Inhibisi Minyak Biji Kelor Metanol
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
6. Kelarutan dalam Alkohol
Pada penelitian ini minyak bunga melati yang digunakan untuk pengujian kelarutan dalam alkohol adalah sebanyak 1 ml untuk masing-masing sampel. Kemudian banyaknya alkohol yang diperlukan untuk melarutkan minyak bunga melati adalah rata-rata sebanyak 1 ml pula. Artinya nilai kelarutan dalam alkohol minyak bunga melati rata-rata adalah 1:1 seperti yang terlihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Kelarutan Minyak Bunga Melati dalam Menurut Guenther (1987), minyak atsiri yang kaya akan komponen teroksigenasi lebih mudah larut dalam alkohol daripada komponen yang kaya akan terpen. Komponen teroksigenasi merupakan komponen yang penting dalam minyak atsiri karena umumnya aroma yang lebih wangi dan mempunyai kelarutan yang tinggi dalam alkohol encer, serta lebih tahan dan stabil terhadap proses oksidasi dan resinifikasi. Dari hasil pengujuan kelarutan dalam alkohol yang rata-rata bernilai 1:1 menandakan bahwa komponen minyak bunga melati didominasi oleh komponen hidrokarbon teroksigenasi dibandingkan dengan komponen terpen. Semakin kecil kelarutan minyak atsiri dalam alkohol maka kualitas minyak atsiri semakin baik.
Pengaruh Lama Ekstraksi Terhadap Rendemen Dan Mutu Minyak Bunga Melati Putih Menggunakan Metode Ekstraksi minyak bunga melati akan mempengaruhi mutunya, dimana semakin sedikit kadar sisa pelarut yang terdapat pada minyak maka mutunya menjadi lebih baik. Nilai kadar sisa pelarut minyak bunga melati hasil ekstraksi tersaji pada Tabel 3.
Tabel 3.Nilai Kadar Sisa Pelarut Minyak Bunga Melati
Perlakuan Kadar SisaPelarut (%)
8 Jam 28,00
12 Jam 29,33
16 Jam 28,00
Kadar sisa pelarut erat kaitannya dengan rendemen total minyak bunga melati. Apabila rendemen tinggi namun kadar sisa pelarut masih tinggi menandakan tingginya rendemen tersebut karena masih banyaknya pelarut yang tertinggal pada minyak. Guenther (1987) menyatakan bahwa minyak atsiri merupakan campuran yang kompleks, sehingga sulit menentukan dengan pasti sisa pelarut yang tidak menguap. Hal ini karena lilin dan bahan tidak menguap bertitik didih tinggi cenderung mengikat komponen bertitik didih rendah.
Rekapitulasi Hasil Terbaik Berdasarkan Rendemen dan Mutu Minyak Bunga Melati
Perlakuan yang optimal ini dapat diketahui berdasarkan analisis rendemen dan mutu minyak bunga melati yang dihasilkan. Rendemen yang digunakan untuk menentukan hasil minyak bunga melati terbaik adalah rendemen total. Sedangkan parameter mutu yang digunakan untuk menentukan minyak bunga melati terbaik terdiri dari aroma, warna, bobot jenis, indeks bias, bilangan asam, kelarutan dalam alkohol dan kadar sisa pelarut. Rekapitulasi nilai rata-rata rendemen dan mutu minyak bunga melati hasil ekstraksi menggunakan metode pelarut menguap dengan tiga perlakuan yang berbeda tersaji pada Tabel 4.
Tabel 4.Rekapitulasi Hasil Terbaik Minyak Bunga Melati
Parameter Perlakuan
8 Jam 12 Jam 16 Jam Rendemen Total
(%) 0,13 0,15 0,18
Aroma Kesukaan Kurang
Suka Suka Kurang
Keterangan: Warna kuning menunjukkan parameter yang terbaik
Tabel 4 menunjukkan nilai-nilai dari karakteristik fisiko kimia yang diuji pada penelitian ini tiga lama ekstraksi. Perlakuan yang terbaik adalah perlakuan lama ekstraksi 16 jam dengan rendemen tertinggi yaitu 0,18% dengan bobot jenis dan indeks bias tertinggi. Untuk kewangian, perlakuan 8 jam dan 12 jam memiliki aroma yang wangi. bilangan asam yang terbaik adalah perlakuan lama ekstraksi 8 jam.
Dari hasil terbaik tersebut diuji GC-MS.
