III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1.3 Uji in vivo
3.1.3.1 Kelangsungan hidup
Kelangsungan hidup ikan dihitung pada akhir pengamatan setelah ikan diinfeksi A. hydrophila. Kelangsungan hidup ikan pada akhir perlakuan dapat dilihat pada Gambar 5.
0 20 40 60 80 100 120 K- K+ A B C Ke langsungan Hidup (%) Perlakuan 93,33±11,54% 73,33±30,55% 100±0,00% 26,67±11,54% 26,67±11,54% Series1
Keterangan: K- = kontrol negatif, K+= kontrol positif, A = 21 hari, B = 14 hari, C = 7 hari
Gambar 5. Kelangsungan hidup ikan lele pada akhir perlakuan.
Kelangsungan hidup paling tinggi adalah perlakuan K- sebesar 100±0,00%. Sedangkan kelangsungan hidup terendah adalah perlakuan K+ dan perlakuan C (7 hari) sebesar 26,67±11,54%.
0 1 2 3 4 5 6 7 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Jumlah Kematian Ikan
(ekor) Hari ke K+ A B C
Keterangan: K+ = kontrol positif, A = 21 hari, B = 14 hari, C = 7 hari
Gambar 6. Jumlah kematian ikan per hari pasca infeksi.
Kematian ikan mulai terjadi pada hari pertama pasca infeksi, yaitu pada ikan uji perlakuan B sebanyak 3 ekor dan perlakuan C sebanyak 1 ekor. Kematian
tertinggi terjadi pada perlakuan C sebanyak 6 ekor pada hari ke-2. Setelah hari ke 7 hingga hari terakhir pengamatan tidak terjadi kematian ikan.
3.1.3.2 Respons makan
Respons makan ikan diamati sebelum dan sesudah infeksi. Respons makan ikan sebelum infeksi diamati selama 21 hari. Nafsu makan ikan mengalami penurunan ketika ikan diberi pakan uji. Rata-rata ikan perlakuan A, B dan C memerlukan waktu 3-4 hari untuk dapat beradaptasi terhadap pergantian pakan dari pakan komersil ke pakan uji. Setelah beradaptasi, ikan perlakuan A, B, dan C dapat merespons dengan baik pakan yang diberikan. Setelah infeksi, pengamatan respons makan ikan dilakukan selama 10 hari. Respons makan ikan meningkat seiring bertambahnya hari pasca infeksi. Jumlah pakan yang dihabiskan sebelum dan sesudah infeksi pada setiap perlakuan, dan parameter uji lainnya, yaitu kelangsungan hidup dan pertumbuhan relatif dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1. Parameter uji sebelum dan sesudah infeksi
Parameter Uji
Lama pemberian pakan fitofarmaka (meniran + bawang putih) Kontrol +
(0 hari) Kontrol – (0 hari) (21 hari) A (14 hari) B (7 hari) C
Sebelum infeksi
Konsumsi pakan total (g) 38,61±2,00bc 39,59±0,64c 36,80±0,88abc 35,07±2,35a 35,89±1.86ab
Pertumbuhan relatif (%) 27,43±2,06b 26,80±2,51b 24,69±3.02ab 21,93±0,74a 22,75±0,83a Kelangsungan hidup (%) 100±0,00 100±0,00 100±0,00 100±0,00 100±0,00 Sesudah infeksi Konsumsi pakan (g/hari/ekor) 0,22±0,02 0,45±0,01 0,31±0,01 0,20±0,05 0,18±0,01 Kelangsungan hidup (%) 26,67±11,54 100±0,00 93,33±11,54 73,33±30,55 26,67±11,54 3.1.3.3 Pertumbuhan relatif
Berdasarkan hasil uji statistik, pertumbuhan relatif ikan pada perlakuan B (14 hari) dan C (7 hari) berbeda nyata dengan perlakuan K+ dan K-.Pertumbuhan relatif ikan pada setiap perlakuan dapat dilihat pada Tabel 1 dan Gambar 7. Hasil uji statistik disajikan di Lampiran 3.
