BAB III METODE PENELITIAN
4.1 Kelengkapan Resep Secara Administrasi
Resep yang lengkap secara administrasi memenuhi kriteria berikut : 1)
Terdapat nama, alamat, dan nomor izin praktek (SIP) dokter, 2) Tanggal penulisan
resep (inscriptio), 3) Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan resep (invocatio),
4) Nama setiap obat dan komposisinya (praescriptio/ordonatio), dosis, dan jumlah
obat yang diminta, 5) Cara pemakaian yang jelas (signatura), 6) Tanda tangan atau
paraf dokter penulis resep (subscriptio), 7) Informasi data pribadi pasien yang
meliputi nama, alamat, umur, jenis kelamin, dan berat badan pasien (Anief, 2005).
Hasil analisis ketidaklengkapan resep disajikan dalam bentuk tabel dibawah ini (
Tabel 4.1).
Tabel 4.1 Tabel ketidaklengkapan resep secara administrasi di apotek-apotek
Kota Denpasar
No. Ketidaklengkapan Resep pada Komponen Jumlah resep
1 Kop Resep (Nama, alamat dan nomor izin
praktek (SIP) dokter)
0
2 Tanggal penulisan resep 10
3 Tanda R/ pada bagian kiri resep 0
4 Nama setiap obat, komposisi, dosis, dan
jumlah obat yang diminta
317
5 Signa yang jelas 0
6 Tanda tangan/paraf dokter penulis resep 136
7 Informasi data pribadi pasien
a. Nama pasien 8
b. Alamat pasien 1229
c. Umur pasien 688
d. Jenis kelamin pasien 1245
e. Berat badan pasien 899
Dari tabel 4.1 di atas, maka didapatkan diagram ketidaklengkapan resep
di apotek-apotek di Kabupaten Denpasar (Gambar 4.1). Pada gambar 4.1
menunjukkan bahwa persentase tertinggi dari ketidaklengkapan resep pediatri di
apotek-apotek Kabupaten Denpasar adalah tidak tercantumnya alamat dan jenis
kelamin pasien.
Gambar 4.1 Diagram Ketidaklengkapan Resep di Kota Denpasar
Komponen kelengkapan pada resep yang selalu ada dalam resep berdasarkan
data ketidaklengkapannya sebesar 0% adalah tanda R/ pada bagian kiri resep,
penulisan signa yang jelas dan kop resep yang meliputi nama, alamat, dan nomor
izin praktek dokter (SIP).
Tingginya persen ketidaklengkapan pada komponen identitas pasien (berat
badan, jenis kelamin, umur dan alamat pasien) dan penulisan nama setiap, dosis,
komposisi serta jumlah obat yang diminta dikarenakan banyaknya pasien yang
berkonsultasi sehingga aktivitas dokter penulis resep terlalu padat yang pada
akhirnya akan membuat dokter kelelahan dan cenderung tidak ingat untuk
melengkapi kelengkapan resep secara administrasi sehingga dapat memicu
terjadinya medication error. Berikut akan dibahas satu per satu mengenai
komponen kelengkapan resep secara administrasi.
4.1.1 Kop resep ( nama, alamat, dan nomor izin praktek (SIP) dokter)
Semua sampel resep telah dilengkapi dengan nama, alamat, dan nomor izin
praktek dokter (SIP) yang dapat dilihat pada tabel 4.1 dengan hasil yang didapat
yaitu 0,00% ketidaklengkapan komponen kop resep pada semua resep yang diteliti.
Semua bagian kop resep memiliki makna tersendiri dan wajib tertera dalam resep
berdasarkan KepMenKes No 1027 tahun 2004 agar jika terjadi kesalahan dalam
pelayanan resep, apoteker dapat dengan mudah menghubungi dokter penulis resep
yang diketahui dari nama dan alamat yang tertera dalam resep. Tujuan dari
tercantumnya nomor izin praktek dokter (SIP) yaitu untuk mengetahui bahwa
dokter tersebut telah memiliki izin praktek kedokteran secara hukum (Pasal 36 UU
No.29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran) sehingga dapat meyakinkan
apoteker untuk melayani peresepan.