Menurut Ketaren (1985), minyak atsiri tersusun oleh berbagai komponen senyawa dengan titik didih yang berbeda-beda. Komponen kimia minyak atsiri pada umumnya dibagi menjadi dua golongan yaitu golongan hidrokarbon yang terbentuk dari unsur karbon (C) dan hidrogen (H) dan golongan hidrokarbon teroksigenasi yang terbentuk dari unsur karbon (C), hidrogen (H) dan oksigen (O).Guenther (1987) menyebutkan bahwa golongan hidrokarbon teroksigenasi merupakan senyawa yang penting dalam minyak atsiri karena umumnya beraroma lebih wangi dan mempunyai kelarutan yang tinggi dalam alkohol encer, serta lebih tahan dan stabil terhadap proses oksidasi dan resinifikasi. Sebaliknya, senyawa hidrokarbon lebih
42 Pengaruh Lama Ekstraksi Terhadap Rendemen Dan Mutu Minyak Bunga Melati Putih Menggunakan Metode Ekstraksi Pelarut Menguap (Solvent Extraction)
mudah mengalami proses oksidasi dan resinifikasi di bawah pengaruh cahaya dan udara atau pada kondisi penyimpanan yang kurang baik, sehingga dapat merusak aroma dan menurunkan nilai kelarutan minyak dalam alkohol. Berdasarkan analisis GC-MS, minyak bunga melati dengan perlakuan 16 jam karena perlakuan tersebut yang terbaik berdasarkan hasil penelitian ini mengandung 38 komponen dengan persentase komponen utama dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5.Komponen Minyak Bunga Melati Nama Komponen Rumus
Kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan adalah sebagai berikut : 1) Lama ekstraksi menghasilkan nilai rendemen yang berbeda-beda pada setiap perlakuan dan perlakuan lama ekstraksi 16 jam menghasilkan minyak bunga melati dengan rendemen tertinggi yaitu sebesar 0,18%, lama ekstraksi 12 jam menghasilkan nilai rendemen 0,15%, dan lama ekstraksi 8 jam menghasilkan nilai rendemen 0,13%, 2) Berdasarkan mutu aroma dan warna, perlakuan terbaik adalah perlakuan lama ekstraksi 12 jam, berdasarkan parameter bobot jenis dan parameter indeks bias yang terbaik adalah perlakuan 16 jam dengan nilai bobot jenis 0,8675 dan nilai indeks bias 1,367. Berdasarkan parameter bilangan asam yang terbaik adalah perlakuan lama ekstraksi 8 jam yaitu sebesar 4,3880 mgKOH/g. Nilai kadar sisa pelarut terbaik adalah perlakuan lama ekstraksi 8 jam dam 16 jam sebesar 28%. Sedangkan untuk parameter kelarutan dalam alkohol tidak terdapat perbedaan pada setiap perlakuan dimana nilai kelarutan
dalam alkohol seluruh perlakuan adalah 1:1, 3) Perlakuan lama ekstraksi terbaik berdasarkan rendemen dan mutu adalah perlakuan lama ekstraksi 16 jam dengan komponen minyaknya adalah eicosanol (39,10%) dan linalool (10,94%), pentacosanol (7,20%), farnasense (4,01%), tetracontane (3,58%), ethyl linoleolate (2,76%), dan acetic acid/benzyl acetate (2,02%).
Daftar Pustaka
Armando, R. 2009. Memproduksi 15 Minyak Atsiri Berkualitas. Penebar Swadaya. Jakarta.
Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Hortikultura. 2014. Produksi Tanaman Melati di Indonesia. BPS. Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Hortikultura. Jakarta.
Gritter, R.J., Bobbitt J.M. and A.E. Schwarting.
1991. Pengantar Kromatografi(Penerjemah Kosasih Padmawinata). Edisi 2. ITB. Bandung.
Guenther, E. 1987. Minyak Atsiri Jilid I (Penerjemah S. Ketaren). Penerbit Universitas Indonesia.
Jakarta.
Harborne, J. B. 1996. Metode Fitokimia: Penemuan Cara Modern Menganalisis Tumbuhan.
Penerjemah Padmawinata K dan editor Niksolihin S. Bandung: Penerbit ITB.
Terjemahan dari: Phytochemical Methods.
Hardani, D.A., Nur H., Ika A.D. 2013. Ekstraksi Minyak bunga melati (Jasminum sambac) (Kajian Jenis Pelarut dan Lama Ekstraksi).