0 5 10 15 20 25 30 35 40 K+ K‐ A B C P er tumbuhan Re latif (%) Perlakuan a a b b ab Pertumbuhan Relatif
Keterangan: K- = kontrol negatif, K+= kontrol positif, A = 21 hari, B = 14 hari, C = 7 hari
Gambar 7. Pertumbuhan relatif ikan lele selama 21 hari sebelum infeksi.
3.1.3.4 Gejala klinis dan penyembuhan luka
Pengamatan gejala klinis pada ikan yang sudah diinfeksi A. hydrophila dilakukan selama 10 hari pasca infeksi. Gejala klinis yang diamati meliputi hiperemia, radang, haemoragi, tukak, kelengkapan dan kondisi sirip (Gambar 9-14). Secara umum gejala klinis berupa radang mulai muncul pada jam ke-7 pasca infeksi. Radang pada ikan berubah menjadi haemoragi pada jam ke-24. Beberapa ikan tidak mengalami haemoragi, peradangan langsung berubah menjadi tukak.
Ikan uji perlakuan K+ membentuk radang pada jam ke-7 pasca infeksi. Tiga ekor ikan uji belum menunjukkan gejala klinis pada hari ke-1. Selain radang, pada jam ke-7 juga terlihat ada ikan uji yang mengalami hiperemia. Pada hari ke-2 sudah terbentuk haemoragi dan tukak. Selain itu terdapat ikan uji yang mengalami ekor geripis pada hari ke-2. Ikan yang mengalami hiperemia dan ekor geripis tidak dapat sembuh dan akhirnya mati. Kematian ikan sudah terjadi pada hari ke-2 sebanyak empat ekor (Lampiran 5).
Ikan uji perlakuan A (21 hari) mulai menunjukkan gejala klinis berupa radang jam ke-7 pasca infeksi. Radang yang terbentuk cukup besar. Haemoragi muncul pada jam ke-24, sedangkan tukak sudah mulai muncul pada hari ke-2 pasca infeksi. Pada sebagian kecil ikan uji, radang yang terbentuk sembuh tidak membentuk haemoragi maupun tukak (Lampiran 5).
Pada jam ke-7 pasca infeksi ikan uji perlakuan B (14 hari) sudah menunjukkan gejala klinis berupa radang. Tiga ekor ikan belum menunjukkan
gejala klinis pada jam ke-7. Pada hari ke-1 terbentuk haemoragi pada sebagian ikan. Pada hari ke-1 sudah terjadi kematian ikan sebanyak dua ekor. Tukak mulai terbentuk pada hari ke-2. Pada hari ke-3 satu ekor ikan baru membentuk radang.
Ikan uji perlakuan C (7 hari) menunjukkan gejala klinis berupa radang pada jam ke-7 pasca infeksi. Radang yang terbentuk cukup besar. Pada hari ke-1 radang berubah menjadi haemoragi pada sebagian besar ikan. Sudah terjadi kematian sebanyak satu ekor pada hari ke-1. Pada hari ke-2 kematian yang terjadi meningkat sebanyak 6 ekor. Berbeda dengan perlakuan lainnya, pada perlakuan K- tidak menunjukkan gejala klinis pasca infeksi hingga akhir perlakuan, karena hanya diinjeksi PBS 0,1 ml/ekor (Gambar 8).
Gambar 8. Kondisi ikan perlakuan K-: tidak ada gejala klinis yang muncul.
Gambar 9. Radang muncul pada jam ke-7 pasca infeksi pada ikan perlakuan A ulangan 2 tag C3.
Gambar 10. Haemoragi muncul pada hari ke-1 pasca infeksi pada ikan perlakuan K+ ulangan 3 tag C1.
Gambar 11. Tukak muncul pada hari ke-2 pasca infeksi pada ikan perlakuan B ulangan 3 tag C2.
