeta yang berhasil.160

Dapat dikatakan bahwa selama periode 37 tahun belakangan, Turki mengalami lima kudeta dan satu kudeta semu. Dari jumlah tersebut, dua kudeta, gagal: sisanya dapat dikatakan berhasil. Kudeta yang pertama adalah contoh langka dari kudeta pengambilalihan yang diperebutkan; yang keempat adalah kudeta 'pemindahan' atau 'veto' yang sebagian diperebutkan, sedangkan yang kelima adalah pengambilalihan yang tidak terbantahkan secara langsung. Dalam perspektif internasional, pengalaman Turki memiliki kesejajaran dengan pengalaman negara-negara lain, namun memiliki perbedaan dalam dua hal, yaitu pertama, bahwa tidak ada intervensi yang berasal dari bawah hierarki militer, dan, kedua, semuanya memiliki penjaga hasil daripada penguasa.161 Artinya militer Turki tidak mencoba menduduki pemerintahan saat mereka berhasil melengserkan pemerintahan yang ada, militer Turki tetap menyerahkan bagian tersebut kepada sipil sementara militer tetap menjadi penjaga di belakang pemerintahan.

160 William Hale, Op.Cit, hal. 28.

161 Ibid, hal. 21.

Pada kudeta tahun 2016 masyarakat Turki sepakat untuk tidak berdiri di sisi militer pro kudeta. Namun bukan hanya tidak mendukung militer, lebih lagi warga sipil justru bersatu melawan kudeta tersebut. Jutaan rakyat turun ke jalan untuk memprotes dan melawan kudeta tanpa mempedulikan keselamatan, ide politik atau gaya hidup mereka.162 Ini merupakan pertama kalinya rakyat turut aktif dalam menentang kudeta di Turki. Seperti telah dikatakan sebelumnya, Presiden Erdogan melalui panggilan video menyerukan kepada rakyat Turki untuk turun ke jalan melawan kudeta. Recep Tayyip Erdoğan dan Perdana Menteri Binali Yıldırım memutuskan untuk melawan kudeta meskipun itu akan mengorbankan nyawa mereka. Ini berarti mereka menambahkan sesuatu yang belum pernah terlihat sebelumnya di setiap upaya kudeta Turki, yaitu perlawanan dan pembalasan para pemimpin politik. yang menjadi faktor terpenting dalam mengalahkan kudeta. Bahkan bukan hanya Presiden dan Perdana Menteri, para pemimpin partai oposisi juga menyerukan penentangan mereka atas kudeta yang sedang berlangsung. 163 Kerumunan pendukung dari semua partai utama, seperti Partai Rakyat Republik (CHP) dan Partai Demokrasi Rakyat (HDP) pro Kurdi, yang mana sebenarnya bukan merupakan pendukung pemerintah AKP, namun pada peristiwa itu semua bersatu menentang penyerang. Mayoritas pemimpin partai oposisi sama-sama mengeluarkan kecaman tegas atas percobaan kudeta.164

Saat komplotan kudeta beraksi, seharusnya warga sipil akan dinetralkan melalui jam malam dan larangan aktif pertemuan publik selama kudeta berlangsung oleh pelaku kudeta, karena perlawanan publik perlu dihindari dengan

162 Muhittin Ataman, Op. Cit, hal. 31.

163 Ibid, hal. 45-46.

164 William Hale, Op. Cit, hal. 22.

segala cara. Upaya kudeta yang bisa ditentang oleh orang-orang di jalanan dapat memicu perang saudara yang ganas, hasil yang umumnya paling ditakuti oleh para komplotan kudeta.165 Inilah yang terjadi pada kudeta Turki 2016 silam, kekurangan kekuatan dan kelalaian dalam menangkap kepala pemerintahan dan juga gagal mengendalikan media membuat komplotan kudeta tidak berhasil menetralkan dan memobilisasi masyarakat sehingga protes publik yang meluas dan terjadi perlawanan keras terhadap komplotan kudeta oleh sebagian besar pasukan polisi dan tentara juga rakyat. Ini juga kemudian berdampak pada banyaknya korban, khususnya dari masyarakat sipil akibat serangan pemberontak, dimana seharusnya membatasi pertumpahan darah dipandang merupakan syarat penting untuk kudeta yang berhasil, karena korban yang tinggi berisiko mengarah ke perang saudara.166 Masyarakat Turki benar-benar berusaha keras memprotes dan menghentikan kudeta tahun 2016 di Turki hingga para pemrotes benar-benar berhasil membuat pemberontak menyerah.