Skripsi. FakultasTeknologiPertanian.
UniversitasBrawijaya. Malang.
Irawan, B. 2010. Peningkatan Mutu Minyak Nilam dengan Ekstraksi dan Destilasi pada Berbagai Komposisi Pelarut. Tesis. Teknik Kimia UniversitasDiponegoro. Semarang.
Ketaren, S. 1985. Pengantar Teknologi Atsiri. Balai Pustaka. Jakarta.
Ketaren, S. 1996. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Cetakan Pertama UI-Press.
Jakarta.
Lubis, I. H. 1999. Pengaruh Jenis Lemak dan Frekuensi Pergantian Bunga secara Enflurasi terhadap Rendemen dan Mutu Minyak bunga melati (Jasminum Sambac). Skripsi.
Fakutas Teknologi Pertanian. Institut Pertannian Bogor.
43 Perwati, R. P. 2015. Pengaruh Metode Enfleurasi
dan Metode Ekstraksi Pelarut Menguap (Solvent Extraction) Terhadap Rendemen dan Mutu Minyak bunga melati (Jasminum sambac). Skripsi. Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran.
Sumedang.
Rosmayati, S. 1999. Pengaruh Perbandingan Bunga dengan Pelarut Menguap dan Frekuensi Penggunaan Pelarut untuk Ekstraksi terhadap Rendemen dan Mutu Minyak bunga melati (Jasminum sp.). Skripsi.
Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Sani, N. S., Rachmawati R., dan Mahfud. 2012.
Pengambilan Minyak Atsiri dari Melati
dengan Metode Enfleurasi dan Ekstraksi Pelarut Menguap. Jurnal Teknik Pomits Vol 1.
No. 1:1-4.
Simbolon, R. 2012. Pengaruh Perbedaan Jumlah Imbangan Pelarut dengan Adsorben Terhadap Rendemen dan Mutu Hasil Ekstraksi Minyak Atsiri Bunga Kamboja (Plumeria obtusa) dengan Metode Enfleurasi.
Skripsi. Fakultas Teknologi Industri Pertanian.
Universitas Padjadjaran. Jatinangor.
Suyanti, S., Prabawati, Yulianingsih; Setyadjit; dan Unadi A. 2005. Pengaruh Cara Ekstraksi dan Musim terhadap Rendemen dan Mutu Minyak Bunga Melati. Jurnal Pascapanen 2(1):18-23.
44 Pengaruh Perbandingan Imbangan Bunga dengan Pelarut Terhadap Rendemen dan Mutu Minyak Melati (Jasminum Sambac) Menggunakan Metode Ekstraksi Pelarut Menguap (Solvent Extraction)
PENGARUH PERBANDINGAN IMBANGAN BUNGA DENGAN PELARUT TERHADAP RENDEMEN DAN MUTU MINYAK MELATI
(JASMINUM SAMBAC)MENGGUNAKAN METODE EKSTRAKSI PELARUT MENGUAP (SOLVENT EXTRACTION)
Nur Oktavia Benedicta1), Sudaryanto Zain2), Sarifah Nurjanah2), Asri Widyasanti2), Selly Harnesa Putri2)
1)Alumnus Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Industri Pertanian
2)Staf Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran
Alamat :Pondok Surya Mandala Blok L2 No. 22, RT 012/RW 013, Jakamulya, Bekasi Email :[email protected]
ABSTRAK
Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengekstraksi minyak melati adalah metode ekstraksi pelarut menguap. Berdasarkan beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan, peningkatan perbandingan imbangan bunga dengan pelarut dapat meningkatkan rendemen minyak melati yang dihasilkan namun belum diketahui perbandingan imbangan bunga dengan pelarut yang optimal terhadap rendemen dan mutu minyak melati yang dihasilkan dengan menggunakan metode ekstraksi pelarut menguap. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen laboratorium dengan analisis deskriptif. Perbandingan imbangan bunga dengan pelarut yang digunakan adalah 1:2, 1:3, dan 1:4, masing-masing diulang sebanyak 2 kali. Pada hasil penelitian ini masih belum diketahui perbandingan imbangan bunga dengan pelarut yang optimal terhadap rendemen dan mutu minyak melati. Hasil penelitian menunjukkan nilai rendemen berkisar antara 0,15 – 0,27%. Minyak melati yang dihasilkan berwarna kuning dengan nilai bobot jenis 0,8379 – 0,8805, indeks bias 1,369 – 1,396, bilangan asam 4,4173 – 8,2800 mg KOH/g, kelarutan dalam alkohol 1:1, dan kadar sisa pelarut 26,00 – 40,00%. Perlakuan terbaik adalah perbandingan 1:4 dengan persentase komponen linalool dan benzil asetat masing-masing sebesar 12,94% dan 16,57%.