Gambar 12. Hiperemia muncul pada jam ke-7 pasca infeksi pada ikan perlakuan B ulangan 3 tag C3.
Gambar 13. Sirip punggung rusak pada hari ke-2 pasca infeksi pada ikan perlakuan C ulangan 3 tag pa.
Gambar 14 Sirip ekor geripis pada hari ke-6 pasca infeksi pada ikan perlakuan A ulangan 2 tag C3.
Luka yang terbentuk akibat infeksi A. hydrophila akan mengecil bahkan sembuh. Waktu penyembuhan luka pada setiap ikan berbeda-beda tergantung pada diameter luka awal yang terbentuk dan kekebalan tubuh ikan itu sendiri. Perlakuan K+ ulangan 1 (K+U1) tag pi mengalami penyembuhan luka dalam waktu 10 hari dengan luka maksimal yang terbentuk 1 cm (Gambar 15).
a. Luka hari ke-2 perlakuan K+U1 pi 1 cm.
b. Luka hari ke-4 perlakuan K+U1 pi 0,9 cm
c. Luka hari ke-6 perlakuan K+U1 pi 0,7 cm
d. Luka hari ke-10 perlakuan K+U1 pi 0 cm (masih terlihat bekas luka) Gambar 15. Perubahan diameter luka ikan perlakuan K+U1 pi.
Perlakuan A ulangan 3 (AU3) tag C3 membentuk radang maksimal 1 cm, namun luka maksimal yang terbentuk hanya 0,3 cm. Pada hari ke-8 luka sudah menutup, namun masih meninggalkan bekas luka. Perubahan diameter luka perlakuan A ulangan 3 tag C3 dapat dilihat pada Gambar 16.
a. Radang pada jam ke-7 perlakuan AU3 C3 1 cm.
b. Luka hari ke-2 perlakuan AU3 C3 0,3 cm
c. Luka hari ke-4 perlakuan AU3 C3 0,2 cm
d. Luka hari ke-8 perlakuan AU3 C3 0 cm
Gambar 16. Perubahan diameter luka ikan perlakuan AU3 pi.
Luka maksimal yang terbentuk pada perlakuan B ulangan 1 (BU1) tag pi sebesar 0,8 cm. Luka tersebut sudah mencapai diameter 0,3 cm pada hari ke-8 dan 10 pasca infeksi. Perubahan diameter luka pada perlakuan B ulangan 1 tag pi dapat dilihat pada Gambar 17.
a. Luka hari ke-2 perlakuan BU1 pi 0,8 cm.
b. Luka hari ke-4 perlakuan BU1 pi 0,7 cm.
c. Luka hari ke-6 perlakuan BU1 pi 0,6 cm.
d. Luka hari ke-10 perlakuan BU1 pi 0,3 cm. Gambar 17. Perubahan diameter luka perlakuan BU1 pi.
Perlakuan C ulangan 1 (CU1) tag C2 dengan diameter luka maksimal 0,9 cm menjadi 0 cm namun masih sedikit meninggalkan bekas pada hari ke-10 pasca infeksi A. hydrophila. Perubahan diameter luka pada perlakuan C ulangan 1 tag C2 dapat dilihat pada Gambar 18.
a. Luka hari ke-2 perlakuan CU1 C2 0,9 cm
b. Luka hari ke-4 perlakuan CU1 C2 0,8 cm
c. Luka hari ke-6 perlakuan CU1 C2 0,6 cm
d. Luka hari ke-10 perlakuan CU1 C2 0 cm Gambar 19. Perubahan diameter luka perlakuan CU1 C2.
