Kelembagaan dan Tatakelola REDD+
5.4 Kelembagaan REDD+ di level nasional dan sub nasionalnasional
Perkembangan REDD+ di Indonesia hingga saat ini masih dalam tahap persiapan, meskipun dalam Stranas REDD+ direncanakan pada 2014 sudah mulai diimplementasikan secara utuh. Sejak awal pemerintah telah berupaya menjadikan REDD+ sebagai salah satu kebijakan nasional. Salah satu upaya pemerintah adalah pembentukkan kelembagaan REDD+. Upaya ini ditemputh melalui pembentukkan lembaga baru untuk menangani REDD+ atau integrasi REDD+ pada lembaga tertentu.
Lembaga-lembaga yang menangani perubahan iklim dan persiapan menuju implementasi REDD+ antara lain BP REDD+ (dulu Satuan Tugas REDD), Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI), Bappenas, dan Kementerian Kehutanan. BP REDD+ dibentuk belum lama ini berdasarkan PP 62 tahun 2013 menggantikan Satuan Tugas REDD sebagai lembaga ad hoc, yang bertanggungjawab langsung kepada Presiden, terkait
dengan pelembagaan REDD+. DNPI dibentuk berdasarkan Keppres No 46/2008 yang diketuai langsung oleh Presiden. Keanggotaan DNPI terdiri atas 18 pimpinan lembaga negara diantaranya Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, Menteri Keuangan, Menteri Pertanian, Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral, Kepala Bappenas, Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika dan lainnya. Satuan Tugas REDD+ dibentuk berdasarkan Keppres No 19 tahun 2010. Bappenas terlibat dalam mengarusutamakan 42 • Kelembagaan dan Tatakelola REDD+
perubahan iklim ke dalam rencana pembangunan nasional. Kementerian Kehutanan membentuk Kelompok Kerja Perubahan Iklim berdasarkan Keputusan Sekjen Kehutanan pada tahun 2010 yang mempunyai tugas pokok membantu Menteri Kehutanan terkait dengan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
Lembaga terkait REDD+ di level sub nasional juga dibentuk berdasarkan inisiatif pemerintah daerah masing-masing dalam menyikapi perubahan ikim di beberapa provinsi diantaranya di Provinsi Kalimantan Timur dan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Di Kalimantan Timur terdapat GCF, Dewan Daerah Perubahan Iklim (DDPI) Kaltim, Pokja REDD Kaltim. Di NTB terdapat Gugus Tugas Pengendalian Dampak Perubahan Iklim Provinsi NTB. Untuk level kabupaten di Kalimantan Timur terdapat Pokja REDD Berau, sementara itu di Kabupaten Lombok Tengah, NTB terdapat projek REDD+. Pendekatan informal dan interpersonal antara lembaga subnasional dan nasional.
Tugas pokok dan wewenang masing-masing lembaga terdapat dalam Tabel 8.
Tabel 8. Lembaga REDD+ di level nasional dan sub nasional
Lembaga Dasar Hukum Tugas dan Wewenang
NASIONAL
DNPI Keppres No 46
tahun 2008 TugasMenyusun kebijakan, strategi, program dan kegiatan terkait kontrol terhadap perubahan iklim di level nasional, koordinasi kegiatan, menyusun kebijakan dan prosedur perdagangan karbon, melaksanakan monev pelaksanaan kebijakan perubahan iklim, dan negosiasi dengan internasional. BP REDD PP 62 tahun 2013 Tugas
membantu Presiden melaksanakan tugas koordinasi, sinkronisasi, perencanaan, fasilitasi, pengelolaan, pemantauan, pengawasan serta pengedalian REDD+ di Indonesia
Wewenang
Mengelola bantuan dana atau bantuan lain yang sah terkait REDD+ Pokja PI
(Kemhut) Kep Sekjen 183/II-KUM/2010 TugasMemberikan masukan ke Menhut terkait adaptasi dan perubahan iklim, membantu Menhut dalam pelaksanaan tugas dan monev terkait adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, mengelola data-informasi di Kemhut, dan membantu Menhut menilai usulan kegiatan pihak ketiga terkait perubahan iklim
Bappenas Tugas/Mandat
Mengkoordinasikan pengembangan RAN dalam penurunan GRK dan mengkoordinasikan Stranas REDD+
SUB NASIONAL DI KALTIM DDPI Peraturan
Gubernur Kaltim No 2 tahun 2011
Menyusun kebijakan, strategi, program dan kegiatan terkait kontrol terhadap perubahan iklim di level nasional, koordinasi kegiatan, menyusun kebijakan dan prosedur perdagangan karbon, melaksanakan monev pelaksanaan kebijakan perubahan iklim, dan memperkuat posisi Kaltim untuk mendorong daerah lain terkait perubahan iklim
Lembaga Dasar Hukum Tugas dan Wewenang
Pokja REDD
Kaltim SKGubernur No 522/K.51/2008 jo SK Gubernur No 522/K.215/2010
Menghimpun data/informasi terkait program REDD di Kaltim, sosialisasi dan koordinasi program REDD+ di Kaltim, pusat wadah komunikasi antar institusi, memberikan advokasi/fasilitasi ke pemda terkait implementasi REDD+ Pokja REDD
Berau SK Bupati Berau No 313 tahun 2008
Mengumpulkan data dasar terkait pengelolaan SDA di Berau, menyusun action plan REDD termasuk sosialisasi ke masyarakat, analisi dan evaluasi pelaksanaan REDD+, menyusun skema strategi, distribusi, pemasaran dan pendanaan REDD+ dan memberikan masuakan kepemda terkait penyusunan kebijakan REDD di daerah.