Kata kunci : perbandingan bunga dengan pelarut, bunga melati, n-heksan.
ABSTRACT
One of the methods that can be used to extract jasmine oil is solvent extraction method. Based on research that has been done, the increase of flower-solvent ratio could increase the yield of jasmine oil produced but the optimum flower-solvent ratio to the yield and quality of jasmine oil using solvent extraction method was not yet known. This research used laboratory experiment method with descriptive analysis. The flower-solvent ratio that used were 1:2, 1:3, and 1:4, repeated 2 times. On this research result, the optimum flower-solvent ratio to the yield and quality of jasmine oil using solvent extraction method still was not known. The results showed the jasmine oil’s yield value was 0.15% – 0.27%. The color of jasmine oil were yellow with the value of specific gravity 0.8379 – 0.8805, refractive index 1.369 – 1.396, acid number 4.4173 – 8.2800 mg KOH/g, solubility in alcohol 1:1, and residual solvent content 26.00% – 40.00%. The best treatment result of this research was ratio 1:4 with the content of linalool and benzyl acetate each 12.94%
and 16.57%.
Keywords : flower-solvent ratio, jasmine flower, n-hexan.
Diterima : 15 September 2016; Disetujui : 28 Oktober 2016 PENDAHULUAN
Melati merupakan salah satu tanaman komoditas bernilai tinggi untuk menghasilkan
minyak atsiri. Minyak atsiri melati dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam berbagai industri, misalnya pada industri kosmetik, sabun, parfum, farmasi dan aroma terapi. Salah satu
Pengaruh Perbandingan Imbangan Bunga dengan Pelarut Terhadap Rendemen dan Mutu Minyak Melati (Jasminum Sambac) Menggunakan Metode Ekstraksi Pelarut Menguap (Solvent Extraction) 45 metode yang dapat digunakan untuk mengekstrak
minyak melati adalah dengan metode pelarut menguap. Teknik ekstraksi pelarut menguap memanfaatkan pelarut mudah menguap untuk memisahkan minyak dari jaringan tumbuhan.
Ekstraksi minyak melati dengan menggunakan pelarut menguap ini termasuk jenis ekstraksi padat-cair (leaching). Pemindahan komponen minyak melati dari dalam bunga melati ke pelarut pada ekstraksi padat-cair berlangsung secara difusi.
Salah satu faktor yang mempengaruhi ekstraksi adalah jumlah pelarut yang digunakan.
Menurut Prabawati (2002), penggunaan lebih banyak pelarut dapat meningkatkan minyak melati yang diperoleh. Pernyataan tersebut dibuktikan oleh hasil penelitiannya dan hasil penelitian Rosmayati (1999) yang menunjukkan bahwa rendemen minyak melati lebih tinggi dengan menggunakan perbandingan bunga dan pelarut sebesar 1:2 daripada 1:1,5. Begitupun halnya pada penelitian ekstraksi minyak mawar yang dilakukan oleh Amiarsi (2006), perbandingan bunga dengan pelarut sebesar 1:3 menghasilkan rendemen tertinggi dibandingkan dengan perbandingan 1:1 dan 1:2. Namun pada ekstraksi minyak melati menggunakan metode ekstraksi pelarut menguap masih belum diketahui perbandingan imbangan bunga dengan pelarut yang optimal untuk menghasilkan rendemen dan mutu minyak melati yang terbaik. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbandingan imbangan bunga dengan pelarut yang optimal dan untuk mengetahui bagaimana pengaruh dari perbandingan imbangan bunga dengan pelarut terhadap rendemen dan mutu minyak melati yang dihasilkan.
METODOLOGI
Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni hingga September 2016 bertempat di Desa Kaliprau Kecamatan Ulujami Kabupaten Pemalang Jawa Tengah, Laboratorium Pasca Panen dan Teknologi Proses, dan Laboratorium Keteknikan Pengolahan Pangan Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran. Bahan penelitian yang digunakan adalah bunga melati
putih (Jasminum sambac) dengan tingkat kemekaran bunga M-1 (kuncup siap mekar) yang dipanen pada pagi hari pukul 06.00 WIB, pelarut n-heksan, etanol 96%, aquades, KOH 0,1 N, dan Fenolftalein (pp). Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan 3 perlakuan yaitu perbandingan imbangan bunga dengan pelarut n-heksan 1:2, 1:3 dan 1:4 (b/b).