Perubahan diameter luka merupakan salah satu indikator dari proses penyembuhan luka. Persentase penyembuhan luka dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Persentase penyembuhan luka
Lama pemberian (hari) Penyembuhan luka (%/hari)
A 15,63±2,08 B 16,67±0,00 C 9,93±2,05
K+ 12,43±6,25
3.1.3.5 Pengamatan organ dalam
Pengamatan organ dalam dilakukan pada akhir perlakuan setelah dilakukan pengamatan selama 10 hari. Kondisi organ dalam perlakuan K- terlihat normal dengan warna hati merah kecoklatan, empedu hijau kekuningan, limpa merah kehitaman dan ginjal merah tua. Perlakuan K+ memiliki warna hati dan ginjal yang berbeda dengan K- yaitu, warna hati dan ginjal merah pucat. Perlakuan A (21 hari), B (14 hari), dan C (7 hari) memiliki organ dalam yang hampir sama dengan perlakuan K-. Namun, terdapat sedikit perbedaan dengan perlakuan K-, yaitu perlakuan B memiliki warna limpa merah tua, dan perlakuan C memiliki warna ginjal merah pucat. Kondisi organ dalam semua perlakuan pada akhir perlakuan dapat dilihat pada Gambar 19 di bawah ini.
Perlakuan K- Perlakuan K+
Perlakuan A Perlakuan B
Perlakuan C
Gambar 19 Organ dalam ikan lele setiap perlakuan
3.1.3.6 Kualitas air
Pengukuran kualitas air dilakukan pada awal dan akhir perlakuan. Parameter utama yang diukur adalah oksigen terlarut (Disolve Oxygen, DO), suhu, pH, dan TAN (Total Ammonia Nitrogen). Oksigen terlarut pada awal perlakuan sebesar 4,64 ppm, suhu awal sebesar 28oC, pH awal sebesar 7,94 dan TAN awal sebesar 0,159. Kualitas air pada akhir perlakuan dapat dilihat pada Tabel 3 di bawah ini.
Tabel 3. Parameter kualitas air pada akhir perlakuan.
Parameter Perlakuan Kontrol + (0 hari) Kontrol – (0 hari) A (21 hari) B (14 hari) C
(7 hari) Standar Pustaka DO (ppm) 4,47 4,44 4,32 0,62 4,41 >3 Amri dan
Khairuman (2006) pH 6,93 6,95 6,94 6,97 6,82 6,5-9 TAN (ppm) 0,57 0,57 0,53 0,62 0,64 <1 Ilyas et. al.,
(1992) dalam Kurniawan (2010) 23 24 25 26 27 28 29 30 31 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 Suhu ( oC) Hari ke Pagi Siang Sore
Gambar 20. Suhu air selama perlakuan.
Kualitas air selama perlakuan masih sesuai untuk menunjang kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan lele. Kisaran suhu pada pagi hari 25-26 oC, siang hari 27-30 oC, dan sore hari 28-30 oC.
3.2 Pembahasan
Identifikasi terhadap bakteri uji dilakukan untuk memastikan bakteri yang digunakan adalah bakteri A. hydrophila. Hasil pewarnaan Gram dan pengamatan dalam media TSA 1x24 jam menunjukkan bakteri uji memiliki morfologi berbentuk batang pendek, bersifat Gram negatif, warna koloni krem, elevasi
cembung, dan tepian halus. Hasil uji biokimiawi dan fisiologi menunjukkan bakteri bersifat fermentatif, positif terhadap uji motilitas, oksidase dan katalase. Hasil tersebut sesuai dengan Joseph dan Carnahan (1994) dalam Angka (2005) bahwa karakter isolat yang diidentifikasi adalah A. hydrophila.
Sebelum digunakan untuk uji tantang, dilakukan terlebih dahulu Postulat Koch dan Uji LD50. Postulat Koch bertujuan untuk menguji virulensi bakteri uji. Selain itu Postulat Koch juga dilakukan untuk mengidentifikasi bakteri patogen melalui gejala penyakit yang ditimbulkannya (Yulinda et. al, 2010). LD50 adalah jumlah yang diharapkan dapat menyebabkan kematian pada setengah (50%) dari populasi dari beberapa spesies hewan tertentu, ketika memasuki tubuh hewan dengan rute tertentu (EHSC, 2001). Berdasarkan hasil Uji LD50 konsentrasi bakteri A. hydrophila yang digunakan adalah 108 cfu/ml. Dalam kurun waktu 7 hari, konsentrasi 108 mampu mematikan ikan sebanyak 66,67% (Lampiran 1).
