• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Shift Kerja

2.3 Kelelahan Kerja

Kelelahan (fatigue) berasal dari bahasa Latin (fatigare) berarti hilang lenyap (waste time). Secara psikologis, kelelahan yaitu keadaan mental dengan ciri menu-runnya motivasi, ambang rangsang meninggi, menumenu-runnya kecermatan dan kecepatan pemecahan persoalan. Shift Aktivitas Pagi Malam Tidur/istirahat Kerja Kerja Tidur/Istirahat 19.00 7.00 19.00

Secara fisologis, kelelahan yaitu penurunan kekuatan otot yang disebabkan karena kehabisan tenaga dan peningkatan sisa-sisa metabolisme, misalnya asam laktat, karbon dioksida. Kelelahan diterapkan di berbagai macam kondisi meru-pakan suatu perasaan bagi setiap orang mempunyai arti tersendiri dan bersifat subjektif, tetapi semuanya berkenaan dengan pengurangan kapasitas kerja dan ketahanan tubuh dalam bekerja disertai dengan penurunan efisiensi.

Kelelahan terjadi karena beberapa hal : melakukan aktifitas monoton, beban kerja dan waktu kerja yang berlebihan, lingkungan kerja, fasilitas kerja, keadaan psikologis, dan keadaan gizi. Kelelahan secara umum ditandai dengan berkurangnya kemauan bekerja yang disebabkan oleh monotoni, intensitas lama kerja fisk, lingkungan dan sebab mental. Menurut Grandjean (1993), kelelahan kerja adalah suatu kondisi yang dihasilkan dengan stres sebelum mengakibatkan melemah fungsi kinerja, fungsi organ saling mempengaruhi fungsi kepribadian bersamaan dengan menurunnya kesiagaan kerja dan meningkat sensasi kete-gangan.

Pengelompokan kelelahan dapat dilihat pada Gambar 2.2, terbagi 3 jenis : 1. Menurut proses terjadinya pada otot : kelelahan umum dan otot

2. Menurut terjadinya : akut dan kronis

3. Menurut penyebabnya : faktor nonfisik (psikososial) dan lingkungan fisik

Kelelahan otot adalah tremor/perasaan nyeri pada otot berarti menurunnya kinerja sesudah mengalami tekanan tertentu ditandai dengan menurunnya kekuatan dan kelambanan gerak. Sedang kelelahan umum biasa ditandai dengan berkurangnya kemauan untuk bekerja yang disebabkan oleh karena monoton, intensitas dan lamanya kerja fisik, keadaan lingkungan, sebab-sebab mental, kesehatan dan gizi

Kelelahan subjektif terjadi pada akhir jam kerja, apabila rata-rata beban kerja melebihi 30-48% tenaga aerobik maksimal(Astrand et all, 1977 dan Pulat, 1992). Kerja Statis

Otot Lokal

Kerja Dinamis

Kehabisan tenaga fisik

Kelelahan Akut Overload Beban mental kerja

Underload Umum Circadian Primer Kegelisahan Kronis Psychoneurotic Sekunder Depresi Organik Post-viral Hypoglycaenic Penyakit jantung Efek Obat Dan lainnya

Gambar 2.2 Pengelompokan kelelahan

Terdapat dua teori tentang kelelahan otot yaitu teori kimia dan teori syaraf pusat terjadinya kelelahan. Pada teori kimia secara umum menjelaskan bahwa terjadinya kelelahan adalah akibat berkurangnya cadangan energi dan sisa metabo-lisme meningkat sebagai penyebab efisiensi otot hilang, sedangkan perubahan arus listrik pada otot dan syaraf adalah penyebab sekunder. Pada teori syaraf pusat

menjelaskan bahwa perubahan kimia hanya merupakan penunjang proses. Perubahan kimia yang terjadi mengakibatkan dihantarkannya rangsangan syaraf melalui syaraf sensoris ke otak yang disadari sebagai kelelahan otot. Rangsangan ini menghambat pusat otak mengendalikan gerakan sehingga frekwensi potensial kegiatan pada sel syaraf menjadi berkurang. Berkurangnya frekwensi tersebut akan menurunkan kekuatan dan kecepatan kontraksi otot dan gerakan atas perintah kemauan menjadi lambat. Dengan demikian semakin lambat gerakan seseorang akan menunjukkan semakin lelah kondisi ototnya.

