HASIL DAN PEMBAHASAN
KELAS TINGGI POHON (M)
22
Universitas Sumatera Utara
Gambar 4. Luas bidang dasar pohon di Jalur Lintas Tengah Sumatera.
Dari data diameter pada gambar diatas dapat ditentukan nilai LBDS (Luas bidang dasar). Nilai LBDS dapat digunakan untuk menentukan seberapa besar produktivitas suatu tegakan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Salisbury dan Ross (1995) yang menyatakan bahwa produktivitas yang dinyatakan dalam bentuk riap luas bidang dasar (LBDS) dan riap volumeyaitu pertambahan LBDS dan volume berdasarkan waktu. Riap volume pohon merupakan salah satu ukuran dari produktivitas hutan yang sering digunakan para silvikulturis dalam mengelola hutan.
Sebaran Pohon
Dari hasil penelitian, diketahui bahwa sebaran pohon yang berada di Jalur Lintas Tengah Sumatera membentuk pola jalur. Berdasarkan undang-undang nomor 26 tahun 2007 tentang penataan ruang bahwa ruang terbuka hijau merupakan RTH public yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah daerah yang digunakan untuk kepentingan masyarakat secara umum antara lain jalur hijau sepanjang sungai, jalan dan pantai. Pola sebaran tersebut dapat dilihat dari peta sebaran dibawah ini:
LUAS BIDANG DASAR POHON (cm/ha)
23
Gambar 5.Sebaran Pohon di Jalur Lintas Tengah Sumatera.
Indikator Kerusakan Pohon di Jalur Lintas Tengah Sumatera
Indikator kondisi kerusakan pohon merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk menilai kesehatan tegakan. Kerusakan pohon adalah terganggunya pertumbuhan dan perkembangan suatu pohon yang dapat disebabkan oleh patogen, serangga, polusi udara, dan kegiatan alami serta buatan manusia. Kerusakan pohon dapat diakibatkan oleh suatu kombinasi patogen yang secara signifikan dapat mempengaruhi kesehatan pohon.
Adapun kerusakan pohon pada lokasi Jalur Lintas Tengah Sumatera termasuk jenis kerusakan biotik dan abiotik. Menurut Cahyono (2014) mengemukan bahwa kerusakan biotik dapat disebabkan oleh patogen, yaitu segala organisme yang menyebabkan penyakit dan faktor abiotik disebabkan oleh fakto fisik dan dan kimia lingkungan yang tidak mendukung bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman secara normal.
Adapun indikator kerusakan pohon terdiri dari : tipe kerusakan, lokasi kerusakan, kelas keparahan dan nilai indeks kesehatan pohon.
24
Universitas Sumatera Utara
Tipe Kerusakan
Kerusakan pohon yang terdapat di Jalur Lintas Tengah Sumatera memeliki tipe beraneka ragam. Dari penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa tipe kerusakan pohon paling dominan adalah tipe kerusakan berupa luka terbuka dengan jumlah 221 pohon atau 44,64% dari total seluruh pohon yang berada di Jalur Lintas tersebut.
Tabel 13.Tipe Kerusakan Pohon di Jalur Lintas Tengah Sumatera.
No Tipe Kerusakan Kode
8 Hilangnya ujung dominan (mati
ujung) 21 0 0 %
Pada tabel 13 tersebut dapat dilihat tipe kerusakan produktivitas pada pohon di Jalur Lintas Tengah Sumatera ada 5 jenis kerusakan yaitu Busuk hati sebanyak 4,84% (kode 2), Luka terbuka sebanyak 44,64% (kode 3), Akar Patah sebanyak 0,80% (kode 13), Cabang Patah sebanyak 43,83% (kode 22) dan Daun berubah warna sebanyak 15,95% (kode 25). Sedangkan untuk tipe kanker, eksudasi (resinosis dan gumosis), batang patah kurang dari 0,91 cm, brum pada akar atau batang, brum pada cabang atau daerah dalam tajuk, kerusakan daun tidak ada ditemukan. Dimana pada pohon yang rusak tersebut tidak terdapat gall pada akar, batang atau cabang. Hal ini sesuai pernyataan Alexander dan Barnard 25
tetapi lebih sering disebabkan oleh jamur. Kulit kambium dimatikan dan dikuti dengan kematian kayu di bawah kulit. Matinya kayu di bawah kulit tersebut bisa disebabkan oleh agen penyebab kerusakan yang memang melakukan penetrasi hingga ke kayu. Hal ini menimbulkan daerah jaringan yang mati akan semakin dalam dan luas atau membentuk gall yang disebabkan oleh jamur karat pada akar, batang atau cabang.
