BAB II. KAJIAN TEORI
2.2. Kecanduan Facebook
2.2.2. Facebook
2.2.2.2. Kelebihan Dan Kekurangan Facebook
Kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh Facebook dapat diperoleh dengan membandingkannya dengan situs pertemanan lainnya. Beberapa situs pertemanan lainnya adalah friendster, myspace, dan twitter. Dalam artikel yang berjudul “Facebook” (2009), feature yang dimiliki Facebook ,yang membuatnya
berbeda dengan jaringan sosial lainnya, adalah kemampuan untuk menambah aplikasi kedalam profil. Aplikasi Facebook adalah program kecil yang dikembangkan secara spesifik untuk profil Facebook.
Sementara itu, Kurniali (2009), menjabarkan beberapa kelebihan dan kekurangan yang dimiliki Facebook sebagaimana berikut :
1. Beberapa kelebihannya :
a. Facebook memiliki jumlah pengguna yang besar dan beragam dengan segmen terbesar dari orang muda sehingga tepat digunakan untuk mencari dan berbagi dengan teman-teman.
b. Facebook memiliki aplikasi yang unik dan beragam, mulai dari permainan, simulasi saham, hewan peliharaan virtual dan lainnya. c. Individu dapat mengetahui apabila ada teman-temannya yang sedang
online, sehingga mempermudah untuk melakukan chating.
d. Penggunanya lebih banyak yang menggunakan nama asli mereka sehingga mempermudah dalam pencarian teman.
e. Individu dapat beriklan di Facebook dengan segmen target yang anda temukan sendiri.
f. Individu dapat membangun komunitas tertentu dengan sebuah page gratis beserta aplikasi dan fiturnya.
g. Dapat melakukan jual beli atau mengiklankan sesuatu pada anggota dalam suatu grup.
2. Beberapa kekurangannya :
a. Facebook adalah situs jejaring sosial dengan waktu loading terlama.
b. Gangguan yang terjadi saat individu ingin menambah teman yaitu Facebook selalu meminta individu untuk memverifikasi account-nya.
2.2.3. Kecanduan Facebook
Facebook telah menjadi jalan yang sangat diperlukan untuk menemukan teman lama (old friends), jadwal kegiatan-kegiatan, bermain games atau sekedar
yang melihat Facebook lebih seperti sesuatu yang dicandui daripada hanya sekedar suatu alat jaringan (Pope, 2008).
Menurut ichsan (2009) yang membuat anggota Facebook begitu kecanduan untuk terus mengakses Facebook adalah karena mereka bisa terus memonitor status, update, atau berita terakhir dari teman-temannya yang
bergabung jaringan pertemanan.
Pope (2008) menjelaskan beberapa tanda-tanda seseorang mengalami kecanduan Facebook (Facebook Addiction) sebagaimana berikut :
a. Terus / sering memikirkan Facebook walaupun sedang dalam kondisi
offline.
b. Menggunakan Facebook untuk lari dari masalah atau menyelesaikan tugas.
c. Bermain Facebook lebih lama dari yang ditentukan
d. Mencoba untuk menyembunyikan penggunaan Facebook
Beberapa point di atas dijadikan sebagai batas seseorang memasuki garis kecanduan. Menurutnya, Pemberitahuan (notification), pesan (message) dan
undangan (invite) menjadi reward bagi pemakai karena telah memberikan sesuatu
yang tidak diperkirakan, sama halnya seperti judi. Reward (hadiah) yang
diberikan setiap kali seseorang menggunakan Facebook akan memunculkan harapan untuk terus memperolehnya. Harapan ini yang akan menyebabkan seseorang mengalami kecanduan terhadap Facebook.
Selain itu, satu artikel berjudul Efek Psikologis Facebook Bagi Kesehatan Mental (Admin, 2009) disebutkan beberapa tanda seseorang mengalami kecanduan Facebook yaitu mengubah status di Facebook lebih dari dua kali sehari, tekun mengomentari status teman-teman diFacebook, dan rajin membaca profil teman walaupun tidak mempunyai keperluan tertentu.