Beberapa tipe kelelahan umum dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. Lelah disebabkan oleh ketegangan fisik di semua organ visual (lelah visual). 2. Lelah karena ketegangan fisik di semua organ (lelah fisik umum).

3. Lelah disebabkan oleh kerja mental (lelah mental).

4. Lelah karena ketegangan lewat satu sisi dari fungsi psikomotor (lelah saraf). 5. Lelah disebabkan kerja monoton atau lingkungan kerja yang menjemukan. 6. Lelah disebabkan sejumlah faktor yang terus menerus (lelah kronis).

Karakteristik utama yang umum dari kelelahan adalah pengurangan dalam kapasitas atau penurunan kerja. Efek sesudah kerja diliputi siklus harian tidur dan keterjagaan disebut nycthemeral atau kelelahan circadian.

Kelelahan tubuh merupakan akibat dari perpanjangan kerja adalah konsek-wensi kehabisan persediaan energi tubuh. Kelelahan ini akibat dari kebanyakan tugas pekerjaan sama dengan proses psikologis yang lebih halus, meskipun pengalaman subjektif menunjukkan kesamaan. Kelelahan mental dapat bersumber dari overload ataupun underload menghasilkan kebutuhan yang berlebihan yang tidak menarik

dan mudah. Kedua kondisi tersebut dapat meningkatkan stres akan tetapi jika diper-panjang akan mengurangi gairah kerja. Menurut Grandjean (1986) suatu permintaan pekerjaan yang seharusnya meningkatkan gairah kerja, kenyataan malah sebaliknya, seperti pada model U yang terbalik ( gambar 2.3).

Gambar 2.3 Hubungan antara performansi dengan gairah kerja

Walau demikian penurunan performansi yang terjadi pada saat kelelahan biasanya pekerjaan yang khusus yang diperkirakan model U terbalik.

Pada pekerjaan berulang, tanda pertama kelelahan merupakan peningkatan dalam rata-rata panjang waktu menyelesaikan suatu siklus aktivitas. Waktu siklus pendistribusian yang hati-hati sering menunjukkan kelambatan performansi seba-gaimana tampak dalam pendistribusian proporsi yang lebih besar dari siklus lambat yang tidak normal (Murrel, 1969). Penjadwalan yang tidak teratur sama tampak dari celah kosong dalam performansi yang berhubungan dengan kehilangan perhatian disebut block (Bills, 1931).

Kelelahan mental menunjukkan kegagalan yang meningkat proses normal dari perhatian yang selektif dimana input sensor menyimpang secara tetap menyerang sebelum capai sadar.

Gairah kerja performansi

Kelelahan kronis merupakan kumulatif respon non spesifik terhadap perpan-jangan stress. Menurut Grandjen (1988) gejala kondisi tertentu yang berhubungan penting dengan stress seperti sakit kepala, pusing, jantung berdebar, diare, gangguan lambung dan lainnya. Gangguan tidur merupakan gambaran dari kondisi tersebut dan menunjukkan gejala hyperarousal pada siang hari. Nixon (1982) mengatakan bahwa hyperarousal kronis berhubungan dengan kondisi kehabisan tenaga yang meningkat adalah gejala awal umum penyakit jantung.

Kehabisan tenaga dan kehilangan kendali yang bersatu dalam kelelahan kronis bergabung kedalam indera yang peka tentang apatis, kehilangan ingatan, kegagalan yang mencirikan kondisi psychoneurotic (depresi), dan melancholia.

Kelelahan diatur secara sentral oleh otak. Pada susunan syaraf pusat terda-pat sistem aktivasi (bersifat simpatis) dan inhibisi (bersifat para simpatis).

Tanda-tanda kelelahan yang utama adalah hambatan terhadap fungsi-fungsi kesadaran otak dan perubahan pada organ-organ di luar kesadaran serta proses pemulihan menunjukkan : 1. Penurunan perhatian, 2. Pelambatan persepsi, 3.Lambat dan sukar berpikir, 4. Penurunan kemauan atau dorongan untuk bekerja, 5.Kurang efisiensi kegiatan-kegiatan fisik dan mental.