Perlakuan K- memiliki nilai kelangsungan hidup sebesar 100±0,00% karena hanya diinjeksi PBS. Perlakuan A (21 hari) 93,3±11,55%, dan perlakuan B (14 hari) 73,33±30,55%. Sedangkan perlakuan K+ dan C (7 hari) memiliki nilai kelangsungan hidup yang sama yaitu, 26,67±11,55%. Hal ini menunjukkan pemberian pakan uji selama 21 hari mampu meningkatkan kelangsungan hidup ikan uji. Pemberian pakan uji selama 21 hari merupakan lama pemberian yang optimum untuk mencegah infeksi A. hydrophila. Tingginya kelangsungan hidup ikan perlakuan A dapat disebabkan meniran dan bawang putih yang tepat dosisnya dalam kombinasi ramuan, adanya efek dari kombinasi bahan yang bersifat saling melengkapi, dan lama pemberian pakan uji yang tepat berefek positif terhadap kelangsungan hidup ikan.
Tingginya kelangsungan hidup pada perlakuan A dapat disebabkan antibakteri pada tubuh ikan bekerja dengan baik melawan bakteri sehingga bakteri tidak mampu berkembang biak. Allicin yang terkandung dalam bawang putih mampu menghambat pertumbuhan atau perkembangbiakkan bakteri A.
hydrophila. Sebagaimana disebutkan oleh Feldberg (1988) aktivitas allicin
berperan sebagai antimikroba dengan menghambat sintesis RNA, meskipun DNA dan sintesis protein juga sebagian terhambat, RNA merupakan target utama
kurang maka sintesis protein akan sangat terpengaruh. Hal ini akan berpengaruh kepada semua tahapan karena tidak adanya messenger RNA, ribosom RNA dan transfer RNA. Jika asam amino dan protein tidak dapat dihasilkan maka pertumbuhan dan perkembangan organisme tidak akan terjadi karena mereka sangat penting untuk semua bagian struktur sel. Efek utama adalah bilayer fosfolipid dari dinding sel tidak dapat terbentuk dengan benar pada kedua bakteri, Gram positif dan Gram negatif. Semua hal yang berkontribusi terhadap bakteri tidak dapat tumbuh dengan adanya allicin (Durairaj et. al, 2009). Bawang putih selain berfungsi sebagai antimikroba juga berfungsi sebagai perangsang kekebalan tubuh, dapat merangsang sistem makrofag, sel darah putih yang menghancurkan organisme asing dan meningkatkan sel helper (Derrida, 2003 dalam Mathew dan Titus, 2009). Mekanisme kerja dari antibakteri dapat dikelompokkan menjadi (1) menghambat sintesis dinding sel bakteri, (2) menghambat keutuhan permeabilitas dinding sel bakteri, (3) menghambat sintesis protein sel bakteri, dan (4) menghambat sintesis asam nukleat (Sufriadi, 2006).
Analisis fitokimia ekstrak meniran menunjukkan adanya alkaloid, saponin, tanin, flavonoid, karbohidrat dan glikosida (Okloi et al., 2009). Flavonoid merupakan senyawa antikanker dan antioksidan sebagaimana disebutkan oleh Arima et al. (2002) flavonoid merupakan metabolit sekunder mengandung banyak quercetin berfungsi sebagai teraputik, khususnya antibakteria, antiradang, antialergi, antiviral, antitumor, dapat menghambat pertumbuhan bakteri pembunuh spora dan menghambat produksi enterotoksin.Meniran dikenal sebagai imunostimulan yang baik. Imunostimulan merupakan senyawa kimia, obat, atau bahan lain yang mampu meningkatkan respons imun spesifik dan non spesifik ikan (Anderson, 1992 dalam Suryati, 2010). Ikan yang diberikan imunostimulan biasanya menunjukkan aktivitas sel fagositik. Imunostimulan meningkatkan daya tahan terhadap penyakit infeksi, bukan karena meningkatnya respons imun spesifik tetapi oleh meningkatnya mekanisme pertahanan non-spesifik (Sakai, 1999 dalam Suryati, 2010).