Berdasarkan hasil data yang diperoleh kerusakan pada pohon terdapat 5 tipe kerusakan dari 12 kerusakan yang dikemukakan, yaitu :
(a) (b) (c)
(d) (e)
Gambar 6. Jenis Kerusakan pada Pohon a) Busuk Hati b)Luka Terbuka c)Akar Patah d)Cabang Patah e) Penyakit Daun Berubah Warna.
Berdasarkan pengamatan di lokasi penelitian maka dapat diketahui karakteristik berbagai tipe kerusakan pohon tersebut adalah sebagai berikut:
1. Busuk Hati
Hasil penelitian dan penghitungan menunjukkan bahwa penyakit busuk hati pada pohon yang ada di taman kota yaitu sebesar 4,84% dari total seluruh Jalur Lintas Tengah Sumatera dan terlihat jelas penyakit busuk hati pada tubuh pohon. Karakteristik kerusakan ini ditandai dengan tubuh buah dan indikator lapuk lanjut tubuh buah pada batang utama pada titik percabangan. Lubang (rongga) di dalam batang utama dari cabang tua juga menunjukan indikator lapuk.
Tunggak-tunggak lapuk yang terkait dengan regenerasi melalui trubus.
26
Universitas Sumatera Utara
2. Luka Terbuka
Hasil pengolahan data kerusakan pohon yang didapat di Jalur Lintas Tengah Sumatera dijumpai sebanyak 44,64% Luka terbuka. Hasil penelitian Alexander dan Barnard (1995), dalam Rikto (2010) menunujukkan bahwa luka terbuka merupakan suatu luka atau serangkaian luka yang ditunjukkan dengan mengelupasnya kulit atau kayu bagian dalam telah terbuka dan tidak ada tanda lapuk lanjut. Luka pangkasan yang memotong ke dalam kayu batang utama dikodekan sebagai luka terbuka, jika memenuhi nilai ambang tetapi luka-luka yang tidak mengganggu keutuhan kayu batang utama dikeluarkan (tidak termasuk).
Menurut Dahlan (1992) dalam Nugraha (2014) mengemukakan bahwa luka terbagi menjadi 2 bagian, yaitu: a) luka yang terbatas hanya pada kulit luar saja dan b) luka yang terjadi pada kulit luar, kulit dalam dan juga luka pada kayu gubal dan kayu teras. Semua bentuk dan ukuran dapat berfungsi sebagai tapak infeksi, mulai dari luka yang ditimbulkan oleh serangga makroskopik sampai luka karena aktivitas pemotongan batang serta cabang. Banyak patogen yang memanfaatkan luka sebagai tapak infeksi alternatif dan mengambil keuntungan melalui jaringan yang menjadi rentan.
3. Akar Patah
Berdasarkan data yang didapat di Jalur Lintas Tengah Sumatera dijumpai sebanyak 0,80 % akar patah atau mati kurang dari 0,91 m dari batang, baik karena galian atau terluka. Sebagai contoh dari kejadian tersebut adalah akar-akar yang terluka pada suatu jalan,terpotong atau luka oleh binatang dan manusia.
4. Cabang Patah
Hasil pengolahan dataterhadap kerusakan pohon di Jalur Lintas Tengah Sumatera ditemukan sebanyak 43,83 % cabang yang patah atau mati. Cabang mati terdapat pada batang atau batang tajuk.