Menurut Gilmer (1966) dan Cameron (1973), gejala kelelahan ditandai : 1. Menurun kesiagaan dan perhatian, 2. Penurunan dan hambatan persepsi, 3. Cara berpikir atau perbuatan anti sosial, 4. Tidak cocok dengan lingkungan, 5. Depresi, kurang tenaga, dan kehilangan inisiatif, 6. Gejala umum (sakit kepala, vertigo, gangguan fungsi paru dan jantung, kehilangan nafsu makan, gangguan pencernaan, kecemasan, perubahan tingkah laku, kegelisahan dan sukar tidur).

2.3.1 Proses Terjadi Kelelahan

Kelelahan terjadi karena produk sisa terkumpul dalam otot dan peredaran darah, di mana produk ini dapat membatasi kelangsungan aktivitas otot. Makanan yang mengandung glikogen mengalir dalam tubuh melalui peredaran darah. Glikogen hanya dapat digunakan sebagai energi untuk keperluan otot saja dan tidak dapat dikembalikan sebagai glukosa ke dalam aliran darah. Tubuh manusia dapat menyim-pan glikogen dalam jumlah terbatas. Setiap kontraksi dari otot selalu diikuti oleh oksidasi glukosa yang merubah glikogen menjadi tenaga dan asam laktat. Pada masa pemulihan asam laktat akan diubah kembali menjadi glikogen dengan adanya oksigen dari pernafasan, sehingga memungkinkan otot berfungsi kembali yang berarti keseimbangan kerja bisa dicapai dengan baik.

Keadaan dan perasaan kelelahan adalah reaksi fungsional dari pusat kesadaran yaitu ceberi cortex yang dipengaruhi atas dua sistem saraf antagonis yaitu sistem penghambat (inhibisi) dan sistem penggerak (aktivasi). Sistem penghambat ini terda-pat dalam thalamus dan bersifat menurunkan kemampuan manusia untuk bereaksi sedangkan sistem penggerak terdapat dalam formatio retikularis yang bersifat me-rangsang pusat vegetatif untuk konversi ergotropis dari peralatan tubuh kearah bereaksi. Keadaan seseorang pada suatu saat tergantung pada hasil kerja kedua sistem tersebut. Apabila sistem penggerak lebih kuat dari sistem penghambat maka dikatakan dalam keadaan segar untuk bekerja, sebaliknya jika sistem penghambat lebih kuat maka akan mengalami kelelahan. Agar seseorang berada dalam keseim-bangan bekerja, kedua sistem tersebut harus stabil pada tubuh.

2.3.2 Penyebab Kelelahan Kerja

Menurut Grandjean (1991) penyebab kelelahan bervariasi dan untuk memper-tahankan kesehatan harus dilakukan efisensi proses penyegaran di luar tekanan. Penyegaran terjadi selama tidur malam, periode istirahat dan waktu berhenti kerja. Faktor penyebab kelelahan menurut Tarwaka (2004) : 1. Intensitas lama kerja fisik dan mental, 2. Lingkungan kerja, 3.Circadian rhythm, 4. Problem fisik, tanggung jawab, kekhawatiran konflik, 5. Kondisi kesehatan, 6. Nutrisi.

Pada kerja otot statis, dengan pengerahan tenaga 50% dari kekuatan maksi-mum otot hanya dapat bekerja selama 1 menit, sedangkan pada pengerahan tenaga <20% kerja fisik dapat berlangsung cukup lama. Tetapi pengerahan tenaga otot statis sebesar 15-20% akan menyebabkan kelelahan dan nyeri jika pembebanan berlang-sung sepanjang hari. Menurut Astrand dan Rodahl (1977) kerja dapat dipertahankan beberapa jam per hari tanpa gejala kelelahan jika tenaga yang dikerahkan tidak melebihi 8% dari maksimum tenaga otot. Suma’mur (1982) dan Grandjean (1993) mengatakan bahwa kerja otot statis merupakan kerja berat. Pada kondisi yang hampir sama, kerja otot statis mempunyai konsumsi energi lebih tinggi, denyut nadi meningkat dan diperlukan waktu istirahat lebih lama. Annis dan McConville (1996) mengatakan bahwa saat kebutuhan metabolisme dinamis dan aktivitas melampaui kapasitas energi yang dihasilkan oleh pekerja, maka kontraksi otot akan terpengaruh sehingga kelelahan seluruh badan terjadi. Penggunaan energi tidak melebihi 50% dari tenaga aerobic maksimum untuk kerja 1 jam, 40% untuk kerja 2 jam dan 33 % untuk kerja 8 jam terus menerus. Nilai tersebut didisain untuk mencegah kelelahan yang dapat meningkatkan resiko cedera otot skeletal pada pekerja. Untuk mengurangi

tingkat kelelahan di upayakan sikap kerja yang lebih dinamis. Hal ini bertujuan agar sirkulasi darah dan oksigen berjalan normal ke seluruh anggota tubuh.