Kelangsungan hidup pada penelitian ini lebih tinggi dibandingkan dengan penelitian sebelumnya dengan menggunakan bahan fitofarmaka yang sama namun
dengan metode yang berbeda. Hasil penelitian yang sama dengan metode yang berbeda dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil penelitian yang telah dilakukan dengan metode berbeda Bentuk bahan perlakuan Konsentrasi bahan terbaik Metode pemberian Lama pemberian Kelangsungan hidup Pustaka Ekstrak meniran
dan bawang putih 5 ppt meniran, 20 ppt bawang putih Penyuntikkan 14 hari 73,33±11,55% Ayuningtyas (2008) Ekstrak meniran
dan bawang putih 5 ppt meniran, 20 ppt bawang putih
Spray melalui
pakan 14 hari 58,33±21,52% Sholikhah (2009) Tepung meniran
dan bawang putih
2,1% (1:2) Formulasi dalam pakan
14 hari 60±20% Kurniawan (2010) Tepung meniran
dan bawang putih 2,1% (1:2) Formulasi dalam pakan 14 hari 66,67±11,55% Sartika (2011) Tepung meniran
dan bawang putih 2,1% (1:2) Formulasi dalam pakan 21 hari 93,33±11,54% Penelitian ini
Kelangsungan hidup yang tinggi pada penelitian ini dapat disebabkan pemberian pakan mengandung tepung meniran dan bawang putih dalam waktu yang lebih lama yang mengakibatkan jumlah pakan uji yang dimakan oleh ikan lebih banyak. Tingginya jumlah pakan uji berbanding lurus dengan jumlah fitofarmaka (meniran dan bawang putih) yang masuk ke dalam tubuh ikan. Semakin banyak meniran dan bawang putih maka zat antibakteri dan zat aktif lain yang terkandung juga semakin tinggi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Agustina (2011) semakin banyak volume bahan yang digunakan maka antibakteri yang terkandung juga semakin tinggi. Pemberian pakan uji yang cukup lama juga dapat berpengaruh terhadap penyerapan zat aktif terutama antibakteri oleh tubuh lebih banyak sehingga pembentukan kekebalan tubuh ikan lebih maksimal. Namun pemberian pakan uji yang terlalu berlebihan diduga dapat memberikan pengaruh yang negatif karena dapat bersifat toksik dan berbahaya bagi ikan uji. Metode
repelleting yang digunakan pada penelitian ini lebih praktis dan efektif
dibandingkan dengan metode penyuntikkan langsung pada ikan dan metode spray pada pakan. Metode repelleting lebih memudahkan dalam pemberian pakan pada ikan, selain itu pakan dapat disimpan dalam waktu yang relatif lama.
Penelitian yang sama dengan Marwa (2010) yaitu pemberian ekstrak bawang putih dalam pakan untuk mencegah penyakit Koi Herves Virus pada ikan mas dengan lama pemberian yang sama yaitu 21 hari menghasilkan nilai kelangsungan hidup yang tinggi yaitu 91,7%. Hal ini menunjukkan bahwa
pemberian pakan uji selama 21 hari merupakan lama pemberian yang optimum untuk mencegah infeksi A. hydrophila.