5. Penyakit Daun Berubah Warna (Tidak Hijau)
Berdasarkan data yang didapat di Jalur Lintas Tengah Sumatera dijumpai sebanyak 15,95 % daun berubah warna. Kuncup daun atau tunas dimakan oleh serangga, terkerat atau daun terkeliat. Persentase kuncup atau tunas terserang
>50%, pada sekurang kurangnya 30% dari daun, kuncup atau tunas.
27
Penilaian terhadap kesehatan dapat dilakukan melalui metode skoring, Skoring kerusakan pohon disajikan pada Tabel 14.
Tabel 14.Skoring kerusakan pohon. kesehatan pohon pada Jalur Lintas Tengah Sumatera, NIK sebanyak 1,30-2,16 sebanyak 14 pohon, NIK 2,17-3,03 sebanyak 4 pohon, NIK 3,04-3,90 sebanyak 34 pohon, NIK 3,91-4,77 sebanyak 37 pohon, NIK4,78-5,64 sebanyak 147 pohon, NIK 5,65-6,5 sebanyak 23 pohon, NIK 6,52-7,38 sebanyak 8 pohon, NIK 7,39-8,25 sebanyak 2 pohon, NIK 8,26-9,12 sebanyak 0 pohon dan NIK 9,13 - 9,9 sebanyak 3 pohon.
Lokasi Kerusakan
Lokasi kerusakan menunjukkan bagian organ pohon yang diserang oleh penyakit berdasarkan tipe kerusakan pohon. Lokasi kerusakan di Jalur Lintas Tengah Sumatera bagian pohon yang banyak mengalami kerusakan adalah bagian Akar dan batang bagian bawah sebesar 12,11 %, dari batang antara tunggak dan (dasar tajuk hidup) sebesar 15,77 %, Bagian bawah dan bagian atas batang sebesar 57,61 %, dan daun sebesar 14,49 %. Dimana luka atau serangkaian luka yang ditunjukkan dengan mengelupasnya kulit atau kayu bagian dalam telah terbuka dan tidak ada tanda lapuk lanjut. Hal tersebut disebabkan oleh serangga makroskopik maupun manusia. Data lokasi kerusakan disajikan pada Tabel 15.
28
Universitas Sumatera Utara
Tabel 15.Lokasi kerusakan pohon di Jalur Lintas Tengah Sumatera.
30 cm diatas permukaan tanah) 0 0 %
3 2 Akar dan batang bagian bawah 66 12,11 %
4 3
Bagian bawah batang (setengah bagian atas) dari batang antara tunggak dan dasar tajuk hidup)
86 15,77 %
5 4 Bagian bawah dan bagian atas batang 314 57,61 %
6 5
Bagian atas batang (setengah bagian atas) dari batang antara tunggak dan dasar tajuk hidup)
0 0 %
7 6 Batang tajuk (batang utama di dalam daerah
tajuk hidup diatas dasar tajuk hidup 0 0 %
8 7
Cabang (Lebih besar 2.54 cm pada titik percabangan terhadap batang utama atau batang tajuk didalam daerah tajuk hidup lokasi kerusakan yaitu pada Akar dengan batang bawah dengan kode (2) sebanyak 12,11 % (66 titik temuan), Batang bawah dengan kode (3) sebanyak 15,77 % (86 titik temuan), Batang atas dan bawah dengan kode (4) sebanyak 57,61 % (314 titik temuan), Dedaunan dengan kode (9) sebanyak 14,49% (79 titik temuan). Dari hasil tersebut menyatakan bahwa tingkat kerusakan pohon pada jalur ini dominasi oleh kerusakan batang atas dan bawah yang termasuk rusak ringan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rahmawaty dkk, (2018) bahwa klasifikasi berat tidak ditemukan dilokasi ini. Tingkat kerusakan pohon didominasi oleh kelas pohon yang rusak ringan. Kerusakan pada lokasi-lokasi di pohon tersebut menyebabkan munculnya serangan organisme perusak kayu dengan organisme yang paling banyak ditemukan sebagai penyebab serangan adalah serangan cendawan.
Batubara (2012) mengemukakan bahwa faktor abiotik penyebab kerusakan pohon adalah faktor fisik dan kimia penyusun lingkungan tempat tumbuh yang tingkat keberadaannya tidak mendukung pertumbuhan atau perkembangan normal pohon penyusun hutan.