Faktor penyebab kelelahan kerja berkaitan dengan banyak hal yaitu : 1. Penyebab medis : flu, anemia, gangguan tidur, hepatitis, hypothyroidism, TBC. 2. Penyebab yang berkaitan dengan gaya hidup : kurang/ terlalu banyak tidur, alkohol minuman keras, diet yang buruk, kurang olahraga, gizi.

3. Penyebab yang berkaitan dengan tempat kerja : kerja shift, pelatihan tempat kerja yang buruk, stres kerja, workaholic, suhu ruang kerja, penyinaran, kebisingan,

monotoni pekerjaan dan kebosanan, beban kerja.

4. Faktor psikologis : depresi, kecemasan dan stres, kesedihan.

2.3.3 Penanggulangan Kelelahan Kerja

Penanggulangan kelelahan kerja dapat dilakukan melalui :

1. Lingkungan kerja yang nyaman bebas kebisingan dan pengaturan udara. 2. Waktu kerja diselingi istirahat pendek dan istirahat untuk makan

3. Kesehatan umum dijaga dan dimonitor

4. Pemberian gizi kerja sesuai dengan jenis pekerjaan dan beban kerja 5. Beban kerja berat tidak berlangsung terlalu lama.

6. Tempat tinggal diusahakan sedekat mungkin dengan tempat kerja

7. Pembinaan mental secara teratur dalam rangka stabilitas kerja dan kehidupan 8. Cuti dan liburan diselenggarakan sebaik-baiknya

2.3.4 Beberapa Langkah Mengatasi Kelelahan

Kelelahan disebabkan oleh banyak faktor sangat kompleks saling terkait, perlu penanganan agar tidak kronis. Pada gambar 2.4 terdapat skematis faktor penyebab terjadi kelelahan, penyegaran dan cara menangani kelelahan agar tidak menimbulkan resiko yang lebih parah.

PENYEBAB KELELAHAN CARA MENGATASI 1. Aktivitas kerja fisik 1. Sesuai kapasitas kerja fisik 2. Aktivitas kerja mental 2. Sesuai kapasitas kerja mental 3. Stasiun kerja tidak ergonomis 3. Redisain stasiun kerja ergonomis 4. Sikap paksa 4. Sikap kerja almiah

5. Kerja statis 5. Kerja lebih dinamis 6. Kerja bersifat monotoni 6. Kerja lebih bervariasi 7. Lingkungan kerja ekstrim 7. Redisain lingkungan kerja 8. Psikologis 8. Reorganisasi kerja

9. Kebutuhan kalori kurang 9. Kebutuhan kalori seimbang 10 Waktu kerja istirahat tidak tepat 10.Istirahat setiap 2 jam kerja dengan sedikit kuda

RESIKO MANAJEMEN PENGENDALIAN

1.Motivasi kerja turun 1. Tindakan preventif melalui pendekatan 2. Performansi rendah inovatif dan partisipatoris

3. Kualitas kerja rendah 2. Tindakan kuratif 4. Banyak terjadi kesalahan 3. Tindakan rehabilitatif 5. Stres akibat kerja 4. Jaminan masa tua 6. Penyakit akibat kerja

7.Cedera

8.Terjadi kecelakaan akibat kerja

2.3.5 Pengukuran Kelelahan

Sampai saat ini belum ada cara untuk mengukur kelelahan secara langsung. Pengukuran yang dilakukan peneliti sebelum hanya berupa indikator yang me- nunjukkan terjadinya kelelahan akibat kerja. Grandjean (1993) mengelompokkan metode pengukuran kelelahan dalam beberapa kelompok sebagai berikut :

Dokumen terkait