Artikel lain yang berjudul “Tanda Kecanduan Facebook” (Admin kompas, 2009) juga berusaha menjabarkan beberapa point yang berisi tanda-tanda kecanduan Facebook (Facebook addiction). beberapa tanda tersebut adalah :
a. Facebook telah menjadi Hompage internet di komputer atau laptop
b. Mengubah status lebih dari dua kali sehari atau rajin mengomentari perubahan status teman.
c. Daftar teman sudah melebihi angka 500 orang dan hampir dari setengah dari jumlah yang ada tidak dikenal
d. Menggunakan media lain –selain komputer- (ex. Blackberry, handphone)
untuk mengecek Facebook.
e. Suka membaca profil teman lebih dari dua kali sehari walaupun tidak memiliki kepentingan
f. Sering mengubah profil foto
g. Membersihkan “wall” agar terlihat sudah lama tidak menggunakan
h. Menjadi anggota dari berbagai grup dan merespon setiap undangan walaupun sebenarnya tidak berminat.
i. Mengubah status hubungan hanya untuk meningkatkan popularitas di Facebook.
2.3. Kerangka Berfikir
Manusia tidak mampu berjalan sendiri dan menghadapi semua yang ada dihadapannya tanpa bantuan orang lain. Itulah salah satu hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Walaupun kita terkadang tidak menyadari, tapi pada kenyataannya manusia selalu membutuhkan orang lain untuk sekedar hadir atau ikut berpengaruh dalam hidupnya. Salah satu penelitian yang telah dilakukan oleh Schachter dalam Wrigthsman (1979) telah membuktikan bahwa seorang individu tidak dapat hidup sendirian tanpa orang lain walaupun segala kebutuhan dasarnya terpenuhi secara layak. Menurutnya, hasil dari penelitian-penelitian yang telah dilakukannya sangat meyakinkan dan mempertegas kenyataan bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan sosial dengan orang lain.
Kenyataan ini menarik perhatian para tokoh psikologi hingga akhirnya banyak teori yang dikemukakan oleh berbagai pihak untuk menjelaskan akan sikap afiliatif pada individu. Deskripsi yang dijelaskan dari berbagai sudut pandang menuju pada satu kesimpulan yaitu akan adanya kebutuhan untuk berafiliasi (need for affiliation) dalam diri setiap individu. Salah satu tokoh yang
banyak memberikan sumbangan dalam perkembangan teori mengenai kebutuhan afiliasi (need for affiliation) adalah Murray dalam Martaniah (1984).
Sebagaimana dijelaskan dalam kajian teori di atas, Murray dalam Baron (2004) mendefinisikan kebutuhan afiliasi sebagai kecenderungan untuk membentuk pertemanan dan untuk bersosialisasi, untuk berinteraksi secara dekat dengan orang lain, untuk bekerjasama dan berkomunikasi dengan orang lain dengan cara yang bersahabat, dan untuk jatuh cinta. Ia telah melakukan berbagai kajian dan penelitian untuk menguak salah satu kebutuhan yang ada dalam diri individu. Salah satu karya besarnya yang juga berkaitan dengan pengukuran tingkat kebutuhan afiliasi pada seseorang adalah TAT (Thematic Apperception
Test). Dalam tes tersebut, Murray menjabarkan ciri-ciri yang dimiliki oleh
individu yang memiliki tingkat kebutuhan afiliasi yang tinggi adalah membentuk, memelihara, atau memperbaiki hubungan afeksi positif dengan orang lain.
Sementara itu, secara lebih spesifik dan mendalam ia juga merumuskan beberapa karakteristik pada individu dengan kebutuhan afiliasi yang tinggi yaitu keinginan untuk mendekat atau bekerjasama dengan orang lain, menyenangkan dan mendapat afeksi dari orang lain, setia dan kepercayaan. Saat individu memiliki tingkat afiliasi yang tinggi, maka ia akan berupaya mencari atau menciptakan situasi yang mampu membuatnya menjalin hubungan dengan orang lain.
Penjabaran karakteristik di atas dapat menggambarkan bahwa jauh di dalam diri individu ada kekuatan dan hasrat untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Oleh karena itu, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa setiap individu akan menunjukkan respon positif dan perilaku mendekat pada suatu hal, kegiatan
ataupun peristiwa yang berhubungan dengan orang banyak dan dapat menciptakan suatu hubungan interpersonal seperti Facebook.