29
Pohon dalam proses perkembangan hidupnya memang tidak bisa dilepaskan dari interaksi dengan lingkunganya termasuk dengan faktor-faktor pengganggu atau perusak. Kerusakan atau gangguan dapat diakibatkan oleh patogen, serangga, polusi udara, dan daya alam serta kegiatan manusia.
(Sudintanhut, 2008).
Kelas Keparahan
Didalam penelitian ini juga didapat hasil kelas keparahan yang beraneka ragam, diketahui bahwa kelas keparahan yang paling banyak adalah 20-29 % yaitu sebanyak 204 titik
Tabel 16.Kelas keparahan pohon di Jalur Lintas Tengah Sumatera.
No Kode Kelas (%) Jumlah (titik temuan) Presentase
1 0 01-09 61 11,19 % yaitu kelas keparahan 01-09 % sebanyak 11,19 % (kode 0), kelas keparahan 10-19% sebanyak 37,06 % (kode 1), kelas keparahan 20-29 % sebanyak 37,43 % (kode 2), kelas keparahan 30-39 % sebanyak 12, 11% (kode 3) dan yang paling sedikit kelas keparahan 40-49 % yaitu hanya 2,20 % (kode 4).
Tabel 17.Nilai Indeks Kerusakan Pohon di Jalur Lintas Tengah Sumatera.
No Jenis Nama Latin Nilai
Terbesar Rata Rata Nilai Terkecil
1 Angsana Pterocarpus indicus 9,91 495 1,98
2 Glodokan Polyathea longifolia 3,30 3,30 3,30
3 Krei Payung Filicium decipiens 9,87 9,62 9,37
4 Lamtoro Leucaena leucocephala 5,94 5,69 5,44
5 Mahoni Swietenia macrophylla 5,46 5,24 4,95
6 Asam Jawa Tamarindus indica 5,37 4,59 3,81
7 Tanjung Mimusops Elengi L 5,44 5,05 5,37
8 Jati Putih Gmelina Arborea 6,24 4,35 1,30
30
Universitas Sumatera Utara
Berdasarkan Tabel 17 diketahui Nilai Indeks Kerusakan Pohon yang terkecil dari ke 8 jenis pohon yang ada di Jalur Lintas Tengah Sumatera adalah jenis pohon Glodokan (Polyathea longifolia) dengan Nilai Indeks Kerusakan Pohon sebesar 3,30. Dimana berdasarkan bobot nilai indeks dengan kriteria berikut pohon dinyatan dalam kelas sehat.
Indikator Kerusakan Tajuk Pohon di Jalur Lintas Tengah Sumatera
Tajuk pohon adalah kenampakan dari keseluruhan daun, cabang, ranting, bunga dan buah. Jarak tanam pohon mempengaruhi posisi dan bentuk tajuk.
Pohon dengan jarak tanam yang lebar memiliki bentuk tajuk yang lebar atau lebih mengarah kesamping, sedangkan pohon dengan jarak tanam yang sempit memiliki tajuk yang kecil dan menjulang keatas (Mahendra, 2009). Lanisa (2015), mengemukakan bahwa bentuk dan posisi tajuk mempengaruhi produksi buah.
Posisi tajuk yang terkena cahaya matahari penuh dan bentuk tajuk yang simetris (lebar dan berbentuk lingkaran utuh) menghasilkan produksi buah yang lebih banyak dibandingkan pohon dengan posisi tajuk yang tidak terkena cahaya matahari penuhdan bentuk tajuk tidak simetris.
Tajuk yang lebar dan lebat menggambarkan laju pertumbuhan yang cepat.