Masing-masing perlakuan dilakukan 2 kali ulangan.
Berikut merupakan diagram alir proses ekstraksi dengan metode pelarut menguap.
Cara kerja ekstraksi dengan pelarut menguap ini mengacu pada prosedur Rosmayati (1999) yaitu dengan cara merendam bunga melati dalam pelarut n-heksan selama 12 jam pada suhu ruang. Pelarut akan berdifusi ke dalam bunga melati dan melarutkan minyak bunga melati beserta lilin dan albumin serta zat warna. Larutan tersebut selanjutnya dievaporasi dalam keadaan vakum pada suhu 35 ᵒC untuk dipisahkan n-heksannya. Setelah n-heksan dievaporasi, lilin dan zat semi padat yang dikenal dengan concrete akan tertinggal. Concrete merupakan cairan kental berwarna kuning yang memiliki aroma wangi melati, mengandung minyak atsiri melati dan zat lilin yang ikut terekstrak namun zat lilin tersebut tidak dapat dipisahkan dengan evaporasi. Concrete dilarutkan dengan etanol sehingga senyawa aromatik dapat terekstrak dan menyisakan zat yang tidak larut dalam etanol seperti zat lilin. Lilin dipisahkan dari larutan dengan cara penyaringan.
Kemudian etanol dalam larutan dievaporasi secara vakum pada suhu 40 ᵒC hingga menyisakan absolute. Diagram alir proses ekstraksi tersaji pada Gambar 1.
Variabel yang akan diamati pada penelitian ini meliputi suhu dan kelembaban relatif ruangan, waktu evaporasi vakum, suhu minyak pada pengujian bobot jenis dan indeks bias. Sedangkan parameter yang akan dihitung terdiri dari rendemen parsial dan rendemen total. Adapun parameter mutu minyak melati yang akan dianalisis berupa uji fisiko kimia minyak melati yang terdiri dari warna, aroma, bobot jenis, indeks bias, bilangan asam, kelarutan dalam alkohol, serta kadar sisa pelarut. Pada penelitian ini juga akan dilakukan analisis komponen minyak melati
46 Pengaruh Perbandingan Imbangan Bunga dengan Pelarut Terhadap Rendemen dan Mutu Minyak Melati (Jasminum Sambac) Menggunakan Metode Ekstraksi Pelarut Menguap (Solvent Extraction)
menggunakan instrumen GCMS pada satu sampel terbaik minyak melati.
Gambar 1. Diagram Alir Proses Ekstraksi
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengaruh Perbandingan Imbangan Bunga dengan Pelarut Terhadap Rendemen Minyak Melati
Rendemen total adalah persentase perbandingan massa absolute dengan massa bunga melati. Rendemen total minyak melati hasil
penelitian mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan jumlah pelarut yang digunakan.
Gambar 2 menunjukkan peningkatan nilai rendemen minyak melati
Gambar 2. Grafik Peningkatan Rendemen Minyak Melati
Hasil penelitian ini sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Prabawati (2002), bahwa semakin banyak pelarut yang digunakan maka semakin banyak minyak yang terekstrak. Hal ini disebabkan semakin besarnya rasio pelarut terhadap bunga maka perbedaan konsentrasi antara pelarut dengan komponen yang terkandung di dalam bunga semakin tinggi. Dengan demikian rendemen ekstraksi akan semakin meningkat. Selain itu peningkatan nilai rendemen diduga disebabkan oleh luas kontak bunga melati dengan pelarut. Jayanudin (2014) menambahkan bahwa banyaknya pelarut mempengaruhi luas kontak padatan dengan pelarut, semakin banyak pelarut luas maka kontak akan semakin besar.
Meratanya distribusi pelarut ke padatan akan memperbesar rendemen minyak atsiri yang dihasilkan. Banyaknya pelarut akan mengurangi kejenuhan pelarut, sehingga komponen minyak dalam bunga akan terekstrak secara sempurna.