4.1.2 Tanggal penulisan resep
Pada tabel 4.1 dapat dilihat bahwa terdapat 10 resep yang tidak dilengkapi
dengan tanggal. Tanggal penulisan resep merupakan data yang tidak kalah
pentingnya dalam peresepan, hal ini berguna bagi apoteker untuk memantau
kepatuhan pasien dalam menjalani terapi obat. Selain itu, tanggal juga membantu
dalam sistem administrasi resep yaitu dalam penyimpanan resep di apotek. Hal ini
akan berguna jika dokter atau pasien membutuhkan resep yang ditulis pada tanggal
tertentu yang telah disimpan oleh tenaga kefarmasiaan di apotek.
4.1.3 Tanda R pada bagian kiri resep
Tanda R merupakan singkatan dari bahasa Latin recipe yang berarti
ambillah. Berdasarkan tabel 4.1 semua resep yang diteliti mencantumkan tanda R/
pada bagian kiri resep. Tanda recipe berarti sebuah permintaan tertulis dari dokter
penulis resep kepada apoteker agar mengambil sejumlah obat yang diperlukan
untuk membuat sediaan farmasi (Anief, 2005).
4.1.4 Nama setiap obat dan komposisinya, dosis serta jumlah obat yang diminta
Setelah dilakukan analisis ternyata komponen yang tidak lengkap terdapat
pada penulisan nama obat dan komposisinya sehingga mempengaruhi kejelasan
informasi dosis yang diberikan. Komposisi yang dimaksud dalam hal ini adalah
komposisi yang berkaitan dengan dosis obat, dimana terdapat suatu nama obat yang
memiliki kekuatan dosis yang berbeda.
Sebagai contoh ketidaklengkapan resep dalam hal ini yaitu resep no. 139
pada lampiran halaman 65 yang tidak mencantumkan kekuatan dosis dari obat
Intidrol
®yang mengandung metilprednisolon dimana obat ini memiliki dua dosis
yaitu 4 mg dan 16 mg. Tidak ditulisnya dengan jelas kekuatan dosis obat intidrol
®mempengaruhi ketepatan dosis dan keberhasilan terapi serta dapat meningkatkan
timbulnya efek samping. Berdasarkan hasil penelitian, jika didalam resep tidak
tertulis kekuatan dosis dari suatu obat maka tindakan tenaga kefarmasiaan di apotek
akan memberikan obat dengan dosis yang lebih kecil. Namun hal tersebut tetap saja
berpotensi menimbulkan ketidaktepatan dosis dan medication error jika resep tidak
dilengkapi dengan umur atau berat badan untuk memeriksa ketepatan dosis
(Hartayu dan Aris, 2005).
R/ Claneksi syr fl I S 3 dd 1 ½ cth R/ Sanmol 50 mg Celestamine 1/10 tab Romilar 1/3 tab Tremenza 1/5 tab Mucopect 1/5 tab Intidrol 1/3 tab mf pulv dtd no X S 3 dd pulv I
4.1.5 Cara pemakaian yang jelas
Pada resep, signatura atau yang sering disebut dengan cara pemakaiaan
suatu obat, haruslah lengkap dan jelas agar tidak memicu terjadinya medication
error. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua resep yang diteliti telah
dilengkapi cara pemakaian yang jelas (tabel 3.1). Berikut adalah salah satu contoh
resep yang mencantumkan dengan cara pemakaian yang jelas yaitu resep nomor 9
pada lampiran halaman 42
Pada contoh resep di atas, cara pemakaian ditulis dengan jelas, misalnya
untuk sediaan Sanprima
®sirup dilengkapi dengan cara pemakaian yang jelas yaitu
S 2 dd cth 1 yang berarti bahwa Sanprima
®sirup diminum dua kali sehari satu
sendok teh. Akibat dari tidak lengkapnya signature akan mempengaruhi dosis
dalam pemakaian obat, misalnya hanya ditulis S 2 dd 1 pada sediaan sirup akan
menimbulkan pertanyaan dalam pelayanan resep apakah diminum dua kali sehari
satu sendok teh atau satu sendok makan.