Apa yang mendorong rakyat Turki untuk melawan kelompok militer pro kudeta dan berdiri di sisi pemerintah? Dari berbagai literatur yang ada, yang mengorek kudeta militer Turki pada tahun 2016, di dapati setidaknya tiga hal yang menjadi alasan bagi rakyat Turki untuk melawan kudeta bersama pemerintah, yaitu pertama karena kudeta tersebut bukan dilakukan oleh seluruh militer Turki (terutama sebagai penjaga prinsip Kemalisme) melainkan sekelompok organisasi di dalam tubuh militer. Kedua, rakyat Turki memiliki kepercayaan terhadap pemerintahan erdogan, dan yang ketiga rakyat Turki sudah lelah dengan bebagai upaya kudeta yang terus terjadi semenjak berdirinya negara Turki.

165 Ömer Aslan, Op. Cit, hal. 10.

166 William Hale, Op. Cit, hal 29.

Alasan pertama yang membuat rakyat Turki menentang kudeta tahun 2016 di Turki adalah karena kudeta tersebut dilakukan oleh sekelompok organisasi di tubuh militer dan bukan oleh keseluruhan angkatan bersenjata Turki. Hal ini jelas menunjukkan bahwa kudeta yang terjadi cenderung dilakukan untuk kepentingan organisasi dan bukan kepentingan negara. Sebenarnya hal ini dapat terjadi di upaya kudeta mana pun, mengingat teori yang menyatakan bahwa salah satu penyebab terjadinya kudeta adalah adanya kepentingan politis dari korporat militer sendiri,167 sehingga militer melancarkan kudeta dan memobilisasi rakyat.

Namun pada upaya kudeta tahun 2016 tersebut, militer gagal memobilisasi rakyat dan bahkan gagal menyatukan suara di tubuh militer sendiri.

Faktor selanjutnya yang mendorong rakyat Turki untuk melawan kudeta adalah kepercayaan rakyat terhadap pemerintahan Erdogan dan partai AKP.

Sampai tahun 2001, kondisi ekonomi Turki menyusut sangat buruk hingga 9,5 persen, nilai mata uang Turki jatuh, dan sektor perbankan hancur. Setelah kemenangannya pada tahun 2002, Partai AKP membuktikan efektivitasnya dengan meningkatkan stabilitas perekonomianTurki dan melonjak pada kuartal 2016 dengan kecepatan sebesar 4.8% mengalahkan Inggris Raya dan Swedia.

Karena pencapaian tersebut rakyat Turki menaruh kepercayaan untuk diperintah di bawah partai AKP.168 Selama pemerintahannya, Erdogan telah berhasil menciptakan ekonomi yang kuat dan membangun basis dukungan yang kuat dengan berinvestasi dalam perawatan kesehatan, pendidikan dan infrastruktur di

167 Eric A. Nordlinger, Op. Cit, hal. 124.

168 Baiquni. Op.Cit, hal. 697.

Turki.169 Sebagaimana yang dikatakan oleh Huntington bahwa tingkat konflik sipil dan militer ditentukan dari intensitas kebutuhan keamanan, dinamika sosial dan kekuatan pola yang berkembang. 170 Dalam suatu pemerintahan yang keadaan ekonominya baik adalah suatu kritera prestasi yang sangat penting, Laju ekonomi yang rendah akan memicu timbulnya kegaduhan pada masyarakat yang berpengaruh pada negara secara langsung. Kemunduran ekonomi yang dikelola pemerintah semakin menambah perasaan tidak hormat militer terhadap pemerintah, memeperkuat anggapan para perwira profesional dapat berperan sebagai pembuat keputusan yang berhubungan dengan keputusan ekonomi guna mempertahankan kepentingan masyarakat dan negara.171 Karena itu, jika rakyat merasakan stabilitas dan keamanan dalam kehidupan bernegaranya makan tidak ada alasan bagi mereka untuk mendukung upaya kudeta. Keadaan ini juga sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Michael C. Desch yang mengatakan bahwa jika ancaman internal dari suatu negara rendah, maka kontrol sipil akan semakin kuat.