Banyaknya jumlah pelarut yang digunakan juga berpengaruh terhadap pengadukan yang dilakukan setiap 60 menit. Menumpuknya bunga melati di dalam pelarut pada perlakuan 1:2 menyebabkan pengadukan lebih sulit dilakukan jika dibandingkan dengan perlakuan 1:3 dan 1:4.
Menurut Harborne (1996), salah satu faktor yang mempengaruhi ekstraksi padat cair adalah
0,15
0,19
0,27
0 0,05 0,1 0,15 0,2 0,25 0,3
1:2 1:3 1:4
Rendemen Total (%)
Perbandingan Imbangan Bunga dengan Pelarut (b/b) Bunga Melati
Direndam dalam Pelarut N-Heksan T = 27-30 ᵒC, t = 12 jam
Ampas Bunga Dipisahkan
Evaporasi I T = 35 ᵒC; P = 0,6 – 0,7 Bar
Pencampuran dengan Etanol 96%
Penyaringan untuk memisahkan fraksi lilin
Pendinginan di dalam freezer T = -5 ᵒC; t = 24 jam
Masih ada Fraksi Lilin?
Ekstrait 2
Evaporasi II T = 40 ᵒC; P = 0,6 – 0,7 Bar
Absolute Melati Ekstrait 1
Ya
Tidak
Pengaruh Perbandingan Imbangan Bunga dengan Pelarut Terhadap Rendemen dan Mutu Minyak Melati (Jasminum Sambac) Menggunakan Metode Ekstraksi Pelarut Menguap (Solvent Extraction) 47 pengadukan. Pengadukan bertujuan untuk
mempercepat pelarutan dan ekstraksi minyak dengan cara membentuk suspensi serta melarutkan komponen ke dalam media pelarut.
Semakin tinggi kecepatan putar proses pengadukan, difusi dan kecepatan perpindahan massa dari permukaan bahan ke dalam larutan akan semakin kuat. Pada perlakuan 1:2 kecepatan putar proses pengadukan rendah sehingga difusi dan perpindahan massa berlangsung lambat.
Sedangkan pada perlakuan 1:3 dan 1:4 kecepatan putar pengadukan lebih tinggi sehingga proses difusi dan perpindahan massa berlangsung lebih cepat. Hal tersebut yang diduga menjadi penyebab peningkatan nilai rendemen seiring dengan meningkatnya jumlah pelarut yang digunakan.
Pada penelitian ini perlakuan yang menghasilkan nilai rendemen tertinggi adalah perlakuan perbandingan imbangan bunga dengan pelarut 1:4. Namun perlakuan 1:4 tersebut belum dapat dikatakan perlakuan yang optimal karena belum diketahui bagaimana nilai rendemen minyak melati yang diperoleh apabila perbandingan imbangan bunga dengan pelarut lebih dari 1:4.
Perbandingan 1:4 dapat dikatakan optimal apabila diketahui perbandingan imbangan bunga dengan pelarut di atas 1:4 menghasilkan nilai rendemen yang lebih rendah daripada rendemen dengan perbandingan imbangan bunga dengan pelarut sebesar 1:4.
Pengaruh Perbandingan Imbangan Bunga dengan Pelarut Terhadap Mutu Minyak Melati
1) Aroma
Pengujian aroma dilakukan dengan uji organoleptik secara dua tahap yaitu tahap uji tingkat kesukaan dan tingkat kewangian. Uji tingkat kesukaan dilakukan dengan uji rangking dengan hasil pengujian tertera pada Tabel 1.
Tabel 1. Penilaian Aroma Berdasarkan Rangking Perlakuan Rangking Keterangan
1:2 1 Sangat Suka
1:3 2 Suka
1:4 3 Kurang Suka
Dari Tabel 1 diatas, dapat diketahui bahwa sampel yang paling disukai sampai yang kurang disukai oleh panelis secara berturut-turut adalah sampel minyak melati perlakuan 1:2, 1:3, dan 1:4.
Dari hasil uji rangking tersebut terlihat bahwa semakin banyak pelarut yang digunakan maka panelis semakin kurang menyukai aroma minyak melati yang dihasilkan. Pengujian tingkat kewangian dilakukan dengan cara membandingkan sampel hasil penelitian dengan sampel komersil yang kemudian dikategorikan dalam tingkat kewangian sangat wangi, wangi, agak wangi, kurang wangi, dan tidak wangi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh sampel minyak melati baik hasil peneltian maupun komersil masuk pada kategori wangi seperti yang digambarkan dalam diagram radar di bawah ini.