Berdasarkan jumlah pakan yang dihabiskan selama perlakuan, perlakuan K- memiliki respons makan terbaik, dengan jumlah pakan yang dihabiskan 39,59±0,64 gram. Jumlah pakan yang dihabiskan pada perlakuan K+ tidak berbeda nyata dengan perlakuan K- yaitu, 38,61±2,00 gram. Perlakuan B (14 hari) memiliki respons makan terendah, dengan jumlah pakan yang dihabiskan 35,07±2,35 gram. Jumlah pakan yang dihabiskan perlakuan A (21 hari) dan C (7 hari), masing-masing 36,80±0,88 dan 35,89±1,86 gram. Berdasarkan hasil uji statistik (Lampiran 2), perlakuan A tidak berbeda nyata dengan semua perlakuan, perlakuan B berbeda nyata dengan perlakuan K- dan K+, dan perlakuan C berbeda nyata dengan perlakuan K-. Jumlah pakan pada perlakuan A, B, dan C tidak berbeda nyata. Hal ini menunjukkan perbedaan lama pemberian tepung meniran dan bawang putih dalam pakan tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap respons makan.
Tingginya jumlah pakan yang dihabiskan perlakuan K+ dan K- disebabkan tidak adanya pemberian pakan mengandung tepung meniran dan bawang putih yang membutuhkan proses pengadaptasian dari ikan yang menyebabkan penurunan respons makan pada saat proses pengadaptasian tersebut. Secara umum pada semua perlakuan mengalami peningkatan respons makan setiap harinya, kecuali pada perlakuan A, B, dan C mengalami penurunan pada saat proses pengadaptasian. Perlakuan A, B, dan C rata-rata membutuhkan waktu 3-4 hari untuk dapat beradaptasi terhadap pergantian pakan dari pakan komersil ke pakan uji. Waktu pengadaptasian yang cukup lama tersebut mengakibatkan penurunan jumlah pakan total selama 21 hari perlakuan.
Respons makan pasca infeksi A. hydrophila juga diamati selama 10 hari. Ikan uji pada semua perlakuan mengalami penurunan nafsu makan pasca infeksi. Penurunan nafsu makan tersebut disebabkan ikan stress akibat handling dan penyuntikkan. Penurunan nafsu makan pada perlakuan pasca infeksi A. hydrophila selain akibat handling dan penyuntikkan juga disebabkan infeksi dari A.
hydrophila. Hal ini sesuai dengan pernyataan Kabata (1985) dalam Abdullah
rendah. Ikan lele perlakuan K- memiliki respons makan terbaik pasca infeksi karena hanya diinjeksi PBS. Ikan perlakuan A memiliki respons makan yang lebih baik pasca infeksi dibandingkan ikan lele perlakuan K+, B, dan C. Hal ini dapat disebabkan penurunan nafsu makan akibat infeksi A. hydrophila tidak terjadi berlarut-larut. Hal tersebut terbukti ikan lele perlakuan A sudah mulai merespons dengan cukup baik pakan yang diberikan pada hari ke-4 (Lampiran 4).
Respons makan yang cukup tinggi pada semua perlakuan berpengaruh terhadap pertumbuhan relatif ikan. Pertumbuhan relatif paling tinggi terdapat pada perlakuan K+ yaitu sebesar 27,43%±2,06%. Hal ini berbanding lurus dengan jumlah pakan yang dihabiskan oleh perlakuan K+ yang tinggi. Pertumbuhan relatif perlakuan K- tidak berbeda nyata dengan perlakuan K+, yaitu 26,80±2,51%. Jumlah pakan uji A, B, dan C yang tidak berbeda nyata diikuti dengan pertumbuhan relatif perlakuan A, B dan C yang tidak berbeda nyata pula. Hal ini menunjukkan perbedaan lama pemberian pakan mengandung tepung meniran dan bawang putih yang berbeda tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap jumlah pakan dan pertumbuhan relatif. Hal ini juga menunjukkan kombinasi pakan komersil dan pakan uji yang berbeda dalam waktu 21 hari pada perlakuan A, B, dan C tidak mempengaruhi secara beda nyata terhadap jumlah pakan dan pertumbuhan relatif. Dapat disimpulkan pakan mengandung tepung meniran dan bawang putih dapat diterima sama baiknya dengan pakan komersil oleh ikan uji perlakuan A, B, dan C.