Kepercayaan rakyat terhadap Erdogan ini juga setidaknya terbukti melalui pemilihan presiden pada waktu yang kemudian (2018), dimana petahana Presiden Erdogan kembali terpilih untuk menduduki kursi presiden Turki. Turki pada tahun 2016 cukup berbeda. Tayyip Erdoğan telah menunjukkan tanda-tanda yang jelas untuk meninggalkan nilai-nilai dan praktik demokrasi, tetapi ia mempertahankan popularitas yang luas, berkat sikap hawkishnya dalam kebijakan luar negeri dan

169 Turkey election: Erdogan wins re-election as president, [Berita Online BBC News Europe 25 Juni 2018)], tersedia di situs https://www.bbc.com/news/world-europe-44596072, diakses pada tanggal 21 Desember 2020, pukul 15.35 WIB.

170Ulta Levenia, Op.Cit, hal. 8.

171Ibid, hal. 129-130.

masalah Kurdi, serta kebijakan ekonomi pemerintahnya yang sukses selama bertahun-tahun.172

Ketiga, rakyat Turki tampaknya lelah terhadap kudeta yang sudah beberapa kali terjadi sejak terbentuknya negara Turki. Karena belajar dari pengalaman masa lalu, pasca kudeta selalu menimbulkan ketidakstabilan politik dan ekonomi,karena itu melihat kesempatan untuk melawan kudeta (teutama setelah dorongan dari Presiden Erdogan) rakyat Turki memilih untuk menentang kudeta tersebut.

Itulah hal-hal yang menjadi faktor penyebab gagalnya kudeta Turki tahun 2016. Walau kudeta tersebut singkat, namun upaya kudeta tersebut memuat hal baru di dalam hubungan sipil militer Turki. Fakta bahwa sebagian militer Turki (di luar dari yang termasuk ke dalam kelompok FETO) tidak mendukung upaya kudeta secara tersirat menyatakan bahwa militer dan sipil di Turki tidak selalu berada dalam kondisi bersitegang. Selain itu, upaya kudeta tersebut telah menunjukkan bahwa dukungan sipil, baik masyarakat hingga aktor politik menjadi hal yang penting bagi keutuhan suatu negara.

172 Wlliam Hale, Op.Cit, hal. 28.

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Hubungan sipil dan militer yang terjalin di setiap negara berbeda-beda polanya, ada yang haromonis, kurang harmonis bahkan sama sekali tidak harmonis. Dalam kasus Turki sendiri, pasca pemerintahan Mustafa Kemal Ataturk, hubungan antara sipil dengan militer di Turki dapat dikatakan kurang harmonis. Hubungan antara kedua komponen penting negara ini hampir selalu berada dalam suasana ketegangan. Pemerintah yang menjabat hampir tak pernah bisa lepas dari bayang-bayang dan pengawasan militer.