Gambar 3. Diagram Tingkat Kewangian Minyak Melati
Berdasarkan pengujian aroma dengan organoleptik, semakin banyak jumlah pelarut yang digunakan maka tingkat kesukaan panelis terhadap aroma minyak melati dan tingkat kewangian minyak melati menjadi berkurang. Hal ini diduga karena semakin banyak pelarut yang digunakan maka kadar pelarut dalam minyak masih cukup banyak sehingga aroma wangi melati pada minyak melati menjadi tersamarkan oleh aroma pelarut dalam minyak melati.
2) Warna
Pengujian warna dilakukan dengan menggunakan alat kromameter dengan hasil kuantitatif tertera pada Tabel 2.
0
48 Pengaruh Perbandingan Imbangan Bunga dengan Pelarut Terhadap Rendemen dan Mutu Minyak Melati (Jasminum Sambac) Menggunakan Metode Ekstraksi Pelarut Menguap (Solvent Extraction)
Tabel 2. Nilai Warna Minyak Melati
Perla
Menurut Ketaren (1985), warna minyak melati adalah kuning kecoklatan. Minyak melati hasil penelitian ini berwarna kuning dengan tingkat kecerahan yang tinggi dimana nilai L* berkisar antara 89,41 sampai 96,85. Notasi L* menyatakan kecerahan, bernilai 0 (hitam) sampai 100 (putih).
Notasi a* menyatakan campuran warna merah hijau dimana a* negatif berwarna merah dan a*
positif berwarna hijau. Pada penelitian ini minyak melati yang dihasilkan memiliki unsur warna merah karena a* bernilai negatif. Namun warna merah tersebut tidak dominan karena nilai a*
hanya berkisar antara -3,43 sampai -6,30. Notasi b* menyatakan campuran warna biru kuning dimana b* negatif berwarna biru dan b* positif berwarna kuning. Nilai C (Chroma) menunjukkan tingkat ketegasan dan keburaman suatu warna, semakin besar nilai C maka semakin tegas warna yang diukur.
3) Bobot Jenis
Perlakuan imbangan bunga dengan pelarut berpengaruh terhadap nilai bobot jenis. Semakin tinggi perbandingan imbangan bunga dengan pelarut artinya semakin banyak jumlah pelarut yang digunakan, semakin tinggi pula nilai bobot jenis minyak melati yang dihasilkan. Nilai bobot jenis hasil penelitian ini tertera pada Tabel 3.
Tabel 3. Nilai bobot Jenis Minyak Melati Perlakuan Bobot Jenis
1:2 0,8379
1:3 0,8485
1:4 0,8805
Peningkatan nilai bobot jenis diduga karena semakin banyak pelarut yang digunakan maka semakin banyak komponen yang terekstraksi dari
dalam bunga. Bobot jenis sering dihubungkan dengan fraksi berat komponen-komponen yang terkandung di dalamnya. Menurut Guenther (1987), semakin besar fraksi berat yang terkandung dalam minyak, maka semakin besar pula nilai bobot jenisnya. Diduga pada minyak hasil ekstraksi ini terutama pada perlakuan 1:4 mengandung komponen dengan rantai karbon panjang dan berat molekul yang tinggi sehingga nilai bobot jenis menjadi tinggi.
4) Indeks Bias
Sama halnya dengan bobot jenis, indeks bias menunjukkan banyaknya komponen yang terkandung di dalam zat. Semakin tinggi nilai indeks bias suatu zat diduga semakin banyak komponen yang terkandung di dalam zat tersebut karena zat dengan komponen yang banyak akan sulit untuk membiaskan cahaya. Pada hasil penelitian ini semakin meningkatkan perbandingan imbangan bunga dengan pelarut, nilai indeks bias semakin meningkat. Hal ini diduga karena semakin banyak pelarut yang digunakan maka semakin
Sama halnya dengan bobot jenis, indeks bias menunjukkan banyaknya komponen yang terkandung di dalam zat. Semakin tinggi nilai indeks bias suatu zat diduga semakin banyak komponen yang terkandung di dalam zat tersebut karena zat dengan komponen yang banyak akan sulit untuk membiaskan cahaya. Pada hasil penelitian ini semakin meningkatkan perbandingan imbangan bunga dengan pelarut, nilai indeks bias semakin meningkat. Hal ini diduga karena semakin banyak pelarut yang digunakan maka semakin