Perlakuan A memiliki pertumbuhan relatif paling tinggi dibandingkan dengan perlakuan B dan C yaitu sebesar 24,69±3,03%. Tingginya pertumbuhan relatif pada perlakuan A dapat disebabkan jumlah pakan mengandung tepung meniran dan bawang putih yang dikonsumsi lebih banyak karena pemberiannya lebih lama yaitu 21 hari. Hal ini mengakibatkan jumlah meniran dan bawang putih yang terserap oleh tubuh ikan juga lebih banyak. Pemberian pakan mengandung tepung meniran dan bawang putih dapat meningkatkan pertumbuhan karena kandungan zat anti bakteri (allicin) dalam bawang putih dapat melisiskan racun yang menempel pada dinding usus, sehingga penyerapan zat nutrisi menjadi lebih baik (Agustina, 2011). Flavonoid yang terkandung dalam meniran juga diketahui berfungsi sebagai kontrol pertumbuhan (Robinson, 1991 dalam Rahman, 2003).
Mekanisme flavonoid sebagai kontrol hormon pada pertumbuhan diduga berhubungan dengan kemampuannya merangsang kelenjar prosimal pars distalis mensekresi hormon pertumbuhan (somatotropin) (Abdullah, 2008). Menurut Zairin (2003) hormon somatotropin mampu merangsang pertumbuhan dan metabolisme, meningkatkan nafsu makan, mencegah kerusakan hati dan terbukti memiliki sifat imunostimulatori pada sel-sel imuno kompeten serta meningkatkan aktivitas makrofag dan aktivitas hemolitik pada serum ikan.
Uji tantang dilakukan dengan menggunakan bakteri yang sudah dipastikan
A. hydrophila dengan kepadatan yang diperoleh pada uji LD50 yaitu 108 cfu/ml. Uji tantang dilakukan untuk mengetahui pengaruh lama pemberian pakan mengandung tepung meniran dan bawang putih terhadap kelangsungan hidup ikan lele. Setelah dilakukan uji tantang, muncul gejala klinis pada semua ikan uji, kecuali pada perlakuan K- tidak menunjukkan gejala klinis karena hanya diinjeksi PBS 0,1 ml/ekor. Gejala klinis yang muncul yaitu hiperemia di bagian perut, terbentuknya radang, haemoragi, dan tukak pada tempat bekas suntikan, sirip punggung rusak, dan sirip ekor rusak. Selain itu, ikan terlihat lemah dan nafsu makan menurun. Gejala klinis yang muncul tersebut sesuai dengan gejala klinis yang seharusnya muncul pada ikan yang terinfeksi A. hydrophila. Ikan yang terinfeksi A. hydrophila menunjukkan gejala yaitu kematian mendadak pada ikan yang sehat, kurangnya nafsu makan, kelainan berenang, insang pucat, tukak pada kulit (Swann dan White, 1989), ekor atau sirip membusuk, haemoragi (Cipriano, 2001), sirip ekor, dada, dan perut rusak, ikan lemah, dan pada permukaan tubuh terdapat bagian-bagian yang berwarna merah (Maulina et al, 2006).
Hiperemia adalah kenaikkan jumlah darah dari sistem sirkulasi dan timbulnya hiperemia merupakan mekanisme tubuh untuk manambah nutrisi dan oksigen yang dibutuhkan jaringan tubuh bila laju metabolisme meningkat saat tubuh mengadakan perlawanan terhadap antigen yang masuk setelah infeksi (Runnels et al, 1965 dalam Abdullah, 2008). Hiperemia dibagian perut terjadi pada ikan lele perlakuan B ulangan 3 tag C4 pada jam ke-7 pasca infeksi. Gejala klinis berupa radang muncul pada jam ke-7 pasca infeksi A. hydrophila. Haemoragi pada sebagian besar ikan uji terbentuk pada hari ke-1 pasca infeksi. Pada hari ke-1 pasca infeksi sudah terjadi kematian ikan, yaitu perlakuan B