Republik Turki sebelumnya merupakan suatu kesultanan Islam besar yang berdiri selama sekitar 625 tahun, bernama Kesultanan Utsmani atau juga dikenal dengan Kerajaan Ottoman yang namanya diambil dari Sultan pertamanya, yaitu Usman. Di akhir Perang Dunia I, Kesultanan Utsmaniyah mencapai titik terlemahnya, kesultanan dipaksa untuk menandatangani Gencatan Senjata Mondros pada tanggal 30 Oktober 1918 yang mengharuskan Kekaisaran Ottoman diduduki oleh Inggris, Prancis, Rusia, dan Yunani. Dalam masa tersebutlah, perlawanan nasional muncul, yang dipimpin oleh Mustafa Kemal, yang kemudian lebih akrab disebut sebagai Ataturk (Bapa bangsa Turki). Ataturk yang merupakan seorang dari kemiliteran, bersama dengan rekan-rekan militernya, melakukan perlawanan terhadap penjajahan yang akirnya memperoleh kemenangan. Setelah berhasil merebut kekuasaan, Ataturk diangkat sebagai pemimpin negara, ia

kemudian menjadikan negaranya menjadi bentuk republik dengan nama Turki, sesuai dengan nama mayoritas bangsa yang menempati negara itu.

Selama masa pemerintahannya, Ataturk merubah banyak hal di dalam pemerintahan dan kenegaraan. Hal paling besar dan berdampak adalah merubah negara yang sebelumnya merupakan Kesultanan Islam, menjadi negara sekuler dimana agama tidak diizinkan mencampuri pemerintahan. Ataturk cukup keras terhadap sekularisme, selain pelarangan hal-hal berbau agama di dalam pemerintahannya, Ia juga menghapuskan pendidikan agama, pelarangan penggunaan aksesoris keagamaan dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan agama dilarang secara umum. Ataturk menyatakan bahwa sekularisme yang diterapkannya untuk Turki merupakan suatu langkah untuk memajukan negaranya, Ataturk memiliki keinginan untuk me-westernisasi Turki. Dalam hal pengawasan, militer sangat dipercaya oleh pemerintahan Ataturk untuk melakukannya. Inilah yang kemudian menjadi hal yang tampaknya mendarah daging di kemiliteran Turki. Setelah berakhirnya pemerintahan Ataturk, militer Turki tetap menjaga perannya sebagai pengawas pemerintahan. Militer memastikan agar pemerintahan Turki tidak menyimpang dari nilai-nilai sekularisme. Setiap kali ada penyimpangan, militer tak segan untuk mengambil tindakan keras, salah satunya kudeta.

Paca pemerintahan Ataturk, hingga saat ini, setidaknya sudah ada 5 kudeta yang pernah dilancarkan militer Turki terhadap pemerintahan sipil. Semua alasannya adalah karena pemerintahan dinilai tidak sesuai dengan prinsip sekularisme Ataturk. Sebelum kudeta yang dilancarkan pada 15 juli 2016 lalu, kudeta terakhir adalah pada tahun 1997 yang menghasilkan pelengseran perdana

menteri Necmetin Erbakan. Setelah kudeta tersebut, keadaan politik Turki hampir menuju posisi aman, tepatnya setelah berkuasanya Partai AKP. Partai AKP yang berhasil memajukan ekonomi negara memperoleh kepercayaan masyarakat Turki.

Terutama setelah Erdogan menjabat, beberapa pengamat melihat bahwa Erdogan berhasil melemahkan pengaruh militer Turki di dalam pemerintahan.

Namun ternyata keadaan aman tidak berlangsung terlalu lama, pada Juli 2016 lalu percobaan kudeta kembali terjadi. Kudeta ini dilakukan oleh sejumlah orang di dalam tubuh militer, yang kemudian dibuktikan bahwa orang-orang tersebut adalah anggota organisasi Gulen yang diketuai oleh mantan ulama besar Turki, Fetulah Gulen. Kudeta ini berlangsung kurang dari 1 hari, menelan korban cukup banyak, 90 tewas dan 1.154 terluka, sebelum akhirnya behasil digagalkan.

Penelitian ini mencoba mencoba untuk menganalisis hal-hal yang menjadi penyebab gagalnya kudeta di Turki pada tahun 2016. Hasil analaisis mendapati bahwa setidaknya ada tiga hal yang menjadi penyebab gagalnya kudeta Turki.

Pertama, kudeta yang terjadi tidak di dukung oleh seluruh militer Turki.

Pertama, kudeta yang terjadi tidak di dukung oleh seluruh militer Turki.

Dokumen terkait