Terdapat lima parameter yang digunakan dalam pengukuran kondisi tajuk pohon, yaitu nisbah tajuk hidup (live crown ratio-LCR), kerapatan tajuk (crown density-C-Den), transparansi tajuk (foliage transparancy-FT) diameter tajuk (crown diameter width-CDW), dancrown dieback (CDB), Dari penilaian kelima parameter akan diperoleh nilai peringkat penampakan tajuk yaitu 22% untuk LCR, Cden 19%, FT 20%, CDW 21% dan CDB 18%. Setelah nilai parameter tersebut di dapat kemudian dilakukan pengklasifikasian terhadap parameter tersebut yang di kodekan dengan nilai 3 = baik, 2 = sedang, 1 = jelek. Adapun pengklasifikasian dari parameter diatas adalah :
Rasio tajuk hidup (Live Crown Ratio-LCR), parameter ini menunjukkan proporsi panjang tajuk terhadap tinggi pohon. Dari hasil penelitian, klasifikasi rasio tajuk hidup yang dominan dijumpai adalah 3 atau baik.Semakin baik kualitas rasio tajuk hidup maka fungsi fisiologis daun pada pohon tersebut semakin baik pula.
31
Gambar 7. Klasifikasi rasio tajuk hidup (Live Crown Ratio-LCR) pohon di Jalur Lintas Tengah Sumatera.
Kerapatan Tajuk (Crown density-Cden), parameter ini menunjukkan persentase tajuk suatu pohon dalam memblokir sinar matahari yang masuk ke lantai hutan/permukaan tanah.Pada lokasi penelitian klasfikasi kerapatan tajuk yang dominan ditemui bernilai 3 atau baik, baiknya kondisi kerapatan tajuk menggambarkan lebat/rindangnya tajuk pohon tersebut.
Gambar 8. Klasifikasi kerapatan tajuk (Crown density-Cden) pohon di Jalur Lintas Tengah Sumatera.
Tranparansi tajuk (Foliage Transparancy-FT), parameter menunjukkan persentase cahaya matahari yang masuk kedalam lantai/permukaan tanah, parameter ini merupakan kebalikan dari parameter kerapatan tajuk. Semakin sedikit cahaya matahari yang masuk kedalam lantai/permukaan tanah maka kemampuan tajuk dalam menyerap dan memanfaatkan sinar matahari semakin baik.Dalam penelitian ini diketahui dominasi klasifikasi transparansi bernilai 3 atau baik.
32
Universitas Sumatera Utara
Gambar 9. Klasifikasi transparansi tajuk (Foliage Transparancy-FT) di Jalur Lintas Tengah Sumatera.
Diameter tajuk (Crown Diameter Width dan Crown Diameterat 90o), parameter ini adalah pengukuran lebar tajuk suatu pohon yang diukur dari panjang tajuk terluar dan dilanjutkan dengan panjang tajuk 90o.Dalam penelitian ini didapat klasifikasi diameter tajuk yang dominan bernilai 3 atau baik.
Gambar 10.Klasifikasi diameter tajuk (Crown Diameter Width) pohon di Jalur Lintas Tengah Sumatera.
Crown Dieback (CDB), parameter ini dilihat dari matinya ujung cabang sampai dengan pangkalnya. Parameter ini secara langsung dapat mempengaruhi parameter kondisi tajuk lainnya, dikarenakan dedaunan pada umumnya terletak pada bagian cabang sehingga jika dieback pohon baik maka proses fisiologis daun pada pohon tersebut juga akan baik. Pada lokasi penelitian dominasi dieback juga bernilai 3 atau baik.
33
Gambar 11. Klasifikasi Crown Dieback pohon di Jalur Lintas Tengah Sumatera.
Dari kelima parameter yang ada diatas kemudian dikumpulkan kedalam peringkat penampakan tajuk (VCR). Kondisi tajuk dapat di ketahui dengan melihat nilai VCR dari pohon tersebut. Parameter yang di peroleh atau di ukur langsung dilapangan.
Gambar 12.Nilai VCRdi Jalur Lintas Tengah Sumatera.
Dari data yang didapat nilai VCR yang diperoleh di Jalur Lintas Tengah Sumatera menunjukkan bahwa 85% sebanyak pohon 239 memiliki nilai VCR yang tinggi, 14 % sebanyak 29 pohon memiliki nilai VCR yang sedang dan 1%
sebanyak 4 pohon memiliki nilai VCR yang rendah.