Facebook merupakan social networking yang memiliki tujuan utama untuk
membantu individu menjaga hubungan baik dengan teman dan relasi (Kurniali,2009). Dapat dikatakan bahwa Facebook mempunyai fungsi sebagai penyedia miniatur kehidupan sosial manusia dalam dunia maya. Dengan Facebook, individu akan dengan mudah berhubungan, berkomunikasi dan menjadi lebih intim dengan orang lain.
Pada satu sisi, hadirnya Facebook dalam kehidupan manusia sangat bermanfaat untuk membantu memenuhi kebutuhan afiliasi. Tetapi disisi lain, tidak menutup kemungkinan tingginya hasrat untuk memenuhi kebutuhan afiliasi pada seseorang yang menggunakan Facebook dapat memberi dampak negatif yaitu kecanduan Facebook (Facebook addiction).
Hubungan yang telah tergambar di atas dapat menciptakan suatu hipotesis mengenai keterkaitan kebutuhan afiliasi dengan kecanduan terhadap Facebook. Kerangka berfikir ini secara singkat digambarkan sebagai berikut.
Hubungan
Ha : ada hubungan yang signifikan antara kebutuhan afiliasi dengan kecanduan Facebook
Kecanduan Facebook :
-Kebutuhan untuk meningkatkan waktu penggunaan Facebook yang mencolok untuk mencapai kepuasan
- Menurunnya efek yang dirasakan dari penggunaan Facebook yang terus menerus dalam waktu yang sama
- Penghentian atau pengurangan pemakaian Facebook akan terasa berat dan lama - agitasi psikomotor (gejolak psikomotor), kecemasan, pemikiran yang obsesif mengenai apa yang terjadi di Facebook, - distress atau kerusakan sosial
- Menggunakan internet service online lainnya untuk menghilangkan atau menghindari simptom-simptom
-Facebook sering digunakan lebih lama dari yang direncanakan
- Adanya upaya yang tidak berhasil dalam mengendalikan penggunaan
- Menghabiskan banyak waktu untuk kegiatan yang berhubungan dengan
- Penghentian kegiatan-kegiatan sosial yang penting atau pekerjaan
- Penggunaan Facebook tetap dilakukan walaupun telah mengetahui akan adanya masalah-masalah fisik, sosial, pekerjaan atau masalah psikologis yang muncul karena penggunaan Facebook. Kebutuhan afiliasi :
- Bertemu dan berkenalan dengan orang lain - Membentuk, memelihara / menerima keterkaitan dengan orang lain
- Menunjukkan perbuatan baik dan cinta - melakukan sesuatu yang menyenangkan orang lain
- menghindari untuk menyakiti orang lain dan menghilangkan pertengkaran
- Mendekatkan diri
- Melambai, berjabat tangan dan memeluk - mencium
- Mengucap salam, halo dan bertanya dengan bersahabat
- Memberi informasi, bercerita dan bertukar perasaan
- Mengekspresikan kepercayaan, kekaguman, perasaan dan mempercayai orang lain
- Melakukan pendekatan, menyentuh, menemani dan tinggal dekat kerabat - Merasa atau bersikap seperti teman - Mengikuti dan menyetujui orang lain - Menerima sesuatu dengan orang lain - Berkomunikasi, bermain dengan orang lain, bertelepon dan mengirim surat - Berbagi keuntungan, pengetahuan, kepercayaan dengan orang lain
- Menikmati hubungan intim dengan orang yang dicintai
- Menerima ide, menyelaraskan satu perasaan dengan perasaan yang lain / menyelesaikan perbedaan
Gambar 2.1 Kerangka Berfikir
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Pendekatan Penelitian
Dalam Penelitian ini, peneliti memilih menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menjawab permasalahan-permasalahan penelitian sebagaimana telah dikemukakan pada bab sebelumnya.
Karena permasalahan penelitian merujuk pada pencarian hubungan antar variabel, maka peneliti memilih menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional. Menurut Sumadi Suryabrata (2004) tujuan dari penelitian korelasional adalah untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berkaitan dengan variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain didasarkan pada koefisien korelasi.