SUB NASIONAL DI NTB Gugus Tugas
RAD GRK Keputusan Gubernur No 243 tahun 2012
Menyusun dokumen RAD GRK Provinsi NTB Proyek REDD+
di Lombok Tengah
Kerjasama KOICA, Kemhut dan Korea Forest Service (KFS) 2008
Demonstration activity REDD+ in local site.
Ditinjau dari tugas dan kewenangan lembaga, nampak bahwa DNPI mempunyai tugas yang terkait dengan perubahan iklim baik adaptasi maupun mitigasi perubahan iklim. Adapun BP REDD+ mempunyai tugas khusus membantu Presiden terkait dengan REDD+ secara menyeluruh mulai dari koordinasi, sinkronisasi, perencanaan, fasilitasi, pengelolaan, pemantauan, pengawasan serta pengedalian REDD+ bahkan juga sebagai pengelola keuangan. Sedangkan Pokja Perubahan Iklim membantu Kementerian Kehutanan terkait perubahan iklim.
Sementara di level sub nasional juga telah ada beberapa lembaga terkait REDD+ seperti DDPI di Kalimantan Timur, Gugus Tugas RAD GRK di Porvinsi NTB, Pokja REDD Berau dan lainnya. Lembaga terkait REDD+ di level sub nasional ini tidak memiliki jalur koordinasi dengan lembaga di level nasional.
Lembaga BP REDD+ yang menggantikan lembaga Satgas REDD merupakan lembaga setingkat dengan Menteri yang bertanggungjawab langsung kepada Presiden. Tugas dan fungsi BP REDD+ terdapat dalam PP 62 tahun 2013 tentang Badan Pengelola Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca dari Deforestasi, Degradasi Hutan dan Lahan Gambut. Tugas BP REDD+ yakni membantu Presiden melaksanakan tugas koordinasi, sinkronisasi, perencanaan, fasilitasi, pengelolaan, pemantauan, pengawasan serta pengedalian REDD+ di Indonesia. Adapun fungsi BP REDD+ antara lain :
1. penyusunan dan pengembangan strategi nasional REDD+ untuk melaksanakan REDD+ di Indonesia
2. penyusunan dan pengembangan kerangka pengaman REDD+ di bidang sosial, lingkungan dan pendanaan
3. koordinasi penyusunan dan pelaksanaan kebijakan REDD+ serta pengarusutamaan REDD+ dalam pembangunan nasional
4. penyiapan dan pengordinasian instrumen dan mekanisme pendanaan REDD+ sesuai ketentuan peraturan perundangan
5. pengelolaan bantuan dana maupun bantuan lain yang sah terkait REDD+ sesuai ketentuan peraturan perundangan
6. penyusunan standar dan metodologi pengukuran emisi dan serapan GRK dari program, proyek, atau kegiatan REDD+ serta konsolidasi dan pelaporan data emisi dan serapan GRK
7. peningkatan kapabilitas dan kapasitas di kementerian/lembaga, mitra pelaksana dan masyarakat serta kualitas perangkat penerapan dalam pelaksanaan REDD+
8. penyiapan rekomendasi dalam penentuan posisi Indonesia terkait REDD+ dalam fora internasional
9. koordinasi penegakan hukum terkait pelaksanaan program, proyek dan atau kegiatan REDD+
10. koordinasi dan fasilitasi penanganan sengketa dan konflik terkait dengan pelaksanaan program, proyek data atau kegiatan REDD+ sesuai PP
11. pemantauan dan evaluasi pelaksanaan program, proyek dan atau kegiatan REDD+ 12. pelaksanaan administrasi Badan Pengelola REDD+
13. pelaksanaan tugas lain yang diberikan presiden
Terkait dengan kebutuhan internasional akan administrasi publik yang baik dalam mekanisme REDD+, penelahaan terhadap penerapan prinsip-prinsip good governance
telah dilakukan pada beberapa lembaga REDD+ di level nasional dan sub nasional. Deskripsi penerapan prinsip-prinsip good governance pada lembaga REDD+ terdapat dalam Tabel 9.
Tabel 9. Penerapan prinsip-prinsip good governance
Prinsip-Prinsip Good
Governance DNPI Pokja REDD Kaltim Pokja REDD Berau
Transparansi Belum transparan sepenuhnya terkait keuangan dan sistem pengawasan-pengendaian intern Belum sepenuhnya transparan terutama mengenai kondisi keungan, sistem pengawasan dan pengedalian intern.
Belum sepenuhnya transparan terutama mengenai kondisi keungan, sistem pengawasan dan pengedalian intern.
Prinsip-Prinsip Good
Governance DNPI Pokja REDD Kaltim Pokja REDD Berau
Akuntabilitas Sistem kerja sudah
akuntabel Laporan tahunan dibuat namun karena bersifat ad hoc tidak ada program jangka pangan
Sudah ada laporan bulanan/ tahunan namun belum jelas siapa yang bertanggungjawab bila ada target tidak tercapai
Partisipasi Keanggotaan dari unsur
pemerintah saja Keanggotaan belum meliputi masyarakat, hanya pemerintah dan swasta
Keterwakilan masyarakat belum ada, namun ada Dinas Pemberdayaan masyarakat maupun LSM
Berdasarkan implementasi indikator good governance yang terlihat dalam Tabel 9 secara umum lembaga terkait REDD+ belum sepenuhnya transparan kepada publik terkait dengan keuangan dan sistem pengawasan pengendalian intern. Selain itu tingkat
partisipasi kelompok masyarakat dalam lembaga masih nihil.