4.1.6 Tanda tangan atau paraf dokter penulis resep
Dalam tabel 4.1 terlihat bahwa tidak semua resep dilengkapi dengan tanda
tangan dokter penulis resep. Paraf dokter menunjukkan bahwa resep tersebut benar
ditulis oleh dokter penulis resep. Tidak adanya paraf dokter dapat mengindikasikan
bahwa resep tersebut berpotensi sebagai resep palsu, sehingga apoteker atau tenaga
kefarmasiaan perlu melakukan skrining resep dengan melihat bentuk tulisan dan
pola penulisan resep.
R/ Sanprima syr fl I S 2 dd cth 1 R/ L-Bio sachet VI S 1 dd 1 sachet R/ Sanmol syr fl I S 4 dd cth 1
4.1.7 Informasi data pribadi pasien
Data pribadi pasien memuat informasi yang meliputi nama, alamat tempat
tinggal, umur, jenis kelamin dan berat badan pasien (Anief, 2005). Berikut akan
dibahas mengenai pentingnya data-data pribadi pasien.
Nama pasien merupakan faktor yang sangat penting dalam kelengkapan resep
secara administrasi, karena nama pasien menentukan kepada siapa obat akan
diberikan oleh apoteker. Dari tabel 3.1 menunjukkan bahwa terdapat 8 dari 1250
resep yang diteliti tidak dilengkapi dengan nama pasien. Nama pasien wajib diisi
dalam resep agar obat tidak tertukar dengan pasien lainnya (Harianto, 2006).Tidak
adanya nama pasien dalam resep dapat berpotensi menimbulkan medication error
(Hartayu dan Aris, 2005).
Pada tabel 4.1 Hasil resep yang diteliti didapatkan bahwa hanya 688 dari
1250 sampel resep yang mencantumkan umur pasien. Umur pasien digunakan
dalam menentukan dosis pediatri terutama bagi apoteker yang melakukan skrining
resep untuk mengetahui dosis terapi pasien tersebut. Selain itu umur pasien juga
menentukan jenis sediaan pasien pediatri, untuk pasien pediatri yang umurnya
kurang dari 6 tahun lebih mudah diberikan dalam bentuk sediaan cair seperti sirup,
namun untuk yang umurnya kurang dari 2 tahun sebaiknya diberikan sediaan
bentuk drop sehingga dapat meningkatkan keakuratan dosis (Aslam, 2003).
Pada tabel 4.1 terlihat bahwa terdapat 1245 resep dari 1250 resep yang diteliti
tidak dilengkapi dengan penulisan jenis kelamin pasien. Hal ini menunjukkan
bahwa tingkat kejadian tertinggi tidak lengkapnya resep terletak pada penulisan
jenis kelamin. Keterangan dari penulisan jenis kelamin dalam suatu resep dapat
mengurangi resiko tertukarnya suatu obat dalam penyerahannya kepada pasien
apabila terdapat dua nama yang sama dengan jenis kelamin yang berbeda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 899 resep dari 1250 resep yang
tidak dilengkapi dengan informasi mengenai berat badan pasien. Data berat badan
pasien berperan penting dalam ketepatan perhitungan dosis obat. Meskipun dengan
umur pasien kurang akurat, karena pada individu dengan umur yang sama memiliki
berat badan yang berbeda. Oleh sebab itu untuk menghindari terjadinya medication
error karena ketidaktepatan perhitungan dosis, pada pediatri penentuan dosis
berdasarkan berat badan lebih dapat diandalkan dibandingkan dengan berdasarkan
umur ( Hartayu dan Aris, 2005; Ansel, 2005).
Tidak lengkapnya penulisan mengenai informasi data pribadi yang meliputi
alamat, berat badan, umur dan jenis kelamin pasien pada resep yang diteliti, karena
informasi tersebut telah ditulis dalam kartu berobat pasien. Meskipun informasi
data pribadi pasien sudah tertulis secara lengkap dalam kartu berobat pasien tetapi
tetap saja informasi tersebut perlu dilengkapi dalam resep. Tidak tertulisnya
informasi data pribadi pasien secara lengkap dalam resep dapat berpotensi
menimbulkan medication error. Sehingga diharapkan apoteker atau tenaga
kefarmasian melengkapi informasi data pribadi pasien dalam resep.
Dalam dokumen
LAPORAN PENELITIAN KAJIAN POLA PERESEPAN PEDIATRI APOTEK-APOTEK DI DENPASAR
(Halaman 32-39)