Menurut Iskandar (2018) mengemukakan bahwa pohon yang mempunyai nilai VCR yang tinggi akan menjalankan proses fotosintesis dengan baik dan hasil fotosintesis berupa karbohidrat akan lebih optimal sedangkan nilai VCR rendah menggambarkan kondisi tajuk yang jelek dan hasil fotosintesis akan sedikit atau tidak optimal apabila tajuk mempunyai keadaan yang kurang baik.
34
Universitas Sumatera Utara
Tabel.18 Nilai Visual Crown Rating (VCR) di Jalur Lintas Tengah Sumatera.
No Jenis Nama Latin Nilai
Terbesar Rata Rata Nilai Terkecil
1 Angsana Pterocarpus indicus 4 3,84 2
2 Glodokan Polyathea longifolia 4 4 4
3 Krei Payung Filicium decipiens 4 4 4
4 Lamtoro Leucaena leucocephala 4 4 4
5 Mahoni Swietenia macrophylla 4 3,85 3
6 Asam Jawa Tamarindus indica 4 3,5 3
7 Tanjung Mimusops elengi L 4 4 4
8 Jati Putih Gmelina arborea 4 4 3
Berdasarkan tabel 17 diatas diketahui Nilai Visual Crown Rating (VCR) yang terbaik dari ke 8 jenis pohon yang ada di Jalur Lintas Tengah Sumatera ada 5 jenis pohon yaitu Glodokan (Polyathea longifolia), Krei Payung (Filicium decipiens), Lamtoro (Leucaena leucocephala), Tanjung (Mimusops elengi L) dan Jati Putih (Gmelina arborea) Nilai Visual Crown Rating (VCR) dengan Pohon
Pada Tabel 19 menujukkan Nilai Skoring Pembobotan VCR adalah VCR 2 - 2,2 sebanyak 4 pohon, VCR 2,3 - 2,4 sebanyak 0 pohon, VCR2,5 - 2,6 sebanyak 0 pohon, VCR 2,7 - 2,8 sebanyak 0 pohon, VCR 2,9 - 3 sebanyak 29 pohon, VCR 3,1 - 3,2 sebanyak 0 pohon, VCR 3,3 - 3,4 sebanyak 0 pohon, VCR 3,5 - 3,6 sebanyak 0 pohon, VCR 3,7 - 3,8 sebanyak 30 pohon dan VCR 3,9 - 4 sebanyak 239 pohon.
Menurut Nuhamara dan Kasno (2001) bahwa nilai VCR merupakan penjumlahan lima parameter pengukuran tajuk, yaitu : rasio tajuk, transparasi 35
tajuk, kerapatan tajuk, diameter tajuk dan dieback. Kelima parameter tersebut sangat mempengaruhi kriteria kondisi tajuk pohon, sedangkan besaran nilainya akan sangat berpengaruh terhadap tinggi rendahnya VCR.
Penilaian Kesehatan Pohon di Jalur Lintas Tengah Sumatera
Tabel 20.Skoring penilaian kesehatan pohon pada Jalur Lintas Tengah Sumatera.
NIK VCR Skore Keterangan Jumlah Pohon
Tertimbang dengan menggabungkan nilai dari kerusakan pohon dan kondisi tajuk dari data yang didapat pada tabel 15 menunjukkan 282 pohon yang diantaranya memiliki kesehatan yang berbeda seperti pada pohon yang memiliki skor akhir kesehatan 20 berjumlah 9 pohon, pohon yang memiliki skor akhir kesehatan 18 berjumlah 35 pohon, pohon yang memiliki skor akhir kesehatan 16 berjumlah 152 pohon, pohon yang memiliki skor akhir kesehatan 14 berjumlah 36 pohon,pohon yang memiliki skor akhir kesehatan 12 berjumlah 40 pohon, pohon yang memiliki skor akhir kesehatan 10 berjumlah 3 pohon, pohon yang memiliki skor akhir 8 berjumlah 7 pohon, pohon yang memiliki skor akhir 6 berjumlah 0 pohon, pohon yang memiliki nilai akhir 4 berjumlah 0 pohon dan pohon yang memiliki skor 2 berjumlah 0 pohon.
36
Universitas Sumatera Utara